Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Like Fun Page Kami

    Penembakan Warga Sipil Oleh Aparat di Bima, Ini Tuntutan Mahasiswa Jogja

    Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) usai melakukan aksi massa di titik nol kilometer Yogyakarta, 19/02/2019.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) mengikapi persoalan yang terjadi di Kabupaten Bima belum lama. Puluhan mahasiswa tersebut melakukan aksi massa disejumlah titik di Kota Gudeg Yogyakarta pada 19 Februari 2019.

    Mahasiswa-mahasiswa tersebut menilai saat ini di Kabupaten Bima kondisi Hak Asasi Manusia (HAM) sudah mati atau tidak lagi ternilai. “(saat ini) Matinya HAM di Kabupaten Bima dan (menyulap) Bima Ramah Menjadi Bima Berdarah,” ucap Muhaimin Deven selaku Koordinator Umum Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) usai melakukan aksi massa di titik nol kilometer kota Yogyakarta.

    Deven menilai, pelanggaran HAM yang terjadi di Bima kerap diabaikan oleh pemerintah setempat. “Dengan ini kami menyikapi persoalan yang terjadi di kabupaten Bima yang dimana kasus-kasus pelanggaran HAM di kabupaten Bima yang dilakukan oleh Militerisme.   Tapi tidak ada satupun yang pernah diselesaikan oleh pemerintah republik Indonesia, dimana kasus pada tanggal, 24 Desember 2011 penembakan kepada masyarakat Kabupaten Bima ( kecamatan Sape dan kecamatan Lambu) yang menolak adanya pertambangan belum di selesaikan dan begitupun di kecamatan-kecamatan lainya juga terjadi penembakan yang di lakukan oleh Militerisme dengan persoalan yang berbeda tapi belum di tuntaskan juga , aparat Militerisme mengunakan dalil mengamankan massa aksi sehingga melancarkan penembakan masyarakat tersebut,” beber Deven.

    Menurut Deven, baru-baru ini pada tanggal, 15 Februari 2019 terjadi penembakan yang dilakukan oleh aparat militerisme dengan dalil yang sama yaitu mengamankan massa aksi dengan menggunakan peluru tima panas, “Sehingga mengorbankan (masyarakat) yang  bernama  Nuralisa umur 5 tahun dan adapun korban tembakan lainya,  Ma’ruf (40 tahun) luka tembakan dikaki kanan, Herman (16 tahun) luka dipinggang kanan belakang, Junaidin (24 tahun) luka di kepala belakang telingga kanan dan puluham lainya masyarakat kena luka pukulan aparat militerisme,” sebutnya.

    Deven menjelaskan lebih lanjut, “Pada tanggal 15 Februari 2019 masyarakat di kabupaten Bima khusunya di kecamatan Sape dan kecematan Lambu meminta kepada bupati Bima yang bernama Indah Damayanti Putri dan Wakil Bupati Dahlan untuk melakukan perbaikan jalan yang sesuai dengan janji politiknya sebelum pemilihan bupati dan wakil bupati tersebut, karena infrastruktur menurut masyarakat Bima adalah akses untuk kelancaran ekonomi,” kata Deven.

    Rangkaian aksi yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) pada intinya menuntut enam point penting yang akan ditindaklanjuti oleh pemerintah setempat. “Maka dengan ini kami dari Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta menuntut: Pertama, Bupati dan Wakil Kabupaten Bima (Indah Damayanti dan Dahlan) harus bertanggung jawab atas kejadian di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu; Kedua, Copot Kapolres Kabupaten Bima dan usut tuntas pelaku penembakan terhadap masyarakat Sape dan Lambu; Ketiga, Meminta kepada Kapolda NTB agar melakukan pemecatan terhadap para pelaku penembakan dan kriminalisasi terhadap masyarakat Sape dan Lampu; Keempat, Pemerinta Kabupaten Bima harus merealisasikan mengadaan infrastruktur; Kelima, Komnas HAM harus turun tangan mengenai pelanggaran HAM di Kabupaten Bima; Keenam, Tangkap dan adili para pelaku pelanggaran HAM,” tutup Deven dengan lantang. (Arif / PEWARTAnews)


    Pahlawan Masa Kini adalah Orang yang Karya-Karyanya Bermakna untuk Kemaslahatan Dunia dan Akhirat

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., mengatakan bahwa dalam menghadapi Hari Pahlawan, penting sekali kita melakukan renungan sebagai wujud empati. “Jika selama ini pahlawan sering dimaknai sebagai orang yang telah berjuang dengan pengorbanan jiwa dan raga untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan, maka makna pahlawan era kini dan mendatang, RI 4.0 dan seterusnya adalah siapapun yang mampu mengisi kemerdekaan dengan semangat Jihad melalui karya-karya inovatif, sehingga menjadi Inovator bereputasi yang dapat memberikan solusi efektif terhadap persoalan yang terus muncul dan semakin kompleks di tengah-tengah masyarakat yang tidak saja terkenal secara nasional, melainkan juga di kancah internasional,” ucap Prof. Rochmat, di Yogyakarta, 07/11/2018.


    Oleh karena itu, kata mantan Ketua Umum Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tingggi Negeri (SNMPTN) tahun 2015 ini, potensi kreatif dan inovatif harus dipupuk dan dibina sedini mungkin, sehingga mampu memberikan alternatif solusi dan siap menghadapi tantangan pada jamannya. “Persoalan inovasi seharusnya tidak difokuskan pada aspek kognitif saja, melainkan aspek nilai (keagamaan yang diyakini) dan psikomotor,” bebernya.

    Lebih jauh, menurut mantan Menurut Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017, mengatakan bahwa pahlawan yang dimaknai dalam era millenial masa kini adalah orang yang mempunyai karya-karya bermakna untuk kemaslahatan hidup di dunia dan bermakna untuk kemaslahatan hidup di akhirat. “Sebagai bangsa yang memiliki pandangan hidup Pancasila, bahwa innovator yang bisa di-claim sebagai pahlawan adalah yang karya-karyanya tidak hanya untuk kemaslahatan dunia saja, melainkan juga untuk kemaslahatan akhirat,” cetusnya dengan penuh optimis.

    Ncera (Part 4)

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Sesuatu yang tersembunyi.

    "Alam dan manusia dalam waktu yang sangat lama sudah hidup berdampingan, namun semuanya berubah ketika negara api menyerang. Tapi bukan dalam cerita avatar, negara api yang dimaksud adalah ketika manusia mulai dikuasai oleh nafsunya sendiri"

    Ncera bukanlah Mesir yang telah membangun Piramid simetris untuk membuktikan keberadaannya, yang konsep bangunannya sampai sekarang masih membingungkan para ilmuwan. Ncera bukan Babilon yang membuat Taman Gantung untuk eksistensinya, bukan kaum Rum yang membuat Coloseum, bukan Yunani yang membuat kuil dengan ukiran rumitnya, juga bukan suku Inca yang membuat Machu Picchu untuk keagungan daerahnya. Tetapi Ncera hanya sebuah desa kecil, yang kecilnya sampai membuat kita tidak bisa melihatnya, bahwa sesungguhnya dia ada dan memanggilmu dalam setiap sujud dan keseharianmu.

    Kita harus mengerti bahwa diatas kecerdasan diri ada kecerdasan sosial (kolektif) yang harus kita temukan dan sadari. Diatas kata 'Tahu', sesungguhnya ada kata 'bisa' yang masih hidup, di atas kata 'bisa' masih ada kata maha bisa. Diatas kata maha bisa masih ada kata bijak yang harus kita selesaikan, diatas kata bijak masih ada kata maha bijak yang menunggu, diatas kata maha bijak masih ada kata pengasih dan di atas kata pengasih masih ada kata maha pengasih yang harus kita pelajari dan praktekkan. Sebuah perjalanan tidak hanya selesai menjadi orang baik, tapi di atas baik tentu harus benar, diatas benar harus arif, dan diatas arif harus ikhlas. Mungkin tidak hanya itu misteri katanya, barangkali masih ada ribuan bahkan jutaan kata yang belum sempat kita cermati dan kita dalami. Begitu juga dengan memaknai Ncera, mungkin tidak cukup huruf, kata, dan kalimat untuk menuangkan semua yang terkandung dibalik Ncera, tapi sungguh ketidaktahuan akan mengantarkan kita pada pijakan pertama untuk menemukan cakrawala dibalik Ncera.

    Kalau Ncera adalah ibu maka kita adalah anak-anak yang di asuh, asah dan di asih olehnya. Kalau dia perempuan maka kita adalah laki-laki yang melengkapi segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau Ncera adalah tanah maka kita menjadi petani yang selalu setia membajak dan membujuknya. Kalau Ncera bermakna baik, berarti Ncera menjadi jalanmu untu menemukan benar, bijak dan ikhlas. Dan pada level tertinggi orang Ncera merupakan orang yang sudah ikhlas untuk tidak bergantung pada sesuatu dan ikhlas melepas sesuatu. Ketika Ncera kita sadari sebagai jalan, maka pada konteks inilah kita menemukan Tuhan dalam memaknai Ncera. Ini bukan kebetulan, kadang kala engkau menemukan segalanya dibalik teks (buku-buku dan segala simbol), tetapi adakalanya sesuatu itu yang mengajari kita untuk mengenali dirinya.

    Kita hanya boleh merencanakan suatu kebutuhan bukan keinginan, Sebab semesta memberi sesuatu kepada kita sesuai dengan apa yang di butuhkan, bukan yang di inginkan. Walaupun aturannya demikian, bukan berarti suatu pencapaian tidak pernah terjadi tampa didahului oleh sebuah keinginan.

    Perumpamaan itu bagaikan kehati-hatian kita ketika berjalan di suatu gang, meskipun sudah sangat teliti dan hati-hati bisa jadi suatu ketika kita akan menyicipi indahnya aspal juga, maka disinilah berlakunya aturan dua arah. Antara sesuatu (subjek) dengan sesuatu (objek). Kadang kala pada satu waktu, sesuatu tidak membutuhkan yang lain untuk hidupnya, sesuatu bisa mengendalikan yang lain, saling membutuhkan antara keduanya, dan dalam satu waktu segalanya bisa saling melengkapi satu sama lain. Berarti antara sesuatu dengan sesuatu mempunyai beberapa bentuk Hubungan. Pertama, sesuatu tidak membutuhkan yang lain. Kedua, sesuatu menguasai yang lain. Ketiga, sesuatu melengkapi sesuatu yang lain. Keempat, sesuatu membutuhkan sesuatu yang lain untuk keberadaanya. Dan begitulah yang terjadi antara Manusia, alam dan Ncera. Mereka berada pada posisi nomor tiga dan empat.

    Apakah manusia bisa hidup tampa alam? Apakah alam bisa hidup tampa manusia? Apakah Ncera bisa hidup tampa alam dan manusia?

    Bersambung.

    Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:
    >> Ncera Part 1
    >> Ncera Part 2
    >> Ncera Part 3
    >> Ncera Part 4

    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Pengamat Hukum, Sosial, Budaya / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Pesantren

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berpeci)
    PEWARTAnews.com – Pesantren belakangan ini menjadi salah satu tema penting. Kendatipun pesantren dicibirkan oleh sejumlah orang, pesantren sebagai institusi genuine milik ummat Islam Indonesia mempunyai tiga misi utama. Pertama, pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mendidik ummat menjadi insan bertaqwa, insan kamil, insan yang matang, berintegritas, mandiri, dan cerdas holistik. Mengapa demikian, karena pesantren memungkinkan terjadinya praktek pendidikan formal, informal, dan nonformal yang saling melengkapi. Transformasi nilai dapat berlangsung sangat efektif, jauh lebih efektif dibandingkan dengan pendidikan formal.

