Headlines News :
Home » , » Masa Depan (Future)

Masa Depan (Future)

Written By Pewarta News on Rabu, 26 Desember 2018 | 16.51

Umar dan Siti Mukaromah.
PEWARTAnews.com – Ngak terasa foto dan tulisan ini sudah 2 tahun. Seandainya aku sudah punya partner hidup, pengen rasanya tak tag via facebok (kalau punya FB).

Jangan dilihat fotonya, baca sampe akhir. Foto itu hanya Menganalogikan "Seorang ibu dan anaknya. (Senin, 5 September 2016 adalah Kuliah Perdana-ku di semester 3. Semangat adalah Kunci segala hal).

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لاَ يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِداً كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُون

Arti : Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran Kami bagi orang-orang yang bersyukur. (Al-A’rof :58).

Ayat tersebut yang memotivasi dan menginspirasi penulis untuk menyadari apa, siapa dan bagaimana diri ini. Seperti apapun seorang wanita, mau tak mau kelak akan menjadi seorang Ibu. Kalau ngendikane Yai Chudhori ayat tersebut dapat dipahami bahwa tanah itu ibarat orangtua, dan tanaman itu ibarat anaknya. Jadi, sejatinya kalau diri kita baik insya Allah dzurriyah kita pun juga akan baik (factor hereditas) begitupula sebaliknya. Ya meskipun kalau membahas tentang Pembentukan jati diri manusia pasti tidak akan pernah terlepas dari faktor hereditas, lingkungan dan kehendak bebas manusia atas Hidayah Allah SWT.

Tetapi, tulisan penulis kali ini menitikberatkan pada pembahasan Hereditas. Masih Penulis ingat sampai sekarang, ngendikanipun Kyai Luthfi, M.Pd (Guru Tafsir Aliyah) bahwasannya “Mencetak Keturunan Harus dimulai sejak sekarang”. Ya dengan cara apa yang kita lakukan sekarang diniatkan untuk dzurriyah kita kelak, agar mereka seperti kita (bahkan bisa lebih daripada kita), kalau kata mba Lathif, dengan cara “Mengindahkan cetakannya. Kita ngaji, kita kuliah, kita bertholabul ‘ilm sejatinya untuk mendidik anak-anak kita kelak”.

Wanita-lah yang akan mengandung, melahirkan, menyusui dan menjadi madrasatul ulaa bagi anak-anaknya. Membesarkan dan mendidik anak-anak dengan susu tauhid, mengajarkan gagahnya perjuangan nan indahnya, kesabaran serta keikhlasan. Hingga pada akhirnya menjadi bu Nyai bagi anak-anak sekaligus Navigator bagi suaminya. Bukankah dibalik laki-laki yang hebat dibelakangnya ada wanita yang hebat pula?

Banyak sahabat penulis yang bilang begini, “Mukaromah kamu narget nikah nggak, jangan karena semangat bertholabul ‘ilm menjadikanmu lupa akan Sunnah Rasul”. Ku balas dengan senyum sambil bilang, “besok kalau kulo nikah, njenengan rewang dan nginep di rumah yaa”.

Yang namanya wanita, seperti apapun dia pasti punya keinganan menikah. Menikah adalah sesuatu hal yang sakral, yang harus dipikirkan matang-matang. Memilih seorang partner (suami/istri) yang memang benar-benar bisa mendidik, dididik, bertanggungjawab dan saling mendukung serta memotivasi. Karena lika-liku dalam rumah tangga tak semudah yang dipikirkan banyak orang. Maka seharusnya, pada saat “single” seperti ini dijadikan proses untuk perbaikan kualitas hidup dengan belajar menjadi seorang Ayah ataupun Ibu bagi anak-anak kelak. Sehingga, jika sudah tiba waktunya menikah, lika liku apapun yang terjadi tidak akan kaget dan dengan berbekal pengalaman maka akan siap (menjadi imam/pun makmum) yang baik dan bertanggungjawab dengan mendidik anak-anak “bi tarbiyatin hasanatin”. Aamiin Insya Allah.

Berbicara tentang pernikahan, penulis jadi teringat kedua mbak-ku. Satu hal yang membedakanku dengan mereka ialah “mereka nikah muda”. Ya selesai mondok mereka langsung ijab sah. Alhamdulillahnya, dapat suami yang selisihnya 8 smpe 10 tahun, sehingga bisa momong mbak. Bagaimana sih nikah muda itu? Sebenarnya tidak jadi masalah nikah muda itu, tetapi yang harus diingat ialah hidup hanya sekali. Ibarat bunga, baru mekar kok udah dipetik orang? Bukankah masa remaja adalah masa ke-emasan? Masa dimana seluruh kekuatan dan potensi menjadi satu. Ya tak apa, selagi si suami nggak labil. Karena menurut penelitian, kedewasaan seorang wanita dan laki-laki itu berbeda, ya meski tak bisa dipungkiri dewasa bukan karena umur tapi karena pengalaman. So, semua harus direncanakan dengan sebaik mungkin karena tugas kita berusaha dan berdo’a selebihnya serahkan pada Allah.

