Headlines News :
Home » , , » Mengingat Siapapun yang Telah Tiada

Mengingat Siapapun yang Telah Tiada

Written By Pewarta News on Sabtu, 09 Maret 2019 | 07.40

PEWARTAnews.com -- Dua hari setelah dari pesarean (makam) beliau, bermimpi asbah (cium tangan) beliau sembari aku mengatakan “bu Nyai, Kulo masih nyimpen foto panjenengan ini di HP”, lalu beliau membalas dengan senyuman khasnya. Disini aku semakin yakin bahwa orang yang telah tiada mengetahui siapapun yang mendatangi makamnya bahkan menyaksikan langsung gerak gerik dan tingkah laku manusia di dunia, hanya saja mata manusia terbatas dan hitamnya debu yang menutupi, sehingga tak sadar dengan kehadirannya (Mukaromah, 2019).

Sudah lama aku menaruh rasa cemburu dengan ibu ku yang bisa berinteraksi dengan leluhur yang telah tiada meski hanya melalui mimpi. Ibuku selalu menceritakan kepadaku bagaimana keadaan orang yang telah tiada yang semasa hidupnya tidak memanfaatkan hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Begitu halnya dengan keadaan orang yang taat dan beribadah kepada-Nya, termasuk orang yang telah tiada namun meninggalkan keturunan yang shalih/shalihah yang senantiasa mendoakannya.

Diantara gambaran orang yang tidak beribadah kepada Allah, dan juga tidak mendidik anak keturunannya dengan baik orang tersebut mencari sampah (dalam bahasa jawa Njaring) ditengah arus sungai yang sangat deras sembari memelas belas kasihan. Ada pula yang secara terang-terangan meminta nasi hingga datang ke rumah. Analognya, orang tersebut meminta “kiriman” doa. Sedangkan orang yang selalu didoakan anak keturunannya wajahnya berseri-seri sembari membawa buah-buahan yang amat segar untuk dibagi-bagikan kepada kawan-kawannya. Tak hanya itu, ibuku juga menceritakan mimpinya tentang seorang kiyai yang amat ‘alim dan masyhur di desaku. Tempat pemakaman (kijing) nya tersebut ada cungkup yang gemebyar dan menerangi makam, sembari beliau menyilakan kaki dengan berbalut pakaian yang serba putih.

Bahkan kesetiaan dan cinta kasih yang ibuku curahkan kepada bapakku pun masih terus mengalir hingga detik ini. Meski raga mereka berpisah, namun ternyata romantisme masih melekat kuat dalam diri dua insan tersebut. Ibuku selalu bilang “Nok, ngajiku selalu loh tak khususkan ke bapak”. Eh ternyata ibuku bermimpi kalau bapakku badan-nya gemuk dan segar.

Hal-hal semacam itu jika dilogika memang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang yang telah meninggal dunia bisa seperti itu? Dasar, Ga rasional. Gila. Boleh bilang seperti itu, karena pada dasarnya akal tidak bisa menjangkau alam metafisika.

Sebagaimana filusuf Prancis Henry Bergson yang dikutip oleh (Quraish Shihab dalam buku Islam yang saya Anut, 2018) menyatakan bahwa akal merupakan kelanjutan logis dari panca indra manusia, sehingga akal hanya bisa menjangkau alam fisika bukan metafisika. Namun dalam diri manusia terdapat intiusi yang dapat mengantarkannya berpindah dari alam materi ke alam non materi yang dapat hadir seperti “kilauan” (boleh ditafsirkan bebas) yang datang tanpa dipanggil karena memang tidak bisa dipanggil dan tidak juga dapat ditampik bila datang. Argumen itulah yang selalu ku jadikan dasar untuk “meng-iya-kan” cerita-cerita ibuku yang mungkin bagi manusia modern tidak rasional.

Karena kecemburuan yang telah membuncah tersebut, aku sowan ke pesarean bu Nyai sembari mengatakan “Buk, kenapa panjenengan tidak pernah hadir dalam mimpi Kulo, padahal Kulo sakestu (benar-benar) Kangen panjenengan”. Sembari saya membayangkan 3 tahun yang lalu (2016) kehilangan dua orang yang amat ku cintai dan hormati. Awal tahun 2016 (Januari) Bu Nyai meninggal dunia. Dan pada akhir 2016 (Desember) bapak tiada.

Lalu dua hari setelah dari pesarean bu Nyai, aku bermimpi asbah dengan beliau sembari menunjukkan foto ini. Atas dasar itulah, aku “semakin” yakin bahwa orang yang telah tiada mengetahui siapa saja yang mendatangi makamnya bahkan melihat gerak gerik serta tingkah laku manusia di dunia, hanya saja mata manusia terbatas dan krang bersihnya hati sehingga tak sadar dengan kehadiran mereka.

Jika manusia memahaminya dengan baik, tentu segala ucapan dan tindakannya pun juga akan berhati-hati. Karena tidak hanya dilihat oleh malaikat Raqib dan Atid, namun juga segenap makhluk-makhluk-Nya yang tersebar dimuka bumi, baik jin dan iblis ataupun leluhur/manusia yang telah tiada. Maka tak heran, apabila ada orang yang beranggapan bahwa orang shalihah yang telah tiada diberi keistimewaan tersendiri oleh Allah untuk menjaga, mengawal dan mengikuti kemanapun langkah kaki santri, anak atau bahkan cucu yang baik (shalih-shalihah) dan amat disayanginya. Dengan begitu, masihkan diri kita pelit dan tega untuk tidak mengirimkan Fatihah/Yasin/satu saja ayat dari Qur’an untuk leluhur dan guru-guru kita? Andaikata mengatakan doa yang dilantunkan tidak sampai kepada mereka, itu karena kita belum pernah merasakan mati.


Yogyakarta, 19 Februari 2019
Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website