Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Kuliah Umum “Pendidikan Islam dan Revolusi Industri 4.0”

    Suasana usai kuliah umum berlangsung.
    PEWARTAnews.com -- Senang rasanya dapat berdiskusi dengan Dr. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag dari Medan dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh mahasiswa Pascarasajana FITK Yogyakarta pada Jum’at (22/3/2019). Pertama kali mengenal nama beliau saat membaca buku yang berjudul Islam Mazhab HMI dan NDP Interpretasi teks dan konteks yang gagasan-gagasannya sangat dinamis dan progresif. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk dapat menimba ilmu bersama beliau secara face to face guna menyambung sanad keilmuan.

    Paparan beliau mengenai Pendidikan Islam, diawali dari Qs. Al Baqarah ayat 129 dan 151 yang merupakan salah satu ayat pendidikan sekaligus menjadi dasar lahirnya kurikulum 2013. Qs. Al baqarah ayat 129 merupakan doa Nabi Ibrahim yang amat visioner, dimana beliau berdoa kepada Allah agar generasi yang datang jauh setelah beliau mendapatkan ilmu, hikmah dan kebijaksanaan. Hal tersebut merupakan salah satu bukti cinta, kasih dan sayang yang beliau curahkan kepada generasi masa depan dengan memikirkan hidup mereka di zaman yang amat berbeda dari masa beliau. Dalam konteks Pendidikan Islam, Pendidikan harus mampu menjawab setiap tantangan zaman dan arus lanju globalisasi yang semakin tidak terbendung. Guru yang awalnya menjadi sumber satu-satunya pengetahuan, kini di era 4.0 harus memposisikan diri sebagai pem-filter terhadap literasi digital yang dikonsumsi oleh peserta didiknya. Sehingga, pembelajaran tidak hanya sekedar transfer of knowledge di ruang-ruang kosong, namun peserta didik harus dibekali dengan skill agar cerdas memilah dan memilih literasi digital yang kredibel dan validitasnya dapat dipertangganggungjawabkan, entrepreunership, ekstrakurikuler yang menunjang jiwa leadership dan team work serta internasionalisasi dan konektivitas. Karena peserta didik yang belajar tahun 1990 akan bekerja pada tahun 2020 – 2030. Sedangkan yang belajar pada tahun 2020 akan mengajar pada tahun 2030 – sampai suatu masa yang tak akan pernah ada yang tau. Oleh karena itulah, pendidik harus orientasi jauh ke depan untuk memikirkan masa depan bangsa, dengan memberikan wawasan, ilmu pengetahuan yang dinamis dan progressif serta inspirasi segar kepada regenerasi bangsa. Senada dengan Petuah Umar Bin Khattab “Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”.

    Dalam Qs. Al Baqarah ayat 151 Allah memberikan karunia besar kepada Nabi Ibrahim. Makkah yang tanahnya tidak produktif nan tandus, kini menjadi kiblat negara-negara lain serta menjadi tempat yang sangat menarik dikunjungi banyak orang, hal tersebut dikarenakan usaha dan doa dari Nabi Ibrahim dengan langkah pertama membangun SDM sebagai syarat pertama dalam membangun sebuah peradaban. Maka, Islam dimanapun tempatnya akan berkembang, asal mempunyai SDM yang berkualitas. Adapun pilar SDM Qur’ani ialah ta’lim (pengetahuan), tilawah (skill), dan tazkiyah (Integritas).

    Ta’lim atau knowledge harus integrasi interkoneksi. Adanya doktrinisasi mengenai dikotomi ilmu dunia, ilmu akhirat, mind set bahasa arab merupakan bahasa surga, sedangkan bahasa inggris merupakan bahasa neraka begitu halnya dengan matematika yang hanya bermanfaat pada tataran dunia saja merupakan hal yang menghambat kemajuan peradaban. Sedangkan untuk menopang keilmuan yang baik dan berkualitas, harus diimbangi dan disinergikan dengan tilawah atau skill yang harus terus diasah dan dikembangkan, serta mampu mengkoneksikan suatu hal dan harus cerdas membaca zaman. Itulah mengapa, dalam tradisi lembaga pendidikan Islam di Indonesia, biasanya ketika guru mengahiri pembelajaran, peserta didik dibiasakan untuk membaca Qs. Al Ashr ayat 1-3. Ternyata, ayat tersebut merupakan ayat  tentang masa depan yang sangat menggetarkan. Yang mana, wa ‘amilu as-shaalihat mengandung makna menshalihkan diri dengan berkontribusi untuk kemajuan peradaban yang harus diimbangi dengan iman, ilmu dan amal (memiliki skill). Wa tawaa shau bil haqqi yang mengandung makna pentingnya kreativitas dan membangun jaringan. Wa tawa shau bi ash-shabr yang harus senantiasa berproses demi mencapai sebuah goal, visi atau target hidup. Yang terakhir adalah tazkiyah atau integritas yang utuh dan tidak split personality. Shalih ritual juga sosial, shaleh perilaku juga shalih fikiran. Karena orang yang hati dan jiwanya bersih, akan mudah menyerap dan mendapatkan ilmu. Dalam Islam dikenal dengan ilmu ladunni/khudhori/’irfani, yang dipertegas dalam Qs. Al Alaq ayat 5.

    Tak hanya itu, Pendidikan Islam mempunyai tanggungjawab besar dalam membentuk kepribadian peserta didik yang memiliki spirit keislaman dan keindonesiaan. Maka, seharusnya dalam proses pembelajaran Pendidikan Islam peserta didik harus diberi bekal dengan wawasan multikultural agar siap dan kuat mental terhadap berbagai macam perbedaan, jika pada masanya nanti hidup dalam masyarakat plural.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Menyoal Anak Berbakat

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Pada umumnya setiap orang tua bangga, jika anaknya hebat, berbakat. Mereka juga bersyukur, karena tidak jarang mereka mengangkat derajat orang tua. Apakah hebat, bakat di bidang akademik, seni, olahraga, atau bidang-bidang lainnya. Jika anak punya potensi unggul, orang tua mengetahuinya dan ada harta, pasti mereka mengupayakan anak-anaknya dapat bimbingan dan binaan sedini dan sebaik  mungkin, sehingga potensinya dapat diwujudkan secara optimal. Tetapi tidak sedikit orang tua yang memiliki keterbatasan harta, mereka hanya membiarkan anaknya yang hebat itu tumbuh dan berkembang secara alamiah. Beruntunglah jika di sekolah atau lingkungannya memberikan perhatian khusus kepada anak berbakat. Ingat bahwa kehadiran anak berbakat di semua bidang bisa setiap tahun, setiap jaman, bahkan lintas jaman.

    Keberadaan anak berbakat itu juga tidak bisa dilepaskan dari tingkat kemajuan negaranya. Jika anak berbakat itu berada di negara maju, mereka mendapatkan perhatian khusus dan pembinaan khusus pula, sehingga potensinya dapat diaktualisasikan secara optimal, tanpa memandang mereka dari keluarga berada atau tidak berada. Di samping itu masa depannya juga terjamin, sehingga selepas dari puncak prestasinya, kehidupan mereka tetap terjaga kesejahteraannya hingga akhir usia senja, bahkan akhir hayat. Menyadari kejelasan masa depannya, maka tidaklah sia-sia investasi anak berbakat pada waktu mudanya untuk belajar, berlatih, dan bekerja dengan sungguh-sungguh, karena pada akhirnya ada jaminan hidupnya.

    Sebaliknya anak berbakat di negara berkembang menghadapi persoalan lain. Orang tualah yang berusaha keras, dengan dukungan sekolah dan pemerintah sesuai dengan kemampuannya,  memberikan perhatian dan fasilitasi dalam pertumbuhan dan perkembangan keberbakatan anak. Dengan begitu hanya anak berbakat yang berada di lingkungan beruntung, kondusif dan suportif yang dapat mengaktualisasikan bakatnya. Selanjutnya masa depan karier dan hidupnya juga belum menentu. Jangankan yang belum berprestasi cemerlang, yang sudah juara nasional dan dunia pun belum ada jaminan kariernya ke depan dan hidupnya mendatang dapat jaminan yang memadai dan menggembirakan. Padahal anak-anak berbakat ini sudah menginvestasikan waktu, pikiran dan tenaga, bahkan harta untuk mewujudkan bakatnya. Tidak sedikit atlet  dan seniman berbakat dan berprestasi, karier dan hidupnya kurang membahagiakan. Bahkan untuk menyambung hidupnya, dengan terpaksa menjual piala atau medali yang telah lama disimpan menjadi kebanggaan harus dilepas hanya untuk sejumlah uang. Ironis sekali menyaksikan kondisi ini, walau beberapa saat yang lalu sudah ada gerakan untuk perhatikan “nasib” mantan atlet berprestasi.

    Inilah dilema anak berbakat, bahwa masa depannya belum jelas, tetapi mereka dengan potensinya itu tidak jarang menjadi tumpuan untuk mengangkat reputasi institusi, daerah dan atau negara melalui prestasinya. Karena itulah mereka harus ikuti latihan sejak usia dini dengan tuntutan disiplin yang keras. Sementara teman yang seusia banyak habiskan waktunya untuk main-main atau kegiatan sia-sia saja. Dewasa ini anak berbakat akademik yang kurang beruntung secara ekonomis sangat diuntungkan dengan adanya beasiswa dari S1 sampai dengan S3 di dalam atau di luar negeri. Jika sudah selesai studinya, bisa berkarya dan meniti karier sampai tua tergantung pada kesungguhannya. Sementara itu yang berbakat olahraga, karena jaminan masa depannya belum jelas dan proses pembinaan bakat membutuhkan dana yang banyak, tidak sedikit para atlet yang tergoda “uang”, sehingga terganggu sportivitasnya. Akhirnya terdampar di tengah jalan. Demikian anak berbakat seni, cukup banyak  yang berhasil melejit prestasinya di usia muda, namun karena tidak kuat menghadapi “godaan” tidak sedikit di antara mereka terjebak penggunaan obat. Semua anak berbakat potensial menghadapi masalah, menurut hemat kami dapat disebabkan, di antaranya kurang bersyukur, kurang berintegritas, kurang sabar dan kurang kuat agamanya. Jika empat hal ini dapat dijaga, insya Allah keberbakatan itu pasti menjadi karunia dan berkah, bukan menjadi malapetaka atau fitnah.

    Apa pun alasannya bahwa anak berbakat itu perlu mendapatkan pembinaan dan pendidikan yang sesuai, karena mereka memiliki potensi yang lebih daripada temannya yang seusia. Hak mereka untuk memperoleh pendidikan yang sesuai sebagai konsekuensi dari demokratisasi pendidikan. Dengan pendidikan yang sesuai untuk anak berbakat, diharapkan sekali dapat memuaskan anak berbakat sendiri, karena lebih banyak kebutuhan mereka  yang dapat dipenuhi, di samping mereka terpuaskan dapat wujudkan penampilan yang sesuai dengan potensinya. Yang juga tidak kalah pentingnya diyakini bahwa pendidikan bagi anak berbakat yang sesuai diharapkan dapat menjadikan anak berbakat mampu berkarya dan berinovasi secara produktif yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, agama, masyarakat dan bangsa.

    Memang ada sejumlah mitos terkait dengan anak berbakat. Audrey Breen (2016) dan Todd Stanley (2018) memperkenalkan sejumlah mitos yang dapat dicermati satu persatu, di antaranya : (1) Gifted students will do fine on their own, (2) Gifted programs are elitist, (3) Gifted students are perfect students, (4) Gifted Children are role models, (5) Gifted children don’t need help, (6) Gifted children are happy and well-adjusted, (7) Gifted children don’t have disabilities, (8) Gifted children don’t struggle, (9) Gifted children will succeed in life no matter what, (10) Gifted children love school and get high grades, (11) Gifted children are good at everything they do, (12) Gifted children have trouble socially at school fitting it, (13) Gifted children tend to be more mature than other kids their age, (14) Gifted children are always well-adjusted and compliant, (15) Gifted children’s innate curiosity causes them to be self-directed., (16) All children are gifted, (17) All gifted children are quirky, and (18) Special education children cannot be gifted.

