Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    People Power Melawan People Power?

    Ilustrasi Pemilu 2019.
    PEWARTAnews.com -- Beberapa hal telah penulis ulas dalam tulisan terkait People Power. Sekarang, kita bahas dan analisis bersama yang berkaitan dengan judul yang tertulis di atas. Bangsa kita ini bukan lagi seperti Pemilu pada tahun 2014, karena era itu belum terlalu eforia dengan pesta bangsa yang diagendakan 5 tahun sekali. Gadget masih belum banyak, pengguna media sosial pun belum terlalu banyak.

    Seiring dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya pengguna media sosial maka rakyat sekarang sudah bersuara dengan sendiri nya di media sosial. Melihat carut-marutnya NKRI hari ini, jelas rakyat tidak tinggal diam, untuk dari satu versi.

    Versi lain, negara ini sudah maju dengan infrastruktur yang pesat dan faktanya tidak bisa dipungkiri sampai ke ujung timur negeri ini. Kita harus berbangga atas pencapaian rezim ini.

    Well, kita lihat dari sudut pandang penulis. Indonesia adalah negara agraris yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Kondisi demikian, tidak bisa dipungkiri telah banyak perubahan pada negeri ini, bisa kita perhatikan bersama kenaikan BBM (Itu juga perubahan, perubahan angka), gizi buruk masih menjadi permasalahan yang belum tuntas diselesaikan, pengangguran dimana-mana, lahan pertanian di beberapa daerah diganti dengan bangunan, tambang, dan lain-lain. Selain itu, pencemaran lingkungan akibat dari limbah tambang dan banyak permasalahan yang tidak bisa penulis sebut satu per satu.

    People Power Melawan People Power?
    Rancu ya jika di baca dari judul besarnya. Hari ini, rakyat Indonesia semakin bisa memilah informasi lewat media walaupun media pro dengan petahana tetapi tidak banyak juga yang demikian.

    Lalu, apa kaitan dengan people power Melawan People Power? Heforia rakyat tidak bisa dipungkiri oleh petahana maupun kubu 02. Sebab 411 dan 212 sangat berefek besar akan cara pandangan rakyat saat ini. Aksi 411 dan 212 pun tidak di anggap remeh oleh petahana karena Indonesia mayoritas Islam. Tentu kedua kubu memiliki strategi masing-masing untuk mendapatkan simpati rakyat. Seperti blusukan, pencitraan, merapatnya dukungan ulama, dan lain-lain. Hal demikian lumrah dalam sebuah negara yang menjadikam demokrasi sebagai langkah dalam memilih presiden dan wakil presiden.

    Lalu, apa permasalahannya?
    Masalah nya banyak, karena rakyat sudah cerdas. Pendukung kedua kubu saling mengklaim dan sebagian besar ada yang saling menghina, mengejek, dan kasus terbaru pasangan suami istri bercerai karena berbeda pilihan.

    Media sosial merupakan salah satu cara mendapatkan informasi. Apalagi terkait dengan pendukung kedua kubu. Sebagai seorang individu yang hidup di tengah masyarakat, tentu kita harus bisa memilah dan menempatkan diri. Berbeda pilihan itu hal lumrah dalam sebuah demokrasi. Tetapi permasalahan rakyat hari ini adalah saling mengejek, saling menghina antara satu dengan yang lainnya.

    Apa kaitan dengan people powernya?
    Karena saling mengklaim dan kedua kubu tidak ada yang saling menerima kekalahan atau kemenangan, maka dikhawatirkan permasalahan berimbas pada People Power Melawan People Power. Tentu, kita tidak berharap demikian. Tetapi hal ini yang harus kita hindari sebagai pendukung kedua Paslon. Tetap Berdo’a untuk negeri ini.

    Setelah pemilu adalah kebersamaan, mengawal pemimpin baru menuntaskan PR yang ada. Indonesia banyak problemnya, yang di anggap remeh oleh sebagian orang. Utang negara semakin meningkat, dan rakyat semakin miskin kecuali kaum borjuasi yang kaya lebih dari kekayaan negara.

    Negeri ini butuh kedamaian setelah pesta besar yang menghabiskan dana kurang lebih 26T. Dari mana dana tersebut? Jika dari utang, maka negara kita nambah utang dalam menyelenggarakan pemilu ini.

    Terus mengawal dan tetap menjaga stabilitas negara. Karena para Paslon di belakangnya ada para pemodal yang memiliki tujuan untuk melanggengkan usaha dan keinginan mereka. So, mari jadi rakyat cerdas. Menuntaskan permasalahan negeri.


    Penulis: Suci Nujul Hayati
    Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

    Menjaga Integritas

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Integritas di tahun politik ini menjadi taruhan dan menduduki posisi strategis dalam perjalanan hidup bangsa. Integritas menentukan keutuhan bangsa. Integritas menempati posisi pentingu dalam menciptakan perdamaian. Integritas sangat berarti untuk pembangunan bangsa. Integritas menjadi variabel terpenting bagi orang yang mendapat amanah, di manapun posisinya. Terlebih-lebih dalam menghadapi persoalan yang semakin menghangat ini, integritas KPU, Bawaslu, TNI dan Polri, dan MK sangat menentukan kesuksesan Pemilu 2019.

    Apa yang dapat kita fahami tentang integritas? Integritas dapat dipandang sebagai kejujuran dan kebenaran atau akurasi dari tindakan seseorang. Dalam integritas ada kata kunci yang hilang adalah konsistensi. Integritas semua pihak yang diamanati mengawal perjalanan pemilu sangat menentukan kehidupan dan pembangunan bangsa. Tidak boleh goyah , sedikitpun. Integritas menjadi kunci kesuksesan pemilu. Barang siapa yg mencoba melonggarkan integritasnya, maka berpotensi dapat menimbulkan ketidakpuasan, yang boleh jadi dapat mengancam keutuhan bangsa.

    Ada beberapa karakteristik orang berintegritas, yaitu (1) autentik, genuine, (2) mengetahui bahwa waktu orang lain itu berharga, (3) memberi poin kepada orang lain, (4) rendah hati, (5) suka memaafkan, (6) mengetahui kapan seseorang itu salah, (7) memberikan keuntungan bagi orang yang ragu-ragu, (8) percaya kepada orang lain, (9) bertindak suka rela untuk kebaikan orang lain, (10) menunjukkan sikap dan perilaku jujur, (11) tidak berargumentasi kepada orang yang tak setuju. Dengan begitu orang yang berintegritas ditunjukkan dengan komitmen tinggi untuk berbuat yang terbaik untuk kemaslahatan orang lain, bukan memberikan madlarat kepada orang lain.

    Integritas merupakan salah satu sifat karakter yang sangat penting bagi seorang pemimpin pada level manapun dan pada institusi apapun, baik itu institusi publik maupun privat. Pimpinan yang berintegritas relatif merasa mudah untuk tegakkan keadilan dan manajamen yang akuntabel.

    Untuk bisa menjadi pimpinan yang berintegritas ada sejumlah upaya yang bisa dilakukan, diantaranya, (1) tepati janji kendatipun ada upaya ekstra, (2) kembali ke toko untuk membayar sesuatu yang terlupakan, (3) tidak pernah mengabaikan kepercayaan teman kendatipun dalam menghadapi masalah, (4) omenginfomasikan ke kasir bahwa uang kembalinya berlebih, (5) jangan biasa gossip tentang kejelekan seseorang, dan (6) tetap menjaga kebaikan pasangan isteti atau suami. Inilah beberapa ihktiar yang bisa dilakukan untuk menjadi lebih berintegritas. Memang integritas tidak hadir dengan sendirinya, melainkan dapat diusahakan melalui proses panjang.

    Integritas seseorang pada hakekatnya bisa naik turun. Bisa menjadi sangat berintegritas , bisa juga integritasnya turun ke titik nol. Adapun upaya untuk menjaga integritas dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut, (1) memimpin dengan keteladanan, (2) berkomitmen penuh terlibat dalam proses, (3) mengantisipasi konflik etik, (4) berkomunikasi dengan jujur, (5) berkomunikasi kdengan sopan(civility), 6) bersikap dan bertindak konsisten, (7) mau mendengarkan, (8) menerima orang lain yang memiliki standar yang berbeda, (9) bersabar dengan diri sendiri, dan (10) bersabar dengan orang lain. Masih banyak lagi upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga integritas. Yang penting dimulai dari diri sendiri untuk tunjukkan tanggung jawabnya sebagai pimpinan, yang tidak hanya kepada publik tetapi juga yang paling penting di hadapan Allah swt.

    Demikianlah beberapa hal yang bisa dieksplorasi tentang menjaga integritas sebagai suatu yang penting dan strategis dalam kehidupan kita, terutama dalam kehidupan berorganisasi dan bernegara. Untuk menjamin pelaksanaan dan penghitungan rhasil Pemilu 2019 sangat bertumpu pada integritas penanggung jawab, pelaksana, pengawas dan pengadilan pemilu. Jika semuanya mampu tunjukkan integritas yang tinggi, maka pemilu dapat menunjukkan hasil yang memuaskan semua pihak. Untuk selanjutnya insya Allah pembangunan bangsa akan berlangsung dengan lancar. Namun jika integritasnya menurun, dikhawatirkan akan menyisaksn persoalan di kemudian hari yang membutuhkan penyelesaian yang tidak mudah. Semoga Allah swt melindungi dan meridloi bangsa Indonesia. Aamiin.


    Yogyakarta, 20 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Sepasang Kekasih, Makna dan Golput

    Dedi Purwanto.
    PEWARTAnews.com – Pada suatu waktu seorang istri bertanya kepada suaminya, Suamiku apakah segala yang ada di semesta ini harus memiliki makna? Dengan tersenyum sang suami menjawab. Istriku, jika dalam hal menyelesaikan sesuatu tidak semuanya membutuhkan uang. Berarti, semuanya tidak harus memiliki makna. Kadangkala satu atau beberapa dari aktivitas manusia tidak harus beralasan. Berarti, tidak harus bermakna. Termasuk dalam hal keyakinan dan menyakini. Lalu kenapa setiap kita dituntut harus berbicara penuh makna? Istriku, Kalau berbicara mengenai makna, tentu berbicara mengenai cara pandang setiap orang mengenai makna. Dan cara pandang itu berbeda dikarenakan faktor ilmu dan pengetahuan masing-masing orang. Kalau berbeda berarti kita harus mulai meyakini bahwa segalanya punya makna, termasuk apapun yang dikatakan oleh orang lain tentang pembicaraan yang tidak bermakna itu. Bahwa sebenarnya tidak bermakna menurut orang lain itulah makna nya. Dalam arti, tidak bermakna berarti dia bermakna juga sebenarnya.

    Lalu apakah segala yang bermakna itu bernilai suamiku? Sebenarnya dalam menilai atau bernilai itu sudah masuk dalam lingkup mengkategorikan sesuatu. Maka, jika sesuatu itu kurang, pas atau lebih Berarti kita sudah masuk dalam lingkaran yang tidak murni lagi. Kita hanya harus hidup dengan keyakinan bahwa segalanya bermakna dan bernilai, Perkara sedikit kurang atau banyaknya itu malah akan membuat kita terkotak-kotak.

