Headlines News :
Home » , » Messenger of Peace (Dalam Dua Pandangan Budaya)

Messenger of Peace (Dalam Dua Pandangan Budaya)

Written By Pewarta News on Rabu, 10 April 2019 | 01.49

Nursuciyati.
PEWARTAnews.com -- Kedamaian adalah tujuan hidup semua orang pada umumnya.

Kedamaian dilihat dari kultur masyarakat jawa, mereka sangat peduli akan kedamaian tentu mereka selalu tau cara berdamai yang asyik dari suatu hal sekecil apapun. Sekarang, sangat berbanding terbalik dengan kultur masyarakat di kampung halamanku (Kecamatan Belo) mereka selalu menyuarakan tentang perdamaian tapi mereka selalu lupa cara berdamai sesungguhnya seperti apa keadaannya.

Mereka berteman tapi sering lupa caranya untuk berteman
Mereka berkeluarga tapi melihat satu sama lain seperti orang asing
Pun, mereka hidup bersosial katanya. Yah mereka memang hidup bersosial tapi mereka lupa hakekat bersosial itu bagaimana keadaannya, dan seperti apa seharusnya.

Beberapa tahun terakhir saya hidup di Jawa, saya selalu menemukan cara hidup yang benar-benar harus sesuai aturan, saya orang Bima dan saya tinggal di sini (Yogyakarta)  mau tidak mau saya harus bisa menjadi orang Jawa dihadapan mereka (orang Jawa) tetapi tanpa menghilangkan hakikat saya sebagai orang Bima. Itu artinya mereka selalu bisa menerima keadaan seseorang tetapi harus bisa mentaati keadaan dan aturan setempat yang otomatis sekaligus menyadarkan kita bahwa menghargai dan bermasyarakat dalam hal seperti ini sangat bisa dijadikan patokan dalam perdamaian itu artinya mereka selalu disiplin dalam hal aturan, apalagi dalam aturan kedamaian dan kenyamanan itu selalu menjadi yang utama.

Sebenarnya orang Bima sangat bisa seperti ini, karena pada dasarnya sifat asli orang Bima adalah mau berbagi, mau menerima semua orang siapapun itu tanpa harus berpura-pura,  tanpa harus menjadi orang lain karena menjadi diri sendiri itu perlu katanya.

Mungkin sifat dan suasana seperti ini masih ada tapi sudah mengikis oleh dinamika jaman karena kalau dilihat-lihat orang di kecamatan Belo khususnya sangat mudah terprofokasi oleh keadaan dan empati terhadap keadaan yang masuk.

Oleh karenanya, Mari!! Bahu membahu kita budayakan budaya dasar orang Bima (Kambali Mbojo Mantoi), jadilah pelaku dalam sejarah kebaikan dan perdamaian untuk tanah leluhur kita.


Penulis: Nursuciyati, SKM.
Alumni Universitas Ahmad Yogyakarta / Eks Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website