Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Sampah Menjadi Berkah

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Pada umumnya institusi pendidikan menghendaki bahwa setiap intake pendidikan mencari yang terbaik, sehingga dalam mengelola pendidikan dan pembelajarannya menjadi mudah, dan berakhir dengan hasil yang gemilang. Padahal institusi pendidikan itu lebih recognized jika intake-nya berkualitas “sampah” dan lulusannya menjadi berkah karena banyak peroleh anugerah.

    Jika intake-nya saja sudah berkualitas, sebenarnya kepala sekolah dan pendidik tidak terlalu perlu bekerja keras, apalagi sistem pengelalaan persekolahan sudah mapan. Pada kondisi ini justru tim penjaminan mutu, Kepala Sekolah, dan pengawas yang perlu disiplin dalam memonitor implementasi program dengan instrumen Pedoman Operasional Baku (POB). Tapi jika tidak ada disiplin, boleh jadi terjadi kerugian yang tidak perlu karena anak didik tidak berkembang optimal.

    Sebaliknya institusi pendidikan yang mendapatkan intake berkualitas rendah (rubbish input) tidak seharusnya berdiam diri dan menyerah, karena dalam kondisi ini ada peluang besar institusi pendidikan merevitalisasikan semua sumber daya, terutama kinerja guru dan konselor serta academic leadership kepala sekolah untuk mengeksplorasi potensi anak didik dengan melakukan assessmen semua potensi dengan cara sederhana. Yang penting diketahui bakat dan potensi anak untuk difasilitasi dan dibimbing belajar dan aktivitas lainnya yang diperlukan. Bahkan yang paling utama adalah mendidik anak menjadi pribadi yang berakhkaq mulia. Menjadikan anak didik dengan prioritas menjadi pribadi baik, dengan kecapakan akademik dan non akademik lainnya sesuai dengan potensi. Insya Allah anak yang semula sebagai nobody menjadi somebody. Untuk mewujudkan cita-cita yang mulia ini, perlu kebersamaan antara keluarga, sekolah, masyarakat, institusi keagamaan dan media massa.


    Yogyakarta, 21 Januari 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Refleksi Semangat Juang Dan Cita-Cita Berdikari Soekarno Di Era Modernisasi

    Aqbal Haikal.
    PEWARTAnews.com -- Berbicara Sejarah dalam gejolak perebutan kemerdekaan Indonesia merupakan hal yang sangat menarik untuk dikaji secara bersama, hal ini tidak terlepas dari peran beberapa tokoh Nasional seperti Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka dan yang lainnya. Sudah tentu jasa  berberapa tokoh Nasional dan pergerakan Republik ini tidak asing lagi untuk kita dengar baik itu dalam dunia nasional maupun internasional. Semasa kecil Soekarno lebih akrab dipanggil dengan panggilan kusno oleh keluarga dan kerabat terdekatnya. Soekarno terlahir di Blitar 6 Juni 1901, Surabaya dari pasangan Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai yang merupakan keturunan bangsawan Bali.

    Soekarno Sang Revolusioner Indonesia
    Presiden Soekarno dalam bingkai sejarah  perebutan dan pergerakkan kemerdekaan Indonesia, beliau merupakan salah satu tokoh dari sekian banyak tokoh perjuangan yang sangat disegani dunia Internasional. Karena konsep kenegaraan dan ciri khas pidatonya yang menggelora dalam membangkitkan gairah semangat juang rakyat Indonesia  dan Asia. Soekarno yang lebih kerap disapa Bung Karno ini, merupakan Proklamator Kemerdekaan Indonesia berkat kegigihan perjuangan ia lah Indonesia dapat terbebas dari belenggu kolonialisme.

    Sejak muda Soekarno yang lebih terkenal dengan panggilan Bung Karno ini sudah memandang dunia politik, sebagai sebuah dunia dimana ia bisa menyalurkan bakat berpidato dan politiknya. Karir politik pertama soekarno diawali dengan ikut mendirikan Algemene Studie Club di Bandung pada tahun 1926, yakni sebuah klub diskusi yang nanti cikal bakalnya berubah menjadi gerakan politik radikal penentang kolonialisme. Terbukti karir politiknya ini mampu menghantarkan ia kepada pintu kesuksesan dan mendirikan Perserikatan Nasionala Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Partai Nasional Indonesia. Kemudian karena aktivitas Politiknya yang berbahaya ini lah yang membuat ia harus ditahan oleh pihak belanda pada tahun 1929. Setahun kemudian PNI dibubarkan secara paksa oleh pihak belanda, setelah bebas dari penjara pada tahun 1931 Bung Karno kemudian bergabung dengan Partindo dan menjadikan ia sebagai pemimpinnya.  Berkat Kegigihan ia dalam berjuang dan vokal menentang kolonialisme akhirnya pada tahun 1933 ia kembali ditangkap dan diasingkan ke Ende Flores, setelah empat tahun lamanya diasingkan Bung Karno harus rela menahan sakit ia kembali dipindahkan ke bengkulu oleh pihak Belanda. Pada akhirnya setelah melalui pergantian rezim penjajahan dari Belanda ke Jepang dan melalui perjuangan yang cukup panjang, ditambah dengan menyerahnya jepang kepada sekutu membuka peluang lebar bagi rakyat Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaannya.

    Bung Karno yang didampingi Bung Hatta beserta tokoh nasional lain akhirnya membentuk BPUPKI dan PPKI yang mana kedua badan ini lah yang menjadi jembatan emas untuk  memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 agustus 1945. Setelah berhasil memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno kembali merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) negara. Sehingga pasca kemerdekaan ia berupaya mempersatukan nusantara, dan menghimpun bangsa-bangsa dikawasan Asia dan Afrika dalam wadah yang kita kenal dengan Konferensi Asia-Afrika, yang kemudian konferensi itu berkembang menjadi Gerakan Non Blok. Dalam banyak literatur yang ada Bung Karno lebih kerap dianggap sebagai tokoh yang sangat kontroversial dan pemberani, melalui berbagai pernyataannya yang sering menimbulkan pro dan kontra seperti kritikan ia terhadap bangsa kolonial Amerika dan Inggris "Amerika kita setrika, Inggris kita linggis". Walau semasa kepemimpinannya terjadi banyak pemberontakan diberbagai daerah dan bermacam tuduhan yang disangkalkan, namun demikian harus diakui bahwa pengorbanan dan jasa-jasanya sangat besar bagi bangsa Indonesia dan Internasional. Berbagai macam statemen serta gagasannya, mampu membakar semangat serta mempersatukan segenap bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah dari tanah air hingga keberhasilannya meraih kemerdekaan. Selain disegani dan ditakuti dunia Internasional Soekarno juga merupakan sosok yang sangat kharismatik terbukti banyak wanita yang jatuh hati kepadanya.

    Gagasan Dan Cita-Cita Bung Karno Untuk Indonesia
    Nubuat Bung Karno dimasa depan sudah jelas sangat berpengaruh bagi semangat juang masyarakat Indonesia, terbukti apa yang ia sampaikan melalui pidatonya bukan hanya menjadi pembakar semangat masyarakat Indonesia untuk mengusir penjajah saja. Namun memberikan inspirasi bagi para kaum muda dan masyarakat dihari ini untuk berhati-hati pada segala sistem pemerintahan negara yang sedang sakit, satu dari sekian banyak gagasan dan kepemimpinannya yang inspiratif Bung Karno untuk bangsa ini ialah berdikari. Melalui gagasanya inilah sebagai masyarakat Indonesia perlu sekali untuk kita meneruskan cita-citanya menjadikan Bangsa ini sebagai Bangsa yang berdaulat, hidup mandiri, tidak berutang, apalagi sampai mengemis kepada negara atau lembaga asing. Berdikari yang seperti apa dimaksudkan diatas, bukan berarti kita sebagai Bangsa Indonesia hendak memutuskan hubungan dan menolak menjalin kerja sama dengan negara lain. Terkait dengan makna dan tujuan gagasan berdikari ini, sudah jelas ditegaskan oleh Bung Karno dalam pidatonya yang terkenal dengan ''Nawaksara''.

    Perlu untuk kita pahami sebagai masyarakat Bahwa untuk membangun negara demokratis, maka suatu sistem ekonomi yang merdeka sudah saatnya ditegakkan tanpa ekonomi yang merdeka tidak mungkin suatu bangsa dapat mencapai, kemerdekaan, mendirikan negara, bahkan sekadar bertahan hidup. Dalam ranah kesejahteraan hanya negara yang mampu menjamin keadilan sosial masyarakat yang hidup didalamnya, meskipun prinsip-prinsip ekonomi pasar harus diberlakukan tanpa perlu mengedepankan system ekonomi yang begantung pada bantuan dan modal pihak asing, kesejahteraan bersama tetaplah menjadi unsur yang sangat penting dalam tujuan bernegara. Itulah hal penting yang membedakan bangsa Indonesia dengan negara penganut ekonomi pasar murni dimana kesejahteraannya bersama sekadar menjadi efek atau dampak, bukan tujuan.

    Penting sekali dan sudah seharusnya Pemerintahan Indonesia hari ini meneruskan apa yang menjadi cita-cita berdikari, berdikirari yang kita harapkan bukanlah suatu sikap xenophobia (menutup diri) terhadap sesuatu yang berbau kapitalis. Namun berdikari yang merupakan kelanjutan dari sikap sovereign, yakni memegang teguh kepada asas kedaulatan bangsa dan negara serta menolak ketergantungan. Tetapi senantiasa menghormati interdependensi atau mutuality (kebersamaan), oleh karena itu nilai-nilai yang berorientasi pada kekuatan rakyat sangat penting untuk di kembangkan melalui potensi yang ada dalam negeri baik itu sumberdaya manusia dan alamnya dengan tidak selalu mengandalkan potensi luar negeri. Sehingga landasan pembangunan nasional yang kita impikan selama ini dapat terwujud dengan baik, Contohnya dengan memberlakukan penegakan dan mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat yang berlandaskan pada asas kesejahteraan sosial. Jika melihat bangsa besar seperti indonesia yang mana memiliki keberagaman budaya dan kekayaan alam sangatlah tidak masuk akal apabila ide berdikari tidak dapat di wujudkan, apabila para pemangku negara ini berhenti mengedepankan dan mempertontonkan segala bentuk kepentingan pribadi dan politik yang tidak etis.

    Walaupun konsep berdikari memang belum mampu membawa keberhasilan bagi rakyat dan negara ini, setidaknya berhasil memberikan solusi atas masalah ekonomi,politik yang dihadapi bangsa saat ini dan menjadikan kebanggaan tersendiri pada eksistensi bangsa Indonesia. Karena hal itu jauh lebih baik daripada berdiri diatas utang luar negeri yang terbukti menghadirkan ketergantungan dan ketidakberdayaan dalam jeratan neokolonialisme. Demikianlah tulisan saya yang penuh dengan kekurangan semoga dapat menginspirasi para penguasa direpublik ini, dan semoga dapat menggelorakan semangat revolusi untuk berdiri diatas kaki sendiri bangsanya.

    Bung Karno ‘’memberikan kesanggupan untuk berdikari adalah mutlak diperlakukan bagi setiap bangsa, disudut dunia mana pun dan di bawah kolong langit mana pun‘’.


    Penulis: Aqbal Haikal
    Mahasiswa Filsafat Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Cyber University

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    PEWARTAnews.com -- Kehidupan kita dewasa ini dalam berbangsa dan bernegara, bahkan dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dilepaskan dari dunia digital. Termasuk dunia pendidikan, terlebih dunia pendidikan tinggi. Karena itu kehadiran Cyber University menjadi kebutuhan. Tentu yang diharapkan bahwa kehadiran Cyber University bukan semata-mata aspek kuantitatif, untuk peningkatan APK dalam mengejar Malaysia dan Thailand, melainkan juga aspek kualitatif, yaitu untuk peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan, sehingga mampu meningkatkan SDM kita yang mampu menaikkan Global Competitiveness Index (GDI) Indonesia.

