Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Hidup Terinspirasi

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Pada hakekatnya hidup itu tidak kosong. Ada sesuatu yang menggerakkan sehingga kita bisa melihat ragam perilaku seseorang. Ada perilaku yang biasa dan ada pula perilaku yang menakjubkan, sehingga orang itu dikenal oleh banyak orang, sekalipun semula tidak dikenali sebanyak itu. Perilaku tentu tidak lepas dari kondisi perilakunya. Seseorang yang demikian itu tidak lepas dari inspirasi yang mewarnai hidupnya.

    Banyak yang menginspirasi hidup kita. Ada yang berbentuk ketokohan dalam beragama, ketokohan dalam kehidupan, ketokohan dalam profesi, ketokohan dalam pemikiran, ketokohan dalam kebudayaan, ketokohan dalam kepenulisan, ketokohan dalam kepemimpinan, ketokohan dalam perjuangan, pengalaman hidup orang sukses, keteladanan dalam berkeluarga, ide cemerlang orang tak beruntung, kemenangan di balik keterbatasan dan sebagainya. Ragam kehidupan yang menginspirasi inilah yang membuat banyak perilaku unggul yang berbeda-beda yang patut dihargai dan diberikan rekognisi.

    Perbedaan itu tidak semata-mata pengaruh  yang menginspirasi, tetapi faktor-faktor internal dan eksternal lainnya yang tidak bisa dipungkiri, walaupun kunci utamanya tetap ada pada yang menginspirasi. Faktor internal bisa yang intelektual, bisa yang non intelektual. Demikian juga faktor eksternal bisa terkait dengan kondisi fisik, sosial dan kultur. Juga bisa ada faktor lain yaitu momentum dan idzin Allah swt.

    Inspirasi itu dapat dijaga dan dapat menjadi kekuatan yang mendorong sepanjang kehidupan. Dengan begitu inspirasi menjadi faktor penting sepanjang hidup manusia. Kita sendirilah yang menentukan apa yang bisa menginspirasi dalam hidup kita, sehingga kita lebih baik dari waktu ke waktu.

    Dalam mendidik anak kita harus berhati-hati. Sangat dihargai bahwa ada suatu keluarga yang berhasil hidupnya, karena suami dan isteri sukses studi dan karirnya. Kesuksesan membuat keduanya tidak percaya lagi pendidikan formal untuk anaknya, karena sekolah sebagus apapun tidak bisa memenui harapan keduanya. Akhirnya anaknya dididik sendiri (homeschooling). Bisa dibayangkan anak itu terisolasi dari dunia nyata yang ada di luar, walau dia bisa mengakses lewat digital. Anak itu bisa ditebak, bahwa dia cenderung kaya dengan ilmu yang kering dari humanisme dan terbatas inspirasinya karena terbatas interaksi dengan manusia lainnya. Ini sangat berbahaya dan tidak menguntungkan. Padahal kehadiran manusia di sekitarnya secara langsung akan berbeda. Karena hakekatnya belajar di luar rumah, terjadi proses belajar kehidupan yang terbentang  luas yang dapat menspirasi kehidupan.

    Untuk menjadi orang tua dan pendidik yang  bertanggung jawab, salah satunya kita berbuat seoptimalnya untuk hadirkan banyak hal yang bisa menginspirasi anak-anak, para siswa dan mahasiswa. Menjadikan mereka tumbuh dan berkembang secara utuh melalui inspirasi. Inspirasi juga tidak hanya  bisa dilakukan di dalam tembok- tembok pendidikan, melainkan juga di lingkungan sekitar. Juga bisa dibantu lewat multi media yang berkembang sejalan dengan kemajuan jaman. Inspirasi apapun harus kita arahkan anak bisa menjadi hamba Allah swt yang taat ibadahnya dan khalifah filardhi yang bertanggung jawab. Aamiin. Semoga.



    Yogyakarta, 23 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



    Pemilu Ceria Tanpa Hoax

    Saharudin.
    PEWARTAnews.com -- Acara Focus Group Discussion (FGD) yang digagas oleh Polres Berau tersebut bertempat di Hotel Makmur Berau yang bertemakan "Pemilu Ceria tanpa Hoax" pada tanggal 26 April 2019 yang dihadiri oleh berbagai elemen yang diundang, yakni Camat se-Berau, kepala kampung, elemen perwakilan Parpol, kepala-kepala adat, dan sebagainya.

    Dalam acara tersebut, Polres Berau mengundang pemateri yang terdiri dari Ketua KPU Berau yang digantikan oleh Saharudin, S.Pd., M.Pd.I. (Anggota Komisioner KPU Berau divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat) dengan elemen kepolisian AKP Agus Arif Wijayanto, S.H., S.I.K, M.H. (Kasat Reskrim Polres Berau).

    Komisioner Berau dalam hal ini, Ketua KPU Berau, Budi Hariyanto yang diundang mengisi materi tersebut pada hari H tidak berkesempatan memenuhi disebabkan ada tugas luar daerah yang sifatnya urgen. Maka, dengan melihat kondisi yang tidak memungkin tersebut, oleh Ketua menunjuk anggota Komisioner Berau, Saharudin (Penulis) untuk menjadi pemateri. Pelimpahan tersebut, bukanlah tanpa dasar, mengingat tupoksi Penulis mendapatkan divisi yang membidangi SDM dan Partisipasi Masyarakat (Parmas), maka sangatlah berkorelasi kuat.

    Materi pada tema tersebut, terbagi menjadi dua, yakni PEMILU CERIA untuk Komisioner KPU Berau kemudian elemen kepolisian mengupas tentang HOAX.

    Kesempatan pertama diberikan kepada Komisioner KPU Berau dengan durasi waktu yang disediakan 15 menit kemudian pemateri kedua mendapatkan hak yang sama terhadap moderator dari unsur kepolisian, yakni Pak Sumarli, Kasat Binmas Polres Berau.

    Meskipun baru enam hari mulai beraktifitas di KPU Berau (Terhitung mulai Rabu, 20 s.d. 26 Maret 2019 dan tepat tanggal 26-nya langsung menjadi pemateri) dan belum mendapatkan orientasi tentang tugas maupun pelatihan pengembangan diri atau tugas lainnya, tetapi bagi kami sebagai penyelenggara Pemilu, begitu dilantik, berarti sudah siap mengemban tugas, baik tugas dalam maupun tugas luar. Penulis men-tagline-kan dengan cuplikan, "SIAP TIDAK SIAP, HARUS SIAP" walaupun belum sempat menyiapkan materi secara slide (Power Point) untuk ditampilkan dikarenakan tengah malam pelimpahannya (23.30) sedangkan pagi jam 08.00 sudah harus disajikan pada acara FGD yang digagas Polres Berau.

    Dalam acara FGD tersebut, pemateri menyajikan dan membahas tentang PEMILU dan CERIA. Penulis hanya menyajikan pointer yang disajikan. Pertama, tentang PEMILU. Poin pertama, tentang PEMILU bahwa Pemilu dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) Pasal 1 ayat 1, berbunyi, "Pemilihan Umum yang selanjutnya disebut pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, anggota Dewan perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945."

    Poin kedua, yang Penulis sajikan adalah mengupas seputar jenis/warna surat suara, yakni warna ABU-ABU UNTUK CAPRES & CAWAPRES, warna KUNING UNTUK DPR RI, warna MERAH UNTUK DPD RI, warna BIRU UNTUK DPRD Provinsi, dan WARNA HIJAU UNTUK DPRD Kab/Kota.

    Kemudian segmen kedua, CERIA. Poin pertama,  Penulis mengutip statement Prof. Mahfud MD, bahwa PEMILU CERIA itu adalah PEMILU YANG DAMAI, supaya terciptanya kedamaian, jangan ada provokator karena dengan itu sudah pasti akan memperkeruh suasana yang berefek terhadap saling sikut antar pemilih satu dengan lainnya atau pendukung satu dengan yang lain.

    Poin kedua, Penulis mengutip pandangan Menko Polhukam Wiranto bahwa Pemilu Ceria itu supaya terwujud, haruslah semua stake holder, yakni KPU, Bawaslu, Peserta Pemilu, Kepolisian, dan lain-lain agar saling bahu-membahu dan bersama-sama memberikan pendidikan Pemilu agar Pemilu berjalan sesuai harapan.

    Setelah masing-masing pemateri menyajikan isi materinya sesuai yang telah dibagi oleh moderator dari tema yang dipilah menjadi dua kupasan, maka dibukalah acara diskusi.

    Pada segmen ini, materi Penulislah yang paling banyak ditanyakan oleh audiens atau undangan yang ada. Berdasarkan catatan Penulis, ada 15 pertanyaan. Salah satu di antaranya adalah tentang INTEGRITAS dan NETRALITAS PENYELENGGARA PEMILU. Hal ini wajar mereka tanyakan karena adanya isu pada saat debat paslon 01 dan 02 bahwa ada salah satu yang diuntungkan, begitu juga dengan isu dua kontainer yang terdapat surat suara yang sudah dicoblos serta isu WNA bisa memilih dan sebagainya.

    Penulis menjawab, tidak perlu diragukan, kami tentunya bekerja sesuai dengan ASAS dan PRINSIP penyelenggara Pemilu atau berdasarkan aturan dan perundang-undangan yang berlaku. Adapun isu-isu yang berkembang lewat media yang diarahkan pada penyelenggara Pemilu dalam hal ini KPU, nyatanya tidak pernah ada yang dilanggar atau terbukti, kalaulah ada, itu hanya sebatas human error atau sanksi administrasi.

    Mengingat kinerja KPU ada yang mengawasi, yakni dari elemen Bawaslu, yang apabila terbukti melanggar dalam bentuk tahapan, maka sanksi administrasi, tetapi jika ada unsur pidana, maka Bawaslu meneruskan ke Sentra Gakkumdu, dalam hal ini kepolisian dan kejaksaan yang pada akhirnya sanksi pidana atau hukuman dalam bentuk tahanan. Namun, mulai tahapan dalam menghadapi Pemilu serentak sekarang, tidak pernah sampai pada putusan yang berakibat pada penetapan bahwa KPU bersalah atau tidak, baik dalam bentuk sanksi administrasi dari Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) maupun sanksi pidana dari kejaksaan.

    Sebagai akhir dari materi, Penulis mengajak hadirin undangan yang ada, untuk menentukan pilihan dengan cerdas, dewasa, dan bertanggung jawab pada tanggal 17 April 2019 di TPS tempat pemilih terdaftar sebagai DPT atau DPTb, serta DPK. Jangan sampai Golput dan membiarkan lima tahun hak konstitusional terabaikan begitu saja.


    Penulis : Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Komisioner KPU Berau (Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat)

    Mendidik Tanggung Jawab

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Anak yang dalam perkembangannya dari untrusted di usia dini menuju trusted di usia dewasa mengalami proses yang dinamis dan konstruktif. Anak dari yang belum bisa bertanggung jawab menuju anak yang bertanggung jawab. Perkembangan tanggung jawab anak tidak bisa dibiarkan. Untuk itu perlu pendampingan  yang serius dan terarah. Kehadiran orangtua atau orang dewasa di keluarga dan guru di sekolah sangat berarti dalam menfasilitasi dan  mendampingi anak untuk bisa bertanggung jawab.

    Orangtua dan atau orang dewasa dan guru memiliki kewajiban yang tidak ringan , yaitu mendidik anak untuk bisa  bertanggung jawab kepada orangtua, diri sendiri, masyarakat, Tuhan dan yang lainnya. Pertama, bahwa pada usia sampai 6 tahun anak mulai dididik bertanggung jawab kepada orangtua dengan menunjukkan ketaatannya kepada orangtua. Bertanggung  jawab menjaga dan memanfaatkan sesuatu yang telah diberikan orangtua. Juga bertanggung jawab bekerja sesuai dengan porsinya dalam keluarga. Ikut membantu pekerjaan atau tugas di rumah.

