Headlines News :
Home » » Potensi Ekonomi Islam yang Tak Tergali di Daerah Mbojo

Potensi Ekonomi Islam yang Tak Tergali di Daerah Mbojo

Written By Pewarta News on Sabtu, 19 Januari 2019 | 10.44

Ibrahim.
PEWARTAnews.com -- Sebuah upaya mengupas Mbojo. Mendengar sebutan Mbojo, berarti ini bermakna sebuah suku yang terletak di wilayah timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Wilayah Mbojo terdiri dari tiga wilayah administratif, yakni Kabupaten Bima, Kota Bima serta Kabupaten Dompu. Penulis memandang, dewasa ini di wilayah Mbojo kehilangan arah pembangunan dan jati diri sebagai daerah yang pernah berjaya dibawah kekuasaan kesultanan yang kental dengan keislamannya. Kondisi keislaman di daerah Mbojo tak perlu diragukan lagi, mayoritas masyarakatnya beragama Islam, falsafah Islam baik itu warisan tutur kata maupun simbol-simbol Islam masih ditemukan di daerah tersebut.

Masa lampau, seorang ulama besar Buya Hamka pernah bekunjung ke dana Mbojo, “Kalau mau belajar Islam belajarlah di dana Mbojo,” begitu respon beliau setelah melihat kondisi keislaman yang terjadi di dana Mbojo. Sulit (tidak mudah) seorang ulama besar yang pernah menjabat sebagai Ketua MUI mengatakan hal demikian. Bila tak ada fakta yang menakjubkan dibalik itu semua. Lambang kesultanan Burung Garuda yang memiliki dua kepala yang menengok ke kanan dan kiri di kesultanan Bima menegaskan bahwa Mbojo memiliki tradisi hukum agama (syariat Islam) dan hukum adat sebagai acuan kehidupannya sehari-hari, baik sebagai individu, kelompok, maupun pemerintahan.

Namun ketika era kesultan berakhir digantikan dengan era otonomi daerah sekarang. Mbojo seolah kehilangan kiblat arah pembangunan. kemiskinan dan kualitas pembanunan manusia masih tertinggal jauh. Ini momok mematikan yang berefek terhadap persoalan konflik antara desa, kriminalitas penjarahan dan pencuriah di daerah Mbojo meningkat. Padahal budaya rimpu, tutur kata dan falsafah Islam masih kental dan hidup ditengah-tengah masyarakat, namun akibat tergerus oleh era modernisasi serta inviltrasi budaya sekuler barat sehingga falsafah Islam tidak merasuk dalam tingkah laku keseharian serta arah pembangunan daerah Mbojo sendiri.

Dana Mbojo, selain Islam masih banyak pesantren-pesantren di desa-desa bahkan di kota sebagai tiang dan lentera yang mengenalkan Islam pada dou Mbojo (orang Mbojo). Nilai-nilai selain Islam masih dianggap tabu. Potensi itu tidak tergali dari rancang bangunan pembangunan ekonomi dana Mbojo. Pemerintah lebih cenderung mengenjot potensi pengembangan ekonomi yang cenderung mengesampingkan aspek spritualitas, budaya, sosial dan etika. Sehingga paradigma memaksimalkan potensi ekonomi dipaksakan ekonomi ribawi (berbasis bunga) serta ekonomi eksploitasi alam masih membudaya ditengah-tengah masyarakat Mbojo. Oriantasi kebijakan itu pun tak menuai hasil menciptakan kesejahteraan dana Mbojo.

Data menunjukkan bahwa kemiskinan di dana Mbojo masih banyak. Pertumbuhan ekonomi dana Mbojo masih rendah serta kualitas SDM-nya masih minim. Data yang dirilis oleh Bappenas tahun 2014 menggambarkan bahwa indeks pembangunan desa terendah di NTB yaitu di Kabupaten Bima 60.04 dari sekian kota dan kabupaten di NTB.