    Cyber University memungkinkan untuk bisa melayani seluruh proses pendidikan mahasiswa berbasis IT. Ada sejumlah keuntungan dan keterbatasan Cyber University bagi mahasiswa. Adapun keuntungannya di antaranya : mahasiswa dapat belajar sesuai dengan waktunya, mahasiswa dapat memilih materi yang disukai, mahasiswa dapat mengerjakan pekerjaan rumahnya lebih cepat, mahasiswa dapat kelebihan waktu yang bisa dipakai untuk pengembangan hobi yang bermanfaat untuk melamar pekerjaan yang disukai, mahasiswa bisa memperoleh kredit untuk transfer lintas universitas, tumbuhnya rasa tanggung jawab dan disiplin diri mahasiswa. Sebaliknya keterbatasannya, di antaranya : tidak memungkinkan mahasiswa bisa interaksi dengan orang lain, tidak bisa melibatkan ratusan mahasiswa untuk aktif berdiskusi, tidak dapat memberi cukup mahasiswa untuk interaksi langsung secara personal dengan dosen., terbatasnya kesempatan dosen untuk transfer nilai-nilai moral. Keuntungan Cyber University bisa diraih sepanjang ada disiplin dan taat pada SOP-nya.

    Cyber University hakekatnya tidak otomatis berjalan lancar dan memberikan keuntungan optimal, bahkan boleh jadi proses pendidikan tidak lancar dan hasilnya timbulkan dampak yang tidak diinginkan. Banyak persoalan yang muncul di balik Cyber University, bahwa hampir setiap hari muncul cyber attacks, yang tidak hanya mengena data akademik tapi juga data non-akademik. Padahal semua data itu harus diproteksi, tanpa terkecuali. Terlebih-lebih persoalan akademik harus dilindungi secara total. Walaupun dengan era global dan digital, universitas harus menjaga keterbukaanndan transparansi. Hal ini dapat dilakukan dengan toleransi tertentu, sehingga tidak sampai merugikan universitas.

    Cyber University akan menjadi alternatif solusi untuk meningkatkan akses, mutu dan relevansi pendidikan, jika keamanan data akademik dan nonakademik dapat diproteksi dari berbagai cyberattack yang mengancam sepanjang waktu. Untuk mengamankan itu perlu dilakukan training kepada dosen dan tenaga kependidikan tentang sistem Cyber University dan jaminan infrastruktur yang mampu menunjang kecukupan dan kelayakan aset. Di samping itu perlunya kebijakan penerapan e-learning yang tidak hanya mengcover transfer pengetahuan melainkan juga transfer nilai, sehingga blended learning plus menjadi pilihan.

    Akhirnya kehadiran Cyber University diharapkan mampu menjadi solusi sebagai universitas moderen yang mengoptimalkan jasa IT untuk memenuhi sistem pendidikan univetsitas.Namun keterbukaan yang menjadi fitrah Cyber University  harus dilindungi dari cyberattack yang terjadi kapanpun dan dari arah manapun.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Ncera (Part 2)

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Ncera telah menyusui anak-anakmu sehingga mereka tumbuh dengan penuh kasih sayang. 'Ncera' telah menumbuhkan pohon-pohon dan air yang mengalir dengan tabah untuk keperluanmu sehari-hari, tanah yang subur itu telah dijaga dengan teliti oleh nya, sehingga kelak anak cucumu tidak khawatir lagi akan lahan yang semakin berkurang dan terkerus. Sucinya air susu ibumu menjadi tanda akan penuhnya cinta 'Ncera' kepadamu, kerasnya urat dan otot bapakmu adalah bukti bahwa 'Ncera' begitu gigih untuk menafkahimu.

    Ncera merupakan sekolah, sebuah universitas kehidupan yang mengajarimu tentang pentingnya menjadi seorang 'Ncera' bagi dirimu sendiri dan sosialmu. Pentingnya memahami orang lain daripada dipahami oleh orang lain, melayani manusia seutuhnya tampa berharap dilayani. Ekosistem manusia yang menggantung hidup di Ncera, semestinya harus selaras dengan keinginan Ncera. Hati, pemikiran dan sistem geraknya harus berdasar pada 'Ncera' lalu berujung pada pengabdian terjadapnya (Ncera).

    Ncera telah melayani anak cucu mu, kasih sayangnya begitu dalam kepada mereka. Dibiarkannya udara yang segar itu terhirup dengan ikhlas sampai ke sumsum mereka, nasi yang tumbuh dipunggungnya telah menjadi energi penggerak dalam setiap aktifitas mereka. Air yang mengalir sampai ke kelenjarmu, kehangatan cahaya di tanahnya, telah menyelimuti anak-anakmu dari kedinginan dan kegelapan, Ncera yang menyinarimu! Bukan matahari.

    Begitu berharganya anak-anakmu di mata nya, dimuliakanlah mereka melebihi dirinya sendiri. Kepalanya rela engkau tindas, asalkan anak-anakmu diajarkan bagaimana bersikap seperti ibunya 'Ncera'. Ncera adalah tanah yang kau injak, 'Ncera' juga ibu yang menafkahimu. Maka ajarkalah anak-anakmu bersikap seperti ibunya 'Ncera', tabah dan selalu melayani tampa berharap dilayani. Ajarkanlah mereka bagaimana tata cara berbahasa dengan manusia, alam, dan semesta. Ajarkan juga mereka bagaimana berbahasa dengan Ncera sebagai ibunya sendiri.

    Jangan biarkan mereka tumbuh dengan bahasa kebencian dan cacian, tidak percaya diri dan menindas sesama mereka. Ajarkan mereka tentang mencintai manusia, membahasakan manusia dalam keseharian mereka, bukan mengganti posisi manusia sebagai makhluk yang lain dalam kehidupan mereka. Ajarkan mereka etika bercocok tanam dengan tanah Ncera,etika menebang pohon untuk keperluan mereka, serta etika-etika komunikasi lainnya. Semuanya harus tetap selaras dan teratur, seimbang supaya terwujud keseimbangan.

    Ajarkan mereka membaca dan menulis teks, ajarkan juga mereka membaca dan menulis manusia. Ajarkan mereka membaca dan menulis alamnya, ajarkan juga mereka membaca dan menulis Tuhan-Nya. Jangan biarkan mereka berisik dan merasa bising dalam hatinya, ikhlaskan anak-anakmu diajari oleh alammu sendiri. Jangan takut mereka kotor dan terkena terik matahari. Ajarkan anak-anakmu bagaimana pentingnya sejengkal tanah dan martabat dari pada sebongkah intan dan jamrud.

    'Ncera adalah ibu mu sebelum aku nak, maka sayangilah dia seperti engkau menyayangiku. Ncera adalah ayahmu sebelum aku nak, makanya hargailah dia seperti engkau menghargaiku'. Ayah dan ibumu adalah 'Ncera'.




    Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:

    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Dosen Millenial

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    PEWARTAnews.com -- Dosen Millenial hakekatnya merupakan generasi babyboomers dan generasi X yang sedang dihadapkan mengajar mahasiswa millenial. Mahasiswa millenial dikenal juga sebagai gadget fanatics, social networkers, internet anthusiasts, optimists, multitakers, dan inductive learners. Mereka akan berkembang optimal, jika dapat bimbingan dan didikan dari dosen millenial yang lebih memahami apa yang dibutuhkan dalam kehidupan mahasiswa millenial.

    Memang terjadi perbedaan yang cukup signifikan antara mahasiswa millenial dan mahasiswa generasi sebelumnya, karena mahasiswa millenilal menjadikan ruang kelas universitas sebagai preferensi untuk kolaborasi, koneksi, dan agen perubahan. Mereka tidak lagi membutuhkan bangunan kelas konvensional yang biasa digunakan dengan satu metode pembelajaran saja, melainkan mereka memerlukan tempat untuk bisa melakukan pembelajaran dengan multi metode yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa millenial yang beragam dengan bertumpu pada teknologi, terutama ponsel, komputer dan internet. Dengan begitu sangat diperlukan lingkungan belajar yang kompatibel.

    Layanan pembelajaran mahasiswa millenial, tidak lagi dibatasi dengan keberadaan yang 2 atau 3 jam saja untuk mata kuliah tertentu, melainkan dosen siap melayani 24/7 tiada henti dengan menyiapkan paket pembelajaran dan siap berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung melalui online. Kegiatan praktek lab tidak harus dilakukan di lab yang waktu dan tempatnya terbatas, melainkan juga bisa melalui internet, yang disiapkan paket dan program untuk melakukan berbagai simulasi.

    Untuk dapat menjadi mahasiswa millenial sebagai problem solver yang aktif, vokal dan bertanggung jawab dan pemimpin masa depan, dosen millenial di perguruan tinggi perlu menerapkan prinsip-prinsip mengajar yang efektif di antaranya (1) menfasilitasi adanya kerjasama antar mahasiswa, (2) menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi diversitas dan interaksi lintas budaya (3) memelihara dan menjaga kreasi pengetahuan, dan (4) meningkatkan ikatan yang aktif di dalam dan luar kelas. Memang tidak mudah tugas dan kewajiban dosen millenial. Jika dosen millenial tidak mampu melakukan adaptasi sistem pembelajarannya, maka secara perlahan-lahan akan ditinggalkan oleh mahasiswa dan pada saatnya bisa diistirahatksn oleh institusi.

    Terlepas dari perubahan era, dosen millenial tetap memiliki beberapa tanggung jawab, yaitu (1) mengendalikan pembelajaran sesuai perkembangan jaman (akademik), (2) menghadiri dan berpartisipasi pertemuan departmen serta menjaga reputasinya (institusi), (3) melayani bimbingan akademik dan kegiatan mahasiswa millenial lainnya yang relevant ( penasehat akademik), (4) berparsipasi dalam scholarly activity, pengembangan profesi melalui organisasi profesi (profesional), dan (5) berpartisipasi dalam layanan masyarakat, baik sesuai bidang keahlian maupun bersifat umum (servis untuk masyarakat).

    Akhirnya diharapkan sekali dosen millenial mampu memberikan layanan pendidikan lebih fleksibel, menjadi filter nilai dan budaya, mendorong mahasiswa untuk menjafi problem solver, memberikan teladan dan menfasilitasi terciptanya karya inovatif, mengkondisikan mahasiswa menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan membantu mahasiswa untuk mengembangkan networking.


    Yogyakarta, 28 Januari 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Ncera (Part 1)

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Ncera itu asyik sebagai sastra, Dan indah sebagai kenyataan. Ncera merupakan salah satu desa yang berada di kabupaten Bima (NTB). Setiap orang yang pernah lahir dan hidup di Ncera mencintai desa tersebut, meskipun bentuk Cinta mereka berbeda- beda. Ada yang harus menggali penggunungan sebagai tanda cintanya, ada juga yang mengelupas tanah dan bebatuan. Ada yang berdiam diri dirumah, ada juga yang sibuk meminta kepada Tuhan, ada yang sibuk mencari kerja, ada juga yang tekun dan telaten mengambil hak orang lain. Mereka mencintai Ncera, ketika orang lain bertanya kepada mereka. "engkau asli mana?" dengan sangat tegas dan lantang mereka menjawab, saya asli Ncera. Ketika ditanya dalam keadaan bermasalahpun, tetap mereka menyatakan "Ncera" sebagai desanya. mereka mencintai Ncera bahkan lebih dari tingkat keilmuan yang kita miliki.

    Seorang ayah yang selalu mengupayakan untuk menafkahi anak-anaknya merupakan tanda mereka mencintai Ncera, seorang ibu yang selalu memasak nasi dan membibit ketabahan untuk keluarganya sebagai tanda cintanya kepada Ncera, seorang anak yang selalu berbakti pada orang tua nya adalah tanda bakti mereka kepada Ncera, gadis-gadis desa yang tidak takut pada tanah dan teriknya matahari sebagai tanda cinta mereka kepada Ncera, anak-anak kecil yang dibiarkan tumbuh tampa tekanan adalah anak-anak yang di lahirkan oleh Ncera. Semua orang dan setiap mereka dalam keadaan sadar atau tidak, berbelok atau lurus, semua itu merupakan bukti bahwa mereka mencintai Ncera.

    Air yang kita minum dalam kehausan adalah tanda bahwa kita mencintai Ncera, udara yang kita hirup dalam hitungan detik sebagai tanda kita mencintai Ncera, tanah yang kita injak dan sebagai tempat mencari nafkah menjadi bukti kita mencintai Ncera, Api yang kita bakar dirumah dan dimana-mana itu cukup membuat kita teruji sebagai orang Ncera. Rindu-rindu yang terselubung di balik sajadah adalah bukti kecintaan mereka terhadap Ncera, gitar yang dipetik dengan kesunyian menjadi tanda mereka mencintai Ncera. Ncera menyajikan segalanya dan segalanya tersaji di Ncera.