    Kedua, pesantren sebagai lembaga perjuangan yang mampu lahirkan santri yang memiliki tanggung jawab kebangsaan, semangat jihad fi sabiilillah, hubbul wathon minal imaan. Jika di masa penjajahan, mampu lahirkan santri pejuang untuk rebut kemerdekaan, kini lahirkan santri pejuang dan pembangunan yang mampu pertahankan kemerdekaan dengan melawan pengacau bangsa dan negara serta bekerja total untuk pembangunan bangsa menuju baldatun thayyibatun warabbun ghafuur. Hanya saja caranya jangan sampai kontraproduktif, sehingga respek terhadap santri tetap terjaga.

    Ketiga, pesantren sebagai lembaga layanan ummat yang mampu menjadikan santri dan institusi menjadi khadimul ummah. Pesantren yang tangguh, seharusnya mampu hasilkan santri yang tanggap dan mampu selesaikan masalah ummat, baik pada tataran pikiran mauapun hasilkan santri yang kompeten respon terhadap masalah ummat. Karena itu pesantren idealnya harus inklusif, bukan ekslusif. Pesantren bagaikan menara air yang memberi kesejukan dan oksigen lingkungan sekitarnya.

    Selain tiga misi utama tersebut, bisa juga dikembangkan dan dimantapkan bahwa pesantren menjadi lembaga dakwah. Terutama di era digital ini, sangat mungkin pesantren menjadi lembaga dakwah, pusat lahirnya kegiatan dan bahan yang mampu didesiminasikan untuk ummat sebagai langkah dakwah yang proaktif, atau pesantren dengan timnya yang mampu merespon semua persoalan yang dihadapi ummat, sehingga pesentren bersifat reaktif dengan membuka hotline.

    Dengan menjaga misi utama pesantren yang sangat berharga ini, insya Allah pesantren tetap menjadi asset ummat Islam yang bisa bertahan dan eksis secara fungsional ilaa akhiriz zaman. Untuk itu perlu terus dijaga, sehingga dapat terhindar dari kehancuran. Aamiin. Kepada-Nya lah tempat bergantung dan mohon bimbingan. Semoga.


    Yogyakarta, 3 November 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 

    Atlet STKIP Yapis Dompu Raih Medali Emas dan Perak

    Mahasiswa dan Mahasiswa STKIP Yapis Dompu peraih medali emas dan perak.
    Dompu, PEWARTAnews.com -- Kabar gembira datang dari dua pesilat STKIP Yapis Dompu yang mampu meraih medali. Mereka adalah Sri Mulyati Rukmana dan Wahyudin yang merupakan Mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi.

    Kedua atlet tersebut mampu membawa pulang medali emas dan perak dalam perhelatan Pekan Olahraga dan Sains Tingkat Mahasiswa (POSIM) tingkat Provinsi yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Nusa Tenggara Barat. Event akbar tersebut  diselenggarakan di IKIP Mataram mulai 11-20 Februari 2019.

    Sri Mulyati Rukmana mengaku sangat senang dan terharu, pasalnya, Ia tidak pernah menyangka akan menjadi juara dan meraih medali emas. Pengakuannya selama ini Ia berlatih dengan sungguh-sungguh. Begitu pula dengan wahyudin, Ia sangat bersyukur bisa mempersembahkan medali perak untuk Kampus tercinta STKIP YAPIS Dompu. Ia harus mengakui keunggulan pesilat asal IKIP Mataram yang membuatnya puas dengan peringkat kedua.

    Pada kesempatan lain. Sandi Putra Pratama, yang juga sebagai dosen pendamping Sri dan Wahyudin, merasa senang sekaligus bangga karena mendampingi mahasiswa yang memiliki prestasi di tingkat Provinsi. “Alhamdulilah saya dengan senang dan bangga mempunyai mahasiswa yang sudah berprestasi di tingkat provinsi, semoga kedepannya target menuju nasional bisa tercapai” kenangnya.

    Selain itu, Ia juga berharap mahasiswa tetap berlatih karena tiga bulan lagi akan ada Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA), dan juga dalam waktu dekat akan ada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) di Jakarta.  (Bulan)

    Esensi Sabar

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Sabar adalah salah satu sifat terpuji (Akhkaq Mahmudah) yang seharusnya kita miliki. Sabar sangat melekat dengan mushibah (Ashshabru ‘alal mushiibah), baik terkait dengan hilangnya harta benda, buah-buahan (tanaman), bahkan hilangnya jiwa (QS Al Baqarah, 2:155). Mengapa harus sabar, karena kita itu milik Allah SWT, termasuk segala yang sering kita claim sebagai milik kita, apakah uang, harta benda, tanaman yang menghasilkan, bahkan jiwa kita, jika semua atau sebagiannya hilang dan hancur, maka sikap yang terbaik dalam menghadapinya dengan sabar. Ingat bahwa Allah swt tidak akan pernah menguji di luar kemampuan kita.

    Hal lain yang juga diperlukan sabar adalah ketika kita memperoleh karunia atau rizqi, termasuk jabatan (ashsharu ‘alar rizqi). Orang yang tidak sabar dalam menyikapi rizqinya cenderung ingin habiskan rizqi sepuas-puasnya dan secepat-cepatnya, senyampang masih bisa menikmati harta yang ada, sehingga lupa membayar zakat dan boleh jadi kehidupan masa tuanya lebih sengsara.
    Asshabru ‘alat taqwa sangatlah penting dalam kehidupan kita (QS Al Baqarah, 2:153). Hal ini dapat dilihat dengan sabar dan tekun menunaikan ibadah, sholat, puasa, dan sebagainya, sehingga tidak cukup dengan wajibnya saja, melainkan ibadah sunnahnya. Demikian juga sabar mengendalikan diri dari godaan syaitan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

    Terakhir, ashshabru ‘alal jihaad. Kesempurnaan iman dan Islam kita tergantung juga pada kemauan dan kemampuan berjihad. Allah SWT berfirman dalam QS An Nahl, 2:125), ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wal mauidhotil hasanah, wajaadilhum billatii hiya ahsan. Juga dalam QS Al-‘Ashri, 103:3)... Illalladziina aamanuu wa’aamilush shaalihati watawaa shaubil haqqi watawaa shaubish shabri. Keduanya sangat menganjurkan untuk terus amalkan sabar dalam berjihad.

    Menyadari akan banyaknya nilai kebaikan berbuat sabar, maka setiap kita, terutama pimpinan, perlu sekali mengamalkan kehidupan sederhana dan sabar. Demikian juga sebagai staf, perlu sekali sabar menunaikan tugas yang dihadapinya, karena dengan sabar bisa lebih fokus, sungguh-sungguh, dan selesaikan setiap tugas dan masalah yang sulit sekalipun. Insya Allah. Dengan sabar kita lebih bisa hadirkan solusi tehadap persoalan dunia dewasa ini. Kita yakin bahwa Allah SWT bersama orang-orang sabar.


    Yogyakarta, 2 November 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Selamat Tenggelam dalam Konspirasi Alam Semesta

    Buku "Konspirasi Alam Semesta".
    PEWARTAnews.com – Manusia terbentuk dari impian. Tanpa itu,kita hanyalah robot yang bergerak mengikuti hiruk-pikuk dunia, tapi tidak mengiringi irama yang dilantunkan bumi. Dan impian bukan sesuatu yang absolut. Ia dapat berubah, bertambah, bahkan berkurang.

    Diam dan rasakan debaran jantungku, saat kau ulurkan tangan menolongku. Kepalkan sayapmu, bawa aku terbang luka yang tersisa luruh dalam dekapmu. Pernahkah kau terjatuh secara sukarela? Seseorang akan menangkapmu. Seseorang akan mengajarimu cara tertawa, cara percaya, cara mengeja rasa tak bernama. Seketika itu pula, jagat raya berhenti bergerak. Jiwamu terbakar, ragamu  lebur, dan dirimu hanya bisa menyerah, karena tahu kau menyerah pada orang yang tepat. Aku milikmu hari ini, esok dan nanti.

    Kutitip rindu disela malam, berharap esok pagi kau ambil disudut langit. Menaruh angan dalam warnamu, tak hendak kulepaskan kenangan yang merantaiku. Berlarilah, aku akan mengejarmu. Sembunyilah, aku akan temukanmu. Membekulah, aku aka menunggumu luluh. Karena aku tahun kau yang pantas untuk hatiku.

    Manokwari, 20 Mei; Aku rindu hujan seperti aku merindukanmu. Sudah lama aku tidak memandang rintiknya memeluk bumi. Di Papua, semua terasa seperti musim panas ceria yang menyembunyikan sekelumit derita masyarakatnya. Mereka yang terus dikeruk hasil alamnya, ialah mereka yang sama yang sulit mengecap pendidikan dan pembangunan. Tapi, itu tidak berarti masyarakat papua tertinggal, sama sekali tidak. Di sini aku juga bertemudengan banyak orang pintar. Salah satunya kawan baruku, kak desi, seorang tenaga pengajar di Unipa. Dia pernah melanglang buana higga ketanah para Daeng demi menuntut ilmu. Aku mengagumi dia dan cita-cita luhurnya yang ingin mencerdaskan putra putri Papua. Anehnya, media tak pernah mengangkat soal kecerdasan anak-anak timur. Mungkin aku yang tidak pernah lihat, atau mungkin beritanya kalah pamor dengan hal-hal yang berbau pariwisata. Aku berjanji akan meliput lebih banyak soal ini. Bagaimana kabarmu dan papa? (hlm 65).

    Jauh adalah salah satu kata yang membuatku berani melihat, mengecap, dan menyambangi hal-hal baru. Di saat yang sama, “jauh” juga menjadi hal yang menakutkan bila itu terkait denganmu. Tapi, aku beterimakaish pada “jauh”. Karenanya, aku tahu bahwa aku merindukanmu. Dan jika rasa ini tak bernama, aku yakin hangatnya akan tetap sama, dan pemiliknya akan tetap engkau.

    Suatu ketika, tatkala bintang kejora meredup dilahap sang fajar, aku teringat pada sebuah kota tempat aku dan kamu bertemu, tempat kita memupuk asa. Dengan sekoper permintaan maaf, setumpuk penjelasan, dan segudang kerinduan, aku akan pulang pada pelukanmu, Ana Tidae.

    Orang-orang bilang ia memliki ingatan fotografis. Ia masih mampu merekam jelas suasana pantai Santolo yang ia lihat ketika TK-cinta pertamanya pada Indonesia. Ia masih mampu merekam jelas sala satu episode hidupnya saat berusia delapanbelas tahun, kala seorang anak bongsor memukulinya karena alasan yang tak ia pahami. Ia masih mampu merekam jelas mimik salah satu guru SMP-nya yang berang, sewaktu ia mengacungkan jari tengah sehabis guru itu memberikan pernyataan bahwa ia berasal dari keluarga eks-tapol tentu saja pada saat itu ia belum mengerti apa arti dari kata ‘eks tapol”, yang ia mengerti adalah hampir semua tetangga membenci keluarganya hanya karena semata “gelar” tersebut.

    Juang merupakan anak sulung dari keluarga yang sering dijuluki sebagai keluarga eks tapol, dia mempunyai adik bernama Fatah Dublajaya yang selalu mengangguk mengikuti kehendak sang ayah. Sedangkan Juang Astrajingga menolak hidup normal dengan pendapat tetap. Baginya, “normal “ versi sang ayah sangat membosankan, ia sudah menunduk tetapi tidak mau lagi diatur. Juang juga merupakan seorang pemuda yang telah medapat gelar sarjana Teknik Informatika tetapi berprofesi sebagai seorang jurnalis. Juang memang pemuda yang dulunya sudah terbentuk menjadi pemuda yang kritis berkenalan dengan organisasi kampus semasa ia kuliah. Terkadang Juang terpikat pada dunia sastra pada masa-masa akhir perkuliahannya.

