Headlines News :
Home » » Cinta yang Tak Direstui

Cinta yang Tak Direstui

Written By Pewarta News on Senin, 21 Januari 2019 | 22.30

Gunawan.
PEWARTAnews.com -- Malam yang begitu indah. Suara jangkrik saling menyahut. Kodok pun saling menyapa, menghibur malam yang begitu sunyi. Bintang-gemintang mengkilap di langit. Bulan pun memandikan cahayanya, menyinari tiap-tiap sudut bumi.

Terlihat seorang perempuan cantik sedang termenung dan memandang keluar jendela rumahnya. Pandangannya ia arahkan ke angkasa, mencoba menatap dan menghitung bintang. Mukanya tampak murung. Ada kesedihan yang begitu mendalam yang terlihat di pelupuk matanya.

Ia tak bisa tidur. Pikirannya hanya berpusat pada sosok lelaki yang ia rindukan. Lelaki yang selalu menemaninya dalam suka dan duka. Lelaki yang menjadi teman curahan hatinya. Lelaki yang selalu hadir dalam kehidupannya, memberikan sejuta warna dan mengubah hidupnya.

Namun, hubungan mereka berdua tak direstui oleh orang tua sang perempuan. Orang tuanya merupakan orang kaya dan terpandang di desanya. Bahkan, menjadi ketua adat setempat. Mereka tak ingin anaknya menjalin hubungan, apalagi sampai menikah dengan pria yang tak disukainya itu. Mereka hanya menginginkan pria yang sempurna bagi sang buah hatinya itu. Beragam usaha dilakukan oleh orang tuanya, agar darah dagingnya yang begitu cantik tersebut tak lagi menjalin kasih dengan lelaki tersebut.

Meski begitu, sang anak tetap tak bisa lepas dari orang yang sudah lama ia kenal. Baginya, jauh dari sang pujaan, apalagi sampai harus melupakannya adalah sesuatu yang tak mungkin ia lakukan. Ia terus saja memadu asmara dengan sang pemuda gagah tersebut. Lelaki yang kesehariannya hanya sebagai montir, namun ia tak pernah lalai kala mendengar azan. Selalu menyempatkan diri untuk salat berjamaah di masjid. Melantunkan ayat suci Alquran di saat malam tiba. Itulah yang membuat perempuan cantik itu terpesona dan jatuh hati padanya.

Akan tetapi, di luar itu, ternyata orang tuanya memang tak menyukai lelaki itu. Lantaran orang yang tak berpunya, apalagi hanya tamatan sekolah menengah atas. Sementara, anak perempuannya adalah sudah menjadi sarjana. Lagi dan lagi, sang ayah tetap mencari cara agar anaknya menjauhi dan melupakan lelaki miskin itu.

Namun, kekuatan cinta memang nyata adanya. Cinta tak memandang status dan jabatan seseorang. Cinta pun tak memandang usia. Jika hati kedua insan telah menyatu, maka akan sulit untuk dipisahkan. Bahkan, dunia dan isinya sudah mereka anggap sebagai miliknya berdua.

Dara cantik yang kerap dipanggil Mawar ini, dalam kesehariannya adalah sebagai tenaga medis/kesehatan di puskesmas setempat. Ia begitu rajin. Juga, sangat disenangi dan dirindukan kehadirannya oleh masyarakat setempat, oleh karena kebaikan hatinya. Masyarakat sekitar pun menyetujui hubungannya dengan Marwan, sang pemuda yang begitu santun tersebut. Apalagi sampai bisa duduk di pelaminan, mereka tentu sangat bersyukur. Sebab, keduanya adalah pasangan yang serasi. Cocok satu sama lain.

Saking cintanya sang perempuan ini, apa pun yang menjadi kebutuhan lelaki sederhana itu, akan ia penuhi. Ia akan membantu sekuat tenaga demi orang yang cintai dan kasihi itu. Tak segan-segan gajinya akan ia kucurkan, berapa pun nominalnya.

Melihat pengorbanan dan ketulusan hati perempuan idamannya itu, suatu waktu, akhirnya Marwan memberanikan diri untuk datang ke rumah orang tua sang dara itu, dengan maksud untuk melamar anak sulungnya itu. Kendati jauh sebelumnya, hubungan mereka berdua memang tak direstui.

