Headlines News :
Home » , » Kyai Ahmad Lutfian Antoni Dimata Istri, Anak dan Para Murid serta Santri-Santrinya

Kyai Ahmad Lutfian Antoni Dimata Istri, Anak dan Para Murid serta Santri-Santrinya

Written By Pewarta News on Rabu, 02 Januari 2019 | 00.15

Kyai Ahmad Lutfian Antoni, S.Th.I., M.Pd. (almarhum)
PEWARTAnews.com – “ Semoga Pak Kyai Ahmad Lutfian Antoni, S.Th.I., M.Pd. berkenan mengakui kami, dan saya pada khususnya untuk tetap menjadi murid dan santri beliau selama-lamanya” (Mukaromah, 23 Desember 2018 pukul 00.02 WIB) – Meski Jasad telah tiada (22/12/2018) namun ilmu, hikmah, dan kebijaksanaan yang beliau berikan akan selalu terkenang.

31 Agustus 2018, saat setelah penarikan KKN dari Jangkaran, Temon, Kulonprogo penulis sempatkan langsung untuk menuju ke ndalem beliau di Desa Wonokromo, Pleret Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memastikan bahwa keadaan beliau sudah membaik karena sempat dirawat di rumah sakit (RS) beberapa hari. Sesampainya di ndalem beliau, penulis berpapasan pada tetangga sebelah dan beliau mengatakan bahwa pak Luthfi sedang ngasto (mengajar) di pondok sebelah. Namun dengan keyakinan dan kemantapan hati, penulis berkata pada diriku sendiri bahwa apapun yang terjadi, harus kepanggih (bertemu) pak Luthfi sekalipun jam beliau kundur (pulang) larut malam. Akhirnya sampailah di rumah beliau, dan bertemu istrinya. Lalu kami ngobrol lama dan istri beliau menceritakan keadaan pak Lutfi, asal muasal gerah (penyakit) pak Lutfi sampai dirujuk ke RS dan dirawat inap, dan juga menceritakan suka duka-nya menjalani kehidupan (ya bisa dibilang romantika asmara mereka dari pertama kali bertemu sampai menikah dan punya anak). Pak Luthfi, dimata bu Uswatun (istrinya) adalah sosok suami yang sangat luar biasa, bijak, penuh perhatian, selalu menguatkan, tidak pernah mengeluh dan selalu tersenyum. Bahkan saat dalam kondisi kritis beberapa bulan yang lalu saat dirawat di RS, justru pak Lutfi-lah yang menguatkan bu Uswatun bahwa beliau baik-baik saja dan pasti sembuh.

Kebetulan ibu Uswatun seorang hafidzah (penghafal Al-Qur’an), setiap hari pak Lutfi selalu menyempatkan waktu untuk menunaikan kewajiban beliau sebagai seorang suami yang mempunyai istri hafidzah, yakni dengan nyimak hafalan bu Uswatun meski disela-sela kesibukan beliau mengajar di sekolah, rumah beliau sendiri maupun di berbagai macam pondok disekitar wonokromo. “Nyimak Istri ngaji”, hal seperti itu masih beliau sempatkan karena Pak Lutfi merupakan sosok yang sangat mencintai dan meng-Agungkan Al-Qur’an, sehingga wajar apabila nama putri beliau yang nomor 2 adalah Mayaza Anzelia Qur’ani.

Selain itu, beliau juga merupakan sosok Ayah yang sangat bijak dan penuh kasih sayang pada putra putrinya. Saya masih ingat betul bagaimana pola pendidikan yang diterapkan dalam keluarga mereka, salah satunya dengan menerapkan kedisiplinan. Disiplin dalam urusan mengaji, sekolah maupun bermain. Maka, tak heran apabila putranya yang nomor 1 sudah memiliki hafalan qur’an maupun kitab dengan jumlah yang lumayan banyak, serta paham rukun dan syarat-syarat dalam ilmu fiqih meski usianya baru 10 tahun. Tak hanya itu, putra putri mereka meski masih sangat belia tapi sudah memiliki kesadaran mengenai pentingnya ilmu dan akhlaq dalam kehidupan. Hal tersebut dapat dilihat dari jadwal keseharian putra putri beliau. Putra beliau yang pertama, setiap pagi sebelum subuh mengaji bersama beliau sendiri, setelah itu berangkat ke sekolah, sore ke TPA, dan malam mengaji ke kiyai sebelah rumah. Dalam tradisi putra kiyai memang seperti itu, dititipkan pada temen-nya meski bapaknya sendiri seorang kiyai yang mempunyai banyak santri. Salah satu alasannya ialah untuk ngalap barokah dan agar anak tersebut bersungguh-sungguh dalam menunaikan tanggungjawabnya sebagai seorang pembelajar kepada guru/kiyahinya. Artinya, agar anak tersebut rasa ngajeni / menghormati dan ta’dzim pada orang yang berilmu semakin tinggi.