    Mitos-mitos ini memiliki makna tersendiri, karena keyakinan terhadap mitos yang berlebihan akhirnya perlakuan terhadap anak berbakat tidak seperti yang diharapkan atau yang seharusnya. Ada kecenderungan bahwa sekolah mengabaikan anak berbakat sebagai aset umat dan bangsa merupakan suatu kerugian besar. Hal ini dibuktikan, bahwa Pemerintah Indonesia belakangan ini telah meniadakan layanan khusus bagi anak berbakat, terutama anak berbakat akademik. Padahal kewajiban layanan pendidikan anak berbakat secara konstitusional telah dijamin oleh UUSPN tahun 2003 pasal 5 ayat 4. Kita dalam  memandang anak berbakat harus akurat, tidak hanya secara konstitusional saja, melainkan juga secara konseptual dan religius,  sehingga memiliki alasan yang tepat untuk memperlakukan dan memberikan layanan pendidikan yang seusai. Apabila perspektif terhadap anak berbakat tepat, yang diuntungkan terutama sekali adalah anak berbakat sendiri, orang tua, sekolah, masyarakat, dan bangsa.


    Yogyakarta, 30 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Love Yourself (Cintai Dirimu Sendiri)

    Setelah percaya diri, kita akan dengan leluasa menikmati keindahan hidup.
    PEWARTAnews.com -- Pernah dengar dong kalimata di atas "love yourself" atau "cintai dirimu sendiri’", entah dilirik lagu atau kalimat yang dibilang seseorang untuk kita, tapi biasanya sih dari lagu yah. Kalimat itu biasanya untuk menyemangati diri sendiri atau bahkan menjadi kalimat tanpa makna, lebih sedihnya mungkin terkadang menjadi angin lalu. Tergantung bagaimana seseorang menanggapinya.

    Sedikit banyak orang yang selalu meremehkan diri sendiri entah dengan selalu merendah atau langsung menjudge diri sendiri akan sesuatu yang akan dilakukan, merendah memang baik tapi ada waktu tertentu tidak melulu merendah yang terkandang buat kita tidak percaya diri.

    Mencintai diri sendiri bukan berarti menimbulkan kenarsisan diri yang berlebih, tapi bagaimana percaya diri atas apa yang kita miliki tanpa dibuat-buat, tanpa mengeluh, tanpa membandingkan dirimu dengan orang lain. Tidak akan ada habisnya ketika kita membandingakan diri kita dengan orang lain sebab setiap orang memiliki porsinya masing-masing yang diberikan pencipta.

    Berhenti menghakimi takdir atas dirimu
    Berhenti menghakimi tuhan atas ketidak sempurnaan yang kita rasakan
    Bukankah semua orang tidak ada yang sempurna ? kalau kita terus mencari kekurangan diri sendiri dan selalu melihat kesempurnaan orang lain, dijamin kita tidak akan pernah melangkah maju.

    “Enak yah yang tinggi badanya bagus, tidak seperti aku udah pendek, bulat, bantet, item lagi, untung hidup”. “Enak yah yang pendek, keliatannya manis, imut, menggemaskan, bisa make high hels sesuka dia, lah aku kalau make high hels malah dibilang orang, udah tinggi malah tambah pake high hels ngak tau diri banget, badan kok kayak tiang listrik”.

    Lalu kalimat ini yang sering di ucap "bagus banget badannya kurus tinggi lagi kayak model, lah aku udah kayak gajah, sering dijadiin bahan ejekan karena gemuk dibilang sarang lemaklah, belum juga makan udah naik aja berat badanya”. "Enak yah yang gemuk makan banyak ketauan jadi daginglah, kalau aku walaupun makan banyak segitu-segitu aja, malah dibilang kurang gizi lah, badan tidak bisa nyerap makananlah, dan lain-lain”.

    Kenapa harus selalu seperti itu, tidakkah kita pikir terlalu memusingkan dan membandingan kekurangan kita dengan orang lain yang kita anggap sempurna itu melelahkan, apa sih yang sebenarnya yang kurang dari kita, cantik? bukan! Badan bagus? bukan! Kaya? bukan! Lalu apa? Kita kurang bersyukur terhadap apa yang kita miliki, kita kurang bersyukur terhadap takdir yang digariskan untuk diri kita.

    Yakin dan percayalah terkadang hidup yang kita miliki adalah hidup yang diinginkan oleh orang lain diluar sana. Tetap  yakin atas apa yang kita miliki, bersyukurlah atas apa yang kita punya, karena kalau sesuatu itu tidak digariskan untuk kita sekuat apapun kita usaha untuk mendapatkannya tidak akan pernah menjadi milik kita.

    Saya teringat sesuatu yang pernah saya baca disebuah buku tapi lupa judunya apa, seperti ini “Terkadang kita terlalu sibuk mencintai ini dan itu bahkan sampai kita lupa untuk mencintai diri sendiri, dan itu sungguh melelahkan. Mengapa manusia mulai lupa bagaimana cara untuk mencintai dirinya sendri? Bukankah sangat melelahkan ketika kalian ditinggalkan seseorang? Jika diri kalian sendiri yang meninggalkan dirimu, betapa sunyinya?”. Jadi sebelum diri kita sendiri meninggalkan diri kita, belajarlah menerimanya.

    Setiap orang pernah melakukan kesalahan entah yang akan beresiko terhadap diri sendiri atau sebuah kelompok sedikit banyak dari kita selalu menyalahkan diri kita sendiri, harusnya begini harusnya begitu yang tanpa kita sadari membuat diri kita tidak menyukai diri kita dan mulai membandingkan diri kita dengan yang orang lain, harusnya seperti dia atau lebih baik seperti dia.

    Setelahnya orang lain juga ikut andil menyalahkan kita seperti “kamu sih” atau “tuhkan tau gitu aku aja tadi” malah ada yang lebih nyelekit “ngak pernah benar deh kalau sama kamu” atau “bisanya apa sih kamu ceroboh” dan pada akhirnya mental kita pun jatuh rasa percaya diri kita pun hilang. Padahal kalau kita yakin sama diri kita sendiri orang lain pun akan yakin sama kita.

    Ingatlah tidak semua orang bisa melakukan apa yang kita lakukan. Tidak semua hal memiliki tingkat kesulitan dan kemudahan yang sama, bisa jadi apa orang lain lakukan sebenarnya bisa juga kita lakukan cuman kurang yakin saja, begitupun sebaliknya apa yang tidak bisa oleh kita belum tentu orang lain bisa. Kita hanya perlu berusaha lebih keras saja.

    Setelah percaya diri, kita akan dengan leluasa menikmati keindahan hidup.

    Pada dasarnya orang lain hanya terbawa alur sugesti kita terhadap diri kita sendiri, kalau kita yakin terhadap diri kita, kalau kita percaya terhadap diri kita, yakinlah orang disekitar kita pun akan seperti itu terhadap kita karena semuanya dimulai dari diri kita.

    Tidak ada seorangpun di dunia ini yang punya hak atas dirimu untuk menghakimimu. Tidak ada seorangpun dibumi ini yang bisa mengatur dirimu.

    Tidak ada. Semua orang punya pilihan untuk pergi atau tetap tinggal, juga dirimu, jadi sebelum dirimu benar-benar hilang maka mulailah menerima dengan lapang sembari terus berusaha lebih baik.

    Mulailah mensugesti dirimu dengan hal-hal yang baik. Yakinkan dirimu bahwa kita bisa untuk semua hal, kalaupun kita belum bisa jangan bilang tidak, berusahalah dengan segala yang kita bisa. Tetap optimis jangan pesimis.

    Semua orang pernah melakukan kesalahan, tidak ada satupun orang yang terlewat dari sebuah kesalahan. Tidak saya, tidak juga kamu. Cuman pada porsinya masing-masing, kesalahan juga bagian dari proses untuk dewasa soal bagaimana kita bisa menanggapi dengan baik saja.

    Terakhir tapi bukan yang terakhir, penulis kutip dari buku yang pernah di baca. "Belajarlah menerima, menyayangi dan mencintai diri kita sendiri dengan anggun hingga lelah pun iri melihat romantisnya kita dengan diri kita sendiri".


     Penulis: Nurkurniati, S.Par.
    Mantan Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Alumni Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (STIPRAM) Yogyakarta.

    Menghadapi Underachiever

    PEWARTAnews.com -- Pada umumnya orangtua dan guru menghendaki anak-anaknya atau siswa-siswanya mampu berprestasi sebagaimana potensinya. Pada prakteknya, mereka ada yang bisa berprestasi sebagaimana yang diharapkan, sebaliknya ada juga yang berprestasi di bawah potensinya. Mereka itulah yang disebut dengan underachiever. Anak underachiever yang diketahui pada usia dini sebaiknya tidak dibiarkan, melainkan harus ditangani sedini mungkin, sehingga nereka bisa berhasil studinya, bahkan lebih jauh lagi berhasil karir dan hidupnya.

    Semula orangtua merasa senang menyaksikan anaknya yang sudah diketahui pintar dan cakap pada waktu usia dininya. Begitu masuk sekolah, berangsur-angsur diketahui bahwa anak-anak itu tidak semangat belajar, tidak rajin belajar, malas mengerjakan tugas, tidak memiliki catatan yang rapi, dan utamanya mereka itu tidak disiplin dalam beberapa hal. Anak-anak yang demikian tidak hanya mengecewakan orangtua, melainkan juga guru. Anak-anak inilah yag pada akhir tahun ajaran deketahui melalui tes akhir semester tidak menunjukkan prestasi yang membanggakan, karena mereka berprestasi di bawah potensinya (underachiever).

    Kita sangat  menyadari bahwa anak-anak untuk sukses dalam studi dan hidupnya, tidak bisa mengabaikan karakteristik utamanya yang menggambarkan nilai kualitas hidupnya. Michael D. Whitley (2001) dalam bukunya berjudul Bright Minds, Poor Grades, menguraikan nilai-nilai karakter anak-anak sukses, di antaranya : self-discipline, commitment to goals, the ability to sacrifice momentary pleasures for the greater rewards of tomorrow, independence in motivation, moral responsibility, cooperative effort, trust, the capacity to govern oneself, and abiding commitment to family and development of one’s own talent. Sifat-sifat ini harus ada pada anak-anak, utamanya anak berbakat (gifted). Jika mereka tidak memiliki sifat-sifat ini, maka mereka akan menjadi anak underachiever.

    Untuk mengetahui dan mengidentifikasi lebih mudah anak underachiever, marilah kita perhatikan pandangan University of Coonecticut sebagai Center of Gifted Education tentang ciri-cirinya sebagai berikut: (1) konsep diri rendah, (2) hidupnya lebih berorientasi pada yang bersifat sosial daripada akedemik, (3) suka menggunakan mekanisme pertahanan diri, (4) sering perilakunya tidak menunjukkan berorientasi pada tujuan, (5) menolak kompetisi, (6) cenderung pasif-agresif, (7) takut akan sukses, (8) lemah dalam keterampilan mengatasi masalah, (9)  memiliki sikap negatif terhadap sekolah, dan (10) menolak situasi yang menantang untuk melindungi image dirinya.

    Kehadiran underachiever dapat disebabkan oleh berbagai factor, di antaranya (1) factor pribadi: problem perilakun dan soal disiplin, problem waktu yang tak terstruktur, harapan yang tak realistis, (2) factor keluarga : disdungsi keluarga, hubungan anggota keluarga yang tegang, problem dengan sudara kandung, monitoring, bimbingan dan harapan keluarg a yang minimal, (3) factor sekolah : ketidaksesuaian  kurikulum pada SD, tidak adanya kesempatan untukn mengembangkan kebiasaan kerja, interaksi negatif dengan guru.

