Headlines News :
Home » , » Menemukan Anak Unggul

Menemukan Anak Unggul

Written By Pewarta News on Senin, 08 April 2019 | 02.28

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Setiap orang memimpikan dapat  memiliki anak dan keturunan unggul. Karena itu sejak awal, dimulai cari jodoh pilihan dengan pertimbangkan empat hal, cantiknya, hartanya, nashabnya dan agamanya. Jika mengutamakan agamanya maka yang lainnya sudah terpenuhi. Setelah nikah berlangsung, kedua mempelai saling mempergalui dengan baik dan akhirnya mendapatkan keturunan yang sholeh atau sholehah. Semoga perjalanan hidup dilalui dengan lancar, tanpa halangan berati dan memperoleh barakah  darinya.

Anak unggul pada hakekatnya bisa ditemukan sejak dini dengan tampilan yang menakjubkan dan seterusnya sampai lulus S3 dan karirnya. Tapi ada juga anak yang lahir belum nampak berpotensi unggul, namun secara berangsur-angsur menjadi unggul, mungkin waktu SD,  SMP, SMA, S1, S2 atau S3. Muncul keunggulannya itu terus berlangsung sampai di karirnya. Ada juga anak unggul yang sejak lahir cemerlang, tapi semakin hari semakin tidak nampak keunggulannya, bisa di SD, SMP, SMA, S1, S2 atau S3. Kelompok pertama dan kedua menggambarkan bahwa fasilitasi pendidikan, pengajaran, dan bimbingan serta latihan tidak berjalan efektif. Namun kelompok ketiga menggambarkan bahwa keluarga, dan sekolah di jenjang apapun serta masyarakat tidak memberi perhatian yg sesuai dengan yang dibutuhkan. Artinya bahwa tingkat kondusivitas lingkungan sosial dan fisik ikut berkontribusi terhadap performan anak unggul.

Anak unggul bisa ditemukan sedini mungkin melalui tampilan yang jauh lebih unggul dibandingkan dengan teman sebayanya. Bisa tampak pada gerakan motoriknya, bahasanya, keingintahuannya dan ingatannya, bahkan kecakapan kuantitatif dan seni. Temuan keunggulan ini semula cukup melalui nominasi orangtua, teman sebaya, guru, dan pelatih, serta observasi, yang selanjutnya diperkuat dengan alat assessment sesuai dengan keunggulan, bisa tes inteligensi, tes bakat dan minat, tes kepribadian, tes kreativitas, dantes seni (perspektif multiple intelligence). Semua keunggulan patut diapresiasi, unggul bidang seni, olahraga, bidang khusus tahfidz, dan sebagainya, bukan keunggulan akademik saja. Anak yang mendapatkan karunia dari Allah swt wajib disyukuri. Orangtua yang diamanati sesuatu yang sangat valuable ini patut mensyukuri dan tidak mengkufuri. Cara mensyukurinya, membina dan menfasilitasi pembinaan semua jenis keunggulan dengan kurikulum dan program pendidikan berdiferensiasi yang dilandasi dengan keagamaan dan kebangsaan untuk menghadapi tantangan pada jamannya, Indonesia Emas 2045.

Adapun cara yang paling strategis dan bertanggung jawab terhadap anak anak unggul adalah mengasuh, melatih, membimbing, mengajar dan mendidiknya dengan benar dan penuh kasih sayang. Mengasuh or parenting anak seharusnya lebih banyak dilakukan oleh orangtua sendiri, jika memiliki  waktu yang cukup dan diperlukan dengan kasih sayang yang tulus. Mendidik anak tidak hanya membangun fundasi ilmu duniawiyah, melainkan ilmu ukhrawiyyah. Keunggulan anak seharusnya tidak cukup dengan parameter duniawiyah. Karena cara ini bisa menyesatkan. Orangtua wajib ikut andil membangun keunggulan yang bernuansa duniawiyah dan ukhrawiyah yang saling menguatkan.

Saat ini kebijakan pendidikan anak unggul seharusnya sudah mencapai kemajuan yang berarti. Namun yang terjadi, bahwa tidak ada kebijakan pendidikan yang berpihak kepada anak unggul komprehensif. Yang ada hanya secara parsial, yang diwujudkan dengan pemberian beasiswa, bukan sistem pendidikan yang sesuai. Tidak ada program akselerasi dan tidak ada juga program pengayaan. Padahal secara konstitusional mereka berhak mendapat layanan pendidikan yang memang sangat dibutuhkan anak unggul untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, sehingga memberikan manfaat untuk semua.

Kita boleh bangga dan sekaligus kecewa bahwa apa yang telah lewat di negeri ini prioritasnya  lebih pada infrastruktur. Pengembangan sumberdaya insani belum mendapatkan dukungan yang penuh, sehingga wajar tahun 2018 terjadi penurunan cukup signifikan ranking pada Global Competitiveness Indext turun cukup berarti, dari rangking 36 untuk 2017 dan rangking 45 untuk 2018. Ingat anak berpotensi unggul sebagai modal sosial, bisa yang di kota dan di desa, bisa yang wanita dan pria, bisa ada di keluarga kaya dan kurang mampu, bisa anak normal dan berkebutuhan khusus, bisa dari keluarga terdidik dan berpendidikan rendah, dan sebagainya. Artinya bahwa anak-anak unggul ada di mana-mana yang menanti kepedulian kita semua.

Anak unggul yang berbackground apapun, perlu difasilitasi pertumbuhan dan perkembanganya dengan kecakapan abad ke-21, yaitu kompetensi belajar, kompetensi digital, kompetensi hidup, dan kompetensi moral. Perlu juga diupayakan terus bahwa keunggulan anak-anak itu bukan untuk kemaslahatan dan kebanggaan dirinya saja, melainkan juga untuk keluarga, agama, bangsa, dan manusia di seluruh dunia yang diridloi oleh Allah swt.


Yogyakarta, 30/03/2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)






Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website