Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Membaca dalam Perspektif Kehidupan dan Implikasinya Terhadap Kesalehan Sosial

    Siti Mukaromah (depan).
    "Apabila hakikat “membaca” diinternalisasi dengan baik, tentu tidak akan ada kekecewaan, kekhawatiran, sakit hati, pesimisme. Karena yakin segala sesuatu ada hikmah dan inspirasi yang diselipkan Allah SWT dietiap alur Nya" (Mukaromah, 2019).

    Membaca, merupakan wahyu pertama kali yang diturunkan dalam Al Qur’an (Qs. Al-‘Alaq 1-5). Sedemikian penting wahyu ini hingga menggunakan fi’il amr/perintah yang diulangi dua kali dalam wahyu pertama tersebut. Tentu diantara kita banyak yang bertanya, mengapa wahyu yang turun bukan perintah shalat, zakat, shadaqah, menikah atau yang lain? Mengapa harus membaca? Karena membaca merupakan pangkal dan patokan dari semua itu.

    Dalam kajian teoritis, membaca dimaknai dua hal. Pertama ialah membaca ayat-ayat qauliyah yang berupa Al-Qur’an dan hadist. Sedangkan yang kedua, membaca ayat-ayat kauniyah yang bertebaran dimuka bumi (alam semesta) yang dapat berupa pengalaman, peristiwa, benda, orang, keadaan, atau bahkan ketetapan Allah baik yang membahagiakan, menyedihkan atau mengecewakan. Jika manusia cerdas dalam “membaca” maka semua yang terjadi “pasti” ada hikmah dan inspirasinya, sebagaimana dikatakan Al-Qur’an dalam Qs. Ali Imran ayat 191 dengan redaksi “Rabbanaa maa khalaqta hadza baathilaa....”, bahwa semua yang diciptakan, dan dikehendaki atas setiap alur-Nya kepada hamba-hamba-Nya tidak ada yang sia-sia. Diantara pertemuan dan perpisahan, peluang dan kesempatan, pengorbanan, perjuangan dan kesetiaan, canda dan tawa, suka dan duka, semua ada hikmahnya. Namun hikmah tersebut hanya bisa dipahami manakala manusia cerdas dan sensitif dalam membaca setiap keadaan/peristiwa yang digariskan oleh Sang Sutradara Kehidupan.

    Adanya rasa sensitif (peka) inilah yang akan membentuk pribadi manusia yang kuat, tangguh, optimis, tidak berlarut-larut dalam kesedihan, mampu menerjemahkan “agama” dalam kerangka kemanusiaan dengan mensinergikan IQ, EQ dan SQ, serta trengginas dan cerdas dalam menghadapi lika-liku kehidupan. Betapa banyak orang frustasi, stress dan akhirnya putus asa dengan melakukan kezaliman terhadap dirinya sendiri (bunuh diri) gara-gara hal sepele. Dalam hal asmara misalnya. Seringkali manusia hanya menginginkan yang “manis-manis-nya” saja, namun tidak didasari dengan mental yang kuat. Jatuh cinta itu enak jika ada stimulus - respon pasti menjadikan hidup kian berwarna dan berarti apalagi jika langsung klik dihati, mungkin akan berkata dalam hati kita, bahwa dia adalah jodoh kita. Namun bagaimana jika tidak sesuai dengan ekspektasi? Katakanlah kalian sudah menjalin asmara, namun ternyata salah satu diantara kalian dibohongi, dikhianati bahkan disakiti hingga pada akhirnya menangis dan terluka. Menyedihkan bukan? Kalau berani jatuh cinta, maka harus siap menerima resiko/konsekuensi-nya, salah satunya siapkan mental untuk menghadapi sakit hati, kekecewaan, patah hati, rela dikhianati dan lain-lain. Lalu bagaimana caranya move on?

    Hanya satu resepnya, ikhlas dan cerdaslah dalam menarik inspirasi di setiap hal yang terjadi. Pertama, hendaknya retrospective thinking (melihat masa lalu), barangkali dimasa lalu kita pernah menyakiti orang lain (menolak cintanya dengan kata-kata yang kurang pas dihati) dan belum minta maaf. Sehingga kita tersakiti merupakan salah satu bentuk hukum alam/sunnatullah dari-Nya. Kedua, barangkali sebelum kita menemukan jodoh terbaik sesuai versi-Nya untuk diri kita, kita harus melewati orang tersebut. Artinya, ya harus dilewati (seleksi alam tapi yang menyeleksi Allah langsung), implikasinya agar pada saatnya nanti kita tidak “kagetan/gumunan/heran/terlalu bangga” jika dipertemukan dengan orang yang “wah”. Ketiga, kemungkinan jika menikah dengan dirinya kita tidak akan kuat dan sanggup, karena memang itu bukan ukuran kita. Ibarat baju, ukuran kita S, tapi dikasih ukuran XL maka akan kegedean, gerah jika panas dan tidak nyaman untuk aktivitas. Keempat, orang tersebut sebagai cobaan sekaligus ujian kita, agar diri kita menjadi insan yang kuat dan tangguh dengan diberi Allah berbagai macam pengalaman pahit yang tidak mengenakkan. Kelima, Itulah salah satu cara Allah menyadarkan diri kita untuk kembali dalam dekapan-Nya. Ke-enam, Karena dia bukan jodoh kita (wa ‘asaa an takrahu syaian wa huwa khairun lakum, wa ‘asaa an tuhibbu syaian wa huwa syarrun lakum). Ketujuh, Allah masih ingin melihat kita menyelesaikan tanggungan/proker-proker kita. Baik itu tanggungan akademik, agama maupun yang lain.

    Jika hal tersebut dipahami dengan baik, maka pengalaman pahit dan mengecewakan akan berlalu dan meninggalkan bekas pelajaran hidup yang akan sangat berarti dimasa depan. Oleh karenanya, membaca tidak hanya sekedar dimaknai seperti angin lalu yang acuh tak acuh, namun yang jauh lebih penting daripada itu ialah memahami, menelaah, meneliti, menghimpun, menginternalisasi dan mengaplikasikan dalam tindakan kongkrit segala “apa yang telah dibaca”. Dengan begitu, manusia akan memiliki regulasi dan kontrol diri dalam setiap perbuatan dan tindakan, baik untuk dirinya sendiri maupun kolektif. Karena sebenarnya, kehidupan ini merupakan rangkaian sisitem yang saling berhubungan antara sub sistem satu dengan sub sistem yang lain. Jika boleh saya mengatakan, ada hukum-sebab akibat/kausalitas. Meskipun ada yang menyangkal hal ini, namun menurutku tetap ada selama kehidupan ini berlangsung. Sebagaimana Firman-Nya dalam banyak ayat yakni didalam Qs. Al Isra’ : 7, Qs. Az-Zalzalah :7-8, Qs. Luqman : 16, Qs. Al Anbiya’ : 7 tentang hukum kausalitas dalam kehidupan.

    Oleh dasar itu, Allah senantiasa memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar berbuat baik kepada makhluk-makhluk-Nya, karena setiap perbuatan akan selalu dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Sehingga tak ayal jika manusia merasa ‘terdzalimi’, hidupnya kacau balau, tidak aman dan tidak tentram mungkin (bisa jadi) ia pun juga mendzalimi orang lain, berbuat keji dan tidak baik kepada orang lain. Sehingga perbuatan baik dan atau buruk BUKAN merupakan taqdir yang telah Allah gariskan kepada manusia. Namun karena “kehendak bebas dari diri manusia itu sendiri”, sehingga manusia-lah yang dapat mengusahakannya. Hal ini Allah tegaskan dengan firman-Nya dalam Qs. 'Ali `Imran: 182, Qs. An-Nisa’: 40, Qs. Al-'Anfal : 51, Qs.Yunus : 44, Qs. Al-Haj: 10, Qs. Al-`Ankabut : 40 bahwa Allah tidak pernah mendzalimi dan berbuat kejelakan kepada manusia, namun manusia itu sendiri yang berbuat jelek kepada dirinya. Tentu term “kepada dirinya” bukan berarti secara kongkrit manusia mencabik-cabik tubuhnya sampai keluar darah, akan tetapi karena manusia berbuat keburukan dan mendzalimi orang lain sehingga hal itu kembali pada diri manusia tersebut.

    Hal-hal semacam itulah yang terkadang sering dilupakan. Adanya sesuatu karena adanya sesuatu yang lain. Jika hidup ingin dipermudah oleh-Nya, maka permudahlah urusan orang lain, jika ingin disayang dan dicintai Allah maka sayangilah, hormatilah, muliakanlah dan cintailah makhluk-makhluk-Nya. So, jika manusia memahami hukum sebab akibat dengan baik, tentu di dunia ini tak ada sakit – menyakiti. Begitu halnya apabila hakikat “membaca” diinternalisasi dengan baik, tentu tidak akan ada kekecewaan, sakit hati, pesimisme dll karena yakin bahwa setiap yang terjadi pasti ada hikmah dan inspirasi yang diselipkan Allah SWT, sehingga terdorong untuk terus berbuat baik dan siap menerima segala ketetapan-Nya. Dan dalam menjalani hidup pun senantiasa optimis dan penuh harapan dengan terus mengamati, menggali, memahami dan menemukan ayat-ayat-Nya dalam setiap peristiwa dan fenomena yang terjadi di alam guna perbaikan kualitas kehidupan.

    Maka, sudah seharusnya memperluas cakrawala, wawasan dan paradigma berpikir dengan terus membaca, membaca apapun itu. Baik yang bersifat Qauliyah maupun Kauniyah. Karena dengan membaca, hati kita menjadi lapang, pikiran kita jernih, mudah memahami orang serta cerdas dan trengginas dalam menghadapi hiruk pikuk kehidupan.

    Akhirnya dengan membeli buku-buku ini tadi sore lalu menulis dimalam ini, pertanda kehidupan baru-ku segera dimulai. Ku ikhlaskan apapun yang terjadi dimasa lalu, aku tak akan benci dan menaruh dendam sedikitpun pada orang yang sengaja menyakiti-ku. Justru hal tersebut, ku niatkan untuk menyongsong hidup yang jauh lebih baik. Move on.


    Yogyakarta, 13 Februari 2019
    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Keberanian

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Keberanian tidak jarang dipersepsi sebagai sesuatu yang jelek, karena dikaitkan dengan kesombongan. Namun keberanian pada hakekatnya merupakan suatu sifat yang seharusnya dimiliki setiap insan untuk bisa survive hidup di dunia dan meraih kebaikan untuk kehidupan selanjutnya. Seorang tokoh Psikologi Humanistik, Rollo May (1975) mendeskripsikan bahwa keberanian itu ada 4 macam, 1) keberanian fisik (physical courage), keberanian hadir karena memiliki kekuatan fisik, 2) keberanian sosial (social courage) keberanian untuk berkomunikasi, berargumentasi dan berdebat, 3) keberanian kreatif (creative courage), keberanian untuk berpikir dan menghadirkan karya kreatif dan inovatif, dan 4) keberanian moral (moral courage), keberanian menegakkan yang haq di mata Allah swt di hadapan khalayak. Kita bisa memgidentifikasiksn kita sendiri, bahwa selama ini perilaku kita lebih didasarkan oleh keberanian yang mana? Semoga kita lebih banyak didasarkan atas kebenaran yang memiliki nilai lebih tinggi.