    Untuk dapat menyelamatkan anak underachiever dapat diupayakan beberapa  hal, di antaranya : (1) Mengembangkan ketepatgunaan diri (self-efficacy): Adanya kepercayaan terhadap kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu, (2) Mengembangkan strategi regulasi diri : personal, perilaku, dan lingkungan, (3) Melatih keahlian metodologi menetapkan tujuan, (4) Mengoreksi berpikir yang terdistorsi, (5) Melibatkan orangtua untuk pekerjaan rumah atau tugas  dengan duduk sebentar waktu malam., dan (6) Membangun hubungan positif dengan guru.

    Demikianlah beberapa hal yang terkait dengan mengenali anak underachiever yang banyak kita jumpai di sekitar kita. Yang pada umumnya kita tidak pernah peduli. Pada hal mereka itu social capital yang sangat berharga. Yang sangat berarti tidak hanya bagi dirinya, melainkan  juga bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Sebagai wujud tanggung jawab kita adalah ikut memberikan perhatian kepada mereka dan menfasiltasinya untuk bisa mengaktualisasikan dirinya, serhingga mereka terhindar dari underachiever.


    Yogyakarta, 29 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Kisruh Pilpres, Ormawa Intra Kampus Jogja: Kekerasan dan Kerusuhan adalah Biadab

    Ilustrasi aksi penolakan hasil Pilpres 2019.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Organisasi Kemahasiswaan Intra Kampus Se-Yogyakarta memandang aksi penolakan hasil Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 oleh mereka yang menamakan diri “Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat” pada hari Senin malam, 21 Mei 2019 telah berkembang menjadi kerusuhan massa. Kerusuhan berlanjut pada Selasa dini hari, 22 Mei 2019 hingga malam hari.

    "Aksi kelompok pendukung Prabowo Subianto tersebut betul-betul berubah menjadi anarkhi jalanan. Massa yang menolak pembubaran aksi, mengamuk dan membakar puluhan kendaraan roda empat yang diparkir di Markas Brimob, Petamburan, Jakarta Barat," sebut Ferli selaku Kordinator Para Pengurus Organisasi Kemahasiswaan Intra Kampus Se-Yogyakarta, pada hari Kamis, 23 Mei 2019, di Yogyakarta.

    Ferli mengatakan bahwa pernyataan Titiek Soeharto sebagaimana disampaikan di dalam video yang viral di media sosial, bahwa aksi akan berlangsung damai tidak terbukti. "Hal ini menguatkan dugaan, bahwa aksi damai yang diserukan politisi Cendana itu hanya kamuflase belaka. Sebab sejak beberapa hari terakhir telah beredar seruan di media sosial agar mereka yang mau mengikuti aksi membawa benda dan senjata yang bisa digunakan untuk melakukan kekerasan. Selain menyita kendaraan yang berisi batu-batu untuk dilempar kepada petugas, aparat kepolisian juga menangkap pelaku lengkap dengan barang bukti dari senjata tajam hingga senjata api otomatis yang merupakan senjata built up. Tak ayal, korbanpun berjatuhan," ucapnya.

    Lebih jauh Ferli mengatakan peristiwa kekerasan di sekitar Gedung Bawaslu RI yang meluas ke sejumlah lokasi di Jakarta itu telah mengundang keprihatinan banyak pihak, termasuk kami para pengurus organisasi kemahasiswaan intra kampus se-Indonesia. "Sungguh kejadian kerusuhan itu telah menghapus citra  masyarakat Indonesia  yang dikenal ramah dan santun oleh masyarakat dunia. Perilaku anarkhi tersebut juga menunjukkan kepatuhan para pelaku kepada hukum telah berada pada titik nadir. Padahal kepercayaan pada hukum sangat penting untuk menjaga ketertiban sosial, dan menjamin rasa aman, serta untuk mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat," cetus Ferli.

    Itu sebabnya, kata Ferli, subtansi Undang-Undang Dasar R.I. Tahun 1945 (UUD 1945) sebagai Konstitusi Dasar menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara penganut asas hukum (rechtsstaat) bukan kekuasaan (machtsstaat).

    Lebih jauh Ferli menegaskan bahwa langkah penolakan hasil perhitungan suara Pilpres pada Senin malam, 20 Mei 2019, yang diikuti aksi demonstrasi anarkhi oleh “g-n-k-r” di satu pihak merupakan upaya delegitimasi terhadap Komisi Pemilihan Umum R.I. (KPU R.I.), dan pihak lain juga mengabaikan asas rechtsstaat yang dianut oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Sebab sebagai institusi demokrasi penyelenggara Pemilu, KPU RI telah bekerja secara independen berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. 
    Delegitimasi terhadap KPU RI, dan pengabaian hukum, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku sangat berbahaya, dan bisa memicu perpecahan karena ketidakpatuhan terhadap hukum," kenangnya.

     Untuk mencegah hal itu, sebut Ferli, maka kami para Pengurus Organisasi Kemahasiswaan Intra Kampus se-Indonesia menyatakan: "Pertama, Mengutuk keras aksi kekerasan dan kerusuhan yg sedang terjadi di Jakarta; Kedua, Menyerukan kepada semua pihak menjaga persatuan dan keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45; Ketiga, Menyerukan agar semua pihak menghentikan aksi kekerasan dan kerusuhan yg sedang terjadi; Keempat, Bahwa kekuatan politik Cendana telah mendalangi aksi-aksi kekerasan dan kerusuhan ini," celoteh Ferli. (PEWARTAnews)

    Sekolah Digital

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com -- Kita sangat menyadari bahwa era digital berdampak terhadap era disrupsi. Era yang menjadikan semuanya serba mungkin. Karena itu kemapanan mendapatkan tantangan yang luar biasa, walau nilai-nilai tertentu harus tetap dikonservasi. Masyarakat di era digital telah menyoal kehadiran universitas. Sesuatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa kita tidaklah berlebihan jika menyoal juga eksistensi sekolah.

    Sekolah di masa kini harus bisa menjadikan dunia digital menjadi bagian dari sistem pendidikan, demikian juga sekolah saat ini di mana pun berada harus mampu menjadikan lulusannya sebagai  pemain aktif di dunia digital. Karena itu kehadiran Sekolah Digital menjadi suatu kebutuhan yang sangat mendesak, walau disadari bahwa belum semua warga Indonesia yang tersebar di seluruh nusantara yang memiliki keterbatasan infrastruktur  siap memasuki dunia digital.

    Sekolah digital didesain untuk meningkatkan efisiensi kinerja sekolah, mengajak sekolah merasakan perkembangan teknologi, membantu sekolah kelola data dengan mudah, mengubah cara kelola data yang lambat dan kompleks menjadi cepat dan mudah, dan menghasilkan lulusan untuk masa depan yang siap menjadi pengguna digital aktif dan pasif.  Selanjutnya, teknologi merubah siswa dalam belajar, mengumpulkan informasi, berpikir, dan berinteraksi. Demikian juga guru dalam menfasilitasi pembelajaran, mengelola  lingkungan belajar, sehingga dapat menyiapkan siswa secara efektif untuk hidup beyond school.

    Sekolah Digitial membiasakan anak bekerja dengan teknologi digital yang sangat bermanfaat setelah anak meninggalkan sekolah. Sekolah Digital harus menyiapkan materi untuk mahasiswa 24/7, atau seminggu penuh. Dengan kata ain sepanjang waktu (all the time), kapan saja, di mana saja, dengan menggunakan gadget saja. Siswa bisa nge-link dengan hand out  yang mereka sukai sesuai dengan kebutuhan. Mereka bisa melakukan belajar mandiri dengan konsultasi tatap muka dengan guru. Juga dengan sesama siswa untuk diskusi materi tertentu baik di sekolah maupun di luar sekolah sesuai dengan kesepakatan. Siswa juga melakukan penilaian sendiri dan penyekoran sesuai dengan panduan yang ada. Di samping itu siswa juga dimungkinkan dapat menggunakan multi media. Pekerjaan siswa disimpan di cloud dan dapat di-akses dari rumah memungkinkan untuk sharing dan kerja sama dari jauh.

    Untuk mensukseskan Sekolah Digital, perlu memperluas support kepada guru. Atas dasar itu teknologi digital dapat membantu pembelajaran dan pengajaran, yang dapat diwujudkan dengan (1) Men-support belajar yang autentik, kreatif dan kolaboratif, (2) Memungkinkan rentang yang luas untuk pendekatan assessmen, (3) Menyempurnakan tatap muka antara guru dan siswa (4) Mendorong berpikir produktif di luar kelas. Di luar kelas guru menggunakan notes untuk siswa, yang memungkinkan dapat memberikan feedback kepada siswa secara personal, melalui note siswa, momonetor personalia; dan mengarahkan ke mote siswa.

    Menurut Vawn Himmelsbach (2019) ada kelebihan dan keterbatasan Sekolah Digital. Adapun kelebihan Sekolah Digital, di antaranya, (1) Menggunakan teknologi di kelas memungkinkan kita untuk bereksperiman lebih dalam pedagogi dan mendapatkan feedback cepat, instant, (2) Teknologi di kelas menjamin partisipasi penuh, (3) Ada sumber yang tak terhitung untuk meningkatkan efektivitas pendidikan dan membuat belajar lebih menyenangkan  dan efektif, (4) Teknologi dapat mengotomatisasikan banyak tugas yang membosankan, (5) Dengan teknologi di kelas, siswa  memiliki akses instan terjadi terhadap informasi yang baru dan dapat melengkapi pengalaman belajar, dan (6) Kita hidup di dunia digital dan teknologi adalah suatu keterampilan hidup.

    Adapun keterbatasan Sekolah Digital, di antaranya : (1) Teknologi di kelas dapat menjadi suatu gangguan, (2) Teknologi dapat memutuskan siswa dari interaksi sosial, (3) Teknologi dapat memelihara aktivitas sontek di kelas dan penyelesaian tugas, melalui copy paste(4) Siswa tidak memiliki akses yang sama untuk sumber-sumber teknologi, (5) Kualitas riset dan sumber yang mereka temukan mungkin bukan yang terbaik, dan (6) Perencanaan belajar lebih didominasi oleh jasa  teknologi.

    Akhirnya kita menyadari bahwa Sekolah Digital lebih cenderung menekankan pada transfer informasi, kegiatan kognitif dan keterampilan. Namun perlu disadari tanggung sekolah sebagai pusat peradaban, yang bertanggung jawab terhadap pembentukan kepribadian, sehingga memungkinkan dapat menghasilkan insan yang utuh (insan kamil), kurang banyak disinggung dalam Sekolah Digital. Untuk itu semua subsistem pendidikan pada Sekolah Digital, perlu mengakomodasi nilai-nilai Pancasila dan terutama nilai-nilai keagamaan, sehingga lulusan sekolah tidak hanya digital literate, melainkan juga berkarakter dan berperadaban yang siap menghadapi tantangan pada jamannya. Kepala Sekolah dan Guru memainkan peran penting dalam melakukan filter, sehingga kehadiran Sekolah Digital, benar-benar produktif, buklan kontra produktif.


    Yogyakarta, 28 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Dosen Widya Mataram ini Beri Penyuluhan Penyuluhan Pemanfaatan Balai Pertemuan Warga

    Bagus Anwar H, SH, MH, M.Sc. saat memberikan Penyuluhan.
    Bantul, PEWARTAnews.com – Bulan Ramadhan tidak menyurutkan untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Pada hari Sabtu, 18 Mei 2019 ada kegiatan yang menarik untuk diterapkan di masyarakat, yakni kegiatan “Penyuluhan Pemanfaatan Balai Pertemuan Warga Komplek Perumahan Sebagai Sarana Kegiatan dan Keamanan Semua Elemen Usia”.

