Headlines News :
Home » » Pelukan Anak Ustad

Pelukan Anak Ustad

Written By Pewarta News on Senin, 08 April 2019 | 02.44

Nurwahidah Sales.
PEWARTAnews.com -- Suara kipas terdengar nyaring. Jari tangan terasa kaku mengetik sebuah Novel Kecupan istri tetangga, yang kutargetkan selesai diakhir Desember tahun ini. Ah, aku merasa kurang fokus.

Imajinasiku saat ini tidak bisa berfungsi secara normal, padahal pukul 23.00 Wita adalah waktu yang tepat untuk merangkai sebuah kata.

Terpaksa untuk Malam ini, tidak menulis. Hatiku mulai tidak karuan. Bagaimana mungkin bisa menulis dengan baik jika bayangan Amri selalu menghantui. Amri adalah mantan penghianat.

Seketika kubuang tubuh di atas pembaringan, ke dua bola mata menatap plafon kamar, yang sudah dimakan rayap. Sejak kecil hingga saat ini aku berumur 23 tahun, plafon tersebut tidak pernah dilakukan renovasi. Jika hujan turun pasti akan ada air yang berhasil menyorobos masuk.

Sial, tiba-tiba rinai hujan terdengar berjatuhan di atap. Kutarik selimut warna biru. Wajah Amri masih membayang. Aku menutup mata.

Tubuhku terasa bergetar, air hujan sudah meresap masuk ke dalam

baju, aku tidak tahu dimana berdiri. Tempat ini sangat asing bagiku. Lutut pun bergetar lalu kutarik napas pendek, dari depan nongol sebuah Posko, lampunya pun redup.

Aku berlari ke sana dipenuhi kebingunan. Tiba-tiba badan terasa hangat, ketika jaket hitam menempel dipundak. Penasaran, akhirnya menoleh ke arah kanan, mencari siapa pemilik jaket tersebut.

"Amri?," kataku kaget. Aku spontan berdiri dan melemparkan jaket diwajahnya.

Ia nampak kecewa dan menutup mulut.

"Apa yang membawamu kemari? Setelah kau menikmati tubuhku lalu kau merasa tidak bersalah dengan meminang perempuan lain," kataku menahan isak.

"Maafkan aku, Ita. Telah melakukan kesalahan besar kepadamu. Saat ini aku tidak bisa memaafkan diriku," kata Amri yang berusaha memegan tanganku.

Aku memberontak.

"Sungguh aku menyesal meminang perempuan pilihan orang tua," katanya lalu, merangkul tubuhku.

Saat ini, aku tidak bisa bergerak banyak, meski sudah berusaha keras melepas dari genggamanya.

"Tidak perlu ada penyesalan. Kau pikir setelah aku memaafkanmu, semuanya akan kembali seperti semula? Tidak Amri. Aku sudah cacat, harga diriku sudah tak berarti lagi dan saat ini tidak ada lelaki yang akan menjadikan aku sebagai teman hidupnya sebab aku tidak punya permata untuk dibanggakan ," kataku pelan.

Hujan semakin lebat. Angin pun terasa kencang, pelukan Amri pun terasa kuat, hingga aku tidak bisa bernapas dengan normal. Aroma tubuhnya, masih terasa, sebuah aroma yang dulu hampir tiap hari tercium. Kini aroma dan pelukan ini sudah jadi milik orang lain.

Aku menggigit bahu Amri. Ia pun melepas pelukannya dan menjerit kesakitan.

"Sakit? sakit itu tidak sebanding apa yang kurasakan Amri," kataku mencoba menjaga jarak darinya, kakiku berjalan mundur kebelakang.

"Kau perlu tahu, aku tidak sudi memaafkan seseorang yang pernah membuatku terluka," nadaku lentang.

Aku segera menarik napas lalu menghembuskannya dengan berat.

"Baiklah, aku akan menceraikan istriku, demi kau . Aku masih mencintaimu," kata Amri, bola matanya merah.

