Headlines News :
Home » » De Winst dan Kisah Perjodohan Rangga dan Sekar

De Winst dan Kisah Perjodohan Rangga dan Sekar

Written By Pewarta News on Selasa, 19 Maret 2019 | 23.44

Novel De Winst.
PEWARTAnews.com -- Vakuola memorinya. Agar ia terbebas dari getar-getar yang indah, namun berpotensi menghancurkan seluruh hidupnya. Menebas cita-cita yang telah lama ia pahatkan dalam pohon jiwanya.

Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara, merupakan seorang pemuda dari keturunan bangsawan. Ia merupakan pemuda yang kini telah menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan gelar sarjana ekonomi dengan pujian tertinggi dari profesornya di Rijksuniversiteit Leiden, hasil yang sangat gemilang, bukan saja karena ia mendapatkan nilai tertinggi, namun juga karena ia seorang Bumiputera, Inlander. Bagi Profesor Johan Van De Vondel, Rangga lebih dari seorang Nederland.

Rangga merasa tersanjung ketika Profesor Johan Van De Vondel yaitu guru besar yang terkenal bengis kepada mahasiswanya,  mengunjungi rumah sewaannya, yaitu sebuah rumah tua yang disewa bersama dengan kedua temannya yang berasal dari Bandung dan Makassar. Saat berkunjung Profesor Johan Van De Vondel mengatakan “Anda kebanggan Universiteit ini. Saya berharap, Anda tak hanya dimiliki oleh Indische, tetapi juga dunia. Suatu saat, saya yakin, bila Anda akan mengembangkan ilmu Anda, Anda akan menjadi seorang pemikir kelas dunia, seperti Adam Smith, David Ricardo, atau yang lainnya.

Ucapan Profesornya masih terbayang-bayang dalam pikiran Rangga. Saat Rangga tengah menempuh perjalanan pulang menuju Indonesia, yaitu dengan mengendarain kapal api, ia mendapatkan satu nama lagi yang masuk dalam bursa pencapain yang diharapkan melekat padanya. “Mengapa kau tidak berpikiran tentang Karl Marx?”. Suara yang mengejutkan Rangga yang terlontar dari bibir seorang gadis berambut jagung itu. Bukan peluncurannya adalah seorang wanita, namun juga karena ia adalah seorang Nederlander yang berasal dari kalangan yang dekat dengan kekuasaan. Tidak lazim seorang bangsawan istana oranje menyebut-nyebut nama penulis buku Das Kapital itu.

Gadis berambut jagung itu bernama Everdine Kareen Spinoza, gadis yang ia temui dikapal, dan menjadi teman safar yang menyenangkan. Bagi Rangga Kareen merupakan gadis yang teramat istimewa. Rambutnya yang pirang seperti rambut jagung, dan matanya yang tampak begitu bening, seperti permata biru yang bersinar cemerlang.  Pelapis tubuhnya laksana pualam putih yang halus dan terseliput cahaya kemerahan. Yang membuatnya begitu terlihat mempesona adalah keramahannya. Pada saat itu Rangga menyukai Kareen. Bahkan saat perpisahan mereka di kapal mereka saling memberikan kenangan satu sama lain. Rangga mendapatkan Horloge sebagai kenanagan dari Kareen dan Kareen mendapatkan Cundrik yaitu keris berukuran kecil. Sebenarnya itu bukan hadiah yang seharusnya diberikan seorang pemuda kepada wanita. Tetapi Rangga tidak punya pilihan lain.

Bagaimana keberlanjutan kisah mereka? Apakah akan berakhir bahagia? Atau malah sebaliknya kisah mereka akan dibanjiri air mata?

Setelah sampai di Solo, Rangga senang akhirnya ia bisa melepaskan kerinduannya dengan keluarga. Terkhusus kepada ibundanya. Ibunya sangat menyayangi Rangga dengan sepenuh jiwa begitupun Ayahandanya. Tetapi, rasa bangga itu tak ditunjukkan oleh sang Ayah karena suatu alasan yaitu tradisi. Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryanegara, merupakan Ayah dari Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara. Ayah Rangga merupakan orang dari kalangan bangsawan yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakatnya. Karena kedisiplinan dan kepatuhannya akan tradisi dan adat yang ada. Terlepas dari itu, bagi Rangga Ayahnya merupakan orang yang sangat baik. Tetapi sifat egois Ayahnya, yang sering kali membuat pemikiran Rangga sering kali bertolak belakang dengannya.

Di sini Rangga di suruh Ayahnya untuk bekerja di pabrik gula “De Winst”. Dimana yang berkuasa adalah orang-orang berkulit putih.  Meskipun Rangga adalah Inlander tetap saja ia termasuk dalam orang-orang dengan golongan ke dua. Di pabrik “De Winst” Rangga menjabat sebagai seorang asisten admistratur untuk bagian pemasaran. Tuan Edwar Biljmer adalah pimpinan pabrik gula “De Winst”. Dia sangat baik dan ramah dibandingkan dengan pegawai pabrik “De Winst” yang lain.

