Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Politik Gagasan? (Yes), Money Politik? (No)!

    Muhammad Nur Dirham.
    PEWARTAnews.com -- Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diangap modern pada abad ini, seiring dengan perkembangan sistem pemerintahan dan demokrasi berjalan semakin eksis sebagai sistem pemerintahan yang familiar. Demokrasi yang mengatas namakan pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat itu memang cendrung akan menghasilkan keseimbangan dalam pembagaian kekuasaan. Momentum pesta demokrasi dalam rangka pemilihan umum legislatif baik tingkat Pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota yang bersamaan dengan pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden tinggal dalam hitungan hari tepatnya pada tanggal 17 April 2019, masyarakat Indonesia akan menggunakan hak pilihnya untuk menentukan anggota legislatif maupun Presiden dan Wakil Presiden untuk periode lima tahun kedepan.

    Pada setiap hajatan demokrasi dalam konteks pemilihan umum banyak unsur yang terlibat didalamnya mulai dari penyelenggara, pengawas dan juga pesertanya. Kesuksesan dari penyelenggaraan pemilihan umum membutuhkan komitmen dari semua stakeholder tersebut untuk bersama-sama menjadikan pemilihan umum berjalan dengan jujur, adil serta bebas dan rahasia dengan menghasilkan individu-individu yang mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat, dan mengimplementasikanya dalam bentuk kerja nyata untuk kemaslahatan masyarakat luas. Dalam setiap momentum hajatan demokrasi, masyarakat selalu disuguhkan dengan perilaku yang menciderai nilai luhur demokrasi itu sendiri yang salah satunya adalah money politik (politik uang), dan baru-baru ini pada banyak media merilis berita tentang operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK pada calon anggota legislatif dengan barang bukti berupa uang yang sudah dikemas rapi dalam 400 ribu amplop yang berisi uang yang diduga untuk dipakai serangan fajar dalam perhelatan pemilihan umum tanggal 17 April 2019. Rilis berita tersebut hanya salah satu contoh dari sekian banyak kemungkinan modus politik uang yang bisa saja dilakukan oleh anggota legislatif kepada masyarakat sebagai pemilih dan bukan tidak mungkin juga kepada para penyelenggara, pengawas dan lainnya.

    Untuk tidak melakukan politik uang dengan niatan merawat demokrasi secara baik maka perlu komitmen yang tinggi kepada semua pihak dengan berpedoman pada peraturan perundang-undang serta aturan lain yang mengatur tentang pemilihan umum baik pilkada, pemilihan umum legislatif dan pemilihan Presdien dan Wakil Presiden, lebih lebih kepada peserta pemilu agar bisa mengedepankan kedewasaan berpolitik dengan adu gagasan, melakukan pendampingan politik kepada masyarakat pemilih agar terhindar dari politik transaksional dan pragmatis, bukan malah sebaliknya menampilkan wajah politik yang menciderai nilai dan esensi dari demokrasi. Melakukan politik uang dan atau tindakan lain yang menciderai dan melanggar prinsip-prinsip berdemokrasi bukanlah satu-satunya cara untuk meningkatkan elektabilitas dan atau tingkat keterpilihan para kontestan politik hari ini dan pada kenyataannya itu merupakan cara kotor dan tidak dapat dibenarkan, sebaliknya banyak alternatif lain yang bisa menjadi prioritas untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk memilihnya semisal pendekatan emosional, kultural, dan jejaring yang ada tanpa harus berpolitik uang, intimidasi dan lainnya dengan satu tujuan bahwa untuk meyakinkan masyarakat tentu harus dengan politik gagasan artinya setiap individu yang berlaga pada kontestasi politik harus berbasis pada ide dan gagasan dengan pandai melihat, merasakan apa yang menjadi harapan agar kehidupan masyarakat lebih baik.

    Pada bagian akhir tulisan ini, penulis mengutip hasil penelitian Amarru Muftie Holish dkk dalam kesimpulan menyampaikan Praktik money Politik dengan bentuk dan tujuan apapun adalah pelanggaran yang dikenakan sanksi Pidana yang tertera dalam Undang Undang. Bagaimanapun pengawasan terhadap Peserta Pemilu oleh lembaga yang berwenang haruslah dilaksanakan untuk menciptakan kebersihan dari penyelengaran demokrasi yang langsung Umum bebas dan rahasia, selain itu pula penyuluhan dan pencerdasan kepada masyarakat pun dibutuhkan untuk mengurangi pelangaran money politik dikarenakan pengetahuan masyarakat yang rendah pula menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pelanggaran money politic marak terjadi dikalangan Masyarakat Indonesia. (Amarru Muftie Holish dkk, dimuat pada jurnal Fakultas hukum Unnes Volume 4 Nomor 2 Tahun 2018).

    “Politik santun, politik gagasan, politik yang mendidik, mencerdaskan dan mencerahkan”



    Penulis: Muhammad Nur Dirham
    Caleg DPRD Kabupaten Bima 2019

    Penting Ikhtiar

    Prof. Rochmat Wahab.
    PEWARTAnews.com -- Pada hari ini, Rabu, 17 April 2019, adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari dilaksanakan Pemilu 2019 yang merupakan pemilu ke-13 dan terbesar dalam sejarah bangsa, karena dilakukan 5 pilihan secara bersamaan, yaitu Pileg Daerah Kab/Kota, pileg Daerah Propinsi, pileg Pusat/RI, pilihan DPD, dan Pilpres/wapres. Pro dan kontra mewarnai perjalanannya. Hajat demokrasi ini akan sangat berarti jika dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Juga secara profesional, terbuka dan objektif. Semoga berakhir dengan damai dan terjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Antara yang menang dan kalah dihimbau saling menghargai dan respek. Semuanya memerlukan ikhtiar yang sungguh-sungguh, karena ini menjadi kewajiban kita semua.

    Pemilu 2019 perlu disikapi dengan bijak. Untuk mengawal pemilu ini kiranya perlu mengacu kepada firman Allah swt, QS Al Imran:26-27, yang artinya: Katakanlah, Ya Tuhan yang memiliki segala kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut dari siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau muliakan siapa  pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    Kesuksesan hajat Pemilu sangat ditentukan      oleh ikhtiar. Bukan datang dengan sendirinya. Ikhtiar ini didasarkan atas firman Allah swt, yang pertama pada QS, Ar Ra’du: 11, yang artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ... Yang selanjutnya diperkuat dengan firman-Nya yang kedua pada QS. Di Al-Jumu’ah: 10 yang artinya: Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebarlah kamu di kmuka bumi, dan carilah karunia Allah dann ingatlah Allah banyak agar kamu beruntung.

    Di samping itu diperkuat dengan Hadits Rasulullah saw yang artinya: ...Sungguh jika sekiranya salah seorang di antara kamu membawa talinya (untuk mencari kayu bakar) kemudian ia kembali dengan membawa seikat kayu di punggungnya lalu ia menjualnya sehingga Allah mencukupi kebutuhanya (dengan hasil itu) adalah lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia baik mereka memberi atau mereka menolak. (HR. Bukhari). Baik kedua ayat Al-Qur'an maupun satu, matan hadits memperkuat betapa penting ikhtiar dalam menuju upaya mensukseskan Pemilu 2019

    Ikhtiar yang telah dilakukan, dapat  memberikan keuntungan, di antaranya sebagai berikut : (1) Merasakan kepuasan psikologis, karena telah berusaha  dengan sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, (2) merasa terhormat di hadapan Allah dan sesama manusia, (3) dapat berhemat karena merasakan susahnya bekerja, (4) tidak orang yang mudah berputus asa, (5)menghargai jerih payah sendiri dan jerih payah orang lain, (6) tidak menggantungjan diri kepada orang lain dalam hidupnya, dan  (7) menyelamatkan aqidahnya dan tidak (bebas) bertawakal kepada makhluk.

    Tidak semua Ikhtiar, itu berhasil. Cukup banyak terjadi ikhtiar gagal yang tidak memberikan hasil yang memuaskan, maka dari itu dalam berikhtiar kita melandasi setiap ihktiar dengan ikhlas, kita harus bersungguh-sungguh, sepenuh hati, dan seoptimal mungkin, berkomitmen tinggi, bekerja keras, tidak mudah putus asa dan pantang menyerah.

    Untuk mewujudkan ikhtiar ternyata tindakan selalu mulus. Ada saja hambatan dan tantangan, di antaranya: (1) tujuan lemah. Tujuan lemah menjadikan motivasi lemah, berlanjut dengan tindakan lemah, (2) tidak fokus. Ikhtiar yang berwujud banyak tugas dan pekerjaan membuatnya tidak fokus, (3) termakan oleh kesibukan. Cakupan ikhtiar berupa kesibukan bekerja dan berbisnis, yang tidak bisa dikoordinasi dengan berujung menjadi hambatan, dan (4) kurang berdoa. Sehebat apapun ikhtiar, jika tidak diridloi Allah swt, maka tujuan tidak akan bisa dicapai.

    Implikasi ikhtiar untuk mensukseskan Pemilu 2019 pada hari dan seterusnya di antaranya adalah, (1) setiap warga yang berhak memilih meggunakan haknya di tempat yang sudah ditentukan baik sebaga pemilih utama atau pindahan, (2) Panitia mulai di TPS sd KPU Pusat bertindak netral, (3) Bawaslu, TNI, Polisi, dan Keamanan menjaga kelancaran dan netralitas pelaksanaan dan pengawasan penyelenggaraa pemilu di semua level, (4) Saksi untuk pileg, pemilihan DPD, dan pilpres/wapres menunaikan tugas dengan baik dalam proses pemilihan/pencoblosan dan perhitungan, (5) pelayanan warga yang memerlukan bantuan, baik yang  berkebutuhan khusus maupun yang sakit di RS dilakukan luber dan jurdil, (6) penetapan rekapan di Kecamatan, KPUD sampai dengan KPU Pusat dilakukan dengan benar, objektif dan bertanggung jawab, dan (7) semua kontestan baik Caleg maupun Capres/Cawapres, untuk hindari politik uang dan intimidasi, dan (8) penyelesaian  proses hukum dan penetapan hasil akhir dengan menjaga netralitas untuk dapatkan hasil yang terbaik.

    Setelah kita berikhtiar untuk sukseskan Pemilu sesuai dengan hak dan kewajibannya bagi pemilih dan tupoksi bagi panitia, maka kita betawakkal kepada Allah swt, semoga Allah swt melindungi dan meridloi kita semua, bangsa Indonesia. Semoga sukses dan tercipta perdamaian menuju Indonesia lebih baik di masa-masa mendatang. Aamiin.


    Yogyakarta, Rabu, 17 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Puisi-Puisi Karya Nurkurniati, Jarak dan Merdeka?

    Nurkurniati, S.Par.
    Jarak

    Tau apakah sajak yang pas buat jarak
    Tau apakah nada yang pas buat rindu
    Tidak, entah bagaimana jarak seakan mengolok, mengoyahkan rasa

    Setebal apa lagi tembok yang meski ku bangun
    Sekuat apa lagi mantra untuk menguatkan hati
    Menjelaskan kepada jiwa bahwa obat rindu tidak harus bertemu

    Warna senja seakan memberiku harapan akan datang malam yang penuh bintang
    Seakan mengisyaratkan bukan cuman aku yang selalu mendamba bintang ditengah gelap malam yang menemani sepi pun kau yang berada dibalik malam

    Setidaknya masih ada bintang yang akan aku titipkan rindu dan menyampaikan pada dia yang selalu ku tunggu dipenghujung hari

    Aku tidak suka rindu yang selalu hinggap yang kadang mencekam, yang selalu menuntut ingin kembali bersua

    Kadang rindu datang dengan mengelitik hati ketika tau jika bukan hanya aku saja yang merasa tapi juga dia yang juga sama atau mungkin lebih merindu.

