Headlines News :
Home » , » Bahasa Bima Hampir Punah (Part 2)

Bahasa Bima Hampir Punah (Part 2)

Written By Pewarta News on Minggu, 17 Maret 2019 | 02.30

Dedi Purwanto.
PEWARTAnews.com -- "Rahasia para petuahmu tersusun dari kata-kata dan kalimat, sehingga itu menjadi kunci untuk berkomunikasi dengan segala energi dan partikel yang ada disemesta ini" se sakral itulah posisi kata dan kalimat dalam kehidupanmu.

Bahasa telah menemani manusia sejak pertama kali melihat dunia, sampai kelak berjumpa dengan Tuhan-Nya. Kita bisa membayangkan kalau ada peradaban tanpa bahasa, setiap interaksi manusia terjadi tanpa ada media komunikasinya. Kita bisa bayangkan kalau Tuhan tidak menggunakan Bahasa ketika menurunkan firmannya. Apa yang terjadi? Terlepas dari itu, Bahasa juga telah menjaga manusia supaya segala sesuatu diposisikan pada tempatnya masing-masing. Ketika semua sudah diposisikan demikian, maka akan terwujud kehidupan yang seimbang serta harmonis. Memposisikan pada tempatnya tidak hanya secara formal tapi juga secara subtantif. Mari kita lihat contohnya, kata 'mada' dalam bahasa Indonesianya (aku, saya, kami) mewakili suatu keadaan, mewakili sistem komunikasi tertentu, dan bisa digunakan pada beberapa aktifitas (formal) . Tetapi,  kata tersebut juga bisa digunakan untuk pembicaraan yang berkiblat pada nilai (subtantif). Kata 'mada' digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua (standar formalnya), tapi kata 'mada' juga bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang belum kita ketahui umurnya, orang yang baru kita jumpai, orang yang sebaya umurnya dengan kita maupun dibawa kita (subtantif). Kenapa bisa begitu, karena kata tersebut mewakili suatu bentuk penghargaan terhadap lawan bicara, bukan hanya mewakili umur (formal).

Kalau kata 'mada' sebagai bentuk dari menghargai, berarti dia punya fungsi general. Sebab tidak hanya orang tua yang harus kita hargai tapi juga semua manusia perlu kita hargai dan sayangi lewat sistem kata dan kalimat. Namun muncul pertanyaan lanjutan,  tidak harus dengan menggunakan kata 'mada' sebagai bentuk menghargai seseorang dibawah umur kita?  Iya memang betul, karena terlepas dari posisi kata, sesungguhnya redaksi kalimat sangat mempengaruhi penilaian seseorang. Contoh : "nahu dou Mbojo ta' (saya orang Bima)", dan "nahu dou mbojo (saya orang Bima)". Kalau dilihat dari dua kalimat tersebut bermakna sama, dua kalimat itu sama-sama digunakan kepada lawan bicara yang lebih muda dari kita, sebaya dari kita, maupun kepada orang yang belum kita kenal (analisis umur), tetapi tingkat kesopanan kalimat itu berbeda. Kalimat pertama lebih sopan dari kalimat kedua, karena ada tambahan 'ta' nya. Dari sini bisa kita lihat bahwa susunan kalimat yang kita gunakan bisa dinilai sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang, tidak hanya dilihat dari menposisikan katanya. Kita simpan point itu. Baiklah, mari kita kembali kepada makna kata 'mada' tersebut,  jika kata 'mada' sebagai kata ganti aku (bahasa Indonesia) dalam bentuk yang halus bermaksud untuk menghargai, maka kata tersebut bisa keluar dari makna dasarnya yaitu kata 'mada' digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih 'tua' saja. Kenapa bisa keluar? Sebab semua manusia butuh dihargai, meskipun bentuk penghargaan itu bukan hanya terletak di kata dan kalimat yang kita gunakan. Tetapi alangkah lebih indahnya kalau penghargaan itu di mulai dari kata, kalimat dan berujung pada tindakan.