    Kemudian istri itu bertanya kembali, Suamiku apakah sikap golput (golongan putih) itu benar atau salah dalam kehidupan bernegara dan berdemokrasi? Dengan wajah penuh kasih sayang sang suami menjawab. Istriku, pemerintah dengan negara tentu berbeda, Negara dan demokrasi berbeda juga. Pemerintah bukan berarti negara dan kalau negara syaratnya harus punya pemerintah. Berarti kalau pertanyaannya dalam konteks kehidupan bernegara, maka sikap golput agak keliru bukan salah. Kenapa? Kalau golput merupakan representasi dari ketidaksukaan mereka terhadap pemerintah, maka tidak boleh berdampak pada ketidaksukaan terhadap negara. Karena negara bukan pemerintah. Lalu apakah bertentangan dengan kehidupan berdemokrasi kita suamiku? Kenapa harus bertentangan, demokrasi itukan suatu sistem, kalau suatu sistem berarti dia di ciptakan atau sengaja dibuat untuk tujuan tertentu. Dan kalau golput diakibatkan dari ketidaksukaan mereka terhadap sistem, wajarlah, meskipun sistem tidak menyukai mereka yang golput. Kita bernegara kan berdasarkan kesepakan. Jadi, kemungkinan seseorang atau beberapa orang keluar dari kesepakatan itu pasti ada. Jangan karena sudah enak dihidupi oleh negara, maka kita sewenang-wenang mau menguasai hal yang paling prinsip yang dimiliki oleh seseorang. Itu namanya otoriter juga.

    Tapi bagaimana kalau golput menjadi tanda kecintaan mereka terhadap negara suamiku? Istriku, Cinta tidak harus sengaja lari supaya dikajar dan segaja untuk pergi supaya dicari. Sebab sistem kerja cinta tidak mesti seperti apa yang kita inginkan. Karena bisa jadi apa yang kita inginkan itu tidak baik untuk kita dan apa yang tidak kita inginkan itu malah baik untuk kita. Lalu bagaimana semestinya sikap kita dalam kehidupan bernegara saat ini suamiku? Kalau mengenai sikap, maka jawabannya apa yang kita bahas diatas merupakan ungkapan beberapa sikap dari kita semua. Menyamakan sikap tentu tidak bisa, tapi menyamakan tujuan pasti bisa. Tujuannya apa? Yaitu mengabdi untuk negara, bukan untuk pemerintah dan sistem.

    Sebab bernegara merupakan bentuk rasa terima kasih kita kepada tanah, air dan udara yang telah menghidupi kita sampai saat ini.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Hadiah yang Mendidik

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Hadiah adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan kita. Hadiah seringkali untuk menghargai prestasi. Hadiah untuk mengucapkan selamat. Hadiah bisa berupa fisik dan non fisik. Hadiah diharapkan bisa memberikan aq. Pada kenyataannya hadiah memiliki banyak dimensi. Apapun posisinya, hadiah diharapkan sekali memiliki misi mendidik.

    Hadiah diperlukan untuk diberikan kepada siswa semata-mata agar mereka tetap ada di sekolah tidak drop out. Juga untuk memotivasi dapat berprestasi lebih baik. Di samping itu hadiah diharapkan dapat mendorong mereka dapat menuntaskan belajar atau sudinya dengan hasil yang terbaik sesuai dengan potensinya. Dengan begitu menjadi bekal untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja.

    Hadiah yang biasa diberikan kepada anak seharusnya dapat diwujudkan dalam bentuk yang pas dan sesuai dengsn maksud hadiahnya. Dapat dikatakan dengan hadiah yang edukatif. Adapun wujud hadiah dapat berbentuk (1) pujian berupa pernyataan verbal, ucapan selamat atas prestasi akademik atau juara dari cabang olahraga, seni dan lainnya, (2) hadiah yang berbentuk simbolik, berupa piala, gambar yang dipasang di kalender atau tembok lorong-lorong sekolah, (3) hadiah berbentuk token, yang bisa ditukarkan di tempat-tempat tertentu, (4) hadiah yang terlihat langsung, bisa berbentuk mainan, alat sekolah, laptop dan sebagainya, terutama yang terkait dengan kepentingan anak dan jenis aktivitas yang dihargai.

    Hadiah yang diberikan anak diharapkan dapat memberikan banyak manfaat, di antarannya (1) meningkatkan perilaku yang positif dan sesuai dengan norma yang ada, (2) mendorong anak untuk berminat dan berpartipasi penuh terhadap tugas dan kewajiban di sekolah, (3) meningkatkan motif berprestasi untuk berprestasi yang lebih baik, (4) mendorong anak untuk bisa berkarya lebih produktif baik di sekolah maupun di rumah, (5) memotivasi anak untuk lebih berkomitmen menyelesaikan tugas dan proyeknya.

    Memberikan hadiah diharapkan dapat berdampak positif, jangan sampai kontra produktif, sehingga berdampak negatif. Karena itu perlu memperhatikan cara yang efektif, di antaranya: (1) memberi hadiah dengan cara yang bijaksana, terutama disesuaikan dengan karakter anak, apakah introvert atau ekstrovert, (2) menggunakan musik untuk mengiringi pemberian hadiah, baik tema maupun liriknya sesuai dengan kondisi anak, (3) menciptakan pekerjaan dalam kelas, dengan menfasilitasi anak untuk memakai stereotype seragam pekerjaan tertentu sebagai kebanggaan, (4) memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti uji coba pekerjaan di lab dan bengkel atau tempat kerja, dan (5) meminta anak sekali dalam setiap minggunya menggunakan seragam sesuai pilihan bidang keilmuan, di antaranya bidang seni, sain, teknik, olahraga, dan sebagainya. Di sini nampak bahwa hadiah tidak bersifat konsumtif, tetapi benar-benar bernuansa produktif.

    Berdasarkan riset Anne Shreev (2002) dari 7 sekolah, bahwa berbagai hadiah yang sering diberikan kepada anak-anak SD dan sikapi paling positif adalah hadiah, nilai, dan waktu yang diperlukan terutama untuk pengerjaan tugas. Namun yang sangat menarik bahwa penghargaan atau pujian dan sertifikat justru disikapi yang paling rendah. Artinya bahwa anak itu lebih menyukai penghargaan yang sifatnya substansial daripada yang bersifat simbolik.

    Hadiah untuk anak hendaknya didasarkan atas rasa kasih sayang, sehingga bisa berdampak positif. Tidak boleh berlebihan, sehingga kontra produktif. Hadiah harus berefek terhadap perubahan perilaku yang lebih positif dan prospektif. Dapat membantu untuk proses aktualisasi diri. Hadiah tidak semata-mata dilihat dari bentuk tetapi tujuan dan spirit yang ada di balik hadiah. Hadiah harus dapat dihindari tidak menimbulkan perilaku sombong dan takabbur. Melainkan hadiah diharapkan bisa dipastikan dapat menjaga dan menikmati, dan meningkatkan rasa syukur ke hadlirat Allah swt, Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim.


    Yogyakarta, 19 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Bedah Buku dan Diskusi Pendidikan Madzhab Kritis Karya Agus Nuryato

    Susana Diskusi Pendidikan Madzhab Kritis Karya Dr. Agus Nuryato, M.Ag.
    PEWARTAnews.com – Tulisan ini merupakan dasil dari kegiatan Bedah Buku dan Diskusi Pendidikan Madzhab Kritis Karya Dr. Agus Nuryato, M.Ag dengan Pemantik Master Achmad Zukhruf Al Faruqi (Ketum HMI Komsat Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

    Dr. Agus Nuryatno (Alm) merupakan salah satu dosen Kependidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang meninggal di Jerman, diusia yang masih tergolong muda. Meski jasad beliau telah tiada, namun pemikiran dan kontribusinya dalam dunia pendidikan masih selalu dijadikan referensi dan bahan diskusi bagi kalangan akademisi, politikus maupun gerakan aktivis mahasiswa. Selain itu, tabiat dan cara mengajar (mendidik) beliau sampai detik ini masih terus mengilhami alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam mewarnai dunia pendidikan yang adil, ramah, humanis, toleran dan inklusif sehingga transformasi pendidikan tidak hanya didasarkan pada transfer of knowledge namun transfer of values dengan mengedepankan pada eksistensi peserta didik. Maka tak heran apabila beliau sebagai dosen tidak pernah mempesoalkan bagaimana penampilan (pakaian, rambut, fisik) mahasiswa, bahkan absen pun tidak pernah beliau hiraukan. Upaya yang terpenting adalah mahasiswa ‘membawa’ pengetahuan dan aktif diruang kelas. Sehingga beliau selalu menekankan bahwa ilmu yang didapat diruang kelas maksimal hanya berperan 20% dalam memberikan kontribusi dalam kehidupan, untuk itu mahasiswa harus aktif mencari di luar kelas yang dapat ditempuh dengan beberapa hal, bisa dengan membaca, research, ke perpus, toko buku, ikut seminar, maupun ikut organisasi.

    Dengan latar belakang beliau yang seperti itu, beliau menuangkan ide, gagasan dan kritik konstruktifnya terhadap dunia pendidikan Indonesia dalam buku Pendidikan Mazhab Kritis. Dalam buku tersebut, beliau mengatakan bahwa dunia Pendidikan Indonesia masih diwarnai dengan ketidakadilan yang menyengsarakan kaum mustad’afin, pendidikan yang penuh dogmatis, serta pendidikan yang melanggengkan sttaus quo yang berimplikasi pada penjajahan mental dan intelektual, sehingga kesadaran dan nalar kritis peserta didik terhambat. Pendidikan Indonesia yang seharusnya “Mencerdaskan kehidupan bangsa” belum terealisasikan secara optimal. Hal ini dapat dilihat dari, Pertama PPDB (pendaftaran Peserta Didik Baru) yang hanya menerima anak-anak yang nilainya tinggi dengan dibuktikan pada hasil ujian atas nama ijazah. Kedua, Pendidikan sulit diakses bagi kalangan menengah ke bawah. Ketiga, Kurikulum Pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Keempat, Pendidikan dogmatis yang menghambat nalar dan kesadaran kritis peserta didik. Kelima, Pendidikan yang diajarkan hanya secara normatif. Atas dasar itulah, pendidikan harus melakukan upaya transformatif yang revolusioner dengan menerapkan kesadaran kritis kepada peserta didik.

    Pendidikan Kritis adalah pendidikan yang berbasis kesetaraan, keadilan sosial, kebebasan dan pembelajaran yang berbasis pada konteks, realitas dan problem sosial. Dalam kaitan ini, pemantik memberikan ilustrasi terkait dengan mata pelajaran Matematika, bahwa guru jangan hanya mengajarkan terkait dengan penjumlahan, pengurangan, perkalian dll namun harus diselipi dengan problem sosial, seperti menyajikan kasus penjumlahan dan pengurangan dengan memberikan values misalnya, gaji DPR 20 juta, untuk membiayai pendidikan anak-anaknya 3 juta, untuk kebutuhan sehari-hari 3 juta, berapa sisanya? Kemudian, guru juga harus menekankan sebuah pertanyaan kritis, dengan gaji yang lumayan banyak tersebut, mengapa mereka masih ada yang korupsi? Begitu halnya dengan mata pelajaran yang lain, seharusnya berbasis pada konteks dan problem sosial, agar peserta didik dapat berpikir kritis lalu mempunyai kesadaran untuk ikut andil dalam menyelesaikan persoalan disekitarnya. Pembelajaran yang hanya sekedar transfer of knowledge hanya akan melahirkan manusia-manusia pecundang, gagap mental dan acuh terhadap persoalan masyarakat, maupun bangsa.
    Bahkan dalam realitanya, Pendidikan Islam masih diajarkan secara normatif (tekstual) dan dogmatis. Akibatnya, banyak orang yang shalih secara vertikal namun kurang peka terhadap realitas sosial. Betapa banyak orang yang taat beribadah, namun tidak memiliki kepedulian sosial, betapa banyak terpelajar yang paham agama namun masih korupsi? Betapa banyak orang yang mengetahui sebab-akibat kehidupan, namun masih menindas kaum lemah (mustadh’afin)? Serta betapa banyak lembaga pendidikan yang mengintervensi masa depan peserta didiknya? Padahal, manusia merupakan makhluk yang bebas menentukan pilihan hidupnya. Manusia dibekali Tuhan Esa dengan berbagai macam potensi, yang hal tersebut seharusnya pendidikan mampu mencover potensi-potensi tersebut sesuai dengan kesadaran naluriah dan alamiah peserta didik. Di ruang-ruang kelas, masih banyak pendidik yang mendikotomikan ilmu dan profesi. Seperti misalnya, saat siswa menyampaikan cita-citanya ingin menjadi petani. Tanpa disadari, mungkin (kita) menganggap bahwa profesi tersebut kurang bermartabat, lalu kita arahkan untuk menjadi dosen atau guru atau profesi-profesi lain dibawah naungan pemerintah (PNS). Dalam hal ilmu, masih banyak pendidik yang mendikotomikan antara ilmu umum dan agama, padahal muara ilmu itu satu dan saling berkorelasi sehingga saling berintegrasi-interkoneksi.