    Kau tahu
    Ketika aku rindu, bertemu adalah yang akan selalu terlintas dipikiranku tapi ketika mungkin selangkah lagi kita akan sama menuju akhir harapku

    Tunggulah sebentar lagi
    Selangkah lagi saja
    Tidak akan lama
    Tidak akan dicekik lagi oleh rindu

    Kita akan sama sama bertemu ditengah kota, tempat kita saling melambai untuk berpisah dan bertemu lagi

    Dengan kebanggaan yang aku dan kamu perjuangkan
    Iya, kebanggaan yang menciptakan rindu yang siap mencekik kita tanpa ampun.

    Tapi sekarang kita akan bertemu
    Jarak tidak akan mengolok kita lagi
    Dan rindu tidak akan menjadi keluhan lagi.

    Yogyakarta, 26/03/2019


    Merdeka?

    Merdeka kah?
    Apa merdeka itu tetap berkibarnya sang merah putih?
    Apa merdeka karena kita masih melihat terbitnya matahari di pagi hari?

    Merdeka kah?
    Apa karena semboyan kita 'bhineka tunggal ika' kita jadi meresa merdeka?
    Apa karna semboyan kita 'NKRI harga mati' cukup membuat kita merasa merdeka?

    Lalu jika bukan itu, kemudian apa?
    Penjara si kaya dan si miskin berbeda ? Itukah merdeka ?
    Si kaya beralaskan kasur empuk dan si miskin beralaskan lantai dingin penjara, itu kah merdeka ?

    Kemudian apa lagi?
    Perampok negara memiliki fasilitas seperti di hotel bintang lima!
    Perampok ayam makan aja pake sayur kangkung lengkap dengan dinginnya lantai dan dinding penjara

    Sebenarnya apa itu merdeka?
    Bebas berpendapat?
    Dari rakyat untuk rakyat?
    Yang aku tau dari hak rakyat untuk kepentingan perindividu-individu yang tidak tahu diri dengan seenaknya mengklaim hak orang lain!

    Coba renungkan
    Apa merdeka adalah dengan menulikan telinga dari jeritan-jeritan rakyat miskin?
    Apa merdeka adalah dengan menutup mata dari mereka yang membutuhkan uluran tangan dari pemimpinya?

    Lalu jika semua itu bukan!
    Bisa tolong engkau jelaskan kepadaku apa sebenarnya merdeka itu, dan bagian mana dari Indonesia yang sudah merdeka!!

    Wahai kau tuan yang memakai dasi licin
    Wahai kau tuan yang memakai fantovel mengkilat
    Engkau yang selalu mengagung-ngagungkan kemerdekaan!
    Engkau yang selalu menyorakkan kemerdekaan!

    Bagian mana sebenarnya Indonesia yang merdeka?

    Yogyakarta, 26/03/2019

    Karya: Nurkurniati, S.Par.
    Alumni Sokolah Tinggi Ilmu Pariwisata (STIPRAM) Yogyakarta / Eks Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Misedukasi

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.

    PEWARTAnews.com -- Setiap anak berhak tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi dan kondisinya. Pada kenyataannya, tidak semua anak memperoleh haknya secara memadai, sebagai konsekuensi logis dari tindakan misedukasi. Karena semua anak didorong untuk menjadi “superkid”, baik di bidang akademik, seni, maupun olahraga. Bahkan ditemukan bahwa sejumlah orang tua berobsesi menjadikan anaknya  sebagai juara, sehingga kadangkala orangtua terpaksa berbuat tidak sportif dan curang untuk menjadikan anaknya sebagai juara dengan melakukan pendekatan dengan juri, terutama untuk bidang yang tak terkur. Di samping itu akhlaq juga belum menjadi concern banyak orangtua. Padahal tidak semua anak bisa tampil hebat dan setiap anak harus bermoral dan berakhlaq yang terpuji.

    Misedukasi terjadi ketika materi pendidikan yang disiapkan dan diberikan itu salah dan terjadi pada waktu yang salah pula. Materi pendidikan yang diberikan pada saat anak belum matang, ketika kondisi fisik dan mentalnya belum siap. Belum lagi soal penanaman nilai terabaikan. Demikian pula setting yang diciptakan belum kondusif dan supportif, sehingga tidak terjadi proses pendidikan yang natural.

    Salah satu akibat dari misedukasi dalam jangka pendek adalah stress pada anak. Anak merasa depresif karena tuntutan orangtua kadangkala di luar potensi dan cukup membebani. Adapun akibat jangka panjang misedukasi adalah timbulnya trauma psikologis dan fisik, yang bisa berakibat fatal untuk kehidupan anak selanjutnya. Bahkan bisa merusak harga diri (self esteem) anak dan hilangnya  sikap positif anak terhadap belajar. Anak merasa inferior dan tak memiliki gairah untuk belajar.

    Dalam konteks kehidupan era millenial, orangtua tidak boleh absen dalam proses pendidikan anak. Bahwa setiap anak menjadi warga natizen harus didik dengan bena, sehingga bisa menjadi agen perubahan, filter nilai dan beradaptasi. Tugas ini tidak mudah, karena itu orangtua harus mampu fasilitasi dan membimbing anak untuk bisa hidup pada jamannya. Orangtua harus wise dan tidak boleh melakukan misedukasi yang bisa berakibat fatal bagi masa depan anak. Semua aspek kehidupan anak itu penting, namun yang penting adalah menanamkan iman dan ajaran agama, sehingga anak bisa kuat fundasinyanya dan berkarakter.

    Strategi yang terbaik untuk mendidik anak adalah memberikan Pengasuhan dan Pendidikan yang sesuai dengan tugas perkembangan. Untuk itu setiap orangtua seyogyanya memiliki pengetahuan minimal tentang tugas perkembangan anak (fisik, bahasa, kognitif, dan moral). Dengan mengetahui tugas perkembangan anak, orangtua bisa melakukan scaffolding untuk bisa kawal anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Jika kita bisa wujudkan tindakan ini, maka kita bisa buktikan telah mampu memberikan pendidikan sehat (healthy and proper education).

    Anak adalah suatu amanah yang besar dan berat. Harus dipertanggungjawabkan kepada Allah swt. Untuk mewujudkan amanah itu, tidak ada pilihan yang lebih baik bagi orangtua, kecuali mendidik anak dengan baik dan benar, sehingga terhindar dari misedukasi. Orangtua perlu banyak membaca dan berinteraksi dengan orang lain, terutama ahli terkait bidang pendidikan dan psikologi, termasuk tokoh agama yang disegani.  Jika dimungkinkan sekali, perlu membangun sistem pengasuhan dan pendidikan yang benar dan sesuai (Developmentally Apropriate Parenting or Education). Memang tidak mudah untuk wujudkan pendidikan baik dan sesuai bagi anak-anak kita, yang penting kita terus berikhtiar menuju yang terbaik.


    Yogyakarta, 04/04/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



    FPPD NTB Laporkan Panitia Ajudikasi Pengerjaan PTSL di Kejari Raba Bima

    Suasana saat FPPD NTB Laporkan Panitia Ajudikasi Pengerjaan PTSL di Kejari Raba Bima, 8/4/2019.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Selasa, 8 April 2019 Forum Pemuda Pemerhati Desa (FPPD) Nusa Tenggara Barat (NTB) melaporkan panitia Ajudikasi pada Pengerjaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Desa Ngali, Desa Lido, Desa Soki, Desa Ncera dan Desa Diha yang diduga telah melakukan pemungutan liar sebesar Rp350.000 kepada Masyarakat pada PTSL melalui Program Prona tahun 2019.

    Berkas laporan Pengaduan Pungli tersebut diantar oleh Anwar Sadat, Muslim Akbar dan Nahrudin perwakilan dari FPPD NTB dan diterima oleh Nurhayati bagian Tata Usaha Kejaksaan Negeri Raba Bima.

    FPPD NTB menilai perbuatan itu bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria, Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dan Permen Agraria dan Tata Ruang Nomor 1 tahun 2017, Nomor 12 tahun 2017 dan Nomor 6 tahun 2018 tentang PTSL.

    Seluruh aturan tersebut menegaskan bahwa kegiatan Pendaftaran Tanah khususnya PTSL pembiayaannya sudah dibebankan di ABPN, APBD dan/atau DIPA.

    Artinya PTSL yang dilaksanakan tahun 2019 pada 5 (lima) Desa di atas sudah memiliki alokasi dana khusus dari Pemerintah.

    Laporan ini berawal dari hipotesis yang cukup meresahkan masyarakat karena tarif yang dilakukan oleh Panitia Ajudikasi PTSL dari masing-masing Desa tersebut berbeda-beda. Ada yang Rp150.000, ada juga Rp200.000 dan bahkan ada yang Rp350.000.

    Hal ini yang membuat kami selaku Pengurus FPPD NTB Merespon dan mempelajari, Melaporkan ke pihak yang terkait kebijakan tersebut dan kami menemukan banyak kejanggalan.

    Kesalahan yang cukup fatal bagi kami bahwa Panitia Ajudikasi PTSL menjadikan SKB 3 Menteri sebagai dasar acuan untuk memungut biaya Rp350.000 tersebut yang pada substansinya SKB 3 Menteri tersebut tidak ada kaitannya PTSL melalui program Nasional Agraria (PRONA) karena dalam UU No. 6 tahun 2018 cukup detail menjelaskan perbedaan PRONA/PRODA dan SMS yang semua itu memiliki acuan pembiayaan. 

    Acuan SKB 3 Menteri yang dijadikan landasan Panitia Ajudikasi PTSL tersebut bukan acuan untuk Program Nasional Agraria (PRONA) tetapi acuan itu sesungguhnya hanya mengatur Sertifikat Massal Swadaya (SMS) atau besaran biaya yang dibebankan kepada Pemerintah Daerah bukan kepada Masyarakat. Jadi Panitia Ajudikasi PTSL cukup keliru dalam memahami dan menerapkan SKB 3 Menteri tersebut dan dinilai sangat merugikan masyarakat dengan taksiran Rp 1.890.000.000.00 (satu miliar delapan ratus Sembilan puluh ribu). (Akhir)

    Messenger of Peace (Dalam Dua Pandangan Budaya)

    Nursuciyati.
    PEWARTAnews.com -- Kedamaian adalah tujuan hidup semua orang pada umumnya.

    Kedamaian dilihat dari kultur masyarakat jawa, mereka sangat peduli akan kedamaian tentu mereka selalu tau cara berdamai yang asyik dari suatu hal sekecil apapun. Sekarang, sangat berbanding terbalik dengan kultur masyarakat di kampung halamanku (Kecamatan Belo) mereka selalu menyuarakan tentang perdamaian tapi mereka selalu lupa cara berdamai sesungguhnya seperti apa keadaannya.

    Mereka berteman tapi sering lupa caranya untuk berteman
    Mereka berkeluarga tapi melihat satu sama lain seperti orang asing
    Pun, mereka hidup bersosial katanya. Yah mereka memang hidup bersosial tapi mereka lupa hakekat bersosial itu bagaimana keadaannya, dan seperti apa seharusnya.

    Beberapa tahun terakhir saya hidup di Jawa, saya selalu menemukan cara hidup yang benar-benar harus sesuai aturan, saya orang Bima dan saya tinggal di sini (Yogyakarta)  mau tidak mau saya harus bisa menjadi orang Jawa dihadapan mereka (orang Jawa) tetapi tanpa menghilangkan hakikat saya sebagai orang Bima. Itu artinya mereka selalu bisa menerima keadaan seseorang tetapi harus bisa mentaati keadaan dan aturan setempat yang otomatis sekaligus menyadarkan kita bahwa menghargai dan bermasyarakat dalam hal seperti ini sangat bisa dijadikan patokan dalam perdamaian itu artinya mereka selalu disiplin dalam hal aturan, apalagi dalam aturan kedamaian dan kenyamanan itu selalu menjadi yang utama.

