Headlines News :
Home » , » Menjaga dan Menjauhi Empat Perkara

Menjaga dan Menjauhi Empat Perkara

Written By Pewarta News on Minggu, 17 Maret 2019 | 09.00

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Pada umumnya orangtua sudah menguasai materi dan cara mendidik anak, karena mereka diassumsikan sudah mampu. Namun pada kenyataanya cukup banyak orangtua yang belum siap materi dan cara mendidik anak. Baik yang sudah mampu maupun yang belum mampu, rasanya tidak berlebihan jika kita ambil pelajaran dari Sayyidina Ali ra dalam mendidik anak. Ini diharapkan sekali bahwa orangtua dapat menunjukkan tanggung jawabnya dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya dengan lebih baik, sehingga menjadi anak sholeh dan sholehah kebanggaan orangtua.

Ada wasiat Sayyidina Ali ra yang penting kepada anak-anaknya. Wasiat pertama terkait dengan persoalan yang harus dijaga. Beliau menyampaikan wasiatnya sebagai berikut:

أَغْـنىَ الغِنىَ العَقْلُ وَأَكْبَرُ الفَقْـرِ الحُمْقُ وَأَوْحَشُ الوَحْشَةِ العُجْبُ وَأَكْبَـرُ الحَسَبِ حُسْنُ الخُلُـقِ

Sebaik-baik kekayaan adalah akal, separah-parah kemiskinan adalah kebodohan, sehina-hina sifat adalah kebanggaan pada diri sendiri, dan sebaik-baik kemuliaan adalah akhlak mulia.

Empat perkara yang harus dijaga merupakan persoalan yang penting dalam kehidupan manusia. Pertama, Anak harus menjadi kaya ilmu untuk naik derajatnya sama tingginya dengan orang beriman. Kedua, Anak juga harus dijauhkan dari kebodohan ilmu, iman dan akhlak, karena anak jangan sampai terperosok sebagai hamba-Nya yang paling miskin. Dengan tak berilmu karena kebodohan, maka tidak bisa terjaga kemuliannya dalam meraih rejeki dan hina di tengah masyarakat.

Ketiga, Untuk tidak menjadi paling hina di mata Allah swt dan ummat, kita jangan sombong dan ujub akan keagungan yang dimiliki, karena semuanya itu anugerah Allah swt. Terakhir, kita harus menghiasi hidup dengan akhlaq yang baik, karena sesungguhnya yang terbaik  di antara ummat Muhammad adalah yang paling baik akhkaqnya.

Selanjutnya Sayyidina Ali ra mewasiatkan sesuatu yang terkait dengan apa yang harus dijauhi.

يَابُنَيَّ,
إِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ الأَحْمَقِ فَإِنَّهُ يُرِيْـدُ أَنْ يَنْفَعَكَ فَيَضُرُّكَ
إِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ البَخِيْلِ فَإِنَّهُ يُبْعِدُ عَنْكَ أَحْوَجَ مَـاتَكُوْنُ إِلَيْهِ
وَإِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ الفَـاجِرِ فَإِنَّهُ يَبِيْعُكَ بَِالتَّـافِهِ
وَإِيَّـاكَ وَمُصَادَقَةَ الكَذَّابِ فَإِنَّهُ كاَلسَّرَّابِ يُقْرِبُ عَلَيْكَ البَعِيْدَ وَيُبْعِدُ عَلَيْكَ القَـرِيْبَ

Wahai anakku, jauhilah orang bodoh, karena ketika ia ingin memberikan manfaat kepadamu ia malah membahayakanmu.
Jauhilah orang kikir, karena ia akan menjauhkan darimu apa yang sangat kau butuhkan. Jauhilah pelaku maksiat, karena dia akan menjualmu dengan harga yang murah. Dan jauhilah pendusta, karena dia laksana fatamorgana, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Pertama, Kita harus berhati-hati terhadap tindakan orang bodoh, karena boleh jadi tindakannya berpotensi menipu. Kelihatannya tindakan yang memberi manfaat, malahan justru merugikan banyak orang. Kedua, pada dasarnya orang bakhil itu tidak banyak memberikan kentungan bagi orang lain, bahkan merugikan orang lain. Untuk itu jauhilah pergaulan dengan mereka. Memperhatikan posisi orang bakhil yang kurang positif, maka berhati-hatilah dalam menyikapi terhadap harta. Karena pada hakekatny sebagian dari harta yang dimiliki bukanlah menjadi haknya.

Ketiga, jagalah dirimu dengan sebaik-baiknya, dengan mendekati dan bergaul dengan orang baik. Jangan sekali-kali mencoba mendekati orang yang berbuat maksiat. Karena boleh jadi lama-lama akan ketularan berbuat maksiat. Ingat Almar-u khaliluhu, bahwa seseorang itu tergabtung temannya. Akhirnya, kita harus menjaga hati kita dari perbuatan munafik, khususnya perbuatan dusta. Perbuatan dusta merugikan orang lain, bahkan merugikan diri sendiri. Karena hakekatnya bertentangan dengan hati nurani.

Insan yang memiliki martabat lebih dari makhluk yang lain, akan tetap terjaga jika ikuti nasehat Sayyina Ali ra. Perilaku apa yang harus dijaga dan apa yang harus dijauhi. Kondisi ini membutuhkan kesadaran, keberanian, dan ikhtiar untuk mewujudkannya. Sepanjang kita terus faqarrub dengan Allah swt, dan tetap istiqamah menjauhi dari apa  yang tidak diinginkan-Nya, insya Allah kita dalam kebaikan.


Padang, 14 Maret 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website