    Kedua, bahwa pada usia 8 tahun anak sudah mulai dididik tentang moralitas. Bahwa anak hidup di tengah-tengah masyarakat harus belajar mengenali ketergantungan antar manusia dan saling respek terhadap hak orang lain. Anak dididik dengan cinta dan takut (positif), yang perpaduannya menghasilkan respek. Di sisi lain anak menjadi bertanggung jawab kepada msyarakat tempat mereka belajar dan mencintai sesama. Demikian juga mereka takut melanggar peraturan yang ada dan gagal memanaj tindakan, bakat dan sikap damai.

    Ketiga, bahwa di usia 10 tahun anak mulai dididik disiplin. Disiplin inilah yang benar-benar harus ditanamkan kepada anak. Dengan landasan disiplin, anak-anak dididik bertanggung jawab terhadap diri sendiri dengan disiplin menentukan pilihan (kegiatan dan cita-citanya). Juga menjaga kebiasaan untuk menjadi karakter. Selanjutnya dengan disiplin yang sangat tinggi, bertanggung mewujudkan potensinya.

    Keempat, bahwa di usia 12 tahun dan mungkin sebelumnya, anak menjadi mukallaf. Saat anak mulai bertanggung jawab untuk berkomitmen dengan agama dan Tuhannya. Pada usia ini sudah dibebani tanggung jawab keagamaan karena dipandang sudah dewasa dengan dicirikan anak puteri dengan menstruasinya dan anak putera dengan mimpi basahnya. Tanggung jawab yang seharusnya ditanamkan adalah menjaga iman, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

    Kelima, bahwa anak yang sudah berusia 12 tahun sudah menjadi bagian dari kehidupan di lingkungannya. Anak-anak seharusnya mulai dididik untuk bisa melayani. Dalam konteks anak didik bisa peduli dan membantu anak yang lebih muda. Juga seharusnya dididik berkomitnen dengan janjinya, apa yang dikatakan harus diwujudkan dalam perilaku. Demikian juga anak seharusnya bertanggung jawab untuk berkontribusi terhadap lainnya, tidak merusak.

    Menjadikan anak bertanggung jawab merupakan tugas dan amanah yang sangat mulia. Jika berhasil mendidik anak-anak kita bisa menjadi yang bertanggung jawab, insya Allah ini investasi yang sangat besar artinya. Karena bisa menghadirkan warga negara yang mampu berbuat kebaikan, menciptakan kedamaian dan kebahagiaan. Semoga mampu mewujudkan tanggung jawab kita baik sebagai orangtua, guru, dan pejabat, tokoh agama, maupun tokoh masyarakat dengan ridlo Allah swt.


    Yogyakarta, 22 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



    Hasil Kunker Jokowi di NTB, Gubernur NTB: Enam Poin Ini Menggembirakan

    Gubernur NTB saat menyambut kedatangan Presiden RI Joko Widodo di NTB.
    Mataram, PEWARTAnews.com -- Presiden RI Joko Widodo melakukan kunjungan kerja di Provinsi Nusa Tenggara (NTB) pada hari Jum'at, 22 Maret 2019.

    Menurut Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah ada enam poin penting yang bisa dirasakan dampak positifnya bagi warga NTB atas kedatangan Presiden RI di NTB. "Hari ini Presiden Jokowi Berkunjung ke NTB. Alhamdulillah ada beberapa hal yang menggembirakan buat kita di NTB :

    1. Sekarang Uang untuk Korban Gempa sudah 5.1 trilyun sudah berada di kita di NTB. Kemarin baru di tambah 1.6 T. Mudah-mudahan progress pembangunan rumah yang sudah bagus ini tambah lebih bagus lagi ke depan.

    2. Rumah sakit Internasional segera di bangun di Mandalika dan semua pembiayaan dari pemerintah pusat. Selesai insya Allah sebelum MotoGP Mandalika 2021 di mulai.

    3. Perbaikan dan penyempurnaan pelabuhan Lembar agar mobilisasi menjelang MotoGP 2021 lebih baik dan lebih cepat.

    4. Bandara Internasional di Loteng akan di perpanjang agar bisa didarati lebih banyak pesawat berbadan besar..yang membuat bandara Internasional kita semakin bagus.

    5. Proses penegerian Univetsitas Teknologi Sumbawa (UTS) dipercepat dan Menristekdikti tadi langsung di hubungi presiden untuk menuntaskannya. Universitas negeri di Pulau Sumbawa penting agar SDM kita  tambah pesat kemajuannya dan seimbang antara pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

    6. Segera di buat akses jalan nasional atau jalan tol dari BIL ke Mandalika dan tadi Menteri PU langsung mendiskusikan rencana detailnya dengan kami. Mudah-mudahan ada kesadaran kita bersama untuk proses pembebasan lahan yang lebih cepat dan tak merugikan maasyarakat.

    Berbagai hal di atas tentu banyak dilakukan di Pulau Lombok. Ini patut di syukuri karena semuanya menggunakan dana pusat. Sehingga dana APBD kita bisa kita alokasikan lebih banyak ke Pulau Sumbawa untuk menyelesaikan banyak infraastruktur fisik mendasar yang masih jauh tertinggal di sana," ucap Gubernur NTB melalui akun Facebooknya Bang Zul Zulkieflimansyah barusan, 22/03/2019. (MJ)

    Motif Manusia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Pada dasarnya setiap orang ingin berhasil dalam hidupnya. Pada faktanya ada yang berhasil, cukup berhasil dan kurang berhasil, bahkan ada yang tidak berhasil. Banyak pengalaman empirik dan teori yang dapat menjelaskan keberhasilan hidup seseorang, baik yang terkait dengan faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal juga bisa terdiri atas faktor intelektual dan non intelektual. Salah satu faktor non intelektual yang sering memberikan kontribusi untuk meraih keberhasilan adalah motif atau kebutuhan (need).

    Secara historis, tokoh psikologi yang telah berhasil mengembangkan teori kebutuhan adalah Abraham Maslow. Selanjutnya teori kebutuhan dikembangkan oleh David McClelland (1961) melalui bukunya yang berjudul , “The Achieving Society”. Dia mengidentifikasi tiga motivator, yaitu motif berprestasi, motif affiliasi, dan motif kekuasaan. Setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda tergantung pada motivator dominan. Yang tergantung juga pada budaya dan pengalaman hidup.

    Untuk lebih tahu secara detil, ketiga motif manusia dapat diungkapkan secara berturut-turut.
    Motif Berprestasi dapat dicirikan dengan antara lain, (1) memiliki suatu kebutuhan yang kuat untuk menentukan tujuan dan mencapai tujuan-tujuan yang menantang, (2), menghadapi resiko untuk meraih tujuan, (3) suka menerima umpan balik secara berdasarkan kemajuan dan prestasi, dan (4) sering suka bekerja sendiri.

    Motif Affiliasi dicirikan dengan antara lain, (1) ingin menjadi bagian dari kelompok, (2) ingin disukai, dan akan sering pergi bersama dengan berkelompok (3) menyukai kolaborasi untuk kompetisi, dan (4) tidak suka dengan resiko tinggi atau ketidakpastian.

    Motif kekuasaan yang dicirikan dengan antara lain(1) ingin mengontrol dan mempengaruhi orang lain, (2) suka untuk memenangkan argumentasi, (3) menikmati kompetisi dan kemenangan, (4) menikmati status dan rekognisi.

    Vinish Parikh (2018) berhasil menformulasikan keuntungan dan ketidakberuntungan Teori Motivasi Manusia Mcllaland. Keuntungannya di antaranya, (1) pegawai diberi tugas sesuai kebutuhannya, (2) tidak ada kesempatan untuk beralasan, (3) pegawai terpuaskan. Sedangkan ketidakbertuntungannya di antaranya, (1) mengabaikan kebutuhan dasar, (2) sekedar tiruan (hadir bukan karena keahlian), (3) sulit mendapatkan posisi sesuai dengan kebutuhan. Menyadari akan keuntungan dan ketidakberuntungan teori ini, maka siapapun yang mau menggunakan teori ini harus berhati-hati. Jangan sampai salah dan dirugikan.

    Secara selintas bahwa ketiga kebutuhan ini berdiri sendiri-sendiri. Seseorang bisa saja memiliki motif berprestasi tinggi, tetapi tidak tinggi pada motif lainnya. Demikian juga seseorang bisa menunjukkan motif kekuasaan tinggi, tetapi tidak tinggi pada motif lainnya. Hal ini bisa terjadi pada setting kehidupan dalam lingkungan kerajaan atau setting tertentu. Karena posisi itu didapat dari pemberian.

    Dalam konteks kehidupan demokrasi, ketiga motif itu seharusnya dilalui secara berurutan. Diawali dengan motif berprestasi. Setelah berhasil dilanjutkan dengan motif affiliasi, dan diakhiri dengan motif kekuasaan. Ketika kekuasaan sudah diraih dan perlu dijaga terus, maka seseorang wajib menjaga motif secara istiqamah. Jika tidak, maka sangat mungkin kekuasaan bisa berakhir di tengah jalan. Namun lepas dari itu tanpa dikaitkan dengan kekuasaan, setiap individu seyogianya memiliki motif berprestasi. Karena motif berprestasi sangat berarti bagi kehidupan setiap individu. Tanpa motif berprestasi, seseorang bekerja akan semaunya, sulit disiplin, dan tidak ada gairah. Ujung-ujungnya juga merugi sendiri karena kehadirannya tidak memberikan manfaat.

    Akhirnya bahwa apapun motif manusia dalam hidup itu yang mendasari setiap perilakunya. Namun perlu difahami bahwa ketiga motif ini tidaklah bersifat melekat (inherent), melainkan dipelajari. Karena di antara tiga itu yang pasti dibutuhkan adalah motif berprestasi, maka sudah seharusnyalah keterampilan meningkatkan motif berprestasi menjadi penting. Ingat motif berprestasi akan lebih bermakna jika diwarnai dengan nilai-nilai religiusitas. Bahwa setiap amal itu tergantung pada niatnya. (Innamal a’malu binniyaah, walikullim ri-in maa nawaa).


    Yogyakarta, 21 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    Para Calon dan Prilaku Sufi

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Lalu Lintas kehidupan kita akhir-akhir ini sangat menyita seluruh sistem tubuh kita untuk bekerja lebih maksimal, metabolisme dan imunitas tubuh harus di isi setiap Saat, supaya virus dan segala macam peyakit sosial tidak mudah untuk menyerang. Mulai dari gejolak pemilihan presiden dan wakil persiden, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari daerah sampai pusat, dan segala sirkulasi problem kemanusiaan serta sosial yang merobohkan tembok kemanusiaan kita. Semua itu Sangat memotong laju kehidupan kita yang berkemajuan, baik di bidang ekonomi, politik, kesehatan, hukum, pembangunan, dan intelektualitas. Terlepas dari itu, ada hal tersembunyi yang kami temukan dibeberapa waktu terakhir, yaitu tentang para calon legislatif dan prilaku sufi.

    Kalau kita lihat lebih jauh, sungguh kita akan menemukan suatu cara pandang dari beberapa orang yang mulai melupakan nilai kemanusiaan dari para calon. Kenapa demikian? Percaya atau tidak, apapun usaha para calon untuk menyapa masyarakat sekarang ini selalu kelihatan keliru, masyarakat selalu terfokus untuk mencari sisi keburukan daripada kebaikan yang dilakukan oleh para calon. Menyapa salah, tidak menyapa pun salah, kelihatan dimuka umum salah, tidak kelihatan di muka umumpun salah. Punya gagasan dan ide dianggap nggomong doang, tidak punya ide dan gagasan juga di anggap omong besar. Dilayani seadanya salah, tidak di layanipun salah dan seterusnya, serta masih banyak lagi berderetan apresiasi kita sebagai masyarakat kepada para calon.