    Ibunda Juang adalah wanita sederhana yang senantiasa mengingatkannya agar beribadah dan tak lupa Tuhan. Sesuatu yang telah lama tidak ia turuti. Tatkalah Juang pergi dari rumah, tiga tahun silam, sehabis bertengkar hebat dengan ayahnya karena perbedaan pendapat, hanya mata ibu yang berkaca-kaca yang memberatkan langkahnya melakukan petualangan gila-dengan cara menggembel-ke daratan Sulawesi. Pada akhirnya, ia tetap berangkat selepas mengecup kening sang bunda dan meyakinkan bahwa dirinya akan menjadi seorang yang berguna.

    Juang memiliki seorang kekasih bernama Ana Tidae yang akhirya berhasil ia nikahi selepas ia memantapkan diri dan menyelesaikan Film Dokumenter yang mengangkat sejarah papua. Mereka berdua sempat menjalani hubungan jarak jauh pada saat itu. Tetapi mereka tetap berusaha menjaga komitmen. Bahkan Juang rutin mengirimkan surat kepada kekasihnya Ana Tidae. Sampai pada suatu hari Ana tidak mendapat pesan dari Juang Astrajingga. Tidak mendapatkan pesan dari kekasihnya, Ana sangat panik. Ia berusaha menghubungi kantor Juang. Sampai sebuah pesan masuk diponselnya.

    Kisah cinta yang begitu rumit. Apakah kisah Ana dan Juang akan berakhir bahagia? Atau justru cinta mereka akan hilang karena ditenggelamkan dalam konspirasi alam semesta?

    Novel konspirasi Alam Semesta merupakan Albuk. Jadi novel ini punya perlengkapan sebuah lagu. Album yang terdiri dari beberapa lagu yang beberapa liriknya tertuang dalam novel ini. Sandarkan punggung, dengarkan lagu mengiringi baris demi baris kata adalah cara teristimewa menikmati konspirasi alam semesta.

     Juang merupakan sosok pemuda yang sangat menarik terlahir dari keluarga yang ayahnya dijuluki sebagai seorang  eks tapol, yang membuat ia sempat memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Hubungannya dengan ayahnya sangat dingin, tetapi Juang sangat menyayangi ibunya, yang mampu membuat Juang kembali pada keluarganya.

    Membaca perjuangan Ana dan Juang juga sangat menyentuh hati. Terlebih lagi pada saat Ana dihadapkan dengan sebuah penyakit dan ia hanya menutupinya dari Juang, ia tidak tega memberitahukan karena ibunda Juang pada saat itu baru saja meninggal. Belum lagi muncul kesalapahaman yang membuat hubungan mereka renggang. Ada ego yang harus di taklukkan

    Konspirasi alam semesta tidak hanya bercerita tentang cinta dan asmara, melainkan mengangkat cerita keluarga yang begitu menyentuh hati pembaca. Membaca banyaknya kontradiksi yang ada pada novel ini membuat pembaca benar-benar meneteskan air mata. Keteguhan ayah Ana yang sangat luar biasa dalam menyelamatkan nyawa putrinya. Novel ini mampu membuat pembaca menyadari bahwa sosok seorang ayah dan ibu teramat penting bagi seorang anak. Karena mereka adalah nafas alam semesta.

    Dari seorang Juang kita juga belajar tentang pribadi yang sangat mengutamakan kepentingan sosial, berjiwa besar dan pekerja keras dengan segala keyakinan dan kepercayaan untuk meraih kesuksesan. Memiliki sahabat yang sangat memperdulikannya walaupun Juang telah tiada.

    Konspirasi alam semesta mampu membuat pembaca terus membuka halaman demi halaman untuk membacanya sampai-sampai pembaca tidak bisa menebak akhir dari ceritanya kecuali membacanya sampai halaman terakhir (jebakan alam semesta).

    Identitas Buku:
    Judul : Konspirasi Alam Semesta
    Penulis : Fiersa Besari
    Penyunting : Juliarga R.N.
    Penyunting Akhir : Agus Wahadyo
    Desainer Cover : Budi Setiawan
    Penata Letak : Didit Sasono
    Cetak Keenam, 2017
    Diterbitkan Pertama Kali oleh: Mediakita

    Peresensi: Nurjadidah
    Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Negeri Mataram (UNRAM)


    Musibah Lion Air JT 610

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (memakai jas)
    PEWARTAnews.com – Sabda Rasulullah saw dalam Haditsnya, berbunyi “I’mal lid dun-yaaka kaannaka ta’isyu abadan, wa’mal li akhiratika ka annaka tamuutu ghadan”, yang artinya, bekejalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selama-lamanya, dan beramal lah untuk akhiratmu seakan-akan besuk kau akan mati. Demikian juga firman Allah SWT, “faidzaa jaa-a ‘ajaluhum laa yasta-khiruuna walaa yastaqdimuun”, yang artinya, maka apabila telah datang saat kematian, maka tidaklah kamu mampu menunda saat kematian atau mempercepatnya” (QS Al A’raf, 34).

    Hadits Nabi saw dan Firman Allah swt ini terasa sekali memiliki relevansi yang sangat tinggi bagi semua yang menjadi kurban Lion Air JT 610 yang mengalami musibah tanggal 29 Oktober 2018. Sebagian besar di antara mereka bersemangat untuk tunaikan tugas dalam mencari nafkah yang halal demi diri dan keluarganya serta lembaganya, pada waktu yang sama mereka juga tidak bisa abaikan berdoa dan beramal sholeh untuk bekal, jika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya untuk selama-lamanya. Apalagi di kantong tempat duduk di Lion Air selalu tersedia leaflet Tuntunan Doa untuk beberapa agama yang tidak selalu ada di pesawat terbang lainnya. Beruntunglah penumpang yang selalu manfaatkan leaflet itu dengan tambahan doa lainnya, sebelum take off dan selama penerbangan.

    Semoga setiap memulai perjalanan dengan transport apapun, kita selalu sempatkan berdoa, semoga Allah SWT melindungi keselamatan kita. Aamiin. Akhirnya kami berduka yang sedalam-dalamnya atas mushibah Lion Air JT 610 dan ikut berdoa, semoga semua penumpang husnul khaatimah, diampuni dosa-dosanya, diterima amal baiknya, dan diterima di sisi-Nya. Demikian pula keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Aamiin.


    Yogyakarta, 31 Oktober 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Deradikalisasi: Problem dan Implementasi di Masyarakat Plural

    Ilham.
    PEWARTAnews.com – Kekerasan dengan mengatasnamakan agama, mulai dari, radikalisme, hingga terorisme, ditengarai masih marak di tanah air. Betapa tidak, dalam beberapa tahun terakhir ini banyak sekali, terjadinya pembomman dan konflik antar umat yang silih berganti mengguncang republik ini. Sebut saja bom Surabaya, konflik di Ambon, maupun pembakaran rumah ibadah di Tolikara. Fenomena itu terjadi dengan menjadikan jihad sebagai alasan pembenaran sekaligus sebagai landasan teologis. Masih dangkalnya pemahaman toleransi dan selalu curiga terhadap kelompok lain diindikasikan penyebab kerusuhan antar umat maupun kelompok masyarakat. Padahal keragaman dan pluralisme merupakan sunnatullah yang tak bisa di hindarkan oleh setiap manusia.

    Akar  konflik deradikalisasi yang terjadi di bumi NKRI di latar belakangi oleh beberapa kebutuhan, pertama, kebutuhan materi misalnya sumber daya alam, politik, perebutan kekuasaan,  mempertahankan toritorial, kedua, kebutuhan non materi misalnya mempertahankan harga diri, martabat kemanusiaan dan keadilan di mata hukum (persamaan di mata hukum) dan ketiga, kombinasi antar keduanya misalnya arab spring dan jihadis movements. Terlepas dari akar konflik deradikalisasi, masih banyak penyebab tindakan radikalisme misalnya pemikiran (ideologi), ekonomi, politik, sosial, psikologi, dan pendidikan.

    Fenomena Disrupsi pemahaman keagamaan Islam kontemporer yang masih banyak yang tekstual dalam memahami Al-Qur’an Hadist (mengembalikan segala persoalan langsung ke bunyi tekstual al-Qur’an dan Hadist), mudah melakukan eksklusi teologis terhadap praktik-praktik keislaman Indonesia pada umumnya atau kelompok  Islam lain dengan menyebutkan bid’ah, syirik, tersesat, kafir (eksklusivisme), tidak ramah terhadap perbedaan dan keragaman (kebinekaan), rendahnya komitmen terhadap negara dan bangsa Indonesia.

    Sumber-sumber intoleransi, radiakalisme, kekerasan keagamaan dalam dunia Islam banyak dipengaruhi oleh doktrin al walla wa al barra (setia dan penolakan; hanya setia pada kelompok agamanya sendiri dan ,menolak kerjasama dengan orang yang beragama lain), doktrin semacam ini tentu bertolak belakang dengan konsep kenegaraan yaitu kebhineka tunggal ika yang di bangun bangsa Indonesia. Dari sini muncullah ideologi Takfir/Takfirsme/Thoghut. Sebuah ajaran/doktrin yang bertentangan dengan prinsip Demokrasi yang pada dasarnya adalah memberi hak yang sama kepada muslim dan non muslim untuk membangun negara dalam sistem pemerintah Republik. Ekstrimisme, radikalisme, terorisme selain melibatkan berbagai faktor (politik, ekonomi dan lain-lain) namun ideologi semacam keagamaan juga ada ikut campur tangan dibelakangnya.

    Catatan komisi 1 dalam Rakernas Pendidikan 2016, membahas tentang tantangan pendidikan Indonesia yang di hadapi setiap hari atau setiap saat menjadi ancaman tersendiri bagi keutuhan bangsa ini dia antaranya: (1) Permasalahan bangsa: radikalisme, intoleransi, separatis, narkoba, kerusakan lingkungan, kekerasan, pengangguran, sarjana kurang siap menghadapi MEA; (2) Karakter lulusan:  ketidaksesuian kebutuhan (dunia kerja) vs ketersediaan (disiplin lulusan); (3) Kritik terhadap lulusan; (4) Kemampuan teknis vs penalaran: kemampuan teknis cukup, tetapi kurang diimbangi kemampuan bernalar; (5) Kritik lanjutan: rendahnya kemampuan komunikasi lisan dan tertulis, kurang berpikir kritis, rendahnya rasa percaya diri dan lunturnya nilai-nilai kebaikan.

    Permasalahan bangsa ini jauh lebih luas, bukan hanya masalah lulusan, tetapi masalah seluruh masyarakat misalnya: (1) Mengapa pemimpin saling berkelahi, tidak memberi contoh; (2) Mengapa semua orang ingin jalan pintas; (3) Mengapa materi (uang dan kekuasaan) menjadi nilai utama; (4) Mengapa pemerintah maunya melaksanakan program saja, bukan membangun sistem; (5) Mengapa idealisme menguap begitu saja.

    Dalam dunia pendidikan sendiri pun tak lepas dari permasalahan-permasalahan yang terjadi, maka perlu dan penting untuk menjelaskan dan mencarikan solusi dari setiap permasalahan atau pertanyaan seperti, mengapa kita begini, apa sesungguhnya yang terjadi dan bagaimana jalan keluarnya?