"Perceraian, tidak akan mengubah semuanya. Jangan lakukan itu! Aku tidak lagi mencintaimu," aku menjawab dengan penuh kebohongan.

Kuputuskan berlari meninggalkan Amri. Ia pun mengejarku dari belakang. Ke dua lututku semakin berat bergerak untuk melangkah. Suara Amri, menyebut namaku, menyuruh untuk berhenti.

Ingus dan air hujan bersamaan masuk dimulut. Astagfirullah semuanya hanya mimpi, benar hanya mimpi, terlihat plafon kamarku basah, air hujan membasahi selimutku.

***

Pukul 07.00 Wita, aku bersiap-siap menuju salah satu Sekolah SMP yang berlokasi di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sekolah tersebut, aku mengajar sebagai guru Bahasa Indonesia.

Tiba di Ruangan, para murid kelas 3 SMP, menyambut dengan ucapan Salam. Mereka serentak mengatur diri lalu duduk dikursi. Aku hanya melempar simpul lalu memulai pelajaran. Aku tidak antusias mengajar, hatiku tidak karuan. Usai mengajar aku langsung menuju kanting dengan memesan pop mie dan segeas es teh.

"Hey, kok melamun?," kata Risna.

Risna adalah sahabatku sajak kuliah. Kini kami sama-sama jadi pekerja

Aku, hanya mengunyah.

"Kenapa sih hari ini,? Sepertinya ada masalah. Ayolah cerita!," bujuk Risna.

"Aku benci hidupku," kataku.

Wajah Risna penuh tanda tanya, ia menaikkan alis kiri.

"Sudahlah. Kamu harus mengubur kenangan dengan Amri!, untuk apa mengenangnya jika telah membuatmu hancur," kata Risna dengan nada pelan.

Tiba-tiba handphone samsung berdering. Panggilan ibu.

"Assalamualaikum bu, ada apa," kataku.

"Walaikumsalam. Ada hal penting yang akan kuceritakan," kata ibu.

Risna berusaha menguping pembicaraan kami.

"Ada kabar baik untukmu. Lusa kamu akan dilamar dengan anak dari seorang ustad dari Bantaeng," nada ibu terlalu bersemangat.

"Apa?," bola mataku molotot.

"Baiklah, ibu akan mempersiapkan semuanya ," kata ibu menutup telepon.

Jantungku berdetak semakin cepat, keringat pun menetes di pipi. Aku berhenti mengunyah.

"Aku tidak yakin, harus memulai dari mana Ris. Apa yang mesti kulakukan?. Setelah orang yang kucintai merusak perawanku lalu pergi. Kini ada lelaki dari keluarga baik, akan meminang. Bagaiamana mungkin ada lelaki baik akan tidur dengan perempuan pendosa sepertiku," kataku menahan isak.

Risna mendekat lalu memberikan pelukan.

"Sabar Ita, ini sudah takdir. Kau harus bisa melaluinya!,"kata Risna.

***

Hari yang ditunggu telah tiba. Tepat pada tanggal 9 November 2018. Hari kebahagian di mata ke dua orang tua dan keluarga. Namun aku tidak. Hari ini adalah hari peperangan. Aku seperti prajurit lupa menggunakan senjata, akhirnya ditembak mati, benar adanya aku seperti sudah mati.

Mati tak berdaya lagi demi mengiyakan permintaan orang tua.

Wajahku sudah dipoles dengan bedak tebal dan gincu merah. Baju adat bugis pun sudah terbalut ditubuhku. Suara nyaring diruang tamu pun hampir membuat kupingku mau pecah.

Beberapa menit lagi, lelaki baik itu akan datang. Aku tidak tahu seperti apa rautnya. Dulu waktu kuliah banyak lelaki yang mengincar dan ingin jadi kekasihku. Memang kuakui saat itu kalau soal pasangan harus pilih-pilih. Tentu harus gagah dan putih. Tapi saat ini aku tidak punya kekuatan apa-apa lagi untuk memilih.