    Ibu-ibu yang memilih hidup sampai tua di desa tersebut merupakan bentuk dari cinta mereka kepada Ncera, bapak-bapak yang memilih menghabiskan masa tuanya di desa Ncera merupakan bukti bahwa mereka mencintai Ncera, pemuda dan pemudi yang mengembara untuk mencari ilmu menjadi bukti mereka mencintai Ncera, pohon yang tidak ditebang dan dibiarkan tumbuh merupakan tanda mereka mencintai Ncera, Perbedaan-berbedaan yang menyatukan dan membawa pada kebaikan bersama menjadi simbol bahwa mereka mencintai Ncera. Semua mencintai Ncera, tidak hanya manusia.Tetapi alam, semesta juga Tuhan mencintai Ncera.

    Para jejaka yang setia melayani manusia, alam dan semesta di Ncera adalah bukti mereka mencintai Ncera, para pendo'a yang dalam setiap bait doa nya terselip kata "Ncera" menjadi bukti ketulusan mereka terhadap Ncera, seorang laki-laki dan perempuan yang setia kepada pasangannya masing-masing merupakan bukti kecintaan mereka kepada Ncera, birokrasi yang tidak korup dan jujur merupaka tanda cinta mereka kepada Ncera. perpecahan-perpecahan yang teroganisir maupun tidak merupakan bentuk lain dari Cinta mereka kepada Ncera.

    Tidak hanya manusia yang mencintai Ncera, Alam yang memberimu segalanya juga mencintai Ncera, Tuhan yang menuntut nurani mu agar tetap menjadi manusia juga mencintai Ncera. Bagaimana cara kerja cinta mereka. Ketika engkau tebang sebatang pohon tampa belas kasihan, maka engkau akan melihat indahnya banjir yang menghampiri rumah mu. Banjir itu bukan sebagai balasan, Tetapi banjir merupakan bentuk lain dari Cinta alam kepada orang yang hidup di Ncera dan desa Ncera. "Cinta" ingin mensucikanmu dari belenggu nafsu kehidupan, "Cinta" tidak mau sesuatu yang di cintainya hidup dengan keserakahan.

    Jika dalam suatu waktu engkau pernah mengambil hak orang lain, maka dalam waktu yang lain sesuatu yang kamu miliki akan terlepas dari genggamanmu, apapun bentuknya itu. Namun sesuatu yang terjadi itu bukan sebagai balasan, akan tetapi itu lebih pada cara semesta untuk tetap menyayangimu, Dia tidak ingin engkau kembali kepada-Nya bukan dengan Cinta, yang Dia inginkan saat kita kembali kepada 'Cinta' hanyalah membawa Cinta. ketika manusia tidak memahami itu, ataupun sampai menolaknya, maka berlakulah hukum menyucikan segala sesuatu dengan bentuk balasan yang kita maknai dalam kehidupan kita. Ncera menumbuhkan segalanya dan segalanya tumbuh di Ncera.

    Sungai yang tidak engkau kerus pasir dan batunya adalah tanda mereka mencintai Ncera, sungai yang engkau ambil batu dan tanahnya, juga menjadi tanda mereka mencintai Ncera. Gubuk-gubuk yang berdiri tegak di persawahan dan ladang adalah bukti mereka mencintai Ncera. Semut, cacing, ular yang di sayangi merupakan bentuk cinta mereka kepada Ncera. Hujan yang dengan tabah menyirami tanahmu adalah bentuk cintanya kepada Ncera. Oleh karena itu biarkan dia turun, jangan dihujat ataupun jangan dibenci. Semua yang menumpang hidup di tanah Ncera harus berterima kasih kepada Ncera, karena Ncera telah memberimu segalanya dan sudah seharusnya segalanya memberi untuk Ncera.

    Percayalah, apapun yang terjadi di di desa Ncera, baik dan buruk, benar maupun salah. Semuanya datang dari Cinta, terjadi karena cinta, dan akan kembali kepada Cinta.

    Bersambung.




    Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:

    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Amanah

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    PEWARTAnews.com – Amanah pada hakekatnya merupakan suatu yang sangat berat, karena langit, bumi dan gunung dengan gagah perkasanya tak sanggup terima amanah dari Allah swt. Hebatnya manusia di antara makhluk-makhluk yang memberanikan diri terima amanah dari Allah swt. Akibat dari langkahnya itulah manusia mendapat sebutan makhluk dholim dan bodoh, karena nekad menerima dan mempertanggungjawabkan amanah yang sangat berat. Sebutan itu menjadi benar jika kita tidak bisa tunaikan amanah, namun jika kita bisa jalani amanah dengan baik dan benar, maka kita justru menjadi smart dan jauh lebih mulia daripada malaikat.

    Amanah pada hakekatnya bisa berupa anak, harta, jabatan, dan ilmu. Amanah anak, bagaimana kita mendidik dan menjadikan anak sebagai insan yang taat kepada Tuhannya, berbakti kepada kedua orangtua dan selalu mendoakannya dan mengantarkan anak membangun rumah tangga. Karena itu tidak cukup kita mengasuh dan mendidik anak dengan serahkan anak kita ke seseorang atau institusi lain walau profesional. Sekalipun hal ini dilakukan sebagai akibat dari kesibukan. Orangtua tetap wajib ambil bagian dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

    Amanah harta, bagaimana kita memperoleh harta dengan cara yang baik dan tidak menghalalkan segala cara, menjaga dan membersihkannya dari riba serta menggunakannya untuk kebaikan dan diamalkan untuk yang berhak dan membutuhkannya. Namun ada juga orang yang tidak mau peduli tentang harta, bagaimana mendapatkan, menjaga dan menggunakannya. Kondisi yang demikian bisa menjadikan harta yang mestinya bisa membahagiakan, namun sebaliknya berakibat menyengsarakan.

    Amanah jabatan, bagaimana mengemban dan memangku amanah jabatan secara benar perlu terus diupayakan, bagaimana menegakkan keadilan dan tidak ada diskriminasi layanan tehadap bawahan atau warganya, bagaimana lebih utamakan melayani daripada dilayani, dan sebagainya. Demikian pula tidak aji mumpung sebagai pejabat, sehingga kental dengan perilaku KKN, yang berakibat pada penggunanaan fasilitas di luar haknya. Ingat, bahwa jabatan itu menjadikan mulia, jika pemangku jabatan itu tetap humble, tidak arogan, utamakan kewajiban daripada hak, dan transparan. Sebaliknya, bahwa jika amanah jabatan tidak dijalani dengan benar, maka berakhir dengan malapetaka.

    Amanah ilmu, bagaimana kita memperoleh ilmu dan mengamalkannya. Ilmu itu suci, oleh karenanya cara memperolehnya mestinya dengan cara yang suci dan benar, tidak boleh melakukan kecurangan, cheating, atau plagiasi. Bagi yang berilmu, wajib mengamalkannya yang tidak didasarkan pertimbangan bisnis,sehingga tetap terjaga marwahnya untuk memberikan pencerahan (al ‘ilmu nuurun) bagi orang lain sebagai misi utamanya. Dengan mengamalkan ilmu secara benar, insya Allah akan naik derajatnya.

    Kita ingat bahwa setiap amanah menuntut pertanggungjawaban. Idealnya pertanggungjawaban bisa dilakukan secepat mungkin, paling tidak sebelum ruh kita dipanggil. Jika kita bisa laksanakan amanah di bumi sebagai pribadi dan khalifah di atas bumi dengan benar, maka kemuliaan kita tetap terjaga, namun sebaliknya apabila kita tidak lakukan amanah dengan baik, maka hidup kita menjadi hina dengan sendirinya.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Mahasiswa Lampung Dukung Politik Santun dan Pemilu Damai

    Suasana usai Dialog Pemilu Damai.
    Bandar Lampung, PEWARTAnews.com -- Tahun 2019 adalah tahun politik, tepatnya pada 17 April 2019 mendatang masyarakat Indonesia akan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu, baik pemilihan Presiden, DPRD Kota/Kabupaten, DPRD Provinsi, DPR RI, bahkan DPD RI. Menyambut tahun politik tersebut, maka dari itu Organisasi Non Pemerintah (NGO) JIMLUDEM (Jaringan Intelektual Muda Lampung Untuk Demokrasi) melaksanakan diskusi publik  bertema "Dukung Politik Santun, Tolak Serangan SARA" yang berlangsung di Gedung KNPI Lampung, pada hari Senin, 21/01/2019.

    Didalam acara tersebut dihadiri tiga narasumber yaitu, Gistiawan dari Bawaslu Bandar Lampung, Robi Cahyadi dari Dosen Fisip Unila, dan juga Husni Mubarrak Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung.

    Menurut Gistiawan, mahasiswa harus mampu menyaring suatu informasi yang didapat, jangan mudah terpengaruh sebelum menelusuri dan menganalisa terlebih dahulu informasi tersebut. “Sebagai Mahasiswa kita harus menyaring segala informasi yang ada di media maupun berita-berita yang berada di masyarakat, karena sekarang banyak sekali peserta pemilu berkampanye tidak sesuai dengan aturan yang di tentukan oleh KPU, jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan itu maka kalian harus melaporkaannya kepihak berwajib,” tegasnya kepada mahasiswa yang hadir di acara tersebut.

    Selain menyelenggarakan Dialog Publik, dalam acara tersebut para mahasiswa juga melakukan deklarasi sebagai upaya untuk mendukung politik santun dan pemilu damai.

    Adapun point deklasinya yakni, Pertama, Bersama-sama menjaga dan merawat rasa persatuan dan kesatuan serta keutuhan NKRI. Kedua, Berkomitmen mendukung pelaksanaan Pemilu 2019 yang berkualitas, tanpa isu SARA dan hoax. Ketiga, Menolak tempat ibadah dan simbol-simbol tertentu untuk praktik politik praktis. (Tomi / PEWARTAnews)


    Arah Baru Wujudkan Perubahan Sejuk, Formatur Terpilih Siap Jadikan KEPMA Sebagai Organisasi Puncak Persatuan

    Muhammad Akhir.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta merupakan organisasi induk dari semua organisasi Bima yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. KEPMA Bima-Yogyakarta menjadi salah satu problem keutuhan untuk membantu memperdaya Sumber Daya Manusia (SDM) orang Bima di tanah Istimewa Yogyakarta.

    Hal demikian juga menjadi keinginan semua orang bahkan Sesepuh Weki Ndai Mbojo Yogyakarta, yakni ada perubahan yang signifikan terhadap perjalan KEPMA Bima-Yogyakarta.

    Kemarin, 20/01/2019, telah terpilih sosok kader yang dianggap militan, progresif, dan Profesional dengan sembohyan "Arah Baru Wujudkan Perubahan Sejuk". Ia terlahir dari rahim Forum Mahasiswa Langgudu (FORMAL) Yogyakarta. Pemuda yang pernah dikader oleh Sanggar Rimpu, sebuah lembaga Kebudayaan KEPMA Bima-Yogyakarta saat diketuai oleh Saudara Anas Kurniawan, juga pernah mengikuti Perkaderan yang diadakan oleh KEPMA Bima-Yogyakarta pada masa kepemimpinan saudara Arif Rahman.

    Semboyan yang ia bawa yakni, "Arah Baru Wujudkan Perubahan Sejuk" merupakan cita-cita dan harapan untuk menyatukan seluruh masyarakat, mahasiswa, dan pelajar Bima yang ada di Kota Istimewa Yogyakarta. Hadir sebagai penopang, dengan melihat banyak sekali dinamika, problematika, dan dogma-dogma yang bersifat pesimistis ia mencoba menaruh harapan agar semua itu bisa diantisipasi. Sebab perbaikan dan pembenahan (penguatan kelembagaan) tidak akan lahir dengan cara-cara yang pesimis, melainkan dengan cara yang sejuk. Sejatinya, hadirnya pemimpin baru yakni untuk melanjutkan progresifitas pemimpin sebelumnya dan membenahi ketidakmaksimalan yang pernah ada.