    Tentu sebagai masyarakat yang sudah dewasa dalam berpolitik, kita tidak boleh bersikap seperti itu, karena kebaikan harus tetap kita nilai sebagai sebuah kebaikan. Perkara niat nya keliru atau tidak itukan urusan dia dengan Tuhan nya, dan akan menjadi urusan kita Setelah mereka menjabat. Sebenarnya kita hanya menjalankan tugas untuk memaknainya dengan kebaikan apabila ada orang yang berbuat baik. Karena pada dasarnya orang hanya di tuntut untuk menjalankan tugas nya masing-masing, yaitu mengenai hak dan kewajiban yang harus kita jalankan. Alasannya kenapa? Karena ketimpangan yang terjadi dikarenakan tidak adanya rasa mengerti terhadap tugas kita masing-masing.

    Tapi terlepas dari itu, ada hal menarik yang kami temukan dalam kondisi seperti ini, yaitu tentang para calon yang sedang melakukan perjalanan batin untuk meraih kesempurnaan hidup. Bagaimana mungkin! Ini yang kami temukan. Alasan pertama : Apapun yang ditafsirkan oleh Masyarakat, para calon tetap menilai itu sebagai sebuah kebaikan tampa kekesalan sama sekali, terlepas dari para calon ada keinginan atau tidak. Kedua : apapun yang para calon berikan kepada masyarakat tidak pernah dipikirkan untuk kembali dalam bentuk apapun, Karena bagaimanapun para calon sekarang lagi mendesain dirinya supaya kelihatan layak dimata masyarakat. Ketiga : para calon tetap berusaha menyapa meskipun dia tau masyarakat tidak menyukainya. Keempat : kepekaan membaca setiap ritme kejadian dalam sosial. Kelima : Berdoa dan minta didoakan oleh siapapun dan dimanapun. Dalam kelima keadaan seperti inilah sebenarnya para calon sedang melakukan pejalanan penyucian diri, dan ketika mereka bisa melewati uji materi dari kenyataan yang terjadi, maka mereka akan di anggap pantas oleh setiap makhluk. Ketika dianggap pantas, lalu salah satu bahkan lebih dari mereka akan menjadi khalifah.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Wakil Ketua Ikatan Keluarga Alumni Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Menjadi Well-Adapted

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial yang dinamis. Jika manusia itu bisa menunjukkan adaptasi baik, maka akan survive. Jika tidak maka menjadi terpinggirkan, bahkan bisa menjadi tiada. Tidak sedikit keberadaan manusia dianggap tidak ada, karena tidak menunjukkan identitas dirinya karena miskinnya atau kesulitannya beradaptasi dengan lingkungannya. Bisa juga dikatakan, wujuduhu ka adamihi.

    Dengan adanya globalisasi dan keterbukaan, terjadilah urbanisasi, transmigrasi, dan migrasi, baik antar kota, antar propinsi maupun antar negara. Mobilitas manusia tidak bisa dihindari, bahkan bisa jadi kebutuhan. Modal utama yang perlu dimiliki oleh setiap manusia dalam mobilitas manusia adalah kemampuan beradaptasi. Semakin tinggi sikap dan perilaku well-adapted, semakin berhasil seseorang dalam memasuki wilayah baru dan tempat barunya.

    Mayoritas warga negara Indonesia dewasa ini semakin hari semakin banyak yang meninggalkan tanah kelahirannya. Semakin banyak di antara warga negara yang terdidik semakin banyak kemungkinan pilihan untuk bekerja dan bertempat tinggal di luar tanah kelahiran. Mereka memasuki tempat kerja dan tempat tinggal yang baru. Di samping keahlian yang dimiliki, kemampuan beradaptasi sangat diperlukan. Bahkan kita perlu ikuti pesan kata hikmah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, bahwa sudah seharusnyalah  mengikuti atau menghormati adat istiadat di tempat tinggal kita. Dalam konteks ini semakin meneguhkan bahwa kemampuan beradaptasi sangat diperlukan, sehingga hidup kita diterima.

    Manusia itu unik, tidak ada satupun yang sama. Sementara itu kita harus hidup bersama, baik di tempat kerja maupun di tempat tinggal. Agar kita bisa hidup dengan baik dan nyaman maka kita harus bisa menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan. Bukan sebaliknya, orang lain dan lingkungan yang harus menyesuaikan dengan kita.

    Seringkali kita dihadapkan kondisi di suatu institusi atau wilayah berkenaan dengan mayoritas dan minoritas. Tidak jarang  muncul pada kelompok minoritas bahwa posisinya terpinggirkan dan tidak mendapatkan pengakuan dan perlakuan yang baik. Yang demikian itu bisa benar bisa kurang tepat.  Saya yakin bahwa sepanjang yang minoritas mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat, bahkan mampu menaikkan nama baik institusi atau wilayah, pasti kehadirannya diterima dengan baik. Inilah wujud sikap dan perilaku well adapated.  Minoritas hadir untuk bisa sumbang solusi. Sebaliknya mayoritas yang selalu menjadi trouble maker, tentu kehadirannya tidaklah wellcome bagi institusi dan wilayah.

    Akhirnya kita menyadari bahwa manusia dilahirkan dari dua insan, laki-laki dan perempuan, dari keduanya dijadikan oleh Allah swt menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang selanjutnya untuk saling  mengenal dan menolong. Di sini sangat diperlukan  sikap dan perilaku well adapted. Kita ini semua bersaudara tidak pandang suku atau bangsa, perbedaan agama, perbedaan budaya, dan lain sebagainya. Kita bisa bangun Ukhuwwah Islamiyyah, Ukhuwwah Wathaniyyah, Ukhuwwah Basyariyah. Untuk mewujudkan ukhuwwah ini kita harus saling respek dan menghormati dengan kemampuan well adapted di mana pun berada.


    Jombang, 13 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Urgensi Membaca Buku

    “Hal yang harus dilakukan oleh pendidik PAI adalah bagaimana memperkuat akidah siswa namun disisi lain tidak mendeskreditkan golongan agama lain. Salah satu kuncinya adalah memperluas perspektif dan wawasan dengan terus membaca dan menelaah buku serta self continuous improvement agar dapat terus menghidangkan konsumsi segar nan berkualitas bagi regenerasi bangsa” (Mukaromah, 2019).

    Kebijaksanaan, tutur kata, paradigma berpikir, kearifan dan tindakan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh background organisasi, lingkungan (rumah, masyarakat, sekolah), pengalaman dan olah batin yang dilakukan secara continue, namun bacaan/buku juga merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan sikap hidup. Betapa banyak orang keras yang luluh hatinya hanya dengan “membaca” buku. Betapa banyak orang “fanatik yang ghuluw” terhadap afiliasi golongan baik inter maupun antar agama/iman, antar oganisasi, antar tokoh, suku dan budaya lalu kemudian berbesar hati menerima segala perbedaan hanya dengan melalui bacaan. Buku itu ibarat sendi dalam kehidupan. Disadari atau tidak, apa yang dibaca mempengaruhi tindakan kongkrit yang dilakukan. Semakin banyak membaca, maka akan semakin luas perspektif dan wawasan yang dimiliki sehingga tidak “grusa-grusu” dalam menghadapi setiap persoalan.

    Akan tetapi, terkadang manusia merasa terbatasi oleh “sesuatu” yang berada diluar dari dirinya, baik itu otoritas orang lain, concern keilmuan maupun kebencian terhadap pengarang buku karena berbeda pemikiran sehingga menjadikan selektif dalam memilih buku sebagai bahan bacaan. Tentu hal demikian menjadikan hidup “tidak merdeka dan terbelenggu terhadap tuhan-tuhan (memakai t kecil)”, meminjam bahasa-nya Nurcholish Madjid. Hal ini diperkuat dengan pengamatan empirik dan pengalaman yang penulis lalui.

    Kawanku yang beda kampus curhat bahwa di dalam kelas dengan mata kuliah tertentu, saat berargumen hanya dibatasi menggunakan literatur-literatur tertentu, alias disesuaikan dengan bygroud/afiliasi dosen-nya. Alasannya, agar ilmu yang dipelajari tetap dalam koridor atau batas yang “terbatas” (dalam bahasa-ku). Jika ditelisik lebih dalam, tentu ada positif dan negatifnya. Positifnya, mahasiswa didoktrin agar memiliki paham yang “sama” dengan paham dosennya, sehingga kualitas ilmu yang disampaikan dosen tersebut terjaga. Negatifnya, daya nalar kritis dan kebebasan berpendapat mahasiswa terhambat. Implikasi-nya, model pembelajaran semacam itu hanya akan menghasilkan lulusan yang gagap akan perbedaan, mudah menyalahkan dan ingin menggeneralisasikan semua sama atas dasar pola pikirnya. Padahal Tuhan Esa saja memberikan kebebasan manusia untuk menentukan arah hidupnya dengan membekalinya beberapa potensi yakni Fitrah, Nafsu, akal, qalb dan fisik yang semuanya mengarah pada kecenderungan hanif (98%), hanya nafsu lawwamah yang negatif.

    Tidak hanya itu, afiliasi golongan organisasi maupun kegamaan seseorang juga mempengaruhi kecenderungannya terhadap buku. Betapa kagetnya penulis saat magang di sekolah beberapa bulan yang lalu, ketika seorang guru menegur buku bacaanku dengan berkata “Wah mbak pengarang buku itu kan Syi'ah”!

    Batinku (daripada debat), Padahal jelas pengarang tersebut telah klarifikasi baik di sosmed maupun secara tertulis dalam buku karya-karyanya bahwa beliau merupakan muslim ahlussunah wal jama’ah yang moderat dan tawassuth. Terkadang, kita buru-buru menghakimi sesuatu tanpa mengetahui asbab yang jelas dan kasyf-nya (al bathin), sehingga hanya beristimbatkan pada apriori yang abstrak dan dzan (prasangka) yang hanya didasarkan pada cocok dan tidak cocok.

    Membaca buku juga penting dilakukan oleh pendidik (guru dan dosen). Sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan dosen bahwa pendidik harus memiliki beberapa kompetensi, salah satunya professional dan pedagogik. Kompetensi professional dengan mengembangkan bahan dan materi ajar serta kompetensi pedagogik dengan memahami kebutuhan (sosial, psikis, intelektual, emosional) peserta didik. Di era 4.0 ini peserta didik akan merasa jenuh dan tidak tertarik dengan pendidik yang “tekstual” atau menyampaikan pembelajaran hanya berdasar pada apa yang tertera dalam buku panduan/pegangan. Apalagi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, model pembelajaran yang doktrinisasi tidak akan diterima siswa secara mentah. Berdasar pada penelitianku beberapa waktu yang lalu, bahwa Organisasi Kemasyarakatan (ORMAS), pengalaman hidup dan kepribadian guru berimplikasi terhadap proses pembelajaran PAI. Maka sebaiknya pada saat proses pembelajaran lepaskan segala backgorund dan simbol diri. Teringat kata dosenku beberapa semester yang lalu, kadang PAI bukan mengajarkan Pendidikan Agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin, tapi mengajarkan pendidikan Agama “golongan” sesuai afiliasi guru-nya.

    Mengingat PAI merupakan pelajaran yang sangat penting untuk membentuk dan membina individu yang shalih ritual dan sosial, maka seharusnya PAI dikemas dengan sedemikian rupa, Baik dari segi penyampaian/penjelasan yang dilakukan oleh guru maupun strategi dan metode dalam proses KBM. Hal yang harus dilakukan oleh guru PAI adalah bagaimana memperkuat akidah siswa namun disisi lain tidak mendeskriditkan golongan agama lain. Penting untuk dikaji lebih dalam, dan salah satu kuncinya adalah memperluas perspektif dan wawasan dengan terus membaca buku, apapun itu. Sehingga, dalam menjelaskan materi pelajaran berdasar pada konteks-nya. Apalagi menjelaskan ayat al Qur’an yang terdapat banyak kata-kata kafir, dzalim, fasiq dll. Dengan demikian, menjadi guru PAI di sekolah umum lebih berat tantangannya daripada menjadi guru PAI di madrasah. Karena di sekolah umum, teradapat multi agama, sehingga guru juga harus hati-hati dalam menyebut dan memaknai kata “kafir”. Dan yang tidak kalah pentingnya ialah, pendidik harus mengembangkan diri secara berkelanjutan (self continuous improvement) agar dapat terus menghidangkan “makanan/konsumsi segar” bagi regenerasi bangsa yang dapat ditempuh melalui beberapa cara, salah satunya dengan membaca buku.