    Permasalahan-permasalahan yang terjadi perlu dan penting mendapatkan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi, oleh sebab itu penulis pun menyajikan jawaaban atas gejolak pikiran dalam memahami masyarakat plural-multikultural yang terjadi di belahan bumi ini yaitu: Literasi keagamaan, prinsip kesetaraan warga negara di depan hukum, dan keterbatasan bahasa Agama

    Literasi Keagamaan
    Mengajarkan agama di ruang publik dalam masyarakat majemuk (di sekolah, masyarakat, perguruan tinggi, majelis taklim, pengajian). Pertama, Berpegang teguh pada iman masing-masing, namun sekaligus berani menguji implikasi dan konsekuensi keyakinan dan keimanannya secara sosial dan budaya di ruang publik  secara bertanggung jawab.

    Kedua, Bukan mengahakimi kepercayaan orang lain (internal umat Islam maupun eksternal agama-agama lain). Seperti: (1) Mengajarkan agama secara akademik: bagaimana asal usul agama/aliran pemikiran/madzhab keagamaan tertentu. (2) Bagaiamana berkembang, membentuk dan dibentuk oleh situasi budaya setempat. (3) Diintepresentasikan dengan cara tertentu, membangun doktrin dan percabangan. (4) Bagaimana agama membangun aliansi  dengan gerakan politik, sosial, ekonomiyang mengitarinya. (5) Bagaimana kiyai, ustz, romo, pastur, pendeta, bhiku, guru, dosen menjelaskan kelemahan manusia, sistem ritual peribadatan yang di praktikan dan seterusnya.

    Prinsip Kesetaraan Warga Negara di Depan Hukum
    Setiap warga negara sama di mata hukum, baik dalam urusan hak dan kewajiban maupun dalam hal membela dan menjaga keutuhan NKRI.

    Pertama, Tidak ada religius supremacy di depan negara dalam masyarakat majemuk. Diantaranya, (1) Agama berperan besar dalam arus publik, tetapi waspada terhadap bahaya penyalah gunaannya; (2) Masyarakat agama diminta menaati aturan hukum yang ada, mekanisme demokrasi, permusyawaratan; (3) Penganut agama tertentu menganggap agamanya yang paling super begitu juga yang lain; (4) Klaim superioritas, menyulitrkan jalan untuk meraih kompromi akomodasi dabn negosiasi; (5) Dalam situasi tertentu dan mendesak, negara dapatt membatasai kebebasan dan bahkan dapat melarangnya.

    Kedua, Pancasila sebagai sesuatu yang melekat secara umum (a common platform) bagi agama-agama di Indonesia. Diantaranya, Dasar filsafat negara; (2) Naratif yang tidak mengandung kekerasan; (3) Agama yang “eksklusif” keluar dari kesepakatan sejarah yang di buat oleh founding parents Indonesia; (4) Pancasila tidak hanya sebagai warisan nasional namun juga warisan dunia yang perlu di rawat dan ditumbuhkembangkan.

    Keterbatasan Bahasa Agama
    Pertama, Bagaimana keluar dari jebakan “religious supremacy”. Diantaranya, (1) Secara filosofis dan sosiologi: tidak ada agama apapun yang sepenuhnya utuh dalam arti yang sama sekali terbebas dari campur tangan peran keperantaraan manusia; (2) Maksud dari ketuhanan yang suci selalu di komunikasikan dan di sampaikan dalam bahasa manusia dengan segala macam keterbatasannya; (3) Keinginan tuhan selalu ada dalam batasan definisi, pengertian, pemahaman dan penafsiran manusia.

    Kedua, Agama dan kepercayaan, keterlibatan akal dalam beragama. Diantaranya, (1) Agama melibatkan keprcayaan/keimanan, namun tindakan manusia beragama tidak hanya melibatkan kepercayaan itu saja. Karena agama dan kepercayaan tidak dapat disamakan dengan begitu saja; (2) Tindakan manusia beragama ternyata melibatkan juga banyak elemen dasar yang lain, seperti: pendapat, pilihan, keputusan.  Semuanya menunjukan keterlibatan akal pikiran dalam pernyataan dan tindakan agama dan juga pertanggungjawaban induvidu.


    Penulis: Ilham
    Mahasiswa Pascarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Anggota Pusat Studi Mahasiswa (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta

    Resolusi Jihad

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Resolusi Jihad ungkapan dahsyat yang menetapkan jihad fii sabiilillah sebagai fardlu ‘ain mampu membakar semangat juang dan siap mati syahid, berhasil membinasakan tentara sekutu dalam empat hari di ujung Oktober 1945. Gerakan santri dan rakyat, serta tentara, yang dipimpin Hadhratusyeh KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah, Bung Tomo dan para tokoh saat itu dengan pertolongan Allah Swt secara fisik mampu menumpas dan menggagalkan Belanda yang dompleng Inggris tentara sekutu yang ingin menguasai kembali Indonesia.

    Jika Resolusi Jihad saat itu sangat diperlukan untuk membela dan melindungi kemerdekaan bangsa dari penjajahan fisik, maka Resolusi Jihad saat ini, terutama di era Revolusi Industri 4.0 dan Disrupsi secara kontekstual harus berbentuk lain.

    Jihad pendidikan harus diorientasikan untuk bisa mengenraskan kebodohan seluruh warga Indonesia, terutama bagi kelompok yang tak beruntung secara fisik, mental, ekonomis, geografis, dan kultural. Juga pendidikan diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan knowledge society tetapi juga innovative society. Dengan begitu bangsa Indonesia bisa mandiri dalam berkreasi dan berinovasi (There is no zero creativity).

    Jihad ekonomi mendorong bangsa memiliki kekuatan dalam menghadapi kapitalisme, mengurangi atau menghentikan hutang yang mencengkeram, mendorong gerakan beli Indonesia, melakukan gerakan cinta produk dalam negeri karena memiliki keutamaan (misal, halal)
    Jihad budaya mendorong untuk melakukan filter yang ketat terhadap budaya asing yang bertentangan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila, Islam, sehingga merusak karakter bangsa, akhlaq ummat Islam. Dengan nilai-nilai luhur yang kita miliki, mestinya kita menjadi trendsetter. Untuk itu dibutuhkan keteladanan dalam action (uswatun hasanah).

    Jihad sosial mendorong untuk peduli dan care terhadap penderitaan orang lain dengan cekatan dan cepat merespon orang lain yang terkena musibah, terlebih-lebih bencana alam yang dahsyat. Wujud simpati dan empati bisa ditunjukkan dengan materi, maupun nonmaterial (doa/istighizah), bisa langsung maupun tak langsung.

    Dengan memperingati Hari Santri Nasional yang membawa misi Resolusi Jihad, tidak berarti bahwa santri atau pelajar atau warga diajak untuk meningkatkan keterampilan berperang (walau keterampilan ini masih penting jika diperlukan), tidak cukup dengan upacara atau tidak harus dengan pawai keliling kota, yang jauh lebih penting adalah kecakapan melawan hawa nafsu, kecakapan melawan kemalasan belajar dan berpikir, kecakapan melawan ketergantungan ekonomi, kecakapan melawan budaya asing yang merusak, kemampuan berempati dan solidaritas sosial, dan kesiapan untuk menjaga kesatuan dan persatuan (Aljamaa’atu rahmatun walfurqatu ‘adzaabun) yang didasai cinta tanah air (hubbul wathan minal iman).


    Yogyakarta, 21 Oktober 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Ncera (Part III)

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Makna yang tersebunyi. Ncera merupakan sebuah peradaban bahasa yang akan mengantarkanmu pada kesejatian hidup. Kesejatian mengenali diri sendiri lewat kekayaan bahasanya, serta kesejatian mengenali nur Tuhan pada setiap makhluk-Nya. Kata 'Ncera' tidak lahir dari ruang hampa, ibaratkan bunga, Ncera tidak tumbuh dengan begitu saja tampa faktor sejarah dan keterlibatan semua eksisten. Bunga yang indah dan segar itu sesungguhnya telah melalui ruang sejarah yang panjang, dia membutuhkan tanah, udara, cahaya, dan dirinya sendiri yang menopangnya untuk hidup. Begitu juga Ncera, dia telah melalui kerikil dan bebatuan sejarah sehingga membuat Ncera bertahan sampai sekarang. Kita harus pulang untuk memungut kerikil dan bebatuan itu, pulanglah ke rumah sejarah mu sendiri.!

    Kalau hidup membutuhkan nurani, berarti dia perlu mata dan telinga sebagai perantara supaya nurani itu hidup. Kalau Ncera adalah martabat hidup berarti dia membutuhkan manusia dan alam untuk hidupnya, dan kalau manusia adalah manusia, berarti dia membutuhkan Ncera untuk eksistensinya. Ncera merupakan sebuah kata benda penunjuk tempat, namun Ncera juga merupakan kata sifat yang mensifati sesuatu. Ncera merupakan kata kerja yang menjadi wadah untuk berproses mencapai sesuatu, Ncera juga kata penghubung yang menghubungkan sesuatu dengan sesuatu.

    Desamu begitu banyak menyimpan permata, dia ada tapi tidak terlihat, dia tersembunyi tampa tempat persembunyian. Ncera dalam bahasa Indonesia berarti 'murah'. Secara ekonomi, murah berarti harga sesuatu barang dibawah ukuran normal (standar). Kalau melihat berdasarkan kaca mata tersebut, orang Ncera mempunyai paradigma historis tersendiri dalam melakukan segala transaksi yang berkaitan dengan ekonomi, paradigma tersebut berorientasi pada konsep barokah, bukan pada persoalan untung dan rugi semata. Tetapi Secara teologis-folosofis, Ncera berarti sifat dari sesuatu, sifat itu merujuk untuk menjadi suatu identitas. Kalau Ncera itu sifat, berarti Ncera bermakna taho, lembo ade, raso ade, dan segala diksi bahasa Bima yang baik. Mari kita cari kalimatnya. Contoh, Ncera ade na, Taho ade na, raso ade na. Ncera ade sama halnya dengan taho ade yang dalam bahasa indonesia nya 'baik hati', orang yang mempunyai sifat baik berarti dia mempunyai segala kebaikan dalam dirinya untuk direduksikan kepada orang lain dan seluruh makhluk. Tetapi ada kalimat kunci yang bisa mengantarkan seseorang pada pencarian dirinya sendiri. Kalau kita teliti melihat kalimat Ncera ade dan taho ade, kalimat tersebut bisa mengantarkan kita pada 'raso ade'. Raso ade adalah penentu dalam laku sosial dan transenden. Kira-kira seperti itu. Ncera mengajarimu segalanya, dia juga makrifatmu untuk menemukan Tuhan.

    Perjalanan kita tidak berhenti sampai disitu. Sebagai kata benda, Ncera merupakan kata untuk menunjuk tempat 'mada dou Ncera' (saya orang Ncera), tetapi selain kata benda, Ncera juga bisa menjadi kata sifat yang mensifati sesuatu 'mada dou ma Ncera' (saya orang baik). Ncera juga bisa menjadi kata kerja 'mada dou ma ne'e Ncera'(saya ingin menjadi orang baik. Selain itu Ncera juga bisa menjadi kata penghubung antara sesuatu dengan sesuatu 'dou ma Ncera, rahose ba dou ntau na ngge'e mpa mbeina'. (orang baik, kalau diminta oleh orang lain miliknya pasti dikasih). Hanya orang yang baik yang bisa memberikan sesuatu miliknya kepada orang lain, Selain orang baik tidak. Penghubung antara sesuatu dengan sesuatu adalah 'baik'. Tetapi semua kata dan kalimat itu hidup dalam satu kalimat tunggal yaitu 'mada dou Ncera'. Ketika kita mengucapkan itu sesungguhnya kata Ncera telah menjadi kata benda, sifat, kerja, dan penghubung dalam waktu yang bersamaan.