    Membahas tentang problematika pendidikan di Indonesia sangat-lah kompleks, karena pendidikan Indonesia saat ini menganut ideologi kompetisi. Sebagaimana kasus-kasus yang telah diuraikan diatas, tentang permasalahan proses pembelajaran, pendidikan yang humanis dan toleran serta berbasis kebebasan tidak bisa jika hanya dilakukan secara individual, namun harus dilakukan secara kolektif (kesadaran kolektif) dengan mensinergikan langkah, menyatukan tujuan dan meyakini ideologi (prinsip) yang akan dilakukan merupakan prinsip yang dapat membawa perubahan yang jauh lebih baik.


    Yogyakarta, 16 Maret 2019
    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    Desentralisasi - Sentralisasi yang Seimbang

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Kecenderungan baru manajemen di abad ke-21 adalah bergesernya manajemen sentralistik menjadi manajemen desentralistik. Hirarkhis menjadi networking. Instruktif menjadi partisipatif. Berdasarkan trend ini, bahwa manajemen pendidikan sejak tahun 1999 terjadi pergeseran dari sentralistik menjadi desentralistik. Yang semula manajemen pendidikan dasar dan menengah secara terpusat bertumpu pada kementerian pendidikan nasional, berubah menjadi bertumpu pada birokrasi kabupaten/kota dan belakang ini untuk pendidikan menengah di birokrasi propinsi.

    Perubahan model manajemen pendidikan ini setidak-tidaknya mengikuti trend manajemen secara umum, global dan mengikuti kebijakan publik bahwa urusan pendidikan termasuk yang diotonomikan. Walaupun bidang pendidikan tinggi masih cenderung sentralisasi, terutama PTN satker dan semua urusan pendidikan di bawah Kementerian Agama (mulai dari Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah sampai dengan Perguruan Tinggi).

    Menurut hemat kami ada beberapa persoalan yang muncul di dalam praktek otonomi pengelolaan pendidikan. Pertama, Pemerintah yang mestinya hanya membuat kebijakan umum, panduan umum pelaksanaan program, pembuatan pedoman teknis, dan monitoring-evaluasi, tetapi masih meng-eksekusi berbagai kegiatan dengan atas nama bimtek, pemberian hibah dsb, yang tetap melibatkan banyak orang, sehingga hadirnya kebijakan otonomi tidak mengurangi sedikitpun staf di pusat. Dengan berkurangnya program dan kegiatan di pusat, maka anggaran 20% di pusat dinilau terlalu banyak.

    Kedua, bahwa cakupan tugas pokok dan fungsi di kabupaten kota sangatlah banyak. Dengan kegiatan yang banyak dan anggaran yang 20% itu sangat terbatas, sehingga demi kualitas pendidikan, di beberapa daerah anggaran pendidikan ada yang 50% bahkan 65% atau lebih. Bahkan banyak terjadi anggaran kabupaten/kota sebagian besarnya untuk sektor pendidikan. Walaupun pada prakteknya masih jauh dari kebutuhan untuk mendongkrak kualitas pendidikan.

    Ketiga, desentralisasi pendidikan diharapkan penanganannya profesional, namun kenyataannya lebih politis, sehingga tidak ada jaminan birokrat pendidikan itu memiliki kecakapan profesional bidang pendidikan. Bahkan kepala sekolah yang tidak sekubu dalam pilihan kepala daerah dengan pimpinan daerah cukup banyak yang dimutasi ke tempat yang lebih sulit. Kondisi ini membuat KS dan guru kurang ada keberanian untuk berinovasi.

    Keempat, penanganan guru yang desentralistik kurang memotivasi untuk pembinaan karir guru. Akibatnya peningkatan kualitas mutu pendidikan tidak mudah dilakukan. Dinamika guru tidak terlalu nampak. Sharing pengalaman guru antar daerah terbatas. Mutasi guru ke daerah lain tidak mudah dilakukan.

    Kelima, manajemen berbasis sekolah tidak berjalan efektif dan hampir tidak ada gaungnya. Hal ini disebabkan kepala sekolah kurang mendapatkan hak otonominya, sehingga tidak terjadi pemberdayaan yang sepenuhnya. Padahal Kepala Sekolah dan Guru seharusnya memiliki otonomi, terutama otonomi akademik untuk membuat sekolah meningkat kualitas dan reputasinya.

    Keenam, MBS menghendaki partisipasi orangtua dikelola melalu Komite Sekolah. Memang benar dengan Komite Sekolah dapat melinatkan berbagai stakeholder. Namun sangat disayankan keterlibatan orangtua menjadi berkurang. Orangtua merupakan bagian kecil dari Komite Sekolah. Karena itulah pelan-pelan bisa terjadi pengabaian kepentingan orangtua untuk pendidikan anaknya. Padahal hal inilah yang paling pokok.

    Ketuju, manajemen pendidikan madrasah mengalami dilematis, di satu sisi secara sentralistik karena mengikuti pengelolaan sektor agama, di sisi lain dalam pengelolaan akademik tidak ada lindungan konstitusi untuk menjamin manajemennya secara desentralistik. Padahal misi reformasi pendidikan perlu pengelolaan pendidikan secara desentralistik.

    Itulah di antara beberapa persoalan yang terjadi dalam implementasinya. Namun di luar itu, sebenarnya otonomi itu tidaklah bersifat mutlak. Sebab,kita harus menjaga NKRI tetap utuh dan tak boleh tergoyahkan sedikitpun. Untuk itu sistem desentralisasi harus diimbangi dengan sistem sentralisasi. Harus dijaga keseimbangannya. Ikatan nasionalisme dibangun dari nilai-nilai nasional, kebijakan dan program berorientasi nasional, penetapan standar nasional pendidikan dan parameter penilaian pada tataran nasional dengan tetap mempertimbangkan keunikan daerah. Demikian juga otomomi pendidikan perlu juga mempertimbangkan kepentingan nasional. Dimungkinkan juga terjadi sharing dan saling memberdayakan antar daerah untuk membangun dan menguatkan NKRI.

    Demikianlah seharusnya manajemen pendidikan yang idealnya dilakukan, yang tidak hanya mengadopsi secara mentah-mentah sistem desentralisasi, melainkan implementasinya harus dikontekstualisasikan dengan kepentingan nasional dalam keseimbangan dengan kepentingan sekolah dan daerah. Semuanya di-frame dengan visi bersama, membangun keunggulan sekolah, daerah, dan nasional. Semoga.


    Yogyakarta, Rabu, 18/04/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Politik Gagasan? (Yes), Money Politik? (No)!

    Muhammad Nur Dirham.
    PEWARTAnews.com -- Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diangap modern pada abad ini, seiring dengan perkembangan sistem pemerintahan dan demokrasi berjalan semakin eksis sebagai sistem pemerintahan yang familiar. Demokrasi yang mengatas namakan pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat itu memang cendrung akan menghasilkan keseimbangan dalam pembagaian kekuasaan. Momentum pesta demokrasi dalam rangka pemilihan umum legislatif baik tingkat Pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota yang bersamaan dengan pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden tinggal dalam hitungan hari tepatnya pada tanggal 17 April 2019, masyarakat Indonesia akan menggunakan hak pilihnya untuk menentukan anggota legislatif maupun Presiden dan Wakil Presiden untuk periode lima tahun kedepan.

    Pada setiap hajatan demokrasi dalam konteks pemilihan umum banyak unsur yang terlibat didalamnya mulai dari penyelenggara, pengawas dan juga pesertanya. Kesuksesan dari penyelenggaraan pemilihan umum membutuhkan komitmen dari semua stakeholder tersebut untuk bersama-sama menjadikan pemilihan umum berjalan dengan jujur, adil serta bebas dan rahasia dengan menghasilkan individu-individu yang mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat, dan mengimplementasikanya dalam bentuk kerja nyata untuk kemaslahatan masyarakat luas. Dalam setiap momentum hajatan demokrasi, masyarakat selalu disuguhkan dengan perilaku yang menciderai nilai luhur demokrasi itu sendiri yang salah satunya adalah money politik (politik uang), dan baru-baru ini pada banyak media merilis berita tentang operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK pada calon anggota legislatif dengan barang bukti berupa uang yang sudah dikemas rapi dalam 400 ribu amplop yang berisi uang yang diduga untuk dipakai serangan fajar dalam perhelatan pemilihan umum tanggal 17 April 2019. Rilis berita tersebut hanya salah satu contoh dari sekian banyak kemungkinan modus politik uang yang bisa saja dilakukan oleh anggota legislatif kepada masyarakat sebagai pemilih dan bukan tidak mungkin juga kepada para penyelenggara, pengawas dan lainnya.

    Untuk tidak melakukan politik uang dengan niatan merawat demokrasi secara baik maka perlu komitmen yang tinggi kepada semua pihak dengan berpedoman pada peraturan perundang-undang serta aturan lain yang mengatur tentang pemilihan umum baik pilkada, pemilihan umum legislatif dan pemilihan Presdien dan Wakil Presiden, lebih lebih kepada peserta pemilu agar bisa mengedepankan kedewasaan berpolitik dengan adu gagasan, melakukan pendampingan politik kepada masyarakat pemilih agar terhindar dari politik transaksional dan pragmatis, bukan malah sebaliknya menampilkan wajah politik yang menciderai nilai dan esensi dari demokrasi. Melakukan politik uang dan atau tindakan lain yang menciderai dan melanggar prinsip-prinsip berdemokrasi bukanlah satu-satunya cara untuk meningkatkan elektabilitas dan atau tingkat keterpilihan para kontestan politik hari ini dan pada kenyataannya itu merupakan cara kotor dan tidak dapat dibenarkan, sebaliknya banyak alternatif lain yang bisa menjadi prioritas untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk memilihnya semisal pendekatan emosional, kultural, dan jejaring yang ada tanpa harus berpolitik uang, intimidasi dan lainnya dengan satu tujuan bahwa untuk meyakinkan masyarakat tentu harus dengan politik gagasan artinya setiap individu yang berlaga pada kontestasi politik harus berbasis pada ide dan gagasan dengan pandai melihat, merasakan apa yang menjadi harapan agar kehidupan masyarakat lebih baik.

