Headlines News :
Home » , » Politik Kaum Millenial

Politik Kaum Millenial

Written By Pewarta News on Selasa, 02 April 2019 | 02.25

Marga Harun.
PEWARTAnews.com -- "Bahwa sesungguhnya di tangan pemudalah permasalahan masyarakat akan dipecahkan, dan di dalam pengorbanannyalah suatu bangsa akan tetap hidup dan berkembang”.

Bahwa pada hakikatnya pemuda adalah tulang punggung bangsa, harapan bangsa dan masa depan bangsa. Sedemikian pentingnya kedudukan dan peranan pemuda, sampai-sampai Bung Karno berucap, ’’Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.” (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia).

Kedudukan dan peran pemuda memang sangat vital dan fundamental dalam pembangunan dan kemajuan sehingga masa depan bangsa berada di tangan mereka. Di pundak merekalah harapan dan cita-cita bangsa ini digantungkan sehingga pemuda dituntut berperan aktif dan reaktif untuk tampil sebagai garda terdepan pembangunan bangsa, baik fisik maupun non fisik contohnya mental, spiritual atau karakter. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.

Sejarah telah mencatat betapa besarnya kontribusi dan andil  yang diberikan secara sukarela oleh anak muda terhadap bangsa Indonesia dalam berbagai peristiwa-peristiwa bersejarah yang dialami oleh bangsa ini bahkan tinta sejarah selalu mencatat pemuda sebagai aktor perubahan yang paling utama. Makanya mulai dari pergerakan Boedi Oetomo, sumpah pemuda, kemerdekaan Republik Indonesia sampai pada aksi Reformasi 98 anak muda selalu menjadi motor dan gebrakan penentuan terlaksananya suatu suksesi reformasi (tanzimat) atau pembaharuan.

Indonesia baru saja merasakan angin segar reformasi kebebasan yang dimana sebelumnya dikangkangi oleh sistem otoriter yang tertutup, maka dari itu Indonesia melakukan reformasi besar-besaran mulai dari masalah konsep atau tatanan bernegara sampai pada transisi kepemimpinan dengan menggunakan sistem demokratisasi yang melakukan transisi dari rezim otoritarian ke rezim demokrasi. Sehingga akhirnya Indonesia menganut sistem demokrasi sebagai bentuk penerapan atau pengaplikasian sistem yang digunakan untuk dijadikan pedoman dalam penyelenggaraan negara demi terciptanya Indonesia yang lebih baik kedepannya. Dalam sistem demokrasi ini setiap individu memiliki hak untuk menentukkan pemimpin yang akan mengatur dan memimpin masa depan negaranya dan setiap individu juga memiliki hak untuk memberikan aspirasinya ke pemerintahan yang berkuasa. Oleh karena itu, demokrasi adalah sistem politik kerakyatan karena secara subtansi definisi demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat dengan tanpa adanya partisipasi politik dan partisipasi warga negara yang begitu menyeluruh maka mesin demokrasi di suatu negara tidak akan berjalan dengan baik.

Berbicara mengenai sikap pemuda haruslah dilihat dari berbagai macam aspek komponen tentang tanggung jawab mereka terhadap lingkungan sosial secara menyeluruh, dan saya melihat generasi muda merupakan partisipan penggerak awal demokrasi. Artinya anak muda masuk dalam kategori pemilih yang sudah benar-benar sadar mengenai hak politiknya dan cara berpatisipasi didalamnya. Maka dari itu ketika pemuda menunjukkan sikap kepasifan terhadap demokrasi itu sangat berbahaya dan memiliki dampak yang sangat buruk bahkan bisa sampai pada proses pelemahan demokrasi, karena kaum muda merupakan individu yang sangat kritis dan idealis dengan berbagai wacana dan pola pikir yang progres dalam menganalisis regulasi dan peka akan pemimpin yang tepat untuk kemajuan negaranya.

Namun sangat disayangkan, fenomena yang muncul pada saat ini ketika ada ruang diskursus akan tema politik di antara pemuda tampak tidak terlalu disukai dan disenangi bahkan dianggap sebagai sesuatu hal yang sangat tabu ini problem besar yang harus diketahui akar penyebabnya dan bisa melahirkan pertanyaan besar terkhususnya untuk pemuda sebagai berikut :
Yang pertama, faktor apakah yang menyebabkan anak muda apatis terhadap dunia politik atau memang mereka tidak paham dengan politik dan tidak tahu bagaimana cara berpartisipasi dalam menentukan pemimpin atau wakil-wakilnya dipemerintahan.