    Muhammad Akhir sebagai ketua terpilih membawa banyak harapan untuk didukung oleh seluruh elemen warga KEPMA Bima-Yogyakarta. "Menjadi orang nomor 1 bukanlah keindahan yang diharapkan, karena akan percuma menjadi orang yang nomor 1 jika tidak ada perbaikan. Maka menjadi orang nomor 1 adalah kunci ketakutan, agar kita melihat dimana kekurangan kita, dimana yang harus kita kerjakan, dimana yang harus kita kembangkan. Karena potensi masyarakat, mahasiswa dan pelajar yang ada di Kota Istimewa ini sangat beragam," ucap Akhir.

    Lanjutnya, "Oleh karena demikian, butuh langkah-langkah strategis, taktik, kesabaran dan fikiran yang jernih untuk memulai itu semua, sebab semua akan menjadi indah dalam perbedaan tersebut. Perbedaan harus digaris bawahi, bahwa ia adalah bentuk keberagaman yang harus di indahkan dan dipahami sehingga menjadikan kita dewasa dalam fikiran," sebutnya.

    Lebih jauh, kata Akhir, langkah strategis seorang pemimpin adalah kunci strategis memecahkan suatu perbedaan menjadikan suatu kekuatan untuk membawa lembaga lebih baik dan lebih maju lagi. "Sifat dan pemikiran sahabat sekalian yang ada di Jogjakarta ini sangat beragam, jadi dengan keberagaman inilah yang membuat semuanya menjadi seksi hingga akhirnya bertolak pada keakuhan diri yang lebih baik. Namun semua itu akan diatasi dengan tingkat kesadaran seseorang pemimpin, seorang pemimpin harus berjiwa sejuk untuk memahami keberagaman tersebut, sehingga datang untuk mendekati dan memahami secara objektif, agar tidak menilai salah dalam keberagaman tersebut," tutur Akhir lebih lanjut.

    Semoga dengan terpilihnya pemimpin baru KEPMA Bima-Yogyakarta dengan semboyan "Arah Baru Wujudkan Perubahan Sejuk" mampu memberikan gairah kepada yang lain agar bersatu dalam setiap kegiatan yang ada. (Siti Hawa / PEWARTAnews)

    Orang Cerdas

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan negara Indonesia. Upaya untuk mewujudkannya, pendidikan sebagai pilihan stretegi yang terbaik. Sistem pendidikan benar-benar harus dibangun dengan nilai, teori, dan kebijakan yang sesuai dengan fitrah dan tujuan manusia dilahirkan oleh Sang Pencipta, menjadi hamba Allah swt dan khalifah di atas bumi, yang dicirikan dengan bertaqwa dan cerdas.

    Banyak ahli yang mampu menjelaskan makna cerdas, mereka mengartikan cerdas dikaitkan dengan kemampuan inteligensi, kreativitas, emosion, sosial, kinestetik, artistik, dan spiritual. Makna cerdas dalam kesempatan ini didasarkan pada pandangan Rasulullah saw. Beliau menegaskan bahwa yang dimaksud orang cerdas adalah seseorang yang mampu mengendalikan nafsu, yang paling banyak mengingat kematian dan yang  paling baik mempersiapkan kehidupan sesudah mati (Al Hadits).

    Orang yang dikuasai oleh nafsu cenderung melakukan perbuatan yang jelek (la ammaaratus suu’). Hanya orang cerdas yang mampu menguasai nafsu, sehingga hidupnya selamat. Hidupnya lebih terarah dan sejalan dengan nilai-nilai kebaikan, tidak mudah dikuasai oleh bisikan syaitan. Ingat bahwa bisikan syaitan cenderung mengajak kemaksiyatan, dan kemaksiyatan bisa menggelapkan hati dan menimbulkan kemaksiyatan yang lain.

    Orang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Mengingat terputusnya kelezatan dari kenikmatan karena terpisahnya roh dan jasad. Dengan banyak mengingat kematian, maka seseorang cenderung ingin menghentikan kemaksiyatan dan meningkatkan ketaatan. Mengingat kematian dapat melapangkan  hati yang sempit dan menyempitkan hati di kala lapang. Hidup tidak hanya “aji mumpung”, melainkan harus selalu ingat kepada kematian, sehingga lebih berhati-hati.

    Orang cerdas adalah orang yang paling baik dalam mempersiakan hidup setelah mati. Ingatlah, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. “Kullu nafsin dzaaiqatul maut”. Tidak ada yang pasti di dunia kecuali kematian. Harta, pangkat, jabatan, dan apapun yang kita banggakan yang sifatnya duniawiyah akan rusak dan mati, karena bersifat fana. Untuk itu kita sudah seharusnya lebih berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan serta memperbanyak amal kebaikan untuk bekal hidup sesudah mati dan di akhirat kelak.

    Pemahaman tentang cerdas menurut Rasulullah saw dapat memberikan jaminan hidup yang jauh dari stress, hidup yang tenang dan damai karena kita memiliki amaliah akhlaq mulia dengan membiasakan akhlaq terpuji (mahmudah) dan menjauhkan diri dari akhlaq tercela (madzmumah). Menjaga spirit akhirat dalam setiap jejak kehidupan di dunia.


    Yogyakarta, 15 Januari 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Muhammad Akhir Terpilih jadi Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Periode 2019-2020

    Para Calon Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Minggu 20 Januari 2019 sore pukul 17:00 WIB, Musyawarah Besar (MUBES) Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta akhirnya resmi di tutup. Mubes ini berlangsung selama enam hari, mulai tanggal 11, 12, 13 Januari 2019 dan dilanjut lagi pada tanggal 18, 19, 20 Januari 2019.

    Momen Mubes KEPMA Bima-Yogyakarta kali ini, terpilih Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta yang baru untuk periode 2019-2020 yakni Muhammad Akhir menggantikan Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta sebelumnya atas nama Agus Salim.

    Pada awalnya ada tiga calon yang ikut kontestasi dalam perebutan Ketua Umum, diantaranya yaitu Dedi Mizwan (Kader Himpunan Mahasiswa Ngali-Yogyakarta) dengan nomor urut 1, Mu’amar Kadafi (Kader Forum Komunikasi Mahasiswa SMA 1 Woha Bima - Yogyakarta) dengan nomor urut 2, dan Muhammad Akhir (Kader Forum Mahasiswa Langgudu) dengan nomor urut 3.

    Total keseluruhan warga Bima Yogyakarta yang datang memberikan hak suara sebanyak 471 suara. Dedi Mizwan memperoleh suara 178 suara, Mu’amar Kadafi memperoleh suara 54 suara,  Muhammad Akhir memperoleh suara 233 suara, dan suara batal 6 suara. Dari semua calon, Muhammad Akhir yang memperoleh suara terbanyak, dan secara langsung Muhammad Akhir ditetapkan sebagai Ketua Umum KEPMA Bima-Yogyakarta Periode 2019-2020.

    Usai terpilih jadi ketua yang baru, Muhammad Akhir mengajak seluruh masyarakat KEPMA Bima-Yogyakarta untuk turut andil merawat lembaga ini. "Mari kita jaga dan kita rawat organisasi kita ini dengan penuh ketulusan hati, ketulusan jiwa, kita rawat dengan penuh kasih dan cinta, hingga akhirnya tidak ada lagi perpecahan atas perbedaan. KEPMA adalah rumah kita bersama, yang harus kita rawat setiap saat dan waktu, demi terciptanya hubungan kekeluargaan yang erat di tanah Istimewa Yogyakarta," ucapnya.

    Lebih jauh, Akhir berharap kedepannya lembaga KEPMA menjadi semakin berkembang dan terpercaya. "Saya sangat bergembira dengan pemilihan raya kali ini, antusias keluarga pelajar mahasiswa Bima Yogakarta sangat tinggi dalam memberikan hak pilihnya untuk menentukan pemimpin baru mereka. Semoga kelak menjadi organisasi yang terpercaya," harapnya.

    Lebih lanjut, Akhir berharap ketika menjalankan roda organisasi KEPMA Bima-Yogyakarta juga perlu adanya masukan serta kritikan membangun agar berjalannya lembaga ini tidak salah arah. "Harapan besar saya, mari sama-sama bergandengan tangan, sama-sama aktualisasikan, sama-sama niat untuk memberikan hal indah kepada wadah tercinta ini, hingga ia menjadi wadah kekeluargaan yang satu kesatuan, harmonis dan terpercaya. Namun jangan lupa kritikan cerdasnya, berikan kritikan itu jika memang banyak sekali kekurangan saya dalam menjalankan roda organisasi dikemudian hari nanti dan tolong berikan solusi bijak sebagai bahan saya jadikan acuan pembenahan kedepanya," terangnya.

    Selain penentuan Ketua Umum, Mubes ini juga dijadikan sebagai momen untuk menggodok anggaran dasar dan anggaran rumah tangga lembaga KEPMA Bima-Yogyakarta. Salahsatu hal yang mencolok dalam perubahan AD/ART kali ini adalah merubah istilah Musyawarah Besar (Mubes) diganti menjadi istilah Kongres. Akibat perubahan ini, kedepannya KEPMA Bima-Yogyakarta tidak lagi mengenal istilah Mubes tapi sudah bermetamorfosa menjadi Kongres.

    Bagi yang tidak berkesempatan melihat meriahnya suasana Mubes, silahkan tonton video dibawah ini. (Siti Hawa / PEWARTAnews)


    Cinta yang Tak Direstui

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com -- Malam yang begitu indah. Suara jangkrik saling menyahut. Kodok pun saling menyapa, menghibur malam yang begitu sunyi. Bintang-gemintang mengkilap di langit. Bulan pun memandikan cahayanya, menyinari tiap-tiap sudut bumi.

    Terlihat seorang perempuan cantik sedang termenung dan memandang keluar jendela rumahnya. Pandangannya ia arahkan ke angkasa, mencoba menatap dan menghitung bintang. Mukanya tampak murung. Ada kesedihan yang begitu mendalam yang terlihat di pelupuk matanya.

    Ia tak bisa tidur. Pikirannya hanya berpusat pada sosok lelaki yang ia rindukan. Lelaki yang selalu menemaninya dalam suka dan duka. Lelaki yang menjadi teman curahan hatinya. Lelaki yang selalu hadir dalam kehidupannya, memberikan sejuta warna dan mengubah hidupnya.

    Namun, hubungan mereka berdua tak direstui oleh orang tua sang perempuan. Orang tuanya merupakan orang kaya dan terpandang di desanya. Bahkan, menjadi ketua adat setempat. Mereka tak ingin anaknya menjalin hubungan, apalagi sampai menikah dengan pria yang tak disukainya itu. Mereka hanya menginginkan pria yang sempurna bagi sang buah hatinya itu. Beragam usaha dilakukan oleh orang tuanya, agar darah dagingnya yang begitu cantik tersebut tak lagi menjalin kasih dengan lelaki tersebut.

    Meski begitu, sang anak tetap tak bisa lepas dari orang yang sudah lama ia kenal. Baginya, jauh dari sang pujaan, apalagi sampai harus melupakannya adalah sesuatu yang tak mungkin ia lakukan. Ia terus saja memadu asmara dengan sang pemuda gagah tersebut. Lelaki yang kesehariannya hanya sebagai montir, namun ia tak pernah lalai kala mendengar azan. Selalu menyempatkan diri untuk salat berjamaah di masjid. Melantunkan ayat suci Alquran di saat malam tiba. Itulah yang membuat perempuan cantik itu terpesona dan jatuh hati padanya.

    Akan tetapi, di luar itu, ternyata orang tuanya memang tak menyukai lelaki itu. Lantaran orang yang tak berpunya, apalagi hanya tamatan sekolah menengah atas. Sementara, anak perempuannya adalah sudah menjadi sarjana. Lagi dan lagi, sang ayah tetap mencari cara agar anaknya menjauhi dan melupakan lelaki miskin itu.

    Namun, kekuatan cinta memang nyata adanya. Cinta tak memandang status dan jabatan seseorang. Cinta pun tak memandang usia. Jika hati kedua insan telah menyatu, maka akan sulit untuk dipisahkan. Bahkan, dunia dan isinya sudah mereka anggap sebagai miliknya berdua.

