Headlines News :
Home » , » Kompetisi

Kompetisi

Written By Pewarta News on Sabtu, 19 Januari 2019 | 19.16

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Kompetisi adalah fitrah manusia. Sejak proses pembuahan dalam rahim ibu sudah terjadi kompetisi, hanya satu sel sperma dari jutaan yang berhasil membuahi sel telur. Berjuta-juta sel sperma lainnya harus ikhlas menerima kekalahan. Kompetisi yang sehat berlangsung secara sehat, hasilnya juga sehat, dihasilkan anak yang sehat. Tentu kondisi ini memberikan manfaat bagi semua. QS Al Baqarah:148, menyatakan... fastabiqul khairaat... yang artinya berlomba-lombalah untuk meraih kebaikan... Di sini menguatkan bahwa kompetisi menjadi kebutuhan kita untuk eksis dan berkembang. Bahkan dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara kita tidak bida mengabaikan posisi Indonesia dalam Global Index Competitiveness yang menempatkan Indonesis, Thailand, Malaysia, dan Singapura, pada tahun 2018, pada ranking 45, 36, 25, 2, dan pada tahun 2017, pada ranking 36, 32, 23 dan 3. Kita sangat prihatin posisi Indonesia terjun bebas dari ranking 36 menjadi 45. Kita patut prihatin. 

Mengapa dalam konteks tertentu kompetisi dipandang jelek, negatif, merugikan, menyakitkan, melanggar HAM dan berbagai stigma lainya.  Di antara alasannya, manusi itu bukan binatang, tidak bisa diadu, seperti ayam jago, karapan sapi, pacuan kuda,  dan sebagainya. Kompetisi lahirkan penyontek, plagiator, stress, bunuh diri, dan sebagainya. Jika demikian, apakah kompetisi itu ditiadakan saja? Hal ini dalam batas tertentu bisa diterima, ternyata kompetisi bisa juga timbulkan banyak “korban”. Bagaimana jika kuota terbatas, sementara peminatnya jauh melimpah? Apalagi kita sudah mendeklarasikan anti Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN). Apakah kita bisa menerima semua dengan cara subjektif?

Berdasarkan perspektif lain, korban kompetisi itu sebagai konsekuensi, yang ternyata kompetisi sangat diperlukan terutama ketika kita hanya memiliki kuota terbatas dalam perebutan proyek bergengsi (internasional dan nasional), rektutmen tenaga baru, seleksi siswa atau mahasiswa baru misalnya, yang jumlah peminatnya jauh melimpah. Dengan kompetisi yang menggunakan sistem assessmen yang valid dan reliabel, objektivitas dan transparansi seleksi atau rekrutmen, insya Allah lebih terjamin dan bisa memberikan kepuasan bagi semua. Apalagi praktek lobby tak berintegritas atau KKN harus dibersihkan.

Kompetisi yang ideal tidaklah mudah. Sistemnya harus dibangun dengan baik, mulai dari konsepnya, validitas dan reliabilitas instrumen assessmen, disiplin proses, dan objektivitas penilain serta bijaknya dalam pengambilan keputusannya. Buktinya bahwa kompetisi menjadi kurang direspeki dan kurang bahkan hilang trust-nya, diduga kuat disebabkan pelaku kompetisi tidak mengikuti SOP secara bertanggung jawab. Padahal kompetisi yang dijalankan dengan baik dan kredibel dapat memotivasi untuk maju seiring dengan perubahan yang dinamis dan berkembang.

Kembali pada posisi GDI Indonesia yang “terjun bebas” dari ranking 36 menjadi 45, tidak bisa dirolerir. Diduga kuat bahwa kebijakan nasional belakangan terlalu kuat pada pembangunan infrastruktur, bukan lagi pembangunan SDM. Mestinya pembangunan SDM harus menjadi prioritas, sehingga kekayaan alam bisa dikelola lebih optimal. Semoga Kabinet ke depan benar-benar merubah paradigma pembangunan nasional dengan fokus menaikkan kemampuan kompetisi bangsa.


Yogyakarta, 19 Januari 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website