Headlines News :
Home » » Bantuan Dukun

Bantuan Dukun

Written By Pewarta News on Kamis, 17 Januari 2019 | 17.30

Nurwahidah Saleh.
PEWARTAnews.com -- Pukul 03.00 Wita, angin tertiup kencang disertai petir, jendela kamar terdengar bergemetar. Mataku masih terbuka lebar. Entah apa yang terjadi malam ini. Baru kali ini gelisah dan ketakutan. Memang kuakui malam ini adalah malam yang aneh.

Genting berbunyi tak beraturan di goyang angin. Telingaku mulai bengkak  mendengarnya. Aku semakin berfikir tak karuan, khawatir jika tsunami terjadi di saat jauh dari orang tua. "Tuhan, apa yang mesti kulakukan," gumamku.

Aku berusaha menenangkan diri dari kepanikan, sembari berdzikir, bola mata mulai berkeliaran memotret isi kamar yang berukuran 4x7 meter. Ini persis di film horor. Sial, kenapa mesti terjadi, kukira ini hanya mimpi. Kucubit pipi kanan, terasa sakit, benar bukan mimpi tapi nyata.

Aku menarik napas panjang lalu menelan ludah. Lampu mulai padam. Tangan kanan berusaha mencari hape samsung yang kutaruh di meja. Aku mencari cahaya dengan pertolongan hape itu. Tapi tidak bisa menemukanya.

Keringat dingin mulai berjatuhan di pipi.

Tok tok, suara orang mengetuk pintu kamarku.

Aku memilih diam tidak bergerak.

"Siapa yang mengetuk pintu kamar," batinku.

Air bening jatuh per satu membasahi  bantal warna biru.  Mulut terbuka tapi tidak bersuara.

Tiba-tiba lampu kamar sudah menyala, adzan subuh terdengar nyaring di setiap menara Masjid. Aku sedikit lega, karena beberapa jam lagi matahari akan datang menyapu ketakutanku saat ini.

Aku memberanikan diri ke kamar mandi untuk  berudwudhu. Lalu menjalankan kewajiban.

Usai shalat, kubuang tubuh di ranjang kayu, berusaha menutup bola mata, tapi kegelisahan masih berlanjut, aku bisa mendengar detakan jantung pelan sekali. Hingga matahari mulai terlihat jelas memantul di jendala kamar. Sinarnya sudah nampak tapi rasa takut dengan peristiwa semalam masih membayang.

Kuputuskan angkat bokong lalu kembali mencari hape di meja. Kubuka whatshapp dan mengirim pesan pada ustaz.

"Assalamualaikum ustaz Arif, maaf menganggu, mau bilang bahwa ada kejadian aneh yang terjadi padaku. Semalam gelisah, padam lampu dan ada suara ketukan dipintu kamar. Saat ini badanku terasa loyo persis  prajurit pulang dari perang," kataku via WhatsApp.

"Walaikumsalam dek. Kalau seperti itu, kamu ada gangguan jin. Perlu di ruqyah," jawabnya singkat di pesan WhatsApp.

Membaca itu, aku langsung melempar hape ke ranjang. Kesal dan marah pada jin yang kurang ajar. Tega mengganggu padahal aku tidak menganggu kehidupan mereka.

Pukul 15.00 Wita. Aku menuju parkiran motor, rencana akan ke rumah ustaz untuk di ruqyah.

" Mau kemana Rina," kata  tetangga kamar, Desmi sambari mengambil jemuran.

Aku langsung mendekatinya.

"Desmi, semalam kamu bisa tidur nggak?," kataku penasaran.

"Bisa kak, nyenyak malah tidurnya," jawabnya.

"Oh gitu. Oke deh aku pergi dulu ya," kataku.

Desmi hanya menyerengai dan menaikkan alis kiri.

Aku memilih  menutup mulut dan tidak menceritakan apa yang menimpa padaku.  Khawatir Desmi takut dan pindah kosan.

Beberapa menit mengendarai roda dua, aku sudah sampai di pintu rumah ustaz Arif.

"Assalamualaikum," kataku sambari mengetuk pintu.

"Walaikumsalam, iya dek silahkan masuk," kata ustaz, menyambutku dengan senyum lebar lalu mempersilahkan masuk untuk diruqyah.

Usai diruqyah, badanku terasa pegal dan kepala puyeng.

"Intinya, kamu harus rutin diruqyah, perbanyak istighfar kepada Allah SWT, kurangi maksiat dan jangan pacaran. Jodoh itu sudah diatur," katanya sembari menyodorkan segelas air berisi  bidara.