    Pada bagian akhir tulisan ini, penulis mengutip hasil penelitian Amarru Muftie Holish dkk dalam kesimpulan menyampaikan Praktik money Politik dengan bentuk dan tujuan apapun adalah pelanggaran yang dikenakan sanksi Pidana yang tertera dalam Undang Undang. Bagaimanapun pengawasan terhadap Peserta Pemilu oleh lembaga yang berwenang haruslah dilaksanakan untuk menciptakan kebersihan dari penyelengaran demokrasi yang langsung Umum bebas dan rahasia, selain itu pula penyuluhan dan pencerdasan kepada masyarakat pun dibutuhkan untuk mengurangi pelangaran money politik dikarenakan pengetahuan masyarakat yang rendah pula menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pelanggaran money politic marak terjadi dikalangan Masyarakat Indonesia. (Amarru Muftie Holish dkk, dimuat pada jurnal Fakultas hukum Unnes Volume 4 Nomor 2 Tahun 2018).

    “Politik santun, politik gagasan, politik yang mendidik, mencerdaskan dan mencerahkan”



    Penulis: Muhammad Nur Dirham
    Caleg DPRD Kabupaten Bima 2019

    Penting Ikhtiar

    Prof. Rochmat Wahab.
    PEWARTAnews.com -- Pada hari ini, Rabu, 17 April 2019, adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari dilaksanakan Pemilu 2019 yang merupakan pemilu ke-13 dan terbesar dalam sejarah bangsa, karena dilakukan 5 pilihan secara bersamaan, yaitu Pileg Daerah Kab/Kota, pileg Daerah Propinsi, pileg Pusat/RI, pilihan DPD, dan Pilpres/wapres. Pro dan kontra mewarnai perjalanannya. Hajat demokrasi ini akan sangat berarti jika dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Juga secara profesional, terbuka dan objektif. Semoga berakhir dengan damai dan terjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Antara yang menang dan kalah dihimbau saling menghargai dan respek. Semuanya memerlukan ikhtiar yang sungguh-sungguh, karena ini menjadi kewajiban kita semua.

    Pemilu 2019 perlu disikapi dengan bijak. Untuk mengawal pemilu ini kiranya perlu mengacu kepada firman Allah swt, QS Al Imran:26-27, yang artinya: Katakanlah, Ya Tuhan yang memiliki segala kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut dari siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau muliakan siapa  pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    Kesuksesan hajat Pemilu sangat ditentukan      oleh ikhtiar. Bukan datang dengan sendirinya. Ikhtiar ini didasarkan atas firman Allah swt, yang pertama pada QS, Ar Ra’du: 11, yang artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ... Yang selanjutnya diperkuat dengan firman-Nya yang kedua pada QS. Di Al-Jumu’ah: 10 yang artinya: Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebarlah kamu di kmuka bumi, dan carilah karunia Allah dann ingatlah Allah banyak agar kamu beruntung.

    Di samping itu diperkuat dengan Hadits Rasulullah saw yang artinya: ...Sungguh jika sekiranya salah seorang di antara kamu membawa talinya (untuk mencari kayu bakar) kemudian ia kembali dengan membawa seikat kayu di punggungnya lalu ia menjualnya sehingga Allah mencukupi kebutuhanya (dengan hasil itu) adalah lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia baik mereka memberi atau mereka menolak. (HR. Bukhari). Baik kedua ayat Al-Qur'an maupun satu, matan hadits memperkuat betapa penting ikhtiar dalam menuju upaya mensukseskan Pemilu 2019

    Ikhtiar yang telah dilakukan, dapat  memberikan keuntungan, di antaranya sebagai berikut : (1) Merasakan kepuasan psikologis, karena telah berusaha  dengan sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, (2) merasa terhormat di hadapan Allah dan sesama manusia, (3) dapat berhemat karena merasakan susahnya bekerja, (4) tidak orang yang mudah berputus asa, (5)menghargai jerih payah sendiri dan jerih payah orang lain, (6) tidak menggantungjan diri kepada orang lain dalam hidupnya, dan  (7) menyelamatkan aqidahnya dan tidak (bebas) bertawakal kepada makhluk.

    Tidak semua Ikhtiar, itu berhasil. Cukup banyak terjadi ikhtiar gagal yang tidak memberikan hasil yang memuaskan, maka dari itu dalam berikhtiar kita melandasi setiap ihktiar dengan ikhlas, kita harus bersungguh-sungguh, sepenuh hati, dan seoptimal mungkin, berkomitmen tinggi, bekerja keras, tidak mudah putus asa dan pantang menyerah.

    Untuk mewujudkan ikhtiar ternyata tindakan selalu mulus. Ada saja hambatan dan tantangan, di antaranya: (1) tujuan lemah. Tujuan lemah menjadikan motivasi lemah, berlanjut dengan tindakan lemah, (2) tidak fokus. Ikhtiar yang berwujud banyak tugas dan pekerjaan membuatnya tidak fokus, (3) termakan oleh kesibukan. Cakupan ikhtiar berupa kesibukan bekerja dan berbisnis, yang tidak bisa dikoordinasi dengan berujung menjadi hambatan, dan (4) kurang berdoa. Sehebat apapun ikhtiar, jika tidak diridloi Allah swt, maka tujuan tidak akan bisa dicapai.

    Implikasi ikhtiar untuk mensukseskan Pemilu 2019 pada hari dan seterusnya di antaranya adalah, (1) setiap warga yang berhak memilih meggunakan haknya di tempat yang sudah ditentukan baik sebaga pemilih utama atau pindahan, (2) Panitia mulai di TPS sd KPU Pusat bertindak netral, (3) Bawaslu, TNI, Polisi, dan Keamanan menjaga kelancaran dan netralitas pelaksanaan dan pengawasan penyelenggaraa pemilu di semua level, (4) Saksi untuk pileg, pemilihan DPD, dan pilpres/wapres menunaikan tugas dengan baik dalam proses pemilihan/pencoblosan dan perhitungan, (5) pelayanan warga yang memerlukan bantuan, baik yang  berkebutuhan khusus maupun yang sakit di RS dilakukan luber dan jurdil, (6) penetapan rekapan di Kecamatan, KPUD sampai dengan KPU Pusat dilakukan dengan benar, objektif dan bertanggung jawab, dan (7) semua kontestan baik Caleg maupun Capres/Cawapres, untuk hindari politik uang dan intimidasi, dan (8) penyelesaian  proses hukum dan penetapan hasil akhir dengan menjaga netralitas untuk dapatkan hasil yang terbaik.

    Setelah kita berikhtiar untuk sukseskan Pemilu sesuai dengan hak dan kewajibannya bagi pemilih dan tupoksi bagi panitia, maka kita betawakkal kepada Allah swt, semoga Allah swt melindungi dan meridloi kita semua, bangsa Indonesia. Semoga sukses dan tercipta perdamaian menuju Indonesia lebih baik di masa-masa mendatang. Aamiin.


    Yogyakarta, Rabu, 17 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Puisi-Puisi Karya Nurkurniati, Jarak dan Merdeka?

    Nurkurniati, S.Par.
    Jarak

    Tau apakah sajak yang pas buat jarak
    Tau apakah nada yang pas buat rindu
    Tidak, entah bagaimana jarak seakan mengolok, mengoyahkan rasa

    Setebal apa lagi tembok yang meski ku bangun
    Sekuat apa lagi mantra untuk menguatkan hati
    Menjelaskan kepada jiwa bahwa obat rindu tidak harus bertemu

    Warna senja seakan memberiku harapan akan datang malam yang penuh bintang
    Seakan mengisyaratkan bukan cuman aku yang selalu mendamba bintang ditengah gelap malam yang menemani sepi pun kau yang berada dibalik malam

    Setidaknya masih ada bintang yang akan aku titipkan rindu dan menyampaikan pada dia yang selalu ku tunggu dipenghujung hari

    Aku tidak suka rindu yang selalu hinggap yang kadang mencekam, yang selalu menuntut ingin kembali bersua

    Kadang rindu datang dengan mengelitik hati ketika tau jika bukan hanya aku saja yang merasa tapi juga dia yang juga sama atau mungkin lebih merindu.

    Kau tahu
    Ketika aku rindu, bertemu adalah yang akan selalu terlintas dipikiranku tapi ketika mungkin selangkah lagi kita akan sama menuju akhir harapku

    Tunggulah sebentar lagi
    Selangkah lagi saja
    Tidak akan lama
    Tidak akan dicekik lagi oleh rindu

    Kita akan sama sama bertemu ditengah kota, tempat kita saling melambai untuk berpisah dan bertemu lagi

    Dengan kebanggaan yang aku dan kamu perjuangkan
    Iya, kebanggaan yang menciptakan rindu yang siap mencekik kita tanpa ampun.

    Tapi sekarang kita akan bertemu
    Jarak tidak akan mengolok kita lagi
    Dan rindu tidak akan menjadi keluhan lagi.

    Yogyakarta, 26/03/2019


    Merdeka?

    Merdeka kah?
    Apa merdeka itu tetap berkibarnya sang merah putih?
    Apa merdeka karena kita masih melihat terbitnya matahari di pagi hari?

    Merdeka kah?
    Apa karena semboyan kita 'bhineka tunggal ika' kita jadi meresa merdeka?
    Apa karna semboyan kita 'NKRI harga mati' cukup membuat kita merasa merdeka?

    Lalu jika bukan itu, kemudian apa?
    Penjara si kaya dan si miskin berbeda ? Itukah merdeka ?
    Si kaya beralaskan kasur empuk dan si miskin beralaskan lantai dingin penjara, itu kah merdeka ?

    Kemudian apa lagi?
    Perampok negara memiliki fasilitas seperti di hotel bintang lima!
    Perampok ayam makan aja pake sayur kangkung lengkap dengan dinginnya lantai dan dinding penjara

    Sebenarnya apa itu merdeka?
    Bebas berpendapat?
    Dari rakyat untuk rakyat?
    Yang aku tau dari hak rakyat untuk kepentingan perindividu-individu yang tidak tahu diri dengan seenaknya mengklaim hak orang lain!

    Coba renungkan
    Apa merdeka adalah dengan menulikan telinga dari jeritan-jeritan rakyat miskin?
    Apa merdeka adalah dengan menutup mata dari mereka yang membutuhkan uluran tangan dari pemimpinya?

    Lalu jika semua itu bukan!
    Bisa tolong engkau jelaskan kepadaku apa sebenarnya merdeka itu, dan bagian mana dari Indonesia yang sudah merdeka!!

    Wahai kau tuan yang memakai dasi licin
    Wahai kau tuan yang memakai fantovel mengkilat
    Engkau yang selalu mengagung-ngagungkan kemerdekaan!
    Engkau yang selalu menyorakkan kemerdekaan!

    Bagian mana sebenarnya Indonesia yang merdeka?

    Yogyakarta, 26/03/2019

    Karya: Nurkurniati, S.Par.
    Alumni Sokolah Tinggi Ilmu Pariwisata (STIPRAM) Yogyakarta / Eks Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Misedukasi

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.

    PEWARTAnews.com -- Setiap anak berhak tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi dan kondisinya. Pada kenyataannya, tidak semua anak memperoleh haknya secara memadai, sebagai konsekuensi logis dari tindakan misedukasi. Karena semua anak didorong untuk menjadi “superkid”, baik di bidang akademik, seni, maupun olahraga. Bahkan ditemukan bahwa sejumlah orang tua berobsesi menjadikan anaknya  sebagai juara, sehingga kadangkala orangtua terpaksa berbuat tidak sportif dan curang untuk menjadikan anaknya sebagai juara dengan melakukan pendekatan dengan juri, terutama untuk bidang yang tak terkur. Di samping itu akhlaq juga belum menjadi concern banyak orangtua. Padahal tidak semua anak bisa tampil hebat dan setiap anak harus bermoral dan berakhlaq yang terpuji.