    Mada dou Ncera, kalimat itu telah menjadi bukti terhadap esensi dan eksistensi diri kita sendiri. Ketika kita mengucapkan kalimat itu, maka kita tidak hanya memberitahukan tempat tinggal kita, namun juga kita telah menyatakan sikap dan prinsip kepada orang lain. Ketika kita mengucapkan kalimat itu, berarti kita sudah berprinsip akan punya sifat dan berprilaku 'Ncera' pada lawan bicara kita. Kenapa bisa begitu? Karena Ncera tidak hanya mewakili nama desamu, tapi juga mewakili sebuah identitas diri dan perjalanan batinmu. Dibalik kalimat tersebut, sebenarnya ada sebuah tanggung jawab etik yang harus dijalankan oleh setiap mereka yang mengatakan demikian. Tanggungjawab sosial serta moril yang menjadi identitas dan personalitas dari seseorang yang mengucapkan itu.

    Mari kita cari anonim maknanya ke hal yang lain, ketika manusia bersyahadat berarti itu akan menjadi pembeda antara dirinya dengan orang lain. Tapi kenapa Tuhan memberikan kalimat tersebut sebagai pembeda antara manusia yang satu dengan lain? Sebab, segala sesuatu butuh kata atau bahasa untuk mewakili dirinya, tapi dengan cacatan kalimat atau bahasa itu tidak sepenuhnya mewakili dirinya. Kalimat itu tidak hanya selesai di kalimat, tapi juga dibalik ikrar itu sesungguhnya ada kesiapan jahir dan batin untuk hanya menyakini Allah sebagai Allah dan Muhammad sebagai Nabi ( yang haru kita ikuti ucapan, kesepakan, dan prilakunya). Begitu juga dengan Ncera tersebut diatas. Dengan mengatakan 'Mada dou Ncera' maka konsekuensi logisnya berarti kita menyanggupi diri kita sebagai orang baik dan siap menjadi orang baik. Hal tersebut terjadi disebabkan karena makna dari Ncera itu sendiri. Ncera telah menumbukan bunga-bunga serta duri-duri, Ncera telah menumbuhkan cinta juga segala rupa dari kebencian, tetapi kebencian salah satu wajah dari Cinta.

    Bersambung.

    Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:
    >> Ncera Part 1
    >> Ncera Part 2
    >> Ncera Part 3
    >> Ncera Part 4

    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Refleksi Kematian

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berkaca mata). 
    PEWARTAnews.com – Kematian bagi setiap anak Adam adalah terpisahnya ruh dan jasadnya. Mempercayai adanya kematian adalah salah satu rukun iman, terkait dengan beriman tehadap qadla-qadar dan Hari Kiamat. Kematian menjadikan manusia itu berhenti beramal. Tiga hal yang terus mengalirkan pahala adalah shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendoakan (HR Muslim). Tentu ada hal lain yang perlu diyakini bahwa syafaat Allah (termasuk doa bagi yang sudah wafat) dapat diberikan kepada siapapun atas izin-Nya (QS Al Baqarah:255).

    Ada kematian lain yang tidak kalah pentingnya untuk menjadi refleksi bersama. Pertama, kematian pikir, kita sudah tidak bisa berpikir sehat, berpikir logik, berpikir kritis, berpikir kreatif dan sebagainya, akibatnya pikiran kita tak logis, berpikir destruktif, suka debat kusir, dan tidak mau menerima hasil pikir orang lain dan sebagainya. Orang yang demikian itu sulit diajak sharing ideas, karena mau menangnya sendiri.

    Kedua, kematian rasa, kita sudah tidak bisa lagi menenggang rasa, toleran, empati, respek, dan sebagainya. Akibatnya kita intoleran, apriori dominan, sinikal, dan sebagainya. Orang yang demikian mengalami kesulitan hidup dalam kondisi multi kultural dan masyarakat hiterogin. Padahal di depan mata dan sekitar kita wajah saudara, tetangga, sahabat kita, dan warga bangsa dan dunia berwarna-warna.

    Ketiga, kematian hati, kita sudah tidak lagi teguh dalam beriman, kurang taat beragama, tidak patuh dengan norma sosial, dan kurang biasa bebuat kebajikan. Akibatnya kita sering dan cenderung meragukan keesaan Tuhan, berbuat kufur, bertindak asosial, berbuat maksiat dan destruktif.

    Kita memang masih diberi kehidupan, namun jika kita mengalami kematian pikir, rasa, dan hati, maka hidup ini terasa sia-sia bahkan sangat merugi. Karena itu bagaimana kita diberi kehidupan oleh Allah Swt dan kita maknai diri kita, semua aspek benar-benar hidup dengan kadar yang membaik secara terus menerus, walau gangguan hidup tidak bisa dihindari. Yang penting semua aspek kehidupan diusahakan dibalut dan diwarnai dengan nilai-nilai religiusutas/Islam.


    Yogyakarta, 20 Oktober 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Dongkrak Literasi, Komunitas BuAI Kirim Paket Buku Amal 4.300 Kg


    Salam Literasi (L).
    Jakarta, PEWARTAnews.com – Komunitas Buku untuk Anak Indonesia (BuAI) telah mendistribusikan paket buku pada 31 Januari 2019. Pendistribusian buku sempat tertunda dari tanggal resmi 17 tiap bulan mengikuti instruksi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tentang kejelasan fasilitas free cargo literacy. Paket buku yang didistribusikan sekitar 4.300 Kg ke 50 Taman Bacaan Masyarakat terpilih se-Indonesia. Mekanisme pengiriman pada empat titik. Dua titik di Jakarta Timur di bawah tanggung jawab Mathilde May Tumenggung dan Indah Prastiwi, sisanya wilayah Cilacap dengan penanggung jawab Winda Efanur FS, Jogjakarta penanggung jawab Dewi Pangesti. Meliputi Sumatera, Jawa, Bali, NTB, Sulawesi , Papua, Maluku dan pulau kecil seperti kepulauan Babel dan Halmahera.

    "TBM dipilih menurut masing-masing pengirim seleksinya beda-beda. kalau aku, supaya tersebar seadil mungkin jangan ngumpul di satu daerah," ungkap Koordinator Sie. Buku Mathilde May.

    Program pendistribusian ini berisi paket buku amal terbitan Komunitas BuAI Serial Cerita Anak Negeri "Kerjasama Penghuni Hutan & 16 Cerita Menarik Lainnya" dan buku bacaan tambahan lainnya. Program pendistribusian buku amal ini bagian dari kepedulian Komunitas BuAI turut mensukseskan program Gerakan Literasi Nasional (GLN), yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016 lalu. Cakupan GLN meliputi enam aspek penguasaan literasi : literasi numerasi, literasi baca tulis, literasi sains, literasi sains, literasi digital, literasi finansial dan literasi budaya dan kewargaan.

    Melalui pendistribusian buku amal ini, Komunitas BuAI turut mensukseskan aspek literasi tulis menulis. Sasarannya memberikan buku-buku bacaan bermutu anak-anak Indonesia, dengan memfasilitasi para pegiat Literasi di daerah-daerah. (WFS).

    NU untuk Rahmatan Lil'aalamiin

    PEWARTAnews.com -- Hari ini, 31 Januari 2019, NU sebagai organisasi masyarakat Islam memasuki hari lahirnya yang ke-93 dengan pengikutnya terbesar seluruh Indonesia di antara ormas Islam lainnya. Tidak hanya kuantitatifnya, melainkan seharusnya juga kualitasnya. Untuk mewujudkan keinginan yang mulia itu pada prakteknya NU secara terus menerus melakukan koordinasi dan konsolidasi, walaupun masih jauh dari yang ideal. Semoga momentum peringatan hari lahir (Harlah) ini dapat ummat nahdliyyin melakukan refleksi secara jujur akan eksistensi NU dan perannya baik untuk kaum nahdliyyin sendiri, maupun ummat Islam, bangsa dan kemanusiaan, sehingga dapat mewujudkan Islam yang rahmatan lil’aalamiin.

    Idealnya NU selalu dapat respek dari kaum nahdliyyin sendiri, ummat Islam, warga Indonesia dan dunia, namun kenyataannya NU kini di samping mendapat respek dari semua, tidak bisa dipungkiri dapat sorotan kritik yang tajam dari kaum nahdliyyin sendiri, ummat Islam, warga Indonesia dan dunia, karena ulah perilaku personal pengurus NU di semua level dan kebijakan institusi yang tidak selaras dengan Khiththah NU 1926. Bahwa NU secara institusional memiliki corebusiness dakwah, pendidikan, sosial-kemasyarakatan dan ekonomi ummat. Jika dikaitkan dengan misi politik, adalah politik kebangsaan. Di samping itu NU wajib memberikan kesempatan warganya untuk menentukan aspirasi politiknya sendiri. Yang menjadi persoalan, bahwa ada kebijakan pimpinan NU yang dengan sengaja melakukan gerakan politik praktis, sehingga menimbulkan kesan bahwa NU sebagai institusi politik, yang tidak sejalan dengan spirit Khiththah. Kondisi yang demikian berdampak terhadap munculnya dua kutub, pertama yang mengikuti kebijakan pimpinan, dan kutub lainnya yang committed dengan misi khiththah. Jika ini tidak segera diluruskan, potensial sekali akan terjadi benturan antar ummat nahhdliyyiin dan antara ummat nahdliyyin dengan ummat Islam lainnya. Pada akhirnya bisa jadi dapat mengancam eksistensi NKRI.

    Memperhatikan kondisi riil ini, Harlah NU seharusnya dijadikan momentum untuk bisa ishlah dengan ikuti misi khiththah, sehingga ummat nahdliyyin merasa terjamin eksistensinya, karena ummat nahdliyyin dalam konteks menghadapi Pilpres-Wapres dan Pileg 2019 merasa nyaman dan bebas baik yang berada di semua partai dalam koalisi 01 maupun koalisi 02. Pimpinan NU harus memayungi dan memberikan kebebasan kepada seluruh ummat untuk menentukan pilihannya, sehingga tercipta kerukunan dan kedamaian. Dengan harapan siapapun yang menenangkan pilihan umum, wajib memberikan perlakuan kepada semua termasuk ummat nahdliyyin secara adil tanpa ada diskrimasi.

    Akhirnya, bahwa peringatan Harlah. NU yang ke-93 memiliki makna yang sangat besar jika momentum ini dijadikan sebagai kebangkitan Khiththah untuk bisa meluruskan misi NU dengan mengubur dalam-dalam kepentingan pribadi dan kelompok, dan lebih fokus pada kepentingan tegaknya institusi NU dan peneguhan dan penyelamatan NKRI. Insya Allah dengan mensucikan niat dan gerakan NU, marwah NU akan tetap terjaga. NU akan tetap dirindukan warga dan bangsa Indonesia, karena tidak gila kekuasaan, melainkan bekerja total untuk emban amanah menjaga ideologi, persatuan-kesatuan bangsa yang menjadi harapan semua. Semoga Allah swt menjaga eksistensi NU untuk terus bisa berkontribusi dalam membangun keutuhan ummat dan bangsa yang dilandasi dengan nilai tawassuth, tawazzun, i’tidal dan tasammuh, sebaliknya jangan sampai membiarkan NU menjadi sumber perpecahan ummat dan bangsa. Aamiin.

    Mabruk Harlah NU ke-93, semoga memberikan berkah dan kedamaian untuk semua.


