Headlines News :
Home » , » Refleksi Semangat Juang Dan Cita-Cita Berdikari Soekarno Di Era Modernisasi

Refleksi Semangat Juang Dan Cita-Cita Berdikari Soekarno Di Era Modernisasi

Written By Pewarta News on Rabu, 30 Januari 2019 | 05.08

Aqbal Haikal.
PEWARTAnews.com -- Berbicara Sejarah dalam gejolak perebutan kemerdekaan Indonesia merupakan hal yang sangat menarik untuk dikaji secara bersama, hal ini tidak terlepas dari peran beberapa tokoh Nasional seperti Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka dan yang lainnya. Sudah tentu jasa  berberapa tokoh Nasional dan pergerakan Republik ini tidak asing lagi untuk kita dengar baik itu dalam dunia nasional maupun internasional. Semasa kecil Soekarno lebih akrab dipanggil dengan panggilan kusno oleh keluarga dan kerabat terdekatnya. Soekarno terlahir di Blitar 6 Juni 1901, Surabaya dari pasangan Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai yang merupakan keturunan bangsawan Bali.

Soekarno Sang Revolusioner Indonesia
Presiden Soekarno dalam bingkai sejarah  perebutan dan pergerakkan kemerdekaan Indonesia, beliau merupakan salah satu tokoh dari sekian banyak tokoh perjuangan yang sangat disegani dunia Internasional. Karena konsep kenegaraan dan ciri khas pidatonya yang menggelora dalam membangkitkan gairah semangat juang rakyat Indonesia  dan Asia. Soekarno yang lebih kerap disapa Bung Karno ini, merupakan Proklamator Kemerdekaan Indonesia berkat kegigihan perjuangan ia lah Indonesia dapat terbebas dari belenggu kolonialisme.

Sejak muda Soekarno yang lebih terkenal dengan panggilan Bung Karno ini sudah memandang dunia politik, sebagai sebuah dunia dimana ia bisa menyalurkan bakat berpidato dan politiknya. Karir politik pertama soekarno diawali dengan ikut mendirikan Algemene Studie Club di Bandung pada tahun 1926, yakni sebuah klub diskusi yang nanti cikal bakalnya berubah menjadi gerakan politik radikal penentang kolonialisme. Terbukti karir politiknya ini mampu menghantarkan ia kepada pintu kesuksesan dan mendirikan Perserikatan Nasionala Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Partai Nasional Indonesia. Kemudian karena aktivitas Politiknya yang berbahaya ini lah yang membuat ia harus ditahan oleh pihak belanda pada tahun 1929. Setahun kemudian PNI dibubarkan secara paksa oleh pihak belanda, setelah bebas dari penjara pada tahun 1931 Bung Karno kemudian bergabung dengan Partindo dan menjadikan ia sebagai pemimpinnya.  Berkat Kegigihan ia dalam berjuang dan vokal menentang kolonialisme akhirnya pada tahun 1933 ia kembali ditangkap dan diasingkan ke Ende Flores, setelah empat tahun lamanya diasingkan Bung Karno harus rela menahan sakit ia kembali dipindahkan ke bengkulu oleh pihak Belanda. Pada akhirnya setelah melalui pergantian rezim penjajahan dari Belanda ke Jepang dan melalui perjuangan yang cukup panjang, ditambah dengan menyerahnya jepang kepada sekutu membuka peluang lebar bagi rakyat Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaannya.

Bung Karno yang didampingi Bung Hatta beserta tokoh nasional lain akhirnya membentuk BPUPKI dan PPKI yang mana kedua badan ini lah yang menjadi jembatan emas untuk  memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 agustus 1945. Setelah berhasil memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno kembali merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) negara. Sehingga pasca kemerdekaan ia berupaya mempersatukan nusantara, dan menghimpun bangsa-bangsa dikawasan Asia dan Afrika dalam wadah yang kita kenal dengan Konferensi Asia-Afrika, yang kemudian konferensi itu berkembang menjadi Gerakan Non Blok. Dalam banyak literatur yang ada Bung Karno lebih kerap dianggap sebagai tokoh yang sangat kontroversial dan pemberani, melalui berbagai pernyataannya yang sering menimbulkan pro dan kontra seperti kritikan ia terhadap bangsa kolonial Amerika dan Inggris "Amerika kita setrika, Inggris kita linggis". Walau semasa kepemimpinannya terjadi banyak pemberontakan diberbagai daerah dan bermacam tuduhan yang disangkalkan, namun demikian harus diakui bahwa pengorbanan dan jasa-jasanya sangat besar bagi bangsa Indonesia dan Internasional. Berbagai macam statemen serta gagasannya, mampu membakar semangat serta mempersatukan segenap bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah dari tanah air hingga keberhasilannya meraih kemerdekaan. Selain disegani dan ditakuti dunia Internasional Soekarno juga merupakan sosok yang sangat kharismatik terbukti banyak wanita yang jatuh hati kepadanya.