    Sebenarnya orang Bima sangat bisa seperti ini, karena pada dasarnya sifat asli orang Bima adalah mau berbagi, mau menerima semua orang siapapun itu tanpa harus berpura-pura,  tanpa harus menjadi orang lain karena menjadi diri sendiri itu perlu katanya.

    Mungkin sifat dan suasana seperti ini masih ada tapi sudah mengikis oleh dinamika jaman karena kalau dilihat-lihat orang di kecamatan Belo khususnya sangat mudah terprofokasi oleh keadaan dan empati terhadap keadaan yang masuk.

    Oleh karenanya, Mari!! Bahu membahu kita budayakan budaya dasar orang Bima (Kambali Mbojo Mantoi), jadilah pelaku dalam sejarah kebaikan dan perdamaian untuk tanah leluhur kita.


    Penulis: Nursuciyati, SKM.
    Alumni Universitas Ahmad Yogyakarta / Eks Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Manajemen Stres

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar ekspresi stress pada seseorang. Umumnya stress itu dipahami sebagai sesuatu yang negatif, sehingga harus dihindari. Padahal secara konseptual atau empirikal stress kadang bersifat positif, karena sangat diperlukan. Karena itulah tulisan ini dirasakan lebih kena menggunakan manajemen stress daripada menangani stress. Bagaimana kita bisa menghadapi stress apapun jenisnya bisa bermanfaat dan berdampak baik untuk kita. Jangan sampai terjadi, stress negatif berdampak negatif terhadap diri kita sendiri, apalagi stress positif.

    Lazarus (1984) mengatakan bahwa “Stress is simply the body's response to changes that create taxing demands”. Pengertian ini memberikan indikasi bahwa stress itu sebagai kekuatan yang bisa menciptakan tuntutan yang membebani, baik yang bersifat negatif maupun positif. Stress negatif yang sering kita ingin hindari disebut distress dan stress positif yang sering kita kehendaki disebut eustress.

    Untuk memahami stress lebih detil, mari kita cermati karakteristik stress negatif dan stress positif.  Karakateristik stress negatif (distress) , diantaranya: (1) menyebabkan kecemasan, (2) bersifat  jangka pendek atau panjang, (3) dirasakan sebagai kemampuan mengatasi dari luar diri, (3) merasa tidak nyaman, (4) menurunkan kinerja, (5) dapat mengarahkan problem  mental dan fisik. Karakteristik stress positif (eustress) di antaranya: (1) memotivasi, (2) bersifat jangka pendek, (3)  dirasakan sebagai kekuatan dari dalam, (4) terasa menyenangkan, dan (5) memperbaiki penampilan.

    Uraian tentang karakteristik kedua jenis stress ini mestinya memberikan kemudahan kita dalam memahami stress. Namun pada kenyataannya, terjadi yang tidak kita kehendaki. Contoh kehadiran Ujian Nasional (UN) yang dirancang untuk memotivasi anak untuk bisa belajar dengan sungguh-sungguh, bergeser menjadi sesuatu yang mencemaskan. Akibatnya sempat muncul kebijakan akan menghilangkan UN. Padahal langkah ini belum tentu tepat. Mengapa, karena Global Competitiveness Indexes (GCI) pada ranking 36 pada 2017 turun menjadi 45 pada 2018. Kini sudah mulai terasa bahwa anak-anak tidak terlalu semangat untuk belajar, karena semangat kompetisi sehat dibangun. Untuk supaya tidak merugikan, maka eustress ini perlu dimanaj dengan baik.

    Contoh stress negatif yang harus dimanaj dengan baik, yaitu salah satunya adalah adanya kematian atau kecelakaan salah satu anggota keluarga yang sangat dicintai. Stress negatif ini wajar sekali berdampak negatif terhadap diri kita. Namun stress negatif ini bisa kita hadapi dengan memanfaatkan iman dan penguasaan agama kita sehingga bisa berdampak positi. Allah swt berfirman, bahwa setiap yang bernafas akan mati. Bahwa di antara akan diuji dengan rasa takut, lapar, hilangnya harta benda dan hilangnya nyawa, maka bersabarlah. Stress negatif ini tidak lagi menjadikan kita bersedih selama dalam waktu yang lama, melainkan dapat dihadapi dengan sabar dan cepat atas kesadaran beragama kita.

    Amy Moryn (2015) menawarkan sejumlah cara orang-orang untuk dapat menangani stress, di antaranya sbb:
    (1) They accept that stress is part of life.
    (2) They keep problems in proper perspective.
    (3) They take care of their physical health.
    (4) They choose healthy coping skills.
    (5) They balance social activity with solitude.
    (6) They acknowledge their choices.
    (7) They look for the silver lining.
    Berdasarkan cara-cara ini, semakin jelas dalam menghadapi stress, sangat bertumpu pada subjeknya.

    Ketepatan kita memanaj stress dapat berdampak terhadap kondisi kesehatan mental kita. Namun sebaliknya, jika kita mismanajemen terhap stress, dapat berdampak negatif terhadap kondisi psikis atau mental kita. Yang sering muncul adalah psikosomatis. Yaitu gangguan psikis  yang bisa berakibat terhadap kesehatan fisik. Akibat psikis terganggu, tidak bisa tidur dan makan dengan baik dan teratur. Lama-lama metabolisme tubuhnya terganggu. Akibatnya menderita sakit. Hal ini tidak bisa dibiarkan, karena akan berdampak panjang.

    Akhirnya kita sadari bahwa hidup kita ini penuh dinamika. Antara tuntutan dan kebutuhan hidup tidak bisa kita hindari menimbulkan stress. Jika kita bisa atasi stress secara tepat, maka kita akan selamat. Yang tidak hanya di dunia, melainkan juga sampai di akhirat. Perlu diyakini bahwa orang yang berhasil menghadapi stress dengan sabar, bersyukur, ikhlas, niat suci, do’a dan tawakkal, insya Allah hidupnya akan bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika kita gagal memanaj stress dengan baik bisa jadi kita  berbuat nekat, jahat, dan maksiat, sehingga hidupnya bisa sangsara baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah swt selalu membimbing hati dan melindungi hidup kita.


    Yogyakarta, 03/04/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



    Jangan Jadikan Agama sebagai Lacur Kepentingan Politik

    Fen Yasin Arfan.
    PEWARTAnews.com -- Kondisi dalam hidup bermasyarakat, jangan sampai terjadi transaksi jual beli agama demi kepentingan politik praktis, dan juga jangan sampai jadikan agama sebagai lacur kepentingan politik.

    Dalam Pandangan penulis selama ini masih ada oknum-oknum menjual agama demi uang dan kuasa politik, memang begitu tidak bisa dinafikkan yang seperti itu. Sebagai saluran aspirasi yang resmi, banyak juga oknum mengajak menerapkan ajaran Islam melalui dangdut koplo, nah itu perlu diprotes sebenarnya, namun para oknum tersebut sepakat dengan adanya hal-hal itu.
     
    Dalam Pandangan penulis ada tuduhan kejam berbagai pihak kepada para politisi muslim sebagai penjual agama amatlah janggal dan lucu. Seorang muslim yang berpolitik dengan menggunakan agamanya tidak serta merta menjual agamanya. Sebagaimana seorang komunis yang berpolitik dengan ideologinya tidak serta merta dapat dituduh sebagai menjual kekomunisannya dengan harga murah.

    Menurut penulis bahwa sesuatu yang wajar jika seseorang berpolitik dengan cara pandang Islam, sebab Islam memang memiliki cara pandang terhadap kehidupan, termasuk politik.

    Penulis, mengajak orang sepikiran sepemahaman untuk berpolitik bukan hal yang aneh. Justru itulah tujuan berpolitik. Seorang Muslim, berpolitik, mengajak muslim lain untuk menyampaikan aspirasi politik Islam melalui partai Islam, ya itu sesuatu yang sangat wajar. Kondisi yang tak wajar itu, seorang komunis mengajak para santri menegakkan syariat Islam dengan jalan memilih PKI. Itu tidak wajar karena dua hal. Pertama, PKI tidak memiliki program menerapkan syariat Islam. Kedua, PKI sudah bubar dan bangkrut, tak relevan lagi untuk diharapkan atau dilawan. Atau non-muslim yang kampanye di pesantren, penulis memandang itu suatu keanehan. Inilah yang menjadi harapan penulis agar umat Islam sadar dengan kezholiman yang terjadi di Indonesia.

    Menurut pantauan penulis selama ini, aspirasi politik Islam wajar disalurkan melalui partai Islam. Seseorang yang meminta dipilih dalam Pemilu oleh para santri dan muslim lainnya dengan alasan membawa aspirasi Islam, ketika di hadang badai maka pikiran selalu berubah untuk melakukan korupsi.

    Politik memang begitu dan diselenggarakan untuk itu. Sebagai saluran aspirasi yang resmi. Kalau seseorang mengajak menerapkan ajaran Islam melalui dangdut koplo, itu perlu di protes, dibubarkan saja, sebab merusak moral umat Islam dan Muslim Indonesia.

    Dalam pandangan penulis selama ini ada beberapa hal yang paling penting di lawan dengan kekuatan yang moral akan tetapi, hal inilah yang membuat kita menjadi rusak akibat ada orang yang membawa-bawa Islam tetapi setelah berkuasa justru jauh dari aspirasi Islam. Setelah berkua mangkir melakukan korupsi dan kawin lagi. Tidak amanah dan bahkan menjadi akrobat kekuasaan dan Bandit bandit korupsi maupun Menjadi penipu bagi Rakyat Indonesia.

    Banyak oknum ulama, oknum Kiyai, oknum ustad dan oknum politikus Islam mengkhianati umat demi kepentingan pribadi dan kelompok yang terorganisir. Inilah yang menjadi persoalan bagi penulis selama ini memantau persoalan politik umat muslim di Indonesia.

    Menurut penulis mereka bajingan yang memang pada dasarnya menjual ayat-ayat suci Al-Qur'an demi tahta dan gila terhadap kekuasaan maupun lacur kepentingan politik. Namun demikian, adanya politisi muslim yang brengsek tidak serta merta menjadikan semua politisi Muslim sebagai bedebah.

    Dalam Pandangan penulis bahwa tujuan politik Islam bukanlah kawin lagi dan korupsi. Korupsi dan kawin lagi bukan asas-asas maupun cabang politik Islam. Kalau ada politisi Islam yang begitu, ya itu cuma kelakuan oknum saja, namanya juga manusia. Mereka juga bukan sedang menjual agama mereka sebab agama bukan barang dagangan dan mereka bukan pedagang. Agama tidak ada harganya (bukan tidak berharga) dan tidak bisa ditakar dengan rumus-rumus ekonomi. Agama tidak di jual di pasar swalayan.

    Penulis harapkan untuk para politisi Islam agar mampu menerapkan sistem Politik Islam yang sesungguhnya bukan menerapkan sistem politik praktis dan politik kapitalisme dan neolib.

    Waktu tahun 2014 oknum ulama, oknum kyai dan oknum ustad mengatakan bahwa politik itu haram katanya, ketika di tarik menjadi menteri maupun kedudukan di dalam istana negara maka dia bungkam seperti pasukan Nasi bungkus. Apakah ini menjadi lacur kepentingan dan kebohongan maupun lacur menjual ayat-ayat Allah demi tahta dan kezholiman.

