Headlines News :
Home » , , » Toleransi

Toleransi

Written By Pewarta News on Sabtu, 29 Desember 2018 | 13.44

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
PEWARTAnews.com – Manusia itu fitrahnya unik, tidak ada yang sama, kendatipun bersaudara kandung, bahkan anak kembar sekalipun. Keunikan itu membuat manusia memiliki gaya hidup masing-masing (style of life). Demikian juga perbedaan suku, bangsa, agama, golongan, dan sebagainya, membuat mereka memiliki cita-cita, pandangan hidup, dan budaya serta perilaku yang berbeda.

Perbedaan tidak boleh menimbulkan konflik, apalagi munculkan pertikaian dan peperangan. Perbedaan tidak boleh melahirkan rasa superioritas dan inferioritas, ingat manusia tidak ada yang sempurna, pasti punya kekuatan atau kelebihan dan kelemahan atau keterbatasan. Rasulullah saw bersabda, “Innal insaana mahalul khaththa’ wan nisyaan”, yang artinya bahwa sesungguhnya manusia itu tempat lupa dan salah.

Justru adanya perbedaan harus disyukuri, karena perbedaan dapat mendatangkan rahmat. Ingat sabda Rasulullah saw, “Ikhtilaafi ummatii rahmatun”. Untuk dapat menghadirkan rahmat, maka kita harus respek dan toleran (tasamuh) terhadap perbedaan individu (individual differences). Pada situasi dan kondisi inilah toleransi sangat diperlukan. Dengan toleransi kita dapat saling menghargai dan menghormati antarkelompok dan antarindividu dalam masyarakat atau lingkup lainnya.

Toleransi secara umum dapat dilakukan dengan menghindarksn diri dari sikap diskriminasi dan perlakuan tidak fair terhadap kelompok yang berbeda di tengah-tengah masyarakat. Yang kuat melindungi yang lemah, yang mayoritas melindungi yang minoritas. Bahkan perlakuan afirmatif perlu diwujudkan untuk empowering terhadap kelompok yang tak beruntung (disadvantaged group). Jika ini dapat diwujudkan maka, potensi hidup dalam kebersamaan dan persatuan dapat dirasakan.

Toleransi dalam Islam tidaklah mudah pembahasannya, karena hingga kini masih debatable. Betapapun sulitnya, kita harus bersikap. Dengan penuh rasa tawadlu, al faqir ingin coba urun rembug. Bahwa ummat Islam tidak pernah persoalkan tentang toleransi dalam kehidupan ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Ummat Islam bisa hidup dan berkolaborasi dalam urusan-urusan ini. Dengan begitu toleransi dalam bidang-bidang ini tidak terlalu ada masalah, walaupun tetap harus berhati-hati. Demikian juga, terkait dengan toleransi dalam beragama, ummat Islam sangat menghargai orang yang beragama lain, tidak akan mengganggu mereka dalam beribadah, tidak melakukan paksa untuk masuk agama Islam, demikian juga sebaliknya ummat agama lain diharapkan berlaku yang sama dengan saling menghormati. Ada dua pandangan yang berbeda. Pertama, bahwa mengucapkan Selamat Natal, dihukumi haram, karena diyakini akan mengganggu aqidah. Kedua, bahwa mengucapkan Selamat Natal tidak haram, karena yang dimaksudkan itu sekedar ucapan selamat dan yang penting tidak ikut peribadatannya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk berikan uraian detil kedua alasan. Saya yakin semua sudah banyak baca dan faham terkait dengan dua alasan. Yang menjadi heboh adalah seseorang tokoh yang bersikap berbeda di dua waktu yang berbeda terhadap ucapan Selamat Natal. Karena ketokohannya bisa diduga mempengaruhi sikap dan perilaku ummat Islam. Walaupun demikian saya husnudzdzon bahwa sebagian besar ummat Islam memiliki kedewasan untuk beragama, sehingga bisa bersikap dan berperilaku sesuai dengan rambu-rambu agama dengan tetap toleran terhadap ummat lain. “Lakum diinukum waliyadin”. Demikian juga Islam adalah agama damai, diharapkan ummat Islam lebih mengedepankan respek dan toleransi. Islam juga diturunkan untuk rahmat seluruh alam, karena itu ummat Islam seharusnya bisa memberi karunia dan kasih sayang kepada semuanya termasuk makhluk hidup dan makhluk mati yang ada di bumi dan di langit serta seisinya. Ingat sabda Rasulullah saw, “Man Yarham Yurham”, barang siapa yang mengasih sayangi, akan dikasihsayangi (oleh Allah swt).

Semoga kita terus bisa tingkatkan kualitas toleransi dengan tetap menjaga kemurnian aqidah kita. Aamiin.


Yogyakarta, 27 Desember 2018
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website