Headlines News :
Home » , » Bahasa Bima Hampir Punah (Part 3) -- Memaknai Kata "Ta"

Bahasa Bima Hampir Punah (Part 3) -- Memaknai Kata "Ta"

Written By Pewarta News on Selasa, 19 Maret 2019 | 18.30

Dedi Purwanto.
PEWARTAnews.com -- Marilah sejenak kita belajar pada imperium Yahudi dengan gerakannya, meskipun zionis bukan berarti yahudi. Tapi ada hal menarik yang kita temukan dibalik kekuatan yahudi saat ini. Kenapa agama tersebut begitu besar secara kualitas bukan kuantitas? Salah satu jawaban yang tidak bisa dibantah adalah bahasa. Mereka mempelajari kembali bahasa nenek moyang mereka yang hampir mulai punah, setelah dipelajari lalu dijadikan bahasa pemersatu dan persatuan oleh kekuasaan sampai sekarang. Baiklah, kita tinggalkan yahudi dan kekuatannya, mari kembali ke bahasa Bima dan eksistensinya. (kalau mau mencari referensi yang kompeten tentang yahudi dan kekuatan bahasanya, silahkan cari di internet dan litratur yang ada).

'Mada dou Mbojo ta' (saya orang Bima), setiap kata atau kalimat dalam bahasa Bima yang di akhiri dengan kata 'ta' selalu berimplikasi pada proses dan hasil komunikasi etik, romantis dan indah. Percaya atau tidak. Meskipun kalimat 'Nggomi ke sama labo sahe ta (kamu kayak kerbau)' terlihat negatif, tetapi ketika dibelakang kata 'sahe (kerbau)' itu ditambah kata 'ta' maka dia tetap bermakna agak halus daripada tidak ditambah kata 'ta'. Dan kalau dimasukkan kata 'ta' kemungkinan besar lawan bicara kita tidak akan marah, kalapun dia marah, kemarahan tersebut tidak seperti ketika kalimat itu dilontarkan tampa kata 'ta'. Tergantung orang yang menerima kalimat itu bukan tergantung pada frase kalimatnya. Konteksnya berbeda. Karena kita tidak sedang membicarakan psikologi manusia, tapi kita lagi membicarakan psikologi bahasa.

Kata 'ta' itu apa?

Kata 'ta' dalam litelatur bahasa Bima merupakan kata bantu untuk mempertegas dan memperjelas sesuatu. Selain itu, kata 'ta' juga sebagai identitas etik dari suatu kalimat. Secara fungsi kata 'ta' sama seperti kata 'nya' dalam bahasa Indonesia. Tapi kata 'ta dan kata 'nya' jelas berbeda secara konteks dan filosofi. Kalau kata 'nya' dalam bahasa Indonesia lebih mempertegas sesuatu yang ingin disampaikan oleh kalimat, tetapi kata 'ta' dalam bahasa Bima tidak hanya mempertegas suatu kalimat, namun juga lebih kepada nilai dan etika kalimat.

Dari mana kata 'ta' itu?

Secara teks, kita kewalahan untuk menemukan kata 'ta' itu dari mana asal sejarahnya, bagaimana proses terbentuknya dan untuk apa kata itu di munculkan. Tapi yang jelas, bahasa merupakan salah satu hasil dari akulturasi kebudayaan yang ada. Kata 'ta' tidak hanya kita temukan diwilayah Bima, tetapi juga kita temukan di sulawesi, jawa dan sumatra. Bahkan hampir semua daerah selalu mempunyai kata bantu 'ta' dalam kehidupan bahasa nya. Selain itu, dalam pembahasan kali ini, kita tidak terfokus pada teks sejarah, akan tetapi mencoba untuk fokus pada makna sejarah, dalam hal ini makna kata 'ta'. Namun makna tidak bisa hidup tampa teks? Memang iya, karena sekarang teks nya sudah ada yaitu bahasa itu sendiri.

Kata 'ta' dan cinta

Mungkin kita akan bertanya tentang bagaimana keterkaitan kata 'ta' dengan kata cinta, kenapa dia disadingkan, dan kenapa dicocok-cocokan. Kita harus mulai merenungi bersama bahwa dunia materi dalam hal ini bahasa merupakan suatu dimensi yang terpola antara satu dengan yang lain dalam membentuk sesuatu. Sejak awal mereka sudah terkoneksi dengan materi-materi yang lain. Semisal Ketika manusia tidak punya belas kasihan kepada makhluk Tuhan yang lain, maka makhluk itu juga tidak punya belas kelasihan kepada manusia, seperti gempa, tsunami dan lain sebagainya. Semua itu karena sistem kerja dari polarisasi tersebut. Sebenarnya tugas keilmuan kita tidak hanya menemukan pola, tetapi berusaha menyadari bahwa mereka juga berdialetik seperti manusia. Meskipun dalam pencarian atas pola itu membutuhkan energi, kesiapan dan waktu. Bukan berarti kita hanya tertujuh untuk menemukan pola, namun pekerjaan akademik kita harus berorientasi pada terbentuknya keteraturan dan keseimbangan dalam kehidupan bukan malah sebaliknya. Begitu juga dengan kata 'ta' dan kaitannya dengan cinta. Penerjemahan ini berorientasi pada keteraturan dan keseimbangan.

