Headlines News :
Home » , » Pusaka Dunia Akhirat

Pusaka Dunia Akhirat

Written By Pewarta News on Minggu, 10 Maret 2019 | 14.30

Perempuan-perempuan hebat calon penghafal Qur'an.
“Semakin dekat dengan menjaga ayat-ayat-Nya maka akan semakin optimis dalam menatap masa depan, baik dalam hal akademik, asmara, ekonomi, kematian maupun yang lain, karena Allah menguatkan siapapun yang berniat menjaga kalam-Nya” (Mukaromah, 2019)

Mereka adalah permata PPPA Bani Ali Mursyad yang merupakan Pesantren yang cukup terkenal di daerah Magetan yang memiliki ratusan santriwan dan santriwati yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Selain cantik, mereka juga ramah, tutur kata sopan, menjunjung tinggi ilmu dan ilmuan serta semangat dalam belajar, baik menghafal Al-Qur’an maupun sekolah formal. Saya belajar banyak hal disini, terutama tentang akhlaq dan cita-cita. Akhlaq seorang santri kepada gurunya, kepada pembimbingnya. Serta cita-cita dan impian yang harus diwujudkan dengan disertai ikhtiar maksimal dan digenapkan dengan do’a. Ku dalami mereka lebih dalam, sembari ku tatap mata mereka satu persatu, ku menemukan “Masa Depan Indonesia” ada dalam diri mereka, diantara gadis-gadis mungil yang mayoritas berumur 10 – 18 tahun, yang memiliki karakter dan kepribadian luhur serta etos keilmuan yang tinggi dan semangat dalam menghafal dan menginternalisasi ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Dekat dengan Al-Qur’an bahkan niat dengan tulus untuk menghafal ayat demi ayat, surat demi surat akhirnya terkumpul 30 Juz, bukan sesuatu yang mudah juga bukan suatu hal yang sulit. Mudah bagi orang yang memiliki “intangible capital” (modal yang tidak kasat mata) yang berupa niat, tekad, ghirah dan semangat untuk menyelesaikan sampai akhir. Pun demikian, sulit bagi orang sudah “mencoba” menghafal namun tidak diteruskan karena pesimis.

Menghafal Al-Qur’an itu bagaikan menyelam ke dalam kolam renang. Saat tubuh sudah terlanjur masuk ke dalam kolam, sebaiknya dilanjutkan saja sampai basah sembari menikmati “segar-nya” air. Pun demikian, jika sudah terlanjur masuk ke kolam, namun tidak melanjutkan menyelam, yang ada malah “mubadzir”, tidak menikmati segarnya air dan rugi baju. Artinya, sama-sama ganti baju, namun essensinya berbeda. Yang satu ganti baju baru karena puas baju nya basah, sedangkan yang satu biasa aja, bahkan mungkin menyesal sembari mengatakan “Andaikata kesempatan renang dalam waktu yang sama dapat diulang, pasti ingin ku nikmati segarnya air”. Artinya, seberapapun niat kalau sudah terlanjur menghafalkan Al-Qur’an, sebaiknya diteruskan sampai khatam. Sesulit apapun itu tetap lanjut sampai garis finish. Analognya, otak manusia itu berwarna putih. Semakin putih itu dihantam oleh proton-proton hitam, maka warna putih tersebut akan berubah warna menjadi hitam. Maksudnya, semakin otak manusia terbiasa terangsang oleh ayat-ayat Al-Qur’an, maka otak tersebut akan semakin mudah dan kuat dalam menghafal Qur’an. Karena tidak hanya “manusia dan hewan” yang butuh beradaptasi, namun otak manusia juga butuh beradaptasi dengan rangsangan yang ada.

Menghafal Qur’an apalagi lanyah (lancar) itu perlu proses, tidak serta merta langsung instan alias tidak ada yang salah satu ayat pun. Hanya omong kosong yang beranggapan bahwa menghafal Al-Qur’an itu bisa instan. Dilihat saja dari fitrah manusia yang merupakan tempatnya salah dan lupa. Sudah pasti untuk menjadi manusia yang berkualitas, harus senantiasa berproses. Pun demikian juga untuk mencapai derajat “dhabit Al-Qur’an”, harus rajin dan disiplin nderes. Lalu bagaimana dengan orang yang sudah mengerahkan segala usaha untuk nderes, tapi belum lanyah-lanyah juga? Gusti Allah Gak Adil kah, atau bagaimana? Padahal usaha sudah optimal loh, bukan kah Allah berjanji man jadda wa jada? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, terbesit dalam benak siapapun yang sudah berkali-kali nderes, tapi juga belum lanyah-lanyah. Setiap kali saya menyimak hafalan orang yang masih dituntun, saya sentuh psikologinya. Pun demikian, saat saya diberi kesempatan untuk menguji atau memberi nilai (evaluasi tahfidz), hal pertama yang saya tekankan adalah “Jangan mikir nilai”, karena saya pasti menghargai usaha kalian. Tapi kalian harus “berjanji” seusai dari mba Mukaromah, kalian lanyahkan dan selesaikan Qur’an hingga selesai. Untuk lanyah pun tidak mudah, namun juga harus istiqamah nderes, itu yang paling berat.