    Dara cantik yang kerap dipanggil Mawar ini, dalam kesehariannya adalah sebagai tenaga medis/kesehatan di puskesmas setempat. Ia begitu rajin. Juga, sangat disenangi dan dirindukan kehadirannya oleh masyarakat setempat, oleh karena kebaikan hatinya. Masyarakat sekitar pun menyetujui hubungannya dengan Marwan, sang pemuda yang begitu santun tersebut. Apalagi sampai bisa duduk di pelaminan, mereka tentu sangat bersyukur. Sebab, keduanya adalah pasangan yang serasi. Cocok satu sama lain.

    Saking cintanya sang perempuan ini, apa pun yang menjadi kebutuhan lelaki sederhana itu, akan ia penuhi. Ia akan membantu sekuat tenaga demi orang yang cintai dan kasihi itu. Tak segan-segan gajinya akan ia kucurkan, berapa pun nominalnya.

    Melihat pengorbanan dan ketulusan hati perempuan idamannya itu, suatu waktu, akhirnya Marwan memberanikan diri untuk datang ke rumah orang tua sang dara itu, dengan maksud untuk melamar anak sulungnya itu. Kendati jauh sebelumnya, hubungan mereka berdua memang tak direstui.

    Usahanya sepertinya tak mulus. Meskipun ia terus berupaya untuk meyakinkan mereka. Lamarannya pun ditolak mentah-mentah oleh orang tua sang perempuan itu. Mendengar hal demikian, anak gadisnya itu semakin nekat untuk mendekati orang yang begitu dicintainya tersebut. Bahkan, permohonan demi permohonan ia terus lakukan pada orang tuanya, tak juga berbuah manis. Hampa.

    Sang lelaki pun tak ingin menjadi buah bibir di lingkungan sekitar, hingga kemudian ia berusaha menasihati kekasihnya itu untuk menjauhinya. Meskipun hatinya sulit untuk melakukan dan menerima hal itu. Namun, mau tidak mau, harus dilakukan. Matanya mulai berkaca-kaca.

    “Sayangku, Mawar, tak ada gunanya hubungan kita ini, jika tak direstui oleh orang tuamu. Tak mungkin aku menikahimu tanpa rida dari kedua orang tuamu. Aku hanya ingin semuanya berjalan dengan normal tanpa ada sedikit pun masalah yang timbul. Jika begini terus, tanpa sedikit pun restu dari orang yang melahirkanmu, lebih baik kita sudahi saja hubungan ini. Memang hal ini tak mudah, baik bagiku maupun bagimu. Jika memang engkau adalah jodohku, maka yakinlah suatu saat kita akan bersatu menjadi pasangan halal sehidup semati. Percayalah pada Ilahi. Semua sudah dicatat oleh Yang Mahakuasa, siapa yang akan menjadi pendamping hidup kita. Itu takkan meleset sedikit pun.”

    Mawar tak lagi bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menumpahkan air matanya. Ia begitu kecewa mendengar perkataan sang kekasihnya itu.

    “Sudahlah, sayangku. Tak perlu engkau tangisi. Biarlah waktu yang akan menjawab. Jika memang kita berjodoh, maka kita akan berjumpa dan bersatu kembali,” ucapnya sembari berusaha menenangkan dan mengusap air mata kekasihnya itu.

    Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu, mereka berusaha untuk tak saling bertemu. Komunikasi lewat handphone (HP) pun tak lagi seperti biasanya. Sang perempuan hanya bisa murung dan mengunci diri di rumahnya. Makan pun tak lagi teratur, sebab benar-benar tak bisa melupakan sang kekasihnya itu. Hingga akhirnya, kabar pun tiba-tiba muncul dari keluarga sang lelaki. Bahwa, pemuda sederhana tersebut mengalami sakit yang begitu parah, sudah berbulan-bulan lamanya, tanpa sepengetahuan si perempuan atau orang yang sempat singgah di hatinya itu.

    Ia pun terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Tak ada lagi pilihan lain. Sebab, obat tradisional tak bisa menyembuhkannya secara total. Mendengar berita tersebut, sang kekasihnya itu pun langsung menjenguknya di rumah sakit, tempat ia merawat.

    Sesampainya di rumah sakit, gadis pujaannya itu hanya bisa menatapnya dengan berderai air mata. Karena melihat sang kekasihnya yang berbaring dan badannya semakin kaku, bicaranya terbata-bata.

    Beberapa hari setelah dirawat di rumah sakit, lelaki tersebut menghembuskan napas terakhir. Ia kembali ke Sang Pencipta. Sebelumnya, ia sempat menitipkan sepucuk surat pada orang tuanya. Dan, surat tersebut untuk orang yang pernah dicintainya, sang gadis cantik itu.

    “Sayangku, maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku padamu. Sekian lama aku kerahkan tenagaku untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi melunakkan hati orang tuamu, kiranya mereka mau menerimaku sebagai pendamping hidupmu. Ke sana kemari aku bekerja, hanya untuk engkau seorang. Aku benar-benar ingin menikahimu. Aku memang sengaja menjauhimu sesaat, hanya untuk memenuhi persyaratan kedua orang tuamu. Orang tuaku adalah orang yang tak berpunya, sayangku. Dan, satu-satunya cara yang bisa kulakukan adalah bekerja dan terus bekerja, apa pun itu, yang penting halal dan bisa menghasilkan uang. Kini, persyaratan orang tuamu dulu telah kupenuhi. Uang tersebut kutitip pada ibuku. Tolong ambillah, dan kasih ke orang tuamu untuk melunasi janjiku padanya.”

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Anak seorang petani. Sang pengembara. Penggiat literasi. Dari Bumi Pajo, Bima NTB.

    Kemaslahatan

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berpeci)
    PEWARTAnews.com -- Kemaslahatan memainkan peran penting dalam eksistensi kehidupan manusia yang dinamis. Mobilitas kita semakin cair dan terbuka, sehingga sekat hunian tidak lagi mampu menahan gerak perubahan yang sangat cepat. Ada yang datang dan ada yang pergi. Kehidupan tidak lagi bernuansa homogin, sehingga heteroginitas menjadi suatu keniscayaan. Mayoritas dan minoritas sudah tidak relevan lagi menjadi wacana yang terus diperdebatkan karena yang terpenting adalah kemaslahatan.

    Rasulullah saw bersabda : Khairunnaas anfa’uhum linnaas, yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain (Al Hadits). Untuk bermanfaat atau bermaslahat tidak dibatasi oleh status apapun, apakah yang kaya atau kurang mampu, yang pejabat atau rakyat, yang ulama’ atau ummat, yang jenderal atau prajurit, yang pendidik atau pelajar, dan sebagainya. Kemaslahatan diri bisa berwujud apa saja, bisa maslahat yang sifatnya fisikal, sosial, mental, atau spiritual.

    Di era digital ini kita ditantang untuk bisa hadirkan informasi dan program-program yang bermaslahat untuk seluruh aspek kehidupan. Para ahli bertanggung jawab untuk melindungi komsumen atau user dari penyalahgunaan IT, yang berupa hoax, cyber criminal, abused info, hackers, dsb, sehingga mereka memperoleh kepuasan. Demikian pula para ahli bidang-bidang lainnya seyogyanya berkolaborasi dengan ahli IT, sehingga mampu menyelesaikan semua persoalan hidup berbasis IT dan moral keagamaan sebagai landasan berbangsa dan beragama dalam hidup yang berperadaban.

    Untuk memperoleh kemaslahatan yang lebih banyak lagi dalam hidup kita, kita mantapkan perbuatan amal dan shodaqah, sumbang pemikiran, adil dalam berkuasa, berbuat kebajikan, hadir untuk solusi, aktif berorganisasi yang beretika, melindungi pihak tak beruntung dan dzaif, peduli lingkungan, hindari  fitnah, sharing yang bermanfaat, utamakan kedamaian, toleran terhadap perbedaan, upayakan tangan di atas, respek terhadap sesama dan sebagainya.

    Akhirnya bahwa kemaslahatan kita dapat dilihat dari sejauhmana ucapan, tulisan, dan perbuatan serta karya kita dirindukan kehadirannya oleh orang atau pihak lain. Semoga semuanya itu terjaga dan tidak keluar dari bingkaian keikhlasan, karena semuanya menjadi sia-sia jika mengharapkan pujian dan sanjungan.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Bermusyawarahlah

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Kehidupan kita itu dinamis dan terus berproses, sesuatu itu muncul dan tenggelam, muncul kembali dan tenggelam lagi dan seterusnya. Hal ini bisa terjadi dari suatu generasi ke generasi selanjutnya. Apapun persoalan yang muncul dalam proses kehidupan manusia, maka manusialah yang lebih tahu cari solusinya. Bahkan Allah swt sendiri yang tegaskan ...wa syaawirhum  fil amri, wa amruuhum syuuraa bainahum (QS Ali Imran:159).  Manusia yang tahu persoalannya sendiri, yang selanjutnya diharapkan manusia menyelesaikannya melalui musyawarah.

    Dalam kehidupan era Revolusi industri 4.0, dan Era Disrupsi, terjadi perubahan paradigma, sebelumnya dalam menyelesaikan  persoalan bertumpu pada individual intelligence, yang mengandalkan berpikir logis dan linier. Namun kini kita dalam menyelesaikan  berbagai persoalan, lebih bertumpu pada collective intelligence, bisa interdiscipliner, multidiscipliner, atau dan transdisciploner yang lebih mengandalkan kecakapan berpikir divergent, berpikir lateral, atau berpikir holistic. Di sinilah bermusyawarah sangat relevan digunakan untuk menyelesaikan segala persoalan terutama melalui  the 21st century skills, yaitu critical thinking, communication, collaboration, and creativity.

    Dalam musyawarah, setiap individu mendapat rekognisi, kebebasan berekspresi, munculnya saling respek, dan bersemai rasa kebersamaan. Yang akhirnya bisa tercipta participatory decision making. Selanjutnya hasil musyawah dirumuskan secara komprehensif dengan di-support oleh kemampuan berpikir intuitif dan sistemik. Dengan begitu penyelesaian masalah melalui musyawarah diharapkan mampu mengikat semua yang terlibat dalam implementasi dan evaluasi.

    Menggunakan musyawarah sebagai cara mencari solusi memang tidaklah mudah, karena kesalahan mengorganisasikan dan leading musyawarah akan berakhir dengan sia-sia. Ekstrimnya berakhir dengan brantakan. Sebaliknnya jika pimpinan musyawah sangat skillful, dalam penguasaan materi, kendalikan flow pembicaraan dan iklim musyawarah, maka musyawarah diyakini dapat menyelesaikan persoalan secara efektif, efesien dan memuaskan semua.

    Akhirnya bahwa setiap musyawarah akan berhasil, jika pimpinan dan anggota musyawarah tahu akan hak dan kewajibannya, baik dalam mengawali musyawarah, sharing ideas, mengakhiri, meresume hasil musyawarah maupun merumuskan  langkah-langkah selanjutnya untuk realisasikan kesepakatan. Musyawarah berakhir dengan senyum semua, tidak boleh seorangpun yang “terlukai”. Semoga barakah. Aamiin.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Seringkali Terjebak pada Simbol dan Kemapanan


    PEWARTAnews.com -- Penulis masih teringat kata salah seorang dosen tarbiyah, Dr. H. Karwadi, M.Ag saat tatap muka dalam mata kuliah Tauhid disemester 1 beliau mengatakan, “Etos akademik yang baik harus diimbangi dengan memiliki skill komparatif”. Karena itulah yang dibutuhkan di masa depan. Sehingga, kuliah tidak hanya sekedar mencari nilai/IP, tapi bagaimana dapat terus mengembangkan diri secara berkelanjutan. Pernah nggak berpikir mengapa IP dan IPK maksimal hanya 4,0? Karena selebihnya mahasiswa sendiri-lah yang harus mencari, menelaah, mengeksplore hal-hal baru dan memikirkan cara untuk meraih keberhasilan yang dapat dicari dengan berbagai hal, bisa melalui kajian literasi, berdiskusi, mengikuti training dan seminar maupun berorganisasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa peran dosen maksimal hanya 20% untuk menunjang keberhasilan mahasiswa-nya. Sehingga belajar hanya ketika berada didalam kelas saja merupakan kerugian nyata yang dapat membunuh kreativitas dirinya (mahasiswa) secara perlahan.

