Headlines News :
Home » , » Belajar Dari Karakter Syeikh (Part 1)

Belajar Dari Karakter Syeikh (Part 1)

Written By Pewarta News on Selasa, 02 April 2019 | 02.25

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Ada catatan lain yang sangat penting dari Syeikh Abdul Qadir Jailani yang perlu kita renungi dan miliki. Bahwa Syeikh untuk mulia hidupnya,  karakternya meniru Allah swt dan hamba-hamba-Nya yang sangat terpilih. Karena begitu berartinya karakter-karakter itu, maka dalam batas tertrntu kita bisa renungkan dan implementasikan dalam hidup kita.

Syeikh Abdul Qadir Jailani berkata, "Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali dia memiliki dan menampilkan 12 karakter  yang  didapat dari  Allah, Rasulullah, dan para sahabat  Khulafaur Rasyidiin. Pada kesempatan kali ini akan disampaikan karakter dari Allah swt dan karakter dari Rasulullah saw, sedangkan karakter dari Khulafaur Rasyidin akan disampaikan pada posting berikutnya. Secara detil bisa diikuti sebagai berikut:
(1)  Dua karakter dari Allah yaitu syeikh menjadi seorang yang sattar (menutup aib) dan ghaffar (pemaaf). Kedua karakter ini sungguh berarti bagi Syeikh sebagai manusia yang memiliki potensi berbuat salah dan lupa. Potensi ini yang menyebabkan Syeikh bisa terjebak perbuatan aib (buka aurat dan berbuat maksiyat) dan perbuatan salah atau dosa.

Untuk dapat melindungi Syeikh yang tempat berbuat  salah dan dosa, Syeikh wajib menutupi aib (...Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat)." (HR. Muslim). Di samping itu syekh harus mudah memaafkan kesalahan. (Jika kamu membuat suatu kebaikan atau  menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (HR. Bukhari). Dalam konteks ini syekh utamanya wajib menjaga aib orang lain, apapun bentuknya. Demikian juga Syeikh bisa kendalikan diri untuk bisa memaafkan orang lain sebesar dan sebanyak apapun kesalahannya.

(2) Dua karakter dari Rasulullah saw, yaitu Syeikh itu penyayang dan lembut. Kedua karakter ini memang sangat penting dan bermanfaat dalam kehidupan. Begitu pentingnya karakter penyayang yang harus dimiliki Syeikh, Allah swt menempatkan sifat penyayang Tuhan pada awal-awal ummul Qur-an. Bahwa “Segala puji hanya bagi Allah yang mendidik seluruh alam. Yang Maha Pengasih lagi Penyayang”.  (QS Al Fatihah: 2-3). Demikian juga Rssulullah bersabda “Barang siapa yang tidak mengasihsayangi maka tidak akan dikasihsayangi” yang matannya berbunyi Man laa yarham laa yurham, (HR, Bukhari).

Demikian juga Syeikh harus menunjukkan akhlaq mulia, baik ucapan yang lembut maupun perilaku yang terpuji. Inilah spirit dari Allah swt. “Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu” (QS. Ali Imran : 159)

Sebenarnya bukan hanya Syeikh saja yang memerlukan empat karakter baik ini, melainkan kita semua sebagai insan, dengan segala ragam profesi, status sosial dan ekonomi, tingkat pendidikan, dan tingkat keberagamaan, baik sebagai hamba Allah swt maupun sebagai khalifah fil ardhi. Kita harus bisa kendalikan diri kita untuk tidak mudah membuka aib orang lain. Hati kita untuk mudah memaafkan orang lain. Dengan tulus saling mengasihsayangi antar sesama. Berperilaku lemah lembut, baik ucapan maupun tindakan. Semuanya menjadikan hidup yang dilandasi nilai-nilai ilahi, bersinergi secara harmoni dan suasana damai.

Rujukan :
1. http://id.m.wikipedia.org
2. http://dalamislam.com
3.nuralnee.blogspot.com


Yogyakarta, 26/03/2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website