Idealnya dana Mbojo harus kembali berkaca pada era kesultanan sebagai bencmark (percontohan) dalam merancang arah pembangunan daerahnya. Dana Mbojo bisa berkembang dan maju dengan mamasukkan pontesi spiritual Islam dalam merancang pembangunan daerah, baik itu pada aspek ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan. Keberpihakan terhadap Islam adalah contoh kesuksesan yang luar biasa pernah terjadi di dana Mbojo pada era kesultanan.

Bila kita melihat perkembangan Islam, kini bukan lagi sebagai agama ritual semata yang memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat. Agama Islam bukan hanya mengurusi urusah akhirat saja, tapi lebih dari itu. Islam mengatur manusia dalam rangka memakmurkan bumi agar tercapai kemaslahatan dan kebaikkan manusia di bumi ini (rahmat bagi seluruh alam). Islam adalah agama pari purna yang bisa masuk kedalam semua lini. Baik itu lini ekonomi, politik, pendidikan, sosial dan budaya.

NTB dikenal dengan icon daerah yang menginisiasi penggerak ekonomi Islam “pariwisata syariah, hotel syariah, industry syariah bahkan pengkonversian bank umum NTB dari yang menjalankan aktifitas bunga kini menjadi aktifitas sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. NTB dibeberapa event baik nasional maupun internasional mendapatkan penghargaan terhadap konsen pembangunan ekonomi yang berbasis  prinsip-prinsip Islam.

Isu ekonomi syariah di NTB tak semuanya bisa berkembang dan terdistribusi merata, seolah ada ketimpangan pembangunan serta respon kebijakan yang lambat khususnya di Pulau Sumbawa. Wilayah NTB sendiri memiliki dua pulau besar, pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, namun isu ekonomi Islam tidak begitu berkembang di Pulau Sumbawa khusus di wilayah Mbojo (Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu).

Perkembangan industri syariah masih sedikit,  Bank Syariah, Koperasi Syariah, pariwisata syariah, hotel syariah, industri halal, ZISWAF (zakat, Infak, Shodaqoh dan Wakaf) masih sedikit dan belum tergali dengan maksimal khususnya di wilayah Mbojo

Banyak sebab yang membuat hal demikian seperti yang tergambar diatas, mulai dari kebijakan pemerintah yang kurang respon terhadap perkembangan ekonomi Islam. Padahal Mbojo memiliki peluang yang besar untuk pengembangan ekonomi Islam. Disana masih didominasi mayoritas penduduknya beragama Islam, ulama serta pesantren masih banyak, potensi alam yang melimpah, pariwisata alam yang indah, serta budaya Islam yang masih kental, entah itu rimpu serta wisata religious kesultanan serta perkembangan sejarah Islam di dana Mbojo masih memiliki nilai jual dalam rangka memaksimalkan pendapatan daerah dan potensi ekonomi lokal.

Pemerintah Mbojo harus mengambil peran dalam pengembangan ekonomi Islam di dana Mbojo. Prospek ekonomi Islam akan terus berkembang kedepan. Ekonomi Islam telah terbukti memberikan kebaikan dan kemaslahatan ditengah masyarakat. Pemerintah harus membuat kebijakan yang berpihak terhadap perkembangan ekonomi Islam, mengembangkan SDM yang memiliki jiwa interpreneur Islam.

Literasi Islam harus dikembangkan entah itu opini publik, kajian, penelitian harus terus digenjot dalam rangka menciptakan opini ekonomi Islam di dana Mbojo. Pengembangan pariwisata syariah serta inklusi keuangan harus masif di dana mbojo (BMT Syariah-Koperasi Syariah) bahkan Perbankan Syariah dalam rangka menyuplai dana ke UMKM-UMKM maupun industri kecil di dana Mbojo. Potensi zakat, infak, shodaqoh serta wakaf harus dikembangkan dalam rangka memberdayakan masyarakat setempat. Dengan pendekatan pembangunan ekonomi yang berbasis nilai spiritualitas bukan tidak mungkin dana Mbojo akan bisa berkembang dan maju.


Penulis: Ibrahim
Pusat Studi Mahasiawa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta / Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website