    Selain itu, membaca juga harus dibudayakan oleh kaum single/non pacaran agar hidup kian berwarna alias tidak hampa. Sebagaimana Al kitabu khairu jalisun wa khairu anisun, buku merupakan kawan setia yang selalu menemani pembacanya baik diwaktu lapang maupun sempit. Dengan membaca buku, akan paham mengenai tipe-tipe manusia ditinjau dari berbagai aspeknya. Baik sisi psikologi (olah rasa, jiwa) fenomenologi (sebab), sosiologi (konteks) dan leadership (pengaruh, kebijaksanaan), dengan menjunjung tinggi eksistensi/keberadaan oranglain manakala berkomunikasi dan berinteraksi, tak terkecuali dengan sikap/trik/steps/kunci/rumus mendekati (ta’aruf) dan menakhlukan hati perempuan tanpa mengiba, bagi laki-laki. Begitulah, kiranya urgensi membaca buku.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Menyoal Revolusi Mental

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Revolusi Mental merupakan salah satu Nawacita sempat menghentak hati dan pikiran seluruh anak bangsa. Revolusi Mental juga wujud ide cerdas. Namun dalam  perjalanannya semakin tak terdengar (dibandingkan dengan awal-awal launching) di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia. Padahal semua anak bangsa terus menanti hasilnya. Ada apa dengan Revolusi Mental?

    Setidak-tidaknya ada tiga lesson learned dari dunia luar yang bisa kita jadikan renungan. Pertama, bahwa Pembaharuan Pendidikan Abad ke-21 di Amerika Serikat lebih difokuskan kepada (1) academic achievement, (2) improvement in school climate, (3) increased school safety, and (4) the development of a morally-educated citizenry. AS belakangan mulai memberikan perhatian terhadap persoalan religisiusitas. Hal ini sejalan dengan pandangan Howard Gardner yang mengangkat Ethical Mind sebagai salah satu dari 5 Minds for the Future.  Padahal pada awal kesejarahan menghasilkan seven intelligence tidak mau mengakui aspek spiritual.

    Kedua, bahwa Guangdong University of Foreign Studies, China dibangun dan dikembangkan berdasarkan tiga nilai, yaitu (1) Moral integrity, (2) Exemplary behavior, and (3) Conversance with Both  Estern and Western Learning. Universitas bertumpu pada dua nilai moral dari tiga nilai yang merupakan suatu langkah revolusi mental di China.

    Ketiga, bahwa di tengah-tengah kehidupan jahiliyah keimanan, Rasulullah saw yang dibangkitkan di atas bumi, semata-mata hanya untuk menyempurnakan akhlaq. Muhammad saw berhasil keluarkan insan dari kegelapan menuju ke alam yang terang. “Fa akhrijnaa minadz-dzulumaati ilannuur”. Mengeluarkan manusia dari alam kegelapan, yang diwarnai dengan perilaku syirik, menuju ke alam yang terang,  tersinari cahaya karena diwarnai dengan akhlaq mulia (akhlaqul kariimah).

    Dari tiga lesson learned dapat diperoleh pelajaran yang sangat berharga.  Bahwa solusi yang paling strategis dan relevan untuk menghadapi warga dan masyarakat yang krisis moral di manapun adalah Revolusi Mental. Untuk mewujudkan Revolusi Mental yang efektif, perlu diupayakan gerakan pendidikan karakter. Yang melibatkan semua ragam stakeholders. Terutama melalui semua jalur, jenjang, jenis dan satuan pendidikan. Prakteknya  memang tidak mudah. Karena sudah terbukti bahwa sehebat apapun institusi pendidikan belum bisa berhasil membangun karakter bangsa jika tidak didukung dan partisipasi dari semua sektor dan rakyat Indonesia.

    Walaupun belum bisa dikatakan sukses kebijakan Revolusi Mental selama ini, yang dibuktikan dengan masih banyaknya tindakan korupsi, tindakan kriminal, kejahatan moral dan sebagainya. Namun kebijakan ini dirasakan masih sangat diperlukan. Tinggal melakukan adaptasi dan pembaruan spirit semuanya, terutama para pimpinan di semua sektor dan level serta masyakat terlibat dalam praktek kehidupan sehari-hari. Dukungan keluarga, masyarakat (tokoh), rumah ibadah dan media massa sangat berarti. Pembangunan manusia untuk bisa lebih berkarakter dan bermartabat merupakan upaya sangat penting.


    Yogyakarta, 20 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    De Winst dan Kisah Perjodohan Rangga dan Sekar

    Novel De Winst.
    PEWARTAnews.com -- Vakuola memorinya. Agar ia terbebas dari getar-getar yang indah, namun berpotensi menghancurkan seluruh hidupnya. Menebas cita-cita yang telah lama ia pahatkan dalam pohon jiwanya.

    Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara, merupakan seorang pemuda dari keturunan bangsawan. Ia merupakan pemuda yang kini telah menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan gelar sarjana ekonomi dengan pujian tertinggi dari profesornya di Rijksuniversiteit Leiden, hasil yang sangat gemilang, bukan saja karena ia mendapatkan nilai tertinggi, namun juga karena ia seorang Bumiputera, Inlander. Bagi Profesor Johan Van De Vondel, Rangga lebih dari seorang Nederland.

    Rangga merasa tersanjung ketika Profesor Johan Van De Vondel yaitu guru besar yang terkenal bengis kepada mahasiswanya,  mengunjungi rumah sewaannya, yaitu sebuah rumah tua yang disewa bersama dengan kedua temannya yang berasal dari Bandung dan Makassar. Saat berkunjung Profesor Johan Van De Vondel mengatakan “Anda kebanggan Universiteit ini. Saya berharap, Anda tak hanya dimiliki oleh Indische, tetapi juga dunia. Suatu saat, saya yakin, bila Anda akan mengembangkan ilmu Anda, Anda akan menjadi seorang pemikir kelas dunia, seperti Adam Smith, David Ricardo, atau yang lainnya.

    Ucapan Profesornya masih terbayang-bayang dalam pikiran Rangga. Saat Rangga tengah menempuh perjalanan pulang menuju Indonesia, yaitu dengan mengendarain kapal api, ia mendapatkan satu nama lagi yang masuk dalam bursa pencapain yang diharapkan melekat padanya. “Mengapa kau tidak berpikiran tentang Karl Marx?”. Suara yang mengejutkan Rangga yang terlontar dari bibir seorang gadis berambut jagung itu. Bukan peluncurannya adalah seorang wanita, namun juga karena ia adalah seorang Nederlander yang berasal dari kalangan yang dekat dengan kekuasaan. Tidak lazim seorang bangsawan istana oranje menyebut-nyebut nama penulis buku Das Kapital itu.

    Gadis berambut jagung itu bernama Everdine Kareen Spinoza, gadis yang ia temui dikapal, dan menjadi teman safar yang menyenangkan. Bagi Rangga Kareen merupakan gadis yang teramat istimewa. Rambutnya yang pirang seperti rambut jagung, dan matanya yang tampak begitu bening, seperti permata biru yang bersinar cemerlang.  Pelapis tubuhnya laksana pualam putih yang halus dan terseliput cahaya kemerahan. Yang membuatnya begitu terlihat mempesona adalah keramahannya. Pada saat itu Rangga menyukai Kareen. Bahkan saat perpisahan mereka di kapal mereka saling memberikan kenangan satu sama lain. Rangga mendapatkan Horloge sebagai kenanagan dari Kareen dan Kareen mendapatkan Cundrik yaitu keris berukuran kecil. Sebenarnya itu bukan hadiah yang seharusnya diberikan seorang pemuda kepada wanita. Tetapi Rangga tidak punya pilihan lain.

    Bagaimana keberlanjutan kisah mereka? Apakah akan berakhir bahagia? Atau malah sebaliknya kisah mereka akan dibanjiri air mata?

    Setelah sampai di Solo, Rangga senang akhirnya ia bisa melepaskan kerinduannya dengan keluarga. Terkhusus kepada ibundanya. Ibunya sangat menyayangi Rangga dengan sepenuh jiwa begitupun Ayahandanya. Tetapi, rasa bangga itu tak ditunjukkan oleh sang Ayah karena suatu alasan yaitu tradisi. Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryanegara, merupakan Ayah dari Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara. Ayah Rangga merupakan orang dari kalangan bangsawan yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakatnya. Karena kedisiplinan dan kepatuhannya akan tradisi dan adat yang ada. Terlepas dari itu, bagi Rangga Ayahnya merupakan orang yang sangat baik. Tetapi sifat egois Ayahnya, yang sering kali membuat pemikiran Rangga sering kali bertolak belakang dengannya.

    Di sini Rangga di suruh Ayahnya untuk bekerja di pabrik gula “De Winst”. Dimana yang berkuasa adalah orang-orang berkulit putih.  Meskipun Rangga adalah Inlander tetap saja ia termasuk dalam orang-orang dengan golongan ke dua. Di pabrik “De Winst” Rangga menjabat sebagai seorang asisten admistratur untuk bagian pemasaran. Tuan Edwar Biljmer adalah pimpinan pabrik gula “De Winst”. Dia sangat baik dan ramah dibandingkan dengan pegawai pabrik “De Winst” yang lain.

    Pagi tadi saat menemui tuan Edwar Biljmer, dijalan pulang Rangga berpapasan dengan seorang pemuda yang juga tanpan, bahkan lebih tanpan darinya. Ternyata pemuda itu bernama Kresna. Seorang pemuda yang datang dan pergi sesuka hatinya. Tetapi, memiliki pemikiran yang sangat cerdas.

    Setelah resmi bekerja di pabrik gula “De Winst” Ayah Rangga kembali membahas masalah  perjodohan antara Rangga dan Sekar. Meskipun Rangga menolak hal ini tetapi Rangga tidak bisa menunjukkan perlawanannya kepada sang Ayah. Berbeda dengan Sekar, ia malah terang-terangan menunjukkan ketidaksetujuannya dengan perjodohannya dengan Rangga. Dulu, saat mereka dijodohkan, mereka masih sangat kecil sehingga mereka belum mengerti dengan yang namanya perjodohan.  Disisi lain mereka berdua telah memiliki tambatan hati mereka masing-masing. Rangga mencintai Kareen, dan Sekar mencintai seorang pemuda bernama Jatmiko. Kareen merupakan saudara sepupu Rangga sendiri. Tetapi karena perjodohan itu, hubungan mereka berdua menjadi tidak begitu akur.

    Sekar adalah gadis cantik yang meiliki idealism yang sangat tinggi. Meskipun ia seringkali dikurung oleh Ayahnya karena ia tak mau sungkem. Menurut Sekar ia tidak mau melakukan suatu hal yang menurutnya tidak benar. Bahkan ia juga dikurung karena sikapnya yang tidak menghargai Rangga saat Rangga tengah berkunjung kerumahnya untuk membicarakan masalah perjodohannya dengan Rangga. Ia harus belajar membuat batik dengan sangat indah saat di pengasingan. Tetapi ia menolaknya.

    De Winst yang tengah mengalami krisis akibat persaingan global, harus merasa kehilangan tuan Edwar Biljmer yang harus pindah ke Negara asal karena ia harus mendapatkan kesempatan untuk meneruskan kuliahnya. Pabrik gula “De Winst” akhirnya mendapatkan pimpinan baru yaitu pengganti tuan Edward Biljmer. Kabarnya ia juga seorang pemuda dari bangsa kulit putih. Maneer Thjis akan menggantikan saya sebagai kepala pabrik gula “De Winst” kata tuan Edward. Rangga kaget mendengar hal itu ia khawatir pemuda yang akan menggantikan tuan Edward adalah pemuda yang sama yang pernah ia temui di pesta dansa dulu. Ternyata kekhawatirannya benar. Saat mengetahui hal itu, Rangga sontak ingin berhenti bekerja di pabrik gula “De Winst”. Terlebih lagi setelah ia tahu bahwa Maneer Thijs adalah suami dari Everdine Kareen Spinoza yaitu perempuan yang telah membuat hatinya bergejolak.