Persoalan berlanjut, tapi semua sudah ada kata yang mewakili setiap fase komunikasinya? Iya memang betul. Semisal, kata 'nahu', kata tersebut digunakan untuk lawan komunikasi yang sebaya dengan kita maupun dibawah kita. Begitu juga dengan kata-kata yang lain, semua sudah tersedia dan digunakan untuk setiap keadaan yang berbeda-beda. Namun, bukan tidak mungkin kata 'mada' bisa difungsikan untuk semua lawan bicara, kalau kita mengacu pada subtansi bukan hanya formalnya.  Semisal 'mada dou Mbojo ta'.  Kalimat itu bisa digunakan untuk semua manusia, tidak hanya kepada orang yang lebih tua dari kita.

Gugatan tentang posisi kata 'mada' selain  berawal dari kebiasaan, juga datang dari lawan bicara kita. Terkadang lawan bicara kita merasa tidak pantas merima kalimat tersebut untuk di ucapkan, kalau lawan bicara umurnya dibawah dari orang melemparkan kalimat itu. Namun orang Bima telah menyiapkan kata yang lain sebagai pengganti kata 'mada'. Khususnya digunakan kepada lawan bicara yang umurnya dibawah dari kita. Kalaupun kata 'mada' susah kita terima maka kita harus mencari alternatif lain untuk menjawab ini. Oleh Karena itu, muncullah kata 'ndaiku' sebagai suatu representasi untuk menghargai lawan bicara yang seumur dengan kita,  dibawah kita atau orang yang belum kita ketahui umurnya (berdasarkan pertimbangan analisis). Contoh : 'ndaiku dou Mbojo ta', kata itu digunakan untuk lawan bicara yang sebaya dengan kita, yang belum kita kenal (pertimbangan analisis) dan dibawah dari umur kita. Bukan Berarti kata 'mada' tidak bisa kita gunakan untuk lawan bicara dibawah umur kita tetapi kebiasaan dan cara kita melihat sesuatu yang perlu di benahi bersama, supaya tidak berdampak menjadi kebiasaan yang dibenarkan dalam sirklus kehidupan sosial. Karena titik tekannya terletak pada cara untuk menghargai orang lain.

Apa yang bisa kita ambil? Sesungguhnya bahasa telah mendisiplinkan kita semua dari kemungkinan ketidakteraturan komunikasi yang terjadi, supaya tidak berakibat pada gagal paham, kurang paham, tidah paham dan salah paham. Mengenai sejarah. Sejarah memang membutuhkan fakta supaya bisa dianggap sebagai sejarah. Tetapi kita tidak hanya mengumpulkan fakta, namun juga bertugas menelusuri setiap makna dibalik peristiwa sejarah. Dan bahasa merupakan salah satu peristiwa sejarah, fakta sejarah, serta makna sejarah.

Kalau bahasa mulai di perkosa dengan upaya (sengaja maupun tidak sengaja) untuk menggantikan posisinya berarti kita sedang mengubur salah satu peristiwa sejarah, fakta sejarah, dan makna sejarah kita. Oleh Karena itulah kenapa kita menjaga bahasa daerah kita sebagai salah satu aset kebudayaan orang Bima itu sendiri. Satu kata saja bisa membuat ribuan pengetahuan baru, apalagi seluruh kata yang tersaji dikehidupan orang Bima.

Penulis tidak yakin kita benar-benar bisa membedakan kata 'mada, nahu, nggomi,  ndaiku, ndaita, ita, ita ta' secara formal maupun subtantif. Jangankan berbicara peradaban, menelusuri setiap jengkal kata yang tersedia di kehidupan orang Bima tidak cukup umur kita untuk mengkajinya. Kata dan kalimat adalah makrifat mu menemukan Tuhan.

Bersambung.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Wakil Ketua Ikatan Keluarga Alumni Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website