    Yogyakarta, 31 Januari 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Pimpinan Ummat

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A. saat ngobrol santai dengan Presiden RI Joko Widodo.
    PEWARTAnews.com -- Menjadi pimpinan ummat adalah keinginan banyak orang (level nasional dan daerah), karena ada beberapa privilese (privilege) yang dimiliki, di antaranya mendapat kehormatan, fasilitas, perlindungan keamanan, aliran rizki, jaminan kesehatan dan keselamatan, dan sebagainya. Semuanya sangat terkait dengan tingkat tanggung jawabnya. Semakin banyak previlege-nya semakin berat tanggung jawabnya. Karena itu pimpinan ummat tidak boleh sembarang berperilaku di tengah-tengah ummat. Kullukum raa’in wakullu raa’in mas-uulun ‘an ra’iyyatih (Al Hadits). Setiap di antara kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.

    Pemimpin ummat yang baik tidak hanya berorientasi pada haknya, melainkan yang jauh lebih penting adalah kewajibannya. Mereka wajib melayani, melindungi, membimbing, mendidik, dan memberikan jaminan keselamatan dan keamanan ummat, sehingga ummat merasa aman, selamat, dan bebas dalam hidupnya, terlebih dalam menjalankan kewajiban beragamanya. Dalam menunaikan kewajiban tidaklah mudah, pimpinan ummat mempertaruhkan segala daya, kemampuan, dan waktunya, sehingga bisa lepas dari tanggung jawabnya. Bahkan yang berkorban tidak hanya dirinya saja, melainkan juga keluarga dan kelompoknya yang berada di balik amanah kepemimpinannya.

    Kemuliaan yang diterima oleh pimpinan ummat seharusnya disikapi secara proporsional, tidak boleh berlebihan, karena bisa berakibat kepada pengkultusan sehingga menjadi lupa diri. Demikian juga pimpinan ummat harus tetap committed dengan norma-norma institusi dan sosial. Jika tidak bisa mendowngrade-kan marwahnya. Karena pimpinan ummat sangat dituntut keteladanannya dalam seluruh aspek kehidupan. Pimpinan ummat hakekatnya bukanlah predikat pemberian dari atas, melainkan penghargaan, penghormatan dan rekognisi dari ummat. Kondisi dewasa ini menjadi tantangan terbuka bagi pimpinan ummat, apakah mereka berpikir dan bertindak didasarkan pada idealisme atau pragmatisme? Yang mereka pikirkan itu keselamatan ummat atau diri dan atau kelompoknya?

    Memang pimpinan ummat seharusnya digerakkan oleh keinginan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang sangat dirindukan ummat. Pimpinan ummat seharusnya menjadikan ummat bersatu dan berjamaah, sehingga ummat saling menguatkan. Bukan sebaliknya, pimpinan ummat justru menjadi sumber dan pemicu perpecahan. Pimpinan ummat harus menjadi tempat berlindung ummat, bukan ditolak kehadirannya.

    Pimpinan ummat yang menduduki maqaamam mahmuuda seharusnya dijaga secara istiqamah, sehingga tidak membingungkan ummat. Karena pimpinan ummat menjadi katalisator untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Runtuhnya wibawa pimpinan ummat bukan dari agresivitasnya faktor eksternal saja, melainkan juga yang lebih penting dari pimpinan ummat yang gagal pengendalian dirinya. Semoga pimpinan ummat terus eksis dan terjaga integritasnya sehingga terus bermanfaat bagi ummat. Ingat bahwa tegaknya negara tergantung pada tegaknya integritas pimpinan ummat.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    GMPN Lampung Dukung Kebijakan Pemerintah yang Pro Rakyat

    Suasana usai dialog Publik di gedung KNPI Kota Metro
    Kota Metro, PEWARTAnews.com – Hari Kamis, 24 Januari 2019 bertempat di gedung Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Metro, berlangsung diskusi publik dengan tema "Mendukung Kebijakan Pemerintah yang Berpihak Kepada Rakyat".

    Acara ini di inisiasi oleh Gerakan Muda Peduli Nusantara (GMPN) Propinsi Lampung berlangsung di Gedung KNPI Kota Metro. Acara yang dikemas dengan apik tersebut menghadirkan tiga narasumber dari kalangan yang berbeda antara lain, Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Asisten 1 Kota Metro bapak Ridwan, Akademisi IAIN Jurai Siwo Kota Metro bapak Suhairi dan Pemerhati Kebijakan Publik Andrean Saefudin.

    Ridwan mengatakan bahwa kebijakan publik mesti didukung oleh beberapa hal antara lain, “Keterbukaan informasi publik, realisasi pembangunan yang bertahap serta kualitas pelayanan terhadap masyarakat,” bebernya.

    Moment yang sama, Suhairi menyatakan bahwa keberhasilan pembangunan tolak ukurnya adalah peningkatan taraf hidup masyarakat. “Jika masyarakat belum terjadi peningkatan maka kebijakan perlu dievaluasi,” cetusnya.

    Andrean menambahkan bahwa para pemuda harus turut andil mengambil bagian dalam urun rembug maupun terjun langsung untuk melakukan perubahan di tengah masyarakat, baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah. “Kaum muda mesti terlibat aktif dalam pembangunan baik ditingkat pusat maupun daerah,” sebutnya.

    Acara publik tersebut, diakhir acara dikemas dengan deklarasi oleh seluruh peserta diskusi publik. Adapun poin-poin deklarasi adalah seperti berikut ini.

    Pertama, Berkomitmen menjaga keutuhan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara. Kedua, Berkomitmen mewujudkan Pemilu 2019 agar dapat berlangsung dengan aman damai dan kondusif. Ketiga, Berkomitmen menolak tindakan provokatif dalam bentuk apapun, yang dapat merusak tatanan demokrasi dan memecah belah masyarakat.

    Keempat, Berkomitmen mendukung program percepatan pembangunan infrastruktur pemerintah sebagai jalan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kelima, Berkomitmen untuk memilih pemimpin yang mengedepankan visi misi dan program serta kinerja yang dapat direalisasikan secara terukur serta pro terhadap rakyat. (PEWARTAnews)

    Sampah Menjadi Berkah

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Pada umumnya institusi pendidikan menghendaki bahwa setiap intake pendidikan mencari yang terbaik, sehingga dalam mengelola pendidikan dan pembelajarannya menjadi mudah, dan berakhir dengan hasil yang gemilang. Padahal institusi pendidikan itu lebih recognized jika intake-nya berkualitas “sampah” dan lulusannya menjadi berkah karena banyak peroleh anugerah.

    Jika intake-nya saja sudah berkualitas, sebenarnya kepala sekolah dan pendidik tidak terlalu perlu bekerja keras, apalagi sistem pengelalaan persekolahan sudah mapan. Pada kondisi ini justru tim penjaminan mutu, Kepala Sekolah, dan pengawas yang perlu disiplin dalam memonitor implementasi program dengan instrumen Pedoman Operasional Baku (POB). Tapi jika tidak ada disiplin, boleh jadi terjadi kerugian yang tidak perlu karena anak didik tidak berkembang optimal.

    Sebaliknya institusi pendidikan yang mendapatkan intake berkualitas rendah (rubbish input) tidak seharusnya berdiam diri dan menyerah, karena dalam kondisi ini ada peluang besar institusi pendidikan merevitalisasikan semua sumber daya, terutama kinerja guru dan konselor serta academic leadership kepala sekolah untuk mengeksplorasi potensi anak didik dengan melakukan assessmen semua potensi dengan cara sederhana. Yang penting diketahui bakat dan potensi anak untuk difasilitasi dan dibimbing belajar dan aktivitas lainnya yang diperlukan. Bahkan yang paling utama adalah mendidik anak menjadi pribadi yang berakhkaq mulia. Menjadikan anak didik dengan prioritas menjadi pribadi baik, dengan kecapakan akademik dan non akademik lainnya sesuai dengan potensi. Insya Allah anak yang semula sebagai nobody menjadi somebody. Untuk mewujudkan cita-cita yang mulia ini, perlu kebersamaan antara keluarga, sekolah, masyarakat, institusi keagamaan dan media massa.


    Yogyakarta, 21 Januari 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Refleksi Semangat Juang Dan Cita-Cita Berdikari Soekarno Di Era Modernisasi

    Aqbal Haikal.
    PEWARTAnews.com -- Berbicara Sejarah dalam gejolak perebutan kemerdekaan Indonesia merupakan hal yang sangat menarik untuk dikaji secara bersama, hal ini tidak terlepas dari peran beberapa tokoh Nasional seperti Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka dan yang lainnya. Sudah tentu jasa  berberapa tokoh Nasional dan pergerakan Republik ini tidak asing lagi untuk kita dengar baik itu dalam dunia nasional maupun internasional. Semasa kecil Soekarno lebih akrab dipanggil dengan panggilan kusno oleh keluarga dan kerabat terdekatnya. Soekarno terlahir di Blitar 6 Juni 1901, Surabaya dari pasangan Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai yang merupakan keturunan bangsawan Bali.

    Soekarno Sang Revolusioner Indonesia
    Presiden Soekarno dalam bingkai sejarah  perebutan dan pergerakkan kemerdekaan Indonesia, beliau merupakan salah satu tokoh dari sekian banyak tokoh perjuangan yang sangat disegani dunia Internasional. Karena konsep kenegaraan dan ciri khas pidatonya yang menggelora dalam membangkitkan gairah semangat juang rakyat Indonesia  dan Asia. Soekarno yang lebih kerap disapa Bung Karno ini, merupakan Proklamator Kemerdekaan Indonesia berkat kegigihan perjuangan ia lah Indonesia dapat terbebas dari belenggu kolonialisme.

    Sejak muda Soekarno yang lebih terkenal dengan panggilan Bung Karno ini sudah memandang dunia politik, sebagai sebuah dunia dimana ia bisa menyalurkan bakat berpidato dan politiknya. Karir politik pertama soekarno diawali dengan ikut mendirikan Algemene Studie Club di Bandung pada tahun 1926, yakni sebuah klub diskusi yang nanti cikal bakalnya berubah menjadi gerakan politik radikal penentang kolonialisme. Terbukti karir politiknya ini mampu menghantarkan ia kepada pintu kesuksesan dan mendirikan Perserikatan Nasionala Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Partai Nasional Indonesia. Kemudian karena aktivitas Politiknya yang berbahaya ini lah yang membuat ia harus ditahan oleh pihak belanda pada tahun 1929. Setahun kemudian PNI dibubarkan secara paksa oleh pihak belanda, setelah bebas dari penjara pada tahun 1931 Bung Karno kemudian bergabung dengan Partindo dan menjadikan ia sebagai pemimpinnya.  Berkat Kegigihan ia dalam berjuang dan vokal menentang kolonialisme akhirnya pada tahun 1933 ia kembali ditangkap dan diasingkan ke Ende Flores, setelah empat tahun lamanya diasingkan Bung Karno harus rela menahan sakit ia kembali dipindahkan ke bengkulu oleh pihak Belanda. Pada akhirnya setelah melalui pergantian rezim penjajahan dari Belanda ke Jepang dan melalui perjuangan yang cukup panjang, ditambah dengan menyerahnya jepang kepada sekutu membuka peluang lebar bagi rakyat Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaannya.

