Headlines News :
Home » , » Membaca dalam Perspektif Kehidupan dan Implikasinya Terhadap Kesalehan Sosial

Membaca dalam Perspektif Kehidupan dan Implikasinya Terhadap Kesalehan Sosial

Written By Pewarta News on Kamis, 28 Februari 2019 | 02.00

Siti Mukaromah (depan).
"Apabila hakikat “membaca” diinternalisasi dengan baik, tentu tidak akan ada kekecewaan, kekhawatiran, sakit hati, pesimisme. Karena yakin segala sesuatu ada hikmah dan inspirasi yang diselipkan Allah SWT dietiap alur Nya" (Mukaromah, 2019).

Membaca, merupakan wahyu pertama kali yang diturunkan dalam Al Qur’an (Qs. Al-‘Alaq 1-5). Sedemikian penting wahyu ini hingga menggunakan fi’il amr/perintah yang diulangi dua kali dalam wahyu pertama tersebut. Tentu diantara kita banyak yang bertanya, mengapa wahyu yang turun bukan perintah shalat, zakat, shadaqah, menikah atau yang lain? Mengapa harus membaca? Karena membaca merupakan pangkal dan patokan dari semua itu.

Dalam kajian teoritis, membaca dimaknai dua hal. Pertama ialah membaca ayat-ayat qauliyah yang berupa Al-Qur’an dan hadist. Sedangkan yang kedua, membaca ayat-ayat kauniyah yang bertebaran dimuka bumi (alam semesta) yang dapat berupa pengalaman, peristiwa, benda, orang, keadaan, atau bahkan ketetapan Allah baik yang membahagiakan, menyedihkan atau mengecewakan. Jika manusia cerdas dalam “membaca” maka semua yang terjadi “pasti” ada hikmah dan inspirasinya, sebagaimana dikatakan Al-Qur’an dalam Qs. Ali Imran ayat 191 dengan redaksi “Rabbanaa maa khalaqta hadza baathilaa....”, bahwa semua yang diciptakan, dan dikehendaki atas setiap alur-Nya kepada hamba-hamba-Nya tidak ada yang sia-sia. Diantara pertemuan dan perpisahan, peluang dan kesempatan, pengorbanan, perjuangan dan kesetiaan, canda dan tawa, suka dan duka, semua ada hikmahnya. Namun hikmah tersebut hanya bisa dipahami manakala manusia cerdas dan sensitif dalam membaca setiap keadaan/peristiwa yang digariskan oleh Sang Sutradara Kehidupan.

Adanya rasa sensitif (peka) inilah yang akan membentuk pribadi manusia yang kuat, tangguh, optimis, tidak berlarut-larut dalam kesedihan, mampu menerjemahkan “agama” dalam kerangka kemanusiaan dengan mensinergikan IQ, EQ dan SQ, serta trengginas dan cerdas dalam menghadapi lika-liku kehidupan. Betapa banyak orang frustasi, stress dan akhirnya putus asa dengan melakukan kezaliman terhadap dirinya sendiri (bunuh diri) gara-gara hal sepele. Dalam hal asmara misalnya. Seringkali manusia hanya menginginkan yang “manis-manis-nya” saja, namun tidak didasari dengan mental yang kuat. Jatuh cinta itu enak jika ada stimulus - respon pasti menjadikan hidup kian berwarna dan berarti apalagi jika langsung klik dihati, mungkin akan berkata dalam hati kita, bahwa dia adalah jodoh kita. Namun bagaimana jika tidak sesuai dengan ekspektasi? Katakanlah kalian sudah menjalin asmara, namun ternyata salah satu diantara kalian dibohongi, dikhianati bahkan disakiti hingga pada akhirnya menangis dan terluka. Menyedihkan bukan? Kalau berani jatuh cinta, maka harus siap menerima resiko/konsekuensi-nya, salah satunya siapkan mental untuk menghadapi sakit hati, kekecewaan, patah hati, rela dikhianati dan lain-lain. Lalu bagaimana caranya move on?

Hanya satu resepnya, ikhlas dan cerdaslah dalam menarik inspirasi di setiap hal yang terjadi. Pertama, hendaknya retrospective thinking (melihat masa lalu), barangkali dimasa lalu kita pernah menyakiti orang lain (menolak cintanya dengan kata-kata yang kurang pas dihati) dan belum minta maaf. Sehingga kita tersakiti merupakan salah satu bentuk hukum alam/sunnatullah dari-Nya. Kedua, barangkali sebelum kita menemukan jodoh terbaik sesuai versi-Nya untuk diri kita, kita harus melewati orang tersebut. Artinya, ya harus dilewati (seleksi alam tapi yang menyeleksi Allah langsung), implikasinya agar pada saatnya nanti kita tidak “kagetan/gumunan/heran/terlalu bangga” jika dipertemukan dengan orang yang “wah”. Ketiga, kemungkinan jika menikah dengan dirinya kita tidak akan kuat dan sanggup, karena memang itu bukan ukuran kita. Ibarat baju, ukuran kita S, tapi dikasih ukuran XL maka akan kegedean, gerah jika panas dan tidak nyaman untuk aktivitas. Keempat, orang tersebut sebagai cobaan sekaligus ujian kita, agar diri kita menjadi insan yang kuat dan tangguh dengan diberi Allah berbagai macam pengalaman pahit yang tidak mengenakkan. Kelima, Itulah salah satu cara Allah menyadarkan diri kita untuk kembali dalam dekapan-Nya. Ke-enam, Karena dia bukan jodoh kita (wa ‘asaa an takrahu syaian wa huwa khairun lakum, wa ‘asaa an tuhibbu syaian wa huwa syarrun lakum). Ketujuh, Allah masih ingin melihat kita menyelesaikan tanggungan/proker-proker kita. Baik itu tanggungan akademik, agama maupun yang lain.