Mendengar jawaban itu, hatiku terasa babak belur, sakit. Saat mendengar kalimat jangan pacaran. Ya Allah, mungkin ini pertanda agar segera hijrah sebab selama ini banyak kekufuran pernah kulalui. Apalagi saat ini punya kekasih di Jakarta. Apakah harus bubar dengannya. Batinku.

"Terima kasih ustaz. Kalau begitu aku pulang dulu," kataku sambil menaruh gelas di meja.

"Tunggu! Ini serbuk bidara, jangan lupa  diminum ya," katanya.

Aku mengangguk lalu naik di motor.

Tiba di kosan. Aku langsung membuka minuman bidara lalu campur dengar air hangat. Kuteguk dengan pelan, sangat pahit.

Sinar matahari mulai lenyap dikoyak petang, beberapa menit lagi bulan akan nampak di Cakrawala.

Aku menarik napas pendek, sambari mengunyah roti dan segelas susu coklat.  Semoga saja malam ini bisa tidur dengan nyenyak.

Pukul 24.00 Wita. Aku mengambil selimut sambari berdzikir. Memutar badan ke kiri, masih seperti kemarin malam gelisah dan  keringat dingin lalu mencoba menutup kelopak mata, memikirikan hal yang indah. Semoga saja dengan ini langsung tidur. Nyatanya tidak bisa. Kuputuskan untuk ambil novel karya Novellina A.

Kubuka halaman 23. Melanjutkan  membaca  kisah dua orang sahabat  yang mencintai lelaki yang sama. Beberapa menit kemudian adzan subuh kembali terdengar. Aku menutup novel lalu ke kamar mandi.

Hari ini adalah hari Senin, aku tidak ada rencana untuk berkantor. Langsung kukirim pesan WhatsApp kepada atasan bahwa aku tidak enak badan.

Waktu telah berlalu hingga sudah sepekan tidak bisa tidur nyenyak. Padahal sudah di ruqyah. Untung kesabaranku masih ada dan memilih berobat ke dokter praktik.

Setiba di tempat praktik yang tidak jauh dari kosan, aku duduk loyo mengantre menunggu panggilan.

Aku di urutan ke 13. Aduh memang menunggu itu tidak menyenangkan bagi orang yang punya kesabaran sedikit. Beberapa jam kemudian namaku dipanggil oleh salah satu perawat perempuan yang berbadan kurus.

Aku langsung masuk di ruangan dokter dan bercerita keluhan bahwa tidak bisa tidur sudah sepakan, gelisah.

"Sering main android ya, "kata dokter itu, yang tidak kutahu persis namanya. Ia menulis di resep obat.

Aku hanya mengangguk. Lalu ia menyodorkan resep alprazolam 0,5, lalu menyuruh untuk tebus di apotik.

Ya Allah, berjam-jam aku menunggu untuk diperiksa malah hanya di kasih resep dokter.  Aku mulai kesal dan memilih untuk mencari obat di apotik.

Namun tidak ada satupun apotik yang memberikan obat tersebut, katanya kosong.

Aku berusaha sabar menghadapinya, memilih keperpustaan. Tiba di rak buku lalu mengambil satu per satu cerpen dan novel sebagai koleksi bacaan minggu ini.

"Hey sudah lama kamu di sini," suara tidak asing lagi di kupingnku.

Aku menoleh ke kanan dan  ternyata Iwan. Iwan adalah lelaki yang kuanggap sebagai sehabat. Ia kutemukan di sini dirantau. Iwan juga suka membaca bahkan sudah ada novelnya telah terbit. Makanya aku senang bergaul dengannya sebab bisa berguru bagaiamana tehnik menulis .

Iwan mengajakku mendengarkan ceritanya  mulai dari pengalamannya berliburan di Toraja. Aku hanya mengangguk bahagia, sesekali tertawa.

Dari jarak satu meter terlihat kursi di depanku.  Kami langsung duduk di sana.

"Sudah selesai bicaranya," kataku lemas.

"Sudah donk, kenapa sih kamu kelihatan tidak bersemangat hari ini, wajahmu juga sudah pucat. Ayolah cerita," bujuknya.

Sebagai sahabat sekaligus sudah kuanggap sebagai kakak di rantau maka kupilih menceritakan semunya.

"Aku sudah lelah menghadapi ini semua, mulai dari berobat yang belum ada hasil hingga, merasa mulai frustasi," kataku menahan isak.

"Kamu yang sabar ya Rina, intinya perbanyak istighfar kepada Allah SWT, jika nanti malam kamu tidak bisa tidur, hubungi saja aku. Biar kutelepon lalu berpuisi," kata Iwan.

