Headlines News :
Home » » Hadiah yang Mendidik

Hadiah yang Mendidik

Written By Pewarta News on Jumat, 26 April 2019 | 21.48

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com – Hadiah adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan kita. Hadiah seringkali untuk menghargai prestasi. Hadiah untuk mengucapkan selamat. Hadiah bisa berupa fisik dan non fisik. Hadiah diharapkan bisa memberikan aq. Pada kenyataannya hadiah memiliki banyak dimensi. Apapun posisinya, hadiah diharapkan sekali memiliki misi mendidik.

Hadiah diperlukan untuk diberikan kepada siswa semata-mata agar mereka tetap ada di sekolah tidak drop out. Juga untuk memotivasi dapat berprestasi lebih baik. Di samping itu hadiah diharapkan dapat mendorong mereka dapat menuntaskan belajar atau sudinya dengan hasil yang terbaik sesuai dengan potensinya. Dengan begitu menjadi bekal untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja.

Hadiah yang biasa diberikan kepada anak seharusnya dapat diwujudkan dalam bentuk yang pas dan sesuai dengsn maksud hadiahnya. Dapat dikatakan dengan hadiah yang edukatif. Adapun wujud hadiah dapat berbentuk (1) pujian berupa pernyataan verbal, ucapan selamat atas prestasi akademik atau juara dari cabang olahraga, seni dan lainnya, (2) hadiah yang berbentuk simbolik, berupa piala, gambar yang dipasang di kalender atau tembok lorong-lorong sekolah, (3) hadiah berbentuk token, yang bisa ditukarkan di tempat-tempat tertentu, (4) hadiah yang terlihat langsung, bisa berbentuk mainan, alat sekolah, laptop dan sebagainya, terutama yang terkait dengan kepentingan anak dan jenis aktivitas yang dihargai.

Hadiah yang diberikan anak diharapkan dapat memberikan banyak manfaat, di antarannya (1) meningkatkan perilaku yang positif dan sesuai dengan norma yang ada, (2) mendorong anak untuk berminat dan berpartipasi penuh terhadap tugas dan kewajiban di sekolah, (3) meningkatkan motif berprestasi untuk berprestasi yang lebih baik, (4) mendorong anak untuk bisa berkarya lebih produktif baik di sekolah maupun di rumah, (5) memotivasi anak untuk lebih berkomitmen menyelesaikan tugas dan proyeknya.

Memberikan hadiah diharapkan dapat berdampak positif, jangan sampai kontra produktif, sehingga berdampak negatif. Karena itu perlu memperhatikan cara yang efektif, di antaranya: (1) memberi hadiah dengan cara yang bijaksana, terutama disesuaikan dengan karakter anak, apakah introvert atau ekstrovert, (2) menggunakan musik untuk mengiringi pemberian hadiah, baik tema maupun liriknya sesuai dengan kondisi anak, (3) menciptakan pekerjaan dalam kelas, dengan menfasilitasi anak untuk memakai stereotype seragam pekerjaan tertentu sebagai kebanggaan, (4) memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti uji coba pekerjaan di lab dan bengkel atau tempat kerja, dan (5) meminta anak sekali dalam setiap minggunya menggunakan seragam sesuai pilihan bidang keilmuan, di antaranya bidang seni, sain, teknik, olahraga, dan sebagainya. Di sini nampak bahwa hadiah tidak bersifat konsumtif, tetapi benar-benar bernuansa produktif.

Berdasarkan riset Anne Shreev (2002) dari 7 sekolah, bahwa berbagai hadiah yang sering diberikan kepada anak-anak SD dan sikapi paling positif adalah hadiah, nilai, dan waktu yang diperlukan terutama untuk pengerjaan tugas. Namun yang sangat menarik bahwa penghargaan atau pujian dan sertifikat justru disikapi yang paling rendah. Artinya bahwa anak itu lebih menyukai penghargaan yang sifatnya substansial daripada yang bersifat simbolik.

Hadiah untuk anak hendaknya didasarkan atas rasa kasih sayang, sehingga bisa berdampak positif. Tidak boleh berlebihan, sehingga kontra produktif. Hadiah harus berefek terhadap perubahan perilaku yang lebih positif dan prospektif. Dapat membantu untuk proses aktualisasi diri. Hadiah tidak semata-mata dilihat dari bentuk tetapi tujuan dan spirit yang ada di balik hadiah. Hadiah harus dapat dihindari tidak menimbulkan perilaku sombong dan takabbur. Melainkan hadiah diharapkan bisa dipastikan dapat menjaga dan menikmati, dan meningkatkan rasa syukur ke hadlirat Allah swt, Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim.


Yogyakarta, 19 April 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website