Headlines News :
Home » , » Belajar Dari Karakter Syeikh (Part 2)

Belajar Dari Karakter Syeikh (Part 2)

Written By Pewarta News on Rabu, 03 April 2019 | 02.38

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Kini kita melanjutkan karakter Syeikh yang diturunkan dari Allah swt dan Rasulullah saw. Berdasarkan Islam Sunni bahwa karakter Syeikh dapat diturunkan dari  empat Sahabat Rasulullah saw pertama yang sering disebut Khulafaaur  Raasyidiin yang artinya empat khalifah yang terbimbing dengan benar (oleh Allah). Pada dasarnya ada beberapa sifat mulia dari setiap sahabat, namun Syeikh cukup mengambil 2 karakter yang dianggap menonjol.

Untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu dari empat sahabat, di antaranya sebagai berikut:
(1) Dua karakter dari Abu Bakar Ashshiddiiq yaitu jujur (shiddiq) dan dapat dipercaya (amanah). Karakter jujur dan dapat dipercaya telah dimiliki oleh Abu Bajar sejak kecil. Diperkuat dengan keberanian membenarkan Rasulullah atas wahyu yang pertama diterima dan peristiwa luar biasa isra mi’raj yang dialaminya. Kebenaran imaniyah itu percaya dulu baru melihat (believing is seing) Sebaliknya bahwa kebenaran ilmiah itu lihat dulu baru prlercaya (seing is believing). Demikian juga kedua karakter ini yang selalu mewarnai dalam berdagang dan menjalankan penerintahan. Karakter Syeikh yang berupa jujur dan dapat dipercaya ini sangat penting dalam hidupnya, sehingga hidupnya respected dan diterima oleh ummat, karena kehadirannya tak meragukan. Bahwa dengan jujur dan amanah kita hadir di tengah-tengah masyarakat, insya Allah kita akan diterima dengan welcome.

(2) Dua karakter dari Umar bin Khaththab yaitu amar ma'ruf nahi munkar. Sifat loyal, tegas, dan tanggung jawab sangat memperkuat tugas penting Umar dalam amar ma’ruf dan nahi munkar. Syekh wajib menunaikan tugas utama dan siap amar ma’ruf untuk memperbanyak ummat. Selain itu juga tugas yang lebih berat melakukan nahi munkar. Tidak sedikit ulama’ pun tidak mampu menunaikan ini. Dua tugas utama ini juga ternyata juga tidak bisa kita abaikan. Allah swt berfirman “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..(QS, Ali Imran:110). Jadi kita bisa mengklaim sebagai ummat terbaik, jika kita bisa lakukan amal ma’ruf nahi munkar secara istiqamah sesuai dengan kemampuan dan kondisinya.

(3) Dua karakter dari Utsman bin Affan Utsman yaitu dermawan dan bangun tahajjud pada waktu orang lain sedang tidur. Utsman adalah saudagar kaya yang sangat dermawan. Beliau bahkan rela meninggalkan semua harta kekayaannya demi memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya yang memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke Habasyah dan Madinah. Demikian juga setiap malam tiada berhenti shalat malam dengan khatamkan baca Al Qur-an. Seorang Syeikh perlu ikuti jejak Utsma yang darmawan dan ahli ibadah. Antara hubungan vertikal dan horizontal terjaga dengan baik dan seimbang. Tentunya membangun relasi sosial pun didasarkan pada mengharapkan ridlo Allah swt. Kita juga demikan harus sudah menjadi kebutuhan untuk ikuti jejak Syeikh yang utamakan membangun hablum minallah dan hablum minan naas secara seimbang. Kita tidak bisa utamakan yang satu dan abaikan lainnya.

(4) Dua karakter dari Ali bin Abu Thalib yaitu alim cerdas intelek dan pemberani. Ali sangat mahir dalam ilmu syariat, sehingga dikatakan sebagai imam, bahkan banywk kata hikmah yang dikeluarkan. Ali sejak kecil sudah pemberani. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari keinginan ibunya, Fatimah. Semakin besar, Ali menjadi pemberani betul, sehingga disebut sebagai singa padang pasir. Seorang Syeikh memang harus mengadopsi dua karakter penting ini,  di samping untuk melawan kebodohan, juga untuk melawan kesombongan sehingga diperlukan penguasaan ilmu yang tinggi dan keberanian melawan musuh yang sewenang-wenang. Kita sebagai ummat Islam, harus menguasai ilmu dan memiliki keberanian hadapi perubahan jaman. Dengan begitu tidak berlebihan jika kita amalkan menuntut ilmu sepanjang hayat. Uthlubul ilma minal mahdi ilallahdi.

Setelah memperhatikan karakter Syeikh yang diperoleh dari para sahabat khulafaaurraasyidiin, maka semakin jelas bahwa kita perlu menyempurnakan karakter kita baik terkait dengan hablum minallah, hablum minan nafsi, hablum minannaas, dan hablum minal ‘alam secara seimbang. Hidup kita harus lebih konstruktif, bukan destruktif. Hidup kita lebih mendamaikan, bukan bikin konflik. Hidup kita lebih inklusif, bukan eksklusif. Hidup kita lebih disemangati tangan di atas, bukan tangan di bawah. Hidup kita lebih tawawadlu’, bukan takabbur. Semoga Allah swt memberi hati kita lebih “wise”. Aamiin.



Yogyakarta, 27/03/2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)





Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website