Headlines News :
Home » , » Para Calon dan Prilaku Sufi

Para Calon dan Prilaku Sufi

Written By Pewarta News on Kamis, 21 Maret 2019 | 17.22

Dedi Purwanto.
PEWARTAnews.com -- Lalu Lintas kehidupan kita akhir-akhir ini sangat menyita seluruh sistem tubuh kita untuk bekerja lebih maksimal, metabolisme dan imunitas tubuh harus di isi setiap Saat, supaya virus dan segala macam peyakit sosial tidak mudah untuk menyerang. Mulai dari gejolak pemilihan presiden dan wakil persiden, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari daerah sampai pusat, dan segala sirkulasi problem kemanusiaan serta sosial yang merobohkan tembok kemanusiaan kita. Semua itu Sangat memotong laju kehidupan kita yang berkemajuan, baik di bidang ekonomi, politik, kesehatan, hukum, pembangunan, dan intelektualitas. Terlepas dari itu, ada hal tersembunyi yang kami temukan dibeberapa waktu terakhir, yaitu tentang para calon legislatif dan prilaku sufi.

Kalau kita lihat lebih jauh, sungguh kita akan menemukan suatu cara pandang dari beberapa orang yang mulai melupakan nilai kemanusiaan dari para calon. Kenapa demikian? Percaya atau tidak, apapun usaha para calon untuk menyapa masyarakat sekarang ini selalu kelihatan keliru, masyarakat selalu terfokus untuk mencari sisi keburukan daripada kebaikan yang dilakukan oleh para calon. Menyapa salah, tidak menyapa pun salah, kelihatan dimuka umum salah, tidak kelihatan di muka umumpun salah. Punya gagasan dan ide dianggap nggomong doang, tidak punya ide dan gagasan juga di anggap omong besar. Dilayani seadanya salah, tidak di layanipun salah dan seterusnya, serta masih banyak lagi berderetan apresiasi kita sebagai masyarakat kepada para calon.

Tentu sebagai masyarakat yang sudah dewasa dalam berpolitik, kita tidak boleh bersikap seperti itu, karena kebaikan harus tetap kita nilai sebagai sebuah kebaikan. Perkara niat nya keliru atau tidak itukan urusan dia dengan Tuhan nya, dan akan menjadi urusan kita Setelah mereka menjabat. Sebenarnya kita hanya menjalankan tugas untuk memaknainya dengan kebaikan apabila ada orang yang berbuat baik. Karena pada dasarnya orang hanya di tuntut untuk menjalankan tugas nya masing-masing, yaitu mengenai hak dan kewajiban yang harus kita jalankan. Alasannya kenapa? Karena ketimpangan yang terjadi dikarenakan tidak adanya rasa mengerti terhadap tugas kita masing-masing.

Tapi terlepas dari itu, ada hal menarik yang kami temukan dalam kondisi seperti ini, yaitu tentang para calon yang sedang melakukan perjalanan batin untuk meraih kesempurnaan hidup. Bagaimana mungkin! Ini yang kami temukan. Alasan pertama : Apapun yang ditafsirkan oleh Masyarakat, para calon tetap menilai itu sebagai sebuah kebaikan tampa kekesalan sama sekali, terlepas dari para calon ada keinginan atau tidak. Kedua : apapun yang para calon berikan kepada masyarakat tidak pernah dipikirkan untuk kembali dalam bentuk apapun, Karena bagaimanapun para calon sekarang lagi mendesain dirinya supaya kelihatan layak dimata masyarakat. Ketiga : para calon tetap berusaha menyapa meskipun dia tau masyarakat tidak menyukainya. Keempat : kepekaan membaca setiap ritme kejadian dalam sosial. Kelima : Berdoa dan minta didoakan oleh siapapun dan dimanapun. Dalam kelima keadaan seperti inilah sebenarnya para calon sedang melakukan pejalanan penyucian diri, dan ketika mereka bisa melewati uji materi dari kenyataan yang terjadi, maka mereka akan di anggap pantas oleh setiap makhluk. Ketika dianggap pantas, lalu salah satu bahkan lebih dari mereka akan menjadi khalifah.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Wakil Ketua Ikatan Keluarga Alumni Prodi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website