    Bagaimana dengan keberanian menurut Islam (As sajaa’ah). Menurut Hamka, bahwa ada dua katagori keberanian, yaitu keranian semangat dan keberanian budi. Keberanian semangat sangat dibutuhkan untuk berperang dan berjihad, sedangkan keberanian budi dibutuhkan ketika menyatakan suatu kebenaran yang diwujudkan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Berani menyatakan tidak di depan atasan, ketika tidak memiliki rujukan dalam agama. Berani menegakkan ajaran agama di tengah-tengah lingkungan yang dzalim dengan tetap didasarkan nilai-nilai toleransi.

    Untuk dapat memiliki keberanian, maka perlu menegakkan tauhid pada diri kita, “Isyhaduu bi annaa muslimuun”.

    Memamg tidak banyak ummat yang memiliki keberanian, padahal Allah swt sendiri memerintahkan untuk berani. Allah swt berfirman dalam QS Al Imran, 3:139, “Walaa tahinuu walaa tahzanuu wa antumul a’launa in kuntum mu’miniin (Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kalian orang-orang yang beriman. Dengan memiliki iman yang teguh, mestinya kita memiliki keberanian, karena tidak ada daya dan kekuatan, kecuali kekuatan yang hanya milik Allah yang Maha Agung.

    Di tengah-tengah era Disrupsi, tidak boleh menjadikan kita penakut, takut terhadap perubahan dan kemajuan ipteks, melainkan harus menjadi subjek yang berani menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks, sehingga kita bisa survive dan menyelesaikan segala persoalan dengan cara yang sehat terpuji.


    Uzbek, 28 November 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Ncera (Part 5) - Etika Politik Ncera

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Politik yang mengutamakan budi, pengabdian dan ilmu. Menyambut pesta demokrasi yang sebagian besar rakyatnya tidak mendapat bagian kue kebaikan".

    Teman-teman yang budiman, kita sebagai orang Ncera bukan tidak punya harga diri, bukan tidak punya basis nilai dalam bersosial. Kita bukan tidak punya sistem etik dalam berpolitik, bukan tidak punya kerangka pemikiran, tata tutur dan acuan kebudayaan dalam bertindak. Akan tetapi, kita ini lupa tentang identitas kita sebagai orang Ncera. Barangkali penyakit lupa itu yang membuat kita tersegel dari segala nilai dan ilmu dalam kehidupan sosial ini. Kita harus terima dengan ikhlas bahwa memang benar wajah berpolitik kita sekarang sangat rakus. Mari kita tanya dan lihat dari rekam sejarahnya, apakah ada wakil kita di legislatif maupun eksekutif yang visi misi nya ingin miskin kalau dia terpilih? Atau apakah ada wakil rakyat kita yang miskin saat dia menjabat? Kalau ada, kita akan menyambutnya dan berbondong-bondong untuk membantu. Kita siap memberikan bantuan moril dan materil untuknya, kita siap menjadi teman seperjuanga dan rekan hidupnya. Suatau pertanyaan yang tidak menarik dimata orang dewasa sekarang, namun dapat mengulur erosi politik yang merugikan kita rakyat kecil.

    Wajah berpolitik kita sama sekali tidak berkiblat pada 'Ncera' sebagai nilai dan ilmu, kita berlomba-lomba untuk adu argumentasi serta visi misi, tapi sangat kering terhadap kejujuran dan norma. Kita menjadi manusia tampa jiwa kemanusiaan. Segala tempat dan keadaan menjadi moment terbaik untuk menjual pencitraan. Tidak apa-apa, asalkan konteks dan acuannya jelas. tapi Kita harus mulai mengerti kalau Ncera tidak hanya nama sebuah desa. Akan tetapi, Ncera merupakan seluruh kebaikan yang terkandung dalam semua kitab yang dimiliki oleh umat manusia. Ncera adalah harga diri dari seseorang yang mengerti tentang Ncera, Ncera merupakan sistem nilai yang menjadi daya jual seseorang dalam berpolitik. Ncera adalah kerangka etik dalam bersosial, Ncera merupakan acuan identitas dan personalitas yang membedakan seluruh aksi kita dengan yang lain. Serta Ncera menjadi standar nilai yang digunakan oleh setiap orang dalam merumuskan masalah-masalah sosial.

    Kita bukan tidak punya perpustakaan masa lalu, tetapi modernitas dan universalitas merengguk sebagian besar harga diri kita sebagai anak dari Ncera, kita tidak berani lagi mengungkap tabir tentang Ncera dikarenakan data yang kita miliki tidak valid ( ilmiah). 'Mpama' adalah istilah yang sangat lucu dimata kaum terdidik, kita hanya menganggap itu sebagai rekayasa fiksi semata. Tampa ada upaya penelitian lebih lanjut. 'La Raji' dan 'La Dija Sangga' merupakan beberapa tokoh yang kurang populer dikalangan kita, sebab mereka tidak meninggalkan bukti apa-apa untuk keberadaannya. Sebuah entitas kecil tapi meninggalkan segudang ilmu dan pengetahuan untuk keberlangsungan khazanah kebudayaannya. Dan kalau mau jujur, berkat cerita-cerita tersebut kita bisa belajar tentang sebuah kesabaran dan kesederhanaan, kita bisa belajar tentang pentingnya sejengkal tanah daripada emas dan permata. Dari mereka kita bisa belajar tentang politik bukan untuk direbut tapi kepantasan( kisah la laji dan ngaro la ngawu). Serta pentingnya budi pekerti dibalik suatu kepintaran. Saya sangat yakin bahwa ada sistem nilai yang bisa terlahir kembali. Saya percaya bahwa segala yang dilakukan oleh orang Ncera sekarang, merupakan reingkarnasi dari apa yang pernah di lakukan oleh nenek moyang kita di masa lampau, terutama sikap mereka dalam melayani hidup dan kehidupan. Lalu apa yang membuatnya terkikis dan hilang, yaitu sistem pengetahuan dan kebudayaan yang kita terima selama ini.

    Ilmu pengetahuan selalu menawarkan untuk mempelajari tentang segala sesuatu yang berada di luar diri seseorang, tampa di imbangi dengan mempelajari diri sendiri secara utuh dan menyeluruh, serta tidak diarahkan kepada terminologi sejarah nya sendiri secara berkelanjutan dan metodelogis. Semuanya sudah tersaji saat ini, tapi sikap universalitas tentu tidak bisa di terima secara mutlak, sebab kadangkala bisa menghapus eksistensi lokalitas kita. Termasuk eksistensi politik orang Ncera. Orang Ncera mempunyai sistem politik tersendiri yang membedakan dengan sistem politik yang lain. Orang Ncera menganggap bahwa politik tidak hanya menyangkut transaksi, bukan tentang berbagi kesenangan semata, atau hanya menukar kebahagiaan, akan tetapi politik merupakan aksi mengikhlaskan kebaikan untuk diberikan kepada orang lain. Kalau politik dimaknai sebagai transaksi, berarti berkaitan dengan segala hal yang bersifat materi.

    Kalau politik dimaknai sebagai berbagi kesenangan, berarti berkaitan dengan kesenangan yang di bagi-bagi meskipun kita tidak tau dari mana dan tujuannya ke mana. Kalau politik kita maknai sebagai aksi berbagi kebahagiaan, berarti berkaitan dengan tukar tambah kebahagiaan dengan orang yang memberikan kebahagiaan juga, kita melayani kepercayaan orang lain dengan kepercayaan juga. Dan kalau politik kita maknai sebagai proses mengikhlaskan kebaikan, berarti berkaitan dengan memberikan kebaikan tampa berharap ada kebaikan yang kembali kepada kita dalam bentuk apapun. Melayani manusia tampa berharap dilayani, serta mencintai manusia tampa berharap dicintai. Dan dalam point yang ke empat inilah pertanyaan tentang legislatif dan eksekutif yang miskin dan mau miskin itu bisa terjawab.

    Pada tingkat tertinggi politik merupakan aksi mengikhlaskan kebaikan untuk dibagikan kepada orang lain, kalaupun politik itu dimaknai sebagai sebuah transaksi, idea, kebahagian, dan kesenangan bukan berarti salah. Namun itu hanya sebuah makna yang terletak dibawah 'mengikhlaskan kebaikan' dari politik tersebut. Melirik uraian sederhana diatas, menurut kami 'mengikhlaskan kebaikan' untuk orang lain itulah wajah politik orang Ncera yang diwarikan dari masa ke masa, Dimana politik yang lebih mengutamakan budi, nalar dan ilmu daripada diri sendiri dan kelompoknya.

    Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:
    >> Ncera Part 1
    >> Ncera Part 2
    >> Ncera Part 3
    >> Ncera Part 4
    >> Ncera Part 5


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Pengamat Hukum, Sosial, Budaya / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Kebersihan Hati

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Kunci hidup manusia adalah hati yang bersih, hati yang selamat, dan hati yang suci. Dengan kata lain, bahwa kebersihan, keselamatan, dan kesucian hati itu sangat menentukan selamat tidaknya seseorang dalam hidupnya. Mengapa demikian, Allah swt berfirman, “(yaitu) hari di mana harta dan anak-anak tak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap kepada Allah swt dengan hati yang bersih (QS Asy Syu’ara, 26:88-89). Juga Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Namun, jika segumpal darah itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati (HR Bukhori dan Muslim).

    Menyadari akan pentingnya posisi hati dalam hidup kita, maka kita merasa sangat perlu bisa menjaga hati dari noda dan dosa, menjaga dari hal-hal yang bisa membusukkan hati, dan membersihkan hati dari niat-niat kurang terpuji, sehingga kita terhindar dari perilaku tercela, melainkan terbiasa berbuat kebaikan kepada Allah swt maupun kepada orang lain. Kita tidak sadar bahwa yang selama ini kita selalu menjaga hati dan perilaku, diam-diam bisa terprovokasi oleh perilaku yang kurang terpuji lewat medsos. Memang kita sudah memiliki UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), bahkan sejumlah orang atau institusi telah berhasil menjadikannya sebagai instrumen untuk melindungi diri dari kekerasan dan perlakuan yang merugikan. Namun cukup banyak yang dirugikan dengan kata-kata yang menyinggung perasaan, bahkan sampai mengolok-olok yang mereka diamkan dan tidak ambil langkah hukum dengan pasrahkan kepada-Nya.
    Apapun yang terjadi kondisi dewasa ini sangat menguji diri kita, sehingga kita harus menjaga hati dengan ekstra keras.

    Setidak-tidaknya upaya yang bisa dilakukan di antaranya : 1) menyegerakan dan menyempurnakan ibadah wajib; 2) memperbanyak ibadah sunnah; 3) memperbanyak dzikir; 4) tilawah Al Qur-an (membaca, memahami dan mengamalkan); 5) bergaul dalam lingkungan yang baik dan kondusif; 6) mengingat kematian dan hari akhir; 7) menghindari riya’, ujub, dan takabbur, buruk sangka, dan marah; 8) membiasakan sabar, husnudz dzan, memaafkan, saling mendoakan; 9) menghindari menghindari jalan syaithan.

    Memang untuk menjaga hati dan membersihkan hati tidak bisa instan, melainkan butuh proses secara terus menerus. Yang penting menuju ke yang terbaik apapun posisi kita sekarang. Ada good willingness untuk terus menjadi lebih baik, memiliki qalbun saliim.