    Misedukasi terjadi ketika materi pendidikan yang disiapkan dan diberikan itu salah dan terjadi pada waktu yang salah pula. Materi pendidikan yang diberikan pada saat anak belum matang, ketika kondisi fisik dan mentalnya belum siap. Belum lagi soal penanaman nilai terabaikan. Demikian pula setting yang diciptakan belum kondusif dan supportif, sehingga tidak terjadi proses pendidikan yang natural.

    Salah satu akibat dari misedukasi dalam jangka pendek adalah stress pada anak. Anak merasa depresif karena tuntutan orangtua kadangkala di luar potensi dan cukup membebani. Adapun akibat jangka panjang misedukasi adalah timbulnya trauma psikologis dan fisik, yang bisa berakibat fatal untuk kehidupan anak selanjutnya. Bahkan bisa merusak harga diri (self esteem) anak dan hilangnya  sikap positif anak terhadap belajar. Anak merasa inferior dan tak memiliki gairah untuk belajar.

    Dalam konteks kehidupan era millenial, orangtua tidak boleh absen dalam proses pendidikan anak. Bahwa setiap anak menjadi warga natizen harus didik dengan bena, sehingga bisa menjadi agen perubahan, filter nilai dan beradaptasi. Tugas ini tidak mudah, karena itu orangtua harus mampu fasilitasi dan membimbing anak untuk bisa hidup pada jamannya. Orangtua harus wise dan tidak boleh melakukan misedukasi yang bisa berakibat fatal bagi masa depan anak. Semua aspek kehidupan anak itu penting, namun yang penting adalah menanamkan iman dan ajaran agama, sehingga anak bisa kuat fundasinyanya dan berkarakter.

    Strategi yang terbaik untuk mendidik anak adalah memberikan Pengasuhan dan Pendidikan yang sesuai dengan tugas perkembangan. Untuk itu setiap orangtua seyogyanya memiliki pengetahuan minimal tentang tugas perkembangan anak (fisik, bahasa, kognitif, dan moral). Dengan mengetahui tugas perkembangan anak, orangtua bisa melakukan scaffolding untuk bisa kawal anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Jika kita bisa wujudkan tindakan ini, maka kita bisa buktikan telah mampu memberikan pendidikan sehat (healthy and proper education).

    Anak adalah suatu amanah yang besar dan berat. Harus dipertanggungjawabkan kepada Allah swt. Untuk mewujudkan amanah itu, tidak ada pilihan yang lebih baik bagi orangtua, kecuali mendidik anak dengan baik dan benar, sehingga terhindar dari misedukasi. Orangtua perlu banyak membaca dan berinteraksi dengan orang lain, terutama ahli terkait bidang pendidikan dan psikologi, termasuk tokoh agama yang disegani.  Jika dimungkinkan sekali, perlu membangun sistem pengasuhan dan pendidikan yang benar dan sesuai (Developmentally Apropriate Parenting or Education). Memang tidak mudah untuk wujudkan pendidikan baik dan sesuai bagi anak-anak kita, yang penting kita terus berikhtiar menuju yang terbaik.


    Yogyakarta, 04/04/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



    FPPD NTB Laporkan Panitia Ajudikasi Pengerjaan PTSL di Kejari Raba Bima

    Suasana saat FPPD NTB Laporkan Panitia Ajudikasi Pengerjaan PTSL di Kejari Raba Bima, 8/4/2019.
    Bima, PEWARTAnews.com -- Selasa, 8 April 2019 Forum Pemuda Pemerhati Desa (FPPD) Nusa Tenggara Barat (NTB) melaporkan panitia Ajudikasi pada Pengerjaan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Desa Ngali, Desa Lido, Desa Soki, Desa Ncera dan Desa Diha yang diduga telah melakukan pemungutan liar sebesar Rp350.000 kepada Masyarakat pada PTSL melalui Program Prona tahun 2019.

    Berkas laporan Pengaduan Pungli tersebut diantar oleh Anwar Sadat, Muslim Akbar dan Nahrudin perwakilan dari FPPD NTB dan diterima oleh Nurhayati bagian Tata Usaha Kejaksaan Negeri Raba Bima.

    FPPD NTB menilai perbuatan itu bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria, Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dan Permen Agraria dan Tata Ruang Nomor 1 tahun 2017, Nomor 12 tahun 2017 dan Nomor 6 tahun 2018 tentang PTSL.

    Seluruh aturan tersebut menegaskan bahwa kegiatan Pendaftaran Tanah khususnya PTSL pembiayaannya sudah dibebankan di ABPN, APBD dan/atau DIPA.

    Artinya PTSL yang dilaksanakan tahun 2019 pada 5 (lima) Desa di atas sudah memiliki alokasi dana khusus dari Pemerintah.

    Laporan ini berawal dari hipotesis yang cukup meresahkan masyarakat karena tarif yang dilakukan oleh Panitia Ajudikasi PTSL dari masing-masing Desa tersebut berbeda-beda. Ada yang Rp150.000, ada juga Rp200.000 dan bahkan ada yang Rp350.000.

    Hal ini yang membuat kami selaku Pengurus FPPD NTB Merespon dan mempelajari, Melaporkan ke pihak yang terkait kebijakan tersebut dan kami menemukan banyak kejanggalan.

    Kesalahan yang cukup fatal bagi kami bahwa Panitia Ajudikasi PTSL menjadikan SKB 3 Menteri sebagai dasar acuan untuk memungut biaya Rp350.000 tersebut yang pada substansinya SKB 3 Menteri tersebut tidak ada kaitannya PTSL melalui program Nasional Agraria (PRONA) karena dalam UU No. 6 tahun 2018 cukup detail menjelaskan perbedaan PRONA/PRODA dan SMS yang semua itu memiliki acuan pembiayaan. 

    Acuan SKB 3 Menteri yang dijadikan landasan Panitia Ajudikasi PTSL tersebut bukan acuan untuk Program Nasional Agraria (PRONA) tetapi acuan itu sesungguhnya hanya mengatur Sertifikat Massal Swadaya (SMS) atau besaran biaya yang dibebankan kepada Pemerintah Daerah bukan kepada Masyarakat. Jadi Panitia Ajudikasi PTSL cukup keliru dalam memahami dan menerapkan SKB 3 Menteri tersebut dan dinilai sangat merugikan masyarakat dengan taksiran Rp 1.890.000.000.00 (satu miliar delapan ratus Sembilan puluh ribu). (Akhir)

    Messenger of Peace (Dalam Dua Pandangan Budaya)

    Nursuciyati.
    PEWARTAnews.com -- Kedamaian adalah tujuan hidup semua orang pada umumnya.

    Kedamaian dilihat dari kultur masyarakat jawa, mereka sangat peduli akan kedamaian tentu mereka selalu tau cara berdamai yang asyik dari suatu hal sekecil apapun. Sekarang, sangat berbanding terbalik dengan kultur masyarakat di kampung halamanku (Kecamatan Belo) mereka selalu menyuarakan tentang perdamaian tapi mereka selalu lupa cara berdamai sesungguhnya seperti apa keadaannya.

    Mereka berteman tapi sering lupa caranya untuk berteman
    Mereka berkeluarga tapi melihat satu sama lain seperti orang asing
    Pun, mereka hidup bersosial katanya. Yah mereka memang hidup bersosial tapi mereka lupa hakekat bersosial itu bagaimana keadaannya, dan seperti apa seharusnya.

    Beberapa tahun terakhir saya hidup di Jawa, saya selalu menemukan cara hidup yang benar-benar harus sesuai aturan, saya orang Bima dan saya tinggal di sini (Yogyakarta)  mau tidak mau saya harus bisa menjadi orang Jawa dihadapan mereka (orang Jawa) tetapi tanpa menghilangkan hakikat saya sebagai orang Bima. Itu artinya mereka selalu bisa menerima keadaan seseorang tetapi harus bisa mentaati keadaan dan aturan setempat yang otomatis sekaligus menyadarkan kita bahwa menghargai dan bermasyarakat dalam hal seperti ini sangat bisa dijadikan patokan dalam perdamaian itu artinya mereka selalu disiplin dalam hal aturan, apalagi dalam aturan kedamaian dan kenyamanan itu selalu menjadi yang utama.

    Sebenarnya orang Bima sangat bisa seperti ini, karena pada dasarnya sifat asli orang Bima adalah mau berbagi, mau menerima semua orang siapapun itu tanpa harus berpura-pura,  tanpa harus menjadi orang lain karena menjadi diri sendiri itu perlu katanya.

    Mungkin sifat dan suasana seperti ini masih ada tapi sudah mengikis oleh dinamika jaman karena kalau dilihat-lihat orang di kecamatan Belo khususnya sangat mudah terprofokasi oleh keadaan dan empati terhadap keadaan yang masuk.

    Oleh karenanya, Mari!! Bahu membahu kita budayakan budaya dasar orang Bima (Kambali Mbojo Mantoi), jadilah pelaku dalam sejarah kebaikan dan perdamaian untuk tanah leluhur kita.


    Penulis: Nursuciyati, SKM.
    Alumni Universitas Ahmad Yogyakarta / Eks Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Manajemen Stres

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar ekspresi stress pada seseorang. Umumnya stress itu dipahami sebagai sesuatu yang negatif, sehingga harus dihindari. Padahal secara konseptual atau empirikal stress kadang bersifat positif, karena sangat diperlukan. Karena itulah tulisan ini dirasakan lebih kena menggunakan manajemen stress daripada menangani stress. Bagaimana kita bisa menghadapi stress apapun jenisnya bisa bermanfaat dan berdampak baik untuk kita. Jangan sampai terjadi, stress negatif berdampak negatif terhadap diri kita sendiri, apalagi stress positif.

    Lazarus (1984) mengatakan bahwa “Stress is simply the body's response to changes that create taxing demands”. Pengertian ini memberikan indikasi bahwa stress itu sebagai kekuatan yang bisa menciptakan tuntutan yang membebani, baik yang bersifat negatif maupun positif. Stress negatif yang sering kita ingin hindari disebut distress dan stress positif yang sering kita kehendaki disebut eustress.

    Untuk memahami stress lebih detil, mari kita cermati karakteristik stress negatif dan stress positif.  Karakateristik stress negatif (distress) , diantaranya: (1) menyebabkan kecemasan, (2) bersifat  jangka pendek atau panjang, (3) dirasakan sebagai kemampuan mengatasi dari luar diri, (3) merasa tidak nyaman, (4) menurunkan kinerja, (5) dapat mengarahkan problem  mental dan fisik. Karakteristik stress positif (eustress) di antaranya: (1) memotivasi, (2) bersifat jangka pendek, (3)  dirasakan sebagai kekuatan dari dalam, (4) terasa menyenangkan, dan (5) memperbaiki penampilan.

    Uraian tentang karakteristik kedua jenis stress ini mestinya memberikan kemudahan kita dalam memahami stress. Namun pada kenyataannya, terjadi yang tidak kita kehendaki. Contoh kehadiran Ujian Nasional (UN) yang dirancang untuk memotivasi anak untuk bisa belajar dengan sungguh-sungguh, bergeser menjadi sesuatu yang mencemaskan. Akibatnya sempat muncul kebijakan akan menghilangkan UN. Padahal langkah ini belum tentu tepat. Mengapa, karena Global Competitiveness Indexes (GCI) pada ranking 36 pada 2017 turun menjadi 45 pada 2018. Kini sudah mulai terasa bahwa anak-anak tidak terlalu semangat untuk belajar, karena semangat kompetisi sehat dibangun. Untuk supaya tidak merugikan, maka eustress ini perlu dimanaj dengan baik.

