Headlines News :
Home » , » Amanah

Amanah

Written By Pewarta News on Senin, 28 Januari 2019 | 05.15

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
PEWARTAnews.com – Amanah pada hakekatnya merupakan suatu yang sangat berat, karena langit, bumi dan gunung dengan gagah perkasanya tak sanggup terima amanah dari Allah swt. Hebatnya manusia di antara makhluk-makhluk yang memberanikan diri terima amanah dari Allah swt. Akibat dari langkahnya itulah manusia mendapat sebutan makhluk dholim dan bodoh, karena nekad menerima dan mempertanggungjawabkan amanah yang sangat berat. Sebutan itu menjadi benar jika kita tidak bisa tunaikan amanah, namun jika kita bisa jalani amanah dengan baik dan benar, maka kita justru menjadi smart dan jauh lebih mulia daripada malaikat.

Amanah pada hakekatnya bisa berupa anak, harta, jabatan, dan ilmu. Amanah anak, bagaimana kita mendidik dan menjadikan anak sebagai insan yang taat kepada Tuhannya, berbakti kepada kedua orangtua dan selalu mendoakannya dan mengantarkan anak membangun rumah tangga. Karena itu tidak cukup kita mengasuh dan mendidik anak dengan serahkan anak kita ke seseorang atau institusi lain walau profesional. Sekalipun hal ini dilakukan sebagai akibat dari kesibukan. Orangtua tetap wajib ambil bagian dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Amanah harta, bagaimana kita memperoleh harta dengan cara yang baik dan tidak menghalalkan segala cara, menjaga dan membersihkannya dari riba serta menggunakannya untuk kebaikan dan diamalkan untuk yang berhak dan membutuhkannya. Namun ada juga orang yang tidak mau peduli tentang harta, bagaimana mendapatkan, menjaga dan menggunakannya. Kondisi yang demikian bisa menjadikan harta yang mestinya bisa membahagiakan, namun sebaliknya berakibat menyengsarakan.

Amanah jabatan, bagaimana mengemban dan memangku amanah jabatan secara benar perlu terus diupayakan, bagaimana menegakkan keadilan dan tidak ada diskriminasi layanan tehadap bawahan atau warganya, bagaimana lebih utamakan melayani daripada dilayani, dan sebagainya. Demikian pula tidak aji mumpung sebagai pejabat, sehingga kental dengan perilaku KKN, yang berakibat pada penggunanaan fasilitas di luar haknya. Ingat, bahwa jabatan itu menjadikan mulia, jika pemangku jabatan itu tetap humble, tidak arogan, utamakan kewajiban daripada hak, dan transparan. Sebaliknya, bahwa jika amanah jabatan tidak dijalani dengan benar, maka berakhir dengan malapetaka.

Amanah ilmu, bagaimana kita memperoleh ilmu dan mengamalkannya. Ilmu itu suci, oleh karenanya cara memperolehnya mestinya dengan cara yang suci dan benar, tidak boleh melakukan kecurangan, cheating, atau plagiasi. Bagi yang berilmu, wajib mengamalkannya yang tidak didasarkan pertimbangan bisnis,sehingga tetap terjaga marwahnya untuk memberikan pencerahan (al ‘ilmu nuurun) bagi orang lain sebagai misi utamanya. Dengan mengamalkan ilmu secara benar, insya Allah akan naik derajatnya.

Kita ingat bahwa setiap amanah menuntut pertanggungjawaban. Idealnya pertanggungjawaban bisa dilakukan secepat mungkin, paling tidak sebelum ruh kita dipanggil. Jika kita bisa laksanakan amanah di bumi sebagai pribadi dan khalifah di atas bumi dengan benar, maka kemuliaan kita tetap terjaga, namun sebaliknya apabila kita tidak lakukan amanah dengan baik, maka hidup kita menjadi hina dengan sendirinya.


Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website