Headlines News :
Home » » Urgensi Membaca Buku

Urgensi Membaca Buku

Written By Pewarta News on Kamis, 21 Maret 2019 | 04.03

“Hal yang harus dilakukan oleh pendidik PAI adalah bagaimana memperkuat akidah siswa namun disisi lain tidak mendeskreditkan golongan agama lain. Salah satu kuncinya adalah memperluas perspektif dan wawasan dengan terus membaca dan menelaah buku serta self continuous improvement agar dapat terus menghidangkan konsumsi segar nan berkualitas bagi regenerasi bangsa” (Mukaromah, 2019).

Kebijaksanaan, tutur kata, paradigma berpikir, kearifan dan tindakan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh background organisasi, lingkungan (rumah, masyarakat, sekolah), pengalaman dan olah batin yang dilakukan secara continue, namun bacaan/buku juga merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan sikap hidup. Betapa banyak orang keras yang luluh hatinya hanya dengan “membaca” buku. Betapa banyak orang “fanatik yang ghuluw” terhadap afiliasi golongan baik inter maupun antar agama/iman, antar oganisasi, antar tokoh, suku dan budaya lalu kemudian berbesar hati menerima segala perbedaan hanya dengan melalui bacaan. Buku itu ibarat sendi dalam kehidupan. Disadari atau tidak, apa yang dibaca mempengaruhi tindakan kongkrit yang dilakukan. Semakin banyak membaca, maka akan semakin luas perspektif dan wawasan yang dimiliki sehingga tidak “grusa-grusu” dalam menghadapi setiap persoalan.

Akan tetapi, terkadang manusia merasa terbatasi oleh “sesuatu” yang berada diluar dari dirinya, baik itu otoritas orang lain, concern keilmuan maupun kebencian terhadap pengarang buku karena berbeda pemikiran sehingga menjadikan selektif dalam memilih buku sebagai bahan bacaan. Tentu hal demikian menjadikan hidup “tidak merdeka dan terbelenggu terhadap tuhan-tuhan (memakai t kecil)”, meminjam bahasa-nya Nurcholish Madjid. Hal ini diperkuat dengan pengamatan empirik dan pengalaman yang penulis lalui.

Kawanku yang beda kampus curhat bahwa di dalam kelas dengan mata kuliah tertentu, saat berargumen hanya dibatasi menggunakan literatur-literatur tertentu, alias disesuaikan dengan bygroud/afiliasi dosen-nya. Alasannya, agar ilmu yang dipelajari tetap dalam koridor atau batas yang “terbatas” (dalam bahasa-ku). Jika ditelisik lebih dalam, tentu ada positif dan negatifnya. Positifnya, mahasiswa didoktrin agar memiliki paham yang “sama” dengan paham dosennya, sehingga kualitas ilmu yang disampaikan dosen tersebut terjaga. Negatifnya, daya nalar kritis dan kebebasan berpendapat mahasiswa terhambat. Implikasi-nya, model pembelajaran semacam itu hanya akan menghasilkan lulusan yang gagap akan perbedaan, mudah menyalahkan dan ingin menggeneralisasikan semua sama atas dasar pola pikirnya. Padahal Tuhan Esa saja memberikan kebebasan manusia untuk menentukan arah hidupnya dengan membekalinya beberapa potensi yakni Fitrah, Nafsu, akal, qalb dan fisik yang semuanya mengarah pada kecenderungan hanif (98%), hanya nafsu lawwamah yang negatif.

Tidak hanya itu, afiliasi golongan organisasi maupun kegamaan seseorang juga mempengaruhi kecenderungannya terhadap buku. Betapa kagetnya penulis saat magang di sekolah beberapa bulan yang lalu, ketika seorang guru menegur buku bacaanku dengan berkata “Wah mbak pengarang buku itu kan Syi'ah”!