Aku hanya mengangguk.

Usai jumpa dengan Iwan. Aku langsung pulang dikosan dan mengeluarkan buku koleksi dari tas. Aku mengambil novel  berjudul pulang dipangkuanmu. Rasa penasaran membacanya akhirnya kubuka halaman pertama.

Tak terasa aku sudah memasuki halaman ke sepuluh. Novel ini menceritakan seorang perempuan kena santet hingga  menutup usia.

Aku mulai khawatir jika kisah di novel ini akan sama persis apa yang kurasan. Khawatir jika aku menutup usia karena gangguan jin.

Memasuki halaman  ke dua puluh, di novel ini, gadis berumur 20 tahun mulai sakit-sakitan, badannya pun tampak kurus. Orang tuanya sudah melakukan banyak cara dengan pengobatan untuk kesembuhan putrinya. Mulai dari berobat ke dokter, hingga ke dukun.

Aku langsung menutup novel  dan memikirkan apakah ini petunjuk harus pergi ke orang pintar? Aku membatin.

@@@

Pagi ini, aku sudah siap-siap ke dukun. Untung saja aku mengetahui alamat rumahnya. Meski lokasinya masuk pedesaan, tapi  tetap antuasias, demi dapat kesembuhan.

Tiba di depan rumah dukun itu, badanku terasa mengigil dan sedikit khawatir.

"Ada yang bisa di bantu," suara nenek memegan tongkat, membuyarkan konsentrasiku.

"Iya nek, apa benar ini rumah orang pintar?," tanyaku.

"Tentu benar. Aku sendiri orangnya. Ayo masuk," katanya.

Aku hanya mengangguk pasrah.

Tiba ruang tamu, aku memilih duduk melantai. Lalu merekam pernak-pernik yang terpajang di tembok.

"Sudah berapa hari kamu tidak bisa tidur," nenek itu membuka dialog.

Aku langsung kaget, kenapa ia tahu sebelum kuceritakan yang terjadi.

"Sudah sepekan nek, tolong dibantu," jawabku penuh harap padanya.

Nenek itu langsung menuangkan air putih ke gelas plastik sambari membacakan sesuatu.

"Ayo minum ini," katanya.

Aku mengangguk.

Selanjutnya, nenek ini menuangkan lagi air putih ke dalam aqua botol. Masih seperti yang tadi. Membacakan sesuatu. Tapi aku tidak mengerti apa yang ia baca.

"Ini rutin kamu minum sebelum tidur. Minggu depan kamu ke sini lagi ya!," katanya.

"Ia Nek," kataku sambari menyodorkan amplop kepadanya dan pamit pulang.

Apa yang diperintahkan nenek itu. Telah kulakukan. Ternyata benar, aku bisa tidur nyenyak.

@@@

Hari ini hari Minggu, tidak piknik dan memilih  keperpustakaan.

Aku sudah memilih satu cerpen. Lalu menuju kursi.

"Hey Rina, apa kabar?," kata Iwan menyapaku.

"Alhamdulillah baik, aku mau ngomong susuatu sama kamu," kataku.

Iwan menaikkan alis kiri lalu menyerangai.

"Aku cukup lega, karena bantuan dukun. Ya sudah bisa tidur. Tentu aku tidak perlu lagi keliling apotik nyari obat tidur dan pulang pergi diruqyah," kataku penuh semangat.

"Apa!," nada Iwan terdengar shok.

"Istighfar Rina. Kamu tidak sadar bahwa apa yang telah dilakukan itu salah," kata Iwan.

Aku memasang raut bingung.

"Kamu meminta kesembuhan pada orang pintar. Ya tentu itu tidak boleh meminta bantuan selain Allah SWT," ujar Iwan, wajahnya merah.

Mendengar itu, bola mataku rasanya mau copot satu per satu ke meja. Memang kuakui bahwa apa yang telah kulakukan adalah salah.
Aku menunduk menahan isak.

"Lalu apa yang mesti kulakukan Iwan? Dari kecil aku sudah dibina oleh orang tua, untuk shalat dan menjalankan sunnah rasul. Tapi nyatanya, aqidah sudah goyah," kataku gemetar.

"Sudahlah Rina, jangan menangis didepanku tapi menangislah di depan Allah. Segeralah bertaubat," kata Iwan.

"Aku sungguh menyesal," kataku.

@@@

Penulis: Nurwahidah Saleh
Perempuan asal Bulukumba, Sulawesi Selatan yang telah menerbitkan Novel "Oleh Sebab Perjanjian Kakekmu"

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website