    Hadir sebagai pemberi penyuluhan adalah Bagus Anwar H, SH, MH, M.Sc. selaku dosen Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan upaya memberikan penyuluhan kepada masyarakat warga komplek perumahan dan juga warga desa, khususnya warga perumahan Cemara di Tamanan Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bertempat di balai pertemuan Shiva. Kegiatan ini dibungkus dengan buka puasa bersama yang melibatkan seluruh elemen warga, baik bapak-bapak, ibu-ibu, remaja serta anak-anak.

    Penyuluhan tersebut berisikan pemanfaatan balai pertemuan warga komplek perumahan sebagai sarana kegiatan dan keamanan semua elemen usia. Sehingga nantinya memungkinkan balai pertemuan ini bisa digunakan kegiatan baik untuk bersama-sama maupun untuk elemen usia.

    “Balai warga dapat digunakan buat kegiatan-kegiatan, seperti buka bersama di bulan ramadhan, nonton live streaming sepakbola, dan lain-lain.  Selama ini balai pertemuan warga hanya digunakan diwaktu tertentu dan kebanyakan dipakai oleh bapak-bapak saja. Sehingga kedepannya balai pertemuan warga bisa digunakan juga untuk anak-anak, remaja, ibu-ibu bahkan para lansia,” ucapnya.

    Suasana saat Penyuluhan berlangsung.

    Dengan pemanfaatan demikian, kata Bagus, “Kegiatan perumahan akan tampak ramai, sehingga bisa meminimalisir tindak pencurian di sekitar rumah warga perumahan yang notebene tidak memiliki satpam penjaga. Karena selama ini terdapat beberapa kasus pencurian yang melibatkan orang luar dengan berkedok tamu dan pemulung sampah. Sehingga dengan penyuluhan ini diharapkan bisa segera dibentuk kegiatan untuk memanfaatkan balai pertemuan warga,” sebutnya. (PEWARTAnews)

    Hidup Berprinsip dan Bermanfaat

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAmews.com -- Pada hakekatnya setiap insan ingin hidup eksis dan survive. Pada kenyataannya ada insan yang hidup di daerah yang baik maupun tidak baik, bisa memberikan banyak manfaat, tapi ada juga insan yang umurnya pendek dan belum memberikan banyak manfaat. Yang ingin kita semua harapkan adalah berapapun Allah beri umur, yang penting kita memiliki hidup yang berprinsip dan memberikan manfaat.

    Pertama, mari kita belajar dari hidup ikan. Bahwa ikan itu bisa hidup selama berpuluh-puluh atau beratus-ratus tahun pun di laut yang mengandung zat garam, tidak akan berubah rasa dagingnya menjadi asin dan tetap terasa tawar.  Karena ikan itu masih memiliki nyawa atau ruh kehidupan. Namun ketika ikan itu dikeluarkan dari air laut dan dalam keadaan mati, tak bernyawa, yang selanjutnya dimasukkan ke dalam kuali dan diberi air garam, dalam beberapa menit, maka daging itu sudah terasa asin.

    Pelajaran yang kita peroleh dari ikan adalah prinsip dalam hidup itu penting sekali. Prinsip hidup menduduki faktor yang paling penting. Karena orang yang memiliki prinsip tidak akan mudah dipengaruhi oleh siapapun, terutama yang memiliki misi yang tidak baik dan sesuai  bagi kehidupannya. Orang yang berprinsip memiliki filter hidup yang kuat. Karena itu sering kita dengar bahwa tegas dan tegak dalam berprinsip, dan luwes atau fleksibel dalam implementasi. Artinya bahwa dalam hidup kita perlu disiplin dalam berprinsip, selanjutnya kita memiliki sikap  toleran atau well adapted dalam implementasi, sepanjang itu tidak merugikan dan tidak bertentangan dengan prinsip hidup. Prinsip hidup yang berlandaskan iman, islam, dan ihsan yang bersih.

    Kedua, mari kita belajar dari binatang lebah. Bahwa lebah itu menkonsumsi sesuatu yang baik dari sari bunga. Setelah memprosesnya sehingga menjadi madu yang bermanfaat tidak hanya untuk minuman yang sehat, melainkan bisa bermanfaat untuk obat, kesehatan. Sesuatu yang kehadirannya memberikan manfaat dan kebaikan bagi manusia. Bahkan memiliki nilai dan kualitas yang sangat baik.

    Pelajaran yang dapat kita petik dari lebah (madu) adalah nilai kemanfaatan dalam hidup. Bagaimana kehadiran hidup kita dunia itu memberikan manfaat. Rasulullah saw bersabda “..khairunnaas anfa’uhum linnaas”, yang artinya “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia. Sepanjang kita mampu memberikan manfaat bagi orang lain di suatu wilayah baru atau tempat kerja baru, insya Allah akan diterima dengan baik, kendatipun kita itu minoritas. Karena itu adalah penting bagi untuk berbuat kebaikan-kebaikan sebanyak-banyaknya bagi orang lain.

    Demikianlah ada dua hal penting dalam hidup kita, bagaimana kita tegakkan hidup kita yang berprinsip dan bermanfaat. Kita pasti menghadapi kehidupan sosial yang sangat dinamis. Gangguan dan tantangan yang datang dari dalam dan luar di kita tidak bisa kita hindari sebagai konsekuensi dan perubahan sosial yang cepat. Kita harus bisa mengantisipasi dan merespon persoalan yang muncul dan akan muncul. Untuk menghadapi hal ini, hidup berprinsip dan bermanfaat merupakan sesuatu yang sangat strategis. Semoga kita dapat mengarungi hidup kita dengan baik.


    Yogyakarta, 27 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Masih Berlakukah Hukum di Negeri Kita?

    Muslehuddin.
    PEWARTAnews.com – Negara Indonesia adalah negara hukum. Hal tersebut tertera pada bunyi Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945) menyebutkan bahwa, “Negara Indonesia adalah negara hukum". Hukum di negara Indonesia berlaku pada setiap keputusan suatu perkara harus berdasarkan hukum.

    Namun hukum yang pada hakikatnya menciptakan rasa keadilan belum juga dapat terealisasikan secara efektif. Hal tersebut dapat di lihat dari terjadinya praktik-praktik kecurangan, penyelewengan, penyimpangan terhadap aturan-aturan di dalam penegakan hukum itu sendiri.

    Masalah tersebut menimbulkan suatu pertanyaan  yang sangat mengganjal dalam penegakan hukum di negeri ini, benarkah hukum di negeri ini masih di perjual belikan? dan tentunya sangat menarik untuk di ketahui bersama tentang kebenaran hal tersebut. Agar tidak terjadi kesalah pahaman dan tidak terbilang hoax.

    Mengutip perkataan Teodoru Egie Sapultura, “Bahwa hukum merupakan hal yang penting dan wajib dipatuhi semua orang, akan tetapi banyak pejabat-pejabat tinggi negara yang memberlakukan hukum itu seperti makanan yang bisa dibeli.” Tentunya hal ini merupakan hal yang sangat tidak wajar dan tidak memiliki etika dan moral yang baik. Makanya perlu kesadaran bagi kita semua agar mematuhi hukum yang telah di buat dan di tetapkan oleh pemerintah.

    Maka dari itu rakyat memerlukan adanya kerja sama presiden dengan rakyat agar lebih tegas dalam menjalankan atau menerapkan hukum kepada pejabat-pejabat yang tidak bermoral.

    Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak sekali tahanan atau narapidana yang masih bisa berkeliaran menghirup udara bebas diluar sel tahanan.

    Mereka dengan leluasa menikmati masa-masa tahanan dengan bersenang-senang, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak terpidana. Hidupnya bebas, cuman yang membedakan dari mereka adalah status (terpidana dan tidak terpidana).

    Kalau boleh penulis mengibaratkan bahwa tahanan atau narapidana bagaikan burung kesayangan yang sengaja di lepas dari sangkarnya, yang ketika mau istrahat kembali ke sangkarnya dan jika pengen bebas maka akan terbang bebas.

    Kenadian tersebut bukan sudah rahasia umum lagi, melainkan pengetahuan umum bahwa hukum di negeri ini masih bisa di jual beli. Seperti apa yang di katakan oleh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Bapak Mahfud MD dalam wawancaranya pada merdeka.com tanggal 19 November 2015. “Bawa hukum kita masih banyak permainan dan bisa di perjual belikan oleh orang-orang yang punya uang”, sebutnya.

    Dari pernyataan tersebut bisa kita fahami bahwa hukum berlaku hanya begi orang-orang apes saja,  atau kurang beruntung dengan tidak memiliki pembela kerena tidak memiliki uang. Sedangkan mereka yang punya kekuatan politik dan uang seenaknya mempermainkan hukum dengan mempengaruhi dan membeli hukum tersebut.

    Hukum tidak bisa di beli, kata itu hanya ada bagi orang-orang yang mematuhi hukum dan tidak melanggarnya. Di sini hukum merupakan peraturan yang penting dan wajib di taati semua orang. Akan tetapi hukum tidak merupakan hal yang wajib bagi semua orang yang tidak mematuhinya. Di sini saya mengambil contoh dari kasus mafia hukum seperti gayus Haloman Tambunan dan mafia hukum lainnya.

    Gayus Haloman Tambunan yang secara ceroboh membuka tabir rahasia umum itu. Selama menjalani penahanan sebagai tersangka penggelapan pajak, Gayus tercatat 68 kali meninggalkan selya di rumah tahanan Markas Brimob  Kepala Dua, Depok, Jawa Barat. Gayus memperoleh perlakuan spesial tentu saja tidak gratis. Gayus harus menggelontarkan dana sebesar Rp.790 Juta untuk membius nurani kepala rutan Brimob Komisaris Polisi Iwan Siswanto serta delapan penjaga lainnya. Semuanya telah di tetapkan sebagai tersangka. Bahkan dalam kesempatan keluar sel Jum’at, 5 November 2010. Gayus di duga kuat sempat piknik ke Bali menonton pertandingan tenis Internasional. Dugaan itu muncul setelah penonton yang amat mirip dengan gayus beredar di media massa. Kita juga terusik bagaimana seorang Gayus masih memiliki uang sebanyak itu untuk menyuap polisi?, padahal semua rekeningnya di blokir polisi.

    Mungkinkan ada orang lain yang lebih berduit memasak uang untuk gayus? Pertanyaan itu sesungguhnya menggambarkan betapa tidak berdayanya penegak hukum di hadapan seorang Gayus. Miliader yang sesungguhnya hanya cuma pegawai pajak golongan IIIA itu telah membenamkan banyak sekali duit hasil penggelapan pajak kepada begitu banyak aparat. Kasus gayus ini malapetaka sekaligus hikmah bagi penegakan hukum di negeri ini. Malapetaka kerena hukum harus di langgar oleh mereka yang seharusnya menegakkan hukum. Aparat penegak hukum di negeri ini ternyata begitu gampang terbius duit. Hikmah karena melalui kasus ini tidak ada lagi yang bisa membantah kebenaran bahwa para tahanan atau narapidana dengan gampang piknik ke luar tahanan. Sekali lagi, itu bukan lagi rahasia umum, tapi pengetahuan umum.

    Terkait dengan apa yang di paparkan seperti di atas kita tidak bisa menafikan bahwa hukum itu masih di perjual belikan, bahkan kemungkinan besar sampai sekarang masih ada orang-orang yang melakukan itu hal tersebut. Tapi semoga saja yang melakukan cepat sadar bahwa apa yang di lakukan adalah salah.

    Seharusnya kita semua sebagai manusia bisa menyadari bahwa hukum itu merupakan hal yang tidak di perjual belikan. Oleh karena itu, pemerintah yang mempunyai tugas tertinggi harus memperhatikan orang-orang yang menjual hukum atau orang yang tidak bertanggung jawab. Jika tidak di cermati maka hukum di negeri ini tidak akan ada arti dan maknanya sama sekali. Maka dari itu presiden harus mengerluarkan peraturan yang tegas dan berbotot.

    Bagi kita semua harus saling menyadari betapa pentingnya hukum itu, dan jangan memberlakukan hukum itu seperti benda yang bisa di perjual belikan, patuhi hukum yang ada dan cermati apa makna yang ada di dalamnya. Sekian!


