Headlines News :
Home » , » Ncera (Part 4)

Ncera (Part 4)

Written By Pewarta News on Rabu, 20 Februari 2019 | 09.00

Dedi Purwanto.
PEWARTAnews.com -- Sesuatu yang tersembunyi.

"Alam dan manusia dalam waktu yang sangat lama sudah hidup berdampingan, namun semuanya berubah ketika negara api menyerang. Tapi bukan dalam cerita avatar, negara api yang dimaksud adalah ketika manusia mulai dikuasai oleh nafsunya sendiri"

Ncera bukanlah Mesir yang telah membangun Piramid simetris untuk membuktikan keberadaannya, yang konsep bangunannya sampai sekarang masih membingungkan para ilmuwan. Ncera bukan Babilon yang membuat Taman Gantung untuk eksistensinya, bukan kaum Rum yang membuat Coloseum, bukan Yunani yang membuat kuil dengan ukiran rumitnya, juga bukan suku Inca yang membuat Machu Picchu untuk keagungan daerahnya. Tetapi Ncera hanya sebuah desa kecil, yang kecilnya sampai membuat kita tidak bisa melihatnya, bahwa sesungguhnya dia ada dan memanggilmu dalam setiap sujud dan keseharianmu.

Kita harus mengerti bahwa diatas kecerdasan diri ada kecerdasan sosial (kolektif) yang harus kita temukan dan sadari. Diatas kata 'Tahu', sesungguhnya ada kata 'bisa' yang masih hidup, di atas kata 'bisa' masih ada kata maha bisa. Diatas kata maha bisa masih ada kata bijak yang harus kita selesaikan, diatas kata bijak masih ada kata maha bijak yang menunggu, diatas kata maha bijak masih ada kata pengasih dan di atas kata pengasih masih ada kata maha pengasih yang harus kita pelajari dan praktekkan. Sebuah perjalanan tidak hanya selesai menjadi orang baik, tapi di atas baik tentu harus benar, diatas benar harus arif, dan diatas arif harus ikhlas. Mungkin tidak hanya itu misteri katanya, barangkali masih ada ribuan bahkan jutaan kata yang belum sempat kita cermati dan kita dalami. Begitu juga dengan memaknai Ncera, mungkin tidak cukup huruf, kata, dan kalimat untuk menuangkan semua yang terkandung dibalik Ncera, tapi sungguh ketidaktahuan akan mengantarkan kita pada pijakan pertama untuk menemukan cakrawala dibalik Ncera.

Kalau Ncera adalah ibu maka kita adalah anak-anak yang di asuh, asah dan di asih olehnya. Kalau dia perempuan maka kita adalah laki-laki yang melengkapi segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau Ncera adalah tanah maka kita menjadi petani yang selalu setia membajak dan membujuknya. Kalau Ncera bermakna baik, berarti Ncera menjadi jalanmu untu menemukan benar, bijak dan ikhlas. Dan pada level tertinggi orang Ncera merupakan orang yang sudah ikhlas untuk tidak bergantung pada sesuatu dan ikhlas melepas sesuatu. Ketika Ncera kita sadari sebagai jalan, maka pada konteks inilah kita menemukan Tuhan dalam memaknai Ncera. Ini bukan kebetulan, kadang kala engkau menemukan segalanya dibalik teks (buku-buku dan segala simbol), tetapi adakalanya sesuatu itu yang mengajari kita untuk mengenali dirinya.

Kita hanya boleh merencanakan suatu kebutuhan bukan keinginan, Sebab semesta memberi sesuatu kepada kita sesuai dengan apa yang di butuhkan, bukan yang di inginkan. Walaupun aturannya demikian, bukan berarti suatu pencapaian tidak pernah terjadi tampa didahului oleh sebuah keinginan.

Perumpamaan itu bagaikan kehati-hatian kita ketika berjalan di suatu gang, meskipun sudah sangat teliti dan hati-hati bisa jadi suatu ketika kita akan menyicipi indahnya aspal juga, maka disinilah berlakunya aturan dua arah. Antara sesuatu (subjek) dengan sesuatu (objek). Kadang kala pada satu waktu, sesuatu tidak membutuhkan yang lain untuk hidupnya, sesuatu bisa mengendalikan yang lain, saling membutuhkan antara keduanya, dan dalam satu waktu segalanya bisa saling melengkapi satu sama lain. Berarti antara sesuatu dengan sesuatu mempunyai beberapa bentuk Hubungan. Pertama, sesuatu tidak membutuhkan yang lain. Kedua, sesuatu menguasai yang lain. Ketiga, sesuatu melengkapi sesuatu yang lain. Keempat, sesuatu membutuhkan sesuatu yang lain untuk keberadaanya. Dan begitulah yang terjadi antara Manusia, alam dan Ncera. Mereka berada pada posisi nomor tiga dan empat.

Apakah manusia bisa hidup tampa alam? Apakah alam bisa hidup tampa manusia? Apakah Ncera bisa hidup tampa alam dan manusia?

Bersambung.



Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:

Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Pengamat Hukum, Sosial, Budaya / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website