Headlines News :
Home » , » Kebiasaan Membaca

Kebiasaan Membaca

Written By Pewarta News on Senin, 01 April 2019 | 17.03

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com – Membaca adalah wahyu pertama kepada Muhammad ketika diangkat sbg Rasul Allah. Membaca dapat dimaknai di samping sebagai aktivitas mengartikulasikan ayat-ayat qauliyah, juga memahami ayat-ayat kauniyah. Ini mengindikasikan bahwa di mata Allah swt membaca itu sangat penting. Demikian juga di mata manusia bahwa membaca merupakan jendela dunia. Baik menurut Allah swt maupun manusia membaca memiliki tempat terhormat.

Membaca bisa menjadi indikator penting bagi kemajuan bangsa. Warga negara negara-negara maju cenderung memiliki kebiasaan membaca yang sangat baik. Sebaliknya warga negara di negara-negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia memiliki ranking dalam literasi membaca masih jauh dari membanggakan, karena posisinya berada di bagian bawah sekali. Mengapa di negara maju literasi membacanya baik sekali, salah satu faktornya adalah penanaman kebiasaan membaca dilakukan sedini mungkin. Mereka menerapkan emergency literacy (pengetahuan tentang keterampilan membaca dan menulis sebelum mereka belajar cara membaca dan menulis). Termasuk anak-anak belajar membaca melalui mendengar orangtua yang membacakan buku. Ini upaya yang efektif untuk membangun masyarakat membaca (reading society).

Bahwa kebiasaan membaca merupakan aset yang sangat berharga dalam meraih sukses. Kebiasaan membaca tidak saja penting untuk urusan akademik, melainkan juga untuk hidup sehari-hari. ETL (2019) menjelaskan ada lima alasan, mengapa kebiasaan membaca itu penting, di antaranya (1) membaca meningkatkan perbendaharaan kata (vocabulary), (2) membaca meningkatkan rentang perhatian, (3) kebiasaan membaca yang baik menyiapkan anak untuk memasuki sekolah, (4) mengembangkan kebiasaan membaca di usia dini akan mengarahkan cinta buku sepanjang hidup, dan (5) membaca mendorong adanya rasa haus terhadap pengetahuan.

Kebiasaan membaca itu bukanlah datang tiba-tiba, melainkan perlu diupayakan sendiri dengan sungguh-sungguh dan istiqamah. Leo Babauta sebagai expert di bidang Membaca memperkenslkan sejumlah cara untuk menciptakan kebiasaan membaca, yaitu (1) menetapkan waktu (lamanya untuk tiap harinya), (2) selalu membawa buku, (3) membuat daftar buku, (4) cari tempat yang nyaman, (5) kurangi waktu untuk TV/internet (yang tidak terkait dengan aktivitas membaca), (6) bacakan buku untuk anak, (7) buat dan menjaga log (catatan tentang buku, info tentang waktu mulai dan mengakhiri aktivitas membaca), (8) pergi ke toko buku bekas, (9) mempunyau hari kunjungan perpustakaan, (10) membaca buku-buku yang menyenangkan atau menantang, (11) membua suatu tujuan yang tinggi (misal, tahun ini saya mau baca 300 buku), dan (14) menetapkan jam membaca setiap harinya dan hari dalam mingguan. Semakin banyak upaya ini semakin banyak aktivitas membaca dan semakin terkontrol.

Mengingat pentingnya kebiasaan membaca, maka orangtua memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong anak-anak untuk aktif dan senang membaca. Karena membaca tidak hanya untuk kepentingan akademik semata, melainkan untuk mengikuti kemajuan zaman, terlebih-lebih di era teknologi informasi. Toyyab Babar memberi tips untuk orangtua dalam mendorong anak memiliki kebiasaan membaca, di antaranya (1) mengembangkan bahasa oral anak, (2) membaca bebera cerita setiap hari, (3) menkondisikan lingkungan anak dengan materi bacaan, (4) mendorong berbagai akvitas membaca, (5) menggunakan teknologi untuk tingkatkan self-esteem, (6) mempersilakan anak-anak untuk menggunakan e-readers, (7) mempersilakan anak tentang apa yang mereka baca, (8) membantu anak untuk memilih buku-buku yang sesuai dengan usia, (9) buatlah aturan penggunaan gadget dan aplikasi, (10) tunjukkan kepada anak atas ketertarikan terhadap buku yang dibaca anak.

Untuk mengakselerasi kebiasaan membaca menuju masyarakat membaca (reading society), dirasakan perlu sekali menciptakan budaya membaca melalui gerakan membaca. Menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjadikan kebiasaan membaca sebagai kebutuhan, bukan sebagai beban. Menjadikan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, mencerdaskan dan mencerahkan hati. Membaca apapun perlu diupayakan, tapi jangan sampai melupakan membaca, memahami dan mengamalkan kitab sucinya (Al Qur-an bagi yang beragama Islam). Bagaimana dengan posisi kita sebagai orangtua atau pendidik dalam memainkan peran menfasilitasi anak untuk memiliki kebiasaan membaca?


Depok, 24 Maret 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017



Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website