    Penulis: Muslehuddin
    Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Tantangan Pimpinan Perguruan Tinggi (Part 2)

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Setelah sama-sama kita mengikuti deskripsi, ulasan dan bahasan tentang tantangan pimpinan Perguruan Tinggi (PT) bagian pertama, kini selanjutnya akan dibahas bagian keduanya. Keenam, tantangan mengembangkan staf. Pimpinan PT dalam menghadapi tantangan pengembangan staf, tidak bisa lepas dari pemahaman tentang universitas sebagai organisasi belajar, yang mengakui bahwa universitas itu bergerak untuk menjawab tantangan masa depan, sehingga bersikap antisipatif - tidak reaktif, lebih memberikan perhatian kepada lingkungan eksternal - bukan operasi internal, dan mencari perbaikan terus menerus seiring dengan tuntutan jaman. Mengingat universitas harus tumbuh dan berkembang, maka kebutuhan kompetensi, keahlian dan keterampilan terus meningkat baik kuantitas maupun kualitas. Dengan begitu persoalan rekruitmen, seleksi, dan pembinaan kompetensi dan karir berkelanjutan menjadi sangat penting.

    Ketujuh, tantangan memimpin dan merayakan keragaman.  Manusia itu secara fitrah oleh Allah swt diciptakan dari seorang lelaki dan perempuan, secara bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal. Demikian juga Alfred Adler menegaskan bahwa man is unique. Hal ini memberikan penguatan bahwa keragaman (individual differences) menjadi suatu keniscayaan yang harus dihadapi dan diterima. Keragaman bisa terjadi dimana-mana, termasuk keragaman di universitas. Universitas membangun untuk semua, karena itu di universitas seharusnya dimungkinkan pendidikan inklusif dapat dimplementasikan dengan baikn dan menyeluruh, sehingga partisipasi di universitas menjadi semakin meluas dan memungkinkan aksesnya bisa dijangkau oleh semua tanpa ada kesulitan yang berarti. Prinsip keragaman juga memungkinkan program internasionalisasi yang bisa mengakomodasi semua. Internasionalisasi difahami sebagai upaya melakukan benchmarking standar internasional, sehingga produk PT kita bisa diterima dengan baik semua perguruan tinggi dan institusi di seluruh dunia. Sebaliknya internasionalisasi dimakasudkan untuk meng-go internasional-kan produk PT kita yang berbasis local wisdom, semoga bisa menarik mahasiswa asal luar negeri, dan bisa mendiseminasikan karya-karya lulusan PT Indonesia untuk dunia.

    Kedelapan, tantangan meningkatkan pengalaman mahasiswa.  Pimpinan PT perlu memahami pengalaman mahasiswa yang harus menjadi concern. Pengalaman mahasiswa tidak harus dibatasi dengan pengalaman akademik saja, yang sering diukur dengan pencapaian IPK, melainkan harus mencakup pengalaman keterampilan, kreativitas,  interpreneurship dan moral. Berdasarkan kondisi ini, maka mahasiswa harus dipandang sebagai pembelajar dan kustomer. Sebagai pembelajar, mahasiswa bisa menjadi pembelajar independen dan pembelajar sepanjang hayat perlu mendapat perhatian khusus dari pimpinan perguruan tinggi. Selain daripada itu pimpinan PT perlu terus berusaha melengkapi pengalaman mahasiswa, di samping pembinaan hard skills, tetapi juga soft skills. Sebagai kustomer, mahasiswa harus dilayani dengan seoptimal  sesuai kebutuhan dan kondisinya secara memuaskan.

    Kesembilan, tantangan memanaj perubahan.  Perubahan adalah merupakan sunnatullah. Perubahan merupakan suatu keniscayaan. Perubahan sangat diperlukan baik untuk eksis maupun untuk berkembang. Perubahan tidak hanya sebatas universitas berubah, melainkan harus menghasilkan karya-karya inovatif dan para innovator yang beragam bidangnya, baik berupa publikasi bereputasoi internasional dan karya-karya berpaten dan ber-Haqi. Untuk menghasilkan inovasi, miqat makan-nya adalah Departemen dan pusat penelitian, karena departemen dan pusat penelitian asal tempat berkumpulnya para ahli dan tempatnya fasilitas akademik yang relevan dengan bidak akademiknya.

    Kesepuluh, tantangan memanaj pada sisi “up”and “down”.  Pimpinan  PT dihadapkan pada tantangan manajemen sisi atas, berkenaan dengan bekerja yang terkait pimpinann atas,  membangun dan memelihara PT berbasis kekuasaan, membuat presentase profil PT secara efektif, dan menyiapkan renacana bisnis. Selanjutnya, manajamen sisi bawah, di antaranya pimpinan PT harus mampu mengatasi berbagai konflik, menegakkan disiplin, dan memberikan jalan keluar terhadap berbagai keluhan,  mengelola reputasi, dan mengelola perguruan tinggi dalam krisis, sehingga bisa keluar dari berbagai kesulitan dan mampu menyelesaikan dinamika universitas menuju yang lebih baik.

    Kesebelas, tantangan memanaj diri sendiri. Pimpinan PT didorong untuk bisa  mengorganisasi diri sendiri sebagai pimpinan akademik, bukan pimpinan birokratik, bahkann sebagai khadimul ummah yang mendapat amanah untuk melayani civitas akademika terkait dengan tugas utama Tridharma PT, di samping melayani mahasiswa, membangun partnership, dan menjadi universitas sebagai pusat keunggulan (center of excellene) dan agen perubahan (agent of change). Pimpinan PT juga harus menjadi dirinya sendiri, baik sebagai pribadi mauoun sebagai professional. Juga Pimpinan PT harus terus menjaga diri dengan mengikuti perkembangan jaman dengan melakukan penyesuaian dan adaptasi terhadap kebijakan yang sedang berlangsung. Akhirnya pimpinan PT harus mampu melakukan introspeksi dan meng-update diri terutama kemampuan dan kecakapan kepemimpinan secara terus menerus, sehingga dapat memberikan dampak terhadap perbaikan kinerja perguruan tinggi.

    Demikianlah beberapa tantangan pimpinan PT, semoga menjadi catatan penting bagi  semua pimpinan, terlebih-lebih di era digital yang sangat menuntut kepekaan para pimpinan PT terhadap issue-issue perguruan tinggi dewasa ini. Setelah kita saling sharing di Semarang bersama para pimpinan PT, diharapkan secara organisatoris dan secara institusional dapat segera di-follow up,maka diharapkan sekali manfaat silaturahim dan konferensi tahunan dapat dirasakan masing-masing di tempatnya.


    Semarang, 26 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Bukber 2019 Bersama Mahasiswa PAI B 2015

    Suasana Bukber 2019 bersama Mahasiswa PAI B 2015.
    "Bukber adalah moment untuk merekatkan jalinan emosional, mensinergikan pikiran dan hati untuk memahami setiap hal yang telah terukir, dan mengingat kembali sejarah hidup yang dilaui bersama". (Mukaromah, 2019)

    Dari rumah penulis, butuh 1 jam untuk sampai di tempat ini. Niat saya satu, silaturrahim. Tak biasanya, Bukber kelas diadakan di rumah salah satu kawan kami, bukan di resto atau tempat lain. Mungkin, ini kode agar pada saatnya nanti ia menikah, kami sudah tau alamat rumahnya. Hahahaha, makasih Bang Zae.

    Sebelum penulis membuat caption tentang foto ini, boleh kiranya menceritakan sedikit hal yang terbesit dibenak. Sesuatu yang membuatku terharu, adalah mendengar kawan Munaqosyah. Disatu sisi bahagia, namun disaat yang bersamaan juga bersedih. Bahagia karena tentu hal demikian, menjadi salah satu bukti bahwa ia bertanggungjawab atas akademiknya. Namun, sedih karena perpisahan kian dekat.

    Dan entah, aku tak tau, setahun yang akan datang apakah bisa selengkap ini atau tidak. Karena mayoritas dari mereka adalah anak rantau yang kini sedang memikirkan langkah ke depan, tetap di Jogja ataukah kembali ke daerah asal. Seperti apapun dimasa depan, tetaplah saling ingat mengingat bahwa kita pernah berjuang bersama, pernah mengukir mimpi, cita dan impian untuk membangun Indonesia yang lebih baik, pun demikian halnya, rentetan cerita yang pernah kita ukir saat menjadi mahasiswa, akan menjadi kenangan terindah, sekaligus akan menjadi sejarah hidup yang akan terus terkenang.

    Harapanku sederhana, semoga moment bukber kali ini (2019) bukan Bukber yang terakhir, namun bukber tanda pisah sementara karena harus melanjutkan langkah selanjutnya. Menikah, kerja ataukah melanjutkan studi kembali. Tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya semoga tetap bisa menjaga erat silaturrahim ini, sampai maut yang memisahkan. Aku bangga, mengenal mereka. Mereka  adalah kawan perdana yang selalu mengisi hari-hari ku, saat menjadi Mahasiswa Baru di PAI B 2015 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selamat melanjutkan perjuangan kembali.


    Yogyakarta, 11 Mei 2019
    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Tantangan Pimpinan Perguruan Tinggi (Part 1)

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Di Era Rrevolusi Industri 0.4 kehidupan manusia semakin komplek. Perubahan sosial terjadi sangat cepat. Perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh globalisasi, kemajuan ipteks, pemanasan global, keterbukaan informasi, ledakan penduduk, krisis moral,  dan sebagainya. Perguruan sebagai institusi paling depan bertanggung jawab memberikan respon terhadap perubahan besar. Kemampuan perguruan tinggi dalam merespon perubahan tidak bisa dilepaskan dari pimpinannya. Sehebat apapun  pimpinan perguruan tinggi tidak bisa lepas dari berbagai tantangan.

    Berdasarkan pandangan Peter McCaffery (2004) bahwa tantangan pimpinan Perguruan Tinggi (PT) sangat terkait dengan, (1) mengetahui lingkungan, (2) mengetahui institusi, (3) memimpin departemen, (4) memimpin dengan keteladanan, (5) memimpin untuk kinerja unggul, (6) mengembangkan staf, (7) memimpin dan merayakan keragaman, (8) meningkatkan pengalaman mahasiswa, (9) memanaj perubahan, (10) memanaj pada sisi “upand down”, dan (11) memanaj diri sendiri. Untuk dapat memberikan ulasan yuang rekatif lebih detil, akan diposting dua kali, pertama tantangan no 1 sd 5, sedangkan kedua tantangan no 6 sd 11.

    Pertama,  tantangan mengetahui lingkungan. Pimpinan PT harus menyadari adanya pendorong perubahan, yang terkait dengan globalisasi, masyarakat pengetahuan, perubahan sosial, spesialisasi akademik dan postmodernisme;  krisis identitas universitas; tantangan strategik universitas. Tantangan ini tidak bisa diabaikan. Pimpinan harus bersikap reaktif terhadap persoalan yang ada di lingkungan dan bersikap proaktif dalam rangka mengantisipasi persoalan yang muncul di lingkungan.

    Kedua, tantangan mengetahui manajemen dan kepemimpinan PT baik bidang akademik maupun non akademik, kultur PT, universitas riset, universitas enterpreneurship, universitas virtual, dan universitas 2025. Pimpinan PT tidak hanya mampu mengelola dan memimpin, melainkan juga mengarahkan PT baik menghadapi persoalan mutaakhir, maupun persoalan masa mendatang, terlebih-lebih berkenaan menjadikan universitas yang mampu mengantarkan mahasiswa mampu menghadapi tantangan pada jamannya.

