Headlines News :
Home » » Penembakan Warga Sipil Oleh Aparat di Bima, Ini Tuntutan Mahasiswa Jogja

Penembakan Warga Sipil Oleh Aparat di Bima, Ini Tuntutan Mahasiswa Jogja

Written By Pewarta News on Rabu, 20 Februari 2019 | 11.00

Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) usai melakukan aksi massa di titik nol kilometer Yogyakarta, 19/02/2019.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) mengikapi persoalan yang terjadi di Kabupaten Bima belum lama. Puluhan mahasiswa tersebut melakukan aksi massa disejumlah titik di Kota Gudeg Yogyakarta pada 19 Februari 2019.

Mahasiswa-mahasiswa tersebut menilai saat ini di Kabupaten Bima kondisi Hak Asasi Manusia (HAM) sudah mati atau tidak lagi ternilai. “(saat ini) Matinya HAM di Kabupaten Bima dan (menyulap) Bima Ramah Menjadi Bima Berdarah,” ucap Muhaimin Deven selaku Koordinator Umum Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) usai melakukan aksi massa di titik nol kilometer kota Yogyakarta.

Deven menilai, pelanggaran HAM yang terjadi di Bima kerap diabaikan oleh pemerintah setempat. “Dengan ini kami menyikapi persoalan yang terjadi di kabupaten Bima yang dimana kasus-kasus pelanggaran HAM di kabupaten Bima yang dilakukan oleh Militerisme.   Tapi tidak ada satupun yang pernah diselesaikan oleh pemerintah republik Indonesia, dimana kasus pada tanggal, 24 Desember 2011 penembakan kepada masyarakat Kabupaten Bima ( kecamatan Sape dan kecamatan Lambu) yang menolak adanya pertambangan belum di selesaikan dan begitupun di kecamatan-kecamatan lainya juga terjadi penembakan yang di lakukan oleh Militerisme dengan persoalan yang berbeda tapi belum di tuntaskan juga , aparat Militerisme mengunakan dalil mengamankan massa aksi sehingga melancarkan penembakan masyarakat tersebut,” beber Deven.

Menurut Deven, baru-baru ini pada tanggal, 15 Februari 2019 terjadi penembakan yang dilakukan oleh aparat militerisme dengan dalil yang sama yaitu mengamankan massa aksi dengan menggunakan peluru tima panas, “Sehingga mengorbankan (masyarakat) yang  bernama  Nuralisa umur 5 tahun dan adapun korban tembakan lainya,  Ma’ruf (40 tahun) luka tembakan dikaki kanan, Herman (16 tahun) luka dipinggang kanan belakang, Junaidin (24 tahun) luka di kepala belakang telingga kanan dan puluham lainya masyarakat kena luka pukulan aparat militerisme,” sebutnya.

Deven menjelaskan lebih lanjut, “Pada tanggal 15 Februari 2019 masyarakat di kabupaten Bima khusunya di kecamatan Sape dan kecematan Lambu meminta kepada bupati Bima yang bernama Indah Damayanti Putri dan Wakil Bupati Dahlan untuk melakukan perbaikan jalan yang sesuai dengan janji politiknya sebelum pemilihan bupati dan wakil bupati tersebut, karena infrastruktur menurut masyarakat Bima adalah akses untuk kelancaran ekonomi,” kata Deven.

Rangkaian aksi yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta (AMBY) pada intinya menuntut enam point penting yang akan ditindaklanjuti oleh pemerintah setempat. “Maka dengan ini kami dari Aliansi Mahasiswa Bima Yogyakarta menuntut: Pertama, Bupati dan Wakil Kabupaten Bima (Indah Damayanti dan Dahlan) harus bertanggung jawab atas kejadian di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu; Kedua, Copot Kapolres Kabupaten Bima dan usut tuntas pelaku penembakan terhadap masyarakat Sape dan Lambu; Ketiga, Meminta kepada Kapolda NTB agar melakukan pemecatan terhadap para pelaku penembakan dan kriminalisasi terhadap masyarakat Sape dan Lampu; Keempat, Pemerinta Kabupaten Bima harus merealisasikan mengadaan infrastruktur; Kelima, Komnas HAM harus turun tangan mengenai pelanggaran HAM di Kabupaten Bima; Keenam, Tangkap dan adili para pelaku pelanggaran HAM,” tutup Deven dengan lantang. (Arif / PEWARTAnews)


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website