Penulis sering mengajak sharing pada sahabat perempuan dan laki-laki, yang dari perempuan curhatnya takut berpendidikan tinggi karena khawatir tidak didekati oleh laki-laki, sehingga berimplikasi pada “telat nikah”, dan yang dari laki-laki sendiri takut mendekati wanita yang “lebih” daripada dirinya, takut diatur istri, takut tidak dapat menjadi kawan diskusi yang baik dan sebagainya. Sehingga memang telah termindset hal seperti itu dibenak “sebagian” laki-laki. Kenapa penulis mengatakan sebagian? Karena penulis yakin, sebagian laki-laki menginginkan anak-anaknya terlahir dari rahim perempuan yang cerdas, seorang istri yang nyambung ketika diajak diskusi dalam hal apapun itu, seorang istri yang selalu memotivasi sekaligus menjadi partner yang baik bagi dirinya, seorang istri yang mampu memahami dan memaknai setiap hal yang terjadi dalam kehidupan ini. Akhirnya, penulis sharingkan hal ini pada dosen penulis yakni bu dosen Muna dan Prof. Sutrisno.

Ngendikane bu dosen Muna: “didalam hidup berumah tangga yang terpenting bukan masalah yang mempimpin dan yang dipimpin, tetapi sejatinya ialah siapa yang mau mengerti dan memahami dalam konteks berjalan bersama demi kehidupan yang damai. Dan dalam realita disebut laki-laki adalah pemimpin agar ada rasa hormat antara si istri pada suaminya dan tentu wanita yang berpendidikan, jika ia telah menginternalisasikan hakikat pendidikan maka ia akan menjadi makmum yang baik didalam rumah tangganya”.

Ngendikane Prof. Sutrisno, beliau mengatakan hal yang sama seperti yang diutarakan bu dosen Muna, tambahannya begini, “bagi sorang wanita jangan takut untuk berpendidikan tinggi, karena kelak wanita adalah madrasatul ulaa bagi anak-anaknya dan jangan pula khawatir tidak didekati laki-laki apalagi telat menikah, hanya laki-laki yang berpikiran dangkal bahwa pendidikan menjadi jurang pembatas untuk saling kenal mengenal. Banyak laki-laki yang doktor dan profesor yang masih single,” begitu katanya.

Terlepas dari itu semua, penulis masih ingat ada seorang laki-laki yang bertanya padaku seperti ini “apakah wanita menginginkan seorang laki-laki yang lebih dalam hal segalanya?,” ucapnya.
Penulis hanya menjawab berdasar apa yang telah penulis alami dan rasakan. Kalau dalam hal “segalanya” menurutku itu langka. Bukankah no body is perfect? Kalau dalam pernikahan, selain menyatukan 2 keluarga dan 2 insan, sejatinya itupun juga untuk saling melengkapi. Lalu kata “lebih” disitu dalam hal apa? Ya memang ada wanita yang bertipe high class, tetapi high class yang bagaimana? ada wanita yang ber-tipe “putra kiyahi/gus” (segi nasab), tetapi apa itu menjamin segalanya ? Menurutku, Nasab itu bisa dibuat dengan cara memperbaiki dan mengindahkan cetakannya (diri kita sendiri), ketika seorang laki-laki baik bertemu dengan seorang wanita yang baik-baik, insya Allah outputnya pun juga akan baik. Nah mayoritas seorang wanita menginginkan seorang laki-laki yang sholeh dan Agamanya baik serta ia berhasil (sukses) karena “tirakatnya sendiri” dalam arti karena perjuangan, kerja keras dan prestasinya bukan karena latarbelakang keluarganya dalam artian dia pasif, tidak mau hardwork hanya mengandalkan nasab semata.

رَبِّ هَبْ لى‏ مِنْ لَدُنْكَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً اِنَّكَ سَميعُ الدُّعاء

Terakhir, ketika aku mengeluh, merasa lelah, penat dan malas, Bapak selalu menasihatiku dengan “Hanya dirimu sendirilah yang mampu merubah dirimu sendiri”.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Diatas merupakan foto penulis sama anak Jeddah, Umar namanya. Umur 10 tahun, lokasi di Brilliant English Course, Pare Kediri.

Sejatinya hidup adalah perjalanan mencari ilmu yang tiada habisnya, man jadda wajada wa man saaro ‘ala darbi washola!


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website