Aku hanya bisa pasrah menerima wajah lelaki baik itu, meski hidungnya besar, dan bibirnya tebal. Tapi apakah lelaki baik itu mau menerima wanita sepertiku?.

Kenapa aku berada diposisi seperti ini? Kenapa yang datang adalah anak ustad, kenapa bukan anak preman saja. Aku membatin.

"Ibu," kataku memanggil.

"Iya, Nak, ada apa?," tanyanya.

"Aku, belum bisa menerima kenyataan," kataku bergetar.

Wajah ibu, yang dari tadi ceria kini terlihat kebingungan dan penuh kekhwatiran.

Tiba-tiba suara mobil berhenti didepan Rumah. Para keluarga melakukan penjemputan di pintu masuk.

Aku bernapas tipis. Benar adanya hari ini akan dilamar oleh lelaki baik. Aku menunduk mengigit bibir bawah.

"Sikahkan masuk!," kata ibu kepada rombongan keluarga dari keluarga mempelai pria. Mereka masuk dengan duduk di Lantai yang dialasi tikar biru.

Aku merasa lelaki baik itu duduk pas depanku. Tapi sangat berat untuk mengangkat dagu lalu menatapnya.

"Maksud kedatangan kami, adalah untuk meminang putrinya atas nama Ita dengan anak bungsu saya, yang baru saja menyelesaikan S2 nya di Jakarta. Semoga Ita dan Irwan bisa disatukan menjadi keluarga yang menjalin ikrar suci," nada seorang laki-laki membuka dialog.

"Insya Allah, kedatangan bapak dan rombongan kesini adalah perkara yang baik. Kami menerima lamaran tersebut," kata ibuku, penuh antusias.

"Alhamdulillah," ucapan itu serentak tersengar diruang tamu.

"Mampuslah," kataku membatin lalu

mengangkat bokong sambil berlari menuju kamar.

Kubuang tubuh di pembaringan sambari meraung-raung.

"Apa yang membuatmu bersedih Ita," nada itu berasal dari pintu kamar.

Aku mencoba mengamati suara itu, akhirnya berdiri dan menoleh ke arah pintu.

"Kak Irwan, apa yang kau lakukan disini," bola mataku hampir loncat satu per satu. Melihat lelaki baik ini memakai baju jas hitam.

Irwan adalah senior waktu SMA di Bulukumba.

"Iya, Ita. Pasti kamu heran denganku,?sejak SMA, aku menyukaimu. Tapi aku tidak punya nyali mengatakannya, sebab banyak saingan, di sisi lain pasti kau akan menolakku. Tapi hari ini kubukitikan rasa suka itu dengan keseriusan, meski hampir enam tahun memendangnya," kata Irwan

Aku hanya melongo.

"Semua tentangmu, telah kuketahui dengan bantuan Risna yang sudah menceritakan semuanya. Ia bercerita bagaimana Amri, memperlakukan kau dengan sebuah kehancuran. Meski begitu itu kau tidak perlu membencinya terlalu dalam," kata Irwan perlahan mendekat.

"Tapi kak, aku tidak pantas untukmu. Lelaki baik harus mencari wanita baik pula," kataku melemah.

"Bukanlah manusia pernah berbuat dosa? Tidak ada yang sempurna. Meski kau sudah cacat aku tetap mencintaimu Ita," kata Irwan.

Kata-katanya, membuatku dingin. Aku segera berlari memeluknya.

"Lepaskan Ita!, kita belum muhrim," Irwan berusaha menolak.

"Aku tidak peduli," kataku.


Selayar, 18 November 2018
Tentang Penulis:
Nurwahidah Saleh Asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, telah menerbitkan Novel Oleh sebab perjanjian kakekmu. Ingin berkenalan dengan ida? Silahkan Follow medsosnya fb Nurwahidah Saleh.





Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website