    Sebelum ia akhirnya berhenti bekerja di “De Winst” ia bertemu seorang perempuan bernama Pratiwi, seorang gadis yang dengan gagah berani mewakilkan dirinya sebagai utusan rakyat. Ia pernah berhadapan dengannya saat pratiwi tengah bernegosiasi terkait permintaan rakyat yang mengharapkan kenaikan sewa tanah kepada pabrik “De Winst”. Rangga kagum melihat keberanian gadis itu. Tetapi maneer Thijs hanya membalas permintaan gadis itu dengan nada marah, dan malah mengancamya. Tetapi saat itu Rangga membela gadis itu karena ia menilai bahwa apa yang di tawarkan gadis itu sangat masuk akal dan wajar.

    Dari novel De Winst kita mengambil sebuah pelajaran bahwa memaksakan kehendak orang tua kepada anaknya juga bukanlah hal yang baik. Anak perempuan seharusnya di didik dengan cara yang lebih baik, memperlakukannya dengan cara yang keras malah akan membuat mereka tertekan. Selain dari hal diatas dari novel ini kita juga dapat melihat bahwa seorang perempuan juga bisa selayaknya laki-laki. Kepribadian Sekar yang tegas, berkomitmen, dan cerdas mampu menujukkan hal itu. Novel De Winst juga mengajarkan kepada kita bahwa menjadi seorang manusia haruslah bijaksana dan selalu menghargai orang lain serta memperdulikan sesama, seperi karakter Rangga. Meskipun ia anak dari keturunan bangsawan ia tetap rendah hati dan tidak angkuh.


    Identitas Buku:
    Judul : De Winst
    Penulis : Afifah Afra
    Penyunting : Khalatu Zahya
    Desainer Cover : Andhi Rasydan
    Ilustrasi : UDInur-Andhi-NasSPur
    Penerbit : Afra Publishing
    Kleompok Penerbit Indiva : Media Kreasi
    Peresensi : Nurjadidah




    Sabarnya Seorang Pemimpin

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Banyak pemimpin tidak sabar dalam mengerjakan programnya, mengejar promosi karirnya, menghadapi bawahan, koleganya, dan atasannya dan lain sebainya. Akibatnya kepemimpinan mereka tidak berjalan lancar dan baik, juga tidak mampu tampilkan kemajuan yang berarti. Secara kasuistik kepemimpinan bisa menjadi  gagal, bahkan karirnya ada yang habis. Karena itu sabarnya pemimpin dalam menghadapi berbagai persoalan, terutama persoalan  yang berat, sangatlah diperlukan.

    Kesabaran pemimpin sangat diperlukan ketika menghadapi persoalan yang kompleks. Ketika SDM handal yang dimiliki terbatas. Ketika menghadapi mitra yang asetnya kurang memadai. Ketika ditekan oleh  atasan untuk melakukan sesuatu yang tidak cocok dengan dirinya. Ketika menghadapi persoalan kantor yang amburadul.

    Manifestasi sabar dapat dilihat dari keikutsertaan pemimpin dalam antri, tanpa harus minta diprioritaskan. Pemimpin tidak pernah marah di depan staf, ketika stafnya berbuat salah dan keliru. Pemimpin menerima kegagalan stafnya tanpa marah, ketika staf tidak berhasil menyuguhkan karya terbaik. Pemimpin menerima musibah kehilangan uang kantor di brankas tanpa memojokkan bidang keuangan.

    Pemimpin yang tidak sabar, cenderung menghalalkan segala cara untuk memenuhi obsesinya. Mengorbankan anak buahnya terkena PHK. Merugikan institusinya karena tidak dikelola secara penuh. Mengganggu perjalanan kemajuan mitra kerja karena tidak adanya kemampuan mengikuti kecepatan kerja mitra.

    Apapun kesulitan yang dihadapi pimpinan akan bisa diselesaikan dengan baik, sepanjang pimpinan itu mampu tunjukkan kesabaran. Dengan sabar Allah akan beri bantuan. Ingat  Allah bersama orang-orang yang sabar (QS,  Al Baqarah:153). Kebersamaan yang dimaksud  oleh Allah adalah kebersamaan secara khusus yang berarti menjaga, melindungi, dan menolong mereka. Demikian juga, bahwa sabar mewariskan derajat kepeloporan dan kepemimpinan.  Sebagaimana  Allah swt firmankan “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar...”(QS As Sajdah:24).

    Perhatikan bahwa sabar itu sangat penting bagi pemimpin. Kita lihat mushibah yang terjadi di Indonesia, dijumpai sejumlah tokoh  muda guling di tengah jalan. Banyak dipastikan sebagian besar dari mereka masa depan karirnya di bidang yang sama cenderung suram karena trust turun secara signifikan. Kecuali mereka melakukan revolusi mental secara all out. Percayalah bahwa Allah swt akan membersamai dan melindungi serta membimbing pemimpin yang sabar. Pemimpin yang hebat pasti banyak dan berat ujiannya. Ujian bagi pemimpin hebat tidak pernah berakhir. Tidak hanya fitnah, melainkan juga serangan fisik sampai pertaruhan jiwa. Lebih berat lagi serangan ideologi. Jika tidak sabar, yang jadi korban tidak hanya pemimpin sendiri, melainkan institusi. Semoga kita, terutama pemimpin kita, selalu sabar dalam penjagaan Allah swt.


    Yogyakarta, 19 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Bahasa Bima Hampir Punah (Part 3) -- Memaknai Kata "Ta"

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- Marilah sejenak kita belajar pada imperium Yahudi dengan gerakannya, meskipun zionis bukan berarti yahudi. Tapi ada hal menarik yang kita temukan dibalik kekuatan yahudi saat ini. Kenapa agama tersebut begitu besar secara kualitas bukan kuantitas? Salah satu jawaban yang tidak bisa dibantah adalah bahasa. Mereka mempelajari kembali bahasa nenek moyang mereka yang hampir mulai punah, setelah dipelajari lalu dijadikan bahasa pemersatu dan persatuan oleh kekuasaan sampai sekarang. Baiklah, kita tinggalkan yahudi dan kekuatannya, mari kembali ke bahasa Bima dan eksistensinya. (kalau mau mencari referensi yang kompeten tentang yahudi dan kekuatan bahasanya, silahkan cari di internet dan litratur yang ada).

    'Mada dou Mbojo ta' (saya orang Bima), setiap kata atau kalimat dalam bahasa Bima yang di akhiri dengan kata 'ta' selalu berimplikasi pada proses dan hasil komunikasi etik, romantis dan indah. Percaya atau tidak. Meskipun kalimat 'Nggomi ke sama labo sahe ta (kamu kayak kerbau)' terlihat negatif, tetapi ketika dibelakang kata 'sahe (kerbau)' itu ditambah kata 'ta' maka dia tetap bermakna agak halus daripada tidak ditambah kata 'ta'. Dan kalau dimasukkan kata 'ta' kemungkinan besar lawan bicara kita tidak akan marah, kalapun dia marah, kemarahan tersebut tidak seperti ketika kalimat itu dilontarkan tampa kata 'ta'. Tergantung orang yang menerima kalimat itu bukan tergantung pada frase kalimatnya. Konteksnya berbeda. Karena kita tidak sedang membicarakan psikologi manusia, tapi kita lagi membicarakan psikologi bahasa.

    Kata 'ta' itu apa?

    Kata 'ta' dalam litelatur bahasa Bima merupakan kata bantu untuk mempertegas dan memperjelas sesuatu. Selain itu, kata 'ta' juga sebagai identitas etik dari suatu kalimat. Secara fungsi kata 'ta' sama seperti kata 'nya' dalam bahasa Indonesia. Tapi kata 'ta dan kata 'nya' jelas berbeda secara konteks dan filosofi. Kalau kata 'nya' dalam bahasa Indonesia lebih mempertegas sesuatu yang ingin disampaikan oleh kalimat, tetapi kata 'ta' dalam bahasa Bima tidak hanya mempertegas suatu kalimat, namun juga lebih kepada nilai dan etika kalimat.

    Dari mana kata 'ta' itu?

    Secara teks, kita kewalahan untuk menemukan kata 'ta' itu dari mana asal sejarahnya, bagaimana proses terbentuknya dan untuk apa kata itu di munculkan. Tapi yang jelas, bahasa merupakan salah satu hasil dari akulturasi kebudayaan yang ada. Kata 'ta' tidak hanya kita temukan diwilayah Bima, tetapi juga kita temukan di sulawesi, jawa dan sumatra. Bahkan hampir semua daerah selalu mempunyai kata bantu 'ta' dalam kehidupan bahasa nya. Selain itu, dalam pembahasan kali ini, kita tidak terfokus pada teks sejarah, akan tetapi mencoba untuk fokus pada makna sejarah, dalam hal ini makna kata 'ta'. Namun makna tidak bisa hidup tampa teks? Memang iya, karena sekarang teks nya sudah ada yaitu bahasa itu sendiri.

    Kata 'ta' dan cinta

    Mungkin kita akan bertanya tentang bagaimana keterkaitan kata 'ta' dengan kata cinta, kenapa dia disadingkan, dan kenapa dicocok-cocokan. Kita harus mulai merenungi bersama bahwa dunia materi dalam hal ini bahasa merupakan suatu dimensi yang terpola antara satu dengan yang lain dalam membentuk sesuatu. Sejak awal mereka sudah terkoneksi dengan materi-materi yang lain. Semisal Ketika manusia tidak punya belas kasihan kepada makhluk Tuhan yang lain, maka makhluk itu juga tidak punya belas kelasihan kepada manusia, seperti gempa, tsunami dan lain sebagainya. Semua itu karena sistem kerja dari polarisasi tersebut. Sebenarnya tugas keilmuan kita tidak hanya menemukan pola, tetapi berusaha menyadari bahwa mereka juga berdialetik seperti manusia. Meskipun dalam pencarian atas pola itu membutuhkan energi, kesiapan dan waktu. Bukan berarti kita hanya tertujuh untuk menemukan pola, namun pekerjaan akademik kita harus berorientasi pada terbentuknya keteraturan dan keseimbangan dalam kehidupan bukan malah sebaliknya. Begitu juga dengan kata 'ta' dan kaitannya dengan cinta. Penerjemahan ini berorientasi pada keteraturan dan keseimbangan.

    Menurut kami kata 'ta' diambil dari kata cinta, kata cinta itu kita ambil dua huruf dibelakang nya yaitu 'ta' (Cin-ta). Kenapa bisa begitu? Bisa-bisa saja kalau kita menyadari polarisasi tadi. Selain pola, orientasi penerjemahan terfokus pada keteraturan dan keseimbangan, maka dari itulah penulis mempolarisasinya sampai ke cinta. Tidak ada yang benar-benar serius dan tidak ada yang benar- benar kosong. Tetapi terlepas dari itu, sesungguhnya suatu kata dan kalimat yang di akhiri kata 'ta' berarti didalamnya bermanisfestasi sistem etik dan estetik. Sedangkan satu-satunya nilai yang menawarkan sistem itu hanyalah Cinta. Kita bisa bayangkan ketika kalimat 'Mada dou Mbojo ta (saya orang Bima)' dilontarkan oleh seseorang kepada kita. Pasti getaran energi posistif dibalik penyampaian itu kita rasakan. Tentu sesuatu yang dapat mengantarkan energi positif hanya sesuatu yang positif. Dan puncak dari segala sesuatu yang positif adalah cinta. Jangan percaya, kita hanya perlu untuk ragu!