    Setiap diberi kesempatan berbicara dalam forum diskusi/pun organisasi saat ramah tamah dengan anggota baru/MABA, pasti yang pertama ku sampaikan adalah : “Jangan Terjebak Pada IP maupun IPK. Mencari IP 4,0 itu mudah banget. Namun memiliki IPK tinggi dengan didasari “skill komparatif” itulah yang akan lebih berarti. Fakta di lapangan mengatakan, bahwa nilai bukan menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Dalam dunia kerja pun demikian. Bukan persoalan siapa yang lebih tinggi IP/IPK nya, namun siapa yang tidak bosan dalam mengembangkan diri dialah yang akan terus survive. Yang penting terus asah skill komparatif dengan self continuous improvement dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Dengan begitu, kita tidak akan khawatir dapat kerja apa / gaji berapa dan lain-lain. Insya Allah pekerjaan yang akan mencari kita.

    Kemarin ketika penarikan PPL, DPL-ku (Pembimbing Magang) mengatakan “Era sekarang ini banyak mahasiswa yang mengejar M.A dulu, daripada S.Pd. Biasanya yang lulus cepat itu ya yang disiplin-disiplin”. Oiya M.A itu singkatan dari Mahasiswa Abadi. Apa yang terlintas dalam benak kita saat mendengar kata Mahasiswa Abadi? Menurutku, ada banyak perspektif. Pertama, Mahasiswa yang hampir di DO (droup out) karena melebihi batas maksimal waktu kuliah (S1= 12-14 semester). Kedua, Mahasiswa yang terus-terusan kuliah. Maksudnya, S1-S3 dan masih kuliah lagi S1 dalam konsentrasi yang berbeda. Kalau kayak gini kapan nikahnya euy? Pertanyaan yang mainstream itu yak. Asal partner hidup mendukung ya why not? Kan gitu. Ketiga, Mahasiswa yang meski sudah lulus tapi terus belajar dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun, mungkin seperti ini bisa dinamakan dengan pembelajar sepanjang masa. So, kesimpulannya tidak selamanya mahasiswa Abadi itu buruk, tergantung dari bagaimana cara melihatnya. Dalam hidup sebenarnya yang paling dibutuhkan adalah “kebijaksanaan dalam melihat suatu hal”. Bukan berarti yang lulus lama itu males atau tidak disiplin. Bisa jadi, dia sedang merintis usaha untuk masa depannya, dan sebelum lulus sudah mempunyai income tetap tanpa mengandalkan pemerintah, misalnya. Bisa juga karena tidak kuat untuk membayar UKT/uang Semester sehingga harus kocar kacir kesana kemari, dan karena tidak dapat pinjaman akhirnya cuti. Atau malah sedang nabung untuk segera lanjut studi. Bisa juga karena SKPI belum penuh. Hahaha. Ya, ada berbagai macam alasan dan faktor mengapa begitu.  Karena menurutku juga, bukan cepat atau lambatnya karena itu hanya persoalan kuantitas. Tapi bagaimana bisa menjadi self-driver dengan memiliki goal/tujuan yang jelas.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Kompetisi

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Kompetisi adalah fitrah manusia. Sejak proses pembuahan dalam rahim ibu sudah terjadi kompetisi, hanya satu sel sperma dari jutaan yang berhasil membuahi sel telur. Berjuta-juta sel sperma lainnya harus ikhlas menerima kekalahan. Kompetisi yang sehat berlangsung secara sehat, hasilnya juga sehat, dihasilkan anak yang sehat. Tentu kondisi ini memberikan manfaat bagi semua. QS Al Baqarah:148, menyatakan... fastabiqul khairaat... yang artinya berlomba-lombalah untuk meraih kebaikan... Di sini menguatkan bahwa kompetisi menjadi kebutuhan kita untuk eksis dan berkembang. Bahkan dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara kita tidak bida mengabaikan posisi Indonesia dalam Global Index Competitiveness yang menempatkan Indonesis, Thailand, Malaysia, dan Singapura, pada tahun 2018, pada ranking 45, 36, 25, 2, dan pada tahun 2017, pada ranking 36, 32, 23 dan 3. Kita sangat prihatin posisi Indonesia terjun bebas dari ranking 36 menjadi 45. Kita patut prihatin. 

    Mengapa dalam konteks tertentu kompetisi dipandang jelek, negatif, merugikan, menyakitkan, melanggar HAM dan berbagai stigma lainya.  Di antara alasannya, manusi itu bukan binatang, tidak bisa diadu, seperti ayam jago, karapan sapi, pacuan kuda,  dan sebagainya. Kompetisi lahirkan penyontek, plagiator, stress, bunuh diri, dan sebagainya. Jika demikian, apakah kompetisi itu ditiadakan saja? Hal ini dalam batas tertentu bisa diterima, ternyata kompetisi bisa juga timbulkan banyak “korban”. Bagaimana jika kuota terbatas, sementara peminatnya jauh melimpah? Apalagi kita sudah mendeklarasikan anti Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN). Apakah kita bisa menerima semua dengan cara subjektif?

    Berdasarkan perspektif lain, korban kompetisi itu sebagai konsekuensi, yang ternyata kompetisi sangat diperlukan terutama ketika kita hanya memiliki kuota terbatas dalam perebutan proyek bergengsi (internasional dan nasional), rektutmen tenaga baru, seleksi siswa atau mahasiswa baru misalnya, yang jumlah peminatnya jauh melimpah. Dengan kompetisi yang menggunakan sistem assessmen yang valid dan reliabel, objektivitas dan transparansi seleksi atau rekrutmen, insya Allah lebih terjamin dan bisa memberikan kepuasan bagi semua. Apalagi praktek lobby tak berintegritas atau KKN harus dibersihkan.

    Kompetisi yang ideal tidaklah mudah. Sistemnya harus dibangun dengan baik, mulai dari konsepnya, validitas dan reliabilitas instrumen assessmen, disiplin proses, dan objektivitas penilain serta bijaknya dalam pengambilan keputusannya. Buktinya bahwa kompetisi menjadi kurang direspeki dan kurang bahkan hilang trust-nya, diduga kuat disebabkan pelaku kompetisi tidak mengikuti SOP secara bertanggung jawab. Padahal kompetisi yang dijalankan dengan baik dan kredibel dapat memotivasi untuk maju seiring dengan perubahan yang dinamis dan berkembang.

    Kembali pada posisi GDI Indonesia yang “terjun bebas” dari ranking 36 menjadi 45, tidak bisa dirolerir. Diduga kuat bahwa kebijakan nasional belakangan terlalu kuat pada pembangunan infrastruktur, bukan lagi pembangunan SDM. Mestinya pembangunan SDM harus menjadi prioritas, sehingga kekayaan alam bisa dikelola lebih optimal. Semoga Kabinet ke depan benar-benar merubah paradigma pembangunan nasional dengan fokus menaikkan kemampuan kompetisi bangsa.


    Yogyakarta, 19 Januari 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Pemuda Desa Bara Rencana Polisikan Panitia Penyuluhan Pernikahan Dini

    Muh Nurul Habib.
    Dompu, PEWARTAnews.com -- Pemuda Desa Bara, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, tuntut Panitia Pelaksana Penyuluhan Pernikahan Dini yang rencananya digelar di Desa Bara.

    Menurut salahsatu Pemuda Desa Bara yang juga kini menjabat ketua Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa (IKPM) Dompu-Yogyakarta Muh Nurul Habib, seharusnya acara penyuluhan tersebut sudah dilaksanakan sejak awal Agustus 2018 lalu.

    Pengangkatan peristiwa ini, kata Habib, berawal dari keresahan masyarakat dan para pemuda Desa Bara, "Ini bermula karena adanya keresahan pemuda dan masyarakat yang mencium adanya dugaan penipuan atas proposal yang diajukan oknum yang katanya panitia pelaksana kegiatan penyuluhan pernikahan dini di Desa Bara yang dimana setelah dana kegiatan itu dicairkan oleh Pemdes setempat, sampai detik ini kegiatan itu tidak pernah dilaksanakan oleh panitia yang bersangkutan," ucap Habib, melalui rilisnya yang diterima PEWARTAnews.com pada 19/01/2019.

    Lebih lanjut Habib mengatakan, "Pemuda dan pihak Pemdes melakukan penelusuran pada Jumat, 18 Januari 2019 pukul 22.00 malam, (Pemdes) membenarkan bahwa memang ada proposal yang diajukan oleh panitia pelaksana penyuluhan pernikahan dini kepada Pemdes Bara dan proposal tersebut telah dicairkan oleh Pemdes," ujarnya.

    Hal tersebut, kata Habib, makin menguatkan keresahan yang dialami oleh pemuda Desa Bara.

    Berkaitan dengan kasus tersebut, Habib juga sampai memposting ungkapan keresahan lewat akun Facebook. Dari postingan tersebut menuai banyak komentar netizen (terutama netizen berasal dari Desa Bara) yang menuntut agar permasalahan tersebut segera ditindaklanjuti.

    "Assalamualaikum. Apa kabar rekan-rekan yang mengajukan proposal fiktif terkait kegiatan penyuluhan pernikahan dini di Desa bara? Dan setelah dana kegiatan itu cair pada kabur kemana panitia pelaksana yang mengadakan dan menginisiasi kegiatan tersebut? Dan ujung-ujungnnya pihak Pemdes yang repot membuat kegiatan tersebut tanpa muncul batang congkak hidung yang katannya panitia pelaksana. Hallo Pemdes Bara, tolong tanggapi kefiktifan kegiatan yang menggunakan uang rakyat tanpa ada realisasi yang jelas. Hallo kesetaraan dan keadilan," celoteh Habib melalui postingan tersebut.

    Setelah postingan tersebut, ragam komentar pun bermunculan. Beberapa diataranya seperti kutipan dibawah ini.

    "Wajib di bongkar. Biar ndak ada lagi yang sok suci, kritik orang tapi sama juga," komentar Lam Faiks.

    "Kita harus mempertanyakan kepada yang terhormat panitia pelaksana terpaksa saya hormati mereka," ucap Naga Dou Bara.

    Sebagai upaya inisiatif baik terkait pemecahan persoalan tersebut, kata Habib, dalam waktu dekat akan dimusyawarakan dengan Pemdes setempat. "Senin mau kita angkat laporan ke desa para panitia tersebut. Jika tidak menemukan titik terang melalui tahap musyawarah, kita masukkan keranah peradilan," sebut Habib. (PEWARTAnews)



    Potensi Ekonomi Islam yang Tak Tergali di Daerah Mbojo

    Ibrahim.
    PEWARTAnews.com -- Sebuah upaya mengupas Mbojo. Mendengar sebutan Mbojo, berarti ini bermakna sebuah suku yang terletak di wilayah timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Wilayah Mbojo terdiri dari tiga wilayah administratif, yakni Kabupaten Bima, Kota Bima serta Kabupaten Dompu. Penulis memandang, dewasa ini di wilayah Mbojo kehilangan arah pembangunan dan jati diri sebagai daerah yang pernah berjaya dibawah kekuasaan kesultanan yang kental dengan keislamannya. Kondisi keislaman di daerah Mbojo tak perlu diragukan lagi, mayoritas masyarakatnya beragama Islam, falsafah Islam baik itu warisan tutur kata maupun simbol-simbol Islam masih ditemukan di daerah tersebut.

    Masa lampau, seorang ulama besar Buya Hamka pernah bekunjung ke dana Mbojo, “Kalau mau belajar Islam belajarlah di dana Mbojo,” begitu respon beliau setelah melihat kondisi keislaman yang terjadi di dana Mbojo. Sulit (tidak mudah) seorang ulama besar yang pernah menjabat sebagai Ketua MUI mengatakan hal demikian. Bila tak ada fakta yang menakjubkan dibalik itu semua. Lambang kesultanan Burung Garuda yang memiliki dua kepala yang menengok ke kanan dan kiri di kesultanan Bima menegaskan bahwa Mbojo memiliki tradisi hukum agama (syariat Islam) dan hukum adat sebagai acuan kehidupannya sehari-hari, baik sebagai individu, kelompok, maupun pemerintahan.