    Yogyakarta, 27 November 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Milad HMI Ke-72

    Ilustrasi HMI. Foto: detiksumsel.com
    PEWARTAnews.com – HMI adalah Salah satu organisasi yang banyak memberikan sumbangsih pemikiran segar dalam hidupku terkait dengan spirit keislaman, keindonesiaan, multikultural, dan pluralitas. Ciri khas dari HMI adalah tradisi intelektual dan keilmuan yang interdisipliner. Selain kader digodog dengan materi wajib seperti KMO, NDP, Sejarah HMI, BTQ, Wawasan Keislaman dan Keindonesiaan, setelah LK. I di HMI masih ada training lanjutan yakni LK.II, LKK, SC (Senior Course), dan LK.III. Hal tersebut menujukkan bahwa HMI menjunjung tinggi Al Qur’an dan Hadist sebagai world view dalam kehidupan yang termanifestasi dalam penghargaan yang sangat tinggi pada ilmu, pengetahuan, wawasan, pengalaman dan ilmuan. Oleh karena itulah, HMI mempunyai jargon sederhana namun substansial yakni Beriman, Berilmu dan Beramal. Karena setiap manusia yang “berakal” mempunyai andil, peran, dan tanggungjawab menjadi insan yang beriman dan berilmu pengetahuan. Tentu iman tidak hanya sekedar percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi harus termanifestasi dalam tindakan kongkrit untuk melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan sehingga visi misi hidup sebagai ‘ibad yang menghambakan diri kepada Nya sekaligus pengemban amanah kehidupan sebagai “khalifatullah fil ardhi” yang bertugas memakmurkan bumi dapat terealisasikan dengan baik. Hal tersebut senada dengan tujuan HMI yakni “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhai Allah SWT”.

    Prof. Dr. Nurcholish Madjid mengatakan bahwa wujud manusia yang beriman adalah senantiasa memberikan perlindungan dan rasa aman kepada orang lain (NDP HmI re-interpretasi Iman dalam pendekatan sosial). Hal ini senada dengan ngendikanipun Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) “Jadilah orang yang bisa membuat orang lain bersyukur ada dirimu, merasa aman ketika berada di dekatmu, percaya dan mempercayakan segalanya kepada dirimu”. Karena yang terpenting dalam beragama ialah ketika mampu mengimplementasikan serta menginternalisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

    HMI bukanlah milik orang NU, bukan pula milik orang Muhammadiyah, HTI, PERSIS dan “label-label islam” tertentu, namun HMI bersifat independent yang tidak mempersoalkan NU, Muhammadiyah, Persis atau yang lainnya. Karena HMI berdiri diatas semua golongan. Di HMI inilah saya belajar bagaimana hidup dalam berbagai macam warna dan sisi-sisi yang berbeda. Harus disadari bahwa manusia selamanya tidak akan pernah bisa hidup dalam satu warna. Ibarat sebuah musik, jika hanya ada gitar saja tentu tidak akan indah dan berirama melodi-nya, namun jika ditambah dengan bass, piano, suling pasti akan lebih indah , menarik dan berkesan. Seperti Itulah hakikat kehidupan, bahwa perbedaan adalah rahmat. Dan jangan pernah membatasi diri untuk terus menelaah, mengeksplore dan memahami setiap alur cerita Tuhan yang di gariskan dalam kehidupan. HMI mengajarkan pula kepada ku untuk senantiasa melihat sesuatu dengan cara pandang yang dalam dan luas, dengan kata lain jangan terburu-buru untuk menyimpulkan suatu hal apalagi menjudge bahwa dirinya yang “paling” benar.

    Terimakasih HMI telah mengenalkanku pada buku-buku Nurcholish Madjid, Budhy Munawar Rachman, Kuntowijoyo, Ahmad Wahib, Jalaluddin Rakhmat, Azhari Ahmad Tarigan, Harun Nasution, Karl Marx, Lafran Pane, Gaus Ahmad, dll. HMI pulalah yang mengajarkan kepadaku tentang multikultural serta Islam yang ramah, toleran dan inklusif.

    Akhir kata, Semoga HMI istiqamah dalam mencetak dan membina kader ummat dan kader bangsa yang berwawasan interdisipliner dengan memiliki spirit keislaman dan keindonesiaan yang progressif, dinamis dan inklusif.
    Teruntuk Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Ayahanda Lafran Pane, HMI beserta kader-kadernya di seluruh Indonesia. Lahum Al- faatihah !

    Happy Milad HMI Ke-72. Yakusa –Yaki Usaha Sampai. (Qs. An Najm : 39-42).


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Waktu

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Waktu memiliki banyak makna. Waktu bisa berarti ibadah, belajar, sukses, perjuangan, pengabdian, uang, hiburan, atau lainnya, tergantung pada falsafat dan pandangan hidup kita. Jika waktu dapat dimanaj dengan baik, maka dapat berdampak positif, sebaliknya jika tidak dimanaj dengan baik bisa berdampak negatif. 
         
    Banyak kasus, bahwa orang-orang yang dapat mengelola waktu dengan baik, mereka menjadi orang beriman dan bertaqwa dengan baik, sukses studi, karir dan hidupnya. Sebaliknya orang yang tak disiplin menjaga waktu, abaikan dan buang waktu dengan kegiatan cuma-cuma, bahkan maaf tercela, maka kehidupannya cenderung sulit dan bermasalah. Ada Mahfudhat yang perlu menjadi renungan, “Alwaqtu kassaiif, in lam taqtha’hu qatha-aka”, yang artinya “Waktu itu laksama pedang, jika kamu tidak gunakannya dengan baik, maka akan memotongmu”.

    Kita juga ingat hadits Rasulullah saw, bahwa “Barang siapa yang hari ini lebih baik daripada kemarin, maka dia beruntung; barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka mereka merugi; barang siapa yang hari ini lebih jelek daripada dari kemarin, maka dia binasa. Betapa penting menjaga waktu terutama yang hidupnya ingin bahagia dunia dan akhirat.

    Coba kita perhatian peringatan keras Allah swt, bahwa setiap insan merugi, kecuali yang beriman, beramal shaleh, berwasiat tentang kebajikan dan kesabaran.

    Memperhatikan akan pentingnya waktu, maka kecakapan manajemen waktu penting dimiliki setiap insan, walau tidak mudah. Ada sejumlah ikhtiar yang dapat dilakukan untuk mengelola waktu dengan baik, diantaranya :1) Know your goal; 2) Priority wisely; 3) Just say no; 4) Plan ahead; 5) Eliminate distractions; 6) Deligate more often; 7) Watch what you spend; 8)Take care of yourself (https://quickbooks.intuit.com)

    Bagaimana dengan kita, apakah kita termasuk orang yang skillfull dalam manajemen waktu, atau biasa-biasa saja, atau rendah. Apapun yang Anda alami sangat bermanfaat bagi kita semua, semoga ke depan kita bisa lebih baik dalam manajemen waktu, termasuk orang-orang yang beruntung, bukan termasuk orang-orang yang merugi. Aamiin yaa mujiibas saailiin.


    Yogyakarta, 23 November 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Penembakan Warga Sipil Oleh Aparat di Bima, Ini Tuntutan Mahasiswa Jogja

    Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) usai melakukan aksi massa di titik nol kilometer Yogyakarta, 19/02/2019.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) mengikapi persoalan yang terjadi di Kabupaten Bima belum lama. Puluhan mahasiswa tersebut melakukan aksi massa disejumlah titik di Kota Gudeg Yogyakarta pada 19 Februari 2019.

    Mahasiswa-mahasiswa tersebut menilai saat ini di Kabupaten Bima kondisi Hak Asasi Manusia (HAM) sudah mati atau tidak lagi ternilai. “(saat ini) Matinya HAM di Kabupaten Bima dan (menyulap) Bima Ramah Menjadi Bima Berdarah,” ucap Muhaimin Deven selaku Koordinator Umum Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) usai melakukan aksi massa di titik nol kilometer kota Yogyakarta.

    Deven menilai, pelanggaran HAM yang terjadi di Bima kerap diabaikan oleh pemerintah setempat. “Dengan ini kami menyikapi persoalan yang terjadi di kabupaten Bima yang dimana kasus-kasus pelanggaran HAM di kabupaten Bima yang dilakukan oleh Militerisme.   Tapi tidak ada satupun yang pernah diselesaikan oleh pemerintah republik Indonesia, dimana kasus pada tanggal, 24 Desember 2011 penembakan kepada masyarakat Kabupaten Bima ( kecamatan Sape dan kecamatan Lambu) yang menolak adanya pertambangan belum di selesaikan dan begitupun di kecamatan-kecamatan lainya juga terjadi penembakan yang di lakukan oleh Militerisme dengan persoalan yang berbeda tapi belum di tuntaskan juga , aparat Militerisme mengunakan dalil mengamankan massa aksi sehingga melancarkan penembakan masyarakat tersebut,” beber Deven.

    Menurut Deven, baru-baru ini pada tanggal, 15 Februari 2019 terjadi penembakan yang dilakukan oleh aparat militerisme dengan dalil yang sama yaitu mengamankan massa aksi dengan menggunakan peluru tima panas, “Sehingga mengorbankan (masyarakat) yang  bernama  Nuralisa umur 5 tahun dan adapun korban tembakan lainya,  Ma’ruf (40 tahun) luka tembakan dikaki kanan, Herman (16 tahun) luka dipinggang kanan belakang, Junaidin (24 tahun) luka di kepala belakang telingga kanan dan puluham lainya masyarakat kena luka pukulan aparat militerisme,” sebutnya.

    Deven menjelaskan lebih lanjut, “Pada tanggal 15 Februari 2019 masyarakat di kabupaten Bima khusunya di kecamatan Sape dan kecematan Lambu meminta kepada bupati Bima yang bernama Indah Damayanti Putri dan Wakil Bupati Dahlan untuk melakukan perbaikan jalan yang sesuai dengan janji politiknya sebelum pemilihan bupati dan wakil bupati tersebut, karena infrastruktur menurut masyarakat Bima adalah akses untuk kelancaran ekonomi,” kata Deven.

    Rangkaian aksi yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) pada intinya menuntut enam point penting yang akan ditindaklanjuti oleh pemerintah setempat. “Maka dengan ini kami dari Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta menuntut: Pertama, Bupati dan Wakil Kabupaten Bima (Indah Damayanti dan Dahlan) harus bertanggung jawab atas kejadian di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu; Kedua, Copot Kapolres Kabupaten Bima dan usut tuntas pelaku penembakan terhadap masyarakat Sape dan Lambu; Ketiga, Meminta kepada Kapolda NTB agar melakukan pemecatan terhadap para pelaku penembakan dan kriminalisasi terhadap masyarakat Sape dan Lampu; Keempat, Pemerinta Kabupaten Bima harus merealisasikan mengadaan infrastruktur; Kelima, Komnas HAM harus turun tangan mengenai pelanggaran HAM di Kabupaten Bima; Keenam, Tangkap dan adili para pelaku pelanggaran HAM,” tutup Deven dengan lantang. (Arif / PEWARTAnews)


    Pahlawan Masa Kini adalah Orang yang Karya-Karyanya Bermakna untuk Kemaslahatan Dunia dan Akhirat

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., mengatakan bahwa dalam menghadapi Hari Pahlawan, penting sekali kita melakukan renungan sebagai wujud empati. “Jika selama ini pahlawan sering dimaknai sebagai orang yang telah berjuang dengan pengorbanan jiwa dan raga untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan, maka makna pahlawan era kini dan mendatang, RI 4.0 dan seterusnya adalah siapapun yang mampu mengisi kemerdekaan dengan semangat Jihad melalui karya-karya inovatif, sehingga menjadi Inovator bereputasi yang dapat memberikan solusi efektif terhadap persoalan yang terus muncul dan semakin kompleks di tengah-tengah masyarakat yang tidak saja terkenal secara nasional, melainkan juga di kancah internasional,” ucap Prof. Rochmat, di Yogyakarta, 07/11/2018.