Gagasan Dan Cita-Cita Bung Karno Untuk Indonesia
Nubuat Bung Karno dimasa depan sudah jelas sangat berpengaruh bagi semangat juang masyarakat Indonesia, terbukti apa yang ia sampaikan melalui pidatonya bukan hanya menjadi pembakar semangat masyarakat Indonesia untuk mengusir penjajah saja. Namun memberikan inspirasi bagi para kaum muda dan masyarakat dihari ini untuk berhati-hati pada segala sistem pemerintahan negara yang sedang sakit, satu dari sekian banyak gagasan dan kepemimpinannya yang inspiratif Bung Karno untuk bangsa ini ialah berdikari. Melalui gagasanya inilah sebagai masyarakat Indonesia perlu sekali untuk kita meneruskan cita-citanya menjadikan Bangsa ini sebagai Bangsa yang berdaulat, hidup mandiri, tidak berutang, apalagi sampai mengemis kepada negara atau lembaga asing. Berdikari yang seperti apa dimaksudkan diatas, bukan berarti kita sebagai Bangsa Indonesia hendak memutuskan hubungan dan menolak menjalin kerja sama dengan negara lain. Terkait dengan makna dan tujuan gagasan berdikari ini, sudah jelas ditegaskan oleh Bung Karno dalam pidatonya yang terkenal dengan ''Nawaksara''.

Perlu untuk kita pahami sebagai masyarakat Bahwa untuk membangun negara demokratis, maka suatu sistem ekonomi yang merdeka sudah saatnya ditegakkan tanpa ekonomi yang merdeka tidak mungkin suatu bangsa dapat mencapai, kemerdekaan, mendirikan negara, bahkan sekadar bertahan hidup. Dalam ranah kesejahteraan hanya negara yang mampu menjamin keadilan sosial masyarakat yang hidup didalamnya, meskipun prinsip-prinsip ekonomi pasar harus diberlakukan tanpa perlu mengedepankan system ekonomi yang begantung pada bantuan dan modal pihak asing, kesejahteraan bersama tetaplah menjadi unsur yang sangat penting dalam tujuan bernegara. Itulah hal penting yang membedakan bangsa Indonesia dengan negara penganut ekonomi pasar murni dimana kesejahteraannya bersama sekadar menjadi efek atau dampak, bukan tujuan.

Penting sekali dan sudah seharusnya Pemerintahan Indonesia hari ini meneruskan apa yang menjadi cita-cita berdikari, berdikirari yang kita harapkan bukanlah suatu sikap xenophobia (menutup diri) terhadap sesuatu yang berbau kapitalis. Namun berdikari yang merupakan kelanjutan dari sikap sovereign, yakni memegang teguh kepada asas kedaulatan bangsa dan negara serta menolak ketergantungan. Tetapi senantiasa menghormati interdependensi atau mutuality (kebersamaan), oleh karena itu nilai-nilai yang berorientasi pada kekuatan rakyat sangat penting untuk di kembangkan melalui potensi yang ada dalam negeri baik itu sumberdaya manusia dan alamnya dengan tidak selalu mengandalkan potensi luar negeri. Sehingga landasan pembangunan nasional yang kita impikan selama ini dapat terwujud dengan baik, Contohnya dengan memberlakukan penegakan dan mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat yang berlandaskan pada asas kesejahteraan sosial. Jika melihat bangsa besar seperti indonesia yang mana memiliki keberagaman budaya dan kekayaan alam sangatlah tidak masuk akal apabila ide berdikari tidak dapat di wujudkan, apabila para pemangku negara ini berhenti mengedepankan dan mempertontonkan segala bentuk kepentingan pribadi dan politik yang tidak etis.

Walaupun konsep berdikari memang belum mampu membawa keberhasilan bagi rakyat dan negara ini, setidaknya berhasil memberikan solusi atas masalah ekonomi,politik yang dihadapi bangsa saat ini dan menjadikan kebanggaan tersendiri pada eksistensi bangsa Indonesia. Karena hal itu jauh lebih baik daripada berdiri diatas utang luar negeri yang terbukti menghadirkan ketergantungan dan ketidakberdayaan dalam jeratan neokolonialisme. Demikianlah tulisan saya yang penuh dengan kekurangan semoga dapat menginspirasi para penguasa direpublik ini, dan semoga dapat menggelorakan semangat revolusi untuk berdiri diatas kaki sendiri bangsanya.

Bung Karno ‘’memberikan kesanggupan untuk berdikari adalah mutlak diperlakukan bagi setiap bangsa, disudut dunia mana pun dan di bawah kolong langit mana pun‘’.


Penulis: Aqbal Haikal
Mahasiswa Filsafat Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website