    Penulis sering melihat dan sering dengar ungkapan yang mengatakan “jangan membawa-bawa agama ke dalam politik!”. Dan lalu? Kita harus simpan-simpan agama? Ini juga keliru. Sesuatu yang bisa dibawa dan di simpan tentu saja sesuatu yang bisa terpisah dari kita. Seperti baju yang bisa kita pakai dan kita lepas. Atau batu yang bisa kita bawa atau kita buang. Atau juga istri yang bisa kita ajak atau kita tinggalkan. Tapi agama bukan baju, bukan batu, dan bukan istri.

    Agama tidak serta merta bisa dipakai, dibawa, diajak, dilepas, di simpan, atau ditinggalkan. Istri juga tidak serta merta bisa di simpan, dibawa, dipakai, dan di lepas. Agama, baju, batu, dan isteri merupakan hal-hal yang berbeda dan kita perlu menempatkan hal-hal itu pada kewajarannya. Kita tidak bisa menyimpan istri dan mengangkut agama. Atau mengajarkan batu dan mengajak pakaian.

    Penulis menegaskan kalau ada yang menjual agama, dia salah memahami agama, dan dia tidak memahami apa itu jualan. Sebab yang di jual itu biasanya semacam singkong dan beras. Orang memang bisa meraih keuntungan dengan memanfaatkan agama tapi kalau kita kemudian melihat agama seperti roti atau beras, itu jelas keliru.



    Penulis: Fen Yasin Arfan 
    Aktivis AMM Pemuda Muhammadiyah / Aktifis Anti Korupsi

    Trend Pendidikan Dasar

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Pendidikan secara konstan terus berubah dan melakukan reformasi sejalan dengan perubahan sosial yang terjadi. Terlebih-lebih pendidikan dasar harus mampu memberikan fondasi untuk pembaruan di masa-masa berikutnya, terutama dalam mengikuti dan merespon dinamika sosial yang sangat cepat.

    Amanda Holroyd (2018), Kate Barrington (2019) mengidentifikasi kecenderungan dan issu pendidikan dasar di antaranya sbb: (1) Duduk fleksibel. Dalam manajemen kelas, anak-anak di setting dengan duduk fleksibel, tidak permanen. Setiap pelajaran bisa duduk sendiri, berdua, bertiga, berempat atau seterusnya dengan bergantian pasangan. Karena itu bentuk kursi dan mejanya harus ringan dan kuat. Selain didukung oleh pojok atau pusat Bahasa, Matematika/Berhitung dsb. Diharapkan benar-benar kelas kondusif untuk efektivitan pembelajaran apapun.

    Kedua, Pentingnya bermain. Bermain adalah dunianya anak-anak. Bermain adalah bekerjanya anak, bekerja adalah bermainnya orang dewasa. Betapa penting bermain itu bagi bagi anak. Bernad Show telah membuktikan bahwa “we don’t stop playing because we grow old, we grow old because we stop playing.”  Bermain tidak hanya menyangkut aspek fisik, melainkan juga aspek, psikologis, emosional, sosial, dan mental.

    Ketiga, Belajar gagal. Bahwa gagal itu penting, terutama dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Untuk tumbuh dan berkembang diperlukan gagal, yang wujudnya diskontinu. Selama ini proses perjalanan anak berlangsung kontinyu TK  sampai Perguruan tinggi. Faktanya sangat diperlukan diskontinyu dari TK ke SD, SD ke SMP dan seterusnya. Pertumbuhan dan perkembangan anak SD dapat temui gagal, segar kembali, terus berubah dan sampai pada pembaharuan. Artinya bahwa gagal itu fitrah. Untuk itu ketika gagal, perlu disemangati untuk bisa bangkit kembali.

    Keempat, Cepat tidak berarti terbaik. Memberikan jawaban dalam waktu singkat dengan benar, bukanlah terbaik, karena hanya akan andalkan ingatan. Padahal jawaban benar dan lebih baik butuh waktu yang lebih lama karena diperlukan berfikir, mulai dari membuat pola berpikir, membuat koneksi dan diseminasi hasil berpikir.

    Kelima, Pertemuan pagi, terbaik untuk hari itu. Pertemuan pagi adalah cara yang efektif untuk mengatasi stress. Biasanya setiap hari,  anak harus menggunakan cara menangani stress. Dengan pertemuan pagi diharapkan bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan dialog serta sharing, tentang apa yang dimiliki anak berkenaan dengan pengetahian dan pengalamannya masing. Hal ini perlu dilakukan di awal jam pertama. Boleh juga disebut jam ke-0.

    Keenam, Belajar berbasis inquiry. Anak-anak dibiasakan dapat dibekali pertanyaan terbuka, bukan fakta. Karena itu diiharapkan anak-anak bisa menjawab dengan pengetahuan dan solusi. Untuk hal ini anak yang banyak dibantu lebih pertanyaan “Bagaimana Anak-anak mengetahui” daripada  “Apa yang Anak-anak ketahui.” Kegiatan investigasi sangat diperlukan.  Terumata untuk memgarah pada kemampuan pemecahan masalah sederhana.

    Ketujuh, Belajar berbasis  proyek. Pembelajaran diharapkan yang semula berorientasi kepada pemerolehan pengetahun saja menjadi pemerolehan keterampilan. Sesuatu yang sangat diperlukan di usia-usia awal. Bahkan kegiatan juga bisa dikembangkan belajar praktek (hand on learning). Pembelajaran dari learning by doing, hingga menjadi learning by making. Arah pembelajaran ini diarahkan untuk mengabtarkan ansk menjadi warga masyarakat yang inovatif.

    Kedelapan, Belajar kooperatif dan kolaboratif. Anak-anak pada usia ini sangat dipengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya oleh teman sebayanya. Karena itu pembelajaran kooperatif dan kolaboratif sangat diperlukan, sehingga kecakapan sosial anak tumbuh dan berkembang. Guru harus manfaatkan  kondisi ini.

    Kesembilan, Pendekatan belajar holistik. Pembelajaran tidak hanya difokuskan pada aspek akademik saja, melainkan juga aspek personal, emosional dan sosial. Terutama di suatu sekolah yang sekalipun, anak-anak dengan latar belakang sosial dan ekonomi berbeda, terutama ada yang kurang beruntung, perlu dilayani makan bergizi dan  tindakan terapi traumatik. Dengan harapan anak-anak yang kurang beruntung secara psikologis, kesehatan, dan ekonomi dapat ikuti prmbelajaran dengan baik.

    Memperhatikan kecenderungan dan issue pendidikan dasar, ada issu-issu penting lainnya yang perlu di-address dalam konteks di Indonesia. Kita samgat menyadari akan pentingnya penanaman pendidikan karakter sejak dini yang perlu diupayakan secara  lebih mantap untuk menuju pembentukan manusia seituhnya. Pendidikan karakter perlu dilakukan segregatif dan integratif dengan saling melengkapi. Selanjutnya pendidikan kultural dan perdamaian yang perlu dikenalkan sejak dini, sehingga terbangun rasa respek terhadap perbedaan individu yang notabene masyarakat Indonesia sangat majemuk. Terakhir perlunya pendidikan berbasis digital, karena generasi milenia harus aktif menjadi digital citizen. Mereka hidup dalam iklim digital. Literate digital menjadi suatu kebutuhan.

    Kita sangat menyadari pendidikan dasar dianggap biasa, akibatnya tidak dipandang ada masalah yang berarti. Padahal banyak persoalan yang muncul seiring dengan perubahan sosial yang terjadi sehingga terbangun suatu masyarakat yang relatif berbeda dengan masa silam. Sistem pendidikan dasar tidak bisa dibiarkan dan tanpa disentuh. Untuk itu beberapa issue yang perlu diketahui, difahami, dicermati, dan diktritisi para guru di pendidikan dasar, orangtua, dan para stakehoder lainnya, sehingga sistem pedidikan dasar benar-benar mampu memberikan landasan yang kuat, baik terkait tentang masalah akademik maupun non akademik.


    Yogyakarta, 01/04/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Sebuah Sair Ajakan Perdamaian Untuk Belo, Oleh Dicky Zulkarnain Ketua Umum FIMNY

    Dicky Zulkarnain.
    PEWARTAnews.com -- Sebuah ajakan perdamaian, karna kita adalah manusia dan anak dari seseorang yang bernama manusia. Teruntuk seluruh desa di Kecamatan Belo Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Kini taman Firdaus yang begitu indah sudah terombang ambing oleh kebudayaan modern. Budaya yang tidak mampu dicernai oleh generasi muda.

    Kini akal dan hati terhipnotis dengan lagu-lagu kekerasan. Kecamatan Belo yang dulu adalah taman bunga firdaus kini menjadi seperti Pandawa dan Kurawa.

    Oh... Leluhur dana Mbojo mambari lihatlah kecamatan yang kau rawat, kini makin lama makin tua.

    Wahai leluhurku kami merindukan sair-sair Kedamaian mu agar kami selalu dalam kerinduan saling kasih megasihi.

    Wahai leluhurku, dengarkanlah tangisan kami, siapa lagi yang menasehati kami kecuali suara tangisanmu.

    Wahai leluhurku... Lihat para orang tua, tokoh agama, pemimpin, pemimpin kaum muda kini menjadi penonton. Ditonton seperti tarian Wadu Ntanda rahi yang tidak ada yang bisa dipercaya.

    Para generasi tua tidak tahu apa yang  dilakukan sebagai orang yang dituakan, para toko agama tidak tahu arti alim ke ulamaannya, para pemimpin tidak tahu apa yang dipimpinnya, generasi muda tidak tahu kepemudaanya.

    Wahai leluhurku.... Kami rindu Kedamaianmu.
    Wahai leluhurku.... Kami rindu nasehatmu.
    Wahai leluhurku.... Kami rindu senyumanmu.
    Wahai leluhurku.... Kami rindu belaianmu.
    Wahai leluhurku.... Kami rindu kebersamaanmu.
    Wahai leluhurku.... Kami rindu ajaran kasih sayangmu agar kami menyatu dalam perbedaan kami yang begitu indah.

    Oh... Leluhur kecamatan Belo...
    Oh... Leluhur kecamatan Belo kami rindu kedamaian dan kedamaian Desa Diha, Ncera, Soki, Lido, Ngali, Renda...

    "Sujud syukur kami sekeluarga yang ada di Kecamatan Belo"

    Bulan yang penuh berkah kini kembali untuk menyucikan para Umat Muhammad Rasulullah Bin Abdillah, Nabi yang Ummih tatkala malam yang penuh gelap gulita bertafakur.

    Kerinduan yang menggelegar dengan awan yang putih mencium kening kami sekeluarga terbang bersama bidadari di negeri pelangi bertemu kepada kekasih Allah dengan bersujud syukur dengan ribuan tahun lamanya bersama Allah.

    Satukanlah kami dunia dan akhirat dengan para malaikat Allah, Para Nabi, Para Rasul, Para Sahabat, Para Aulia, Para Alim Ulama, Para Ahli Hadis, Ahli Tafsir, Ahli Sufi yang muhakikin, yang masih hidup ditaman firdaus.

    Kami merindukan kedamaian untuk kami sekeluarga yang ada di Kecamatan Belo Kabupaten Bima terutama Desa Ncera, Lido dan Ngali.


    Penulis: Dicky Zulkarnain
    Mahasiswa Bima Yogyakarta / Ketua Umum Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Trend PAUD


    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Belakangan ini Pendidikan Anak Usia Dini  (PAUD) menjadi kebutuhan bangsa Indonesia secara menyeluruh, apalagi munculnya kebijakan satu desa satu PAUD. Kinerja PAUD, ada yang bertaraf internasional, nasional dan lokal. PAUD ada yang dikelola oleh pemerintah dan yang dikelola yayasan serta organisasi berbasis nasional dan keagamaan. Untuk  menjadikan  PAUD bermutu,  maka perlu menyikapi Trend PAUD secara objektif  dan  kritis.

