Headlines News :
Home » , , » Musibah

Musibah

Written By Pewarta News on Rabu, 26 Desember 2018 | 15.59

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
PEWARTAnews.com – Musibah datang tiada henti, tidak mengenal waktu, tempat, dan korban. Setelah musibah menimpa NTB dan Palu, kini Banten dan Lampung diserang Tsunami yang tidak terprediksi. Memang Allah swt telah ingatkan penghuni bumi, bahwa pada saatnya Dia menguji hamba-Nya dengan rasa takut, rasa lapar, dan mengurangi harta, jiwa dan buah-buahan yang tersebar di seluruh bumi. Berbahagialah orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah ini. Kehadiran musibah yang sifatnya besar dan timbulkan kerusakan berat tidak bisa diabaikan, karena jika tidak dituntaskan, akan mendatangkan lebih banyak lagi kerugian. Sebaliknya musibah yang kecil dan tidak segera diatasi bisa juga timbulkan kerugian yang tak pernah bisa diperkirakan. Apapun bentuknya musibah yang menimpa saudara kita, kita seharusnya empati dan pemerintah segera turun tangan walau sibuk dalam hajatan politik.

Mengapa musibah terjadi dan merugikan banyak pihak. Setidak-tidaknya ada empat penyebab. Pertama, musibah sebagai akibat dari manusia yang bikin kerusakan di atas bumi, sehingga menimbulkan kerusakan ekologis yang berakibat terhadap gangguan keseimbangan alam, yang sebagai konsekuensi logisnya muncul musibah banjir, gempa bumi, gunung meletus, kebakaran, tsunami dan sebagainya. Kedua, adanya kebodohan dan miskinnya ilmu, sehingga memilih pimpinan dengan pertimbangan yang sangat pragmatis. Pemimpin yang dipilih bukan didasarkan pada kompetensi dan keahlian, tetapi didasarkan pada alasan pragmatis, yang bisa memberikan keuntungan sesaat. Pemimpin ini kadang-kadang mengendalikan amanah kepemimpinannya tanpa menggunakan ilmu. Akibatnya timbul kerugian besar yang pada gilirannya mendatangkan musibah fisik dan sosial.

Ketiga, musibah disebabkan kondisi objektif alam Indonesia yang memiliki struktur geografis yang potensial timbulkan bencana. Dengan adanya gunung api baik yang aktif maupun ‘mati’. Prakkteknya ada sejumlah gunung api ‘mati’ juga timbulkan erupsi yamg tidak pernah diketahui. Akhirnya menjadi bagian dari gunung merapi yang sama-sama potensial bahanya. Belum lagi munculnya semburan air dan gas yang melebih batas sehingga timbulkan bahaya bagi kehidupan. Juga belakangan di Palu, muncul bencana likuifaksi yang tidak pernah terjadi, sebelumnya. Keempat, musibah merupakan ujian dari Allah swt terhadap perbuatan maksiat yang sangat membahayakan ummat. Atas sifat rahman dan rahimnya untuk penyelamatan ummat di masa-masa mendatang Allah swt turunkan musibah. Insya Allah musibah ini didasarkan atas keinginan untuk perbaikan taqwa (mushibah ‘alat taqwa).

Kehadiran musibah dapat diambil hikmahnya : Pertama, untuk muhasabah atau intmuhas dapat dilalukan oleh yang kena musibah atau yang meyaksikan musibah. Katansayyidina Ali, Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu, fainnahuu ahwaana lihisaabikum. “Hisablah dirimu sebelum dihisab, karena sesungguhnya hal memperingan hisabmu. Jika setelah melalui introspeksi dan menemukan bukti bahwa musibah itu akibat dari kesalahan, maka diharapkan ke depan terjadi perubahan.

Kedua, musibah dapat memunculkan rasa syukur dan optimisme. Rasulullsh bersabda, Laa yushibul mu’mina syaukatun famaa fauqahaa illaa rafa’ahulllaahu bihaa darajatan wakhaththa ‘anhu bihaa khathii’atan. Artinya, Tidaklah seorang mukmin terkena duri atau yang lebih menyakitkan darinya kecuali Allah swt akan mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan. (HR. Tirmidzi). Bersyukur dalam konteks ini adalah ridlo akan musibah, karena Allah bermaksud menghapus dosa-dosa para kurban dan meningkatkan kualitas pribadinya bagi yang mau melerbsiki diri bamg yang menyaksikan.

Ketiga, musibah mendatangkan ladang ibadah, bagi kurban dapat meningkatkan rasa sabar, ikhtiar, tawakkal, dan taqarrub kepada Allah bagi yang selain kurban, musibah mendorong orang lain tingkatkan empati dan kepedulian sosial. Rasulullah saw bersabda Wallaahu fil ‘aunil ‘abdi maa kaanal ‘abdu fii ‘auni akhiihi. Artinya, Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudarang (HR Muslim). Menolong orang lInyang terkena musibah dengan cara sumbang pikiran, dana, doa dan lainnya yang bisa ringankan beban para kurban.

Semoga kita bisa memahami hakekat musibah, sebab-sebabnya, dan hikmah di balik musibah, sehingga kita bisa meningkat empatinya dan berkontribusi untuk proses recovery dan prevensi.


Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website