Headlines News :
Home » , » Orang Cerdas

Orang Cerdas

Written By Pewarta News on Selasa, 22 Januari 2019 | 02.30

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan negara Indonesia. Upaya untuk mewujudkannya, pendidikan sebagai pilihan stretegi yang terbaik. Sistem pendidikan benar-benar harus dibangun dengan nilai, teori, dan kebijakan yang sesuai dengan fitrah dan tujuan manusia dilahirkan oleh Sang Pencipta, menjadi hamba Allah swt dan khalifah di atas bumi, yang dicirikan dengan bertaqwa dan cerdas.

Banyak ahli yang mampu menjelaskan makna cerdas, mereka mengartikan cerdas dikaitkan dengan kemampuan inteligensi, kreativitas, emosion, sosial, kinestetik, artistik, dan spiritual. Makna cerdas dalam kesempatan ini didasarkan pada pandangan Rasulullah saw. Beliau menegaskan bahwa yang dimaksud orang cerdas adalah seseorang yang mampu mengendalikan nafsu, yang paling banyak mengingat kematian dan yang  paling baik mempersiapkan kehidupan sesudah mati (Al Hadits).

Orang yang dikuasai oleh nafsu cenderung melakukan perbuatan yang jelek (la ammaaratus suu’). Hanya orang cerdas yang mampu menguasai nafsu, sehingga hidupnya selamat. Hidupnya lebih terarah dan sejalan dengan nilai-nilai kebaikan, tidak mudah dikuasai oleh bisikan syaitan. Ingat bahwa bisikan syaitan cenderung mengajak kemaksiyatan, dan kemaksiyatan bisa menggelapkan hati dan menimbulkan kemaksiyatan yang lain.

Orang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Mengingat terputusnya kelezatan dari kenikmatan karena terpisahnya roh dan jasad. Dengan banyak mengingat kematian, maka seseorang cenderung ingin menghentikan kemaksiyatan dan meningkatkan ketaatan. Mengingat kematian dapat melapangkan  hati yang sempit dan menyempitkan hati di kala lapang. Hidup tidak hanya “aji mumpung”, melainkan harus selalu ingat kepada kematian, sehingga lebih berhati-hati.

Orang cerdas adalah orang yang paling baik dalam mempersiakan hidup setelah mati. Ingatlah, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. “Kullu nafsin dzaaiqatul maut”. Tidak ada yang pasti di dunia kecuali kematian. Harta, pangkat, jabatan, dan apapun yang kita banggakan yang sifatnya duniawiyah akan rusak dan mati, karena bersifat fana. Untuk itu kita sudah seharusnya lebih berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan serta memperbanyak amal kebaikan untuk bekal hidup sesudah mati dan di akhirat kelak.

Pemahaman tentang cerdas menurut Rasulullah saw dapat memberikan jaminan hidup yang jauh dari stress, hidup yang tenang dan damai karena kita memiliki amaliah akhlaq mulia dengan membiasakan akhlaq terpuji (mahmudah) dan menjauhkan diri dari akhlaq tercela (madzmumah). Menjaga spirit akhirat dalam setiap jejak kehidupan di dunia.


Yogyakarta, 15 Januari 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website