    Ketiga, tantangan memimpin departemen. Dalam memimpin departmen, ketua departemen akan menghadapi persoalan leadership vs manajement, menjadi leader and manager efektif, model kepemimpinan yang baru, memedomani prinsip-prinsip leadership and manajemen, memimpin dan mengelola PT menegakkan visi departemen. Perlu dimaklumi bahwa tidak semua dosen mempersiapkan diri sebagai pimpinan, sekalipun sebagai ketua departemen. Padahal pimpinan departemen merupakan suatu keniscayaan bagi setiap dosen. Biasanya departemen yang baik selalu menghendaki pimpinan depatemen adalah dosen yang memiliki reputasi akademik yang baik. Menyadari kondisi yang demikian, maka ketua departemen perlu mendapatkan pelatihan pimpinan akademik untuk menjadi pimpinan departemen yang efektif.

    Keempat, tantangan memimpin dengan keteladanan :`Pimpinan PT pada hakekatnya sering dihadapkan pada tugas meratakan jalan, membangun team building, dan mengatasi konflik. Pada prakteknya, pimpinan PT harus selalu standby dalam menghadapi berbagai persoalan yang selalu berubah. Demikian juga pimpinan harus mampu mengorganisasikan team building, untuk dapat mencapai tujuan lebih efektif dan efisien. Mengingat dinamika PT yang tidak pernah lepas dari persoalan, yang bahkan bisa menimbulkan konflik, maka perlu ditunjukkan kepemimopinan yang kolegial dan kolektif, sehingga terhiondar dari konflik yang tidak perlu.

    Kelima, tantangan memimpin untuk kinerja unggul. Pimpinan PT dihadapkan pada tantangan  memenaj kinerja staf, persoalan tentang manajemen kinerja, prinsip-prinsip manajemen kinerja, implementasikan manajemen kinerja, mengatasi kinerja yang rendah, dan memotivasi staf. Karena salah. satu ukuran keberhasilan kepemimpinan PT adalah keberhasilan kinerja, maka manajemen kerja harus mendapatkan perhatian tersendiri, untuk mampu mengantarkan institusi dan personalia untuk bekerja yang kompetitif dan produktif. 

    Demikianlah berbagai tantangan bagi pimpinan perguruan tinggi, sebagai pimpinan akademik di semua level, yang diharapkan dapat dikenali oleh para pimpinan atau calon pimpinan PT serta para pemerhati kepemimpinan PT. Semoga materi ini bisa menginspirasi semua, sehingga bisa menunjang pengelolaan perguruan semakin efektif dan efisien dari waktu ke waktu.

    Tulisan ini sengaja dipersembahkan kepada kolega untuk menyambut Konferensi Forum Rektor Indonesia 2019 di Undip, Semarang tangga 25-27 April 2019. Saya mohon maaf, kemarin tidak bisa posting karena ada gangguan teknis hp jatuh lagi, shg tidal bisa berfungsi. Padahal saya sangat tergantung  pada hp itu untuk uposting. Insya.Allah hari ini akan komornsasi dengan 2 posting.


    Semarang, 26 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Akhirussanah Pondok

    Siti Mukaromah.
    PEWARTAnews.com – “Tirakat terbesar sekaligus terbaik bagi orang yang mempunyai Al Qur’an adalah nderes” (Ny. Hj. Siti Syamisyyah DZ)

    Selama berguru dengan Bu Ny. Syamsiyyah tak banyak tuntutan dan perintah yang beliau berikan kepadaku, maupun santri-santri yang lain selain daripada nderes (mengaji Al-Qur'an). Bahkan beliau pernah ngendiko dalam bahasa Jawa, “Nek puasa sunnahmu itu membuatmu malas dan ngantuk kala nderes, mending tidak usah berpuasa, cukup nderes sik mempeng (istiqamah) saja, itu tirakatmu sebagai penghafal Qur’an”.

    Berdasar sepengatahuan penulis, setiap pondok pesantren memiliki tirakat-tirakatnya sendiri. Ada kiyai dan nyai (pengasuh pondok) yang mewajibkan/ndawuhi santri-santrinya untuk berpuasa ngrowot (tidak makan nasi), mutih, puasa daud atau puasa senin kamis. Namun di pondok pimpinan Bu Ny. Syamsiyyah tidak mewajibkan itu semua, hanya saja bu Nyai tak kenal lelah untuk terus memotivasi santri-santrinya agar sregep nderes. Sebegitu besarnya bu Nyai dalam memuliakan Al-Qur’an, maka beliau selalu mewanti-wanti (menaruh harapan besar) pada para santrinya untuk terus berangkat Ahad Pon. Ahad Pon merupakan rutinan semaan Al-Qur’an yang dilaksanakan setiap 40 hari sekali yang bertempat secara nomaden (door to door). Harapannya, agar ikatan keluarga besar PP. An Ni’mah terjalin kuat, selain itu juga untuk saling ngrekso Al-Qur’an, dengan berproses bersama.

    Dan seharusnya, Agenda rutin Ahad Pon Santri & Alumni PP. An Ni'mah juga digunakan untuk nostalgia kebersamaan kala dulu menjadi santri. Moment seperti ini juga seharusnya digunakan sebagai ajang untuk menyambung silaturrahim. Sebagaimana yang diketahui, bahwa silaturrahim menjadikan hidup kian berkah, melapangkan rizqi dan memperpanjang umur. Jika hal semacam itu disadari, tentu sepelik apapun keadaan dan kesibukan tak menjadi hambatan untuk tetap berangkat dan merajut kebersamaan kembali. Bayangkan, betapa bahagianya Almh. Bu Ny. Hj. Siti Syamsiyyah DZ manakala melihat santri-santri nya antusias untuk bersama-sama nguri-uri (menjaga dan merawat) amanah beliau.
    Suasana saat Akhirusanah Pondok Pesantren An Ni'mah.

    Saya yakin seyakin-yakinnya-nya (haqqul yaqin) betapapun keadaan tidak memungkinkan untuk berangkat, tetapi kalau niat, azam dan ghirah menjadi patokannya, pasti Allah akan memberikan kemudahan dan kekuatan untuk sampai pada tujuan. Untuk memupuk semangat selain mengingat dan mengenang wajah bu Nyai, bisa dengan cara melihat keadaan diri. Bagi yang masih single, mumpung belum nikah. Bagi yang sudah nikah, mumpung belum punya anak. Dan bagi yang sudah menikah dan punya anak, mumpung masih ada peluang dan kesempatan yang Gusti Allah berikan, maka harus semangat menjaga amanah Almh. Bu Nyai untuk meramaikan majlis Ahad pon. Karena sedikitpun manusia tidak tahu kapan ajal menjemput. Padahal setiap harinya, kematian selalu mengintai manusia. Sekali lagi, karena “mumpung”, jadikan kata “mumpung” itu sebagai cambuk loncatan untuk semangat dalam segala hal, sesibuk apapun.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Menguatkan Ishlah

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Belakangan ini pimpinan ormas dan tokoh nasional (Jusuf Kalla) bersemangat untuk menguatkan ishlah di antara ormas Islam baik yang besar maupun yang kecil. Di samping sejumlah institusi yang  telah mengeluarkan sikap dan maklumat untuk hadapi persoalan bangsa pasca Pilpres dan Pileg. Upaya yang sangat terpuji ini dilakukan bukan tanpa alasan karena beberapa waktu yang lewat terjadi tarik menarik antar ummat Islam, bukan hanya antar  ormas Islam saja, melainkan juga antar internal ormas Islam.

    Apapun kondisinya, bahwa setiap ummat Islam wajib merujuk ke QS Ali Imran:103, "Berpeganglah teguh dengan tali Allah, jangan bercerai berai. Ayat ini mengisyaratkan bahwa dalam berislam kita wajib  membangun hunungan ilahiyah (hambum minallah) dan  insaniyah (hablum minannaas) secara seimbang. Dalam berislam dan beribadah kita seyogyanya lebih utamakan berjamaah, bukan hidup solitair atau nafsi-nafsi. Sebaliknya jika kita hidup bermasyarakat apapun status kita, bahkan sekalipun kita boss, maka kita harus bersikap humble dan bersahaja, karena kita sama-sama hamba Allah memiliki derajat yang sama, kecuali kualitas taqwa kita yang membedakannya di  sisi  Allah swt.

    Mengapa kita tidak boleh bercerai berai dan utamakan bersatu (berjamaah). Karena fitrah manusia itu berbeda, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dan hendaknya saling mengenal dam menolong. (QS Al Hujurat:13).  Ditegaskan juga oleh Alfred Adler, bahwa fitrah manusia unik (man is unique), berbeda.antara satu dan lainnya. Karena itu mereka punya gaya hidup yang berbeda (style of life). Dalam kondisi manusia unggul tidak sepatutnya merasa sombong dan takabbur, justru harus tawadlu dan espek dengan siapapun. 

    Atas dasar keragaman itulah sangat bisa dimaklumi bahwa pilihan afiliasi partai bisa beragam yang terjadi pada ummat Islam. Perbedaan afiliasi partai dalam kaitannya dengan pileg dan perbedaan koalisi dalam pilpres tahun 2019 sangat mempengaruhi kualitas relasi sosial ummat Islam. Bahkan bisa dihipotetikkan bahwa kondisi menjelang pilpres  paling “mencekam", dibandingkan dengan pilpres-pilpres sebelumnya. Potensi persoalan konflik masih terasa. Karena itulah kondisi ini perlu segera mendapatkkan penangan yang baik dan serius. Jika tidak ummat Islam dan seluruh warga Indonesia akan menghadapi persoalan serius yang sangat tidak dikehendaki.

    Kita sangat menghargai institusi KPU, Bawaslu, dan DKPP, yang harus bekerja secara profesional, adil, jujur, objektif dan transparan yang didukung dengan semua partai dan  dua koalisi pilpres. Di samping itu  seluruh ummat Islam dan ormas Islam bisa menahan diri dan tetap saling menghargai, memantau dan mengawasi proses rekapitulasi, sehingga didapatkan hasil akhir yang bisa diterima oleh semua. Jika terpaksa sekali tidak diperoleh hasil yang tidak memuaskan, upaya hukum perlu diprioritaskan daripada people power, dengan tetap diharapkan sekali MK dapat bekerja profesional, adil, transfaran dan amanah.

    Rasanya perlu meneguhkan kembali, bhwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara mereka (QS Al Hujurat:10). Perbedaan yang terjadi di antara ummat Islam harus terus diupayakan penanganannya dengan niat dan spirit yang baik. Di samping dimulai dengan seremonial dan formalitas untuk, perlu diteruskan ke seluruh penjuru tanah air. Kita harus ambil pelajaran dari perbedaan yang ada. Ingat sabda Rasulullah  saw, "ikhtilaafu ummatii rahmatun", bahwa perbedaan di antara ummatku adalah rahmat. Karena itu tidak ada alasan yang lebih kuat, terkait dengan perbedaan,  kecuali memantapkan dan menguatkan ishlah.  Ishlah harus dijaga terus dengan satu ikatan yaitu tauhid sebagai common value. Dengan begitu, semoga persatuan dan kesatuan bisa kita jaga untuk seterusnya. Aamiin.


    Jombang,  24 Maret 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Bima Juga Indonesia

    Jumratun.
    Tuan dan puan,
    Sesekali berkunjunglah ke negeriku
    Tanah luhur yang menyimpan banyak asah
    Menyuguhkan bara sejarah yang asyik
    Petuah dan sikap hidup yang menjadi bukti,
    Kekal dan abadi dalam bertindak.

    Mari tuan dan puan,
    Datanglah kemari,
    Lihatlah tanahku yang tersobek dari buku sejarah,
    Menyimpan mustika, menyuguhkan permata,
    Tanah yang katanya rapuh
    Tanah yang menyimpan seribu luka
    Ternyata mengabarkan berjuta suka.

    Tenanglah tuan,
    Engkau tidak akan kecewa,
    Badai masa lalu telah mengulungnya,
    Penghancuran daya fikir merobohkan dirinya,
    Tetapi yang semesti ada akan tetap ada.