    Contoh stress negatif yang harus dimanaj dengan baik, yaitu salah satunya adalah adanya kematian atau kecelakaan salah satu anggota keluarga yang sangat dicintai. Stress negatif ini wajar sekali berdampak negatif terhadap diri kita. Namun stress negatif ini bisa kita hadapi dengan memanfaatkan iman dan penguasaan agama kita sehingga bisa berdampak positi. Allah swt berfirman, bahwa setiap yang bernafas akan mati. Bahwa di antara akan diuji dengan rasa takut, lapar, hilangnya harta benda dan hilangnya nyawa, maka bersabarlah. Stress negatif ini tidak lagi menjadikan kita bersedih selama dalam waktu yang lama, melainkan dapat dihadapi dengan sabar dan cepat atas kesadaran beragama kita.

    Amy Moryn (2015) menawarkan sejumlah cara orang-orang untuk dapat menangani stress, di antaranya sbb:
    (1) They accept that stress is part of life.
    (2) They keep problems in proper perspective.
    (3) They take care of their physical health.
    (4) They choose healthy coping skills.
    (5) They balance social activity with solitude.
    (6) They acknowledge their choices.
    (7) They look for the silver lining.
    Berdasarkan cara-cara ini, semakin jelas dalam menghadapi stress, sangat bertumpu pada subjeknya.

    Ketepatan kita memanaj stress dapat berdampak terhadap kondisi kesehatan mental kita. Namun sebaliknya, jika kita mismanajemen terhap stress, dapat berdampak negatif terhadap kondisi psikis atau mental kita. Yang sering muncul adalah psikosomatis. Yaitu gangguan psikis  yang bisa berakibat terhadap kesehatan fisik. Akibat psikis terganggu, tidak bisa tidur dan makan dengan baik dan teratur. Lama-lama metabolisme tubuhnya terganggu. Akibatnya menderita sakit. Hal ini tidak bisa dibiarkan, karena akan berdampak panjang.

    Akhirnya kita sadari bahwa hidup kita ini penuh dinamika. Antara tuntutan dan kebutuhan hidup tidak bisa kita hindari menimbulkan stress. Jika kita bisa atasi stress secara tepat, maka kita akan selamat. Yang tidak hanya di dunia, melainkan juga sampai di akhirat. Perlu diyakini bahwa orang yang berhasil menghadapi stress dengan sabar, bersyukur, ikhlas, niat suci, do’a dan tawakkal, insya Allah hidupnya akan bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika kita gagal memanaj stress dengan baik bisa jadi kita  berbuat nekat, jahat, dan maksiat, sehingga hidupnya bisa sangsara baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah swt selalu membimbing hati dan melindungi hidup kita.


    Yogyakarta, 03/04/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



    Jangan Jadikan Agama sebagai Lacur Kepentingan Politik

    Fen Yasin Arfan.
    PEWARTAnews.com -- Kondisi dalam hidup bermasyarakat, jangan sampai terjadi transaksi jual beli agama demi kepentingan politik praktis, dan juga jangan sampai jadikan agama sebagai lacur kepentingan politik.

    Dalam Pandangan penulis selama ini masih ada oknum-oknum menjual agama demi uang dan kuasa politik, memang begitu tidak bisa dinafikkan yang seperti itu. Sebagai saluran aspirasi yang resmi, banyak juga oknum mengajak menerapkan ajaran Islam melalui dangdut koplo, nah itu perlu diprotes sebenarnya, namun para oknum tersebut sepakat dengan adanya hal-hal itu.
     
    Dalam Pandangan penulis ada tuduhan kejam berbagai pihak kepada para politisi muslim sebagai penjual agama amatlah janggal dan lucu. Seorang muslim yang berpolitik dengan menggunakan agamanya tidak serta merta menjual agamanya. Sebagaimana seorang komunis yang berpolitik dengan ideologinya tidak serta merta dapat dituduh sebagai menjual kekomunisannya dengan harga murah.

    Menurut penulis bahwa sesuatu yang wajar jika seseorang berpolitik dengan cara pandang Islam, sebab Islam memang memiliki cara pandang terhadap kehidupan, termasuk politik.

    Penulis, mengajak orang sepikiran sepemahaman untuk berpolitik bukan hal yang aneh. Justru itulah tujuan berpolitik. Seorang Muslim, berpolitik, mengajak muslim lain untuk menyampaikan aspirasi politik Islam melalui partai Islam, ya itu sesuatu yang sangat wajar. Kondisi yang tak wajar itu, seorang komunis mengajak para santri menegakkan syariat Islam dengan jalan memilih PKI. Itu tidak wajar karena dua hal. Pertama, PKI tidak memiliki program menerapkan syariat Islam. Kedua, PKI sudah bubar dan bangkrut, tak relevan lagi untuk diharapkan atau dilawan. Atau non-muslim yang kampanye di pesantren, penulis memandang itu suatu keanehan. Inilah yang menjadi harapan penulis agar umat Islam sadar dengan kezholiman yang terjadi di Indonesia.

    Menurut pantauan penulis selama ini, aspirasi politik Islam wajar disalurkan melalui partai Islam. Seseorang yang meminta dipilih dalam Pemilu oleh para santri dan muslim lainnya dengan alasan membawa aspirasi Islam, ketika di hadang badai maka pikiran selalu berubah untuk melakukan korupsi.

    Politik memang begitu dan diselenggarakan untuk itu. Sebagai saluran aspirasi yang resmi. Kalau seseorang mengajak menerapkan ajaran Islam melalui dangdut koplo, itu perlu di protes, dibubarkan saja, sebab merusak moral umat Islam dan Muslim Indonesia.

    Dalam pandangan penulis selama ini ada beberapa hal yang paling penting di lawan dengan kekuatan yang moral akan tetapi, hal inilah yang membuat kita menjadi rusak akibat ada orang yang membawa-bawa Islam tetapi setelah berkuasa justru jauh dari aspirasi Islam. Setelah berkua mangkir melakukan korupsi dan kawin lagi. Tidak amanah dan bahkan menjadi akrobat kekuasaan dan Bandit bandit korupsi maupun Menjadi penipu bagi Rakyat Indonesia.

    Banyak oknum ulama, oknum Kiyai, oknum ustad dan oknum politikus Islam mengkhianati umat demi kepentingan pribadi dan kelompok yang terorganisir. Inilah yang menjadi persoalan bagi penulis selama ini memantau persoalan politik umat muslim di Indonesia.

    Menurut penulis mereka bajingan yang memang pada dasarnya menjual ayat-ayat suci Al-Qur'an demi tahta dan gila terhadap kekuasaan maupun lacur kepentingan politik. Namun demikian, adanya politisi muslim yang brengsek tidak serta merta menjadikan semua politisi Muslim sebagai bedebah.

    Dalam Pandangan penulis bahwa tujuan politik Islam bukanlah kawin lagi dan korupsi. Korupsi dan kawin lagi bukan asas-asas maupun cabang politik Islam. Kalau ada politisi Islam yang begitu, ya itu cuma kelakuan oknum saja, namanya juga manusia. Mereka juga bukan sedang menjual agama mereka sebab agama bukan barang dagangan dan mereka bukan pedagang. Agama tidak ada harganya (bukan tidak berharga) dan tidak bisa ditakar dengan rumus-rumus ekonomi. Agama tidak di jual di pasar swalayan.

    Penulis harapkan untuk para politisi Islam agar mampu menerapkan sistem Politik Islam yang sesungguhnya bukan menerapkan sistem politik praktis dan politik kapitalisme dan neolib.

    Waktu tahun 2014 oknum ulama, oknum kyai dan oknum ustad mengatakan bahwa politik itu haram katanya, ketika di tarik menjadi menteri maupun kedudukan di dalam istana negara maka dia bungkam seperti pasukan Nasi bungkus. Apakah ini menjadi lacur kepentingan dan kebohongan maupun lacur menjual ayat-ayat Allah demi tahta dan kezholiman.

    Penulis sering melihat dan sering dengar ungkapan yang mengatakan “jangan membawa-bawa agama ke dalam politik!”. Dan lalu? Kita harus simpan-simpan agama? Ini juga keliru. Sesuatu yang bisa dibawa dan di simpan tentu saja sesuatu yang bisa terpisah dari kita. Seperti baju yang bisa kita pakai dan kita lepas. Atau batu yang bisa kita bawa atau kita buang. Atau juga istri yang bisa kita ajak atau kita tinggalkan. Tapi agama bukan baju, bukan batu, dan bukan istri.

    Agama tidak serta merta bisa dipakai, dibawa, diajak, dilepas, di simpan, atau ditinggalkan. Istri juga tidak serta merta bisa di simpan, dibawa, dipakai, dan di lepas. Agama, baju, batu, dan isteri merupakan hal-hal yang berbeda dan kita perlu menempatkan hal-hal itu pada kewajarannya. Kita tidak bisa menyimpan istri dan mengangkut agama. Atau mengajarkan batu dan mengajak pakaian.

    Penulis menegaskan kalau ada yang menjual agama, dia salah memahami agama, dan dia tidak memahami apa itu jualan. Sebab yang di jual itu biasanya semacam singkong dan beras. Orang memang bisa meraih keuntungan dengan memanfaatkan agama tapi kalau kita kemudian melihat agama seperti roti atau beras, itu jelas keliru.



    Penulis: Fen Yasin Arfan 
    Aktivis AMM Pemuda Muhammadiyah / Aktifis Anti Korupsi

    Trend Pendidikan Dasar

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Pendidikan secara konstan terus berubah dan melakukan reformasi sejalan dengan perubahan sosial yang terjadi. Terlebih-lebih pendidikan dasar harus mampu memberikan fondasi untuk pembaruan di masa-masa berikutnya, terutama dalam mengikuti dan merespon dinamika sosial yang sangat cepat.

    Amanda Holroyd (2018), Kate Barrington (2019) mengidentifikasi kecenderungan dan issu pendidikan dasar di antaranya sbb: (1) Duduk fleksibel. Dalam manajemen kelas, anak-anak di setting dengan duduk fleksibel, tidak permanen. Setiap pelajaran bisa duduk sendiri, berdua, bertiga, berempat atau seterusnya dengan bergantian pasangan. Karena itu bentuk kursi dan mejanya harus ringan dan kuat. Selain didukung oleh pojok atau pusat Bahasa, Matematika/Berhitung dsb. Diharapkan benar-benar kelas kondusif untuk efektivitan pembelajaran apapun.

    Kedua, Pentingnya bermain. Bermain adalah dunianya anak-anak. Bermain adalah bekerjanya anak, bekerja adalah bermainnya orang dewasa. Betapa penting bermain itu bagi bagi anak. Bernad Show telah membuktikan bahwa “we don’t stop playing because we grow old, we grow old because we stop playing.”  Bermain tidak hanya menyangkut aspek fisik, melainkan juga aspek, psikologis, emosional, sosial, dan mental.

    Ketiga, Belajar gagal. Bahwa gagal itu penting, terutama dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Untuk tumbuh dan berkembang diperlukan gagal, yang wujudnya diskontinu. Selama ini proses perjalanan anak berlangsung kontinyu TK  sampai Perguruan tinggi. Faktanya sangat diperlukan diskontinyu dari TK ke SD, SD ke SMP dan seterusnya. Pertumbuhan dan perkembangan anak SD dapat temui gagal, segar kembali, terus berubah dan sampai pada pembaharuan. Artinya bahwa gagal itu fitrah. Untuk itu ketika gagal, perlu disemangati untuk bisa bangkit kembali.

    Keempat, Cepat tidak berarti terbaik. Memberikan jawaban dalam waktu singkat dengan benar, bukanlah terbaik, karena hanya akan andalkan ingatan. Padahal jawaban benar dan lebih baik butuh waktu yang lebih lama karena diperlukan berfikir, mulai dari membuat pola berpikir, membuat koneksi dan diseminasi hasil berpikir.