    Bung Karno yang didampingi Bung Hatta beserta tokoh nasional lain akhirnya membentuk BPUPKI dan PPKI yang mana kedua badan ini lah yang menjadi jembatan emas untuk  memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 agustus 1945. Setelah berhasil memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno kembali merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) negara. Sehingga pasca kemerdekaan ia berupaya mempersatukan nusantara, dan menghimpun bangsa-bangsa dikawasan Asia dan Afrika dalam wadah yang kita kenal dengan Konferensi Asia-Afrika, yang kemudian konferensi itu berkembang menjadi Gerakan Non Blok. Dalam banyak literatur yang ada Bung Karno lebih kerap dianggap sebagai tokoh yang sangat kontroversial dan pemberani, melalui berbagai pernyataannya yang sering menimbulkan pro dan kontra seperti kritikan ia terhadap bangsa kolonial Amerika dan Inggris "Amerika kita setrika, Inggris kita linggis". Walau semasa kepemimpinannya terjadi banyak pemberontakan diberbagai daerah dan bermacam tuduhan yang disangkalkan, namun demikian harus diakui bahwa pengorbanan dan jasa-jasanya sangat besar bagi bangsa Indonesia dan Internasional. Berbagai macam statemen serta gagasannya, mampu membakar semangat serta mempersatukan segenap bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah dari tanah air hingga keberhasilannya meraih kemerdekaan. Selain disegani dan ditakuti dunia Internasional Soekarno juga merupakan sosok yang sangat kharismatik terbukti banyak wanita yang jatuh hati kepadanya.

    Gagasan Dan Cita-Cita Bung Karno Untuk Indonesia
    Nubuat Bung Karno dimasa depan sudah jelas sangat berpengaruh bagi semangat juang masyarakat Indonesia, terbukti apa yang ia sampaikan melalui pidatonya bukan hanya menjadi pembakar semangat masyarakat Indonesia untuk mengusir penjajah saja. Namun memberikan inspirasi bagi para kaum muda dan masyarakat dihari ini untuk berhati-hati pada segala sistem pemerintahan negara yang sedang sakit, satu dari sekian banyak gagasan dan kepemimpinannya yang inspiratif Bung Karno untuk bangsa ini ialah berdikari. Melalui gagasanya inilah sebagai masyarakat Indonesia perlu sekali untuk kita meneruskan cita-citanya menjadikan Bangsa ini sebagai Bangsa yang berdaulat, hidup mandiri, tidak berutang, apalagi sampai mengemis kepada negara atau lembaga asing. Berdikari yang seperti apa dimaksudkan diatas, bukan berarti kita sebagai Bangsa Indonesia hendak memutuskan hubungan dan menolak menjalin kerja sama dengan negara lain. Terkait dengan makna dan tujuan gagasan berdikari ini, sudah jelas ditegaskan oleh Bung Karno dalam pidatonya yang terkenal dengan ''Nawaksara''.

    Perlu untuk kita pahami sebagai masyarakat Bahwa untuk membangun negara demokratis, maka suatu sistem ekonomi yang merdeka sudah saatnya ditegakkan tanpa ekonomi yang merdeka tidak mungkin suatu bangsa dapat mencapai, kemerdekaan, mendirikan negara, bahkan sekadar bertahan hidup. Dalam ranah kesejahteraan hanya negara yang mampu menjamin keadilan sosial masyarakat yang hidup didalamnya, meskipun prinsip-prinsip ekonomi pasar harus diberlakukan tanpa perlu mengedepankan system ekonomi yang begantung pada bantuan dan modal pihak asing, kesejahteraan bersama tetaplah menjadi unsur yang sangat penting dalam tujuan bernegara. Itulah hal penting yang membedakan bangsa Indonesia dengan negara penganut ekonomi pasar murni dimana kesejahteraannya bersama sekadar menjadi efek atau dampak, bukan tujuan.

    Penting sekali dan sudah seharusnya Pemerintahan Indonesia hari ini meneruskan apa yang menjadi cita-cita berdikari, berdikirari yang kita harapkan bukanlah suatu sikap xenophobia (menutup diri) terhadap sesuatu yang berbau kapitalis. Namun berdikari yang merupakan kelanjutan dari sikap sovereign, yakni memegang teguh kepada asas kedaulatan bangsa dan negara serta menolak ketergantungan. Tetapi senantiasa menghormati interdependensi atau mutuality (kebersamaan), oleh karena itu nilai-nilai yang berorientasi pada kekuatan rakyat sangat penting untuk di kembangkan melalui potensi yang ada dalam negeri baik itu sumberdaya manusia dan alamnya dengan tidak selalu mengandalkan potensi luar negeri. Sehingga landasan pembangunan nasional yang kita impikan selama ini dapat terwujud dengan baik, Contohnya dengan memberlakukan penegakan dan mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat yang berlandaskan pada asas kesejahteraan sosial. Jika melihat bangsa besar seperti indonesia yang mana memiliki keberagaman budaya dan kekayaan alam sangatlah tidak masuk akal apabila ide berdikari tidak dapat di wujudkan, apabila para pemangku negara ini berhenti mengedepankan dan mempertontonkan segala bentuk kepentingan pribadi dan politik yang tidak etis.

    Walaupun konsep berdikari memang belum mampu membawa keberhasilan bagi rakyat dan negara ini, setidaknya berhasil memberikan solusi atas masalah ekonomi,politik yang dihadapi bangsa saat ini dan menjadikan kebanggaan tersendiri pada eksistensi bangsa Indonesia. Karena hal itu jauh lebih baik daripada berdiri diatas utang luar negeri yang terbukti menghadirkan ketergantungan dan ketidakberdayaan dalam jeratan neokolonialisme. Demikianlah tulisan saya yang penuh dengan kekurangan semoga dapat menginspirasi para penguasa direpublik ini, dan semoga dapat menggelorakan semangat revolusi untuk berdiri diatas kaki sendiri bangsanya.

    Bung Karno ‘’memberikan kesanggupan untuk berdikari adalah mutlak diperlakukan bagi setiap bangsa, disudut dunia mana pun dan di bawah kolong langit mana pun‘’.


    Penulis: Aqbal Haikal
    Mahasiswa Filsafat Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Cyber University

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    PEWARTAnews.com -- Kehidupan kita dewasa ini dalam berbangsa dan bernegara, bahkan dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dilepaskan dari dunia digital. Termasuk dunia pendidikan, terlebih dunia pendidikan tinggi. Karena itu kehadiran Cyber University menjadi kebutuhan. Tentu yang diharapkan bahwa kehadiran Cyber University bukan semata-mata aspek kuantitatif, untuk peningkatan APK dalam mengejar Malaysia dan Thailand, melainkan juga aspek kualitatif, yaitu untuk peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan, sehingga mampu meningkatkan SDM kita yang mampu menaikkan Global Competitiveness Index (GDI) Indonesia.

    Cyber University memungkinkan untuk bisa melayani seluruh proses pendidikan mahasiswa berbasis IT. Ada sejumlah keuntungan dan keterbatasan Cyber University bagi mahasiswa. Adapun keuntungannya di antaranya : mahasiswa dapat belajar sesuai dengan waktunya, mahasiswa dapat memilih materi yang disukai, mahasiswa dapat mengerjakan pekerjaan rumahnya lebih cepat, mahasiswa dapat kelebihan waktu yang bisa dipakai untuk pengembangan hobi yang bermanfaat untuk melamar pekerjaan yang disukai, mahasiswa bisa memperoleh kredit untuk transfer lintas universitas, tumbuhnya rasa tanggung jawab dan disiplin diri mahasiswa. Sebaliknya keterbatasannya, di antaranya : tidak memungkinkan mahasiswa bisa interaksi dengan orang lain, tidak bisa melibatkan ratusan mahasiswa untuk aktif berdiskusi, tidak dapat memberi cukup mahasiswa untuk interaksi langsung secara personal dengan dosen., terbatasnya kesempatan dosen untuk transfer nilai-nilai moral. Keuntungan Cyber University bisa diraih sepanjang ada disiplin dan taat pada SOP-nya.

    Cyber University hakekatnya tidak otomatis berjalan lancar dan memberikan keuntungan optimal, bahkan boleh jadi proses pendidikan tidak lancar dan hasilnya timbulkan dampak yang tidak diinginkan. Banyak persoalan yang muncul di balik Cyber University, bahwa hampir setiap hari muncul cyber attacks, yang tidak hanya mengena data akademik tapi juga data non-akademik. Padahal semua data itu harus diproteksi, tanpa terkecuali. Terlebih-lebih persoalan akademik harus dilindungi secara total. Walaupun dengan era global dan digital, universitas harus menjaga keterbukaanndan transparansi. Hal ini dapat dilakukan dengan toleransi tertentu, sehingga tidak sampai merugikan universitas.

    Cyber University akan menjadi alternatif solusi untuk meningkatkan akses, mutu dan relevansi pendidikan, jika keamanan data akademik dan nonakademik dapat diproteksi dari berbagai cyberattack yang mengancam sepanjang waktu. Untuk mengamankan itu perlu dilakukan training kepada dosen dan tenaga kependidikan tentang sistem Cyber University dan jaminan infrastruktur yang mampu menunjang kecukupan dan kelayakan aset. Di samping itu perlunya kebijakan penerapan e-learning yang tidak hanya mengcover transfer pengetahuan melainkan juga transfer nilai, sehingga blended learning plus menjadi pilihan.

    Akhirnya kehadiran Cyber University diharapkan mampu menjadi solusi sebagai universitas moderen yang mengoptimalkan jasa IT untuk memenuhi sistem pendidikan univetsitas.Namun keterbukaan yang menjadi fitrah Cyber University  harus dilindungi dari cyberattack yang terjadi kapanpun dan dari arah manapun.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Ncera (Part 2)

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Ncera telah menyusui anak-anakmu sehingga mereka tumbuh dengan penuh kasih sayang. 'Ncera' telah menumbuhkan pohon-pohon dan air yang mengalir dengan tabah untuk keperluanmu sehari-hari, tanah yang subur itu telah dijaga dengan teliti oleh nya, sehingga kelak anak cucumu tidak khawatir lagi akan lahan yang semakin berkurang dan terkerus. Sucinya air susu ibumu menjadi tanda akan penuhnya cinta 'Ncera' kepadamu, kerasnya urat dan otot bapakmu adalah bukti bahwa 'Ncera' begitu gigih untuk menafkahimu.

    Ncera merupakan sekolah, sebuah universitas kehidupan yang mengajarimu tentang pentingnya menjadi seorang 'Ncera' bagi dirimu sendiri dan sosialmu. Pentingnya memahami orang lain daripada dipahami oleh orang lain, melayani manusia seutuhnya tampa berharap dilayani. Ekosistem manusia yang menggantung hidup di Ncera, semestinya harus selaras dengan keinginan Ncera. Hati, pemikiran dan sistem geraknya harus berdasar pada 'Ncera' lalu berujung pada pengabdian terjadapnya (Ncera).

    Ncera telah melayani anak cucu mu, kasih sayangnya begitu dalam kepada mereka. Dibiarkannya udara yang segar itu terhirup dengan ikhlas sampai ke sumsum mereka, nasi yang tumbuh dipunggungnya telah menjadi energi penggerak dalam setiap aktifitas mereka. Air yang mengalir sampai ke kelenjarmu, kehangatan cahaya di tanahnya, telah menyelimuti anak-anakmu dari kedinginan dan kegelapan, Ncera yang menyinarimu! Bukan matahari.

    Begitu berharganya anak-anakmu di mata nya, dimuliakanlah mereka melebihi dirinya sendiri. Kepalanya rela engkau tindas, asalkan anak-anakmu diajarkan bagaimana bersikap seperti ibunya 'Ncera'. Ncera adalah tanah yang kau injak, 'Ncera' juga ibu yang menafkahimu. Maka ajarkalah anak-anakmu bersikap seperti ibunya 'Ncera', tabah dan selalu melayani tampa berharap dilayani. Ajarkanlah mereka bagaimana tata cara berbahasa dengan manusia, alam, dan semesta. Ajarkan juga mereka bagaimana berbahasa dengan Ncera sebagai ibunya sendiri.