    Coba kita mulai berfikir secara serius, bahwa setiap kata dan kalimat yang di akhiri dengan kata 'ta' itu kemungkinan besar membuat lawan bicara mu merasa sejuk dan nyaman dengan mu. Dalam kajian bahasa tentu ini merupakan hasil dari proses pemilihan kata yang baik dan benar. Kenapa orang lain merasa nyaman dan tenang, berarti karena pemilihan kata dan proses penyampaikan kalimat mu. Dan dalam hal ini kata 'ta' menjadi simbol suatu kalimat yang akan mengantarkan penyampaian supaya diolah secara sehat oleh lawan bicara mu. Kalau sudah di olah secara sehat oleh lawan bicaramu maka dia akan merasa nyaman dan tenang denganmu.

    Kata 'ta' dan huruf 'Tha' dalam Hijaiyah

    Mari kita mengembara ke huruf hijaiyah, huruf 'Tha' dalam hijaiyah terletak di posisi nomor tiga dari huruf Alif, dan Ba'. Secara epistimologi tasawuf, huruf alif merupakan representasi Tuhan (Allah), huruf Ba' representasi Nur Muhammad yang berasal dari Allah, itu ditandai dengan adanya satu titik di bawah huruf Ba', sedangkan huruf 'Tha' itu di reprentasi nabi Adam dan Hawa yang di ciptakan, itu ditandai dengan adanya dua titik di atas huruf Tha. Berarti huruf Tha terbentuk karena Cinta Allah dan Nur muhammad. Dan keterkaitan kata 'ta' dengan huruf 'Tha' merupakan suatu proses cinta antara sesama manusia yang menyadari bahwa diri mereka dari rahim yang satu yaitu adam dan hawa. Ketika kita mengacu pada makna ini, berarti setiap mereka yang menggunakan kata 'ta' dalam semua komunikasinya menyadari dirinya sebagai reprentasi cinta Allah dan Nur Muhammad lewat Adam dan hawa, lalu berupaya menebarkan cinta kasih itu lewat kata dan kalimat. Masa seperti itu? Berbicaralah atas nama cinta, maksudnya, apa yang kita sampaikan ke orang lain harus mulai dari cinta (hati), memilih diksi yang mewakili cinta dalam hal ini 'ta' serta tindakan yang bernilai cinta.

    Kenapa kalimat 'nahu ne,e nggomi' tidak pas untuk di masukkan kata 'ta' nya.? Karena pernyataan 'ne.e' (cinta) tidak boleh diwakili oleh kata 'ta'. Ne'e hanya bisa di wakili oleh kata 'ne'e'. Tapi apabila seseorang butuh penegasan berulang kata 'ta' bisa digunakan. Selain itu, konteks umur dan keadaan seperti pembahasan sebelumnya sangat mempengaruhi kalimat 'nahu ne.e nggomi' tidak dimasukkan kata 'ta'. Kecuali kita mengungkapkan perasaan itu ke orang yang lebih tua dari kita, baru kata 'ta' itu berlaku.  Tulisan ini mewakili dirinya sendiri, dia tidak mewakili apapun. Dan sebagai penutup, Tulisan ini sesunggunnya tidak baku, tetapi mungkin bisa menjadi pijakan awal kita untuk menemukan samudra makna dari suatu kata dan kalimat. Jangan percaya, kita hanya butuh untuk ragu.!

    Wallahualam bishawab.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Wakil Ketua Ikatan Keluarga Alumni Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Keluarga Bahagia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Keluarga bahagia merupakan idaman semua orang. Tak seorangpun yang tidak memimpikan dan mengharapkan keluarga bahagia. Hingga muncul  Rumahku Syurgaku (Baity Jannaty). Makna keluarga bahagia bisa bersifat normatif dan bersifat relatif. Tergantung atas pandangan hidup setiap keluarga. Ada yang berorientasi material dan non material. Bagaimana dengan definisi keluarga bahagia menurut masing-masing di antara kita?

    Menurut hemat kami makna keluarga bahagia adalah keluarga yang mampu menciptakan cinta, kasih sayang, dan kedamaian dan saling memberikan cinta dan kasih sayang di antara semua anggota keluarga. Juga yang selalu dalam  kebersamaan dengan kualitas waktu. Kebersamaan bisa terjadi pada waktu sarapan, makan malam, rekreasi, ibadah atau waktu silaturahmi dengan keluarga besar dan handai taulan. Sebaliknya keluarga bahagia bukan diukur harta benda yang dimiliki saja, pangkat dan jabatan yang diduduki saja, atau keturunan terhormat saja. Bahkan tidak sedikit dijumpai di tengah-tengah masyarakat orang tidak kaya raya, tidak memiliki kedudukan atau jabatan, atau bukan keturunan orang terhormat tapi dapat membangun keluarga bahagia.

    Memiliki keluarga bahagia itu penting
    karena keluarga bisa menenuhi kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual seluruh anggota keluarga. Seseorang itu akan dinilai  berdasarkan kondisi keluarganya. Kehidupan keluarga akan menjadi lebih baik secara internal maupun eksternal. Menjadi kebanggaan bagi seluruh anggota keluarga.

    Ada sejumlah hal yang menandai suatu keluarga bahagia, yaitu (1) Keluarga memiliki hirarkhi keluarga yang jelas, (2) Anak merasa aman bicara dengan orangtua, sekalipun dia komplain, (3) Anak memiliki identitas keluarga yang kuat, (4) Orangtua memberi anak bekal ilmu atau instrumen untuk sukses, (5) Orang tua menjadi model untuk memaafkan kesalahan, (6) Orangtua dan anak saling mencintai, dan (7) Orangtua memperlakukan anak dengan baik (Johnson, 2019). Ini semua yang menandai suatu keluarga bahagia yang bersifat generik, tanpa memandang agamanya.

    Adapun kunci-kunci penting keluarga bahagia menurut Islam ada 5, yaitu: (1) Adanya kesatuan rumah tangga yang mencakup tujuan berumah tangga dan nilai-nilai yang diterapkan di dalam rumah tangga, (2) Membangun keluarga yang didasari dengan niat ibadah, (3) Menjalankan peran istri yang didasarkan atas kewajiban isteri, (4) Menjalankan peran suami yang didasarkan atas kewajiban suami , dan (5) Saling memahami dan menutupi kekurangan. (Dialamislam.com). Keluarga bahagia memberikan jaminan kehidupan seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak dalam pertumbuhan dan perkembangan. Demikian juga, semua anggota keluarga terutama anak terjaga perkembangan iman, islam dan akhlaqnya.

    Keluarga bahagia itu bukan hadiah dari Tuhan, tapi sesuatu yang harus diperjuangkan. Untuk mengupayakan keluarga bahagia, di antaranya: (1) Semua anggota keluarga berada di rumah  dan bertemu secara berarti, 2) Selalu menunjukkan kasih sayang, (3) Berkomunikasi dengan efektif, (4) Perlakuan yang sama dalam keluarga (5) Membangun ikatan keluarga yg tetap dan solid, (6) Melayani semua anak secara personal, tanpa ada yang diabaikan walau sibuk, (7) Mengatakan maaf belumlah cukup, perlu follow up, (8) Memberi hadiah untuk perilaku yang baik, (9) Keseluruhan anggota keluarga melakukan olahraga bersama, (10) Membuat kegiatan yang menyenangkan bersama keluarga, (11) Menyempatkan ibadah bersama (sholat, puasa, haji/umrah, infaq/shodaqah/zakat), sesuaindengan kondisi, dan (12) Orangtua perlu secara istiqamah berdoa untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Semua anggota keluarga diharapkan bisa berpartisiasi optimal. Inisiatif untuk melakukan  kegiatan bersama dapat dimulai dari orangtua atau anak secara silih berganti sesuai dengan kondisinya.

    Demikianlah berbagai hal terkait dengan keluarga bahagia. Kita harus terus bisa wujudkan keluarga bahagia yang tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. Untuk menjadikan keluarga bahagia wajib berusaha bersama anggota keluarga dan teman-teman seperjuangan. Keluarga bahagia tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh salah satu anggota keluarga yang berjuang, melainkan juga oleh seluruh anggota keluarga.


    Yogyakarta, 18 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Hasrat Politik yang Mencerahkan

    Muhammad Nur Dirham.
    PEWARTAnews.com -- Memulai narasi pencerahan ini, penulis menguraikan kalimat berikut : “Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir semua pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional” (Bertolt Bracht, Penyair Jerman)

    Narasi Penyair Jerman tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak Quotes Politik yang menjadi rujukan inspiratif dari sebagian besar masyarakat. Jauh dari pada narasi tersebut, pada prinsipnya dalam proses kehidupan dan keterkaitan dengan politik sebetulnya kita sejak lahir sekalipun dan bahkan sejak dalam perut ibu sudah bersentuhan dengan politik atau dalam istilah lain yaitu produk politik. Pada banyak hal bahwa kehidupan keseharian masyarakat yang berkaitan erat dengan kebutuhannya sangat bergantung pada proses politik yang dimainkan oleh para elit politik baik dalam struktur legislatif maupun eksekutif. Semisalnya kebutuhan pupuk dan obat – obatan bagi masyarakat petani sangat ditentukan oleh proses politik yang dimanifestasikan kedalam suatu kebijakan publik oleh pemerintah, maka dibutuhkan orang-orang yang terjun dalam dunia politik yang tidak hanya sekedar hasrat politik untuk mengambil keuntungan pribadi maupun kelompoknya akan tetapi harus bisa memiliki hasrat politik yang mencerahkan dalam bahasa sederhananya adalah menerjemahkan hasrat politiknya melalui kerja politik yang berbasis pada aspirasi, kebutuhan dan kemanfaatan bagi masyarakat luas.

    Supaya bisa menghadirkan hal yang demikian maka perlu banyak masyarakat yang harus tersadarkan untuk bisa menghadirkan wajah politik yang mencerahkan masyarakat luas. Momentum politik menuju tanggal 17 April 2019 banyak masyarakat yang ambil bagian dalam meramaikan pesta Demokrasi Lima tahunan yaitu pemilihan legislatif yang bersamaan dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Menurut hemat penulis untuk menjawab hasrat politik yang mencerahkan maka kehadiran setiap individu calon legislatif ditengah-tengah masyarakat tidak hanya berbicara pada tataran mengejar elektabilitas semata, melainkan melakukan upaya yang lebih konstruktif seperti halnya memberikan Pendidikan politik, menghadirkan suasana kebatinan yang sejuk, menjaga relasi antar sesama masyarakat sebagai entitas sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan upaya-upaya pencerahan lain kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak terbebani oleh situasi politik yang ada dan bisa menikmati atmosfir politik dengan penuh kebahagiaan untuk terwujudnya kehidupan masyarakat yang terdidik dan tercerahkan.


    Penulis: Muhammad Nur Dirham
    Calon Legislatif DPRD Kabupaten Bima

    Menjaga dan Menjauhi Empat Perkara

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Pada umumnya orangtua sudah menguasai materi dan cara mendidik anak, karena mereka diassumsikan sudah mampu. Namun pada kenyataanya cukup banyak orangtua yang belum siap materi dan cara mendidik anak. Baik yang sudah mampu maupun yang belum mampu, rasanya tidak berlebihan jika kita ambil pelajaran dari Sayyidina Ali ra dalam mendidik anak. Ini diharapkan sekali bahwa orangtua dapat menunjukkan tanggung jawabnya dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya dengan lebih baik, sehingga menjadi anak sholeh dan sholehah kebanggaan orangtua.

    Ada wasiat Sayyidina Ali ra yang penting kepada anak-anaknya. Wasiat pertama terkait dengan persoalan yang harus dijaga. Beliau menyampaikan wasiatnya sebagai berikut:

    أَغْـنىَ الغِنىَ العَقْلُ وَأَكْبَرُ الفَقْـرِ الحُمْقُ وَأَوْحَشُ الوَحْشَةِ العُجْبُ وَأَكْبَـرُ الحَسَبِ حُسْنُ الخُلُـقِ

    Sebaik-baik kekayaan adalah akal, separah-parah kemiskinan adalah kebodohan, sehina-hina sifat adalah kebanggaan pada diri sendiri, dan sebaik-baik kemuliaan adalah akhlak mulia.

