Headlines News :
Home » , » Mendidik Tanggung Jawab

Mendidik Tanggung Jawab

Written By Pewarta News on Jumat, 22 Maret 2019 | 22.15

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Anak yang dalam perkembangannya dari untrusted di usia dini menuju trusted di usia dewasa mengalami proses yang dinamis dan konstruktif. Anak dari yang belum bisa bertanggung jawab menuju anak yang bertanggung jawab. Perkembangan tanggung jawab anak tidak bisa dibiarkan. Untuk itu perlu pendampingan  yang serius dan terarah. Kehadiran orangtua atau orang dewasa di keluarga dan guru di sekolah sangat berarti dalam menfasilitasi dan  mendampingi anak untuk bisa bertanggung jawab.

Orangtua dan atau orang dewasa dan guru memiliki kewajiban yang tidak ringan , yaitu mendidik anak untuk bisa  bertanggung jawab kepada orangtua, diri sendiri, masyarakat, Tuhan dan yang lainnya. Pertama, bahwa pada usia sampai 6 tahun anak mulai dididik bertanggung jawab kepada orangtua dengan menunjukkan ketaatannya kepada orangtua. Bertanggung  jawab menjaga dan memanfaatkan sesuatu yang telah diberikan orangtua. Juga bertanggung jawab bekerja sesuai dengan porsinya dalam keluarga. Ikut membantu pekerjaan atau tugas di rumah.

Kedua, bahwa pada usia 8 tahun anak sudah mulai dididik tentang moralitas. Bahwa anak hidup di tengah-tengah masyarakat harus belajar mengenali ketergantungan antar manusia dan saling respek terhadap hak orang lain. Anak dididik dengan cinta dan takut (positif), yang perpaduannya menghasilkan respek. Di sisi lain anak menjadi bertanggung jawab kepada msyarakat tempat mereka belajar dan mencintai sesama. Demikian juga mereka takut melanggar peraturan yang ada dan gagal memanaj tindakan, bakat dan sikap damai.

Ketiga, bahwa di usia 10 tahun anak mulai dididik disiplin. Disiplin inilah yang benar-benar harus ditanamkan kepada anak. Dengan landasan disiplin, anak-anak dididik bertanggung jawab terhadap diri sendiri dengan disiplin menentukan pilihan (kegiatan dan cita-citanya). Juga menjaga kebiasaan untuk menjadi karakter. Selanjutnya dengan disiplin yang sangat tinggi, bertanggung mewujudkan potensinya.

Keempat, bahwa di usia 12 tahun dan mungkin sebelumnya, anak menjadi mukallaf. Saat anak mulai bertanggung jawab untuk berkomitmen dengan agama dan Tuhannya. Pada usia ini sudah dibebani tanggung jawab keagamaan karena dipandang sudah dewasa dengan dicirikan anak puteri dengan menstruasinya dan anak putera dengan mimpi basahnya. Tanggung jawab yang seharusnya ditanamkan adalah menjaga iman, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Kelima, bahwa anak yang sudah berusia 12 tahun sudah menjadi bagian dari kehidupan di lingkungannya. Anak-anak seharusnya mulai dididik untuk bisa melayani. Dalam konteks anak didik bisa peduli dan membantu anak yang lebih muda. Juga seharusnya dididik berkomitnen dengan janjinya, apa yang dikatakan harus diwujudkan dalam perilaku. Demikian juga anak seharusnya bertanggung jawab untuk berkontribusi terhadap lainnya, tidak merusak.

Menjadikan anak bertanggung jawab merupakan tugas dan amanah yang sangat mulia. Jika berhasil mendidik anak-anak kita bisa menjadi yang bertanggung jawab, insya Allah ini investasi yang sangat besar artinya. Karena bisa menghadirkan warga negara yang mampu berbuat kebaikan, menciptakan kedamaian dan kebahagiaan. Semoga mampu mewujudkan tanggung jawab kita baik sebagai orangtua, guru, dan pejabat, tokoh agama, maupun tokoh masyarakat dengan ridlo Allah swt.


Yogyakarta, 22 Maret 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website