Yang kedua, apakah ini memang ada unsur kesengajaan dari diri pemuda karena mereka menganggap politik itu tidak memberikan manfaat yang signifikan terhadap kehidupan mereka dan hidup kita tetap seperti ini terus karena mungkin pemuda melihat budaya politik bobrok  yang tidak bisa diperbaiki dan mengakar sehinggga bersifat permanen.
Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada tahun 2012, didapati bahwa 79% anak muda di Indonesia tidak tertarik berpolitik, ini sungguh sangat ironis sekali dan perhatian terhadap daya tarik pemuda terhadap politik.

Generasi millennial melek politik menjadi sebutan tersendiri bagi anak muda. Hal ini dikarenakan, politik yang masih dianggap tabu oleh anak muda. Hanya segelintir anak muda yang mau ikut memahami tentang politik Indonesia yang unik. Lalu, mengapa generasi muda Indonesia harus melek politik? Jawabnya, karena kebijakan yang dihasilkan para elite politik akan berdampak terhadap hampir seluruh aspek kehidupan warga negara, tak terkecuali anak muda.

Generasi muda merupakan generasi penerus bangsa. Meneruskan estafet politik di negara, mengatur dan membuat kebijakan yang lebih baik. pemuda adalah harapan untuk memperbaiki politik di masa depan.

Secara notabene orang yang buta politik sungguhlah rugi dan merupakan suatu kebodohan karena buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu, harga obat, harga beras samapai pada harga rokok semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir kesenjengan, ketidakadilan, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional”

Pandangan saya agak sedikit frontal memang, tapi inilah kenyataan realitas yang terjadi dewasa ini. Banyak saudara-saudara kita terlalu apatis dengan dunia perpolitikan, terkhusus umat Islam di Indonesia. Pada intinya umat Islam di Indonesia harus tetap berkontribusi besar dalam dunia perpolitikan dengan memadukan antara nilai nilai Islam dengan demokrasi supaya bisa mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin dengan selalu melakukan dakwah amar maaruf nahi munkar demi mewujudkan Indonesia yang sejuk dan damai, yang perlu diketahui bahwa Islam dan Indonesia memiliki hubungan sangat erat yang bersifat reciprocal atau berbalasan satu dengan yang lainnya. Lihatlah apa jadinya Islam tanpa dukungan politik. Di Myanmar (Burma), misalnya, lihat apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita disana. Mereka di bantai, di basmi, diberangus, dihapuskan eksistensinya. Apa yang kita lakukan. Lagi-lagi dengan sikap kita yang biasa. Hanya berteriak-teriak marah, protes, mengutuk, mengecam, sedikit doa dan sedikit dana dan setelah itu selesai, kita lupa, berlalu begitu saja. Kita kehilangan legitimasi politik, kehilangan wibawa, kehilangan daya dan kekuatan dan mungkin juga kita tidak percaya dengan keyakinan kita maka dari itu penting Islam itu untuk selalu eksis dalam menghiasi kehidupan bernegara.

Pada saat ini juga kita lagi berhadapan dengan yang namanya bonus demografi, artinya peningkatan populasi usia produktif, ini merupakan suatu kesyukuran bagi pemuda. Dampak dari bonus demografi yang paling nyata dibukanya ruang-ruang yang luas bagi pemuda untuk ikut andil dalam aktivitas-aktivitas sosial dan politik, artinya anak muda tidak hanya dijadikan sebagai objek politik, tapi sudah dilibatkan dalam proses politik praktis. Ruang pemuda sudah mulai di buka selebar-lebarnya, karena anak muda memiliki energi yang segar. Sehingga menjadi harapan bangsa ini dengan banyak hadirnya tokoh tokoh muda di pemilihan legislatif 2019, salah satu bentuk nyata dampak dari bonus demografi.
Tapi yang perlu diketahui, bahwa pemuda harus menjadi politisi rakyat maka didalam diri pemuda harus ditanamkan cognitive map sebagai aktivitas atau kerja politik supaya bisa mengarahkan demokrasi yang bermartabat dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.


Penulis: Marga Harun
Direktur Lembaga Mahasiswa Pemerhati Daerah (LMPD) / Pemuda asal Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB)
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website