Headlines News :
Home » , » Resolusi Jihad

Resolusi Jihad

Written By Pewarta News on Rabu, 13 Februari 2019 | 09.45

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com – Resolusi Jihad ungkapan dahsyat yang menetapkan jihad fii sabiilillah sebagai fardlu ‘ain mampu membakar semangat juang dan siap mati syahid, berhasil membinasakan tentara sekutu dalam empat hari di ujung Oktober 1945. Gerakan santri dan rakyat, serta tentara, yang dipimpin Hadhratusyeh KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah, Bung Tomo dan para tokoh saat itu dengan pertolongan Allah Swt secara fisik mampu menumpas dan menggagalkan Belanda yang dompleng Inggris tentara sekutu yang ingin menguasai kembali Indonesia.

Jika Resolusi Jihad saat itu sangat diperlukan untuk membela dan melindungi kemerdekaan bangsa dari penjajahan fisik, maka Resolusi Jihad saat ini, terutama di era Revolusi Industri 4.0 dan Disrupsi secara kontekstual harus berbentuk lain.

Jihad pendidikan harus diorientasikan untuk bisa mengenraskan kebodohan seluruh warga Indonesia, terutama bagi kelompok yang tak beruntung secara fisik, mental, ekonomis, geografis, dan kultural. Juga pendidikan diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan knowledge society tetapi juga innovative society. Dengan begitu bangsa Indonesia bisa mandiri dalam berkreasi dan berinovasi (There is no zero creativity).

Jihad ekonomi mendorong bangsa memiliki kekuatan dalam menghadapi kapitalisme, mengurangi atau menghentikan hutang yang mencengkeram, mendorong gerakan beli Indonesia, melakukan gerakan cinta produk dalam negeri karena memiliki keutamaan (misal, halal)
Jihad budaya mendorong untuk melakukan filter yang ketat terhadap budaya asing yang bertentangan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila, Islam, sehingga merusak karakter bangsa, akhlaq ummat Islam. Dengan nilai-nilai luhur yang kita miliki, mestinya kita menjadi trendsetter. Untuk itu dibutuhkan keteladanan dalam action (uswatun hasanah).

Jihad sosial mendorong untuk peduli dan care terhadap penderitaan orang lain dengan cekatan dan cepat merespon orang lain yang terkena musibah, terlebih-lebih bencana alam yang dahsyat. Wujud simpati dan empati bisa ditunjukkan dengan materi, maupun nonmaterial (doa/istighizah), bisa langsung maupun tak langsung.

Dengan memperingati Hari Santri Nasional yang membawa misi Resolusi Jihad, tidak berarti bahwa santri atau pelajar atau warga diajak untuk meningkatkan keterampilan berperang (walau keterampilan ini masih penting jika diperlukan), tidak cukup dengan upacara atau tidak harus dengan pawai keliling kota, yang jauh lebih penting adalah kecakapan melawan hawa nafsu, kecakapan melawan kemalasan belajar dan berpikir, kecakapan melawan ketergantungan ekonomi, kecakapan melawan budaya asing yang merusak, kemampuan berempati dan solidaritas sosial, dan kesiapan untuk menjaga kesatuan dan persatuan (Aljamaa’atu rahmatun walfurqatu ‘adzaabun) yang didasai cinta tanah air (hubbul wathan minal iman).


Yogyakarta, 21 Oktober 2018
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website