Hanya ada satu keyakinan yang meluluhkan semua kesulitan menjadi mudah, sesuatu yang awalnya tidak mungkin, menjadi mungkin terjadi, yang awalnya pesimis menjadi optimis adalah tirakat. Hidup ini harus tirakat. Sesulit, serumit, dan sepelik apapun dalam menghafal Qur’an, niatkan saja “Perjuangan” tersebut untuk anak keturunan, agar kelak mereka juga menjadi penghafal Qur’an yang dimudahkan Allah. Lama berkecimpung dalam dunia tahfidz, saya sering mengadakan penelitian secara empirik. Saat menemui anak-anak yang lancar dan lanyah hafalannya, hal yang pertama kali saya tanyakan adalah “Dek, saudara atau ibu bapak sampean ada yang hafiz atau hafizah ya”? Mayoritas mereka menjawab iya. Begitu halnya dengan anak-anak yang “harus dan perlu perjuangan ekstra dalam menghafal Qur’an, mayoritas dikeluarga atau sanak saudara belum ada yang hafal Qur’an”. Secara ilmiah, belum ada yang mengkaji ini. Tetapi, secara fakta dan realita hal ini banyak saya temui. Memang pada dasarnya, orang yang perlu perjuangan ekstra dalam menghafal Qur’an akan menjadi pondasi utama dan pencetak generasi sesudahnya. Biasanya, yang mempunyai nasab penghafal Qur’an akan lebih mudah dalam menghafal Qur’an. Maka saya tekankan kepada mereka yang belum mempunyai nasab penghafal Qur'an, kelak generasi kalian akan “dimudahkan Allah” dalam menghafal Qur’an, dengan demikian nikmati saja kesulitan, tetesan air mata dan perjuangan dalam menghafal Qur’an dan semua itu niatkan untuk tirakat anak cucu agar jalan ke depan dipermudah Allah SWT.

Semakin dekat dengan menjaga ayat-ayat-Nya maka akan semakin optimis dalam menatap masa depan, baik dalam hal akademik, asmara, ekonomi, kematian maupun hal lain. Hal tersebut karena Allah menguatkan siapapun, yang berniat menjaga kalam-Nya. Bahkan dalam hadist juga disebutkan bahwa orang yang menyibukkan diri dengan Qur’an, tidak berdoa saja maka Allah kabulkan permintaanya. Bu Nyai saya pernah ngendiko, bahwa tirakat terbaik bagi penghafal Qur’an adalah nderes. Sedemikian rupa Allah mengistimewakan orang yang mau menjaga ayat-ayat-Nya, meringankan dan memudahkan jalan-Nya untuk meniti kehidupan di dunia sebagai bekal menuju akhirat. Dalam ranah psikologi, orang yang mempunyai pegangan Al-Qur’an dan “mengamalkan isinya” akan mempunyai managemen, regulasi, kontrol diri dan motivasi diri yang cukup tekendali dengan baik. Sepelik dan serumit apapun persoalan hidup, pasti dapat teratasi dengan modal yakin pada Tuhan Esa, serta optimis untuk menyongsong masa depan yang jauh lebih baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan seberapa dekat diri kita dengan Al-Qur’an. Sebagaimana firman-Nya dalam Qs. Al-Qamar dengan pengulangan ayat sebanyak 4 kali yakni dalam ayat 17, 22, 32 dan 40 dengan redaksi “Wa Laqad yassarnaa al-Qur’ana li adz-dzikri fa hal min muddakir”. Ayat ini bermakna sangat dalam, bahwa Allah telah memudahkan Al Qur’an untuk dihafal, dihayati, dimaknai, dijadikan way of life dan dijadikan inspirasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dahulu masa keemasan Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai pintu pertama dan pijakan utama sebelum mempelajari ilmu-ilmu lain.

Jika hal tersebut direlevansikan dalam kehidupan saat ini, maka bagaimana menjadikan Al-Qur’an sebagai spirit etos keilmuan guna mengembangkan ilmu pengetahuan.

Karena mayoritas mereka anak-anak yang juga menempuh pendidikan formal, maka saya mengatakan selagi masih ada peluang dan kesempatan (tekad, niat, keinginan, ekonomi, motivasi) untuk mengenyam pendidikan formal, maka tetaplah sekolah. Tapi ingat, Al-Qur’an harus menjadi prioritas pertama dan utama. Bagi yang mempunyai Al-Qur’an (hafiz/ah) hidup kalian tergantung dari seberapa kalian ngopeni/menjaga/merawat Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an terjaga, maka dunia seisinya akan tunduk kepada kalian. Yang hafizah nan magister, atau bahkan hafizah nan doktor masih langka dek, maka jadilah satu diantara banyak orang yang mencapai derajat itu, sesuai janji-Nya dalam Qs. Al Mujadalah ayat 11.

Jadilah wanita yang kuat dan tangguh dengan berjuang meniti pahit manisnya perjuangan di jalan Allah. Sungguh, hasil tak akan pernah menghianati proses, janji-Nya dalam Qs. An Najm ayat 39 - 42.

Semoga dipertemukan kembali dalam fadhilah Allah selanjutnya, kataku pada mereka.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website