Headlines News :
Home » , » Manajemen Stres

Manajemen Stres

Written By Pewarta News on Rabu, 10 April 2019 | 01.36

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar ekspresi stress pada seseorang. Umumnya stress itu dipahami sebagai sesuatu yang negatif, sehingga harus dihindari. Padahal secara konseptual atau empirikal stress kadang bersifat positif, karena sangat diperlukan. Karena itulah tulisan ini dirasakan lebih kena menggunakan manajemen stress daripada menangani stress. Bagaimana kita bisa menghadapi stress apapun jenisnya bisa bermanfaat dan berdampak baik untuk kita. Jangan sampai terjadi, stress negatif berdampak negatif terhadap diri kita sendiri, apalagi stress positif.

Lazarus (1984) mengatakan bahwa “Stress is simply the body's response to changes that create taxing demands”. Pengertian ini memberikan indikasi bahwa stress itu sebagai kekuatan yang bisa menciptakan tuntutan yang membebani, baik yang bersifat negatif maupun positif. Stress negatif yang sering kita ingin hindari disebut distress dan stress positif yang sering kita kehendaki disebut eustress.

Untuk memahami stress lebih detil, mari kita cermati karakteristik stress negatif dan stress positif.  Karakateristik stress negatif (distress) , diantaranya: (1) menyebabkan kecemasan, (2) bersifat  jangka pendek atau panjang, (3) dirasakan sebagai kemampuan mengatasi dari luar diri, (3) merasa tidak nyaman, (4) menurunkan kinerja, (5) dapat mengarahkan problem  mental dan fisik. Karakteristik stress positif (eustress) di antaranya: (1) memotivasi, (2) bersifat jangka pendek, (3)  dirasakan sebagai kekuatan dari dalam, (4) terasa menyenangkan, dan (5) memperbaiki penampilan.

Uraian tentang karakteristik kedua jenis stress ini mestinya memberikan kemudahan kita dalam memahami stress. Namun pada kenyataannya, terjadi yang tidak kita kehendaki. Contoh kehadiran Ujian Nasional (UN) yang dirancang untuk memotivasi anak untuk bisa belajar dengan sungguh-sungguh, bergeser menjadi sesuatu yang mencemaskan. Akibatnya sempat muncul kebijakan akan menghilangkan UN. Padahal langkah ini belum tentu tepat. Mengapa, karena Global Competitiveness Indexes (GCI) pada ranking 36 pada 2017 turun menjadi 45 pada 2018. Kini sudah mulai terasa bahwa anak-anak tidak terlalu semangat untuk belajar, karena semangat kompetisi sehat dibangun. Untuk supaya tidak merugikan, maka eustress ini perlu dimanaj dengan baik.

Contoh stress negatif yang harus dimanaj dengan baik, yaitu salah satunya adalah adanya kematian atau kecelakaan salah satu anggota keluarga yang sangat dicintai. Stress negatif ini wajar sekali berdampak negatif terhadap diri kita. Namun stress negatif ini bisa kita hadapi dengan memanfaatkan iman dan penguasaan agama kita sehingga bisa berdampak positi. Allah swt berfirman, bahwa setiap yang bernafas akan mati. Bahwa di antara akan diuji dengan rasa takut, lapar, hilangnya harta benda dan hilangnya nyawa, maka bersabarlah. Stress negatif ini tidak lagi menjadikan kita bersedih selama dalam waktu yang lama, melainkan dapat dihadapi dengan sabar dan cepat atas kesadaran beragama kita.

Amy Moryn (2015) menawarkan sejumlah cara orang-orang untuk dapat menangani stress, di antaranya sbb:
(1) They accept that stress is part of life.
(2) They keep problems in proper perspective.
(3) They take care of their physical health.
(4) They choose healthy coping skills.
(5) They balance social activity with solitude.
(6) They acknowledge their choices.
(7) They look for the silver lining.
Berdasarkan cara-cara ini, semakin jelas dalam menghadapi stress, sangat bertumpu pada subjeknya.

Ketepatan kita memanaj stress dapat berdampak terhadap kondisi kesehatan mental kita. Namun sebaliknya, jika kita mismanajemen terhap stress, dapat berdampak negatif terhadap kondisi psikis atau mental kita. Yang sering muncul adalah psikosomatis. Yaitu gangguan psikis  yang bisa berakibat terhadap kesehatan fisik. Akibat psikis terganggu, tidak bisa tidur dan makan dengan baik dan teratur. Lama-lama metabolisme tubuhnya terganggu. Akibatnya menderita sakit. Hal ini tidak bisa dibiarkan, karena akan berdampak panjang.

Akhirnya kita sadari bahwa hidup kita ini penuh dinamika. Antara tuntutan dan kebutuhan hidup tidak bisa kita hindari menimbulkan stress. Jika kita bisa atasi stress secara tepat, maka kita akan selamat. Yang tidak hanya di dunia, melainkan juga sampai di akhirat. Perlu diyakini bahwa orang yang berhasil menghadapi stress dengan sabar, bersyukur, ikhlas, niat suci, do’a dan tawakkal, insya Allah hidupnya akan bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika kita gagal memanaj stress dengan baik bisa jadi kita  berbuat nekat, jahat, dan maksiat, sehingga hidupnya bisa sangsara baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah swt selalu membimbing hati dan melindungi hidup kita.


Yogyakarta, 03/04/2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)



Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website