Tak terasa saya mengobrol panjang lebar bersama istri beliau, tepat pada pukul 21.00 (saya lupa, sekitar jam 20.30/21.00) beliau kundur. Dihadapan beliau, saya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan tangis yang membuat kacamataku semakin mengembun karena tetesan air mata. Pak Lutfi, ya beliau sosok guru yang sangat kuat ikatan batin-nya denganku. Dalam bahasa pesantren, beranilah penulis mengatakan kita ada ikatan “robithah”. Beberapa bulan sebelum beliau dirawat di RS, penulis sempat bermimpi bertemu dengan beliau didalam mimpi (tidur). Saat itu, posisi penulis sedang mengaji tafsir dan mendengarkan penjelasan khas beliau yang penuh dengan kekocakan tapi berkualitas, santai tapi mengena seperti halnya ketika di MAN Wonokromo (kini MAN 3 Bantul). Dalam mimpi tersebut saya asbah beliau (cium tangan) dengan penuh perasaan yang sangat bahagia. Ku ceritakan mimpi tersebut pada pak Lutfi, lalu beliau tersenyum. Tak terasa, air mata mengalir deras bahkan lebih deras dari yang semula, lalu dengan penuh percaya diri (PEDE) ku berkata pada pak Luthfi bahwa “mukaromah, kangen pak Luthfi”. Seandainya waktu dapat terulang kembali, ingin rasanya kembali menjadi murid MAN di jurusan Agama agar dapat ngangsu kawruh kembali bersama dengan panjenengan, pak. Pak Lutfi jaga kesehatan ya, semoga bapak selalu dalam naungan dan ridho-Nya. Lalu beliau mendoakanku baik dalam urusan mengaji, akademik maupun jodoh.

Hampir semua orang yang aku jumpai, selau kenal dengan Pak Lutfi. Ya, beliau menghabiskan umurnya dengan mengajar dan mendidik tanpa pamrih. Sehingga santri dan murid beliau pun juga sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Karena keikhlasan dan ketulusan beliau, ilmu yang tersampaikan kepada para santri dan siswa pun juga barokah. Artinya, sampai detik ini penulis masih ingat dengan penjelasan-penjelasan yang belaiu sampaikan, materi yang beliau ajarkan bahkan kata-kata hikmah dan inspirasi yang selalu beliau curahkan kepada saya (bahkan pada santri dan murid yang lain) masih teringat dalam memori sampai detik ini.

Dalam menyampaikan pelajaran, Pak Lutfi selalu menyelipkan spirit keislaman yang moderat, toleran, ramah dan inklusif. Meski beliau mengajar Tafsir yang notabene teks Al Qur’an, namun dalam menafsirkan dan menyampaikan pelajaran sesuai dengan konteks/ zaman sekarang. Tak ayal, beliau juga sering menyelipkan spirit pluralitas, multikultural, nasionalisme, keragaman berpikir, kebijakan dalam bertindak dan terus memotivasi kami agar senantiasa memperluas perspektif/pandangan/wawasan/world view dengan “membaca”. Saya pernah mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana nasib Abu Thalib ya pak Lutfi? Apakah beliau di surga ataukah bagaimana? Definisi Kafir itu bagaimana ya pak? Apakah ketika kita melakukan kesalahan, langsung dicatat sama malaikat dan dilaporkan pada Allah atau ditunggu sampai batas waktu tertentu pak? Jawaban yang diberikan Pak Luthfi tidak langsung menjurus pada pertanyaan. Namun terlebih dahulu pak Luthfi memberikan gambaran detail mengenai hal tersebut lalu kemudian dianalisa bersama dan dengan sendirinya kami bisa mengambil suatu kesimpulan.