    Spreeuwenberg (2016) dan Jobes (2017) yang meng-address kecenderungan issue PAUD, di antaranya, (1) profesionalisme, kebutuhan kualitas pendidik; (2) immergence learning, materi pembelajaran yang diperlukan saat pembelajaran berlangsung, (3) innnovation, innovasi dan teknologi merupakan sentral PAUD di abad ke-21, (4) memperkecil jarak prestasi, memperkecil jarak prestasi akademik antara anak yang berbeda status sosial ekonomi, (5) prinsip-prinsip kegiatan di kelas, guru didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai inti dalam kelas.

    Selanjutnya perlu dijelaskan lebih rinci. Pertama bahwa kebutuhan pendidik profesional untuk PAUD perlu dilakukan terus menerus, mengingat pendidik PAUD di Indonesia dewasa jauh lebih banyak yang mismath, sebagai konnsekuensi sertifikasi pendidik PAUD yang berkuakifikasi S1. Setiap pendidik PAUD wajib melakukan perbaikan diri (self improvement). Kedua, kurikulum PAUD memang wajib diwujudkan, melainkan dalam prakteknya perlu dimodifikasi untuk menyesuaikan kebutuhan belum lagi mengikuti Developmentally Appropriate Programs dan Contextual learning, di samping Joyful learning.

    Ketiga, pemanfaatan innnovasi dan teknologi menjadi suatu kebutuhan juga untuk antar anak menjadi masyarakat inovasi. Demikian juga anak diajak mengenali dan memanfaatkan hasil innovasi dan teknologi informasi dan lainnnya  secara tepat, sehingga siap menjadi manusia aktif di era digital. Ansk anak menjadi objek saja, tetapi menjadi subjek. Keempat, untuk meraih prestasi akademik yang tinggi tidak bisa diabaikan peran lingkungan yang kondusif. Untuk mengurangi jarak prestasi akademik terkait dengan status sosial ekonomi orangtua, perlu sekali keberpihakan pemerintah untuk menfasilitasi pertimbuhan dan perkembangan anak, dengan memberikan jaminan makanan yang bergizi cukup, dukungan fasilitas belajar dan pakaian serta peralatan belajar dan uang saku untuk kepentingan sehari-haru, di samping transpirtasi yang diperlukan dalam mengikuti kegiatan pendidikan setiap harinya.

    Kelima, menyadari akan eksistensi anak sebagai individu yang utuh, maka pendidik didorong untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan kinestetik, emosi, bahasa, sosial, dan inteletual. Kegiatan pendidikan perlu dilakukan secara integratif. Di sinilah pendidik kreatif dan inovatif sangat diperlukan.

    Jika memperhatikan kecenderungan PAUD, dengan mengingat kebutuhan kita sebagai insan pancasilais dan religus, ada satu aspek yang belum di address yaitu aspek religius. Oleh karena itu insitusi dan pendidik PAUD perlu mengakomodasi pegembangan aspek religius. Apalagi fundasi karakter agama sangat strategis dalam kehidupan insan. Di samping itu juga persoalan multikultural, yang secara fitrah bangsa Indonesia yang beragam, berbhinneka tunggal ika. Anak perlu dikondisikan sejak dini untuk respek antar sema, respect each other. Semoga dengan upaya seperti ini bisa terbanguan rasa keutuhan keluarga, persaudaraan, persatuan dan kesatuan bangsa.

    Demikianlsh beberapa kecenderungan PAUD yang perlu diperhatikan san direspon, yang tidak oleh para pengelola pendidikan dan pendidik saja, melainkan juga yang jauh lebih penting  oleh orangtua sebagai pendidik pertama dan utama. Yang memiliki kepentingan dan  peran sangat menentukan kehidupan anak. Apalagi anak sebagai suatu amanah yang sangat besar dan penting dari Allah swt, yang harus  dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.


    Jakarta, 30/03/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Pelukan Anak Ustad

    Nurwahidah Sales.
    PEWARTAnews.com -- Suara kipas terdengar nyaring. Jari tangan terasa kaku mengetik sebuah Novel Kecupan istri tetangga, yang kutargetkan selesai diakhir Desember tahun ini. Ah, aku merasa kurang fokus.

    Imajinasiku saat ini tidak bisa berfungsi secara normal, padahal pukul 23.00 Wita adalah waktu yang tepat untuk merangkai sebuah kata.

    Terpaksa untuk Malam ini, tidak menulis. Hatiku mulai tidak karuan. Bagaimana mungkin bisa menulis dengan baik jika bayangan Amri selalu menghantui. Amri adalah mantan penghianat.

    Seketika kubuang tubuh di atas pembaringan, ke dua bola mata menatap plafon kamar, yang sudah dimakan rayap. Sejak kecil hingga saat ini aku berumur 23 tahun, plafon tersebut tidak pernah dilakukan renovasi. Jika hujan turun pasti akan ada air yang berhasil menyorobos masuk.

    Sial, tiba-tiba rinai hujan terdengar berjatuhan di atap. Kutarik selimut warna biru. Wajah Amri masih membayang. Aku menutup mata.

    Tubuhku terasa bergetar, air hujan sudah meresap masuk ke dalam

    baju, aku tidak tahu dimana berdiri. Tempat ini sangat asing bagiku. Lutut pun bergetar lalu kutarik napas pendek, dari depan nongol sebuah Posko, lampunya pun redup.

    Aku berlari ke sana dipenuhi kebingunan. Tiba-tiba badan terasa hangat, ketika jaket hitam menempel dipundak. Penasaran, akhirnya menoleh ke arah kanan, mencari siapa pemilik jaket tersebut.

    "Amri?," kataku kaget. Aku spontan berdiri dan melemparkan jaket diwajahnya.

    Ia nampak kecewa dan menutup mulut.

    "Apa yang membawamu kemari? Setelah kau menikmati tubuhku lalu kau merasa tidak bersalah dengan meminang perempuan lain," kataku menahan isak.

    "Maafkan aku, Ita. Telah melakukan kesalahan besar kepadamu. Saat ini aku tidak bisa memaafkan diriku," kata Amri yang berusaha memegan tanganku.

    Aku memberontak.

    "Sungguh aku menyesal meminang perempuan pilihan orang tua," katanya lalu, merangkul tubuhku.

    Saat ini, aku tidak bisa bergerak banyak, meski sudah berusaha keras melepas dari genggamanya.

    "Tidak perlu ada penyesalan. Kau pikir setelah aku memaafkanmu, semuanya akan kembali seperti semula? Tidak Amri. Aku sudah cacat, harga diriku sudah tak berarti lagi dan saat ini tidak ada lelaki yang akan menjadikan aku sebagai teman hidupnya sebab aku tidak punya permata untuk dibanggakan ," kataku pelan.

    Hujan semakin lebat. Angin pun terasa kencang, pelukan Amri pun terasa kuat, hingga aku tidak bisa bernapas dengan normal. Aroma tubuhnya, masih terasa, sebuah aroma yang dulu hampir tiap hari tercium. Kini aroma dan pelukan ini sudah jadi milik orang lain.

    Aku menggigit bahu Amri. Ia pun melepas pelukannya dan menjerit kesakitan.

    "Sakit? sakit itu tidak sebanding apa yang kurasakan Amri," kataku mencoba menjaga jarak darinya, kakiku berjalan mundur kebelakang.

    "Kau perlu tahu, aku tidak sudi memaafkan seseorang yang pernah membuatku terluka," nadaku lentang.

    Aku segera menarik napas lalu menghembuskannya dengan berat.

    "Baiklah, aku akan menceraikan istriku, demi kau . Aku masih mencintaimu," kata Amri, bola matanya merah.

    "Perceraian, tidak akan mengubah semuanya. Jangan lakukan itu! Aku tidak lagi mencintaimu," aku menjawab dengan penuh kebohongan.

    Kuputuskan berlari meninggalkan Amri. Ia pun mengejarku dari belakang. Ke dua lututku semakin berat bergerak untuk melangkah. Suara Amri, menyebut namaku, menyuruh untuk berhenti.

    Ingus dan air hujan bersamaan masuk dimulut. Astagfirullah semuanya hanya mimpi, benar hanya mimpi, terlihat plafon kamarku basah, air hujan membasahi selimutku.

    ***

    Pukul 07.00 Wita, aku bersiap-siap menuju salah satu Sekolah SMP yang berlokasi di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sekolah tersebut, aku mengajar sebagai guru Bahasa Indonesia.

    Tiba di Ruangan, para murid kelas 3 SMP, menyambut dengan ucapan Salam. Mereka serentak mengatur diri lalu duduk dikursi. Aku hanya melempar simpul lalu memulai pelajaran. Aku tidak antusias mengajar, hatiku tidak karuan. Usai mengajar aku langsung menuju kanting dengan memesan pop mie dan segeas es teh.

    "Hey, kok melamun?," kata Risna.

    Risna adalah sahabatku sajak kuliah. Kini kami sama-sama jadi pekerja

    Aku, hanya mengunyah.

    "Kenapa sih hari ini,? Sepertinya ada masalah. Ayolah cerita!," bujuk Risna.

    "Aku benci hidupku," kataku.

    Wajah Risna penuh tanda tanya, ia menaikkan alis kiri.

    "Sudahlah. Kamu harus mengubur kenangan dengan Amri!, untuk apa mengenangnya jika telah membuatmu hancur," kata Risna dengan nada pelan.

    Tiba-tiba handphone samsung berdering. Panggilan ibu.

    "Assalamualaikum bu, ada apa," kataku.

    "Walaikumsalam. Ada hal penting yang akan kuceritakan," kata ibu.

    Risna berusaha menguping pembicaraan kami.

    "Ada kabar baik untukmu. Lusa kamu akan dilamar dengan anak dari seorang ustad dari Bantaeng," nada ibu terlalu bersemangat.

    "Apa?," bola mataku molotot.

    "Baiklah, ibu akan mempersiapkan semuanya ," kata ibu menutup telepon.

    Jantungku berdetak semakin cepat, keringat pun menetes di pipi. Aku berhenti mengunyah.

    "Aku tidak yakin, harus memulai dari mana Ris. Apa yang mesti kulakukan?. Setelah orang yang kucintai merusak perawanku lalu pergi. Kini ada lelaki dari keluarga baik, akan meminang. Bagaiamana mungkin ada lelaki baik akan tidur dengan perempuan pendosa sepertiku," kataku menahan isak.

    Risna mendekat lalu memberikan pelukan.

    "Sabar Ita, ini sudah takdir. Kau harus bisa melaluinya!,"kata Risna.

    ***

    Hari yang ditunggu telah tiba. Tepat pada tanggal 9 November 2018. Hari kebahagian di mata ke dua orang tua dan keluarga. Namun aku tidak. Hari ini adalah hari peperangan. Aku seperti prajurit lupa menggunakan senjata, akhirnya ditembak mati, benar adanya aku seperti sudah mati.

    Mati tak berdaya lagi demi mengiyakan permintaan orang tua.

    Wajahku sudah dipoles dengan bedak tebal dan gincu merah. Baju adat bugis pun sudah terbalut ditubuhku. Suara nyaring diruang tamu pun hampir membuat kupingku mau pecah.

    Beberapa menit lagi, lelaki baik itu akan datang. Aku tidak tahu seperti apa rautnya. Dulu waktu kuliah banyak lelaki yang mengincar dan ingin jadi kekasihku. Memang kuakui saat itu kalau soal pasangan harus pilih-pilih. Tentu harus gagah dan putih. Tapi saat ini aku tidak punya kekuatan apa-apa lagi untuk memilih.

    Aku hanya bisa pasrah menerima wajah lelaki baik itu, meski hidungnya besar, dan bibirnya tebal. Tapi apakah lelaki baik itu mau menerima wanita sepertiku?.

