Headlines News :
Home » , » Nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani

Nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani

Written By Pewarta News on Senin, 01 April 2019 | 17.40

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com – Kita tentu tidak asing dengan Syekh Abdul Qadir Jailani, yang nama lengkapnya adalah Muhyidin Abu Muhammad ‘Abdul Qadir Ibnu Abi Shalih Janki Dausat Al-Jailani (470–561 H) (1077–1166 M). Nasabnya bersambung sampai Sayyidina Hasan bin Ali, cucu Rasulullah saw. Nama beliau sering disebut oleh golongan Sunny setelah Muhammad Rasulullah saw dalam berdoa. Begitu tingginya maqam Syekh Abdul Qadir Jailani. Beliau adalah seorang ulama fiqih yang sangat dihormati oleh Sunni dan dianggap wali dalam dunia tarekat dan sufisme. Beliau adalah orang Kurdi atau orang Persia. Syekh Abdul Qadir dianggap wali dan mendapatkan penghormatan besar oleh kaum Muslim yang tidak hanya dari wilayah India, melainkan seluruh dunia.

Memang banyak sahabat, tabi’iin, tabiit taabi-‘iin, dan ‘Alim ulama yang nasihat-nasihatnya bisa kita ikuti. Namun untuk kesempatan ini sengaja diangkat sejumlah nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani. Degan harapan kita tahu mana-mana nasihat utamanya dan mana masihat lain yang menyempurnakannya.

Syekh Abdul Qadir Jailani terkenal sebagai ahli nasihat. Untuk membersihkan tauhid, meluruskan amalan syariah Islam, dan menyempurnakan akhlaq kita, serta menenangkan dan menyejukkan hati, mari kita ikuti nasihatnya yang sangat penting berikut ini:

Pertama, Nasihat tentang Syirik
Dalam bertauhid kita harus bebas dari syirik dzahir dan syirik batin. Syirik dzahir berbentuk menyembah berhala dan sejenisnya. Sedangkan syirik bathin terkait dengan menuhankan faham, menuhankan digital, takut pada pimpinan atau penguasa, meng-ilahkan lain dan sebagainya. Ingat bahwa syirik adalah dosa besar. Innasy syirka ladzulmun ‘adziim. Karena itu kita perlu ekstra hati-hati, ketika kita takut sesuatu atau memuji sesuatu, bisa-bisa menomerduakan Tuhan.

Kedua, Nasehat terkait berpegang pada Al Qur-an dan Sunah
Syariah Islam adalah syariah yang berdasarkan Al Qur-an dan Sunah. Ummat Islam dalam menjalankan ibadahnya harus sesuai dengan Al Qur-an dan Assunah. Keduanya merupakan jalan kita : Al Qur-an jalan menuju Allah dan Sunah jalan menuju Rasulullah. Setiap ibadah, kita seharusnya selalu didasarkan pada dalil naqli ini, tidak terlalu andalkan dalil aqli.

Ketiga, Nasihat untuk Taqwa dengan Ikhlas
Tiga hal mutlak bagi seorang mukmin, dalam segala keadaan, yaitu: (1) Harus menjaga perintah-perintah Allah swt, (2) Harus menghindar dari segala yang haram, dan (3) Harus ridha dengan takdir Allah Yang Maha Kuasa. Dengan mengamalkan ketiga hal ini secara istiqamah diyakini insya Allah iman, islam, dan ihsan kita akan terjaga.

Keempat, Nasihat tentang Ulama yang Buruk
Kita diharapkan berhati-hati, bahwa setiap era selalu dijumpai ada ulama yang buruk (ulama’ suu’) yang berfatwa berdasarkan hukum Allah swt. Namun karena pertimbangan lain, mereka suka berfatwa tetapi tidak melaksanakan apa yang difatwakan. “Kaburo maqtan ‘indallaahi antaquuluu maalaa taf ‘aluun”(QS Ashshaaf:3). Karena itu kita harus berhati-hati sekali terhadap ulama yang demikian. Walaupun kita juga tidak salah memberi perhatian terhadap fatwa ulama suu’, karena ada mahfudzaat “lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan”.

Kelima, Nasihat tentang Tasawuf
Dalam mengamalkan tasawuf, seharusnya dimulai dari sanubari, hati, jiwa baru badan, bukan dibalik dari dzahir baru ke batin. Jika sanubari bersih, maka hati, jiwa, anggota tubuh, makanan, dan pakaian akan bersih pula. Kemudian, segala tingkah laku pun akan bersih. Ingat, Adhdhoohiru yadullu ‘Alal baathin”,.

Keenam, Nasihat tentang Tawakkal
Pada hakekatnya tawakkal itu tidak menafikan ikhtiar atau bekerja. Bahwa berikhtiar dan bekerja wajib dilakukan. Bekerja dengan keras dan berkomitmen tinggi dengan kerahkan segala kemampuan. Setelah itu baru bertawakkal kepada Allah swt. “..,dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-prang beriman bertawakkal” (Qs Al Maidah:11).

Nasihat-nasihat ini memperkuat ajaran yang selama ini kita dapatkan. Masih banyak bertebaran nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani bisa menjadi rujukan bagi kita untuk memperbaiki diri posisinya sebagai Abdullah maupun sebagai Khalifah di atas bumi. Tentu dalam menerapkan nasihat-nasihatnya kita harus sesuaikan dengan konteksnya, sehingga memiliki kebermaknaan. Hidup kita tidak pernah berhenti memghadapi masalah. Untuk hadapi masalah apapun, dengan rambu-rambu yang ada, kita manfaatkan nasehat-nasehat Syech Abdul Qadir Jailani, para Khulafaur Rasyidin, Sahabat, Tabi-‘iin wat Tabi-‘iin, Wali, dan ‘Alim Ulama. Semoga amalsm kita tetap terjaga. Aamiin


Yogyakarta, 25 Maret 2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017



Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website