    Oleh karena itu, kata mantan Ketua Umum Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tingggi Negeri (SNMPTN) tahun 2015 ini, potensi kreatif dan inovatif harus dipupuk dan dibina sedini mungkin, sehingga mampu memberikan alternatif solusi dan siap menghadapi tantangan pada jamannya. “Persoalan inovasi seharusnya tidak difokuskan pada aspek kognitif saja, melainkan aspek nilai (keagamaan yang diyakini) dan psikomotor,” bebernya.

    Lebih jauh, menurut mantan Menurut Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017, mengatakan bahwa pahlawan yang dimaknai dalam era millenial masa kini adalah orang yang mempunyai karya-karya bermakna untuk kemaslahatan hidup di dunia dan bermakna untuk kemaslahatan hidup di akhirat. “Sebagai bangsa yang memiliki pandangan hidup Pancasila, bahwa innovator yang bisa di-claim sebagai pahlawan adalah yang karya-karyanya tidak hanya untuk kemaslahatan dunia saja, melainkan juga untuk kemaslahatan akhirat,” cetusnya dengan penuh optimis.

    Ncera (Part 4)

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Sesuatu yang tersembunyi.

    "Alam dan manusia dalam waktu yang sangat lama sudah hidup berdampingan, namun semuanya berubah ketika negara api menyerang. Tapi bukan dalam cerita avatar, negara api yang dimaksud adalah ketika manusia mulai dikuasai oleh nafsunya sendiri"

    Ncera bukanlah Mesir yang telah membangun Piramid simetris untuk membuktikan keberadaannya, yang konsep bangunannya sampai sekarang masih membingungkan para ilmuwan. Ncera bukan Babilon yang membuat Taman Gantung untuk eksistensinya, bukan kaum Rum yang membuat Coloseum, bukan Yunani yang membuat kuil dengan ukiran rumitnya, juga bukan suku Inca yang membuat Machu Picchu untuk keagungan daerahnya. Tetapi Ncera hanya sebuah desa kecil, yang kecilnya sampai membuat kita tidak bisa melihatnya, bahwa sesungguhnya dia ada dan memanggilmu dalam setiap sujud dan keseharianmu.

    Kita harus mengerti bahwa diatas kecerdasan diri ada kecerdasan sosial (kolektif) yang harus kita temukan dan sadari. Diatas kata 'Tahu', sesungguhnya ada kata 'bisa' yang masih hidup, di atas kata 'bisa' masih ada kata maha bisa. Diatas kata maha bisa masih ada kata bijak yang harus kita selesaikan, diatas kata bijak masih ada kata maha bijak yang menunggu, diatas kata maha bijak masih ada kata pengasih dan di atas kata pengasih masih ada kata maha pengasih yang harus kita pelajari dan praktekkan. Sebuah perjalanan tidak hanya selesai menjadi orang baik, tapi di atas baik tentu harus benar, diatas benar harus arif, dan diatas arif harus ikhlas. Mungkin tidak hanya itu misteri katanya, barangkali masih ada ribuan bahkan jutaan kata yang belum sempat kita cermati dan kita dalami. Begitu juga dengan memaknai Ncera, mungkin tidak cukup huruf, kata, dan kalimat untuk menuangkan semua yang terkandung dibalik Ncera, tapi sungguh ketidaktahuan akan mengantarkan kita pada pijakan pertama untuk menemukan cakrawala dibalik Ncera.

    Kalau Ncera adalah ibu maka kita adalah anak-anak yang di asuh, asah dan di asih olehnya. Kalau dia perempuan maka kita adalah laki-laki yang melengkapi segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau Ncera adalah tanah maka kita menjadi petani yang selalu setia membajak dan membujuknya. Kalau Ncera bermakna baik, berarti Ncera menjadi jalanmu untu menemukan benar, bijak dan ikhlas. Dan pada level tertinggi orang Ncera merupakan orang yang sudah ikhlas untuk tidak bergantung pada sesuatu dan ikhlas melepas sesuatu. Ketika Ncera kita sadari sebagai jalan, maka pada konteks inilah kita menemukan Tuhan dalam memaknai Ncera. Ini bukan kebetulan, kadang kala engkau menemukan segalanya dibalik teks (buku-buku dan segala simbol), tetapi adakalanya sesuatu itu yang mengajari kita untuk mengenali dirinya.

    Kita hanya boleh merencanakan suatu kebutuhan bukan keinginan, Sebab semesta memberi sesuatu kepada kita sesuai dengan apa yang di butuhkan, bukan yang di inginkan. Walaupun aturannya demikian, bukan berarti suatu pencapaian tidak pernah terjadi tampa didahului oleh sebuah keinginan.

    Perumpamaan itu bagaikan kehati-hatian kita ketika berjalan di suatu gang, meskipun sudah sangat teliti dan hati-hati bisa jadi suatu ketika kita akan menyicipi indahnya aspal juga, maka disinilah berlakunya aturan dua arah. Antara sesuatu (subjek) dengan sesuatu (objek). Kadang kala pada satu waktu, sesuatu tidak membutuhkan yang lain untuk hidupnya, sesuatu bisa mengendalikan yang lain, saling membutuhkan antara keduanya, dan dalam satu waktu segalanya bisa saling melengkapi satu sama lain. Berarti antara sesuatu dengan sesuatu mempunyai beberapa bentuk Hubungan. Pertama, sesuatu tidak membutuhkan yang lain. Kedua, sesuatu menguasai yang lain. Ketiga, sesuatu melengkapi sesuatu yang lain. Keempat, sesuatu membutuhkan sesuatu yang lain untuk keberadaanya. Dan begitulah yang terjadi antara Manusia, alam dan Ncera. Mereka berada pada posisi nomor tiga dan empat.

    Apakah manusia bisa hidup tampa alam? Apakah alam bisa hidup tampa manusia? Apakah Ncera bisa hidup tampa alam dan manusia?

    Bersambung.



    Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:

    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Pengamat Hukum, Sosial, Budaya / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Pesantren

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berpeci)
    PEWARTAnews.com – Pesantren belakangan ini menjadi salah satu tema penting. Kendatipun pesantren dicibirkan oleh sejumlah orang, pesantren sebagai institusi genuine milik ummat Islam Indonesia mempunyai tiga misi utama. Pertama, pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mendidik ummat menjadi insan bertaqwa, insan kamil, insan yang matang, berintegritas, mandiri, dan cerdas holistik. Mengapa demikian, karena pesantren memungkinkan terjadinya praktek pendidikan formal, informal, dan nonformal yang saling melengkapi. Transformasi nilai dapat berlangsung sangat efektif, jauh lebih efektif dibandingkan dengan pendidikan formal.

    Kedua, pesantren sebagai lembaga perjuangan yang mampu lahirkan santri yang memiliki tanggung jawab kebangsaan, semangat jihad fi sabiilillah, hubbul wathon minal imaan. Jika di masa penjajahan, mampu lahirkan santri pejuang untuk rebut kemerdekaan, kini lahirkan santri pejuang dan pembangunan yang mampu pertahankan kemerdekaan dengan melawan pengacau bangsa dan negara serta bekerja total untuk pembangunan bangsa menuju baldatun thayyibatun warabbun ghafuur. Hanya saja caranya jangan sampai kontraproduktif, sehingga respek terhadap santri tetap terjaga.

    Ketiga, pesantren sebagai lembaga layanan ummat yang mampu menjadikan santri dan institusi menjadi khadimul ummah. Pesantren yang tangguh, seharusnya mampu hasilkan santri yang tanggap dan mampu selesaikan masalah ummat, baik pada tataran pikiran mauapun hasilkan santri yang kompeten respon terhadap masalah ummat. Karena itu pesantren idealnya harus inklusif, bukan ekslusif. Pesantren bagaikan menara air yang memberi kesejukan dan oksigen lingkungan sekitarnya.

    Selain tiga misi utama tersebut, bisa juga dikembangkan dan dimantapkan bahwa pesantren menjadi lembaga dakwah. Terutama di era digital ini, sangat mungkin pesantren menjadi lembaga dakwah, pusat lahirnya kegiatan dan bahan yang mampu didesiminasikan untuk ummat sebagai langkah dakwah yang proaktif, atau pesantren dengan timnya yang mampu merespon semua persoalan yang dihadapi ummat, sehingga pesentren bersifat reaktif dengan membuka hotline.

    Dengan menjaga misi utama pesantren yang sangat berharga ini, insya Allah pesantren tetap menjadi asset ummat Islam yang bisa bertahan dan eksis secara fungsional ilaa akhiriz zaman. Untuk itu perlu terus dijaga, sehingga dapat terhindar dari kehancuran. Aamiin. Kepada-Nya lah tempat bergantung dan mohon bimbingan. Semoga.


    Yogyakarta, 3 November 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 

    Atlet STKIP Yapis Dompu Raih Medali Emas dan Perak

    Mahasiswa dan Mahasiswa STKIP Yapis Dompu peraih medali emas dan perak.
    Dompu, PEWARTAnews.com -- Kabar gembira datang dari dua pesilat STKIP Yapis Dompu yang mampu meraih medali. Mereka adalah Sri Mulyati Rukmana dan Wahyudin yang merupakan Mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi.

    Kedua atlet tersebut mampu membawa pulang medali emas dan perak dalam perhelatan Pekan Olahraga dan Sains Tingkat Mahasiswa (POSIM) tingkat Provinsi yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Nusa Tenggara Barat. Event akbar tersebut  diselenggarakan di IKIP Mataram mulai 11-20 Februari 2019.

    Sri Mulyati Rukmana mengaku sangat senang dan terharu, pasalnya, Ia tidak pernah menyangka akan menjadi juara dan meraih medali emas. Pengakuannya selama ini Ia berlatih dengan sungguh-sungguh. Begitu pula dengan wahyudin, Ia sangat bersyukur bisa mempersembahkan medali perak untuk Kampus tercinta STKIP YAPIS Dompu. Ia harus mengakui keunggulan pesilat asal IKIP Mataram yang membuatnya puas dengan peringkat kedua.

    Pada kesempatan lain. Sandi Putra Pratama, yang juga sebagai dosen pendamping Sri dan Wahyudin, merasa senang sekaligus bangga karena mendampingi mahasiswa yang memiliki prestasi di tingkat Provinsi. “Alhamdulilah saya dengan senang dan bangga mempunyai mahasiswa yang sudah berprestasi di tingkat provinsi, semoga kedepannya target menuju nasional bisa tercapai” kenangnya.