    Namun ketika era kesultan berakhir digantikan dengan era otonomi daerah sekarang. Mbojo seolah kehilangan kiblat arah pembangunan. kemiskinan dan kualitas pembanunan manusia masih tertinggal jauh. Ini momok mematikan yang berefek terhadap persoalan konflik antara desa, kriminalitas penjarahan dan pencuriah di daerah Mbojo meningkat. Padahal budaya rimpu, tutur kata dan falsafah Islam masih kental dan hidup ditengah-tengah masyarakat, namun akibat tergerus oleh era modernisasi serta inviltrasi budaya sekuler barat sehingga falsafah Islam tidak merasuk dalam tingkah laku keseharian serta arah pembangunan daerah Mbojo sendiri.

    Dana Mbojo, selain Islam masih banyak pesantren-pesantren di desa-desa bahkan di kota sebagai tiang dan lentera yang mengenalkan Islam pada dou Mbojo (orang Mbojo). Nilai-nilai selain Islam masih dianggap tabu. Potensi itu tidak tergali dari rancang bangunan pembangunan ekonomi dana Mbojo. Pemerintah lebih cenderung mengenjot potensi pengembangan ekonomi yang cenderung mengesampingkan aspek spritualitas, budaya, sosial dan etika. Sehingga paradigma memaksimalkan potensi ekonomi dipaksakan ekonomi ribawi (berbasis bunga) serta ekonomi eksploitasi alam masih membudaya ditengah-tengah masyarakat Mbojo. Oriantasi kebijakan itu pun tak menuai hasil menciptakan kesejahteraan dana Mbojo.

    Data menunjukkan bahwa kemiskinan di dana Mbojo masih banyak. Pertumbuhan ekonomi dana Mbojo masih rendah serta kualitas SDM-nya masih minim. Data yang dirilis oleh Bappenas tahun 2014 menggambarkan bahwa indeks pembangunan desa terendah di NTB yaitu di Kabupaten Bima 60.04 dari sekian kota dan kabupaten di NTB.

    Idealnya dana Mbojo harus kembali berkaca pada era kesultanan sebagai bencmark (percontohan) dalam merancang arah pembangunan daerahnya. Dana Mbojo bisa berkembang dan maju dengan mamasukkan pontesi spiritual Islam dalam merancang pembangunan daerah, baik itu pada aspek ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan. Keberpihakan terhadap Islam adalah contoh kesuksesan yang luar biasa pernah terjadi di dana Mbojo pada era kesultanan.

    Bila kita melihat perkembangan Islam, kini bukan lagi sebagai agama ritual semata yang memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat. Agama Islam bukan hanya mengurusi urusah akhirat saja, tapi lebih dari itu. Islam mengatur manusia dalam rangka memakmurkan bumi agar tercapai kemaslahatan dan kebaikkan manusia di bumi ini (rahmat bagi seluruh alam). Islam adalah agama pari purna yang bisa masuk kedalam semua lini. Baik itu lini ekonomi, politik, pendidikan, sosial dan budaya.

    NTB dikenal dengan icon daerah yang menginisiasi penggerak ekonomi Islam “pariwisata syariah, hotel syariah, industry syariah bahkan pengkonversian bank umum NTB dari yang menjalankan aktifitas bunga kini menjadi aktifitas sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. NTB dibeberapa event baik nasional maupun internasional mendapatkan penghargaan terhadap konsen pembangunan ekonomi yang berbasis  prinsip-prinsip Islam.

    Isu ekonomi syariah di NTB tak semuanya bisa berkembang dan terdistribusi merata, seolah ada ketimpangan pembangunan serta respon kebijakan yang lambat khususnya di Pulau Sumbawa. Wilayah NTB sendiri memiliki dua pulau besar, pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, namun isu ekonomi Islam tidak begitu berkembang di Pulau Sumbawa khusus di wilayah Mbojo (Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu).

    Perkembangan industri syariah masih sedikit,  Bank Syariah, Koperasi Syariah, pariwisata syariah, hotel syariah, industri halal, ZISWAF (zakat, Infak, Shodaqoh dan Wakaf) masih sedikit dan belum tergali dengan maksimal khususnya di wilayah Mbojo

    Banyak sebab yang membuat hal demikian seperti yang tergambar diatas, mulai dari kebijakan pemerintah yang kurang respon terhadap perkembangan ekonomi Islam. Padahal Mbojo memiliki peluang yang besar untuk pengembangan ekonomi Islam. Disana masih didominasi mayoritas penduduknya beragama Islam, ulama serta pesantren masih banyak, potensi alam yang melimpah, pariwisata alam yang indah, serta budaya Islam yang masih kental, entah itu rimpu serta wisata religious kesultanan serta perkembangan sejarah Islam di dana Mbojo masih memiliki nilai jual dalam rangka memaksimalkan pendapatan daerah dan potensi ekonomi lokal.

    Pemerintah Mbojo harus mengambil peran dalam pengembangan ekonomi Islam di dana Mbojo. Prospek ekonomi Islam akan terus berkembang kedepan. Ekonomi Islam telah terbukti memberikan kebaikan dan kemaslahatan ditengah masyarakat. Pemerintah harus membuat kebijakan yang berpihak terhadap perkembangan ekonomi Islam, mengembangkan SDM yang memiliki jiwa interpreneur Islam.

    Literasi Islam harus dikembangkan entah itu opini publik, kajian, penelitian harus terus digenjot dalam rangka menciptakan opini ekonomi Islam di dana Mbojo. Pengembangan pariwisata syariah serta inklusi keuangan harus masif di dana mbojo (BMT Syariah-Koperasi Syariah) bahkan Perbankan Syariah dalam rangka menyuplai dana ke UMKM-UMKM maupun industri kecil di dana Mbojo. Potensi zakat, infak, shodaqoh serta wakaf harus dikembangkan dalam rangka memberdayakan masyarakat setempat. Dengan pendekatan pembangunan ekonomi yang berbasis nilai spiritualitas bukan tidak mungkin dana Mbojo akan bisa berkembang dan maju.


    Penulis: Ibrahim
    Pusat Studi Mahasiawa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta / Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan Anak Bangsa

    Ilham.
    PEWARTAnews.com -- Pendidikan merupakan sarana prasara untuk membimbing anak didik menuju masa depannya. Pendidik tidak mungkin membuat masa depan anak didiknya, namun mereka hanya mampu mengarahkan anak didik untuk melihat kemana arah masa depannya. Anak didik perlu melihat sendiri, menganalisis, kemudian mencoba untuk membuat rancangan menuju arah yang mereka lihat. Dengan demikian, anak akan mempunyai nalar dan daya imajinasi yang didasarkan pada pandangan mereka dan kemampuan olah pikirnya.

    Pendidikan untuk masa depan anak, bukan untuk masa depan generasi kini. Masa depan anak belum terbentuk, dan akan terbentuk seiring perkembangan zaman (perkembangan ilmu, teknologi, dan seni). Setiap anak akan menuju masa depan dengan kemampuan masing-masing. Siapa yang dapat memanfaatkan dengan berpijak pada kemampuannya adalah yang memungkinkan dapat meraih/mencapai kesuksesan. Demikian pula sebaliknya, siapa yang tidak dapat memanfaatkan kesempatan dengan memanfaatkan kemampuannya akan terbelenggu dengan kemampuannya. Sehingga, pendidikan pada dasarnya hanyalah melatih anak untuk dapat mengembangkan serta memanfaatkan kemampuannya untuk mencapai kesuksesaan hidupnya.

    Pendidikan sebagai suatu investasi masa depan bagi anak untuk kemajuan suatu bangsa, tidak hanya sekedar dinikmati dan didapatkan dalam kesempatan alakadarnya untuk bisa baca-tulis-hitung sebagai suatu pemerataan. Pendidikan yang didapatkan dan dinikmati itu, haruslah pendidikan yang berkualitas dan memiliki keunggulan, sehingga menjadi bekal hidup dalam menghadapi tantangan gelobal yang keras dan kompetitif. Oleh karenanya pendidikan harus punya arah yang jelas dan substansinya tegas sebagai pembentukan karakter anak dalam menghadapi tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks kejelasan arah suatu pendidikan akan dapat membawa peserta didik kepada kondisi tentang keseluruhan potensi yang dimilikinya.


    Keseluruhan potensi peserta didik harus menjadi titik tumpu dalam arah pendidik yang dikembangkan. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menjadi manusia sebagai alat produksi, sebagaimana konsep kapitalis, untuk penguasaan iptek demi kelangsungan higemoni kekuasaan. Melainkan pendidikan harus dibawa kepada proses pembentukan manusia seutuhnya, sebagaimana dikatakan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani “Pemerintah berupaya agar warga bangsa mendapat pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh Indonesia, sehingga ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat diwujudkan," sebagaimana diwartakan tribunnew.com. Hal ini sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), adalah memiliki tujuan utama mencerdaskan kehidupan berbangsa yang diikuti dengan peningkatan iman dan takwa serta pembinaan akhlak mulia para peserta didik yang dalam hal ini adalah seluruh warga negara yang mengikuti proses pendidikan di Indonesia. Jadi, pendidikan harus bersifat menyeluruh dan imbang antara lahir batin.

    Selaras dengan itu dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), juga menegaskan kembali fungsi dan tujuan pendidikan nasional. “Pada Pasal 3 UU Sisdiknas ditegaskan bahwa, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Amanat UU ini mengisyaratkan pada kita semua akan tanggung jawab dalam mendidik anak bangsa ke arah yang lebih baik untuk menata masa depannya yang lebih cerah.

    Investasi di bidang pendidikan merupakan suatu bentuk jaminan masa depan anak bangsa yang lebih baik. Memang tidak dapat secara langsung mengubah masa depan anak bangsa. Tentunya hal ini merupakan proses yang membutuhkan kesabaran dan keuletan sehingga mampu menciptakan insan-insan bangsa yang intelektual. Pendidikan bukan hanya sebagai sebuah bonafiditas tetapi di balik itu pendidikan menyimpan suatu kekayaan intelektual yang memiliki nilai yang tak terhingga. Singkatnya pendidikan adalah sebagai investasi jangka panjang yang harus menjadi pilihan utama bagi anak bangsa dan negara.

    Seperti yang di kutip oleh Penulis dalam bukunya (Tilaar 1999), kemajuan suatu bangsa ditandai dengan majunya kesempatan memperoleh pendidikan yang luas dan berkualitas bagi masyarakatnya. Pendidikan yang berkualitas dan dinikmati secara luas oleh setiap anggota masyarakat bangsa itu, termasuk anak usia dini merupakan usaha bangsa itu untuk memperoleh kualitas dirinya. Dengan kualitas diri yang diperoleh lewat pendidikan, maka bangsa itu akan sanggup hidup secara tangguh dalam masyarakat dunia yang ditandai dengan kehidupan yang penuh dengan tantangan dan kompetisi secara ketat. Singkatnya pendidikan yang memanusiakan manusia sejatinya merupakan jembatan emas untuk anak bangsa dalam meraih masa depannya.


    Penulis: Ilham
    Pusat Studi Mahasiawa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta / Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Bantuan Dukun

    Nurwahidah Saleh.
    PEWARTAnews.com -- Pukul 03.00 Wita, angin tertiup kencang disertai petir, jendela kamar terdengar bergemetar. Mataku masih terbuka lebar. Entah apa yang terjadi malam ini. Baru kali ini gelisah dan ketakutan. Memang kuakui malam ini adalah malam yang aneh.

    Genting berbunyi tak beraturan di goyang angin. Telingaku mulai bengkak  mendengarnya. Aku semakin berfikir tak karuan, khawatir jika tsunami terjadi di saat jauh dari orang tua. "Tuhan, apa yang mesti kulakukan," gumamku.

    Aku berusaha menenangkan diri dari kepanikan, sembari berdzikir, bola mata mulai berkeliaran memotret isi kamar yang berukuran 4x7 meter. Ini persis di film horor. Sial, kenapa mesti terjadi, kukira ini hanya mimpi. Kucubit pipi kanan, terasa sakit, benar bukan mimpi tapi nyata.

    Aku menarik napas panjang lalu menelan ludah. Lampu mulai padam. Tangan kanan berusaha mencari hape samsung yang kutaruh di meja. Aku mencari cahaya dengan pertolongan hape itu. Tapi tidak bisa menemukanya.

    Keringat dingin mulai berjatuhan di pipi.