Menurut kami kata 'ta' diambil dari kata cinta, kata cinta itu kita ambil dua huruf dibelakang nya yaitu 'ta' (Cin-ta). Kenapa bisa begitu? Bisa-bisa saja kalau kita menyadari polarisasi tadi. Selain pola, orientasi penerjemahan terfokus pada keteraturan dan keseimbangan, maka dari itulah penulis mempolarisasinya sampai ke cinta. Tidak ada yang benar-benar serius dan tidak ada yang benar- benar kosong. Tetapi terlepas dari itu, sesungguhnya suatu kata dan kalimat yang di akhiri kata 'ta' berarti didalamnya bermanisfestasi sistem etik dan estetik. Sedangkan satu-satunya nilai yang menawarkan sistem itu hanyalah Cinta. Kita bisa bayangkan ketika kalimat 'Mada dou Mbojo ta (saya orang Bima)' dilontarkan oleh seseorang kepada kita. Pasti getaran energi posistif dibalik penyampaian itu kita rasakan. Tentu sesuatu yang dapat mengantarkan energi positif hanya sesuatu yang positif. Dan puncak dari segala sesuatu yang positif adalah cinta. Jangan percaya, kita hanya perlu untuk ragu!

Coba kita mulai berfikir secara serius, bahwa setiap kata dan kalimat yang di akhiri dengan kata 'ta' itu kemungkinan besar membuat lawan bicara mu merasa sejuk dan nyaman dengan mu. Dalam kajian bahasa tentu ini merupakan hasil dari proses pemilihan kata yang baik dan benar. Kenapa orang lain merasa nyaman dan tenang, berarti karena pemilihan kata dan proses penyampaikan kalimat mu. Dan dalam hal ini kata 'ta' menjadi simbol suatu kalimat yang akan mengantarkan penyampaian supaya diolah secara sehat oleh lawan bicara mu. Kalau sudah di olah secara sehat oleh lawan bicaramu maka dia akan merasa nyaman dan tenang denganmu.

Kata 'ta' dan huruf 'Tha' dalam Hijaiyah

Mari kita mengembara ke huruf hijaiyah, huruf 'Tha' dalam hijaiyah terletak di posisi nomor tiga dari huruf Alif, dan Ba'. Secara epistimologi tasawuf, huruf alif merupakan representasi Tuhan (Allah), huruf Ba' representasi Nur Muhammad yang berasal dari Allah, itu ditandai dengan adanya satu titik di bawah huruf Ba', sedangkan huruf 'Tha' itu di reprentasi nabi Adam dan Hawa yang di ciptakan, itu ditandai dengan adanya dua titik di atas huruf Tha. Berarti huruf Tha terbentuk karena Cinta Allah dan Nur muhammad. Dan keterkaitan kata 'ta' dengan huruf 'Tha' merupakan suatu proses cinta antara sesama manusia yang menyadari bahwa diri mereka dari rahim yang satu yaitu adam dan hawa. Ketika kita mengacu pada makna ini, berarti setiap mereka yang menggunakan kata 'ta' dalam semua komunikasinya menyadari dirinya sebagai reprentasi cinta Allah dan Nur Muhammad lewat Adam dan hawa, lalu berupaya menebarkan cinta kasih itu lewat kata dan kalimat. Masa seperti itu? Berbicaralah atas nama cinta, maksudnya, apa yang kita sampaikan ke orang lain harus mulai dari cinta (hati), memilih diksi yang mewakili cinta dalam hal ini 'ta' serta tindakan yang bernilai cinta.

Kenapa kalimat 'nahu ne,e nggomi' tidak pas untuk di masukkan kata 'ta' nya.? Karena pernyataan 'ne.e' (cinta) tidak boleh diwakili oleh kata 'ta'. Ne'e hanya bisa di wakili oleh kata 'ne'e'. Tapi apabila seseorang butuh penegasan berulang kata 'ta' bisa digunakan. Selain itu, konteks umur dan keadaan seperti pembahasan sebelumnya sangat mempengaruhi kalimat 'nahu ne.e nggomi' tidak dimasukkan kata 'ta'. Kecuali kita mengungkapkan perasaan itu ke orang yang lebih tua dari kita, baru kata 'ta' itu berlaku.  Tulisan ini mewakili dirinya sendiri, dia tidak mewakili apapun. Dan sebagai penutup, Tulisan ini sesunggunnya tidak baku, tetapi mungkin bisa menjadi pijakan awal kita untuk menemukan samudra makna dari suatu kata dan kalimat. Jangan percaya, kita hanya butuh untuk ragu.!

Wallahualam bishawab.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Wakil Ketua Ikatan Keluarga Alumni Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website