Headlines News :
Home » , » Refleksi Kematian

Refleksi Kematian

Written By Pewarta News on Rabu, 13 Februari 2019 | 09.30

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berkaca mata). 
PEWARTAnews.com – Kematian bagi setiap anak Adam adalah terpisahnya ruh dan jasadnya. Mempercayai adanya kematian adalah salah satu rukun iman, terkait dengan beriman tehadap qadla-qadar dan Hari Kiamat. Kematian menjadikan manusia itu berhenti beramal. Tiga hal yang terus mengalirkan pahala adalah shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendoakan (HR Muslim). Tentu ada hal lain yang perlu diyakini bahwa syafaat Allah (termasuk doa bagi yang sudah wafat) dapat diberikan kepada siapapun atas izin-Nya (QS Al Baqarah:255).

Ada kematian lain yang tidak kalah pentingnya untuk menjadi refleksi bersama. Pertama, kematian pikir, kita sudah tidak bisa berpikir sehat, berpikir logik, berpikir kritis, berpikir kreatif dan sebagainya, akibatnya pikiran kita tak logis, berpikir destruktif, suka debat kusir, dan tidak mau menerima hasil pikir orang lain dan sebagainya. Orang yang demikian itu sulit diajak sharing ideas, karena mau menangnya sendiri.

Kedua, kematian rasa, kita sudah tidak bisa lagi menenggang rasa, toleran, empati, respek, dan sebagainya. Akibatnya kita intoleran, apriori dominan, sinikal, dan sebagainya. Orang yang demikian mengalami kesulitan hidup dalam kondisi multi kultural dan masyarakat hiterogin. Padahal di depan mata dan sekitar kita wajah saudara, tetangga, sahabat kita, dan warga bangsa dan dunia berwarna-warna.

Ketiga, kematian hati, kita sudah tidak lagi teguh dalam beriman, kurang taat beragama, tidak patuh dengan norma sosial, dan kurang biasa bebuat kebajikan. Akibatnya kita sering dan cenderung meragukan keesaan Tuhan, berbuat kufur, bertindak asosial, berbuat maksiat dan destruktif.

Kita memang masih diberi kehidupan, namun jika kita mengalami kematian pikir, rasa, dan hati, maka hidup ini terasa sia-sia bahkan sangat merugi. Karena itu bagaimana kita diberi kehidupan oleh Allah Swt dan kita maknai diri kita, semua aspek benar-benar hidup dengan kadar yang membaik secara terus menerus, walau gangguan hidup tidak bisa dihindari. Yang penting semua aspek kehidupan diusahakan dibalut dan diwarnai dengan nilai-nilai religiusutas/Islam.


Yogyakarta, 20 Oktober 2018
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website