    Empat perkara yang harus dijaga merupakan persoalan yang penting dalam kehidupan manusia. Pertama, Anak harus menjadi kaya ilmu untuk naik derajatnya sama tingginya dengan orang beriman. Kedua, Anak juga harus dijauhkan dari kebodohan ilmu, iman dan akhlak, karena anak jangan sampai terperosok sebagai hamba-Nya yang paling miskin. Dengan tak berilmu karena kebodohan, maka tidak bisa terjaga kemuliannya dalam meraih rejeki dan hina di tengah masyarakat.

    Ketiga, Untuk tidak menjadi paling hina di mata Allah swt dan ummat, kita jangan sombong dan ujub akan keagungan yang dimiliki, karena semuanya itu anugerah Allah swt. Terakhir, kita harus menghiasi hidup dengan akhlaq yang baik, karena sesungguhnya yang terbaik  di antara ummat Muhammad adalah yang paling baik akhkaqnya.

    Selanjutnya Sayyidina Ali ra mewasiatkan sesuatu yang terkait dengan apa yang harus dijauhi.

    يَابُنَيَّ,
    إِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ الأَحْمَقِ فَإِنَّهُ يُرِيْـدُ أَنْ يَنْفَعَكَ فَيَضُرُّكَ
    إِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ البَخِيْلِ فَإِنَّهُ يُبْعِدُ عَنْكَ أَحْوَجَ مَـاتَكُوْنُ إِلَيْهِ
    وَإِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ الفَـاجِرِ فَإِنَّهُ يَبِيْعُكَ بَِالتَّـافِهِ
    وَإِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ الكَذَّابِ فَإِنَّهُ كاَلسَّرَّابِ يُقْرِبُ عَلَيْكَ البَعِيْدَ وَيُبْعِدُ عَلَيْكَ القَـرِيْبَ

    Wahai anakku, jauhilah orang bodoh, karena ketika ia ingin memberikan manfaat kepadamu ia malah membahayakanmu.
    Jauhilah orang kikir, karena ia akan menjauhkan darimu apa yang sangat kau butuhkan. Jauhilah pelaku maksiat, karena dia akan menjualmu dengan harga yang murah. Dan jauhilah pendusta, karena dia laksana fatamorgana, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

    Pertama, Kita harus berhati-hati terhadap tindakan orang bodoh, karena boleh jadi tindakannya berpotensi menipu. Kelihatannya tindakan yang memberi manfaat, malahan justru merugikan banyak orang. Kedua, pada dasarnya orang bakhil itu tidak banyak memberikan kentungan bagi orang lain, bahkan merugikan orang lain. Untuk itu jauhilah pergaulan dengan mereka. Memperhatikan posisi orang bakhil yang kurang positif, maka berhati-hatilah dalam menyikapi terhadap harta. Karena pada hakekatny sebagian dari harta yang dimiliki bukanlah menjadi haknya.

    Ketiga, jagalah dirimu dengan sebaik-baiknya, dengan mendekati dan bergaul dengan orang baik. Jangan sekali-kali mencoba mendekati orang yang berbuat maksiat. Karena boleh jadi lama-lama akan ketularan berbuat maksiat. Ingat Almar-u khaliluhu, bahwa seseorang itu tergabtung temannya. Akhirnya, kita harus menjaga hati kita dari perbuatan munafik, khususnya perbuatan dusta. Perbuatan dusta merugikan orang lain, bahkan merugikan diri sendiri. Karena hakekatnya bertentangan dengan hati nurani.

    Insan yang memiliki martabat lebih dari makhluk yang lain, akan tetap terjaga jika ikuti nasehat Sayyina Ali ra. Perilaku apa yang harus dijaga dan apa yang harus dijauhi. Kondisi ini membutuhkan kesadaran, keberanian, dan ikhtiar untuk mewujudkannya. Sepanjang kita terus faqarrub dengan Allah swt, dan tetap istiqamah menjauhi dari apa  yang tidak diinginkan-Nya, insya Allah kita dalam kebaikan.


    Padang, 14 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Bahasa Bima Hampir Punah (Part 2)

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com -- "Rahasia para petuahmu tersusun dari kata-kata dan kalimat, sehingga itu menjadi kunci untuk berkomunikasi dengan segala energi dan partikel yang ada disemesta ini" se sakral itulah posisi kata dan kalimat dalam kehidupanmu.

    Bahasa telah menemani manusia sejak pertama kali melihat dunia, sampai kelak berjumpa dengan Tuhan-Nya. Kita bisa membayangkan kalau ada peradaban tanpa bahasa, setiap interaksi manusia terjadi tanpa ada media komunikasinya. Kita bisa bayangkan kalau Tuhan tidak menggunakan Bahasa ketika menurunkan firmannya. Apa yang terjadi? Terlepas dari itu, Bahasa juga telah menjaga manusia supaya segala sesuatu diposisikan pada tempatnya masing-masing. Ketika semua sudah diposisikan demikian, maka akan terwujud kehidupan yang seimbang serta harmonis. Memposisikan pada tempatnya tidak hanya secara formal tapi juga secara subtantif. Mari kita lihat contohnya, kata 'mada' dalam bahasa Indonesianya (aku, saya, kami) mewakili suatu keadaan, mewakili sistem komunikasi tertentu, dan bisa digunakan pada beberapa aktifitas (formal) . Tetapi,  kata tersebut juga bisa digunakan untuk pembicaraan yang berkiblat pada nilai (subtantif). Kata 'mada' digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua (standar formalnya), tapi kata 'mada' juga bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang belum kita ketahui umurnya, orang yang baru kita jumpai, orang yang sebaya umurnya dengan kita maupun dibawa kita (subtantif). Kenapa bisa begitu, karena kata tersebut mewakili suatu bentuk penghargaan terhadap lawan bicara, bukan hanya mewakili umur (formal).

    Kalau kata 'mada' sebagai bentuk dari menghargai, berarti dia punya fungsi general. Sebab tidak hanya orang tua yang harus kita hargai tapi juga semua manusia perlu kita hargai dan sayangi lewat sistem kata dan kalimat. Namun muncul pertanyaan lanjutan,  tidak harus dengan menggunakan kata 'mada' sebagai bentuk menghargai seseorang dibawah umur kita?  Iya memang betul, karena terlepas dari posisi kata, sesungguhnya redaksi kalimat sangat mempengaruhi penilaian seseorang. Contoh : "nahu dou Mbojo ta' (saya orang Bima)", dan "nahu dou mbojo (saya orang Bima)". Kalau dilihat dari dua kalimat tersebut bermakna sama, dua kalimat itu sama-sama digunakan kepada lawan bicara yang lebih muda dari kita, sebaya dari kita, maupun kepada orang yang belum kita kenal (analisis umur), tetapi tingkat kesopanan kalimat itu berbeda. Kalimat pertama lebih sopan dari kalimat kedua, karena ada tambahan 'ta' nya. Dari sini bisa kita lihat bahwa susunan kalimat yang kita gunakan bisa dinilai sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang, tidak hanya dilihat dari menposisikan katanya. Kita simpan point itu. Baiklah, mari kita kembali kepada makna kata 'mada' tersebut,  jika kata 'mada' sebagai kata ganti aku (bahasa Indonesia) dalam bentuk yang halus bermaksud untuk menghargai, maka kata tersebut bisa keluar dari makna dasarnya yaitu kata 'mada' digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih 'tua' saja. Kenapa bisa keluar? Sebab semua manusia butuh dihargai, meskipun bentuk penghargaan itu bukan hanya terletak di kata dan kalimat yang kita gunakan. Tetapi alangkah lebih indahnya kalau penghargaan itu di mulai dari kata, kalimat dan berujung pada tindakan.

    Persoalan berlanjut, tapi semua sudah ada kata yang mewakili setiap fase komunikasinya? Iya memang betul. Semisal, kata 'nahu', kata tersebut digunakan untuk lawan komunikasi yang sebaya dengan kita maupun dibawah kita. Begitu juga dengan kata-kata yang lain, semua sudah tersedia dan digunakan untuk setiap keadaan yang berbeda-beda. Namun, bukan tidak mungkin kata 'mada' bisa difungsikan untuk semua lawan bicara, kalau kita mengacu pada subtansi bukan hanya formalnya.  Semisal 'mada dou Mbojo ta'.  Kalimat itu bisa digunakan untuk semua manusia, tidak hanya kepada orang yang lebih tua dari kita.

    Gugatan tentang posisi kata 'mada' selain  berawal dari kebiasaan, juga datang dari lawan bicara kita. Terkadang lawan bicara kita merasa tidak pantas merima kalimat tersebut untuk di ucapkan, kalau lawan bicara umurnya dibawah dari orang melemparkan kalimat itu. Namun orang Bima telah menyiapkan kata yang lain sebagai pengganti kata 'mada'. Khususnya digunakan kepada lawan bicara yang umurnya dibawah dari kita. Kalaupun kata 'mada' susah kita terima maka kita harus mencari alternatif lain untuk menjawab ini. Oleh Karena itu, muncullah kata 'ndaiku' sebagai suatu representasi untuk menghargai lawan bicara yang seumur dengan kita,  dibawah kita atau orang yang belum kita ketahui umurnya (berdasarkan pertimbangan analisis). Contoh : 'ndaiku dou Mbojo ta', kata itu digunakan untuk lawan bicara yang sebaya dengan kita, yang belum kita kenal (pertimbangan analisis) dan dibawah dari umur kita. Bukan Berarti kata 'mada' tidak bisa kita gunakan untuk lawan bicara dibawah umur kita tetapi kebiasaan dan cara kita melihat sesuatu yang perlu di benahi bersama, supaya tidak berdampak menjadi kebiasaan yang dibenarkan dalam sirklus kehidupan sosial. Karena titik tekannya terletak pada cara untuk menghargai orang lain.

    Apa yang bisa kita ambil? Sesungguhnya bahasa telah mendisiplinkan kita semua dari kemungkinan ketidakteraturan komunikasi yang terjadi, supaya tidak berakibat pada gagal paham, kurang paham, tidah paham dan salah paham. Mengenai sejarah. Sejarah memang membutuhkan fakta supaya bisa dianggap sebagai sejarah. Tetapi kita tidak hanya mengumpulkan fakta, namun juga bertugas menelusuri setiap makna dibalik peristiwa sejarah. Dan bahasa merupakan salah satu peristiwa sejarah, fakta sejarah, serta makna sejarah.

    Kalau bahasa mulai di perkosa dengan upaya (sengaja maupun tidak sengaja) untuk menggantikan posisinya berarti kita sedang mengubur salah satu peristiwa sejarah, fakta sejarah, dan makna sejarah kita. Oleh Karena itulah kenapa kita menjaga bahasa daerah kita sebagai salah satu aset kebudayaan orang Bima itu sendiri. Satu kata saja bisa membuat ribuan pengetahuan baru, apalagi seluruh kata yang tersaji dikehidupan orang Bima.

    Penulis tidak yakin kita benar-benar bisa membedakan kata 'mada, nahu, nggomi,  ndaiku, ndaita, ita, ita ta' secara formal maupun subtantif. Jangankan berbicara peradaban, menelusuri setiap jengkal kata yang tersedia di kehidupan orang Bima tidak cukup umur kita untuk mengkajinya. Kata dan kalimat adalah makrifat mu menemukan Tuhan.

    Bersambung.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Wakil Ketua Ikatan Keluarga Alumni Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Kepribadian Produktif

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Pada hakekatnya ada orang yang dapat menyelesaikan pekerjaan dengan waktu yang pendek, ada juga dengan waktu yang lama. Seseorang yang mampu menyelesaikan tugas atau pekerjaan dengan kualitas yang baik dengan waktu yang pendek bisa disebut orang yang memiliki kepribadian produktif. Bukan karena nampak sibuk, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.

