Headlines News :
Home » , » Trend Pendidikan Dasar

Trend Pendidikan Dasar

Written By Pewarta News on Senin, 08 April 2019 | 22.40

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
PEWARTAnews.com -- Pendidikan secara konstan terus berubah dan melakukan reformasi sejalan dengan perubahan sosial yang terjadi. Terlebih-lebih pendidikan dasar harus mampu memberikan fondasi untuk pembaruan di masa-masa berikutnya, terutama dalam mengikuti dan merespon dinamika sosial yang sangat cepat.

Amanda Holroyd (2018), Kate Barrington (2019) mengidentifikasi kecenderungan dan issu pendidikan dasar di antaranya sbb: (1) Duduk fleksibel. Dalam manajemen kelas, anak-anak di setting dengan duduk fleksibel, tidak permanen. Setiap pelajaran bisa duduk sendiri, berdua, bertiga, berempat atau seterusnya dengan bergantian pasangan. Karena itu bentuk kursi dan mejanya harus ringan dan kuat. Selain didukung oleh pojok atau pusat Bahasa, Matematika/Berhitung dsb. Diharapkan benar-benar kelas kondusif untuk efektivitan pembelajaran apapun.

Kedua, Pentingnya bermain. Bermain adalah dunianya anak-anak. Bermain adalah bekerjanya anak, bekerja adalah bermainnya orang dewasa. Betapa penting bermain itu bagi bagi anak. Bernad Show telah membuktikan bahwa “we don’t stop playing because we grow old, we grow old because we stop playing.”  Bermain tidak hanya menyangkut aspek fisik, melainkan juga aspek, psikologis, emosional, sosial, dan mental.

Ketiga, Belajar gagal. Bahwa gagal itu penting, terutama dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Untuk tumbuh dan berkembang diperlukan gagal, yang wujudnya diskontinu. Selama ini proses perjalanan anak berlangsung kontinyu TK  sampai Perguruan tinggi. Faktanya sangat diperlukan diskontinyu dari TK ke SD, SD ke SMP dan seterusnya. Pertumbuhan dan perkembangan anak SD dapat temui gagal, segar kembali, terus berubah dan sampai pada pembaharuan. Artinya bahwa gagal itu fitrah. Untuk itu ketika gagal, perlu disemangati untuk bisa bangkit kembali.

Keempat, Cepat tidak berarti terbaik. Memberikan jawaban dalam waktu singkat dengan benar, bukanlah terbaik, karena hanya akan andalkan ingatan. Padahal jawaban benar dan lebih baik butuh waktu yang lebih lama karena diperlukan berfikir, mulai dari membuat pola berpikir, membuat koneksi dan diseminasi hasil berpikir.

Kelima, Pertemuan pagi, terbaik untuk hari itu. Pertemuan pagi adalah cara yang efektif untuk mengatasi stress. Biasanya setiap hari,  anak harus menggunakan cara menangani stress. Dengan pertemuan pagi diharapkan bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan dialog serta sharing, tentang apa yang dimiliki anak berkenaan dengan pengetahian dan pengalamannya masing. Hal ini perlu dilakukan di awal jam pertama. Boleh juga disebut jam ke-0.

Keenam, Belajar berbasis inquiry. Anak-anak dibiasakan dapat dibekali pertanyaan terbuka, bukan fakta. Karena itu diiharapkan anak-anak bisa menjawab dengan pengetahuan dan solusi. Untuk hal ini anak yang banyak dibantu lebih pertanyaan “Bagaimana Anak-anak mengetahui” daripada  “Apa yang Anak-anak ketahui.” Kegiatan investigasi sangat diperlukan.  Terumata untuk memgarah pada kemampuan pemecahan masalah sederhana.

Ketujuh, Belajar berbasis  proyek. Pembelajaran diharapkan yang semula berorientasi kepada pemerolehan pengetahun saja menjadi pemerolehan keterampilan. Sesuatu yang sangat diperlukan di usia-usia awal. Bahkan kegiatan juga bisa dikembangkan belajar praktek (hand on learning). Pembelajaran dari learning by doing, hingga menjadi learning by making. Arah pembelajaran ini diarahkan untuk mengabtarkan ansk menjadi warga masyarakat yang inovatif.

Kedelapan, Belajar kooperatif dan kolaboratif. Anak-anak pada usia ini sangat dipengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya oleh teman sebayanya. Karena itu pembelajaran kooperatif dan kolaboratif sangat diperlukan, sehingga kecakapan sosial anak tumbuh dan berkembang. Guru harus manfaatkan  kondisi ini.

Kesembilan, Pendekatan belajar holistik. Pembelajaran tidak hanya difokuskan pada aspek akademik saja, melainkan juga aspek personal, emosional dan sosial. Terutama di suatu sekolah yang sekalipun, anak-anak dengan latar belakang sosial dan ekonomi berbeda, terutama ada yang kurang beruntung, perlu dilayani makan bergizi dan  tindakan terapi traumatik. Dengan harapan anak-anak yang kurang beruntung secara psikologis, kesehatan, dan ekonomi dapat ikuti prmbelajaran dengan baik.

Memperhatikan kecenderungan dan issue pendidikan dasar, ada issu-issu penting lainnya yang perlu di-address dalam konteks di Indonesia. Kita samgat menyadari akan pentingnya penanaman pendidikan karakter sejak dini yang perlu diupayakan secara  lebih mantap untuk menuju pembentukan manusia seituhnya. Pendidikan karakter perlu dilakukan segregatif dan integratif dengan saling melengkapi. Selanjutnya pendidikan kultural dan perdamaian yang perlu dikenalkan sejak dini, sehingga terbangun rasa respek terhadap perbedaan individu yang notabene masyarakat Indonesia sangat majemuk. Terakhir perlunya pendidikan berbasis digital, karena generasi milenia harus aktif menjadi digital citizen. Mereka hidup dalam iklim digital. Literate digital menjadi suatu kebutuhan.

Kita sangat menyadari pendidikan dasar dianggap biasa, akibatnya tidak dipandang ada masalah yang berarti. Padahal banyak persoalan yang muncul seiring dengan perubahan sosial yang terjadi sehingga terbangun suatu masyarakat yang relatif berbeda dengan masa silam. Sistem pendidikan dasar tidak bisa dibiarkan dan tanpa disentuh. Untuk itu beberapa issue yang perlu diketahui, difahami, dicermati, dan diktritisi para guru di pendidikan dasar, orangtua, dan para stakehoder lainnya, sehingga sistem pedidikan dasar benar-benar mampu memberikan landasan yang kuat, baik terkait tentang masalah akademik maupun non akademik.


Yogyakarta, 01/04/2019
Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website