Headlines News :
Home » , » Seringkali Terjebak pada Simbol dan Kemapanan

Seringkali Terjebak pada Simbol dan Kemapanan

Written By Pewarta News on Minggu, 20 Januari 2019 | 10.38


PEWARTAnews.com -- Penulis masih teringat kata salah seorang dosen tarbiyah, Dr. H. Karwadi, M.Ag saat tatap muka dalam mata kuliah Tauhid disemester 1 beliau mengatakan, “Etos akademik yang baik harus diimbangi dengan memiliki skill komparatif”. Karena itulah yang dibutuhkan di masa depan. Sehingga, kuliah tidak hanya sekedar mencari nilai/IP, tapi bagaimana dapat terus mengembangkan diri secara berkelanjutan. Pernah nggak berpikir mengapa IP dan IPK maksimal hanya 4,0? Karena selebihnya mahasiswa sendiri-lah yang harus mencari, menelaah, mengeksplore hal-hal baru dan memikirkan cara untuk meraih keberhasilan yang dapat dicari dengan berbagai hal, bisa melalui kajian literasi, berdiskusi, mengikuti training dan seminar maupun berorganisasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa peran dosen maksimal hanya 20% untuk menunjang keberhasilan mahasiswa-nya. Sehingga belajar hanya ketika berada didalam kelas saja merupakan kerugian nyata yang dapat membunuh kreativitas dirinya (mahasiswa) secara perlahan.

Setiap diberi kesempatan berbicara dalam forum diskusi/pun organisasi saat ramah tamah dengan anggota baru/MABA, pasti yang pertama ku sampaikan adalah : “Jangan Terjebak Pada IP maupun IPK. Mencari IP 4,0 itu mudah banget. Namun memiliki IPK tinggi dengan didasari “skill komparatif” itulah yang akan lebih berarti. Fakta di lapangan mengatakan, bahwa nilai bukan menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Dalam dunia kerja pun demikian. Bukan persoalan siapa yang lebih tinggi IP/IPK nya, namun siapa yang tidak bosan dalam mengembangkan diri dialah yang akan terus survive. Yang penting terus asah skill komparatif dengan self continuous improvement dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Dengan begitu, kita tidak akan khawatir dapat kerja apa / gaji berapa dan lain-lain. Insya Allah pekerjaan yang akan mencari kita.

Kemarin ketika penarikan PPL, DPL-ku (Pembimbing Magang) mengatakan “Era sekarang ini banyak mahasiswa yang mengejar M.A dulu, daripada S.Pd. Biasanya yang lulus cepat itu ya yang disiplin-disiplin”. Oiya M.A itu singkatan dari Mahasiswa Abadi. Apa yang terlintas dalam benak kita saat mendengar kata Mahasiswa Abadi? Menurutku, ada banyak perspektif. Pertama, Mahasiswa yang hampir di DO (droup out) karena melebihi batas maksimal waktu kuliah (S1= 12-14 semester). Kedua, Mahasiswa yang terus-terusan kuliah. Maksudnya, S1-S3 dan masih kuliah lagi S1 dalam konsentrasi yang berbeda. Kalau kayak gini kapan nikahnya euy? Pertanyaan yang mainstream itu yak. Asal partner hidup mendukung ya why not? Kan gitu. Ketiga, Mahasiswa yang meski sudah lulus tapi terus belajar dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun, mungkin seperti ini bisa dinamakan dengan pembelajar sepanjang masa. So, kesimpulannya tidak selamanya mahasiswa Abadi itu buruk, tergantung dari bagaimana cara melihatnya. Dalam hidup sebenarnya yang paling dibutuhkan adalah “kebijaksanaan dalam melihat suatu hal”. Bukan berarti yang lulus lama itu males atau tidak disiplin. Bisa jadi, dia sedang merintis usaha untuk masa depannya, dan sebelum lulus sudah mempunyai income tetap tanpa mengandalkan pemerintah, misalnya. Bisa juga karena tidak kuat untuk membayar UKT/uang Semester sehingga harus kocar kacir kesana kemari, dan karena tidak dapat pinjaman akhirnya cuti. Atau malah sedang nabung untuk segera lanjut studi. Bisa juga karena SKPI belum penuh. Hahaha. Ya, ada berbagai macam alasan dan faktor mengapa begitu.  Karena menurutku juga, bukan cepat atau lambatnya karena itu hanya persoalan kuantitas. Tapi bagaimana bisa menjadi self-driver dengan memiliki goal/tujuan yang jelas.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website