Usahanya sepertinya tak mulus. Meskipun ia terus berupaya untuk meyakinkan mereka. Lamarannya pun ditolak mentah-mentah oleh orang tua sang perempuan itu. Mendengar hal demikian, anak gadisnya itu semakin nekat untuk mendekati orang yang begitu dicintainya tersebut. Bahkan, permohonan demi permohonan ia terus lakukan pada orang tuanya, tak juga berbuah manis. Hampa.

Sang lelaki pun tak ingin menjadi buah bibir di lingkungan sekitar, hingga kemudian ia berusaha menasihati kekasihnya itu untuk menjauhinya. Meskipun hatinya sulit untuk melakukan dan menerima hal itu. Namun, mau tidak mau, harus dilakukan. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Sayangku, Mawar, tak ada gunanya hubungan kita ini, jika tak direstui oleh orang tuamu. Tak mungkin aku menikahimu tanpa rida dari kedua orang tuamu. Aku hanya ingin semuanya berjalan dengan normal tanpa ada sedikit pun masalah yang timbul. Jika begini terus, tanpa sedikit pun restu dari orang yang melahirkanmu, lebih baik kita sudahi saja hubungan ini. Memang hal ini tak mudah, baik bagiku maupun bagimu. Jika memang engkau adalah jodohku, maka yakinlah suatu saat kita akan bersatu menjadi pasangan halal sehidup semati. Percayalah pada Ilahi. Semua sudah dicatat oleh Yang Mahakuasa, siapa yang akan menjadi pendamping hidup kita. Itu takkan meleset sedikit pun.”

Mawar tak lagi bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menumpahkan air matanya. Ia begitu kecewa mendengar perkataan sang kekasihnya itu.

“Sudahlah, sayangku. Tak perlu engkau tangisi. Biarlah waktu yang akan menjawab. Jika memang kita berjodoh, maka kita akan berjumpa dan bersatu kembali,” ucapnya sembari berusaha menenangkan dan mengusap air mata kekasihnya itu.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu, mereka berusaha untuk tak saling bertemu. Komunikasi lewat handphone (HP) pun tak lagi seperti biasanya. Sang perempuan hanya bisa murung dan mengunci diri di rumahnya. Makan pun tak lagi teratur, sebab benar-benar tak bisa melupakan sang kekasihnya itu. Hingga akhirnya, kabar pun tiba-tiba muncul dari keluarga sang lelaki. Bahwa, pemuda sederhana tersebut mengalami sakit yang begitu parah, sudah berbulan-bulan lamanya, tanpa sepengetahuan si perempuan atau orang yang sempat singgah di hatinya itu.

Ia pun terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Tak ada lagi pilihan lain. Sebab, obat tradisional tak bisa menyembuhkannya secara total. Mendengar berita tersebut, sang kekasihnya itu pun langsung menjenguknya di rumah sakit, tempat ia merawat.

Sesampainya di rumah sakit, gadis pujaannya itu hanya bisa menatapnya dengan berderai air mata. Karena melihat sang kekasihnya yang berbaring dan badannya semakin kaku, bicaranya terbata-bata.

Beberapa hari setelah dirawat di rumah sakit, lelaki tersebut menghembuskan napas terakhir. Ia kembali ke Sang Pencipta. Sebelumnya, ia sempat menitipkan sepucuk surat pada orang tuanya. Dan, surat tersebut untuk orang yang pernah dicintainya, sang gadis cantik itu.

“Sayangku, maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku padamu. Sekian lama aku kerahkan tenagaku untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi melunakkan hati orang tuamu, kiranya mereka mau menerimaku sebagai pendamping hidupmu. Ke sana kemari aku bekerja, hanya untuk engkau seorang. Aku benar-benar ingin menikahimu. Aku memang sengaja menjauhimu sesaat, hanya untuk memenuhi persyaratan kedua orang tuamu. Orang tuaku adalah orang yang tak berpunya, sayangku. Dan, satu-satunya cara yang bisa kulakukan adalah bekerja dan terus bekerja, apa pun itu, yang penting halal dan bisa menghasilkan uang. Kini, persyaratan orang tuamu dulu telah kupenuhi. Uang tersebut kutitip pada ibuku. Tolong ambillah, dan kasih ke orang tuamu untuk melunasi janjiku padanya.”

Wallahu a’lam.


Penulis: Gunawan
Anak seorang petani. Sang pengembara. Penggiat literasi. Dari Bumi Pajo, Bima NTB.
Share this post :

+ komentar + 1 komentar

21 Januari 2019 23.31

mantap bang

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website