Batinku (daripada debat), Padahal jelas pengarang tersebut telah klarifikasi baik di sosmed maupun secara tertulis dalam buku karya-karyanya bahwa beliau merupakan muslim ahlussunah wal jama’ah yang moderat dan tawassuth. Terkadang, kita buru-buru menghakimi sesuatu tanpa mengetahui asbab yang jelas dan kasyf-nya (al bathin), sehingga hanya beristimbatkan pada apriori yang abstrak dan dzan (prasangka) yang hanya didasarkan pada cocok dan tidak cocok.

Membaca buku juga penting dilakukan oleh pendidik (guru dan dosen). Sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan dosen bahwa pendidik harus memiliki beberapa kompetensi, salah satunya professional dan pedagogik. Kompetensi professional dengan mengembangkan bahan dan materi ajar serta kompetensi pedagogik dengan memahami kebutuhan (sosial, psikis, intelektual, emosional) peserta didik. Di era 4.0 ini peserta didik akan merasa jenuh dan tidak tertarik dengan pendidik yang “tekstual” atau menyampaikan pembelajaran hanya berdasar pada apa yang tertera dalam buku panduan/pegangan. Apalagi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, model pembelajaran yang doktrinisasi tidak akan diterima siswa secara mentah. Berdasar pada penelitianku beberapa waktu yang lalu, bahwa Organisasi Kemasyarakatan (ORMAS), pengalaman hidup dan kepribadian guru berimplikasi terhadap proses pembelajaran PAI. Maka sebaiknya pada saat proses pembelajaran lepaskan segala backgorund dan simbol diri. Teringat kata dosenku beberapa semester yang lalu, kadang PAI bukan mengajarkan Pendidikan Agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin, tapi mengajarkan pendidikan Agama “golongan” sesuai afiliasi guru-nya.

Mengingat PAI merupakan pelajaran yang sangat penting untuk membentuk dan membina individu yang shalih ritual dan sosial, maka seharusnya PAI dikemas dengan sedemikian rupa, Baik dari segi penyampaian/penjelasan yang dilakukan oleh guru maupun strategi dan metode dalam proses KBM. Hal yang harus dilakukan oleh guru PAI adalah bagaimana memperkuat akidah siswa namun disisi lain tidak mendeskriditkan golongan agama lain. Penting untuk dikaji lebih dalam, dan salah satu kuncinya adalah memperluas perspektif dan wawasan dengan terus membaca buku, apapun itu. Sehingga, dalam menjelaskan materi pelajaran berdasar pada konteks-nya. Apalagi menjelaskan ayat al Qur’an yang terdapat banyak kata-kata kafir, dzalim, fasiq dll. Dengan demikian, menjadi guru PAI di sekolah umum lebih berat tantangannya daripada menjadi guru PAI di madrasah. Karena di sekolah umum, teradapat multi agama, sehingga guru juga harus hati-hati dalam menyebut dan memaknai kata “kafir”. Dan yang tidak kalah pentingnya ialah, pendidik harus mengembangkan diri secara berkelanjutan (self continuous improvement) agar dapat terus menghidangkan “makanan/konsumsi segar” bagi regenerasi bangsa yang dapat ditempuh melalui beberapa cara, salah satunya dengan membaca buku.

Selain itu, membaca juga harus dibudayakan oleh kaum single/non pacaran agar hidup kian berwarna alias tidak hampa. Sebagaimana Al kitabu khairu jalisun wa khairu anisun, buku merupakan kawan setia yang selalu menemani pembacanya baik diwaktu lapang maupun sempit. Dengan membaca buku, akan paham mengenai tipe-tipe manusia ditinjau dari berbagai aspeknya. Baik sisi psikologi (olah rasa, jiwa) fenomenologi (sebab), sosiologi (konteks) dan leadership (pengaruh, kebijaksanaan), dengan menjunjung tinggi eksistensi/keberadaan oranglain manakala berkomunikasi dan berinteraksi, tak terkecuali dengan sikap/trik/steps/kunci/rumus mendekati (ta’aruf) dan menakhlukan hati perempuan tanpa mengiba, bagi laki-laki. Begitulah, kiranya urgensi membaca buku.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website