    Selain itu, Ia juga berharap mahasiswa tetap berlatih karena tiga bulan lagi akan ada Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA), dan juga dalam waktu dekat akan ada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) di Jakarta.  (Bulan)

    Esensi Sabar

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Sabar adalah salah satu sifat terpuji (Akhkaq Mahmudah) yang seharusnya kita miliki. Sabar sangat melekat dengan mushibah (Ashshabru ‘alal mushiibah), baik terkait dengan hilangnya harta benda, buah-buahan (tanaman), bahkan hilangnya jiwa (QS Al Baqarah, 2:155). Mengapa harus sabar, karena kita itu milik Allah SWT, termasuk segala yang sering kita claim sebagai milik kita, apakah uang, harta benda, tanaman yang menghasilkan, bahkan jiwa kita, jika semua atau sebagiannya hilang dan hancur, maka sikap yang terbaik dalam menghadapinya dengan sabar. Ingat bahwa Allah swt tidak akan pernah menguji di luar kemampuan kita.

    Hal lain yang juga diperlukan sabar adalah ketika kita memperoleh karunia atau rizqi, termasuk jabatan (ashsharu ‘alar rizqi). Orang yang tidak sabar dalam menyikapi rizqinya cenderung ingin habiskan rizqi sepuas-puasnya dan secepat-cepatnya, senyampang masih bisa menikmati harta yang ada, sehingga lupa membayar zakat dan boleh jadi kehidupan masa tuanya lebih sengsara.
    Asshabru ‘alat taqwa sangatlah penting dalam kehidupan kita (QS Al Baqarah, 2:153). Hal ini dapat dilihat dengan sabar dan tekun menunaikan ibadah, sholat, puasa, dan sebagainya, sehingga tidak cukup dengan wajibnya saja, melainkan ibadah sunnahnya. Demikian juga sabar mengendalikan diri dari godaan syaitan untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

    Terakhir, ashshabru ‘alal jihaad. Kesempurnaan iman dan Islam kita tergantung juga pada kemauan dan kemampuan berjihad. Allah SWT berfirman dalam QS An Nahl, 2:125), ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wal mauidhotil hasanah, wajaadilhum billatii hiya ahsan. Juga dalam QS Al-‘Ashri, 103:3)... Illalladziina aamanuu wa’aamilush shaalihati watawaa shaubil haqqi watawaa shaubish shabri. Keduanya sangat menganjurkan untuk terus amalkan sabar dalam berjihad.

    Menyadari akan banyaknya nilai kebaikan berbuat sabar, maka setiap kita, terutama pimpinan, perlu sekali mengamalkan kehidupan sederhana dan sabar. Demikian juga sebagai staf, perlu sekali sabar menunaikan tugas yang dihadapinya, karena dengan sabar bisa lebih fokus, sungguh-sungguh, dan selesaikan setiap tugas dan masalah yang sulit sekalipun. Insya Allah. Dengan sabar kita lebih bisa hadirkan solusi tehadap persoalan dunia dewasa ini. Kita yakin bahwa Allah SWT bersama orang-orang sabar.


    Yogyakarta, 2 November 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Selamat Tenggelam dalam Konspirasi Alam Semesta

    Buku "Konspirasi Alam Semesta".
    PEWARTAnews.com – Manusia terbentuk dari impian. Tanpa itu,kita hanyalah robot yang bergerak mengikuti hiruk-pikuk dunia, tapi tidak mengiringi irama yang dilantunkan bumi. Dan impian bukan sesuatu yang absolut. Ia dapat berubah, bertambah, bahkan berkurang.

    Diam dan rasakan debaran jantungku, saat kau ulurkan tangan menolongku. Kepalkan sayapmu, bawa aku terbang luka yang tersisa luruh dalam dekapmu. Pernahkah kau terjatuh secara sukarela? Seseorang akan menangkapmu. Seseorang akan mengajarimu cara tertawa, cara percaya, cara mengeja rasa tak bernama. Seketika itu pula, jagat raya berhenti bergerak. Jiwamu terbakar, ragamu  lebur, dan dirimu hanya bisa menyerah, karena tahu kau menyerah pada orang yang tepat. Aku milikmu hari ini, esok dan nanti.

    Kutitip rindu disela malam, berharap esok pagi kau ambil disudut langit. Menaruh angan dalam warnamu, tak hendak kulepaskan kenangan yang merantaiku. Berlarilah, aku akan mengejarmu. Sembunyilah, aku akan temukanmu. Membekulah, aku aka menunggumu luluh. Karena aku tahun kau yang pantas untuk hatiku.

    Manokwari, 20 Mei; Aku rindu hujan seperti aku merindukanmu. Sudah lama aku tidak memandang rintiknya memeluk bumi. Di Papua, semua terasa seperti musim panas ceria yang menyembunyikan sekelumit derita masyarakatnya. Mereka yang terus dikeruk hasil alamnya, ialah mereka yang sama yang sulit mengecap pendidikan dan pembangunan. Tapi, itu tidak berarti masyarakat papua tertinggal, sama sekali tidak. Di sini aku juga bertemudengan banyak orang pintar. Salah satunya kawan baruku, kak desi, seorang tenaga pengajar di Unipa. Dia pernah melanglang buana higga ketanah para Daeng demi menuntut ilmu. Aku mengagumi dia dan cita-cita luhurnya yang ingin mencerdaskan putra putri Papua. Anehnya, media tak pernah mengangkat soal kecerdasan anak-anak timur. Mungkin aku yang tidak pernah lihat, atau mungkin beritanya kalah pamor dengan hal-hal yang berbau pariwisata. Aku berjanji akan meliput lebih banyak soal ini. Bagaimana kabarmu dan papa? (hlm 65).

    Jauh adalah salah satu kata yang membuatku berani melihat, mengecap, dan menyambangi hal-hal baru. Di saat yang sama, “jauh” juga menjadi hal yang menakutkan bila itu terkait denganmu. Tapi, aku beterimakaish pada “jauh”. Karenanya, aku tahu bahwa aku merindukanmu. Dan jika rasa ini tak bernama, aku yakin hangatnya akan tetap sama, dan pemiliknya akan tetap engkau.

    Suatu ketika, tatkala bintang kejora meredup dilahap sang fajar, aku teringat pada sebuah kota tempat aku dan kamu bertemu, tempat kita memupuk asa. Dengan sekoper permintaan maaf, setumpuk penjelasan, dan segudang kerinduan, aku akan pulang pada pelukanmu, Ana Tidae.

    Orang-orang bilang ia memliki ingatan fotografis. Ia masih mampu merekam jelas suasana pantai Santolo yang ia lihat ketika TK-cinta pertamanya pada Indonesia. Ia masih mampu merekam jelas sala satu episode hidupnya saat berusia delapanbelas tahun, kala seorang anak bongsor memukulinya karena alasan yang tak ia pahami. Ia masih mampu merekam jelas mimik salah satu guru SMP-nya yang berang, sewaktu ia mengacungkan jari tengah sehabis guru itu memberikan pernyataan bahwa ia berasal dari keluarga eks-tapol tentu saja pada saat itu ia belum mengerti apa arti dari kata ‘eks tapol”, yang ia mengerti adalah hampir semua tetangga membenci keluarganya hanya karena semata “gelar” tersebut.

    Juang merupakan anak sulung dari keluarga yang sering dijuluki sebagai keluarga eks tapol, dia mempunyai adik bernama Fatah Dublajaya yang selalu mengangguk mengikuti kehendak sang ayah. Sedangkan Juang Astrajingga menolak hidup normal dengan pendapat tetap. Baginya, “normal “ versi sang ayah sangat membosankan, ia sudah menunduk tetapi tidak mau lagi diatur. Juang juga merupakan seorang pemuda yang telah medapat gelar sarjana Teknik Informatika tetapi berprofesi sebagai seorang jurnalis. Juang memang pemuda yang dulunya sudah terbentuk menjadi pemuda yang kritis berkenalan dengan organisasi kampus semasa ia kuliah. Terkadang Juang terpikat pada dunia sastra pada masa-masa akhir perkuliahannya.

    Ibunda Juang adalah wanita sederhana yang senantiasa mengingatkannya agar beribadah dan tak lupa Tuhan. Sesuatu yang telah lama tidak ia turuti. Tatkalah Juang pergi dari rumah, tiga tahun silam, sehabis bertengkar hebat dengan ayahnya karena perbedaan pendapat, hanya mata ibu yang berkaca-kaca yang memberatkan langkahnya melakukan petualangan gila-dengan cara menggembel-ke daratan Sulawesi. Pada akhirnya, ia tetap berangkat selepas mengecup kening sang bunda dan meyakinkan bahwa dirinya akan menjadi seorang yang berguna.

    Juang memiliki seorang kekasih bernama Ana Tidae yang akhirya berhasil ia nikahi selepas ia memantapkan diri dan menyelesaikan Film Dokumenter yang mengangkat sejarah papua. Mereka berdua sempat menjalani hubungan jarak jauh pada saat itu. Tetapi mereka tetap berusaha menjaga komitmen. Bahkan Juang rutin mengirimkan surat kepada kekasihnya Ana Tidae. Sampai pada suatu hari Ana tidak mendapat pesan dari Juang Astrajingga. Tidak mendapatkan pesan dari kekasihnya, Ana sangat panik. Ia berusaha menghubungi kantor Juang. Sampai sebuah pesan masuk diponselnya.

    Kisah cinta yang begitu rumit. Apakah kisah Ana dan Juang akan berakhir bahagia? Atau justru cinta mereka akan hilang karena ditenggelamkan dalam konspirasi alam semesta?

    Novel konspirasi Alam Semesta merupakan Albuk. Jadi novel ini punya perlengkapan sebuah lagu. Album yang terdiri dari beberapa lagu yang beberapa liriknya tertuang dalam novel ini. Sandarkan punggung, dengarkan lagu mengiringi baris demi baris kata adalah cara teristimewa menikmati konspirasi alam semesta.

     Juang merupakan sosok pemuda yang sangat menarik terlahir dari keluarga yang ayahnya dijuluki sebagai seorang  eks tapol, yang membuat ia sempat memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Hubungannya dengan ayahnya sangat dingin, tetapi Juang sangat menyayangi ibunya, yang mampu membuat Juang kembali pada keluarganya.

    Membaca perjuangan Ana dan Juang juga sangat menyentuh hati. Terlebih lagi pada saat Ana dihadapkan dengan sebuah penyakit dan ia hanya menutupinya dari Juang, ia tidak tega memberitahukan karena ibunda Juang pada saat itu baru saja meninggal. Belum lagi muncul kesalapahaman yang membuat hubungan mereka renggang. Ada ego yang harus di taklukkan

    Konspirasi alam semesta tidak hanya bercerita tentang cinta dan asmara, melainkan mengangkat cerita keluarga yang begitu menyentuh hati pembaca. Membaca banyaknya kontradiksi yang ada pada novel ini membuat pembaca benar-benar meneteskan air mata. Keteguhan ayah Ana yang sangat luar biasa dalam menyelamatkan nyawa putrinya. Novel ini mampu membuat pembaca menyadari bahwa sosok seorang ayah dan ibu teramat penting bagi seorang anak. Karena mereka adalah nafas alam semesta.

    Dari seorang Juang kita juga belajar tentang pribadi yang sangat mengutamakan kepentingan sosial, berjiwa besar dan pekerja keras dengan segala keyakinan dan kepercayaan untuk meraih kesuksesan. Memiliki sahabat yang sangat memperdulikannya walaupun Juang telah tiada.

    Konspirasi alam semesta mampu membuat pembaca terus membuka halaman demi halaman untuk membacanya sampai-sampai pembaca tidak bisa menebak akhir dari ceritanya kecuali membacanya sampai halaman terakhir (jebakan alam semesta).