Pagi tadi saat menemui tuan Edwar Biljmer, dijalan pulang Rangga berpapasan dengan seorang pemuda yang juga tanpan, bahkan lebih tanpan darinya. Ternyata pemuda itu bernama Kresna. Seorang pemuda yang datang dan pergi sesuka hatinya. Tetapi, memiliki pemikiran yang sangat cerdas.

Setelah resmi bekerja di pabrik gula “De Winst” Ayah Rangga kembali membahas masalah  perjodohan antara Rangga dan Sekar. Meskipun Rangga menolak hal ini tetapi Rangga tidak bisa menunjukkan perlawanannya kepada sang Ayah. Berbeda dengan Sekar, ia malah terang-terangan menunjukkan ketidaksetujuannya dengan perjodohannya dengan Rangga. Dulu, saat mereka dijodohkan, mereka masih sangat kecil sehingga mereka belum mengerti dengan yang namanya perjodohan.  Disisi lain mereka berdua telah memiliki tambatan hati mereka masing-masing. Rangga mencintai Kareen, dan Sekar mencintai seorang pemuda bernama Jatmiko. Kareen merupakan saudara sepupu Rangga sendiri. Tetapi karena perjodohan itu, hubungan mereka berdua menjadi tidak begitu akur.

Sekar adalah gadis cantik yang meiliki idealism yang sangat tinggi. Meskipun ia seringkali dikurung oleh Ayahnya karena ia tak mau sungkem. Menurut Sekar ia tidak mau melakukan suatu hal yang menurutnya tidak benar. Bahkan ia juga dikurung karena sikapnya yang tidak menghargai Rangga saat Rangga tengah berkunjung kerumahnya untuk membicarakan masalah perjodohannya dengan Rangga. Ia harus belajar membuat batik dengan sangat indah saat di pengasingan. Tetapi ia menolaknya.

De Winst yang tengah mengalami krisis akibat persaingan global, harus merasa kehilangan tuan Edwar Biljmer yang harus pindah ke Negara asal karena ia harus mendapatkan kesempatan untuk meneruskan kuliahnya. Pabrik gula “De Winst” akhirnya mendapatkan pimpinan baru yaitu pengganti tuan Edward Biljmer. Kabarnya ia juga seorang pemuda dari bangsa kulit putih. Maneer Thjis akan menggantikan saya sebagai kepala pabrik gula “De Winst” kata tuan Edward. Rangga kaget mendengar hal itu ia khawatir pemuda yang akan menggantikan tuan Edward adalah pemuda yang sama yang pernah ia temui di pesta dansa dulu. Ternyata kekhawatirannya benar. Saat mengetahui hal itu, Rangga sontak ingin berhenti bekerja di pabrik gula “De Winst”. Terlebih lagi setelah ia tahu bahwa Maneer Thijs adalah suami dari Everdine Kareen Spinoza yaitu perempuan yang telah membuat hatinya bergejolak.

Sebelum ia akhirnya berhenti bekerja di “De Winst” ia bertemu seorang perempuan bernama Pratiwi, seorang gadis yang dengan gagah berani mewakilkan dirinya sebagai utusan rakyat. Ia pernah berhadapan dengannya saat pratiwi tengah bernegosiasi terkait permintaan rakyat yang mengharapkan kenaikan sewa tanah kepada pabrik “De Winst”. Rangga kagum melihat keberanian gadis itu. Tetapi maneer Thijs hanya membalas permintaan gadis itu dengan nada marah, dan malah mengancamya. Tetapi saat itu Rangga membela gadis itu karena ia menilai bahwa apa yang di tawarkan gadis itu sangat masuk akal dan wajar.

Dari novel De Winst kita mengambil sebuah pelajaran bahwa memaksakan kehendak orang tua kepada anaknya juga bukanlah hal yang baik. Anak perempuan seharusnya di didik dengan cara yang lebih baik, memperlakukannya dengan cara yang keras malah akan membuat mereka tertekan. Selain dari hal diatas dari novel ini kita juga dapat melihat bahwa seorang perempuan juga bisa selayaknya laki-laki. Kepribadian Sekar yang tegas, berkomitmen, dan cerdas mampu menujukkan hal itu. Novel De Winst juga mengajarkan kepada kita bahwa menjadi seorang manusia haruslah bijaksana dan selalu menghargai orang lain serta memperdulikan sesama, seperi karakter Rangga. Meskipun ia anak dari keturunan bangsawan ia tetap rendah hati dan tidak angkuh.


Identitas Buku:
Judul : De Winst
Penulis : Afifah Afra
Penyunting : Khalatu Zahya
Desainer Cover : Andhi Rasydan
Ilustrasi : UDInur-Andhi-NasSPur
Penerbit : Afra Publishing
Kleompok Penerbit Indiva : Media Kreasi
Peresensi : Nurjadidah




Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website