Headlines News :
Home » , » People Power Melawan People Power?

People Power Melawan People Power?

Written By Pewarta News on Senin, 29 April 2019 | 16.13

Ilustrasi Pemilu 2019.
PEWARTAnews.com -- Beberapa hal telah penulis ulas dalam tulisan terkait People Power. Sekarang, kita bahas dan analisis bersama yang berkaitan dengan judul yang tertulis di atas. Bangsa kita ini bukan lagi seperti Pemilu pada tahun 2014, karena era itu belum terlalu eforia dengan pesta bangsa yang diagendakan 5 tahun sekali. Gadget masih belum banyak, pengguna media sosial pun belum terlalu banyak.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya pengguna media sosial maka rakyat sekarang sudah bersuara dengan sendiri nya di media sosial. Melihat carut-marutnya NKRI hari ini, jelas rakyat tidak tinggal diam, untuk dari satu versi.

Versi lain, negara ini sudah maju dengan infrastruktur yang pesat dan faktanya tidak bisa dipungkiri sampai ke ujung timur negeri ini. Kita harus berbangga atas pencapaian rezim ini.

Well, kita lihat dari sudut pandang penulis. Indonesia adalah negara agraris yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Kondisi demikian, tidak bisa dipungkiri telah banyak perubahan pada negeri ini, bisa kita perhatikan bersama kenaikan BBM (Itu juga perubahan, perubahan angka), gizi buruk masih menjadi permasalahan yang belum tuntas diselesaikan, pengangguran dimana-mana, lahan pertanian di beberapa daerah diganti dengan bangunan, tambang, dan lain-lain. Selain itu, pencemaran lingkungan akibat dari limbah tambang dan banyak permasalahan yang tidak bisa penulis sebut satu per satu.

People Power Melawan People Power?
Rancu ya jika di baca dari judul besarnya. Hari ini, rakyat Indonesia semakin bisa memilah informasi lewat media walaupun media pro dengan petahana tetapi tidak banyak juga yang demikian.

Lalu, apa kaitan dengan people power Melawan People Power? Heforia rakyat tidak bisa dipungkiri oleh petahana maupun kubu 02. Sebab 411 dan 212 sangat berefek besar akan cara pandangan rakyat saat ini. Aksi 411 dan 212 pun tidak di anggap remeh oleh petahana karena Indonesia mayoritas Islam. Tentu kedua kubu memiliki strategi masing-masing untuk mendapatkan simpati rakyat. Seperti blusukan, pencitraan, merapatnya dukungan ulama, dan lain-lain. Hal demikian lumrah dalam sebuah negara yang menjadikam demokrasi sebagai langkah dalam memilih presiden dan wakil presiden.

Lalu, apa permasalahannya?
Masalah nya banyak, karena rakyat sudah cerdas. Pendukung kedua kubu saling mengklaim dan sebagian besar ada yang saling menghina, mengejek, dan kasus terbaru pasangan suami istri bercerai karena berbeda pilihan.

Media sosial merupakan salah satu cara mendapatkan informasi. Apalagi terkait dengan pendukung kedua kubu. Sebagai seorang individu yang hidup di tengah masyarakat, tentu kita harus bisa memilah dan menempatkan diri. Berbeda pilihan itu hal lumrah dalam sebuah demokrasi. Tetapi permasalahan rakyat hari ini adalah saling mengejek, saling menghina antara satu dengan yang lainnya.

Apa kaitan dengan people powernya?
Karena saling mengklaim dan kedua kubu tidak ada yang saling menerima kekalahan atau kemenangan, maka dikhawatirkan permasalahan berimbas pada People Power Melawan People Power. Tentu, kita tidak berharap demikian. Tetapi hal ini yang harus kita hindari sebagai pendukung kedua Paslon. Tetap Berdo’a untuk negeri ini.

Setelah pemilu adalah kebersamaan, mengawal pemimpin baru menuntaskan PR yang ada. Indonesia banyak problemnya, yang di anggap remeh oleh sebagian orang. Utang negara semakin meningkat, dan rakyat semakin miskin kecuali kaum borjuasi yang kaya lebih dari kekayaan negara.

Negeri ini butuh kedamaian setelah pesta besar yang menghabiskan dana kurang lebih 26T. Dari mana dana tersebut? Jika dari utang, maka negara kita nambah utang dalam menyelenggarakan pemilu ini.

Terus mengawal dan tetap menjaga stabilitas negara. Karena para Paslon di belakangnya ada para pemodal yang memiliki tujuan untuk melanggengkan usaha dan keinginan mereka. So, mari jadi rakyat cerdas. Menuntaskan permasalahan negeri.


Penulis: Suci Nujul Hayati
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website