Headlines News :
Home » » Bedah Buku dan Diskusi Pendidikan Madzhab Kritis Karya Agus Nuryato

Bedah Buku dan Diskusi Pendidikan Madzhab Kritis Karya Agus Nuryato

Written By Pewarta News on Jumat, 26 April 2019 | 21.25

Susana Diskusi Pendidikan Madzhab Kritis Karya Dr. Agus Nuryato, M.Ag.
PEWARTAnews.com – Tulisan ini merupakan dasil dari kegiatan Bedah Buku dan Diskusi Pendidikan Madzhab Kritis Karya Dr. Agus Nuryato, M.Ag dengan Pemantik Master Achmad Zukhruf Al Faruqi (Ketum HMI Komsat Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Dr. Agus Nuryatno (Alm) merupakan salah satu dosen Kependidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang meninggal di Jerman, diusia yang masih tergolong muda. Meski jasad beliau telah tiada, namun pemikiran dan kontribusinya dalam dunia pendidikan masih selalu dijadikan referensi dan bahan diskusi bagi kalangan akademisi, politikus maupun gerakan aktivis mahasiswa. Selain itu, tabiat dan cara mengajar (mendidik) beliau sampai detik ini masih terus mengilhami alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam mewarnai dunia pendidikan yang adil, ramah, humanis, toleran dan inklusif sehingga transformasi pendidikan tidak hanya didasarkan pada transfer of knowledge namun transfer of values dengan mengedepankan pada eksistensi peserta didik. Maka tak heran apabila beliau sebagai dosen tidak pernah mempesoalkan bagaimana penampilan (pakaian, rambut, fisik) mahasiswa, bahkan absen pun tidak pernah beliau hiraukan. Upaya yang terpenting adalah mahasiswa ‘membawa’ pengetahuan dan aktif diruang kelas. Sehingga beliau selalu menekankan bahwa ilmu yang didapat diruang kelas maksimal hanya berperan 20% dalam memberikan kontribusi dalam kehidupan, untuk itu mahasiswa harus aktif mencari di luar kelas yang dapat ditempuh dengan beberapa hal, bisa dengan membaca, research, ke perpus, toko buku, ikut seminar, maupun ikut organisasi.

Dengan latar belakang beliau yang seperti itu, beliau menuangkan ide, gagasan dan kritik konstruktifnya terhadap dunia pendidikan Indonesia dalam buku Pendidikan Mazhab Kritis. Dalam buku tersebut, beliau mengatakan bahwa dunia Pendidikan Indonesia masih diwarnai dengan ketidakadilan yang menyengsarakan kaum mustad’afin, pendidikan yang penuh dogmatis, serta pendidikan yang melanggengkan sttaus quo yang berimplikasi pada penjajahan mental dan intelektual, sehingga kesadaran dan nalar kritis peserta didik terhambat. Pendidikan Indonesia yang seharusnya “Mencerdaskan kehidupan bangsa” belum terealisasikan secara optimal. Hal ini dapat dilihat dari, Pertama PPDB (pendaftaran Peserta Didik Baru) yang hanya menerima anak-anak yang nilainya tinggi dengan dibuktikan pada hasil ujian atas nama ijazah. Kedua, Pendidikan sulit diakses bagi kalangan menengah ke bawah. Ketiga, Kurikulum Pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Keempat, Pendidikan dogmatis yang menghambat nalar dan kesadaran kritis peserta didik. Kelima, Pendidikan yang diajarkan hanya secara normatif. Atas dasar itulah, pendidikan harus melakukan upaya transformatif yang revolusioner dengan menerapkan kesadaran kritis kepada peserta didik.

Pendidikan Kritis adalah pendidikan yang berbasis kesetaraan, keadilan sosial, kebebasan dan pembelajaran yang berbasis pada konteks, realitas dan problem sosial. Dalam kaitan ini, pemantik memberikan ilustrasi terkait dengan mata pelajaran Matematika, bahwa guru jangan hanya mengajarkan terkait dengan penjumlahan, pengurangan, perkalian dll namun harus diselipi dengan problem sosial, seperti menyajikan kasus penjumlahan dan pengurangan dengan memberikan values misalnya, gaji DPR 20 juta, untuk membiayai pendidikan anak-anaknya 3 juta, untuk kebutuhan sehari-hari 3 juta, berapa sisanya? Kemudian, guru juga harus menekankan sebuah pertanyaan kritis, dengan gaji yang lumayan banyak tersebut, mengapa mereka masih ada yang korupsi? Begitu halnya dengan mata pelajaran yang lain, seharusnya berbasis pada konteks dan problem sosial, agar peserta didik dapat berpikir kritis lalu mempunyai kesadaran untuk ikut andil dalam menyelesaikan persoalan disekitarnya. Pembelajaran yang hanya sekedar transfer of knowledge hanya akan melahirkan manusia-manusia pecundang, gagap mental dan acuh terhadap persoalan masyarakat, maupun bangsa.
Bahkan dalam realitanya, Pendidikan Islam masih diajarkan secara normatif (tekstual) dan dogmatis. Akibatnya, banyak orang yang shalih secara vertikal namun kurang peka terhadap realitas sosial. Betapa banyak orang yang taat beribadah, namun tidak memiliki kepedulian sosial, betapa banyak terpelajar yang paham agama namun masih korupsi? Betapa banyak orang yang mengetahui sebab-akibat kehidupan, namun masih menindas kaum lemah (mustadh’afin)? Serta betapa banyak lembaga pendidikan yang mengintervensi masa depan peserta didiknya? Padahal, manusia merupakan makhluk yang bebas menentukan pilihan hidupnya. Manusia dibekali Tuhan Esa dengan berbagai macam potensi, yang hal tersebut seharusnya pendidikan mampu mencover potensi-potensi tersebut sesuai dengan kesadaran naluriah dan alamiah peserta didik. Di ruang-ruang kelas, masih banyak pendidik yang mendikotomikan ilmu dan profesi. Seperti misalnya, saat siswa menyampaikan cita-citanya ingin menjadi petani. Tanpa disadari, mungkin (kita) menganggap bahwa profesi tersebut kurang bermartabat, lalu kita arahkan untuk menjadi dosen atau guru atau profesi-profesi lain dibawah naungan pemerintah (PNS). Dalam hal ilmu, masih banyak pendidik yang mendikotomikan antara ilmu umum dan agama, padahal muara ilmu itu satu dan saling berkorelasi sehingga saling berintegrasi-interkoneksi.

Membahas tentang problematika pendidikan di Indonesia sangat-lah kompleks, karena pendidikan Indonesia saat ini menganut ideologi kompetisi. Sebagaimana kasus-kasus yang telah diuraikan diatas, tentang permasalahan proses pembelajaran, pendidikan yang humanis dan toleran serta berbasis kebebasan tidak bisa jika hanya dilakukan secara individual, namun harus dilakukan secara kolektif (kesadaran kolektif) dengan mensinergikan langkah, menyatukan tujuan dan meyakini ideologi (prinsip) yang akan dilakukan merupakan prinsip yang dapat membawa perubahan yang jauh lebih baik.


Yogyakarta, 16 Maret 2019
Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website