    Jangan biarkan mereka tumbuh dengan bahasa kebencian dan cacian, tidak percaya diri dan menindas sesama mereka. Ajarkan mereka tentang mencintai manusia, membahasakan manusia dalam keseharian mereka, bukan mengganti posisi manusia sebagai makhluk yang lain dalam kehidupan mereka. Ajarkan mereka etika bercocok tanam dengan tanah Ncera,etika menebang pohon untuk keperluan mereka, serta etika-etika komunikasi lainnya. Semuanya harus tetap selaras dan teratur, seimbang supaya terwujud keseimbangan.

    Ajarkan mereka membaca dan menulis teks, ajarkan juga mereka membaca dan menulis manusia. Ajarkan mereka membaca dan menulis alamnya, ajarkan juga mereka membaca dan menulis Tuhan-Nya. Jangan biarkan mereka berisik dan merasa bising dalam hatinya, ikhlaskan anak-anakmu diajari oleh alammu sendiri. Jangan takut mereka kotor dan terkena terik matahari. Ajarkan anak-anakmu bagaimana pentingnya sejengkal tanah dan martabat dari pada sebongkah intan dan jamrud.

    'Ncera adalah ibu mu sebelum aku nak, maka sayangilah dia seperti engkau menyayangiku. Ncera adalah ayahmu sebelum aku nak, makanya hargailah dia seperti engkau menghargaiku'. Ayah dan ibumu adalah 'Ncera'.


    Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:
    >> Ncera Part 1
    >> Ncera Part 2
    >> Ncera Part 3
    >> Ncera Part 4

    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Dosen Millenial

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    PEWARTAnews.com -- Dosen Millenial hakekatnya merupakan generasi babyboomers dan generasi X yang sedang dihadapkan mengajar mahasiswa millenial. Mahasiswa millenial dikenal juga sebagai gadget fanatics, social networkers, internet anthusiasts, optimists, multitakers, dan inductive learners. Mereka akan berkembang optimal, jika dapat bimbingan dan didikan dari dosen millenial yang lebih memahami apa yang dibutuhkan dalam kehidupan mahasiswa millenial.

    Memang terjadi perbedaan yang cukup signifikan antara mahasiswa millenial dan mahasiswa generasi sebelumnya, karena mahasiswa millenilal menjadikan ruang kelas universitas sebagai preferensi untuk kolaborasi, koneksi, dan agen perubahan. Mereka tidak lagi membutuhkan bangunan kelas konvensional yang biasa digunakan dengan satu metode pembelajaran saja, melainkan mereka memerlukan tempat untuk bisa melakukan pembelajaran dengan multi metode yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa millenial yang beragam dengan bertumpu pada teknologi, terutama ponsel, komputer dan internet. Dengan begitu sangat diperlukan lingkungan belajar yang kompatibel.

    Layanan pembelajaran mahasiswa millenial, tidak lagi dibatasi dengan keberadaan yang 2 atau 3 jam saja untuk mata kuliah tertentu, melainkan dosen siap melayani 24/7 tiada henti dengan menyiapkan paket pembelajaran dan siap berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung melalui online. Kegiatan praktek lab tidak harus dilakukan di lab yang waktu dan tempatnya terbatas, melainkan juga bisa melalui internet, yang disiapkan paket dan program untuk melakukan berbagai simulasi.

    Untuk dapat menjadi mahasiswa millenial sebagai problem solver yang aktif, vokal dan bertanggung jawab dan pemimpin masa depan, dosen millenial di perguruan tinggi perlu menerapkan prinsip-prinsip mengajar yang efektif di antaranya (1) menfasilitasi adanya kerjasama antar mahasiswa, (2) menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi diversitas dan interaksi lintas budaya (3) memelihara dan menjaga kreasi pengetahuan, dan (4) meningkatkan ikatan yang aktif di dalam dan luar kelas. Memang tidak mudah tugas dan kewajiban dosen millenial. Jika dosen millenial tidak mampu melakukan adaptasi sistem pembelajarannya, maka secara perlahan-lahan akan ditinggalkan oleh mahasiswa dan pada saatnya bisa diistirahatksn oleh institusi.

    Terlepas dari perubahan era, dosen millenial tetap memiliki beberapa tanggung jawab, yaitu (1) mengendalikan pembelajaran sesuai perkembangan jaman (akademik), (2) menghadiri dan berpartisipasi pertemuan departmen serta menjaga reputasinya (institusi), (3) melayani bimbingan akademik dan kegiatan mahasiswa millenial lainnya yang relevant ( penasehat akademik), (4) berparsipasi dalam scholarly activity, pengembangan profesi melalui organisasi profesi (profesional), dan (5) berpartisipasi dalam layanan masyarakat, baik sesuai bidang keahlian maupun bersifat umum (servis untuk masyarakat).

    Akhirnya diharapkan sekali dosen millenial mampu memberikan layanan pendidikan lebih fleksibel, menjadi filter nilai dan budaya, mendorong mahasiswa untuk menjafi problem solver, memberikan teladan dan menfasilitasi terciptanya karya inovatif, mengkondisikan mahasiswa menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan membantu mahasiswa untuk mengembangkan networking.


    Yogyakarta, 28 Januari 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Ncera (Part 1)

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Ncera itu asyik sebagai sastra, Dan indah sebagai kenyataan. Ncera merupakan salah satu desa yang berada di kabupaten Bima (NTB). Setiap orang yang pernah lahir dan hidup di Ncera mencintai desa tersebut, meskipun bentuk Cinta mereka berbeda- beda. Ada yang harus menggali penggunungan sebagai tanda cintanya, ada juga yang mengelupas tanah dan bebatuan. Ada yang berdiam diri dirumah, ada juga yang sibuk meminta kepada Tuhan, ada yang sibuk mencari kerja, ada juga yang tekun dan telaten mengambil hak orang lain. Mereka mencintai Ncera, ketika orang lain bertanya kepada mereka. "engkau asli mana?" dengan sangat tegas dan lantang mereka menjawab, saya asli Ncera. Ketika ditanya dalam keadaan bermasalahpun, tetap mereka menyatakan "Ncera" sebagai desanya. mereka mencintai Ncera bahkan lebih dari tingkat keilmuan yang kita miliki.

    Seorang ayah yang selalu mengupayakan untuk menafkahi anak-anaknya merupakan tanda mereka mencintai Ncera, seorang ibu yang selalu memasak nasi dan membibit ketabahan untuk keluarganya sebagai tanda cintanya kepada Ncera, seorang anak yang selalu berbakti pada orang tua nya adalah tanda bakti mereka kepada Ncera, gadis-gadis desa yang tidak takut pada tanah dan teriknya matahari sebagai tanda cinta mereka kepada Ncera, anak-anak kecil yang dibiarkan tumbuh tampa tekanan adalah anak-anak yang di lahirkan oleh Ncera. Semua orang dan setiap mereka dalam keadaan sadar atau tidak, berbelok atau lurus, semua itu merupakan bukti bahwa mereka mencintai Ncera.

    Air yang kita minum dalam kehausan adalah tanda bahwa kita mencintai Ncera, udara yang kita hirup dalam hitungan detik sebagai tanda kita mencintai Ncera, tanah yang kita injak dan sebagai tempat mencari nafkah menjadi bukti kita mencintai Ncera, Api yang kita bakar dirumah dan dimana-mana itu cukup membuat kita teruji sebagai orang Ncera. Rindu-rindu yang terselubung di balik sajadah adalah bukti kecintaan mereka terhadap Ncera, gitar yang dipetik dengan kesunyian menjadi tanda mereka mencintai Ncera. Ncera menyajikan segalanya dan segalanya tersaji di Ncera.

    Ibu-ibu yang memilih hidup sampai tua di desa tersebut merupakan bentuk dari cinta mereka kepada Ncera, bapak-bapak yang memilih menghabiskan masa tuanya di desa Ncera merupakan bukti bahwa mereka mencintai Ncera, pemuda dan pemudi yang mengembara untuk mencari ilmu menjadi bukti mereka mencintai Ncera, pohon yang tidak ditebang dan dibiarkan tumbuh merupakan tanda mereka mencintai Ncera, Perbedaan-berbedaan yang menyatukan dan membawa pada kebaikan bersama menjadi simbol bahwa mereka mencintai Ncera. Semua mencintai Ncera, tidak hanya manusia.Tetapi alam, semesta juga Tuhan mencintai Ncera.

    Para jejaka yang setia melayani manusia, alam dan semesta di Ncera adalah bukti mereka mencintai Ncera, para pendo'a yang dalam setiap bait doa nya terselip kata "Ncera" menjadi bukti ketulusan mereka terhadap Ncera, seorang laki-laki dan perempuan yang setia kepada pasangannya masing-masing merupakan bukti kecintaan mereka kepada Ncera, birokrasi yang tidak korup dan jujur merupaka tanda cinta mereka kepada Ncera. perpecahan-perpecahan yang teroganisir maupun tidak merupakan bentuk lain dari Cinta mereka kepada Ncera.

    Tidak hanya manusia yang mencintai Ncera, Alam yang memberimu segalanya juga mencintai Ncera, Tuhan yang menuntut nurani mu agar tetap menjadi manusia juga mencintai Ncera. Bagaimana cara kerja cinta mereka. Ketika engkau tebang sebatang pohon tampa belas kasihan, maka engkau akan melihat indahnya banjir yang menghampiri rumah mu. Banjir itu bukan sebagai balasan, Tetapi banjir merupakan bentuk lain dari Cinta alam kepada orang yang hidup di Ncera dan desa Ncera. "Cinta" ingin mensucikanmu dari belenggu nafsu kehidupan, "Cinta" tidak mau sesuatu yang di cintainya hidup dengan keserakahan.

    Jika dalam suatu waktu engkau pernah mengambil hak orang lain, maka dalam waktu yang lain sesuatu yang kamu miliki akan terlepas dari genggamanmu, apapun bentuknya itu. Namun sesuatu yang terjadi itu bukan sebagai balasan, akan tetapi itu lebih pada cara semesta untuk tetap menyayangimu, Dia tidak ingin engkau kembali kepada-Nya bukan dengan Cinta, yang Dia inginkan saat kita kembali kepada 'Cinta' hanyalah membawa Cinta. ketika manusia tidak memahami itu, ataupun sampai menolaknya, maka berlakulah hukum menyucikan segala sesuatu dengan bentuk balasan yang kita maknai dalam kehidupan kita. Ncera menumbuhkan segalanya dan segalanya tumbuh di Ncera.

    Sungai yang tidak engkau kerus pasir dan batunya adalah tanda mereka mencintai Ncera, sungai yang engkau ambil batu dan tanahnya, juga menjadi tanda mereka mencintai Ncera. Gubuk-gubuk yang berdiri tegak di persawahan dan ladang adalah bukti mereka mencintai Ncera. Semut, cacing, ular yang di sayangi merupakan bentuk cinta mereka kepada Ncera. Hujan yang dengan tabah menyirami tanahmu adalah bentuk cintanya kepada Ncera. Oleh karena itu biarkan dia turun, jangan dihujat ataupun jangan dibenci. Semua yang menumpang hidup di tanah Ncera harus berterima kasih kepada Ncera, karena Ncera telah memberimu segalanya dan sudah seharusnya segalanya memberi untuk Ncera.

    Percayalah, apapun yang terjadi di di desa Ncera, baik dan buruk, benar maupun salah. Semuanya datang dari Cinta, terjadi karena cinta, dan akan kembali kepada Cinta.

    Bersambung.


    Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:
    >> Ncera Part 1
    >> Ncera Part 2
    >> Ncera Part 3
    >> Ncera Part 4

    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website