    Kenapa aku berada diposisi seperti ini? Kenapa yang datang adalah anak ustad, kenapa bukan anak preman saja. Aku membatin.

    "Ibu," kataku memanggil.

    "Iya, Nak, ada apa?," tanyanya.

    "Aku, belum bisa menerima kenyataan," kataku bergetar.

    Wajah ibu, yang dari tadi ceria kini terlihat kebingungan dan penuh kekhwatiran.

    Tiba-tiba suara mobil berhenti didepan Rumah. Para keluarga melakukan penjemputan di pintu masuk.

    Aku bernapas tipis. Benar adanya hari ini akan dilamar oleh lelaki baik. Aku menunduk mengigit bibir bawah.

    "Sikahkan masuk!," kata ibu kepada rombongan keluarga dari keluarga mempelai pria. Mereka masuk dengan duduk di Lantai yang dialasi tikar biru.

    Aku merasa lelaki baik itu duduk pas depanku. Tapi sangat berat untuk mengangkat dagu lalu menatapnya.

    "Maksud kedatangan kami, adalah untuk meminang putrinya atas nama Ita dengan anak bungsu saya, yang baru saja menyelesaikan S2 nya di Jakarta. Semoga Ita dan Irwan bisa disatukan menjadi keluarga yang menjalin ikrar suci," nada seorang laki-laki membuka dialog.

    "Insya Allah, kedatangan bapak dan rombongan kesini adalah perkara yang baik. Kami menerima lamaran tersebut," kata ibuku, penuh antusias.

    "Alhamdulillah," ucapan itu serentak tersengar diruang tamu.

    "Mampuslah," kataku membatin lalu

    mengangkat bokong sambil berlari menuju kamar.

    Kubuang tubuh di pembaringan sambari meraung-raung.

    "Apa yang membuatmu bersedih Ita," nada itu berasal dari pintu kamar.

    Aku mencoba mengamati suara itu, akhirnya berdiri dan menoleh ke arah pintu.

    "Kak Irwan, apa yang kau lakukan disini," bola mataku hampir loncat satu per satu. Melihat lelaki baik ini memakai baju jas hitam.

    Irwan adalah senior waktu SMA di Bulukumba.

    "Iya, Ita. Pasti kamu heran denganku,?sejak SMA, aku menyukaimu. Tapi aku tidak punya nyali mengatakannya, sebab banyak saingan, di sisi lain pasti kau akan menolakku. Tapi hari ini kubukitikan rasa suka itu dengan keseriusan, meski hampir enam tahun memendangnya," kata Irwan

    Aku hanya melongo.

    "Semua tentangmu, telah kuketahui dengan bantuan Risna yang sudah menceritakan semuanya. Ia bercerita bagaimana Amri, memperlakukan kau dengan sebuah kehancuran. Meski begitu itu kau tidak perlu membencinya terlalu dalam," kata Irwan perlahan mendekat.

    "Tapi kak, aku tidak pantas untukmu. Lelaki baik harus mencari wanita baik pula," kataku melemah.

    "Bukanlah manusia pernah berbuat dosa? Tidak ada yang sempurna. Meski kau sudah cacat aku tetap mencintaimu Ita," kata Irwan.

    Kata-katanya, membuatku dingin. Aku segera berlari memeluknya.

    "Lepaskan Ita!, kita belum muhrim," Irwan berusaha menolak.

    "Aku tidak peduli," kataku.


    Selayar, 18 November 2018
    Tentang Penulis:
    Nurwahidah Saleh Asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, telah menerbitkan Novel Oleh sebab perjanjian kakekmu. Ingin berkenalan dengan ida? Silahkan Follow medsosnya fb Nurwahidah Saleh.





    Menemukan Anak Unggul

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Setiap orang memimpikan dapat  memiliki anak dan keturunan unggul. Karena itu sejak awal, dimulai cari jodoh pilihan dengan pertimbangkan empat hal, cantiknya, hartanya, nashabnya dan agamanya. Jika mengutamakan agamanya maka yang lainnya sudah terpenuhi. Setelah nikah berlangsung, kedua mempelai saling mempergalui dengan baik dan akhirnya mendapatkan keturunan yang sholeh atau sholehah. Semoga perjalanan hidup dilalui dengan lancar, tanpa halangan berati dan memperoleh barakah  darinya.

    Anak unggul pada hakekatnya bisa ditemukan sejak dini dengan tampilan yang menakjubkan dan seterusnya sampai lulus S3 dan karirnya. Tapi ada juga anak yang lahir belum nampak berpotensi unggul, namun secara berangsur-angsur menjadi unggul, mungkin waktu SD,  SMP, SMA, S1, S2 atau S3. Muncul keunggulannya itu terus berlangsung sampai di karirnya. Ada juga anak unggul yang sejak lahir cemerlang, tapi semakin hari semakin tidak nampak keunggulannya, bisa di SD, SMP, SMA, S1, S2 atau S3. Kelompok pertama dan kedua menggambarkan bahwa fasilitasi pendidikan, pengajaran, dan bimbingan serta latihan tidak berjalan efektif. Namun kelompok ketiga menggambarkan bahwa keluarga, dan sekolah di jenjang apapun serta masyarakat tidak memberi perhatian yg sesuai dengan yang dibutuhkan. Artinya bahwa tingkat kondusivitas lingkungan sosial dan fisik ikut berkontribusi terhadap performan anak unggul.

    Anak unggul bisa ditemukan sedini mungkin melalui tampilan yang jauh lebih unggul dibandingkan dengan teman sebayanya. Bisa tampak pada gerakan motoriknya, bahasanya, keingintahuannya dan ingatannya, bahkan kecakapan kuantitatif dan seni. Temuan keunggulan ini semula cukup melalui nominasi orangtua, teman sebaya, guru, dan pelatih, serta observasi, yang selanjutnya diperkuat dengan alat assessment sesuai dengan keunggulan, bisa tes inteligensi, tes bakat dan minat, tes kepribadian, tes kreativitas, dantes seni (perspektif multiple intelligence). Semua keunggulan patut diapresiasi, unggul bidang seni, olahraga, bidang khusus tahfidz, dan sebagainya, bukan keunggulan akademik saja. Anak yang mendapatkan karunia dari Allah swt wajib disyukuri. Orangtua yang diamanati sesuatu yang sangat valuable ini patut mensyukuri dan tidak mengkufuri. Cara mensyukurinya, membina dan menfasilitasi pembinaan semua jenis keunggulan dengan kurikulum dan program pendidikan berdiferensiasi yang dilandasi dengan keagamaan dan kebangsaan untuk menghadapi tantangan pada jamannya, Indonesia Emas 2045.

    Adapun cara yang paling strategis dan bertanggung jawab terhadap anak anak unggul adalah mengasuh, melatih, membimbing, mengajar dan mendidiknya dengan benar dan penuh kasih sayang. Mengasuh or parenting anak seharusnya lebih banyak dilakukan oleh orangtua sendiri, jika memiliki  waktu yang cukup dan diperlukan dengan kasih sayang yang tulus. Mendidik anak tidak hanya membangun fundasi ilmu duniawiyah, melainkan ilmu ukhrawiyyah. Keunggulan anak seharusnya tidak cukup dengan parameter duniawiyah. Karena cara ini bisa menyesatkan. Orangtua wajib ikut andil membangun keunggulan yang bernuansa duniawiyah dan ukhrawiyah yang saling menguatkan.

    Saat ini kebijakan pendidikan anak unggul seharusnya sudah mencapai kemajuan yang berarti. Namun yang terjadi, bahwa tidak ada kebijakan pendidikan yang berpihak kepada anak unggul komprehensif. Yang ada hanya secara parsial, yang diwujudkan dengan pemberian beasiswa, bukan sistem pendidikan yang sesuai. Tidak ada program akselerasi dan tidak ada juga program pengayaan. Padahal secara konstitusional mereka berhak mendapat layanan pendidikan yang memang sangat dibutuhkan anak unggul untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, sehingga memberikan manfaat untuk semua.

    Kita boleh bangga dan sekaligus kecewa bahwa apa yang telah lewat di negeri ini prioritasnya  lebih pada infrastruktur. Pengembangan sumberdaya insani belum mendapatkan dukungan yang penuh, sehingga wajar tahun 2018 terjadi penurunan cukup signifikan ranking pada Global Competitiveness Indext turun cukup berarti, dari rangking 36 untuk 2017 dan rangking 45 untuk 2018. Ingat anak berpotensi unggul sebagai modal sosial, bisa yang di kota dan di desa, bisa yang wanita dan pria, bisa ada di keluarga kaya dan kurang mampu, bisa anak normal dan berkebutuhan khusus, bisa dari keluarga terdidik dan berpendidikan rendah, dan sebagainya. Artinya bahwa anak-anak unggul ada di mana-mana yang menanti kepedulian kita semua.

    Anak unggul yang berbackground apapun, perlu difasilitasi pertumbuhan dan perkembanganya dengan kecakapan abad ke-21, yaitu kompetensi belajar, kompetensi digital, kompetensi hidup, dan kompetensi moral. Perlu juga diupayakan terus bahwa keunggulan anak-anak itu bukan untuk kemaslahatan dan kebanggaan dirinya saja, melainkan juga untuk keluarga, agama, bangsa, dan manusia di seluruh dunia yang diridloi oleh Allah swt.


    Yogyakarta, 30/03/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)






    Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Rayakan HUT Ke-15

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Mbojo-Yogyakarta merayakan ulang tahun ke-15 pada hari Kamis tanggal 4 April 2019. Acara ini dibuka pada pukul 19:00 WIB di JEC Taman Cafe oleh Senior Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Mbojo-Yogyakarta atas nama Arif Rahman dengan tema “Mengembangkan Nilai-Nilai Budaya Rimpu dan Merajut Kebersamaan di Tanah Rantau". Acara ulang tahun ini bukan hanya menampilkan lagu daerah atau budaya khas dari daerah Bima saja, namun ada juga tampilan dari teman-teman luar daerah Bima. Perayaan ulang tahun Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Mbojo-Yogyakarta kali ini dihadiri oleh para senior-senior Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Mbojo-Yogyakarta, serta seluruh para tamu undangan baik dari daerah Bima sendiri maupun dari luar Daerah Bima.

    Sebagai puncak acara dilakukan pemotongan tumpeng oleh Penanggung Jawab Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Mbojo-Yogyakarta atas nama Ruslin diikuti dengan makan tumpeng bersama para tamu.

    Salah satu senior Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Mbojo-Yogyakarta atas nama Arif Rahman mengungkapkan acara pentas ini berjalan lancar dan tertata secara konsep. “Alhamdulillah rangkaian acara seremonial kegiatan HARLAH RIMPU yang Ke-15 berjalan lancar dan penuh khidmat, para tamu undangan pun dimanjakan dengan penampilan-penampilan budaya khas daerah Bima, lagu daerah Bima, puisi, kosidah dan lain-lain. Secara konsep dan teknis bisa di bilang acara ini berjalan normal," beber Arif.

    Namun bersamaan dengan itu, lanjut Arif, "Dalam momentum harlah ke-15 ini yang saya rasa ada hajat yang lebih besar/esensial yang pelu dicapai, tidak hanya sekedar perayaan-perayaan berbentuk serimoni. Tapi kembali merefleksikan sejarah panjang tentang Budaya RIMPU itu sendiri sebagai sebuah spirit dalam berbudaya, tentu kita tidak mau salah tasfir terhadap RIMPU. Apakah rimpu yang dimaksud disini adalah sebagi sebuah nam lembaga kebudayaan?, Apakah RIMPU yang dimaksud disini sebatas susunan ABJAK atau RIMPU yang kita maksud adalah bentuk akumulasi dari sebuah kebudayaan yang memberi nama identitas pada lembaga sehingga kehadiran lembaga ini pun sebagai benteng untuk terus bisa melestarikan budaya tidak kemudian mengkomersialisasikan budaya di tengah-tengah globalisasi dan era keterbukaan informasi ini,” sebutnya.