    Ada sejumlah alasan yang dapat ditemukan pada orang-orang yang tidak memilki kepribadian  produktif, yaitu  (1) kurangnya rekognisi, (2) tujuan tidak terdefinisi secara jelas, (3) tidak ada kesempatan untuk tumbuh, (4) tidak ada keseimbangan kehidupan kerjanya, (5) budaya company bukan menjadi prioritas, (6) tidak memiliki deadline, (7) tidak memiliki lingkungan kondusif,  dan (8) adanya keyakinan  bahwa pekerjaan hanya bisa diselesaikan dengan total waktu (Tieffels, 2019) dan Chua, 2019). Kondisi-kondidi inilah yang membuat orang-orang yang tidak memiliki kepribadian produktif baik yang disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal.

    Kepribadian produktif bukanlah semata-mata bawaan, melainkan dapat diupayakan. Setiap orang dapat menunjukkan usaha secara serius. Celistine Chua (2019) memberikan tips untuk menjadikan seseorang memiliki kepibadian produktif, di antaranya: (1) hilangkan sesuatu yang tidak penting (fokus kepada yang penting), (2) Bekerja berdasarkan 80/20, dengan 20 tugas mendapatkan 80 hasil, utamakan efektivitas baru efisien, (3) Usahakan ambil waktu istirahat, (4) hilangkan hal-hal yang mengganggu, (5) menetapkan timeline, (6) berada pada lingkungan yang menginspirasi dan mampu membantu mencapai produktivitas, (7) menggunakan  paket waktu, dan (8) memanfaatkan otomatisasi dalam penyelesaian tugas. Inilah sejumlah ikhtiar yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. Dengan komitmen yang tinggi dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dan manfaatkan hasil kemajuan teknologi.

    Individu yang memiliki kepribadian produktif dalam hidupnya tidaklah berjalan smooth. Melainkan dia menghadapi berbagai tantangan yang tidak bisa dihindari, di antaranya : (1) melepasnya ikatan pekerja dari institusinya,(2) manajemen kinerja yang tidak efektif, (3) kebutuhan pelatihan dan pengembangan yang terus menerus, (4) kegiatan rapat yang berlebihan, dan (5) alasan tantangan priduktivitas yang tidak terkait dengan kerja, yaitu faktor personal. Tantangan-tantangan ini dapat diatasi dengan mudah bila dimulai dari diri sendiri. Ibda’ Binafsik. Individu tingkatkan komitmennya, bagaimana manajemen waktu bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya, sehingga tantangan yang potensial dapat diatasi dengan sebaik-baiknya.

    Akhirnya bahwa dalam mengarungi tugas kehidupan, terutama tugas kekhalifahan, salah satu andalan paling utama adalah kepribadian produktif. Dengan kepribadian produktif, kita dapat menghasilkan banyak hal dengan kualitas yang baik dalam waktu yang pendek. Bahkan bisa memanaj waktu dengan produktif, sehingga terhindar dari kelalaian menggunakan waktu. Ingat, “Waktu adalah pedang, maka jika kita tidak bisa menggunakannya dengan benar, maka akan memotong leher kita, Al Waktu Kassaiif, In Lam Taqta’hu  Qatha-aka.


    Padang, 25 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Fakultas Syariah dan Hukum Gelar Kuliah Paralel Hukum Internasional

    Christopher Cason, B.A., J.D saat menyampaikan materi kuliah Paralel Hukum Internasional.

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pada hari kamis, pukul 10.00 WIB bertempat di Ruang teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta diadakan kuliah paralel Hukum Internasional bersama narasumber Christopher Cason, B.A., J.D yang merupakan Alumni University of Miami School of Law US dengan tema Human Rights and Cultural Context.

    Kuliah Paralel Hukum Internasional ini diikuti oleh 213 orang mahasiswa yang semester Genap ini mengambil mata kuliah Hukum Internasional, yaitu Prodi Ilmu Hukum, Hukum Ekonomi Syariah, dan Hukum Tata Negara.

    Setelah menyampaikan beberapa perjanjian internasional yang terkait dengan Hak Asasi Manusia seperti CRC dan CEDAW, Christopher Cason kemudian mengelaborasi dan mengajak mahasiswa untuk berfikir kembali keterkaitan antara HAM dan budaya. Ia menyimpulkan bahwa dalam budaya dan ajaran agama apapun, semua tidak ada yang membolehkan adanya pelanggaran terhadap HAM.

    Dalam sesi tanya jawab ia menyampaikan bahwa menurutnya, hukuman mati merupakan pelanggaran terhadap HAM yang mendasar yaitu hak untuk hidup. Ia juga dengan tegas menyampaikan bahwa embargo jika berdampak pada tercerabutnya hak-hak mendasar dari manusia, makas itu illegal. Terkait tembok besar yang dibangun oleh pemerintahan Amerika saat ini untuk membendung imigran khususnya dari Mexico, Ia menyampaikan bahwa hal tersebut tidak melanggar HAM kecuali hal tersebut mengganggu terpenuhinya hak-hak migran untuk mendapatkan asylum.

    Kuliah ini terselenggara atas kerja sama Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga dengan the American Institute for Indonesian Studies (AIFIS). **

    DPW PKB DIY Gelar Mujahadah & Doa untuk Bangsa

    Suasana saat mujahadah berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dewan Pengurus Wilayah  Partai Kebangkitan Bangsa,  Daerah Istimewa Yogyakarta Menggelar "Mujahadah dan Doa bersama untuk kemenangan, keberkahan dan keselamatan Bangsa". Agenda ini berlangsung di Lantai 3 Kantor DPW PKB DIY, Jalan Ring Road Selatan, Malangan, Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta yang dipimpin oleh KH. Masngud Masduki, Rais Syuri'ah PWNU DIY.

    KH. Masngud Masduki berharap semoga PKB mendapatkan kemenangan baik di DIY maupun diseluruh Indonesia. "Ibarat jagung ini, satu tapi isinya banyak. PKB nomor satu, mudahan calegnya lolos banyak," ujarnya sembari disambut dengan ucapan aamiin oleh seluruh hadirin.

    Selain itu, KH. Masngud Masduki tidak lupa juga menyarankan seluruh caleg dan pengurus PKB se-DIY untuk sama-sama mendukung Calon DPD RI yang di utus PWNU DIY yakni Dr. Hilmy Muhammad. "Untuk seluruh keluarga besar PKB jangan lupa kita dukung bersama Gus Hilmy sebagai anggota DPD RI," sebut KH. Masduki.

    Mujahadah dan Doa ini dimaksudkan untuk mendoakan bangsa agar selalu dalam lindungan Allah SWT. Terutama atas Perjuangan PKB dan  Kemenangan Pasangan Capres-Cawapres 01. "Semoga seluruh perjuangan dan target kita diridhoi oleh Allah SWT," ujar Sekretaris DPW PKB DIY Kiai Umarudin Masdar dalam sambutannya, Kamis, 14 Maret 2019.

    Lantunan Ayat Suci dan Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW menggema di acara  Mujahadah dan doa di DPW PKB DIY.

    Acara pengajian rutin malam jum'at tersebut dihadiri oleh Ketua DPW PKB DIY Agus Sulistiyono, Sekretaris DPW PKB Kiai Umarudin Masdar, Para Caleg, Kader, Simpatisan PKB dan Masyarakat Sekitar. 

    Dalam acara mujahadah dan do'a bersama tersebut, Para kader dan Simpatisan PKB mendoakan agar Calon Presiden Joko Widodo dan Cawapres KH. Ma'ruf Amin menang dalam Pilpres 17 April 2019 mendatang. (PEWARTAnews)

    Menghukum dengan Hadiah

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Setiap anak secara fitrah tumbuh dan berkembang menuju sosok pribadi yang utuh. Anak yang berkembang menjadi pribadi yang matang, dewasa dan produktif. Untuk mengarungi hidup ini sangat membutuhkan sistem pendidikan yang sesuai. Salah satu sub sistem pendidikan yang penting adalah alat pendidikan.

    Alat pendidikan bisa berbentuk hadiah atau hukuman. Hadiah biasa diberikan kepada anak yang berhasil dan berprestasi cemerlang. Harapannya anak terus pertahankan keberhasilan dan meningkatkan prestasinya. Sebaliknya hukuman atau sanksi diberikan kepada anak yang gagal, atau yang melanggar. Harapannya anak segera introspeksi dan perbaiki diri serta membangun strategi baru untuk meningkatkan prestasi. Baik sekali jika anak bisa raih sukses dan juara untuk masa-masa selanjutnya.

    Biasanya hukuman digunanakan untuk memberikan efek jera. Misalnya, jika anak mendapat 5 soal, salah 4, maka dapat hukuman 4 x (kali) pukulan. Ini cara konvensionsl. Sesuatu yang menyakitkan dan membebani anak yang kena sanksi hukuman. Hukuman yang demikian cenderung discouraging. Boleh jadi hukuman bisa menurunkan, bahkan bisa mematikan semangat anak untuk bangkit dan maju. Anak itu dibayang-bayangi ketakutan untuk berbuat salah. Akibatnya anak tidak memiliki keberanian untuk mengulangi dan meraih kemajuan.

    Padahal setiap anak itu berhak dan memiliki keinginan untuk sukses hidupnya. Untuk itu anak yang melakukan kesalahan perlu diberi sanksi hukuman yang mendidik. Hukuman yang tidak seperti biasa. Hukuman yang bisa encouraging. Hukuman yang bisa menyemangati. Yang demikian itu, bisa dikatakan sebagai hukuman dengan hadiah. Misalnya, jika ada 5 soal untuk anak, salah 4, maka anak dapat hadiah 1 bintang. Jika 5 soal, salah 2, maka dapat hadiah 3 bintang dan seterusnya. Dengan menghargai prestasi dan ikhtiarnya, maka perlakuan terhadap kesalahan itu lebih encouraging. Cara inilah yang diharapkan mampu memotivasi untuk perbaikan dan peningkatan prestasi.

    Dalam perpektif Islam, bahwa ada apresiasi terhadap ummat yang melakukan ijtihad. Ummat Islam itu dihargai usaha ijtihadnya. Walau salah, tidak diberi sanksi hukuman yang bersifat menyakitkan, melainkan diberi sanksi berupa hadiah satu pahala yang memiliki spirit kemajuan. Dengan assumsi bahwa ijtihadnya dilakukan secara total dengan dukungan ilmu yang memadai. Dengan begini, diharapkan semangat ijtihad terus tumbuh, karena sangat dibutuhkan dalam berislam. Berikut Hadits Rasulullah saw:

    إِذَا َاجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذََا اجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

    Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, maka ia berhak mendapat dua pahala, namun jika ia berijtihad lalu salah, maka ia mendapat satu pahala” (HR Imam Bukhori).

    Gambaran ini memiliki nilai edukatif yang sangat berharga. Sekiranya tindakan pemberian sanksi hukuman itu harus dilakukan, maka sanksi hukuman itu harus menjadi pilihan terakhir. Sanksi hukuman harus dimanaj dengan baik dan mampu memotivasi (encourage) untuk maju.

    Hukuman yang edukatif tidak bersifat mematikan, melainkan menghidupkan. Hukuman yang memberikan spirit hidup itu hukuman dengan hadiah. Hukuman dengan hadiah cenderung memandang potensi dan bersikap optimis yang dilandasi kasih sayang. Memberikan apresiasi dan rekognisi selama dalam proses pembelajaran dan pendidikan. Memberdayakan anak, sehingga proaktif dalam pengembangan diri. Mengabaikan aspek negatif, sehingga tidak menghambat proses pembelajaran. Dengan perubahan mindset ini diharapkan bahwa setiap anak mampu mengaktualisasikan potensinya secara optimal. Jika hukuman itu bisa menghidupkan, mengapa kita sering menjadikan hukuman untuk mematikan? Semoga kita menjadi orang dewasa yang lebih wise dalam setiap langkah hidup kita, terutama dalam mendidik anak-anak kita. Bisa melakukan scaffolding bagi anak-anak untuk mencapai perkembangan optimal. Aamiin.


    Yogyakarta, 9 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website