    Identitas Buku:
    Judul : Konspirasi Alam Semesta
    Penulis : Fiersa Besari
    Penyunting : Juliarga R.N.
    Penyunting Akhir : Agus Wahadyo
    Desainer Cover : Budi Setiawan
    Penata Letak : Didit Sasono
    Cetak Keenam, 2017
    Diterbitkan Pertama Kali oleh: Mediakita

    Peresensi: Nurjadidah
    Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Negeri Mataram (UNRAM)


    Musibah Lion Air JT 610

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (memakai jas)
    PEWARTAnews.com – Sabda Rasulullah saw dalam Haditsnya, berbunyi “I’mal lid dun-yaaka kaannaka ta’isyu abadan, wa’mal li akhiratika ka annaka tamuutu ghadan”, yang artinya, bekejalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selama-lamanya, dan beramal lah untuk akhiratmu seakan-akan besuk kau akan mati. Demikian juga firman Allah SWT, “faidzaa jaa-a ‘ajaluhum laa yasta-khiruuna walaa yastaqdimuun”, yang artinya, maka apabila telah datang saat kematian, maka tidaklah kamu mampu menunda saat kematian atau mempercepatnya” (QS Al A’raf, 34).

    Hadits Nabi saw dan Firman Allah swt ini terasa sekali memiliki relevansi yang sangat tinggi bagi semua yang menjadi kurban Lion Air JT 610 yang mengalami musibah tanggal 29 Oktober 2018. Sebagian besar di antara mereka bersemangat untuk tunaikan tugas dalam mencari nafkah yang halal demi diri dan keluarganya serta lembaganya, pada waktu yang sama mereka juga tidak bisa abaikan berdoa dan beramal sholeh untuk bekal, jika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya untuk selama-lamanya. Apalagi di kantong tempat duduk di Lion Air selalu tersedia leaflet Tuntunan Doa untuk beberapa agama yang tidak selalu ada di pesawat terbang lainnya. Beruntunglah penumpang yang selalu manfaatkan leaflet itu dengan tambahan doa lainnya, sebelum take off dan selama penerbangan.

    Semoga setiap memulai perjalanan dengan transport apapun, kita selalu sempatkan berdoa, semoga Allah SWT melindungi keselamatan kita. Aamiin. Akhirnya kami berduka yang sedalam-dalamnya atas mushibah Lion Air JT 610 dan ikut berdoa, semoga semua penumpang husnul khaatimah, diampuni dosa-dosanya, diterima amal baiknya, dan diterima di sisi-Nya. Demikian pula keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Aamiin.


    Yogyakarta, 31 Oktober 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Deradikalisasi: Problem dan Implementasi di Masyarakat Plural

    Ilham.
    PEWARTAnews.com – Kekerasan dengan mengatasnamakan agama, mulai dari, radikalisme, hingga terorisme, ditengarai masih marak di tanah air. Betapa tidak, dalam beberapa tahun terakhir ini banyak sekali, terjadinya pembomman dan konflik antar umat yang silih berganti mengguncang republik ini. Sebut saja bom Surabaya, konflik di Ambon, maupun pembakaran rumah ibadah di Tolikara. Fenomena itu terjadi dengan menjadikan jihad sebagai alasan pembenaran sekaligus sebagai landasan teologis. Masih dangkalnya pemahaman toleransi dan selalu curiga terhadap kelompok lain diindikasikan penyebab kerusuhan antar umat maupun kelompok masyarakat. Padahal keragaman dan pluralisme merupakan sunnatullah yang tak bisa di hindarkan oleh setiap manusia.

    Akar  konflik deradikalisasi yang terjadi di bumi NKRI di latar belakangi oleh beberapa kebutuhan, pertama, kebutuhan materi misalnya sumber daya alam, politik, perebutan kekuasaan,  mempertahankan toritorial, kedua, kebutuhan non materi misalnya mempertahankan harga diri, martabat kemanusiaan dan keadilan di mata hukum (persamaan di mata hukum) dan ketiga, kombinasi antar keduanya misalnya arab spring dan jihadis movements. Terlepas dari akar konflik deradikalisasi, masih banyak penyebab tindakan radikalisme misalnya pemikiran (ideologi), ekonomi, politik, sosial, psikologi, dan pendidikan.

    Fenomena Disrupsi pemahaman keagamaan Islam kontemporer yang masih banyak yang tekstual dalam memahami Al-Qur’an Hadist (mengembalikan segala persoalan langsung ke bunyi tekstual al-Qur’an dan Hadist), mudah melakukan eksklusi teologis terhadap praktik-praktik keislaman Indonesia pada umumnya atau kelompok  Islam lain dengan menyebutkan bid’ah, syirik, tersesat, kafir (eksklusivisme), tidak ramah terhadap perbedaan dan keragaman (kebinekaan), rendahnya komitmen terhadap negara dan bangsa Indonesia.

    Sumber-sumber intoleransi, radiakalisme, kekerasan keagamaan dalam dunia Islam banyak dipengaruhi oleh doktrin al walla wa al barra (setia dan penolakan; hanya setia pada kelompok agamanya sendiri dan ,menolak kerjasama dengan orang yang beragama lain), doktrin semacam ini tentu bertolak belakang dengan konsep kenegaraan yaitu kebhineka tunggal ika yang di bangun bangsa Indonesia. Dari sini muncullah ideologi Takfir/Takfirsme/Thoghut. Sebuah ajaran/doktrin yang bertentangan dengan prinsip Demokrasi yang pada dasarnya adalah memberi hak yang sama kepada muslim dan non muslim untuk membangun negara dalam sistem pemerintah Republik. Ekstrimisme, radikalisme, terorisme selain melibatkan berbagai faktor (politik, ekonomi dan lain-lain) namun ideologi semacam keagamaan juga ada ikut campur tangan dibelakangnya.

    Catatan komisi 1 dalam Rakernas Pendidikan 2016, membahas tentang tantangan pendidikan Indonesia yang di hadapi setiap hari atau setiap saat menjadi ancaman tersendiri bagi keutuhan bangsa ini dia antaranya: (1) Permasalahan bangsa: radikalisme, intoleransi, separatis, narkoba, kerusakan lingkungan, kekerasan, pengangguran, sarjana kurang siap menghadapi MEA; (2) Karakter lulusan:  ketidaksesuian kebutuhan (dunia kerja) vs ketersediaan (disiplin lulusan); (3) Kritik terhadap lulusan; (4) Kemampuan teknis vs penalaran: kemampuan teknis cukup, tetapi kurang diimbangi kemampuan bernalar; (5) Kritik lanjutan: rendahnya kemampuan komunikasi lisan dan tertulis, kurang berpikir kritis, rendahnya rasa percaya diri dan lunturnya nilai-nilai kebaikan.

    Permasalahan bangsa ini jauh lebih luas, bukan hanya masalah lulusan, tetapi masalah seluruh masyarakat misalnya: (1) Mengapa pemimpin saling berkelahi, tidak memberi contoh; (2) Mengapa semua orang ingin jalan pintas; (3) Mengapa materi (uang dan kekuasaan) menjadi nilai utama; (4) Mengapa pemerintah maunya melaksanakan program saja, bukan membangun sistem; (5) Mengapa idealisme menguap begitu saja.

    Dalam dunia pendidikan sendiri pun tak lepas dari permasalahan-permasalahan yang terjadi, maka perlu dan penting untuk menjelaskan dan mencarikan solusi dari setiap permasalahan atau pertanyaan seperti, mengapa kita begini, apa sesungguhnya yang terjadi dan bagaimana jalan keluarnya?

    Permasalahan-permasalahan yang terjadi perlu dan penting mendapatkan jawaban atas setiap masalah yang dihadapi, oleh sebab itu penulis pun menyajikan jawaaban atas gejolak pikiran dalam memahami masyarakat plural-multikultural yang terjadi di belahan bumi ini yaitu: Literasi keagamaan, prinsip kesetaraan warga negara di depan hukum, dan keterbatasan bahasa Agama

    Literasi Keagamaan
    Mengajarkan agama di ruang publik dalam masyarakat majemuk (di sekolah, masyarakat, perguruan tinggi, majelis taklim, pengajian). Pertama, Berpegang teguh pada iman masing-masing, namun sekaligus berani menguji implikasi dan konsekuensi keyakinan dan keimanannya secara sosial dan budaya di ruang publik  secara bertanggung jawab.

    Kedua, Bukan mengahakimi kepercayaan orang lain (internal umat Islam maupun eksternal agama-agama lain). Seperti: (1) Mengajarkan agama secara akademik: bagaimana asal usul agama/aliran pemikiran/madzhab keagamaan tertentu. (2) Bagaiamana berkembang, membentuk dan dibentuk oleh situasi budaya setempat. (3) Diintepresentasikan dengan cara tertentu, membangun doktrin dan percabangan. (4) Bagaimana agama membangun aliansi  dengan gerakan politik, sosial, ekonomiyang mengitarinya. (5) Bagaimana kiyai, ustz, romo, pastur, pendeta, bhiku, guru, dosen menjelaskan kelemahan manusia, sistem ritual peribadatan yang di praktikan dan seterusnya.

    Prinsip Kesetaraan Warga Negara di Depan Hukum
    Setiap warga negara sama di mata hukum, baik dalam urusan hak dan kewajiban maupun dalam hal membela dan menjaga keutuhan NKRI.

    Pertama, Tidak ada religius supremacy di depan negara dalam masyarakat majemuk. Diantaranya, (1) Agama berperan besar dalam arus publik, tetapi waspada terhadap bahaya penyalah gunaannya; (2) Masyarakat agama diminta menaati aturan hukum yang ada, mekanisme demokrasi, permusyawaratan; (3) Penganut agama tertentu menganggap agamanya yang paling super begitu juga yang lain; (4) Klaim superioritas, menyulitrkan jalan untuk meraih kompromi akomodasi dabn negosiasi; (5) Dalam situasi tertentu dan mendesak, negara dapatt membatasai kebebasan dan bahkan dapat melarangnya.

    Kedua, Pancasila sebagai sesuatu yang melekat secara umum (a common platform) bagi agama-agama di Indonesia. Diantaranya, Dasar filsafat negara; (2) Naratif yang tidak mengandung kekerasan; (3) Agama yang “eksklusif” keluar dari kesepakatan sejarah yang di buat oleh founding parents Indonesia; (4) Pancasila tidak hanya sebagai warisan nasional namun juga warisan dunia yang perlu di rawat dan ditumbuhkembangkan.

    Keterbatasan Bahasa Agama
    Pertama, Bagaimana keluar dari jebakan “religious supremacy”. Diantaranya, (1) Secara filosofis dan sosiologi: tidak ada agama apapun yang sepenuhnya utuh dalam arti yang sama sekali terbebas dari campur tangan peran keperantaraan manusia; (2) Maksud dari ketuhanan yang suci selalu di komunikasikan dan di sampaikan dalam bahasa manusia dengan segala macam keterbatasannya; (3) Keinginan tuhan selalu ada dalam batasan definisi, pengertian, pemahaman dan penafsiran manusia.

    Kedua, Agama dan kepercayaan, keterlibatan akal dalam beragama. Diantaranya, (1) Agama melibatkan keprcayaan/keimanan, namun tindakan manusia beragama tidak hanya melibatkan kepercayaan itu saja. Karena agama dan kepercayaan tidak dapat disamakan dengan begitu saja; (2) Tindakan manusia beragama ternyata melibatkan juga banyak elemen dasar yang lain, seperti: pendapat, pilihan, keputusan.  Semuanya menunjukan keterlibatan akal pikiran dalam pernyataan dan tindakan agama dan juga pertanggungjawaban induvidu.