    Tenaglah puan,
    Bibirmu tak perlu risau dengan luka,
    Rambutmu tak perlu kau sisir dengan duka,
    Sebab martabat manusia tidak harus diukur dari kata, dan kelembutan hidup menjadi bagian dari sikap.

    Lihatlah tuan dan puan,
    Tanahku menghidupi segala rupa
    Memberi nyawa kepada kehidupan,
    Bermekaranlah bunga dan nafas dari syurga,
    Benih-benih kegagahan menghijau di mana-mana,
    Tumbuh bersama setiap kemesraan yang tercipta.

    Tenanglah tuan-tuan,
    Padi yang gemulai nan mengkuning,
    Pulau yang terbentang indah mempesona,
    Air yang mengalir dengan tabah,
    Adalah bukti mereka peradaban.

    Inilah tanahku tuan, tanah yang tidak di kenal oleh Indonesia tetapi hidup dirahimnya dunia.

    Danaku Ma Mbari.


    Yogyakarta, 12 Mei 2019
    Karya: Jumratun
    Pengurus Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY)

    Menegakkan Kebenaran

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Rakyat Indonesia dewasa ini dihadapkan ujian yang tidak ringan. Ujian itu adalah menegakkan kebenaran. Untuk bisa menyikapi ujian itu, setidak-tidaknya ada 4 kebenaran. Kebenaran ilahiyah (transendental) , kebenaran akademik, kebenaran konstitusional, dan kebenaran kelompok.

    Kebenaran ilahiyah (transendental) adalah kebenaran mutlak, yang tidak bisa diragukan sedikitpun kebenarannya. Firman Allah swt , dalam QS Al Baqarah:147 yang berbunyi:

    الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

    Alhaqqu mir rabbika falaa takuunanna minal mumtariiin
    "Kebenaran itu datang dari Rabb mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu”.

    Untuk bisa menerima kebenaran ilahiyah (transendental) adalah iman. Tanpa iman yang benar dan bersih, tidak bisa dengan mudah kebenaran ilahiyah (transendental) ditemukan, diraih, dan diterima. Ingat bahwa prinsip kebenaran ilahiyah (transendental) adalah “Believing is Seing”. Apabila kita beriman terhadap hidup sesudah mati dan hidup di akhirat, maka kita akan melihatnya. Tidak bisa untuk hal ini kita melihat dulu baru percaya. Kunci utama kebenaran ilahiyah (transendental) adalah dimiliki dan diresapinya iman.

    Selanjutnya dapat dinyatakan bahwa kebathilan itu akan lenyap jika kebenaran ilahiyah (transendental) datang. Allah swt berfirman dalam QS Al Isra:81, yaitu :

    وَقُلْ جَآءَ اْلحَقُّ وَزَهَقَ اْلبَاطِلْ إِنَّ اْلبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

    Waqul jaa-al haqqu wazahaqol baathil innal baathila kaana zahuuqaa
    Artinya “...Dan katakanlah : Yang haq telah datang dan yang batil telah musnah, sesungguhnya segala yang batil itu pasti musnah”

    Apapun kebatilan di atas bumi akan lenyap, karena itu sebagai orang beriman harus benar-benar memegang kebenaran ilahiyah (teansendental) berdasarkan dalil naqli. Berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg bahwa kebenaran ilahiyah (transendental) itu berada pada level 6, posisi tertinggi.

    Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang bersifat tentatif, empiris, faktual dan obyektif. Karena bersifat tentatif, maka sangat terbuka teori yang bersandar pada kebenaran ilmiah dapat dikoreksi dengan teori baru dan seterusnya. Karena bersifat empiris dan faktual, maka prinsip kebenaran ilmiah adalah “Seing is Believing”. Kita bisa menerima sebagai kebenaran ilmiah, jika sudah bisa dibuktikan secara empiris. Walaupun demikian kekuatan kebenaran ilmiah pada akhirnya pada puncaknya bisa menemukan kebenaran hakiki, yang merupakan kebenaran ilahiyah. Tidak sedikit orang yang mendalami ilmunya pada akhirnya menemukan Dzat yang menjadi sumber kebenaran. Kedudukan kebenaran ilmiah itu berada pada posisi setelah kebenaran berdasarkan pengalaman dan otoritas.

    Kebenaran konstitusional adalah suatu kebenaran yang bertumpu pada konstitusi yang ada. Kita menyadari bahwa berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg bahwa peraturan yang dibuat oleh penguasa (presiden) itu berada pada level 4, dan undang-undang, UUD, dan Ketetapan MPR itu berada pada level 5. Jika persoalan bangsa itu diselesaikan berdasarkan konstitusi undang-undang dan ke atasnya, maka kebenaran itu bisa diterima oleh warga bangsa bukan kelompok rezimnya saja.

    Kebenaran kelompok adalah suatu kebenaran yang bertumpu pada kebenaran yang dibangun oleh kelompok. Bagaimana dibangunnya kebenaran itu dibangun tergantung pada integritas dan objektivitas dalam membangun kebenaran. Kebenaran kelompok berdasarkan teori Kohlberg berada pada level 3.

    Persoalan yang kita hadapi sekarang terkait dengan hasil pilpres, bahwa di antara dua kubu meng-claim sebagai pemenang. Tentu pada akhirnya bahwa pemenangnya itu satu di antara dua kubu. Bisa 01 atau 02. Mari kita cermati dari sisi substansialnya, bukan sisi formalitasnya. Jika kubu 01 mengklaim sebagai pemenangnya yang didasarkan pada hasil quick count dari 8 lembaga survai yang “kredibel” yang telah disahkan oleh KPU itu dapat diterima, sepanjang KPU dalam kerjanya itu profesional, fair, dan independen atau bersih dari intervensi. Dalam prakteknya, ternyata publik mempersoalkan independensi KPU. Bahkan termasuk kinerjanya terkait dengan hasil real count-nya. Ini yang perlu dibuktikan oleh kinerja KPU. Jika KPU bisa membuktikan independensinya, maka semua bisa mempertimbangkan untuk menerima hasil kinerja yang terkait dengan KPU. Namun jika tidak demikian, maka bisa dimaklumi jika ada yang mempertanyakan, bahkan menolaknya.

    Jika kubu 02 meng-claim sebagai pemenangnya yang didasarkan pada hasil quick count dari sejumlah lembaga survai dan real count yang dilakukan oleh BPN, maka hasilnya cukup bisa diterima oleh kelompoknya saja dan belum bisa diterima oleh kelompok lainnya. Namun jika cara kerja lembaga survainya dan BPN telah benar-benar melakukan tugas bertumpu pada metode ilmiah yang didasarkan sikap ilmiah, tidak ada manipulasi, bertumpu pada peraturan perundang-undangan yang ada, dan dalil-dalil naqli, maka hasilnya patut dipertimbangkan.

    Bahwa era keterbukaan sekarang ini bisa menjadi jalan keluar yang terbaik untuk selesaikan masalah terumit sekalipun, sepanjang semua bekerja dengan jujur, adil, profesional, dan amanah. Polemik belakangan ini harus segera disikapi dengan sungguh-sungguh. Insya Allah dengan begitu, hasil kebenaran yang ditemukan tidak hanya sesuai dengan kebenaran berdasarkan otoritas, tapi juga kebenaran akademik, kebenaran konstitusional, dan kebenaran ilahiyah (transendental). Dengan begitu KPU akan bisa landing dengan husnul khatimah. Semua bisa legowo dan ikhlas serta hasilnya bisa menjadi modal utama untuk menjadikan Indonesia jaya, maju dan menang yang diridloi oleh Allah swt.


    Yogyakarta, 23 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Komet dan Misi Penyelamatan Dunia Parallel

    Cover Buku Komet.
    PEWARTAnews.com – Komet adalah buku ke 5 setelah (Bumi, Bulan, Matahari, Bintang). Novel ini masih menceritakan tentang pertualangan tiga orang sahabat , Raib berasal dari Klan Bulan, mampu berterportasi dan menghilang, bersifat pemberani dan selalau berhati-hati dalam mengambil tindakan. Selly berasal dari Klan Matahari, dapat mengeluarkan petir dari tangannya agak penakut namun sangat peduli kepada sahabatnya. Dan Ali berasal dari Klan Bumi dapat berubah wujud menjadi seekor beruang yang buas. Ali merupakan yang paling cerdas diantara kedua sahabatnya. Tetapi sangat sembrono.

    Mereka mempunyai misi ingin menyelamatkan dunia parallel. Tetapi usaha mereka harus gagal didetik terakhir saat mereka sudah berhasil menemukan tumbuhan aneh yang mereka cari karena si Tanpa Mahkota berhasil mengelabui mereka dengan menyamar menjadi pemuda bernama Max. padahal awalnya mereka mengikuti si Tanpa Mahkota untuk memastikan pusaka tersebut tidak berhasil diambil olehnya. Dan tanpa sadar saat mereka mengikuti si Tanpa Mahkota melewati portal ketiga sahabat itu akhirnya terdampar di dunia misterius. Anehnya pulau-pulau itu dinamai seperti nama-nama hari . pulau Hari Senen, Pulau Hari Selasa, Pulau Hari Rabu, Pulau Hari Kamis, Pulau Hari Jumat, PuLAU Hari Sabtu dan Pulau Hari Minggu. Yang ternyata pulau-pulau itu adalah Gugusan Pulau Komet.

    Saat pertama kali terdampar di Pulau Hari Senen mereka bertemu dengan Paman Kay dan Bibi Nay, Sebuah pulau dengan perkampungan dibawah tanah. Di pulau itu mereka diuji tentang Kejujuran dengan tidak mencuyri makanan di perahu. Kemudian di Pulau Hari Selasa mereka bertemu dengan kembaran Paman Kay. Yaitu Kakek Kay. Di Pulau itu mereka di uji tentang Kepedulian dengan membantu seorang anak bernama Cindanita menemukan bonekanya yang hilang di ambil bintang laut. Di pulau Hari Rabu mereka bertemu dengan Petani Kay, mereka heran dan bingung karena sudah dua oranng yang bernama Kay dan mirip. Di pulau tersebut mereka mendapat ujian kesabaran dengan mendengarkan celoteh panjang dari Petani Kay juga ujian Kecerdasan dengan mengalahkan kawanan burung yang merusak hasil panen petani. Setelah dari Pulau Hari Rabu mereka ingin melanjutkan perjalanan menuju pulau Hari Kamis tetapi tidak jadi karena di Pulau Hari Kamis di huni oleh para perompak yang kejam begitulah ucap Petani Kay. Tetapi saat mereka melakukan perjalanan dari Pulau Hari Rabu menuju Pulau Hari Jumat , kapal mereka berhasil ditahan oleh para Perompak dan dibawa ke Pulau Hari Kamis. Di pulau Hari Kamis mereka menemukan banyak Perompak yang kesakitan akbat ketergantungan senjata, termasuk pimpinan para Perompak yang bernama Dorokdok-Dok. Tetapi Raib berhasil menyelamatkan para Perompak itu dengan teknik penyembuhannya.

    Tiba di Pulau Hari Jumat mereka menyaksikan perebutan kekuasaan yang bergulir 200 tahun sekali oleh Raja Kay dan Dorokdok-Dok (Perompak Kay). Oleh Raja Kay mereka diberi petunjuk untuk melanjutkan perjalanan menuju Pulau Hari Sabtu agar mereka dapat bertemu dengan Pelaut Kay yang diceritakan sebagai penguasa lautan dan satu-satunya orang yang tahu tentang Pulau dengan tumbuhan aneh itu. Dalam perjalanan Kapal mereka di serang oleh Gurita raksasa, dan mereka kembali di uji dengan ujian Ketangguhan dengan terus mengayun bilah papan menuju Pulau Hari Sabtu. Di Pulau Hari Sabtu mereka kembali bertemu dengan Paman Kay dan Bibi Nay, orang yang mereka temui di Pulau Hari senen dan ternyata orang yang mereka temui di di berbagai pulau itu ternyata paman Kay yang sengaja menguji mereka.