    Lebih lanjut bang Arif Rahman menegaskan bahwa, “Hal ini menjadi penting bagi kita untuk mengetahui/memperkuat pemahaman secara kolektif. Sehingga dengan begitu lembaga semi otonom Sanggar Rimpu ini sampai pada titik kematangan dan kematangan secara kerja lembaga dan secara sumber daya manusianya,” tegasnya.

    Dalam momen yang sama, Ruslin selaku penanggung jawab Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Mbojo-Yogyakarta berharap Sanggar Rimbu kedepannya semoga lebih kreatif dan inovatif lagi. “Selamat ulang tahun ke-15 untuk Lembagaku, semoga tetap kreatif dan lebih baik lagi. Alhamdulillah acara yang dilaksanakan terjalan dengan lancar walaupun dibatasi dengan waktu, dan banyak kawan-kawan yang sempat daftar namun tidak bisa tampil karena batasan waktu. Atas kejadian ini kami selaku panitia pelaksana minta maaf. Semoga kawan-kawan tetap mencintai budaya sebagai identitas daerah (Bima) kita bersama dan dengan bertambahnya organisasi yang berbasis budaya mbojo yang mengatas namakan Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Mbojo-Yogyakarta ini semoga tetap sukses dan mampu melestarikan budaya-budaya Bima di Tanah Rantauan (Yogyakarta) dan tidak lupa juga kami sangat membutuhkan dorongan pemerintah Bima karena kami yang ada disini membawa budaya sebagai indentitas daerah Bima,” kata Ruslin.

    Acara ini diakhiri dengan foto bersama. Terimakasih buat kawan-kawan atau para tamu undangan yang telah berpartisipasi dalam mensukseskan acara ini. (Siti Hawa)

    PANSER DIY Menggelar Deklarasi Pemilu Damai

    Suasana saat deklarasi berlangsung.
    PEWARTAnews.com -- Pasukan Anak Serdadu #01 Daerah Istimewa Yogyakarta (PANSER DIY) menggelar Deklarasi Pemilu Damai dengan tema "Menciptakan Pemilu Damai, Menjaga Yogyakarta Berhati Nyaman" #Cipto Riso Kagem Ngayogyakarto# di Sindu Kusuma Edupark (SKE) Sleman, Sabtu (06/04/2019)

    Ketua PANSER #01 DIY Kemal Ahmad mengatakan, Panser 01 ini merupakan wadah bagi anak-anak serdadu yang memiliki aspirasi dan komitmen atau mau kontribusi untuk mendukung pasangan Calon
    Presiden dan Wakil Presiden Nomer 01 Joko Widodo dan Prof. K.H. Ma’ruf Amin nanti di Pemilu 17 April 2019.

    "Kita berkomitmen dan medukung penuh pak Joko Widodo dan Prof. K.H. Ma’ruf Amin di Pemilu April 2019 mendatang," kata Kemal.

    PANSER #01 juga dideklarasikan di berbagai daerah lainnya di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Aceh, Sumut, Kaltim dan Papua.

    Sementara, Sekretaris PANSER #01 Yudistira Budi Prabowo menambahkan bahwa Pasukan Anak Serdadu #01 Yogyakarta ini mempunyai tujuan agar Pemilu damai 2019, Anti Hoax dan Anti Politik Uang dan Menjaga persatuan
    di Masyarakat agar tidak terpecah meskipun beda pilihan serta menjunjung tinggi nilai-nilai Keistimewaan Yogyakarta sebagai miniatur NKRI.

    "Deklarasi ini kita adakan dengan tujuan agar pemilu 2019 damai, anti hoax, anti politik uang dan menjaga persatuan di masyarakat dan menjungjung tinggi nilai luhur yang ada di yogyakarta," ujar Yudistira.

    Lebih lanjut, Yudistira mengatakan, "Deklarasi PANSER #01 dihadiri sekitar 150 orang dari berbagai elemen tokoh agama, masyarakat dan pemuda yang sejalan dan seiring dengan tujuan Visi dan Misi kami," tutupnya.

    PANSER #01 YOGYAKARTA dideklarasikan dengan tujuan mendukung Pasangan 01 Jokowi-Amin di DIY dan berharap agar mampu menciptakan PEMILU yang Damai, Aman, Kondusif, dan Bermartabat. (*)

    Pengamanan Tempat Pemungutan Suara (Pemilu 2019)

    Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    PEWARTAnews.com -- Dalam Rapat Koordinasi bersama Instansi Terkait yang digelar Polres Berau langsung di ruang rapatnya, menghadirkan berbagai undangan, yakni dari Ketua Bawaslu, Kasat Polisi Pamong Praja, Panitia Pemilihan Kecamatan terdekat dengan Tanjung Redeb dan peserta undangan lainnya.

    Rapat tersebut mengundang pemateri dari ketua KPU Berau dalam hal ini diwakilkan oleh Saharudin (Divisi SDM & Parmas) dan diminta untuk membahas tentang indikasi kerawanan dalam pelaksanaan pemungutan suara di TPS.

    Namun, sebelum lebih jauh menjelaskan terkait indikasi yang dimaksud di atas, terlebih dahulu Penulis menjelaskan tentang tiga penyelenggara Pemilu, dalam hal ini tentunya memiliki relevansi kuat dengan tema yang diamanatkan Kapolres Berau agar tidak dipahami bahwa KPU berjalan sendiri dalam urusan penyelenggaraan tahapan, program, dan jadwal Pemilu seperti yang termaktub dalam PKPU Nomor 5 Tahun 2018.

    Pertama, Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU adalah lembaga negara yang dibentuk berdasarkan UUD 1945 Pasal 22E ayat 5 untuk melaksanakan tahapan, program, dan jadwal sesuai amanat UU Nomor 7 Tahun 2017 yang diturunkan melalui PKPU dan Surat Edaran atau Putusan, baik putusan seperti H-7 (tujuh hari sebelum 17-04-2019) tentang pindah memilih khusus untuk pemilih tertentu padahal sesuai PKPU bagi yang mau pindah memilih bagi yang umum adalah H-30 (tiga puluh hari sebelum 17-04-2019) maupun situasi dan kondisi yang perlu disikapi KPU RI untuk diimplementasikan oleh KPU Provinsi dan KPU Kabupaten melalui penyelenggara pemilu tingkat ad hoc (PPK, PPS, dan KPPS).

    Kedua, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Bawaslu adalah lembaga yang mengawasi Pemilu mulai tingkat pusat hingga Pengawas TPS (PTPS) yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 15 Tahun 2011 Bab IV yang bertindak mengawasi KPU hingga jajaran terrendah (KPPS) dalam menjalankan tahapan, program, dan jadwal dengan memberikan koreksi, masukan, dan saran demi terselenggaranya pemilu dan Pilkada dengan baik dan tepat waktu.

    Ketiga, Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). DKPP merupakan lembaga yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 15 Tahun 2011 Pasal 109 yang peresmiannya pada tanggal 12 Juni 2012 yang mana tugasnya adalah memutuskan atau memberikan sanksi bagi KPU dan Bawaslu apabila terdapat pelanggaran administrasi di luar dari pelanggaran yang ada sangkutan dengan pidana. Sedangkan khusus pelanggaran pidana, maka yang akan menangani adalah Sentra Gakkumdu yang terdiri dari elemen Bawaslu, Kepolisian, dan Kejaksaan yang akan menangani oknum tersebut sampai diputuskan atau divonis.

    Jadi, ketiga lembaga tersebut memiliki peran masing-masing dan saling kait-mengait. Namun, orientasi dari tugasnya adalah bagaimana Pemilu itu berjalan lancar sesuai koridor yang berlaku.

    Kemudian, terkait dengan indikasi yang memungkinkan terjadinya konflik antara pemilih dengan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) salah satunya adalah ketidakpahaman pemilih terhadap aturan dan perundang-undangan yang berlaku.

    Ketidakpahaman itu dapat saja terjadi karena pemilih menganggap semua diperlakukan sama, padahal pemilih itu memiliki klasifikasi dalam PKPU Nomor 8 Tahun 2018 turunan dari UU Nomor 7 Tahun 2017, yakni pemilih yang termasuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang diplenokan berdasarkan hasil dari Pantarlih melalui status Daftar Pemilih Sementara (DPS) pada tingkat PPS yang diperoleh dari daftar pemilih pada pemilu atau pilkada terakhir di daerah tertentu. Pemilih yang termasuk dalam Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) bersumber dari DPT yang pindah memilih. Kemudian, pemilih yang bersumber dari Daftar Pemilih Khusus (DPK) yang bersumber dari pemilih yang menggunakan KTP atau Surat Keterangan (suket) yang dikeluarkan oleh Disdukcapil.

    Pemilih DPT akan mendapatkan surat suara penuh (lima surat suara), yakni surat suara pasangan calon (paslon) Presiden dan Wakil Presiden berwarna abu-abu, Caleg DPR RI yang berwarna kuning, Caleg DPD RI berwarna merah, Caleg DPRD Provinsi berwarna biru, dan surat suara Caleg DPRD Kabupaten/Kota berwarna hijau.

    Pemilih DPTb akan mendapatkan surat suara berdasarkan dapil tempatnya pindah memilih. Pertama, jika pemilih pindah memilih di dapil level (intra) Kabupaten/Kota, maka pemilih tersebut tidak mendapatkan surat suara Caleg DPRD Kabupaten/Kota dan hanya mendapatkan empat surat suara, yakni Caleg DPRD Provinsi, Caleg DPR RI, Caleg DPD RI, dan Paslon Presiden dan Wakil Presiden. Kedua, jika pemilih berpindah memilih pada tingkat (intra) Provinsi, maka pemilih tidak bisa mendapatkan surat suara Caleg DPRD Kabupaten/kota dan Caleg DPRD Provinsi, artinya hanya mendapatkan tiga surat suara, yakni Caleg DPR RI, Caleg DPD RI, dan Paslon Presiden dan Wakil Presiden. Ketiga, pemilih pindah memilih di luar provinsi, maka hak pemilih untuk memilih Caleg DPRD Kabupaten/Kota, Caleg DPRD Provinsi, Caleg DPR RI, dan Caleg DPD RI akan hangus, artinya hanya dapat memilih Paslon Presiden dan Wakil Presiden.

    Pemilih berbasis KTP dan Suket akan mendapatkan suara penuh (lima surat suara) dengan ketentuan. Pertama, mendaftar ke KPPS sampai hari H sebelum jam 12. Kedua, memilih sesuai tempat domisili. Ketiga, memilih mulai jam 12.00 s.d. jam 13.00. Keempat, memilih jika surat suara cadangan 2% masih tersedia. Kelima, jika surat suara cadangan 2% pada TPS tempat mendaftar habis, maka bisa memilih di TPS terdekat sesuai domisili (jika surat suara TPS tersebut juga ada).

    Catatan: Pertama, jumlah surat suara yang menjadi hak DPT, apabila tersisa, maka tidak bisa digunakan untuk pemilih DPTb dan DPK. Begitu juga surat suara yang disediakan khusus untuk DPTb sesuai sebaran TPS, tidak bisa juga digunakan oleh DPK jika ada surat suara tersisa. Kedua, surat suara cadangan 2% bukan hanya hak untuk pemilih berbasis DPK, tetapi juga dapat digunakan oleh pemilih DPT dan DPTb apabila terjadi salah coblos dan terdapat surat suara rusak juga apabila telah habis surat suara sesuai porsi DPT dan DPTb.