    Kelima, Pertemuan pagi, terbaik untuk hari itu. Pertemuan pagi adalah cara yang efektif untuk mengatasi stress. Biasanya setiap hari,  anak harus menggunakan cara menangani stress. Dengan pertemuan pagi diharapkan bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan dialog serta sharing, tentang apa yang dimiliki anak berkenaan dengan pengetahian dan pengalamannya masing. Hal ini perlu dilakukan di awal jam pertama. Boleh juga disebut jam ke-0.

    Keenam, Belajar berbasis inquiry. Anak-anak dibiasakan dapat dibekali pertanyaan terbuka, bukan fakta. Karena itu diiharapkan anak-anak bisa menjawab dengan pengetahuan dan solusi. Untuk hal ini anak yang banyak dibantu lebih pertanyaan “Bagaimana Anak-anak mengetahui” daripada  “Apa yang Anak-anak ketahui.” Kegiatan investigasi sangat diperlukan.  Terumata untuk memgarah pada kemampuan pemecahan masalah sederhana.

    Ketujuh, Belajar berbasis  proyek. Pembelajaran diharapkan yang semula berorientasi kepada pemerolehan pengetahun saja menjadi pemerolehan keterampilan. Sesuatu yang sangat diperlukan di usia-usia awal. Bahkan kegiatan juga bisa dikembangkan belajar praktek (hand on learning). Pembelajaran dari learning by doing, hingga menjadi learning by making. Arah pembelajaran ini diarahkan untuk mengabtarkan ansk menjadi warga masyarakat yang inovatif.

    Kedelapan, Belajar kooperatif dan kolaboratif. Anak-anak pada usia ini sangat dipengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya oleh teman sebayanya. Karena itu pembelajaran kooperatif dan kolaboratif sangat diperlukan, sehingga kecakapan sosial anak tumbuh dan berkembang. Guru harus manfaatkan  kondisi ini.

    Kesembilan, Pendekatan belajar holistik. Pembelajaran tidak hanya difokuskan pada aspek akademik saja, melainkan juga aspek personal, emosional dan sosial. Terutama di suatu sekolah yang sekalipun, anak-anak dengan latar belakang sosial dan ekonomi berbeda, terutama ada yang kurang beruntung, perlu dilayani makan bergizi dan  tindakan terapi traumatik. Dengan harapan anak-anak yang kurang beruntung secara psikologis, kesehatan, dan ekonomi dapat ikuti prmbelajaran dengan baik.

    Memperhatikan kecenderungan dan issue pendidikan dasar, ada issu-issu penting lainnya yang perlu di-address dalam konteks di Indonesia. Kita samgat menyadari akan pentingnya penanaman pendidikan karakter sejak dini yang perlu diupayakan secara  lebih mantap untuk menuju pembentukan manusia seituhnya. Pendidikan karakter perlu dilakukan segregatif dan integratif dengan saling melengkapi. Selanjutnya pendidikan kultural dan perdamaian yang perlu dikenalkan sejak dini, sehingga terbangun rasa respek terhadap perbedaan individu yang notabene masyarakat Indonesia sangat majemuk. Terakhir perlunya pendidikan berbasis digital, karena generasi milenia harus aktif menjadi digital citizen. Mereka hidup dalam iklim digital. Literate digital menjadi suatu kebutuhan.

    Kita sangat menyadari pendidikan dasar dianggap biasa, akibatnya tidak dipandang ada masalah yang berarti. Padahal banyak persoalan yang muncul seiring dengan perubahan sosial yang terjadi sehingga terbangun suatu masyarakat yang relatif berbeda dengan masa silam. Sistem pendidikan dasar tidak bisa dibiarkan dan tanpa disentuh. Untuk itu beberapa issue yang perlu diketahui, difahami, dicermati, dan diktritisi para guru di pendidikan dasar, orangtua, dan para stakehoder lainnya, sehingga sistem pedidikan dasar benar-benar mampu memberikan landasan yang kuat, baik terkait tentang masalah akademik maupun non akademik.


    Yogyakarta, 01/04/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Sebuah Sair Ajakan Perdamaian Untuk Belo, Oleh Dicky Zulkarnain Ketua Umum FIMNY

    Dicky Zulkarnain.
    PEWARTAnews.com -- Sebuah ajakan perdamaian, karna kita adalah manusia dan anak dari seseorang yang bernama manusia. Teruntuk seluruh desa di Kecamatan Belo Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Kini taman Firdaus yang begitu indah sudah terombang ambing oleh kebudayaan modern. Budaya yang tidak mampu dicernai oleh generasi muda.

    Kini akal dan hati terhipnotis dengan lagu-lagu kekerasan. Kecamatan Belo yang dulu adalah taman bunga firdaus kini menjadi seperti Pandawa dan Kurawa.

    Oh... Leluhur dana Mbojo mambari lihatlah kecamatan yang kau rawat, kini makin lama makin tua.

    Wahai leluhurku kami merindukan sair-sair Kedamaian mu agar kami selalu dalam kerinduan saling kasih megasihi.

    Wahai leluhurku, dengarkanlah tangisan kami, siapa lagi yang menasehati kami kecuali suara tangisanmu.

    Wahai leluhurku... Lihat para orang tua, tokoh agama, pemimpin, pemimpin kaum muda kini menjadi penonton. Ditonton seperti tarian Wadu Ntanda rahi yang tidak ada yang bisa dipercaya.

    Para generasi tua tidak tahu apa yang  dilakukan sebagai orang yang dituakan, para toko agama tidak tahu arti alim ke ulamaannya, para pemimpin tidak tahu apa yang dipimpinnya, generasi muda tidak tahu kepemudaanya.

    Wahai leluhurku.... Kami rindu Kedamaianmu.
    Wahai leluhurku.... Kami rindu nasehatmu.
    Wahai leluhurku.... Kami rindu senyumanmu.
    Wahai leluhurku.... Kami rindu belaianmu.
    Wahai leluhurku.... Kami rindu kebersamaanmu.
    Wahai leluhurku.... Kami rindu ajaran kasih sayangmu agar kami menyatu dalam perbedaan kami yang begitu indah.

    Oh... Leluhur kecamatan Belo...
    Oh... Leluhur kecamatan Belo kami rindu kedamaian dan kedamaian Desa Diha, Ncera, Soki, Lido, Ngali, Renda...

    "Sujud syukur kami sekeluarga yang ada di Kecamatan Belo"

    Bulan yang penuh berkah kini kembali untuk menyucikan para Umat Muhammad Rasulullah Bin Abdillah, Nabi yang Ummih tatkala malam yang penuh gelap gulita bertafakur.

    Kerinduan yang menggelegar dengan awan yang putih mencium kening kami sekeluarga terbang bersama bidadari di negeri pelangi bertemu kepada kekasih Allah dengan bersujud syukur dengan ribuan tahun lamanya bersama Allah.

    Satukanlah kami dunia dan akhirat dengan para malaikat Allah, Para Nabi, Para Rasul, Para Sahabat, Para Aulia, Para Alim Ulama, Para Ahli Hadis, Ahli Tafsir, Ahli Sufi yang muhakikin, yang masih hidup ditaman firdaus.

    Kami merindukan kedamaian untuk kami sekeluarga yang ada di Kecamatan Belo Kabupaten Bima terutama Desa Ncera, Lido dan Ngali.


    Penulis: Dicky Zulkarnain
    Mahasiswa Bima Yogyakarta / Ketua Umum Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Trend PAUD


    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Belakangan ini Pendidikan Anak Usia Dini  (PAUD) menjadi kebutuhan bangsa Indonesia secara menyeluruh, apalagi munculnya kebijakan satu desa satu PAUD. Kinerja PAUD, ada yang bertaraf internasional, nasional dan lokal. PAUD ada yang dikelola oleh pemerintah dan yang dikelola yayasan serta organisasi berbasis nasional dan keagamaan. Untuk  menjadikan  PAUD bermutu,  maka perlu menyikapi Trend PAUD secara objektif  dan  kritis.

    Spreeuwenberg (2016) dan Jobes (2017) yang meng-address kecenderungan issue PAUD, di antaranya, (1) profesionalisme, kebutuhan kualitas pendidik; (2) immergence learning, materi pembelajaran yang diperlukan saat pembelajaran berlangsung, (3) innnovation, innovasi dan teknologi merupakan sentral PAUD di abad ke-21, (4) memperkecil jarak prestasi, memperkecil jarak prestasi akademik antara anak yang berbeda status sosial ekonomi, (5) prinsip-prinsip kegiatan di kelas, guru didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai inti dalam kelas.

    Selanjutnya perlu dijelaskan lebih rinci. Pertama bahwa kebutuhan pendidik profesional untuk PAUD perlu dilakukan terus menerus, mengingat pendidik PAUD di Indonesia dewasa jauh lebih banyak yang mismath, sebagai konnsekuensi sertifikasi pendidik PAUD yang berkuakifikasi S1. Setiap pendidik PAUD wajib melakukan perbaikan diri (self improvement). Kedua, kurikulum PAUD memang wajib diwujudkan, melainkan dalam prakteknya perlu dimodifikasi untuk menyesuaikan kebutuhan belum lagi mengikuti Developmentally Appropriate Programs dan Contextual learning, di samping Joyful learning.

    Ketiga, pemanfaatan innnovasi dan teknologi menjadi suatu kebutuhan juga untuk antar anak menjadi masyarakat inovasi. Demikian juga anak diajak mengenali dan memanfaatkan hasil innovasi dan teknologi informasi dan lainnnya  secara tepat, sehingga siap menjadi manusia aktif di era digital. Ansk anak menjadi objek saja, tetapi menjadi subjek. Keempat, untuk meraih prestasi akademik yang tinggi tidak bisa diabaikan peran lingkungan yang kondusif. Untuk mengurangi jarak prestasi akademik terkait dengan status sosial ekonomi orangtua, perlu sekali keberpihakan pemerintah untuk menfasilitasi pertimbuhan dan perkembangan anak, dengan memberikan jaminan makanan yang bergizi cukup, dukungan fasilitas belajar dan pakaian serta peralatan belajar dan uang saku untuk kepentingan sehari-haru, di samping transpirtasi yang diperlukan dalam mengikuti kegiatan pendidikan setiap harinya.

    Kelima, menyadari akan eksistensi anak sebagai individu yang utuh, maka pendidik didorong untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan kinestetik, emosi, bahasa, sosial, dan inteletual. Kegiatan pendidikan perlu dilakukan secara integratif. Di sinilah pendidik kreatif dan inovatif sangat diperlukan.

    Jika memperhatikan kecenderungan PAUD, dengan mengingat kebutuhan kita sebagai insan pancasilais dan religus, ada satu aspek yang belum di address yaitu aspek religius. Oleh karena itu insitusi dan pendidik PAUD perlu mengakomodasi pegembangan aspek religius. Apalagi fundasi karakter agama sangat strategis dalam kehidupan insan. Di samping itu juga persoalan multikultural, yang secara fitrah bangsa Indonesia yang beragam, berbhinneka tunggal ika. Anak perlu dikondisikan sejak dini untuk respek antar sema, respect each other. Semoga dengan upaya seperti ini bisa terbanguan rasa keutuhan keluarga, persaudaraan, persatuan dan kesatuan bangsa.

    Demikianlsh beberapa kecenderungan PAUD yang perlu diperhatikan san direspon, yang tidak oleh para pengelola pendidikan dan pendidik saja, melainkan juga yang jauh lebih penting  oleh orangtua sebagai pendidik pertama dan utama. Yang memiliki kepentingan dan  peran sangat menentukan kehidupan anak. Apalagi anak sebagai suatu amanah yang sangat besar dan penting dari Allah swt, yang harus  dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.