    Setelah mengetahui hal tersebut ujian yang harus mereka lewati belum selesa. Mereka kembali di uji dengan Ujian Melepaskan, dan mereka berhasil melewati ujian tersebut. Akhirnya mereka di ijinkan untuk melewati portal menuju Pulau Hari minggu dengan tumbuhan aneh itu. Pulau hari minggu merupakan sebuah pulau biji raksasa yang mengambang, bergerak mengikuti arus laut. Biji itu muncul sedikit di permukaaan air, ditutupi oleh tanah dan rumput dan persis di tengahnya berdiri pohon kelapa (poho dari biji raksasa).  Saat mereka tiba disana seorang pemuda bernama Max yang mereka ajak untuk mengikuti mereka ternyata emenghianati mereka , merekapun gagal mendapatkan pusaka dengan buah aneh itu. Dan tanpa diduga-duga Ternyata Max adalah si Tanpa Mahkota yang mereka cari.

    Identitas Buku:
    Judul : Komet
    Penulis : Tere Liye
    Co-author : Diena Yashita
    Cetakan ketiga : Juli 2018
    Diterbitkan pertama kali oleh: PT Gramedia Pustaka Utama
    Peresensi : Nurjadidah (Mahasiswa Universitas Negeri Mataram -- UNRAM)

    Kontrol Diri

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Kontrol diri merupakan salah satu aspek mental yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Juga merupakan suatu kemampuan yang mengatur emosi, pikiran dan perilaku untuk menghadapi godaan dan gerak hati. Bahkan merupakan suatu kecakapan personal yang sangat diperlukan untuk mengendalikan dan mengarahkan kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Sebaliknya jika kita memiliki kecakapan kontrol diri yang rendah, semakin sulit kita dalam mencapai tujuan.

    Kontrol diri merupakan salah satu asoek penting untuk meraih suatu keberhasilan, selain aspek kewaspadaan, inisiatif dan kepastian tujuan. Kontrol diri dapat juga disebut disiplin diri, kerena menyangkut komitmen dan pengendalian diri. Jika perilaku tidak terarah, dan sedikit menyimpang dari tujuan, maka secara otomatis terjadi koreksi perilaku oleh diri sendiri. Di sinilah kontrol diri memainkan peran penting. Dalam kehidupan kita sebagai orang beragama, sebenarnya tidak cukup kontrol diri itu mengandalkan pikiran saja melainkan yang jauh lebih penting adalah hati yang fungsional. Ingat bahwa hati adalah kompas kehidupan,

    Begitu pentingnya Kontrol diri bagi seseorang, Daniel Ndukwu, (2018) mengidentifikasi beberapa keuntungan, di antaranya, (1) meningkatkan kapasitas pembuatan keputusan, (2) meningkatkan kesempatan untuk sukses, (3) dapat membantu kita membatasi perilaku, seperti bohong, pesta minuman keras, (4) memperbaiki fokus, (5) memungkinkan untuk mendapatkan kekayaan, dan (6) mempromosikan kongruensi (aspek emosi, mental, dan hati). Kontrol diri memang banyak memberikan manfaat, tidak untuk diri sendiri secara fisik dan mental, melainkan juga bermanfaat bagi orang lain.

    Kontrol diri pada hakekatnya bukan suatu kecakapan bawaan, melainkan kecakapan yang diperoleh dari lingkungan. Karena itu kita memiliki peluang untuk menanamkan kontrol diri pada anak sedini mungkin. Scott Turansky memperkenalkan beberapa cara melatih kontrol diri, yaitu (1) mengajari anak untuk datang ketika dipanggil, (2) mengajari anak untuk merespon secara positif terhadap koreksi, (3) sejumlah keterampilan sosial menghendaki kontrol diri, misalnya: mendengar, tahu kapan dan bagaimana interupsi, dan mengontrol marah, (4) mendorong anak aktif ketika ada kegiatan untuk membangun disiplin diri, (5) ketika anak menerima hadiah dapat disempatkan membahas disiplin diri, (6) menggunakan waktu sebelum tidur mengajari tentang disiplin diri, dan (7) kegiatan rutin pagi hari dapat dijadikan momentum dalam mengajari tanggung jawab dan disiplin diri. Sungguh banyak peluang yang bisa dimanfaatkan orangtua dalam melatih kontrol diri, misalkan waktu makan dan habis sholat berjamaah.

    Kontrol diri hakekatnya bukan hanya waktu anak masih kecil, melainkan waktu anak dalam mengarungi masa-masa sekolah dan kuliah, bahkan waktu insan itu dalam bekerja, berkeluarga dan bermasyarakat. Termasuk juga dalam beragama. Tanpa kontrol diri yang kuat kita tidak akan bisa meraih sukses dalan studi, karir, dan hidup.

    Kita bisa cermati suasana dan kondisi belakangan ini, bahwa kontrol diri sangat diperlukan dalam menghadapi perkembangan hasil rekapituasi hasil pilpres/wapres dan legislatif. Semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) dituntut harus mampu tunjukkan kontrol diri, terutama yang terkait dengan pilpres dan wapres. Kini dapat kita lihat terjadi claim kemenangan dari kedua belah kubu. Secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara, bahkan sampai pada kehidupan bermasyarakat. Untu menghadapi situsi ini perlu kontrol diri semua dan dibutuhkan tindakan jujur, adil dan objektif dalam melaksanakan tugas,. Tidak boleh mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya tanpa mengabaikan nilai-nilai demokrasi.

    Akhirnya kita bisa menyadari bahwa kontrol hidup sangat dibutuhkan oleh semua, terlebih-lebih orang yang mendapatkan amanah. Jika kita semua bisa tunjukkan kontrol diri yang dilandasi dengan hati dan agama secara ikhkas, insya Allah kita semua dapat menjalani hidup dengan baik, yang bisa memberikan manfaat dan jauh dari hal-hal yang tidak kita inginkan.


    Yogyakarta, 22 April 2019
    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Dosen dan Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

    Curahan Hati dalam Garis Waktu

    Cover Buku Garis Waktu.
    PEWARTAnews.com – Garis Waktu merupakan buku kedua karya Fiersa Besari yang memuat beberapa tulisannya. Fiersa Besari adalah penulis yang juga aktif sebagai pemain musik, dan juga pegiat alam. Sebelumnya ia pernah merilis lagu berjudul Konspirasi Alam Semesta yang di terbitkan oleh mediakita. Saya mengenal Fiersa Besari lewat akun Youtube miliknya dan saya akhirnya menganggumi karya-karyanya termasuk lagu-lagunya yang tengah viral sekarang.

    “Hidup adalah serangkaian kebetulan.
    ‘kebetulan’ adalah takdir yang menyamar (hlm.8)

    Garis Waktu adalah buku yang berisi rentetan cerita yang isinya kumpulan surat tentang curahan hati. Mulai dari perjumpaan, kasmaran, patah hati, keikhlasan dalam melepaskan, dan berakhir dengan kenangan. Surat-surat pendek pada Garis Waktu berjumlah 49 surat yang berisikan segala pertanyaan, kegelisahan, kemarahan sampai dengan perasaan suka kepada seorang perempuan yang telah membuatnya jatuh hati sekaligus patah hati.

    Saya menyukai semua surat yang berjumlah 49 itu, akan tetapi yang paling saya suka yaitu surat pada mei tahun pertama karena lewat surat itu saya dapat belajar bahwa ketika menghadapi masalah hati atau masalah apapun kita harus tetap tegar. Juga surat pada bulan juni tahun pertama yang membuat pembaca bisa meresapi kata demi katanya sekaligus mengajari bahwa menjadi diri sendiri adalah hal yang paling tepat tanpa harus memanipulasi diri. Secara keseluruhan ada tiga bagian besar pada Garis Waktu yaitu pertemuan dengan orang yang mengubah hidup, terluka dan kehilangan, serta kembali ke keinginan tertentu.

    Ketika orang lain memakai sepatu keluaran terbaru dank au tetap memakai kets butut, tak perlu meminta mereka untuk mengerti. Ketika orang lain betah mengobrol di duia maya dank au tidak betah berlama-lama di depan telepon genggam, tak perlu meminta mereka untuk mengerti. Ketika orang lain melakukan sesuatu untuk disukai dan kau melakukan sesuatu karena kau suka, tak perlu meminta mereka untuk mengerti. Ketika orang lain memilih terikat dengan rutinitas dan kau memilih untuk terikat dengan kebebasan, tak perlu meminta mereka untuk mengerti. Tak perlu menyeragamkan diri dengan kebanyakan orang. Tak perlu kekinian (karena yang kekinian akan alay pada waktunya). Tak perlu repot-repot menyamakan diri dengan orang lain, kau di ciptakan untuk menjadi unik. Sudah terlalu banyak orang yang sama seperti kebanyakan orang. Dirimu hanya ada satu di muka bumi. Lebih baik dibenci karena lidah berkata jujur, daripada disukai karena lidah menjilat. Pengagummu akan pergi setelah kau tak sesuai dengan imajinasinya, tapi orang yang menyayangimu akan tetap tinggal betapapun buruknya dirimu. Dan diterima apa adanya tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain, itu indah.

    Garis Waktu mampu membuat Pembaca tidak hanya menemukan pesan-pesan tentang percintaan, melainkan juga pesan moral seperti menjadi diri sendiri, dan menjalin sebuah hubungan dengan seseorang, untuk menikmati hidup karena hidup cuma satu kali. Tidak tenggelam dalam kebencian dan kepopuleran, tidak larut-larut dalam dendam. Pesan-pesannya tidak menunjukkan sebuah kebohongan melainkan pesan yang benar-benar tulus dari dalam hati.

    “Aku biarlah seperti bumi, menopang meski diinjak,
    Member meski dihujani, diam meski dipanasi,
    sampai kau sadar jika aku hancur…
    kau juga” (hlm.137)

    “darimu aku belajar untuk menjadi lebih baik.
    Denganmu aku belajar untuk melakukan yang terbaik.
    Tanpamu aku belaj memperbaiki (hlm.167)

    Fiersa Besari adalah penulis yang mampu menenggelamkan pembaca dengan rangkaian kata-kata yang ia tuangkan dalam tulisannya. Tulisan-tulisannya terasa hidup sehingga pembaca bingung dan sulit membedakan dunia khayal dan kenyataan. Tulisannya sangat mewakili seseorang yang sedang patah hati, jatuh cinta, memendam amarah, bahkan ia mampu menhidupkan karakter seseorang yang bangkit dari hal-hal pahit yang menimpanya. Cara orang mengekpresikan perasaannya seperti jatuh cinta, mendam amarah, pata hati sangat berbeda. Tetapi, Garis Waktu mampu mewakili semua bentuk pengekpresian itu menjadi satu.

    Garis Waktu dan Konspirasi Alam Semesta jika dibandingjkan memang mempunyai konsep yang berbeda. Konsep kepenulisannya sangat berbeda. Membacanya sedikit membosankan karena alurnya datar entah karena pembaca keseringan membaca penggalan novelnya lewat akun Instagram, Watsapp, atau mencarinya lewat Google. Tetapi novel Garis Waktu mampu membuat pembacanya merasa menjadi pemeran dalam ceritanya. Karena kisahnya  mampu mewakili potret percintaan di zaman sekarang.   

    Sinopsis Buku
    Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.

    Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan.

    Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu.  Karena nyata yang menyakitkan jauh lebih baik dari pada fiksi yang menyenangkan.

    Identitas Buku:
    Judul Buku : Garis Waktu
    Penulis : Fiersa Besari
    Penyunting : Juliagar R.N.
    Penyunting Akhir : Agus Wahadyo
    Foto :Fiersa Besari
    Piñata Letak : Didit Sasono
    Desainer Cover : Budi Setiawan
    Di terbitkan pertama kali oleh: Mediakita
    Peresensi                 : Nurjadidah (Mahasiswa Universitas Negeri Mataram -- UNRAM)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website