Jika hal tersebut dipahami dengan baik, maka pengalaman pahit dan mengecewakan akan berlalu dan meninggalkan bekas pelajaran hidup yang akan sangat berarti dimasa depan. Oleh karenanya, membaca tidak hanya sekedar dimaknai seperti angin lalu yang acuh tak acuh, namun yang jauh lebih penting daripada itu ialah memahami, menelaah, meneliti, menghimpun, menginternalisasi dan mengaplikasikan dalam tindakan kongkrit segala “apa yang telah dibaca”. Dengan begitu, manusia akan memiliki regulasi dan kontrol diri dalam setiap perbuatan dan tindakan, baik untuk dirinya sendiri maupun kolektif. Karena sebenarnya, kehidupan ini merupakan rangkaian sisitem yang saling berhubungan antara sub sistem satu dengan sub sistem yang lain. Jika boleh saya mengatakan, ada hukum-sebab akibat/kausalitas. Meskipun ada yang menyangkal hal ini, namun menurutku tetap ada selama kehidupan ini berlangsung. Sebagaimana Firman-Nya dalam banyak ayat yakni didalam Qs. Al Isra’ : 7, Qs. Az-Zalzalah :7-8, Qs. Luqman : 16, Qs. Al Anbiya’ : 7 tentang hukum kausalitas dalam kehidupan.

Oleh dasar itu, Allah senantiasa memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar berbuat baik kepada makhluk-makhluk-Nya, karena setiap perbuatan akan selalu dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Sehingga tak ayal jika manusia merasa ‘terdzalimi’, hidupnya kacau balau, tidak aman dan tidak tentram mungkin (bisa jadi) ia pun juga mendzalimi orang lain, berbuat keji dan tidak baik kepada orang lain. Sehingga perbuatan baik dan atau buruk BUKAN merupakan taqdir yang telah Allah gariskan kepada manusia. Namun karena “kehendak bebas dari diri manusia itu sendiri”, sehingga manusia-lah yang dapat mengusahakannya. Hal ini Allah tegaskan dengan firman-Nya dalam Qs. 'Ali `Imran: 182, Qs. An-Nisa’: 40, Qs. Al-'Anfal : 51, Qs.Yunus : 44, Qs. Al-Haj: 10, Qs. Al-`Ankabut : 40 bahwa Allah tidak pernah mendzalimi dan berbuat kejelakan kepada manusia, namun manusia itu sendiri yang berbuat jelek kepada dirinya. Tentu term “kepada dirinya” bukan berarti secara kongkrit manusia mencabik-cabik tubuhnya sampai keluar darah, akan tetapi karena manusia berbuat keburukan dan mendzalimi orang lain sehingga hal itu kembali pada diri manusia tersebut.

Hal-hal semacam itulah yang terkadang sering dilupakan. Adanya sesuatu karena adanya sesuatu yang lain. Jika hidup ingin dipermudah oleh-Nya, maka permudahlah urusan orang lain, jika ingin disayang dan dicintai Allah maka sayangilah, hormatilah, muliakanlah dan cintailah makhluk-makhluk-Nya. So, jika manusia memahami hukum sebab akibat dengan baik, tentu di dunia ini tak ada sakit – menyakiti. Begitu halnya apabila hakikat “membaca” diinternalisasi dengan baik, tentu tidak akan ada kekecewaan, sakit hati, pesimisme dll karena yakin bahwa setiap yang terjadi pasti ada hikmah dan inspirasi yang diselipkan Allah SWT, sehingga terdorong untuk terus berbuat baik dan siap menerima segala ketetapan-Nya. Dan dalam menjalani hidup pun senantiasa optimis dan penuh harapan dengan terus mengamati, menggali, memahami dan menemukan ayat-ayat-Nya dalam setiap peristiwa dan fenomena yang terjadi di alam guna perbaikan kualitas kehidupan.

Maka, sudah seharusnya memperluas cakrawala, wawasan dan paradigma berpikir dengan terus membaca, membaca apapun itu. Baik yang bersifat Qauliyah maupun Kauniyah. Karena dengan membaca, hati kita menjadi lapang, pikiran kita jernih, mudah memahami orang serta cerdas dan trengginas dalam menghadapi hiruk pikuk kehidupan.

Akhirnya dengan membeli buku-buku ini tadi sore lalu menulis dimalam ini, pertanda kehidupan baru-ku segera dimulai. Ku ikhlaskan apapun yang terjadi dimasa lalu, aku tak akan benci dan menaruh dendam sedikitpun pada orang yang sengaja menyakiti-ku. Justru hal tersebut, ku niatkan untuk menyongsong hidup yang jauh lebih baik. Move on.


Yogyakarta, 13 Februari 2019
Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website