Saya pernah berpikir kenapa pak Lutfi tidak pernah sembarang mengatakan kafir, neraka dan ini lo yang paling benar. Baru-baru ini ketika saya menjadi maahsiswa yang mengkonsumsi buku-buku multikultural dan pemikiran tokoh, ternyata hal tersebut dimaksudkan agar peserta didik mempunyai wawasan yang multikultural dan mempunyai paradigma berpikir yang luas nan bijaksana dalam menaggapi suatu persoalan.

Meski saya sudah 3 tahun yang lalu meninggalkan MAN, tapi tetap guru yang paling sangat berkesan adalah Pak Lutfi. Bukan karena apa, tapi beliau adalah sosok guru yang tidak hanya transfer of knowledge (menyampaikan pelajaran semata) tapi juga transfer of values yang senantiasa menyadarkan kami untuk lebih menghargai hidup dengan memanfaatkannya dengan baik, serta memotivasi kami untuk terus berbuat baik kepada siapapun tanpa pandang bulu, karena semua akan diganjar sesuai dengan apa yang diperbuat. Dalam setiap tatap muka dikelas, beliau juga selalu memotivasi kami untuk ingat dan mencintai kanjeng nabi dengan berpesan agar jangan sampai lupa membaca sholawat. Tak hanya itu, dalam aspek sosial beliau juga menekankan pentingnya bershodaqah, senyum, tebar kebaikan pada segenap makhluk-makhluk-Nya.

Setiap apa yang beliau katakan, penulis tulis dan pahami hingga sampai detik ini penulis amalkan. Karena bagi diriku sendiri, tips/inspirasi guru merupakan ijazah yang harus selalu diingat dan diamalkan. Nasihat yang selalu beliau berikan ialah “Shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya”. Yang harus diingat shadaqah itu tidak hanya berbentuk materi (uang), namun bisa hal-hal lain sesuai dengan kadar dan kemampuan masing-masing. Bisa ucapan yang baik, perbuatan yang adil, perlindungan dan rasa aman terhadap makhluk-makhluk Tuhan serta hal-hal yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat. Dan hal yang selalu ditekankan pak Lutfi adalah “Jangan menyepelekan dan memicingkan mata pada orang yang kamu anggap lemah, justru terkadang doa lebih maqbul apabila diucapkan oleh orang yang berada dibawah kita (entah dalam hal ekonomi maupun fisiknya). Oleh karena itu, jangan sampai lupa memohon doa kepada orang-orang yang kita permudah jalannya, serta yang kita bantu. Bisa jadi, hal tersebut dapat menjadi lantaran rahmat, kasih sayang dan perlindungan yang Allah berikan kepada kita, sehingga dalam hal apapun kita tidak terlepas dari belas kasihan-Nya.

Pak Lutfi, panjenengan adalah orang yang pertama kali memperkenalkan pada kulo tentang Kitab-Kitab Tafsir seperti Ibnu Katsir, Al Maraghi, Al Misbah, Fi Dzilalil Qur’an, Tafsir Jalalain, Al Kasyaf, Tafsir Al Azhar karangan Buya Hamka, serta wawasan-wawasan lain mengenai Al-Qur’an baik dari segi corak penafsiran maupun qiraat-qiraat- nya.

Tak ku sangka, bahwa tanggal 31 Agustus 2018 yang lalu, itulah waktu terakhir kali kita mengobrol bersama pak. Hingga detik ini masih tergambar jelas senyuman jenengan dalam memoriku. Pada hari Kamis, tanggal 20 Desember 2018 dapat kabar bahwa panjenegan kembali masuk ke RS dan di ICU. Dan malam ini, kulo dapat kabar bahwa panjenengan sudah dipanggil menghadap pada kehadirat-Nya. Sungguh Gusti Allah langkung nresnani/lebih mencintai panjenengan pak. Insya Allah Pak Lutfi juga akan kepanggih dan duduk bersama para auliya’, tabi’in wa tabi’at serta yang utama kalih kanjeng nabi Muhammad, pak. Itu kan yang dulu selalu bapak iming-imingkan kepada kami? Bahwa kenikmatan dan kebahagiaan yang haqiqi ialah dapat liqo’ bersama dengan kekasih-kekasih-Nya. Kulo yaqin jenengan sudah bahagia dan tenang dialam sana, semoga pak Luthfi berkenan mengakui kami, dan Mukaromah pada khususnya untuk menjadi murid dan santri panjenegan selama-lamanya. Aamiin.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website