    Tok tok, suara orang mengetuk pintu kamarku.

    Aku memilih diam tidak bergerak.

    "Siapa yang mengetuk pintu kamar," batinku.

    Air bening jatuh per satu membasahi  bantal warna biru.  Mulut terbuka tapi tidak bersuara.

    Tiba-tiba lampu kamar sudah menyala, adzan subuh terdengar nyaring di setiap menara Masjid. Aku sedikit lega, karena beberapa jam lagi matahari akan datang menyapu ketakutanku saat ini.

    Aku memberanikan diri ke kamar mandi untuk  berudwudhu. Lalu menjalankan kewajiban.

    Usai shalat, kubuang tubuh di ranjang kayu, berusaha menutup bola mata, tapi kegelisahan masih berlanjut, aku bisa mendengar detakan jantung pelan sekali. Hingga matahari mulai terlihat jelas memantul di jendala kamar. Sinarnya sudah nampak tapi rasa takut dengan peristiwa semalam masih membayang.

    Kuputuskan angkat bokong lalu kembali mencari hape di meja. Kubuka whatshapp dan mengirim pesan pada ustaz.

    "Assalamualaikum ustaz Arif, maaf menganggu, mau bilang bahwa ada kejadian aneh yang terjadi padaku. Semalam gelisah, padam lampu dan ada suara ketukan dipintu kamar. Saat ini badanku terasa loyo persis  prajurit pulang dari perang," kataku via WhatsApp.

    "Walaikumsalam dek. Kalau seperti itu, kamu ada gangguan jin. Perlu di ruqyah," jawabnya singkat di pesan WhatsApp.

    Membaca itu, aku langsung melempar hape ke ranjang. Kesal dan marah pada jin yang kurang ajar. Tega mengganggu padahal aku tidak menganggu kehidupan mereka.

    Pukul 15.00 Wita. Aku menuju parkiran motor, rencana akan ke rumah ustaz untuk di ruqyah.

    " Mau kemana Rina," kata  tetangga kamar, Desmi sambari mengambil jemuran.

    Aku langsung mendekatinya.

    "Desmi, semalam kamu bisa tidur nggak?," kataku penasaran.

    "Bisa kak, nyenyak malah tidurnya," jawabnya.

    "Oh gitu. Oke deh aku pergi dulu ya," kataku.

    Desmi hanya menyerengai dan menaikkan alis kiri.

    Aku memilih  menutup mulut dan tidak menceritakan apa yang menimpa padaku.  Khawatir Desmi takut dan pindah kosan.

    Beberapa menit mengendarai roda dua, aku sudah sampai di pintu rumah ustaz Arif.

    "Assalamualaikum," kataku sambari mengetuk pintu.

    "Walaikumsalam, iya dek silahkan masuk," kata ustaz, menyambutku dengan senyum lebar lalu mempersilahkan masuk untuk diruqyah.

    Usai diruqyah, badanku terasa pegal dan kepala puyeng.

    "Intinya, kamu harus rutin diruqyah, perbanyak istighfar kepada Allah SWT, kurangi maksiat dan jangan pacaran. Jodoh itu sudah diatur," katanya sembari menyodorkan segelas air berisi  bidara.

    Mendengar jawaban itu, hatiku terasa babak belur, sakit. Saat mendengar kalimat jangan pacaran. Ya Allah, mungkin ini pertanda agar segera hijrah sebab selama ini banyak kekufuran pernah kulalui. Apalagi saat ini punya kekasih di Jakarta. Apakah harus bubar dengannya. Batinku.

    "Terima kasih ustaz. Kalau begitu aku pulang dulu," kataku sambil menaruh gelas di meja.

    "Tunggu! Ini serbuk bidara, jangan lupa  diminum ya," katanya.

    Aku mengangguk lalu naik di motor.

    Tiba di kosan. Aku langsung membuka minuman bidara lalu campur dengar air hangat. Kuteguk dengan pelan, sangat pahit.

    Sinar matahari mulai lenyap dikoyak petang, beberapa menit lagi bulan akan nampak di Cakrawala.

    Aku menarik napas pendek, sambari mengunyah roti dan segelas susu coklat.  Semoga saja malam ini bisa tidur dengan nyenyak.

    Pukul 24.00 Wita. Aku mengambil selimut sambari berdzikir. Memutar badan ke kiri, masih seperti kemarin malam gelisah dan  keringat dingin lalu mencoba menutup kelopak mata, memikirikan hal yang indah. Semoga saja dengan ini langsung tidur. Nyatanya tidak bisa. Kuputuskan untuk ambil novel karya Novellina A.

    Kubuka halaman 23. Melanjutkan  membaca  kisah dua orang sahabat  yang mencintai lelaki yang sama. Beberapa menit kemudian adzan subuh kembali terdengar. Aku menutup novel lalu ke kamar mandi.

    Hari ini adalah hari Senin, aku tidak ada rencana untuk berkantor. Langsung kukirim pesan WhatsApp kepada atasan bahwa aku tidak enak badan.

    Waktu telah berlalu hingga sudah sepekan tidak bisa tidur nyenyak. Padahal sudah di ruqyah. Untung kesabaranku masih ada dan memilih berobat ke dokter praktik.

    Setiba di tempat praktik yang tidak jauh dari kosan, aku duduk loyo mengantre menunggu panggilan.

    Aku di urutan ke 13. Aduh memang menunggu itu tidak menyenangkan bagi orang yang punya kesabaran sedikit. Beberapa jam kemudian namaku dipanggil oleh salah satu perawat perempuan yang berbadan kurus.

    Aku langsung masuk di ruangan dokter dan bercerita keluhan bahwa tidak bisa tidur sudah sepakan, gelisah.

    "Sering main android ya, "kata dokter itu, yang tidak kutahu persis namanya. Ia menulis di resep obat.

    Aku hanya mengangguk. Lalu ia menyodorkan resep alprazolam 0,5, lalu menyuruh untuk tebus di apotik.

    Ya Allah, berjam-jam aku menunggu untuk diperiksa malah hanya di kasih resep dokter.  Aku mulai kesal dan memilih untuk mencari obat di apotik.

    Namun tidak ada satupun apotik yang memberikan obat tersebut, katanya kosong.

    Aku berusaha sabar menghadapinya, memilih keperpustaan. Tiba di rak buku lalu mengambil satu per satu cerpen dan novel sebagai koleksi bacaan minggu ini.

    "Hey sudah lama kamu di sini," suara tidak asing lagi di kupingnku.

    Aku menoleh ke kanan dan  ternyata Iwan. Iwan adalah lelaki yang kuanggap sebagai sehabat. Ia kutemukan di sini dirantau. Iwan juga suka membaca bahkan sudah ada novelnya telah terbit. Makanya aku senang bergaul dengannya sebab bisa berguru bagaiamana tehnik menulis .

    Iwan mengajakku mendengarkan ceritanya  mulai dari pengalamannya berliburan di Toraja. Aku hanya mengangguk bahagia, sesekali tertawa.

    Dari jarak satu meter terlihat kursi di depanku.  Kami langsung duduk di sana.

    "Sudah selesai bicaranya," kataku lemas.

    "Sudah donk, kenapa sih kamu kelihatan tidak bersemangat hari ini, wajahmu juga sudah pucat. Ayolah cerita," bujuknya.

    Sebagai sahabat sekaligus sudah kuanggap sebagai kakak di rantau maka kupilih menceritakan semunya.

    "Aku sudah lelah menghadapi ini semua, mulai dari berobat yang belum ada hasil hingga, merasa mulai frustasi," kataku menahan isak.

    "Kamu yang sabar ya Rina, intinya perbanyak istighfar kepada Allah SWT, jika nanti malam kamu tidak bisa tidur, hubungi saja aku. Biar kutelepon lalu berpuisi," kata Iwan.

    Aku hanya mengangguk.

    Usai jumpa dengan Iwan. Aku langsung pulang dikosan dan mengeluarkan buku koleksi dari tas. Aku mengambil novel  berjudul pulang dipangkuanmu. Rasa penasaran membacanya akhirnya kubuka halaman pertama.

    Tak terasa aku sudah memasuki halaman ke sepuluh. Novel ini menceritakan seorang perempuan kena santet hingga  menutup usia.

    Aku mulai khawatir jika kisah di novel ini akan sama persis apa yang kurasan. Khawatir jika aku menutup usia karena gangguan jin.

    Memasuki halaman  ke dua puluh, di novel ini, gadis berumur 20 tahun mulai sakit-sakitan, badannya pun tampak kurus. Orang tuanya sudah melakukan banyak cara dengan pengobatan untuk kesembuhan putrinya. Mulai dari berobat ke dokter, hingga ke dukun.

    Aku langsung menutup novel  dan memikirkan apakah ini petunjuk harus pergi ke orang pintar? Aku membatin.

    @@@

    Pagi ini, aku sudah siap-siap ke dukun. Untung saja aku mengetahui alamat rumahnya. Meski lokasinya masuk pedesaan, tapi  tetap antuasias, demi dapat kesembuhan.

    Tiba di depan rumah dukun itu, badanku terasa mengigil dan sedikit khawatir.

    "Ada yang bisa di bantu," suara nenek memegan tongkat, membuyarkan konsentrasiku.

    "Iya nek, apa benar ini rumah orang pintar?," tanyaku.

    "Tentu benar. Aku sendiri orangnya. Ayo masuk," katanya.

    Aku hanya mengangguk pasrah.

    Tiba ruang tamu, aku memilih duduk melantai. Lalu merekam pernak-pernik yang terpajang di tembok.

    "Sudah berapa hari kamu tidak bisa tidur," nenek itu membuka dialog.

    Aku langsung kaget, kenapa ia tahu sebelum kuceritakan yang terjadi.

    "Sudah sepekan nek, tolong dibantu," jawabku penuh harap padanya.

    Nenek itu langsung menuangkan air putih ke gelas plastik sambari membacakan sesuatu.

    "Ayo minum ini," katanya.

    Aku mengangguk.

    Selanjutnya, nenek ini menuangkan lagi air putih ke dalam aqua botol. Masih seperti yang tadi. Membacakan sesuatu. Tapi aku tidak mengerti apa yang ia baca.

    "Ini rutin kamu minum sebelum tidur. Minggu depan kamu ke sini lagi ya!," katanya.

    "Ia Nek," kataku sambari menyodorkan amplop kepadanya dan pamit pulang.

    Apa yang diperintahkan nenek itu. Telah kulakukan. Ternyata benar, aku bisa tidur nyenyak.

    @@@

    Hari ini hari Minggu, tidak piknik dan memilih  keperpustakaan.

    Aku sudah memilih satu cerpen. Lalu menuju kursi.

    "Hey Rina, apa kabar?," kata Iwan menyapaku.

    "Alhamdulillah baik, aku mau ngomong susuatu sama kamu," kataku.

    Iwan menaikkan alis kiri lalu menyerangai.

    "Aku cukup lega, karena bantuan dukun. Ya sudah bisa tidur. Tentu aku tidak perlu lagi keliling apotik nyari obat tidur dan pulang pergi diruqyah," kataku penuh semangat.

    "Apa!," nada Iwan terdengar shok.

    "Istighfar Rina. Kamu tidak sadar bahwa apa yang telah dilakukan itu salah," kata Iwan.

    Aku memasang raut bingung.

    "Kamu meminta kesembuhan pada orang pintar. Ya tentu itu tidak boleh meminta bantuan selain Allah SWT," ujar Iwan, wajahnya merah.

    Mendengar itu, bola mataku rasanya mau copot satu per satu ke meja. Memang kuakui bahwa apa yang telah kulakukan adalah salah.
    Aku menunduk menahan isak.

    "Lalu apa yang mesti kulakukan Iwan? Dari kecil aku sudah dibina oleh orang tua, untuk shalat dan menjalankan sunnah rasul. Tapi nyatanya, aqidah sudah goyah," kataku gemetar.

    "Sudahlah Rina, jangan menangis didepanku tapi menangislah di depan Allah. Segeralah bertaubat," kata Iwan.

    "Aku sungguh menyesal," kataku.

    @@@

    Penulis: Nurwahidah Saleh
    Perempuan asal Bulukumba, Sulawesi Selatan yang telah menerbitkan Novel "Oleh Sebab Perjanjian Kakekmu"

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website