Headlines News :
Home » , » Menalar Arah Baru Pulau Sumbawa yang Berkemajuan

Menalar Arah Baru Pulau Sumbawa yang Berkemajuan

Written By Pewarta News on Kamis, 17 Januari 2019 | 01.44

Arif Rahman.
PEWARTAnews.com -- Pulau Sumbawa merupakan salahsatu pulau yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pulau ini terletak di sebelah timur pulau Lombok. Pulau yang sangat eksotik dan menyimpan cukup banyak sumber daya alam melimpah. Secara admistratif pemerintahan, Pulau Sumbawa terdapat satu kota yakni Kota Bima, dan juga terdapat empat kabupaten, diantaranya, Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Sumbawa Barat. Letak geografis pulau ini menentukan corak khas masyarakatnya, yang mana masyarakat Pulau Sumbawa kita kenal dengan masyarakat agraris dan maritim. Hal demikian yang menjadikan daratan dan lautannya sebagai sumber penghasilan utama.

Dewasa ini kita ketahui sendiri bahwa Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Dompu menjadi sorotan utama pemerintah pusat terkait petani jagung. Gagasan awal pemerintah pusat adalah menganjurkan masyarakat untuk memanfaatkan lahan tidur yakni lahan yang tidak lagi produktif. Pada prinsipnya lahan tidur yang dimaksud disini adalah lahan pertanian yang sudah tidak digunakan selama lebih dari dua tahun buat dimanfaatkan untuk menanam jagung.

Lahan tidur umumnya merupakan sebuah bagian dari sistem peladangan berpindah di mana petani membuka hutan, menanamnya selama beberapa musim tanam, dan meninggalkannya untuk membuka lahan baru. Kenyataan yang terjadi di pulau kita, hutan dan gunung digunduli, kemudian pohon-pohon yang besar dan lebat di ganti dengan tanaman jagung. Tentu saja secara ekonomis hal ini baik, namun masih perlu pengkajian yang lebih mendalam, sebab dibalik itu ada dampak buruk yang lebih besar yang akan terjadi.

Seperti halnya yang pernah di ungkapkan Dr. Edi, S.S., M.Pd., M.Pd.B.Ing., belum lama ini waktu berdialog dengan mahasiswa Mbojo (Dompu dan Bima) di Yogyakarta mengatakan bahwa kenyataan lain yang terjadi berkaitan pemanfaatan lahan tidur, semisal ketika masyarakat diberi ijin oleh pemerintah daerah setempat untuk menebang hutan satu hektar, namun yang dibabat melebihi satu hektak yang diijinkan tersebut.

Selain hal diatas, akhir-akhir ini Pulau Sumbawa mengalami bencana kemanusiaan yang lebih mengerikan daripada bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami, seolah-olah semua orang sudah menjadi hakim untuk memutuskan salah benarnya, seseorang tanpa melewati jalur hukum yang jelas, ada maling motor dikejar dan di tangkap, bukannya di serahkan kepada pihak yang berwajib malah di bunuh dan di bakar. Selain itu, watak masyarakat yang masih susah menghadapi kemajuan, menganggap bahwa modernisme itu adalah predator yang menelan kultur tradisi lokal, sehingga di tempat-tempat rekreasi/wisata sering terjadi pemandangan yang jauh dari kata aman, jelas ini akan sangat mencederai dan merugikan banyak pihak. Jelas ini akan semakin membuat wisata kita semakin terbelakang, karena masyarakatnya belum terbuka soal pandangan modernisme. Jika ada pengunjung wisata yang datang dari luar atau orang luar yang hanya sekedar masuk di kampung kita dengan pakaian serba minim sudah pasti itu di teriaki, di cemooh, di cela dan lain sebagainya. Padahal kita tahu bahwa kita dan mereka beda kultur, seharusnya kita bisa saling menghargai atas asas Bhineka Tunggal Ika.

Tahun 2019 kita akan memasuki perhelatan  pesta demokrasi, pemilihan Presiden, Anggota DPD RI, dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) --baik DPRD kabupaten/kota, DPRD Provinsi, maupun DPR RI. Upaya mewarnai perpolitikan nasional, di Pulau Sumbawa sendiri banyak orang-orang terbaik putra daerah yang bertarung maju di DPR RI, salah satunya adalah Mujahid Abdul Latief, S.H., M.H. melalui Partai Gerindra.

Momentum tahun politik 2019 ini semua elemen masyarakat mempunyai mimpi yang sama, guna melakukan upaya maksimal untuk membangun daerah. Kita sebagai masyarakat Pulau Sumbawa pasti menginginkan adanya kemajuan Pulau Sumbawa tersebut pada tangan yang tepat, Mujahid sendiri adalah salah satu calon anggota DPR RI yang mempunyai gagasan membangun Pulau Sumbawa lewat pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM). Mujahid mengungkapkan dalam diskusi bersama teman-teman mahasiswa yang dilaksanakan di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu bahwasannya untuk membangun pulau sumbawa kita butuh modah, modal yang paling utama adalah sumber daya manusia human capital (manusia sebagai modal).

Dari sumber daya manusia yang baik maka akan melahirkan kultur yang baik, dari sumber daya manusia yang baik maka akan melahirkan ketentraman dan keamanan yang baik, dari masyarakat yang baik dan mapan secara pola pikir maka akan melahirkan masyarakat yang cerdas dan arif terhadap lingkungan sekitarnya, dengan sumber daya manusia yang cerdas dan bermoral kita bisa mengelola sektor apa saja sebagai penopang ekonomi masyarakat, kita bisa mengeloala wisata, kita bisa mengelola pertanitan yang maju tanpa harus menggunduli hutan dan gunung. Sebab dari hutan dan gunung-lah sumber turunnya air hujan, kita bisa mengelola kebudayaan lokal, kita bisa mengelola dan membina anak-anak muda sebagai penerus bangsa ini.

Penulis sendiri merasa terpukau dengan konsep dan gagasan beliau, yang mana saat calon-calon yang lain sibuk membangun daerah dengan mengedepankan investasi, program ini, program itu, tapi beliau hadir dengan kecerdasan dan gagasan yang mampu menjawab akar permasalah kita selama ini. Saatnya kita titipkan masa depan Pulau Sumbawa pada tangan yang tepat, tangan yang mengerti suara rakyat, bukan suara pemodal. Semoga niat baik dan ketulusan dalam membangun Pulau Sumbawa benar terwujudkan, “Wajah baru Pulau Sumbawa bersama Mujahid Abdul Latief”.


Penulis: Arif Rahman
Aktifis Mahasiswa Pulau Sumbawa di Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website