Headlines News :
Home » , » Mahasiswa dan Tanggung Jawabnya pada Kehidupan Sosial

Mahasiswa dan Tanggung Jawabnya pada Kehidupan Sosial

Written By Pewarta News on Kamis, 03 Januari 2019 | 00.26

Muhammad Akhir.
PEWARTAnews.com -- Mahasiswa adalah anak zaman yang akan melahirkan zaman pula, melalui tanggung jawab dan peranan mahasiswa menjadi harapan negeri untuk mensejahterakan masyarakat pada umumnya. Selain itu mahasiswa juga mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik sebagai harapan umat dan bangsa melalui kualitas ilmu pengetahuanya.

Mahasiwa menjadi agent of sosial control yaitu dengan menjadi layaknya badan hukum yang benar-benar syahadah mengontrol kebijakan yang disahkan dan mengawal terlaksananya kebijakan tersebut. Agent of social change dimana mahasiswa dengan skill dan pengetahuan dan profesionalitas berorganisasi sehingga dapat menyongsong pembangunan untuk menjadikan peradaban Indonesia yang terbaik.

Adapun harapan ideal seorang mahasiswa bagi umat dan bangsa, berangkat dari
kesadaran diatas, maka perlu dipandang penting bahwa mahasiswa adalah tolak ukur pembangunan umat, bangsa, dan negara.

Ketika harapan tersebut berusaha untuk direalisasikan demi mewujudkan kesejahteraan umat dan bangsa melaui kelebihan-kelebihan ilmu yang mereka miliki, maka ketika itu pulalah mahasiswa menjadi mahasiswa hedonis yang egois tanpa memikirkan harapan keluarga dan lingkunganya, maksudnya dia memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan individu dan kelompok-kelompok tertentu.

Mahasiswa yang seharusnya agent of social control, menjadi agent who should to control (agen yang harus dikontrol) karena sifat kekanak-kanakan, egoisme, fanatis, hedonis, pragmatis yang dapat menjadi parasit bagi masyarakat dan negara. Kemudian yang seharusnya agent of social change, menjadi agent who should to change (agen yang harus dirubah) karena manja, bodoh, miskin skill, bibit pengemis, bibit koruptor, bibit yang hanya mengikuti egoisme, fanatisme, hedonisme, dan pragmatisme.

Bukti hal-hal di atas sudah tidak perlu
dipertanyakan lagi karena memang sudah menjadi kebenaran mutlak disetiap kampus seluruh Indonesia.

Dari Problem tersebut, maka perlu penataan awal bagi mahasiswa dengan membangkitkan potensi-potensi yang ada dalam diri mahasiswa. Mengunggulkan diri mahasiswa dengan nalar berfikir kritis dan kreatif untuk menciptakan inovasi baru yang memberikan sumbangsih besar terhadap pembangunan bangsa umat dan masyarakat. Juga berusa terus menjadi mahasiswa yang berkualitas akademis, kaya akan skill/kemampuan yang menjadi modal awal bagi pergerakan dan perjuangan mahasiswa dikancah sosial.

Tanggung jawab yang dimiliki mahasiswa bukan hanya untuk memberikan pengawalan dan pembangunan untuk infrastruktur, bukan hanya ekonomi, sosial, politik, hukum, pendidikan, dan budaya, namun lebih dari itu mengawal pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk masyarakat, pemuda, dan anak-anak adalah hal yang paling pertama dan utama.

Pembangunan SDM merupakan hal paling penting dalam kehidupan sehari-hari tentu untuk anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, jika semua sudah dikembangkan melalui SDM, maka beberapa faktor di atas seperti pengaruh pembangunan sosial, ekonomi, hukum, budaya dan pendidikan akan berjalan dengan baik, sebab semua hal demikian hanya bisa dijalankan melalui karakter mahasiswa yang sudah dewasa dalam pengembangan nilai-nilai jati diri keilmuanya.

Pembangunan melalui SDM akan memperlihatkan mahasiswa tidak menunggu waktu lulus kuliah baru bisa mendidik dan mengajar serta bersosial, namun saat menjadi mahasiswa itulah maka peran pentingnya menjadi bagian tersebut diatas diutamakan, sehingga cikal bakal untuk dikemudian hari mampu berjalan sesuai arah dan kebijakan kultur masing-masing.

Mahasiwa juga harus memiliki kualitas
spiritual yang tinggi (religius), sehingga mampu membawa ilmu tersebut untuk kembali membahagiakan masyarakat di kehidupan sosial bermasyarakat.

Disanalah sebenarnya peran mahasiswa tanpa menafikan status kampus, hanya saja mahasiswa terlalu gengsi dalam mengakukan diri demi kesombongan yang tak jelas, saling menghujat dan mencaci antara satu sama lain, sehingga yang ada adalah bentrok intelektual, bentrok argumen, bentrok persepsi dan lain sebagainya, yang seharusnya mahasiswa berkumpul menyatukan kualitas dan kuantitas sehingga membentuk menjadi wadah mewujudkan mahasiswa harapan umat, bangsa dan negara.

Kesadaran mahasiswa itu perlu dihadirkan dalam kehidupan sosial, sehingga agar tidak membuat kekacauan dengan argumentasi pilihan mahasiswa ketika nanti bermasyarakat.


Penulis: Muhammad Akhir
Sekretaris Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website