Headlines News :
Home » , » Mengatasi Kemalasan

Mengatasi Kemalasan

Written By Pewarta News on Jumat, 05 April 2019 | 01.52

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Kemalasan merupakan lebih sebagai suatu kebiasaan daripada sebagai sesuatu issu kesehatan mental.  Kemalasan merefleksikan hilangnya harga diri dan hilangnya rekognisi positif, kurangnya disiplin berasal rendahnya kepercayaan diri, dan kurangnya minat terhadap kegiatan. Kemalasan mungkin sebagai manifestasi penundaan atau kebingungan.

Kemalasan menurut Islam memiliki banyak makna. Kemalasan yang bisa dimaklumi, karena tidak ada semangat menunaikan pekerjaan lain yang bukan pekerjaan  utamanya. Kemalasan lain yang bisa dimaklumi, yaitu tidak melakukan lagi pekerjaan yang pernah dilakukan, misalnya sholat sunnat, mengaji al Qur-an. Akhirnya, kemalasan yang sangat dikhawatirkan, karena bisa masuk katagori maksiyat, karena malas menunaikan ibadah wajib dengan sengaja.

James (2017) menjelaskan bahwa ada sepuluh penyebab terjadinya kemalasan, yaitu (1) Penundaan (Procrastination), (2) Gangguan/kebingungan (Distraction), (3) Pilihan gaya hidup yang rendah (Poor lifestyle choices), (4) Kelelahan  (Exhaustic), (5) Kebimbangan (Indecisiveness), (6) Nutrisi jelek (Poor nutrition), (7) Kurangnya motivasi, (Lack of motivation, (8) Kurangnya penghargaan diri (Lack of self worth), (9) Ketiadaan rasa tanggung jawab (Irresponsibility), (10) Terlalu banyak yang harus dikerjakan  (Too much to do)

Manurut Abdullah Alhadad (Haqiqi, 2018) bahwa dalam perspektif Islam bahwa yang menyebabkan malas beribadah ada lima hal penting, yaitu (1) Iman yang lemah, (2) Berbuat maksiat, (3) Ketidaktahuan, (4) Harapan dan keinginan yang berlebih, (5) Mengkonsumsi makanan syubhat.  Semuanya ini membuat malas untuk beribadah, karena imannya saja lemah yang tidak mampu memotivasi dengsn kuat untuk beribadah. Belum lagi perilaku maksiatnya yang menyebabkan pikiran tidak tenang karena dosa menumpuk, dehingga membuat tidak yakin ibadahnya diterima.

Ada beberapa cara untuk atasi kemalasan di antaranya (1) berbuat baik terhadap diri sendiri, (2) mulai dari selangkah kecil ke depan, (3) melakukan sebagian kecil dari hal-hal  penting pada hari itu, (4) beristirahat sejenak ketika sedang fokus kerja, (5) mematikab kerja komputer untuk waktu sesaat, (6) membuat daftar yang menurunkan dan menaikkan motivasi terbarukan, (7) merapikan hidup kita, (8) berbuat baik dengan sandungan dari waktu ke waktu, (9) membiarkan antusiasm, energi, dan motivasi orang lain yang ada pada diri kita, (10) menghargai dengan benar dan menikmati waktu kemalasan (Henric Edberg, 2016)

Adapun mengatasi kemalasan dalam perspektif Islam, Abu Adillah (2013), di antranya (1) menyadari pentingnya waktu, (2) bergaul dengan teman yang baik, (3) membaca kisah-kisah semangat orang salaf (generasi terbaik, (4) beristiqamah menjalankan amal shaleh, (5) mengisi  yang bermanfaat, dan (6) Berdoa kepada Allah lindungan dari kemalasan

Kemalasan dapat dipahami dengan perspektif umum dan Islam. Yang ulasannya dapat saling melengkapi. Ternyata kemalasan itu bisa merugikan, tetapi juga bisa menguntungkan. Merugikan jika kemalasan itu menjadi kunci kegagalan studi, karir dan hidup. Walau kita pintar, tapi malas studi, malas bekerja, dan malas hidup (menunaikan tugas kehidupan  di keluarga dan masyarakat), maka jadinya bisa gagal studi, karir dan hidup kita. Menguntungkan jika kemalasan itu menjadi kunci keberhasilan studi, karir, dan hidup. Walau posisi kemampuan rata-rata, tapi malas cheating dan plagiasi waktu studi, malas melanggar disiplin waktu kerja, dan malas bikin konflik di keluarga dan di masyarakat. Maka jadinya kita berharap bisa berhasil studi, karir dan hidup kita. Apapun perspektifnya, asal dimanaj dengan baik, maka ending-nya yang penting bisa memberi banyak manfaat.

Kemalasan ternyata tidak hanya terkait dengan urusan duniawiyah. Melainkan kemalasan juga erat dengan urusan ukhrawiyyah. Karena itu kemalasan yang dimaknai negatif harus dikubur hidup-hidup, karena kemalasan itu tidak hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga institusi. Kemalasan yang terkait denga ibadah khas bisa menggiring kita berbuat maksiat dan akhirnya kita tidak bisa menghirup wanginya bau syurga. Semoga Allah swt melindungi diri kita dari kemalasan, sehingga dapat meraih sukses studi, karir dan hidup di dunia dan akhrat. Aamiin.


Yogyakarta, 29/03/2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)






Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website