    Dengan demikian, diharapkan kepada seluruh penyelenggara pemilu, baik tingkat RI maupun tingkat ad hoc yang paling rendah (KPPS dan PTPS) maupun stakeholder agar memberikan pendidikan pemilih kepada masyarakat, baik pemilih yang termasuk dalam DPT, DPTb, juga DPK aupaya Pemilu serentak 2019 di negara Republik Indonesia ini dapat berjalan lancar, aman, dan sesuai aturan dan perundang-undangan yang berlaku.


    Penulis : Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Komisioner KPU Berau (Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat)

    Mengatasi Kemalasan

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Kemalasan merupakan lebih sebagai suatu kebiasaan daripada sebagai sesuatu issu kesehatan mental.  Kemalasan merefleksikan hilangnya harga diri dan hilangnya rekognisi positif, kurangnya disiplin berasal rendahnya kepercayaan diri, dan kurangnya minat terhadap kegiatan. Kemalasan mungkin sebagai manifestasi penundaan atau kebingungan.

    Kemalasan menurut Islam memiliki banyak makna. Kemalasan yang bisa dimaklumi, karena tidak ada semangat menunaikan pekerjaan lain yang bukan pekerjaan  utamanya. Kemalasan lain yang bisa dimaklumi, yaitu tidak melakukan lagi pekerjaan yang pernah dilakukan, misalnya sholat sunnat, mengaji al Qur-an. Akhirnya, kemalasan yang sangat dikhawatirkan, karena bisa masuk katagori maksiyat, karena malas menunaikan ibadah wajib dengan sengaja.

    James (2017) menjelaskan bahwa ada sepuluh penyebab terjadinya kemalasan, yaitu (1) Penundaan (Procrastination), (2) Gangguan/kebingungan (Distraction), (3) Pilihan gaya hidup yang rendah (Poor lifestyle choices), (4) Kelelahan  (Exhaustic), (5) Kebimbangan (Indecisiveness), (6) Nutrisi jelek (Poor nutrition), (7) Kurangnya motivasi, (Lack of motivation, (8) Kurangnya penghargaan diri (Lack of self worth), (9) Ketiadaan rasa tanggung jawab (Irresponsibility), (10) Terlalu banyak yang harus dikerjakan  (Too much to do)

    Manurut Abdullah Alhadad (Haqiqi, 2018) bahwa dalam perspektif Islam bahwa yang menyebabkan malas beribadah ada lima hal penting, yaitu (1) Iman yang lemah, (2) Berbuat maksiat, (3) Ketidaktahuan, (4) Harapan dan keinginan yang berlebih, (5) Mengkonsumsi makanan syubhat.  Semuanya ini membuat malas untuk beribadah, karena imannya saja lemah yang tidak mampu memotivasi dengsn kuat untuk beribadah. Belum lagi perilaku maksiatnya yang menyebabkan pikiran tidak tenang karena dosa menumpuk, dehingga membuat tidak yakin ibadahnya diterima.

    Ada beberapa cara untuk atasi kemalasan di antaranya (1) berbuat baik terhadap diri sendiri, (2) mulai dari selangkah kecil ke depan, (3) melakukan sebagian kecil dari hal-hal  penting pada hari itu, (4) beristirahat sejenak ketika sedang fokus kerja, (5) mematikab kerja komputer untuk waktu sesaat, (6) membuat daftar yang menurunkan dan menaikkan motivasi terbarukan, (7) merapikan hidup kita, (8) berbuat baik dengan sandungan dari waktu ke waktu, (9) membiarkan antusiasm, energi, dan motivasi orang lain yang ada pada diri kita, (10) menghargai dengan benar dan menikmati waktu kemalasan (Henric Edberg, 2016)

    Adapun mengatasi kemalasan dalam perspektif Islam, Abu Adillah (2013), di antranya (1) menyadari pentingnya waktu, (2) bergaul dengan teman yang baik, (3) membaca kisah-kisah semangat orang salaf (generasi terbaik, (4) beristiqamah menjalankan amal shaleh, (5) mengisi  yang bermanfaat, dan (6) Berdoa kepada Allah lindungan dari kemalasan

    Kemalasan dapat dipahami dengan perspektif umum dan Islam. Yang ulasannya dapat saling melengkapi. Ternyata kemalasan itu bisa merugikan, tetapi juga bisa menguntungkan. Merugikan jika kemalasan itu menjadi kunci kegagalan studi, karir dan hidup. Walau kita pintar, tapi malas studi, malas bekerja, dan malas hidup (menunaikan tugas kehidupan  di keluarga dan masyarakat), maka jadinya bisa gagal studi, karir dan hidup kita. Menguntungkan jika kemalasan itu menjadi kunci keberhasilan studi, karir, dan hidup. Walau posisi kemampuan rata-rata, tapi malas cheating dan plagiasi waktu studi, malas melanggar disiplin waktu kerja, dan malas bikin konflik di keluarga dan di masyarakat. Maka jadinya kita berharap bisa berhasil studi, karir dan hidup kita. Apapun perspektifnya, asal dimanaj dengan baik, maka ending-nya yang penting bisa memberi banyak manfaat.

    Kemalasan ternyata tidak hanya terkait dengan urusan duniawiyah. Melainkan kemalasan juga erat dengan urusan ukhrawiyyah. Karena itu kemalasan yang dimaknai negatif harus dikubur hidup-hidup, karena kemalasan itu tidak hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga institusi. Kemalasan yang terkait denga ibadah khas bisa menggiring kita berbuat maksiat dan akhirnya kita tidak bisa menghirup wanginya bau syurga. Semoga Allah swt melindungi diri kita dari kemalasan, sehingga dapat meraih sukses studi, karir dan hidup di dunia dan akhrat. Aamiin.


    Yogyakarta, 29/03/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)






    Lima Kecerdasan dalam Pembelajaran PAI Anak Sekolah Dasar

    Chichi ‘Aisyatud Da’watiz Zahroh.
    PEWARTAnews.com -- Mendidik anak usia dasar tidaklah mudah. Masa ini adalah masa peralihan antara anak usia kanak-kanak dengan usia menengah pertama. Banyak problematika yang terjadi, perbedaan guru mengajar, lingkungan peserta didik yang beragam, latar belakang orang tua siswa, kehidupan pedesaan atau perkotaan, tengah maupun masyarakat pinggiran sangatlah berbeda. Sekolah formal menjadi salah satu solusi dan alternatif yang sangat tepat untuk memberikan knowledge (pengetahuan) dalam lingkup suasana kelas untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang tetap mengikuti perkembangan zaman. Selain mendapatkan ijazah, orang tua mulai mengerti bahwa anaknya harus mengenyam bangku pendidikan agar dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan dapat mensejahterakan diriinya sendiri maupun keluarganya.

    Tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, siswa telah mampu mencapai aktualisasi diri secara optimal. Dalam mengajarkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk anak sekolah dasar tidaklah mudah. Karena pada masa ini siswa bersama guru saling berkaitan, berhubungan serta bekerjasama sebagai upaya mencapai tujuan pembelajaran. Ada lima kecerdasan yang harus ditanamkan pada masa anak sekolah dasar agar pendidikan agama Islam dapat mengkristal dalam diri mereka masing-masing.

    Pertama adalah kecerdasan spiritual yang sangat berkaitan dengan agama. Dalam hal ini Pendidikan Agama Islam dikaitkan dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pembelajaran dengan materi penciptaan alam semesta dengan cara pengajaran yaitu siswa melihat tayangan video yang diputar oleh guru tentang penciptaan alam semesta kemudian siswa menjelaskan secara sederhana sesuai dengan penangkapan mereka dengan strategi bermain peran.

    Kedua yaitu kecerdasan sosial yang berhubungan dengan orang lain, makhluk hidup lain dan masyarakat. Materinya adalah interaksi sosial dengan cara pengajaran yaitu siswa melakukan sendiri proses interaksi sosial yang melibatkan dirinya dalam masyarakat. Hal ini diperoleh dengan siswa mengamati secara langsung interaksi sosial masyarakat di daerahnya masing-masing.

    Kecerdasan ekologis menjadi kecerdasan ketiga yang harus diperhatikan. Pendidikan Agama Islam dikaitkan dengan mata pelajaran biologi dengan materi ekologi. Cara pengajarannya adalah dengan siswa melihat gambar tingkatan organisme makhluk hidup yang ditempel oleh guru di dinding kelas kemduia siswa menyusun puzzle gambar organisme makhluk hidup secara tertib dan teratur.

    Berikutnya adalah kecerdasan tafakur. Pendidikan Agama Islam dihubungkan dengan ilmu pengetahuan alam dengan materi Sumber Daya Alam. Cara pengajaran siswa dengan melihat tayangan film tentang SDA seperti freeport di Papua. Kemudian siswa membuat poster tentang SDA dilihat dari sudut pandang Pendidikan Agama Islam.

    Kecerdasan yang terakhir adalah kecerdasan nafsiyah. Pendidikan Agama Islam dikaitkan dengan Ilmu Pengetahuan Alam tentang materi biodiversitas (keanekaragamaan hayati). Cara pengajarannya adalah siswa melihat video yang diputar oleh guru tentang keanekaragamaan hayati kemudian siswa membuat main map (peta pikiran) tentang biodiversitas.

    Lima kecerdasan itu akan lebih sempurna apabila siswa memperbaiki, pembelajaran dimulai dari individu terlebih dahulu. Jika awalnya positif maka hasilnya baik, siswa diberi kesmpatan untuk mengembangkan diri dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran akan tercapai apabila guru membantu mengarahkan siswa dalam memenuhi kebutuhannya secara bertahap, menawarkan lima prinsip yaitu keinginan untuk belajar. Setiap manusia memiliki rasa ingin tahu dan rasa tersebut didapatkan dalam proses belajar. Rasa ingin tahu merupakan bawaan atau dengan kata lain adalah hakikat dari manusia itu sendiri.

    Kemudian belajar signifikan yang mempunyai maksud tujuan pembelajaran dapat dicapai apabila terjadi kesesuaian anatar materi pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Belajar tanpa ancaman yaitu peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya terlepas dari ancaman, misalnya peserta didik melakukan kesalahan, guru memberikan arahan kepada peserta didik bukan dengan cara mengkritik  atau mencela tanpa memberikan solusi, sehingga  peserta didik lebih bisa menghargai saran tersebut daripada memasukkan di dalam hati. Peserta didik sendiri. Keinginan belajar siswa diawali insiatifnya sendiri tanpa adanya paksaan, dengan adanya inisiatif perasaan dan pikiran siswa akan ikut terlibat pada pembelajaran dan untuk membangkitkan insiatif itu, guru hasrus menciptakan lingkungan kelas yang kondusif. Siswa akan mengalami suatu pengalaman dalam proses pembelajaran. Pengalaman inilah yang akan membantu peserta didik untuk berubah dan menciptakan lingkungan belajar yang mengubah persepsi peserta didik.

    Dengan kolaborasi strategi, penekanan siswa dan guru dan lima kecerdasan tersebut akan memperoleh hasil yang maksimal dalam pembelajaran PAI yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik. Namun menitik beratkan pada aspek afektif dan psikomotorik yang sesuai dengan tujuan PAI yang mana menanamkan rasa agama. Lima kecerdasan tersebut dapat membantu pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada usia anak sekolah dasar dengan penggabungan strategi seperti jigshaw learning, video critic, active debate, information search, assesment search, class concern, dan masih banyak lagi yang lainnya. Itulah pendekatan dengan lima kecerdasan yang tepat untuk mengembangkan minat dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam agar pada usia emas ini, siswa dapat selalu bersikap positif, semangat belajar dengan pondasi spiritual yang kuat.


    Penulis: Chichi ‘Aisyatud Da’watiz Zahroh
    Guru Pendidikan Agama Islam SDN KEMIJEN 03 Kota Semarang

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website