    Penulis: Ilham
    Mahasiswa Pascarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Anggota Pusat Studi Mahasiswa (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta

    Resolusi Jihad

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Resolusi Jihad ungkapan dahsyat yang menetapkan jihad fii sabiilillah sebagai fardlu ‘ain mampu membakar semangat juang dan siap mati syahid, berhasil membinasakan tentara sekutu dalam empat hari di ujung Oktober 1945. Gerakan santri dan rakyat, serta tentara, yang dipimpin Hadhratusyeh KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah, Bung Tomo dan para tokoh saat itu dengan pertolongan Allah Swt secara fisik mampu menumpas dan menggagalkan Belanda yang dompleng Inggris tentara sekutu yang ingin menguasai kembali Indonesia.

    Jika Resolusi Jihad saat itu sangat diperlukan untuk membela dan melindungi kemerdekaan bangsa dari penjajahan fisik, maka Resolusi Jihad saat ini, terutama di era Revolusi Industri 4.0 dan Disrupsi secara kontekstual harus berbentuk lain.

    Jihad pendidikan harus diorientasikan untuk bisa mengenraskan kebodohan seluruh warga Indonesia, terutama bagi kelompok yang tak beruntung secara fisik, mental, ekonomis, geografis, dan kultural. Juga pendidikan diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan knowledge society tetapi juga innovative society. Dengan begitu bangsa Indonesia bisa mandiri dalam berkreasi dan berinovasi (There is no zero creativity).

    Jihad ekonomi mendorong bangsa memiliki kekuatan dalam menghadapi kapitalisme, mengurangi atau menghentikan hutang yang mencengkeram, mendorong gerakan beli Indonesia, melakukan gerakan cinta produk dalam negeri karena memiliki keutamaan (misal, halal)
    Jihad budaya mendorong untuk melakukan filter yang ketat terhadap budaya asing yang bertentangan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila, Islam, sehingga merusak karakter bangsa, akhlaq ummat Islam. Dengan nilai-nilai luhur yang kita miliki, mestinya kita menjadi trendsetter. Untuk itu dibutuhkan keteladanan dalam action (uswatun hasanah).

    Jihad sosial mendorong untuk peduli dan care terhadap penderitaan orang lain dengan cekatan dan cepat merespon orang lain yang terkena musibah, terlebih-lebih bencana alam yang dahsyat. Wujud simpati dan empati bisa ditunjukkan dengan materi, maupun nonmaterial (doa/istighizah), bisa langsung maupun tak langsung.

    Dengan memperingati Hari Santri Nasional yang membawa misi Resolusi Jihad, tidak berarti bahwa santri atau pelajar atau warga diajak untuk meningkatkan keterampilan berperang (walau keterampilan ini masih penting jika diperlukan), tidak cukup dengan upacara atau tidak harus dengan pawai keliling kota, yang jauh lebih penting adalah kecakapan melawan hawa nafsu, kecakapan melawan kemalasan belajar dan berpikir, kecakapan melawan ketergantungan ekonomi, kecakapan melawan budaya asing yang merusak, kemampuan berempati dan solidaritas sosial, dan kesiapan untuk menjaga kesatuan dan persatuan (Aljamaa’atu rahmatun walfurqatu ‘adzaabun) yang didasai cinta tanah air (hubbul wathan minal iman).


    Yogyakarta, 21 Oktober 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Ncera (Part III)

    Dedi Purwanto, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Makna yang tersebunyi. Ncera merupakan sebuah peradaban bahasa yang akan mengantarkanmu pada kesejatian hidup. Kesejatian mengenali diri sendiri lewat kekayaan bahasanya, serta kesejatian mengenali nur Tuhan pada setiap makhluk-Nya. Kata 'Ncera' tidak lahir dari ruang hampa, ibaratkan bunga, Ncera tidak tumbuh dengan begitu saja tampa faktor sejarah dan keterlibatan semua eksisten. Bunga yang indah dan segar itu sesungguhnya telah melalui ruang sejarah yang panjang, dia membutuhkan tanah, udara, cahaya, dan dirinya sendiri yang menopangnya untuk hidup. Begitu juga Ncera, dia telah melalui kerikil dan bebatuan sejarah sehingga membuat Ncera bertahan sampai sekarang. Kita harus pulang untuk memungut kerikil dan bebatuan itu, pulanglah ke rumah sejarah mu sendiri.!

    Kalau hidup membutuhkan nurani, berarti dia perlu mata dan telinga sebagai perantara supaya nurani itu hidup. Kalau Ncera adalah martabat hidup berarti dia membutuhkan manusia dan alam untuk hidupnya, dan kalau manusia adalah manusia, berarti dia membutuhkan Ncera untuk eksistensinya. Ncera merupakan sebuah kata benda penunjuk tempat, namun Ncera juga merupakan kata sifat yang mensifati sesuatu. Ncera merupakan kata kerja yang menjadi wadah untuk berproses mencapai sesuatu, Ncera juga kata penghubung yang menghubungkan sesuatu dengan sesuatu.

    Desamu begitu banyak menyimpan permata, dia ada tapi tidak terlihat, dia tersembunyi tampa tempat persembunyian. Ncera dalam bahasa Indonesia berarti 'murah'. Secara ekonomi, murah berarti harga sesuatu barang dibawah ukuran normal (standar). Kalau melihat berdasarkan kaca mata tersebut, orang Ncera mempunyai paradigma historis tersendiri dalam melakukan segala transaksi yang berkaitan dengan ekonomi, paradigma tersebut berorientasi pada konsep barokah, bukan pada persoalan untung dan rugi semata. Tetapi Secara teologis-folosofis, Ncera berarti sifat dari sesuatu, sifat itu merujuk untuk menjadi suatu identitas. Kalau Ncera itu sifat, berarti Ncera bermakna taho, lembo ade, raso ade, dan segala diksi bahasa Bima yang baik. Mari kita cari kalimatnya. Contoh, Ncera ade na, Taho ade na, raso ade na. Ncera ade sama halnya dengan taho ade yang dalam bahasa indonesia nya 'baik hati', orang yang mempunyai sifat baik berarti dia mempunyai segala kebaikan dalam dirinya untuk direduksikan kepada orang lain dan seluruh makhluk. Tetapi ada kalimat kunci yang bisa mengantarkan seseorang pada pencarian dirinya sendiri. Kalau kita teliti melihat kalimat Ncera ade dan taho ade, kalimat tersebut bisa mengantarkan kita pada 'raso ade'. Raso ade adalah penentu dalam laku sosial dan transenden. Kira-kira seperti itu. Ncera mengajarimu segalanya, dia juga makrifatmu untuk menemukan Tuhan.

    Perjalanan kita tidak berhenti sampai disitu. Sebagai kata benda, Ncera merupakan kata untuk menunjuk tempat 'mada dou Ncera' (saya orang Ncera), tetapi selain kata benda, Ncera juga bisa menjadi kata sifat yang mensifati sesuatu 'mada dou ma Ncera' (saya orang baik). Ncera juga bisa menjadi kata kerja 'mada dou ma ne'e Ncera'(saya ingin menjadi orang baik. Selain itu Ncera juga bisa menjadi kata penghubung antara sesuatu dengan sesuatu 'dou ma Ncera, rahose ba dou ntau na ngge'e mpa mbeina'. (orang baik, kalau diminta oleh orang lain miliknya pasti dikasih). Hanya orang yang baik yang bisa memberikan sesuatu miliknya kepada orang lain, Selain orang baik tidak. Penghubung antara sesuatu dengan sesuatu adalah 'baik'. Tetapi semua kata dan kalimat itu hidup dalam satu kalimat tunggal yaitu 'mada dou Ncera'. Ketika kita mengucapkan itu sesungguhnya kata Ncera telah menjadi kata benda, sifat, kerja, dan penghubung dalam waktu yang bersamaan.

    Mada dou Ncera, kalimat itu telah menjadi bukti terhadap esensi dan eksistensi diri kita sendiri. Ketika kita mengucapkan kalimat itu, maka kita tidak hanya memberitahukan tempat tinggal kita, namun juga kita telah menyatakan sikap dan prinsip kepada orang lain. Ketika kita mengucapkan kalimat itu, berarti kita sudah berprinsip akan punya sifat dan berprilaku 'Ncera' pada lawan bicara kita. Kenapa bisa begitu? Karena Ncera tidak hanya mewakili nama desamu, tapi juga mewakili sebuah identitas diri dan perjalanan batinmu. Dibalik kalimat tersebut, sebenarnya ada sebuah tanggung jawab etik yang harus dijalankan oleh setiap mereka yang mengatakan demikian. Tanggungjawab sosial serta moril yang menjadi identitas dan personalitas dari seseorang yang mengucapkan itu.

    Mari kita cari anonim maknanya ke hal yang lain, ketika manusia bersyahadat berarti itu akan menjadi pembeda antara dirinya dengan orang lain. Tapi kenapa Tuhan memberikan kalimat tersebut sebagai pembeda antara manusia yang satu dengan lain? Sebab, segala sesuatu butuh kata atau bahasa untuk mewakili dirinya, tapi dengan cacatan kalimat atau bahasa itu tidak sepenuhnya mewakili dirinya. Kalimat itu tidak hanya selesai di kalimat, tapi juga dibalik ikrar itu sesungguhnya ada kesiapan jahir dan batin untuk hanya menyakini Allah sebagai Allah dan Muhammad sebagai Nabi ( yang haru kita ikuti ucapan, kesepakan, dan prilakunya). Begitu juga dengan Ncera tersebut diatas. Dengan mengatakan 'Mada dou Ncera' maka konsekuensi logisnya berarti kita menyanggupi diri kita sebagai orang baik dan siap menjadi orang baik. Hal tersebut terjadi disebabkan karena makna dari Ncera itu sendiri. Ncera telah menumbukan bunga-bunga serta duri-duri, Ncera telah menumbuhkan cinta juga segala rupa dari kebencian, tetapi kebencian salah satu wajah dari Cinta.

    Bersambung.



    Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:

    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Refleksi Kematian

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berkaca mata). 
    PEWARTAnews.com – Kematian bagi setiap anak Adam adalah terpisahnya ruh dan jasadnya. Mempercayai adanya kematian adalah salah satu rukun iman, terkait dengan beriman tehadap qadla-qadar dan Hari Kiamat. Kematian menjadikan manusia itu berhenti beramal. Tiga hal yang terus mengalirkan pahala adalah shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendoakan (HR Muslim). Tentu ada hal lain yang perlu diyakini bahwa syafaat Allah (termasuk doa bagi yang sudah wafat) dapat diberikan kepada siapapun atas izin-Nya (QS Al Baqarah:255).

    Ada kematian lain yang tidak kalah pentingnya untuk menjadi refleksi bersama. Pertama, kematian pikir, kita sudah tidak bisa berpikir sehat, berpikir logik, berpikir kritis, berpikir kreatif dan sebagainya, akibatnya pikiran kita tak logis, berpikir destruktif, suka debat kusir, dan tidak mau menerima hasil pikir orang lain dan sebagainya. Orang yang demikian itu sulit diajak sharing ideas, karena mau menangnya sendiri.

