Headlines News :
Home » , » Ncera (Part 5) - Etika Politik Ncera

Ncera (Part 5) - Etika Politik Ncera

Written By Pewarta News on Kamis, 28 Februari 2019 | 01.00

Dedi Purwanto.
PEWARTAnews.com -- Politik yang mengutamakan budi, pengabdian dan ilmu. Menyambut pesta demokrasi yang sebagian besar rakyatnya tidak mendapat bagian kue kebaikan".

Teman-teman yang budiman, kita sebagai orang Ncera bukan tidak punya harga diri, bukan tidak punya basis nilai dalam bersosial. Kita bukan tidak punya sistem etik dalam berpolitik, bukan tidak punya kerangka pemikiran, tata tutur dan acuan kebudayaan dalam bertindak. Akan tetapi, kita ini lupa tentang identitas kita sebagai orang Ncera. Barangkali penyakit lupa itu yang membuat kita tersegel dari segala nilai dan ilmu dalam kehidupan sosial ini. Kita harus terima dengan ikhlas bahwa memang benar wajah berpolitik kita sekarang sangat rakus. Mari kita tanya dan lihat dari rekam sejarahnya, apakah ada wakil kita di legislatif maupun eksekutif yang visi misi nya ingin miskin kalau dia terpilih? Atau apakah ada wakil rakyat kita yang miskin saat dia menjabat? Kalau ada, kita akan menyambutnya dan berbondong-bondong untuk membantu. Kita siap memberikan bantuan moril dan materil untuknya, kita siap menjadi teman seperjuanga dan rekan hidupnya. Suatau pertanyaan yang tidak menarik dimata orang dewasa sekarang, namun dapat mengulur erosi politik yang merugikan kita rakyat kecil.

Wajah berpolitik kita sama sekali tidak berkiblat pada 'Ncera' sebagai nilai dan ilmu, kita berlomba-lomba untuk adu argumentasi serta visi misi, tapi sangat kering terhadap kejujuran dan norma. Kita menjadi manusia tampa jiwa kemanusiaan. Segala tempat dan keadaan menjadi moment terbaik untuk menjual pencitraan. Tidak apa-apa, asalkan konteks dan acuannya jelas. tapi Kita harus mulai mengerti kalau Ncera tidak hanya nama sebuah desa. Akan tetapi, Ncera merupakan seluruh kebaikan yang terkandung dalam semua kitab yang dimiliki oleh umat manusia. Ncera adalah harga diri dari seseorang yang mengerti tentang Ncera, Ncera merupakan sistem nilai yang menjadi daya jual seseorang dalam berpolitik. Ncera adalah kerangka etik dalam bersosial, Ncera merupakan acuan identitas dan personalitas yang membedakan seluruh aksi kita dengan yang lain. Serta Ncera menjadi standar nilai yang digunakan oleh setiap orang dalam merumuskan masalah-masalah sosial.

Kita bukan tidak punya perpustakaan masa lalu, tetapi modernitas dan universalitas merengguk sebagian besar harga diri kita sebagai anak dari Ncera, kita tidak berani lagi mengungkap tabir tentang Ncera dikarenakan data yang kita miliki tidak valid ( ilmiah). 'Mpama' adalah istilah yang sangat lucu dimata kaum terdidik, kita hanya menganggap itu sebagai rekayasa fiksi semata. Tampa ada upaya penelitian lebih lanjut. 'La Raji' dan 'La Dija Sangga' merupakan beberapa tokoh yang kurang populer dikalangan kita, sebab mereka tidak meninggalkan bukti apa-apa untuk keberadaannya. Sebuah entitas kecil tapi meninggalkan segudang ilmu dan pengetahuan untuk keberlangsungan khazanah kebudayaannya. Dan kalau mau jujur, berkat cerita-cerita tersebut kita bisa belajar tentang sebuah kesabaran dan kesederhanaan, kita bisa belajar tentang pentingnya sejengkal tanah daripada emas dan permata. Dari mereka kita bisa belajar tentang politik bukan untuk direbut tapi kepantasan( kisah la laji dan ngaro la ngawu). Serta pentingnya budi pekerti dibalik suatu kepintaran. Saya sangat yakin bahwa ada sistem nilai yang bisa terlahir kembali. Saya percaya bahwa segala yang dilakukan oleh orang Ncera sekarang, merupakan reingkarnasi dari apa yang pernah di lakukan oleh nenek moyang kita di masa lampau, terutama sikap mereka dalam melayani hidup dan kehidupan. Lalu apa yang membuatnya terkikis dan hilang, yaitu sistem pengetahuan dan kebudayaan yang kita terima selama ini.

Ilmu pengetahuan selalu menawarkan untuk mempelajari tentang segala sesuatu yang berada di luar diri seseorang, tampa di imbangi dengan mempelajari diri sendiri secara utuh dan menyeluruh, serta tidak diarahkan kepada terminologi sejarah nya sendiri secara berkelanjutan dan metodelogis. Semuanya sudah tersaji saat ini, tapi sikap universalitas tentu tidak bisa di terima secara mutlak, sebab kadangkala bisa menghapus eksistensi lokalitas kita. Termasuk eksistensi politik orang Ncera. Orang Ncera mempunyai sistem politik tersendiri yang membedakan dengan sistem politik yang lain. Orang Ncera menganggap bahwa politik tidak hanya menyangkut transaksi, bukan tentang berbagi kesenangan semata, atau hanya menukar kebahagiaan, akan tetapi politik merupakan aksi mengikhlaskan kebaikan untuk diberikan kepada orang lain. Kalau politik dimaknai sebagai transaksi, berarti berkaitan dengan segala hal yang bersifat materi.

Kalau politik dimaknai sebagai berbagi kesenangan, berarti berkaitan dengan kesenangan yang di bagi-bagi meskipun kita tidak tau dari mana dan tujuannya ke mana. Kalau politik kita maknai sebagai aksi berbagi kebahagiaan, berarti berkaitan dengan tukar tambah kebahagiaan dengan orang yang memberikan kebahagiaan juga, kita melayani kepercayaan orang lain dengan kepercayaan juga. Dan kalau politik kita maknai sebagai proses mengikhlaskan kebaikan, berarti berkaitan dengan memberikan kebaikan tampa berharap ada kebaikan yang kembali kepada kita dalam bentuk apapun. Melayani manusia tampa berharap dilayani, serta mencintai manusia tampa berharap dicintai. Dan dalam point yang ke empat inilah pertanyaan tentang legislatif dan eksekutif yang miskin dan mau miskin itu bisa terjawab.

Pada tingkat tertinggi politik merupakan aksi mengikhlaskan kebaikan untuk dibagikan kepada orang lain, kalaupun politik itu dimaknai sebagai sebuah transaksi, idea, kebahagian, dan kesenangan bukan berarti salah. Namun itu hanya sebuah makna yang terletak dibawah 'mengikhlaskan kebaikan' dari politik tersebut. Melirik uraian sederhana diatas, menurut kami 'mengikhlaskan kebaikan' untuk orang lain itulah wajah politik orang Ncera yang diwarikan dari masa ke masa, Dimana politik yang lebih mengutamakan budi, nalar dan ilmu daripada diri sendiri dan kelompoknya.

Tulisan ini berseri, untuk cek serie lainnya klik dibawah ini:
>> Ncera Part 1
>> Ncera Part 2
>> Ncera Part 3
>> Ncera Part 4
>> Ncera Part 5


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Pemuda Asal Desa Ncera Belo Bima NTB  / Pengamat Hukum, Sosial, Budaya / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website