    Jakarta, 30/03/2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


    Pelukan Anak Ustad

    Nurwahidah Sales.
    PEWARTAnews.com -- Suara kipas terdengar nyaring. Jari tangan terasa kaku mengetik sebuah Novel Kecupan istri tetangga, yang kutargetkan selesai diakhir Desember tahun ini. Ah, aku merasa kurang fokus.

    Imajinasiku saat ini tidak bisa berfungsi secara normal, padahal pukul 23.00 Wita adalah waktu yang tepat untuk merangkai sebuah kata.

    Terpaksa untuk Malam ini, tidak menulis. Hatiku mulai tidak karuan. Bagaimana mungkin bisa menulis dengan baik jika bayangan Amri selalu menghantui. Amri adalah mantan penghianat.

    Seketika kubuang tubuh di atas pembaringan, ke dua bola mata menatap plafon kamar, yang sudah dimakan rayap. Sejak kecil hingga saat ini aku berumur 23 tahun, plafon tersebut tidak pernah dilakukan renovasi. Jika hujan turun pasti akan ada air yang berhasil menyorobos masuk.

    Sial, tiba-tiba rinai hujan terdengar berjatuhan di atap. Kutarik selimut warna biru. Wajah Amri masih membayang. Aku menutup mata.

    Tubuhku terasa bergetar, air hujan sudah meresap masuk ke dalam

    baju, aku tidak tahu dimana berdiri. Tempat ini sangat asing bagiku. Lutut pun bergetar lalu kutarik napas pendek, dari depan nongol sebuah Posko, lampunya pun redup.

    Aku berlari ke sana dipenuhi kebingunan. Tiba-tiba badan terasa hangat, ketika jaket hitam menempel dipundak. Penasaran, akhirnya menoleh ke arah kanan, mencari siapa pemilik jaket tersebut.

    "Amri?," kataku kaget. Aku spontan berdiri dan melemparkan jaket diwajahnya.

    Ia nampak kecewa dan menutup mulut.

    "Apa yang membawamu kemari? Setelah kau menikmati tubuhku lalu kau merasa tidak bersalah dengan meminang perempuan lain," kataku menahan isak.

    "Maafkan aku, Ita. Telah melakukan kesalahan besar kepadamu. Saat ini aku tidak bisa memaafkan diriku," kata Amri yang berusaha memegan tanganku.

    Aku memberontak.

    "Sungguh aku menyesal meminang perempuan pilihan orang tua," katanya lalu, merangkul tubuhku.

    Saat ini, aku tidak bisa bergerak banyak, meski sudah berusaha keras melepas dari genggamanya.

    "Tidak perlu ada penyesalan. Kau pikir setelah aku memaafkanmu, semuanya akan kembali seperti semula? Tidak Amri. Aku sudah cacat, harga diriku sudah tak berarti lagi dan saat ini tidak ada lelaki yang akan menjadikan aku sebagai teman hidupnya sebab aku tidak punya permata untuk dibanggakan ," kataku pelan.

    Hujan semakin lebat. Angin pun terasa kencang, pelukan Amri pun terasa kuat, hingga aku tidak bisa bernapas dengan normal. Aroma tubuhnya, masih terasa, sebuah aroma yang dulu hampir tiap hari tercium. Kini aroma dan pelukan ini sudah jadi milik orang lain.

    Aku menggigit bahu Amri. Ia pun melepas pelukannya dan menjerit kesakitan.

    "Sakit? sakit itu tidak sebanding apa yang kurasakan Amri," kataku mencoba menjaga jarak darinya, kakiku berjalan mundur kebelakang.

    "Kau perlu tahu, aku tidak sudi memaafkan seseorang yang pernah membuatku terluka," nadaku lentang.

    Aku segera menarik napas lalu menghembuskannya dengan berat.

    "Baiklah, aku akan menceraikan istriku, demi kau . Aku masih mencintaimu," kata Amri, bola matanya merah.

    "Perceraian, tidak akan mengubah semuanya. Jangan lakukan itu! Aku tidak lagi mencintaimu," aku menjawab dengan penuh kebohongan.

    Kuputuskan berlari meninggalkan Amri. Ia pun mengejarku dari belakang. Ke dua lututku semakin berat bergerak untuk melangkah. Suara Amri, menyebut namaku, menyuruh untuk berhenti.

    Ingus dan air hujan bersamaan masuk dimulut. Astagfirullah semuanya hanya mimpi, benar hanya mimpi, terlihat plafon kamarku basah, air hujan membasahi selimutku.

    ***

    Pukul 07.00 Wita, aku bersiap-siap menuju salah satu Sekolah SMP yang berlokasi di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sekolah tersebut, aku mengajar sebagai guru Bahasa Indonesia.

    Tiba di Ruangan, para murid kelas 3 SMP, menyambut dengan ucapan Salam. Mereka serentak mengatur diri lalu duduk dikursi. Aku hanya melempar simpul lalu memulai pelajaran. Aku tidak antusias mengajar, hatiku tidak karuan. Usai mengajar aku langsung menuju kanting dengan memesan pop mie dan segeas es teh.

    "Hey, kok melamun?," kata Risna.

    Risna adalah sahabatku sajak kuliah. Kini kami sama-sama jadi pekerja

    Aku, hanya mengunyah.

    "Kenapa sih hari ini,? Sepertinya ada masalah. Ayolah cerita!," bujuk Risna.

    "Aku benci hidupku," kataku.

    Wajah Risna penuh tanda tanya, ia menaikkan alis kiri.

    "Sudahlah. Kamu harus mengubur kenangan dengan Amri!, untuk apa mengenangnya jika telah membuatmu hancur," kata Risna dengan nada pelan.

    Tiba-tiba handphone samsung berdering. Panggilan ibu.

    "Assalamualaikum bu, ada apa," kataku.

    "Walaikumsalam. Ada hal penting yang akan kuceritakan," kata ibu.

    Risna berusaha menguping pembicaraan kami.

    "Ada kabar baik untukmu. Lusa kamu akan dilamar dengan anak dari seorang ustad dari Bantaeng," nada ibu terlalu bersemangat.

    "Apa?," bola mataku molotot.

    "Baiklah, ibu akan mempersiapkan semuanya ," kata ibu menutup telepon.

    Jantungku berdetak semakin cepat, keringat pun menetes di pipi. Aku berhenti mengunyah.

    "Aku tidak yakin, harus memulai dari mana Ris. Apa yang mesti kulakukan?. Setelah orang yang kucintai merusak perawanku lalu pergi. Kini ada lelaki dari keluarga baik, akan meminang. Bagaiamana mungkin ada lelaki baik akan tidur dengan perempuan pendosa sepertiku," kataku menahan isak.

    Risna mendekat lalu memberikan pelukan.

    "Sabar Ita, ini sudah takdir. Kau harus bisa melaluinya!,"kata Risna.

    ***

    Hari yang ditunggu telah tiba. Tepat pada tanggal 9 November 2018. Hari kebahagian di mata ke dua orang tua dan keluarga. Namun aku tidak. Hari ini adalah hari peperangan. Aku seperti prajurit lupa menggunakan senjata, akhirnya ditembak mati, benar adanya aku seperti sudah mati.

    Mati tak berdaya lagi demi mengiyakan permintaan orang tua.

    Wajahku sudah dipoles dengan bedak tebal dan gincu merah. Baju adat bugis pun sudah terbalut ditubuhku. Suara nyaring diruang tamu pun hampir membuat kupingku mau pecah.

    Beberapa menit lagi, lelaki baik itu akan datang. Aku tidak tahu seperti apa rautnya. Dulu waktu kuliah banyak lelaki yang mengincar dan ingin jadi kekasihku. Memang kuakui saat itu kalau soal pasangan harus pilih-pilih. Tentu harus gagah dan putih. Tapi saat ini aku tidak punya kekuatan apa-apa lagi untuk memilih.

    Aku hanya bisa pasrah menerima wajah lelaki baik itu, meski hidungnya besar, dan bibirnya tebal. Tapi apakah lelaki baik itu mau menerima wanita sepertiku?.

    Kenapa aku berada diposisi seperti ini? Kenapa yang datang adalah anak ustad, kenapa bukan anak preman saja. Aku membatin.

    "Ibu," kataku memanggil.

    "Iya, Nak, ada apa?," tanyanya.

    "Aku, belum bisa menerima kenyataan," kataku bergetar.

    Wajah ibu, yang dari tadi ceria kini terlihat kebingungan dan penuh kekhwatiran.

    Tiba-tiba suara mobil berhenti didepan Rumah. Para keluarga melakukan penjemputan di pintu masuk.

    Aku bernapas tipis. Benar adanya hari ini akan dilamar oleh lelaki baik. Aku menunduk mengigit bibir bawah.

    "Sikahkan masuk!," kata ibu kepada rombongan keluarga dari keluarga mempelai pria. Mereka masuk dengan duduk di Lantai yang dialasi tikar biru.

    Aku merasa lelaki baik itu duduk pas depanku. Tapi sangat berat untuk mengangkat dagu lalu menatapnya.

    "Maksud kedatangan kami, adalah untuk meminang putrinya atas nama Ita dengan anak bungsu saya, yang baru saja menyelesaikan S2 nya di Jakarta. Semoga Ita dan Irwan bisa disatukan menjadi keluarga yang menjalin ikrar suci," nada seorang laki-laki membuka dialog.

    "Insya Allah, kedatangan bapak dan rombongan kesini adalah perkara yang baik. Kami menerima lamaran tersebut," kata ibuku, penuh antusias.

    "Alhamdulillah," ucapan itu serentak tersengar diruang tamu.

    "Mampuslah," kataku membatin lalu

    mengangkat bokong sambil berlari menuju kamar.

    Kubuang tubuh di pembaringan sambari meraung-raung.

    "Apa yang membuatmu bersedih Ita," nada itu berasal dari pintu kamar.

    Aku mencoba mengamati suara itu, akhirnya berdiri dan menoleh ke arah pintu.

    "Kak Irwan, apa yang kau lakukan disini," bola mataku hampir loncat satu per satu. Melihat lelaki baik ini memakai baju jas hitam.

    Irwan adalah senior waktu SMA di Bulukumba.

    "Iya, Ita. Pasti kamu heran denganku,?sejak SMA, aku menyukaimu. Tapi aku tidak punya nyali mengatakannya, sebab banyak saingan, di sisi lain pasti kau akan menolakku. Tapi hari ini kubukitikan rasa suka itu dengan keseriusan, meski hampir enam tahun memendangnya," kata Irwan

    Aku hanya melongo.

    "Semua tentangmu, telah kuketahui dengan bantuan Risna yang sudah menceritakan semuanya. Ia bercerita bagaimana Amri, memperlakukan kau dengan sebuah kehancuran. Meski begitu itu kau tidak perlu membencinya terlalu dalam," kata Irwan perlahan mendekat.

    "Tapi kak, aku tidak pantas untukmu. Lelaki baik harus mencari wanita baik pula," kataku melemah.

    "Bukanlah manusia pernah berbuat dosa? Tidak ada yang sempurna. Meski kau sudah cacat aku tetap mencintaimu Ita," kata Irwan.

    Kata-katanya, membuatku dingin. Aku segera berlari memeluknya.

    "Lepaskan Ita!, kita belum muhrim," Irwan berusaha menolak.

    "Aku tidak peduli," kataku.


    Selayar, 18 November 2018
    Tentang Penulis:
    Nurwahidah Saleh Asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, telah menerbitkan Novel Oleh sebab perjanjian kakekmu. Ingin berkenalan dengan ida? Silahkan Follow medsosnya fb Nurwahidah Saleh.





     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website