    Kedua, kematian rasa, kita sudah tidak bisa lagi menenggang rasa, toleran, empati, respek, dan sebagainya. Akibatnya kita intoleran, apriori dominan, sinikal, dan sebagainya. Orang yang demikian mengalami kesulitan hidup dalam kondisi multi kultural dan masyarakat hiterogin. Padahal di depan mata dan sekitar kita wajah saudara, tetangga, sahabat kita, dan warga bangsa dan dunia berwarna-warna.

    Ketiga, kematian hati, kita sudah tidak lagi teguh dalam beriman, kurang taat beragama, tidak patuh dengan norma sosial, dan kurang biasa bebuat kebajikan. Akibatnya kita sering dan cenderung meragukan keesaan Tuhan, berbuat kufur, bertindak asosial, berbuat maksiat dan destruktif.

    Kita memang masih diberi kehidupan, namun jika kita mengalami kematian pikir, rasa, dan hati, maka hidup ini terasa sia-sia bahkan sangat merugi. Karena itu bagaimana kita diberi kehidupan oleh Allah Swt dan kita maknai diri kita, semua aspek benar-benar hidup dengan kadar yang membaik secara terus menerus, walau gangguan hidup tidak bisa dihindari. Yang penting semua aspek kehidupan diusahakan dibalut dan diwarnai dengan nilai-nilai religiusutas/Islam.


    Yogyakarta, 20 Oktober 2018
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Dongkrak Literasi, Komunitas BuAI Kirim Paket Buku di 50 Taman Baca Se-Indonesia


    Salam Literasi (L).
    Jakarta, PEWARTAnews.com – Komunitas Buku untuk Anak Indonesia (BuAI) telah mendistribusikan paket buku pada 31 Januari 2019. Pendistribusian buku sempat tertunda dari tanggal resmi 17 tiap bulan mengikuti instruksi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tentang kejelasan fasilitas free cargo literacy. Paket buku yang didistribusikan ke 50 Taman Bacaan Masyarakat terpilih se-Indonesia. Mekanisme pengiriman pada empat titik. Dua titik di Jakarta Timur di bawah tanggung jawab Indah Prastiwi, sisanya wilayah Cilacap dengan penanggung jawab Winda Efanur FS, Yogyakarta penanggung jawab Dewi Pangesti. Meliputi Sumatera, Jawa, Bali, NTB, Sulawesi, Papua, Maluku dan pulau kecil seperti kepulauan Babel dan Halmahera.

    "TBM dipilih menurut masing-masing pengirim seleksinya beda-beda. kalau aku, supaya tersebar seadil mungkin jangan ngumpul di satu daerah," ungkap koordinator Sie Buku komunitas tersebut.

    Program pendistribusian ini berisi paket buku amal terbitan Komunitas BuAI Serial Cerita Anak Negeri "Kerjasama Penghuni Hutan & 16 Cerita Menarik Lainnya" dan buku bacaan tambahan lainnya. Program pendistribusian buku amal ini bagian dari kepedulian Komunitas BuAI turut mensukseskan program Gerakan Literasi Nasional (GLN), yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016 lalu. Cakupan GLN meliputi enam aspek penguasaan literasi : literasi numerasi, literasi baca tulis, literasi sains, literasi sains, literasi digital, literasi finansial dan literasi budaya dan kewargaan.

    Melalui pendistribusian buku amal ini, Komunitas BuAI turut mensukseskan aspek literasi tulis menulis. Sasarannya memberikan buku-buku bacaan bermutu anak-anak Indonesia, dengan memfasilitasi para pegiat Literasi di daerah-daerah. (WFS).

    NU untuk Rahmatan Lil'aalamiin

    PEWARTAnews.com -- Hari ini, 31 Januari 2019, NU sebagai organisasi masyarakat Islam memasuki hari lahirnya yang ke-93 dengan pengikutnya terbesar seluruh Indonesia di antara ormas Islam lainnya. Tidak hanya kuantitatifnya, melainkan seharusnya juga kualitasnya. Untuk mewujudkan keinginan yang mulia itu pada prakteknya NU secara terus menerus melakukan koordinasi dan konsolidasi, walaupun masih jauh dari yang ideal. Semoga momentum peringatan hari lahir (Harlah) ini dapat ummat nahdliyyin melakukan refleksi secara jujur akan eksistensi NU dan perannya baik untuk kaum nahdliyyin sendiri, maupun ummat Islam, bangsa dan kemanusiaan, sehingga dapat mewujudkan Islam yang rahmatan lil’aalamiin.

    Idealnya NU selalu dapat respek dari kaum nahdliyyin sendiri, ummat Islam, warga Indonesia dan dunia, namun kenyataannya NU kini di samping mendapat respek dari semua, tidak bisa dipungkiri dapat sorotan kritik yang tajam dari kaum nahdliyyin sendiri, ummat Islam, warga Indonesia dan dunia, karena ulah perilaku personal pengurus NU di semua level dan kebijakan institusi yang tidak selaras dengan Khiththah NU 1926. Bahwa NU secara institusional memiliki corebusiness dakwah, pendidikan, sosial-kemasyarakatan dan ekonomi ummat. Jika dikaitkan dengan misi politik, adalah politik kebangsaan. Di samping itu NU wajib memberikan kesempatan warganya untuk menentukan aspirasi politiknya sendiri. Yang menjadi persoalan, bahwa ada kebijakan pimpinan NU yang dengan sengaja melakukan gerakan politik praktis, sehingga menimbulkan kesan bahwa NU sebagai institusi politik, yang tidak sejalan dengan spirit Khiththah. Kondisi yang demikian berdampak terhadap munculnya dua kutub, pertama yang mengikuti kebijakan pimpinan, dan kutub lainnya yang committed dengan misi khiththah. Jika ini tidak segera diluruskan, potensial sekali akan terjadi benturan antar ummat nahhdliyyiin dan antara ummat nahdliyyin dengan ummat Islam lainnya. Pada akhirnya bisa jadi dapat mengancam eksistensi NKRI.

    Memperhatikan kondisi riil ini, Harlah NU seharusnya dijadikan momentum untuk bisa ishlah dengan ikuti misi khiththah, sehingga ummat nahdliyyin merasa terjamin eksistensinya, karena ummat nahdliyyin dalam konteks menghadapi Pilpres-Wapres dan Pileg 2019 merasa nyaman dan bebas baik yang berada di semua partai dalam koalisi 01 maupun koalisi 02. Pimpinan NU harus memayungi dan memberikan kebebasan kepada seluruh ummat untuk menentukan pilihannya, sehingga tercipta kerukunan dan kedamaian. Dengan harapan siapapun yang menenangkan pilihan umum, wajib memberikan perlakuan kepada semua termasuk ummat nahdliyyin secara adil tanpa ada diskrimasi.

    Akhirnya, bahwa peringatan Harlah. NU yang ke-93 memiliki makna yang sangat besar jika momentum ini dijadikan sebagai kebangkitan Khiththah untuk bisa meluruskan misi NU dengan mengubur dalam-dalam kepentingan pribadi dan kelompok, dan lebih fokus pada kepentingan tegaknya institusi NU dan peneguhan dan penyelamatan NKRI. Insya Allah dengan mensucikan niat dan gerakan NU, marwah NU akan tetap terjaga. NU akan tetap dirindukan warga dan bangsa Indonesia, karena tidak gila kekuasaan, melainkan bekerja total untuk emban amanah menjaga ideologi, persatuan-kesatuan bangsa yang menjadi harapan semua. Semoga Allah swt menjaga eksistensi NU untuk terus bisa berkontribusi dalam membangun keutuhan ummat dan bangsa yang dilandasi dengan nilai tawassuth, tawazzun, i’tidal dan tasammuh, sebaliknya jangan sampai membiarkan NU menjadi sumber perpecahan ummat dan bangsa. Aamiin.

    Mabruk Harlah NU ke-93, semoga memberikan berkah dan kedamaian untuk semua.


    Yogyakarta, 31 Januari 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Pimpinan Ummat

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A. saat ngobrol santai dengan Presiden RI Joko Widodo.
    PEWARTAnews.com -- Menjadi pimpinan ummat adalah keinginan banyak orang (level nasional dan daerah), karena ada beberapa privilese (privilege) yang dimiliki, di antaranya mendapat kehormatan, fasilitas, perlindungan keamanan, aliran rizki, jaminan kesehatan dan keselamatan, dan sebagainya. Semuanya sangat terkait dengan tingkat tanggung jawabnya. Semakin banyak previlege-nya semakin berat tanggung jawabnya. Karena itu pimpinan ummat tidak boleh sembarang berperilaku di tengah-tengah ummat. Kullukum raa’in wakullu raa’in mas-uulun ‘an ra’iyyatih (Al Hadits). Setiap di antara kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.

    Pemimpin ummat yang baik tidak hanya berorientasi pada haknya, melainkan yang jauh lebih penting adalah kewajibannya. Mereka wajib melayani, melindungi, membimbing, mendidik, dan memberikan jaminan keselamatan dan keamanan ummat, sehingga ummat merasa aman, selamat, dan bebas dalam hidupnya, terlebih dalam menjalankan kewajiban beragamanya. Dalam menunaikan kewajiban tidaklah mudah, pimpinan ummat mempertaruhkan segala daya, kemampuan, dan waktunya, sehingga bisa lepas dari tanggung jawabnya. Bahkan yang berkorban tidak hanya dirinya saja, melainkan juga keluarga dan kelompoknya yang berada di balik amanah kepemimpinannya.

    Kemuliaan yang diterima oleh pimpinan ummat seharusnya disikapi secara proporsional, tidak boleh berlebihan, karena bisa berakibat kepada pengkultusan sehingga menjadi lupa diri. Demikian juga pimpinan ummat harus tetap committed dengan norma-norma institusi dan sosial. Jika tidak bisa mendowngrade-kan marwahnya. Karena pimpinan ummat sangat dituntut keteladanannya dalam seluruh aspek kehidupan. Pimpinan ummat hakekatnya bukanlah predikat pemberian dari atas, melainkan penghargaan, penghormatan dan rekognisi dari ummat. Kondisi dewasa ini menjadi tantangan terbuka bagi pimpinan ummat, apakah mereka berpikir dan bertindak didasarkan pada idealisme atau pragmatisme? Yang mereka pikirkan itu keselamatan ummat atau diri dan atau kelompoknya?

    Memang pimpinan ummat seharusnya digerakkan oleh keinginan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang sangat dirindukan ummat. Pimpinan ummat seharusnya menjadikan ummat bersatu dan berjamaah, sehingga ummat saling menguatkan. Bukan sebaliknya, pimpinan ummat justru menjadi sumber dan pemicu perpecahan. Pimpinan ummat harus menjadi tempat berlindung ummat, bukan ditolak kehadirannya.

    Pimpinan ummat yang menduduki maqaamam mahmuuda seharusnya dijaga secara istiqamah, sehingga tidak membingungkan ummat. Karena pimpinan ummat menjadi katalisator untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Runtuhnya wibawa pimpinan ummat bukan dari agresivitasnya faktor eksternal saja, melainkan juga yang lebih penting dari pimpinan ummat yang gagal pengendalian dirinya. Semoga pimpinan ummat terus eksis dan terjaga integritasnya sehingga terus bermanfaat bagi ummat. Ingat bahwa tegaknya negara tergantung pada tegaknya integritas pimpinan ummat.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.A.
    Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website