Headlines News :
Home » , » Motif Manusia

Motif Manusia

Written By Pewarta News on Kamis, 21 Maret 2019 | 17.31

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com – Pada dasarnya setiap orang ingin berhasil dalam hidupnya. Pada faktanya ada yang berhasil, cukup berhasil dan kurang berhasil, bahkan ada yang tidak berhasil. Banyak pengalaman empirik dan teori yang dapat menjelaskan keberhasilan hidup seseorang, baik yang terkait dengan faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal juga bisa terdiri atas faktor intelektual dan non intelektual. Salah satu faktor non intelektual yang sering memberikan kontribusi untuk meraih keberhasilan adalah motif atau kebutuhan (need).

Secara historis, tokoh psikologi yang telah berhasil mengembangkan teori kebutuhan adalah Abraham Maslow. Selanjutnya teori kebutuhan dikembangkan oleh David McClelland (1961) melalui bukunya yang berjudul , “The Achieving Society”. Dia mengidentifikasi tiga motivator, yaitu motif berprestasi, motif affiliasi, dan motif kekuasaan. Setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda tergantung pada motivator dominan. Yang tergantung juga pada budaya dan pengalaman hidup.

Untuk lebih tahu secara detil, ketiga motif manusia dapat diungkapkan secara berturut-turut.
Motif Berprestasi dapat dicirikan dengan antara lain, (1) memiliki suatu kebutuhan yang kuat untuk menentukan tujuan dan mencapai tujuan-tujuan yang menantang, (2), menghadapi resiko untuk meraih tujuan, (3) suka menerima umpan balik secara berdasarkan kemajuan dan prestasi, dan (4) sering suka bekerja sendiri.

Motif Affiliasi dicirikan dengan antara lain, (1) ingin menjadi bagian dari kelompok, (2) ingin disukai, dan akan sering pergi bersama dengan berkelompok (3) menyukai kolaborasi untuk kompetisi, dan (4) tidak suka dengan resiko tinggi atau ketidakpastian.

Motif kekuasaan yang dicirikan dengan antara lain(1) ingin mengontrol dan mempengaruhi orang lain, (2) suka untuk memenangkan argumentasi, (3) menikmati kompetisi dan kemenangan, (4) menikmati status dan rekognisi.

Vinish Parikh (2018) berhasil menformulasikan keuntungan dan ketidakberuntungan Teori Motivasi Manusia Mcllaland. Keuntungannya di antaranya, (1) pegawai diberi tugas sesuai kebutuhannya, (2) tidak ada kesempatan untuk beralasan, (3) pegawai terpuaskan. Sedangkan ketidakbertuntungannya di antaranya, (1) mengabaikan kebutuhan dasar, (2) sekedar tiruan (hadir bukan karena keahlian), (3) sulit mendapatkan posisi sesuai dengan kebutuhan. Menyadari akan keuntungan dan ketidakberuntungan teori ini, maka siapapun yang mau menggunakan teori ini harus berhati-hati. Jangan sampai salah dan dirugikan.

Secara selintas bahwa ketiga kebutuhan ini berdiri sendiri-sendiri. Seseorang bisa saja memiliki motif berprestasi tinggi, tetapi tidak tinggi pada motif lainnya. Demikian juga seseorang bisa menunjukkan motif kekuasaan tinggi, tetapi tidak tinggi pada motif lainnya. Hal ini bisa terjadi pada setting kehidupan dalam lingkungan kerajaan atau setting tertentu. Karena posisi itu didapat dari pemberian.

Dalam konteks kehidupan demokrasi, ketiga motif itu seharusnya dilalui secara berurutan. Diawali dengan motif berprestasi. Setelah berhasil dilanjutkan dengan motif affiliasi, dan diakhiri dengan motif kekuasaan. Ketika kekuasaan sudah diraih dan perlu dijaga terus, maka seseorang wajib menjaga motif secara istiqamah. Jika tidak, maka sangat mungkin kekuasaan bisa berakhir di tengah jalan. Namun lepas dari itu tanpa dikaitkan dengan kekuasaan, setiap individu seyogianya memiliki motif berprestasi. Karena motif berprestasi sangat berarti bagi kehidupan setiap individu. Tanpa motif berprestasi, seseorang bekerja akan semaunya, sulit disiplin, dan tidak ada gairah. Ujung-ujungnya juga merugi sendiri karena kehadirannya tidak memberikan manfaat.

Akhirnya bahwa apapun motif manusia dalam hidup itu yang mendasari setiap perilakunya. Namun perlu difahami bahwa ketiga motif ini tidaklah bersifat melekat (inherent), melainkan dipelajari. Karena di antara tiga itu yang pasti dibutuhkan adalah motif berprestasi, maka sudah seharusnyalah keterampilan meningkatkan motif berprestasi menjadi penting. Ingat motif berprestasi akan lebih bermakna jika diwarnai dengan nilai-nilai religiusitas. Bahwa setiap amal itu tergantung pada niatnya. (Innamal a’malu binniyaah, walikullim ri-in maa nawaa).


Yogyakarta, 21 Maret 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website